Nagi : Terima kasih sudah menunggu selama ini demi melihat fic kami...

Scarlet : Manajer kita gampang teralihkan kalau berhadapan dengan lepi

Nagi : Baca ripiunya yok!

.

Dari pembaca setia kita, xtreme guavaniko :

Huwaaaa... Kayaknya ada yang kurang, tunggu... Wait... Aha! WA LUPA BACA YANG KE EMPAT! TIDAAAAAAAAK!
Okay, tenangkan diri... Ehem,ini masih berlanjutkan? Wa tunggu yah! Masih koplak keplek kok! *emangnya terbang?*
KEEP WRITING!

.

Scarlet : Terima kasih, Wa-san dan Guava-chan!

Nagi : Kalo lupa boleh liat lagi kok...

Scarlet : Tapi, bukannya dia bilang di rumahnya susah nyari sinyal internet?

Nagi : (tepokjidat)

Scarlet : Ya sudah. Ayo CEKIDOT!


Dynasty Warriors series, belongs to Koei.

Rate : T

Genre : Humor/Adventure

Starring chara : Jia Chong

Summary : Mereka telah menemukan pencipta permainan tersebut. Namun sayang, waktu Jia Chong untuk tetap tinggal bersama Scarlet kini tidak lama lagi. Tak ada waktu untuk salam berpisah, karena seluruh kisah hidupnya akan hilang dalam hitungan menit...

.

Nagi and Scarlet, presents...

.

.

Jia Chong : Back to Game

Back to Game

Aku memapah Jia Chong yang melemah ke dalam sebuah ruangan kerja di markas Koei. Tampak meja kerja penuh dengan kertas, ditambah fasilitas berupa sebuah layar televisi 95 inci melekat di dinding. Di bawahnya, ada sebuah konsol PS3. Terlihat jelas di layar televisi tersebut, permainan sedang dimulai. Dimana terdapat latar berupa istana bergaya Cina kuno yang menunggu penghuninya untuk kembali ke dalam tempat itu.

Miyauchi-sensei, pencipta dari permainan "Dynasty Warriors 8", melempar Zhuge Dan ang masih tak sadarkan diri ke layar. Betapa ajaibnya ketika sosok yang dilemparnya tidak merusak televisi seperti saat Jia Chong merusak televisiku. Ia hanya masuk begitu saja.

Aneh. Sangat aneh, tapi sedikit kuterima.

"Scarlet, sebaiknya kau melempar dia sekarang juga sebelum menghilang!", kata Nagi-san.

Aku masih ragu, antara melepas dan menahan. Aku harus melepasnya, tapi peluang untuk bertemu sosok sepertinya akan menghilang. Jika aku menahannya, sama saja aku tidak bertemu dengannya lagi...

"Nona Scarlet, tak ada gunanya berpikir...ARGH!", kata Jia Chong merintih kesakitan. "Kau harus melepasku. Aku tidak bisa bertahan lama!"

"Aku ingin tetap bersamamu! Aku belum begitu mengenalmu!", kataku panik.

"Nona Scarlet, aku tahu ini berat. Tapi, aku hanya tokoh imajiner. Diriku yang asli sudah mati ratusan tahun lalu...", kata Jia Chong lirih. "Nona, anda masih memiliki sahabat dan keluarga. Terimalah hidup anda..."

"Bagaimana jika aku tidak dapat bertemu denganmu lagi?", kataku sambil menitikkan air mata. "Satu persatu, anggota keluargaku meninggal. Hidupku berantakan. Kau sudah seperti saudara untukku..."

"Kita pasti bertemu lagi. Setiap saat, kau sudah dan selalu melihatku", kata Jia Chong memelukku dengan tangan kanannya, karena sebagian tubuhnya sudah menghilang."Tapi, jika kau membiarkanku disini, kita takkan bisa bersama. Tolong, lepaskan aku..."

Dengan berat, aku melepas Jia Chong dengan membawanya ke layar televisi tersebut. Hal yang sangat aneh kutemui ketika layar itu tidak pecah, dan permainan masih berjalan.

