Nagi : Terima kasih untuk ripiunya...

Scarlet : Sekarang kita akan membaca ripiu yang lewat di chapter sebelumnya...

.

Masih dari xtreme guavaniko :

TBC or The End? Wa setuju kalau ini TBC! Analisis Wa-san emang hebaaaaat! *MujiDiriSendiriDotKom*
Okay, kayaknya mulai meneggangkan, wa tunggu!
KEEP WRITING!

.

Nagi : Terima kasih, kita akan setia melanjutkannya!

Scqrlet : CEKIDOT!


Dynasty Warriors series, belongs to Koei.

Rate : T

Genre : Humor/Adventure

Starring chara : Jia Chong

Summary : Scarlet kehilangan seseorang yang sangat berharga baginya. Seorang lelaki dari permainan yang membuat hidupnya penuh dengan warna selain hitam dan putih di senyuman cerianya. Dunia yang berbeda membuatnya harus merelakan sosok tersebut...

.

WARNING! This fic is self-inserted. Buat yang tidak tertarik, dimohon untuk segera menekan tombol Alt dan F4 dan mematikan komputernya. Enjoy, and play safe, kids!

Nagi and Scarlet, presents...

.

.

Jia Chong : Back to Game

Epilog

Huaaaaaam...

Pagi yang cerah, namun tidak secerah hari sebelumnya. Pagi yang seharusnya dipenuhi rasa marah, malu, bercampur tawa menggelikan, kini hampa bagaikan tinggal di bulan. Semuanya menghilang sejak lelaki itu pergi. Kutatap sofa dan etalase kaca di kamarku, terdapat sebuah jaket hitam dengan bekas cakar di punggungnya. Kenangan saat Jia Chong pertama kali berada di kamar ini, di negeri ini, di dunia ini...

Kutatap kembali sebuah kalung yang terpasang pada pakaian itu, kemudian menghela napas panjang. Hanya ini sisa-sisa dari Jia Chong. Sisa kenangan yang masih tersimpan di tempat ini...

Hari ini masih hampa. Ayahku sedang bekerja di lapangan dan lupa membangunkanku lagi. Aku memutuskan untuk berjalan kaki menuju rumah Nagi-san, sekalian minta diantar ke sekolah dengan mobilnya. Disana, seorang lelaki tua sedang berdiri di ambang pintunya. Ayah Nagi-san bagaikan orang tua keduaku. Dibalik tubuhnya yang tua renta, senyuman ramahnya seakan kembali menghibur hatiku yang gundah.

"Ah, ternyata kau, Scarlet. Uhuk-uhuk...", sapa orang itu sedikit terbatuk sesampainya aku di ambang pintu rumah mewah itu. Dia tetap saja tersenyum meski terlihat sakit.

"Tuan Hutcherson. Terima kasih atas ucapan selamat datangnya. Nagi-san ada di rumah?", tanyaku pada lelaki tua itu.

"Dia masih tidur. Kebetulan kamu disini. Ayo masuk...", katanya mempersilakanku masuk.

Aku memasuki kamar Nagi-san, lalu menyiraminya dengan minyak goreng.

BYUUUUUUUR!

"Puah! Apa-apaan ini? Minyak?", teriak Nagi-san terbangun dengan berlumuran minyak goreng.

"Masi mending minyak gorengnya dingin. Besok aku kasi yang masih panas deh...", kataku bergurau dengan tatapan yandere. "Sudah, cepat mandi. Nanti telat loh!"

"Iyaiya!", kata Nagi-san beranjak dari tempat tidurnya, pergi ke kamar mandi.

.

.

SKIP ke waktu sarapan...

"Ayo dimakan. Nanti ga enak loh...", kata ayah Nagi-san dengan lembut kepadaku.

"Tuan Hutcherson, bolehkah aku bertanya?", kataku kepadanya.

"Tentu saja boleh. Kau sudah seperti keluarga disini...", jawabnya. "Memangnya kamu mau bertanya soal apa?"

"Ini soal temanku...", kataku lirih. "Aku sangat menginginkannya. Tapi sangat disayangkan dia harus kembali ke tempat asalnya, jauh dariku. Aku harus bagaimana?"

Kemudian Nagi-san iseng celetuk, "Bilang aja kamu kangen sama...Mph!"

Aku membungkam mulutnya. Orang tuanya tidak bleh tahu soal aku dan Jia Chong, atau aku akan celaka!

"Kalian tidak apa-apa? Uhuk, uhuk, uhuk...", tanya ayah Nagi-san. "Tapi, aku akan tetap menjawabnya. Meski kau harus merelakan kepergiannya, paling tidak kau tetap melakukan komunikasi dengannya. Itu penting untuk menjaga persahabatan di antara kalian..."

"Ehm, terima kasih. Kami berangkat dulu!", kataku sambil menarik lengan Nagi-san ke mobilnya.