"Scarlet-chan, lihat!", kata Nagi-san.

"Kau harus memainkannya untuk mengembalikan keberadaannya", kata Miyauchi-sensei.

"Tapi, bukankah dia sudah kembali?", tanyaku.

"Selama dia pergi, orang-orang mulai melupakannya. Jika tidak dimainkan, dia akan kembali menghilang!", kata Miyauchi-sensei panik.

Aku pun segera mengambil joystick di konsol itu. Tampak di layar monitor terdapat cuplikan adegan dimana Jia Chong sedang mengatur strategi untuk berperang melawan Zhuge Dan, sepupu Zhuge Liang yang berkhianat dan bekerja untuk Wu.

Melihat gerbang sudah terbuka, maka pertempuran sudah dimulai. Aku yang memainkan Jia Chong menerobos segala pertahanan lawan, segera menuju benteng pertahanan W bertemu Zhuge Dan. Kukerahkan seluruh kemampuanku untuk melawannya, namun yang aneh, tenaganya mudah habis. Bahkan aku hampir kalah. Muncul lagi sebuah potongan adegan, kali ini Zhuge Dan menang. Dia akan membunuh Jia Chong.

"Tidak...Ceritanya tidak begini!", kataku panik. "Seharusnya tidak ada potongan adegan lagi!"

"Tapi, bukannya bisa diulang lagi?", kata Nagi-san.

"Biarpun bisa diulang lagi, isi ceritanya sudah berubah!", bantahku. "Dia membutuhkanku. Dia juga tau kalau seharusnya tidak begini!"

"Scarlet-chan, kurasa aku bisa membawamu kesana. Tapi itu akan berbahaya.", kata Miyauchi-sensei. "Aku juga tau kalau ceritanya berubah. Kau berhak kesana..."

"Ah, Miyauchi-sensei...", kataku melihat sebuah titik terang. "Tapi, bahaya apa yang akan kuhadapi?"

"Jika ada seseorang yang ikut terlibat, aku khawatir akan mengubah isi ceritanya. Jika orang itu memusnahkan lawan, secara otomatis akan menjadi bagian dari cerita itu dan tidak bisa kembali ke tempat asalnya.", jelas Miyauchi-sensei. "Pastikan juga penampilanmu tidak mencolok seperti itu..."

Mendengar itu, aku merogoh tasku. Mengambil sebuah kostum berwarna putih dengan aksen ungu dan mengenakannya. Disusul dengan sepasang cakar di tanganku. Kalian tidak perlu menebak. Aku tahu sosok yang di pikiran kalian.

"Scarlet-chan, kau...", kata Nagi-san heran. "Kenapajadi Zhang He?"

"Menurut sejarah, sebelum Jia Chong melayani keluarga Sima, dia pernah bekerja untuk kaisar Cao Rui. Dan Zhang He masih hidup waktu itu.", kataku sambil memberi senyuman tipis. "Aku yakin akan menjadi sebuah kejutan menarik untuknya..."

Nagi-san menepuk pundakku, memberiku sekotak bakpau dan berkata, "Berjuanglah. Aku yakin kau pasti bisa..."

Aku menyimpan bakpau tersebut dam segera meloncat ke televisi. Sesaat setelah masuk ke televisi, adegan yang tak menyenangkan pun bermula...

"HYAAAAAAH!"

BRUAK!

Aku mendarat tepat di punggung Zhuge Dan. Refleks, aku langsung menyilangkan cakarku. Namun, aku teringat pesan Miyauchi-sensei.

"Siapa kau? Kenapa kau terdiam?", tanya Zhuge Dan memberanikan dirinya.

"Z-Zhang He? Tapi, bagaimana...", kata Jia Chong kebingungan.

Aku menyingkirkan cakarku dan menghampiri lelaki berjubah hitam itu. Lalu memberinya sekotak bakpau.

"Kau tidak perlu tahu. Aku kesini untuk menjaga kekuatan dari cantiknya kegelapan...", kataku meniru suara Zhang He.

"Tapi, harusnya kau sudah..."

"Aku benci orang yang banyak bicara. Nanti gantengmu ilang loh..."

"Maksudku, kau sudah..."

"Mati? Hoho, tidak ada kata mati untuk kecantikan tiada tara...", kututup mulutku dengan cakarku. "Aku masih ingin..."

JBOK!

Aku jatuh tersungkur. Terasa sakit yang luar biasa di punggungku. Aku ingin berteriak, tapi dia akan tahu kalau aku menyusulnya. Tapi, sakit ini sudah tak tertahan lagi...

"KYAAAAAAAAAAAA!"

SYUUUUUUUNG!

JLEB!

Sebuah kapak melesat bagai peluru, menusuk dada lelaki rambut klimis itu. Aku menoleh ke belakang, ternyata Jia Chong yang melempar kapak itu. Lelaki bersyal biru dan berseragam marching band merah itupun akhirnya jatuh terkapar. Jia Chong yang mengetahui kondisiku menghampiriku.

"Nona, anda baik-baik saja?", tanya Jia Chong.

"Bodoh, jelas-jelas badanku masih utuh!", kataku ketus.

"Maaf, tapi kenapa Nona ada disini?", katanya bingung.

"Aku kesini untuk menyelamatkan keberadaanmu, bukan karena dirimu!", kataku beranjak berdiri dan membuang muka. Dalam benakku, air mataku mulai menetes. "Seharusnya kau mengucapkan selamat tinggal sebelum aku membawamu kesini..."

"Aku tahu, dan maafkan aku soal itu. Tapi, seperti yang kubilang tadi, kau masih punya kehidupan nyata yang harus dijalani. Aku tidak pantas berada disana...", katanya menunduk murung. "Tapi, aku juga takut kau akan melupakanku, meski aku akan tetap mengenang jasamu yang luar biasa..."

Melihat Jia Chong yang murung, aku mengangkat dagunya dan berkata, "Aku masih menyayangimu seperti aku menyayangi mendiang kakakku. Meski aku sudah menjadi tua dan menyebalkan, aku akan tetap mengingatmu. Karena kau akan tetap disini, menunggu kehadiranku kembali..."

"Benarkah?", kata Jia Chong dengan mata berbinar. "Kalau begitu, terimalah kalung ini dan tunggu aku. Anggaplah ini sebagai perjanjian kita..."

Dia melepas kalungnya yang terukir dengan apik dan memberikannya padaku. Tak lama kemudian, sebuah cahaya entah darimana, muncul begitu saja. Aku berusaha membendung air mataku. Aku masih ingin bersama Jia Chong, tapi teman-temanku di kehidupan nyata masih menunggu. Akhirnya, wajahku terpecah juga menjadi sebuah tangisan sesaat sebelum meninggalkan Jia Chong seorang diri.

"Maafkan aku, Gonglu. Sebaiknya kau melupakan aku. Jangan ikuti aku!", kataku dalam tangisku seraya berlari menuju cahaya indah itu.

"Tapi, Nona...", Jia Chong terus mengejarku.

"JANGAN IKUTI AKU! AKU MAU SENDIRI!", teriakku sambil terus berlari.

.

.

SIIIIIIIIIIIIING!

BRUAK!

Punggungku menabrak dinding. Itu memang sakit, tapi tidak sesakit perasaanku saat ini.

"Scarlet-chan?", kata Nagi-san sambil membantuku berdiri. "Kau tidak apa-apa?"

"Ini memang berat. Tapi kau harus menghadapinya. Itu akan menjadikanmu wanita yang kuat...", kata Miyauchi-sensei berusaha menghiburku. Namun hasilnya nihil

Kulihat benda yang masih kupegang dengan tangan kiriku. Sebuah batu giok berukir indah yang diikatkan pada seutas tali merah yang besar. Melihat benda itu dengan perkataan Miyauchi-sensei, justru membuatku mengingat kembali masa itu. Aku hanya bisa menangis meraung-raung, memohon kehadiran Jia Chong yang takkan pernah ada dalam hidupku...

.

.

~TBC or END~