Fiuh, hampir saja...

Jia Chong, kau dimana? Aku ingin sekali bicara denganmu, meski hanya sekali saja...

.

.

.

Sesampainya di sekolah, aku merogoh tasku. Kuambil sebuah batu giok bundar berhias tali merah di dalamnya. Aku terus memandanginya. Mengharapkan sesuatu akan terjadi. Sesuatu yang tidak pernah aku sangka...

"Anak-anak, siapkan diri kalian karena ada murid baru di kelas ini!", kata seorang lelaki berkacamata. Ya, itu guruku.

Sesaat kemudian, seorang lelaki berkemeja putih, berambut hitam legam, dan berkulit putih pucat berjalan dengan angkuhnya ke dalam kelasku sambil membawa jas yang seharusnya dikenakan sebagai seragam sekolah. Tampak dari dasinya yang longgar dan matanya yang biru dan sayu seakan redup, ia tidak berniat memasuki tempat ini.

"Namaku Kakeru Watanabe. Tapi panggilanku Kaju. Terima kasih sudah mendengarku. Senang bisa meli hidup...", kata lelaki yang mengaku bernama Kakeru itu. Untuk saat ini, kita sebut saja dia Kaju.

"Dingin dan mengerikan...", begitulah bisikku pelan mendengar ucapan perkenalannya.

Lelaki misterius itu duduk di sebelahku. Memberi tatapan redup, seakan ingin membunuhku.

"Apa maumu? Aku tidak mau kau menyakitiku!", kataku sedikit ketakutan ketika wajahnya mendekatiku.

Lelaki itu berbisik di telingaku, "Kau masih menyimpan kalungku? Aku kembali untuk mengambilnya..."

Kulihat kalung tersebut. Tidak, ini bukan milik Kaju. Ini milik Jia Chong!

"Mau kau apakan kalung ini? Apa yang kau tahu soal ini? Ini bukan milikmu!", kataku sambil memegang kalung itu erat-erat.

"Itu kalung pemberian ayahku. Aku tidak mau benda itu hilang. Untuk apa aku jauh-jauh kesini jika bukan karena mengambilnya darimu, Nona?", katanya dengan memanggilku Nona.

Tunggu dulu. Aku seperti pernah mendengarnya...

"Kau...memanggilku Nona?", tanyaku. "Kaju-kun, jangan membuatku ketakutan..."

"Ini aku, Jia Chong. Aku kembali untuk mengambil kalungnya..."

"Kau... Tapi, bagaimana bisa...?", kataku kaget.

"Miyauchi-sensei sudah mengurus semuanya. Dia sudah tahu kalau aku akan sangat merindukanmu. Jadi, aku buat ini jadi kejutan...", kata lelaki yang mengakui dirinya Jia Chong kepadaku.

"Jika kau Jia Chong, kau masih ingat pertama kali kau ada di rumahku?", tanyaku untuk memastikan.

"Yah... Aku tidak sengaja memutar keran shower air panas, kemudian terpeleset karena susu pahit dan licinmu itu. Aku hampir saja malu karena keluar tanpa busana...", jelasnya.

"Itu sabun cair, bodoh!", kataku sambil menjitak kepalanya. "Lain kali, jangan aneh-aneh!"

.

.

Akhirnya, dengan harapan dan usaha yang keras, aku bertemu kembali dengan Jia Chong, meski dirinya sekarang terlihat lebih dingin dari saat pertama kali dia datang. Aku tahu, dia adalah seseorang yang baik, hanya cara menyampaikannya saja yang berbeda. Tinggal bagaimana kita merespon perlakuannya.

Kita SKIP ke waktu istirahat...

"Cieeeeeeee, ada yang balik nih...", kata Nagi-san men-cieee-kan kami yang duduk sebangku.

"Nona, Nagi-san sedang apa?", tanya Jia Chong.

"Dia mengejekmu. Itu isyarat bahwa dia tidak menginginkanmu disini. Karena kau sudah disini, panggil aku Scarlet, tanpa Nona. Jangan sampai lupa!", kataku sambil melirik Nagi-san.

"Tunggu, dia tidak menginginkanku meski aku bersusah payah untuk menyenangkan sahabatnya? Itu patut diberi pelajaran...", kata Jia Chong sambil memberi Nagi-san tatapan dingin, kemudian mengeluarkan kapaknya yang siap untuk dilempar.

"Maksudnya bukan begitu, Kaju-kun!", kata Nagi-san berlari menghindar dari Jia Chong. "Scarlet-chan, singkirkan pria tidak waras ini dariku!"

Melihat mereka berdua, aku hanya bisa tertawa kecil dan berkata, "Sepertinya mereka sudah menjadi sahabat yang sangat dekat..."

~THE END~

Nagi : Terima kasih sudah melihatnya!

Scarlet : Review, dan sampai jumpa di fi berikutnya!