Previous Chap :
"A-Aku sangat mencintaimu..." Masih dengan bibir yang saling menempel, aku berujar pelan. Bibir kami bergesekan.
"Aku sangat mencintaimu, Naruto..."
Kulepaskan ciuman kami, lalu kupeluk dirinya, erat.
Dan aku tangisanku pun pecah.
Tuhan...
Tolong berkati orang seperti Naruto-kun...
.
.
Sejak hari ini, tandanya sudah bulan ke-5 aku benar-benar tinggal di rumah kekasihku, Naruto Uzumaki.
Kenapa aku bisa di sana? Biar kujelaskan alasannya secara singkat.
Karena kecelakaan yang membuatku lumpuh, ayah membuangku begitu saja. Mereka tak mau lagi mengurusi biaya pengobatanku di rumah sakit—yang sebelumnya menampungku selama 2 tahun terakhir. Mungkin mereka merasa segala usahanya sia-sia, sebab keluarga Hyuuga memang telah menghamburkan banyak uang untuk diriku yang tak kunjung sembuh. Atau bisa jadi mereka malu karena memiliki seorang gadis cacat yang tidak berguna.
Mengetahui itu, Naruto pun menanggungku. Tanpa terpaksa. Alasannya satu, karena ia mencintaiku.
Awalnya aku tersanjung; aku merasa sangat bahagia karena dicintai oleh pria sepertinya. Dan karena alasan tersebutlah, selama berbulan-bulan aku tinggal di sini, di kediaman Uzumaki, dirawat olehnya.
Namun setelah hampir setengah tahun tinggal bersamanya, aku mulai mengetahui banyak hal yang membuatku merasa terpukul. Dan hal itu adalah pengorbanannya—pengorbanan Naruto yang kalau kuketahui dari awal, mungkin aku tak akan mau berada di sini.
Diawali dari Naruto yang mengorbankan kamarnya untuk dijadikan kamar pribadiku. Ia bahkan repot-repot merenovasi gudang agar bisa dijadikan kamar alternatifnya. Tak hanya itu, ia juga membelikan segala peralatan medis yang kubutuhkan. Seperti ranjang pasien yang bisa ditekuk, perabotan infus, sampai obat-obatan—yang semuanya tak bisa dibilang murah. Kalau saja dihitung totalnya, mungkin angka yang tertera bisa mencapai 1.000.000 yen.
Hanya karena biaya kehidupanku, ia meninggalkan pendidikannya di kuliah demi bekerja dari pagi sampai malam; Senin sampai Minggu dengan beragam pekerjaan freelance yang tidak tetap. Dan itu... terkadang membuatku benar-benar merasa tak tau diri.
Dia telah memberikan semuanya hanya untukku. Lalu... apa yang kuberikan kepadanya?
Setauku, selama ini aku tak pernah bisa membuatnya tertawa. Aku juga tak bisa membuatnya nyaman. Dan aku pun tak bisa meliputinya dengan kasih sayang.
Aku merasa diriku bagaikan benalu asing. Aku membuat Naruto yang bagaikan bunga matahari menjadi seonggok tanaman layu. Dia lelah, dan dia tak bisa lagi menikmati hidupnya.
"Hinata? Ini sudah malam. Apa kau tidak mau tidur?"
Malam ini ia menghampiriku di kamar. Aku menatapnya dengan pandangan kosong.
Terkadang aku berpikir... lebih baik aku mati, dibandingkan terus bergantung kepadanya.
Namun aku tak bisa.
Aku tak boleh menyia-nyiakan kasih sayang Naruto. Paling tidak... sebelum aku menghembuskan nafas terakhirku, aku ingin sekali membalas jasa-jasanya.
Mendadak, di sela keheningan ini, kurasakan adanya ujung jemari Naruto yang menyentuh pipiku.
Aku tersentak. Baru kusadari bahwa dari tadi aku melamun sampai pria itu terheran-heran. Kedua matanya memandangku. Ia cemas.
"Ada apa, Hinata?"
Sedikit menunduk, aku menggeleng pelan. Anak rambutku terayun pelan. Ia menghembuskan nafas lega dan kemudian mengusap ubun-ubun kepala indigoku.
Ruang hidungku memanas. Rasanya aku ingin menangis.
"Kalau begitu, senyum dong..."
"Mm..."
.
.
.
INTENSIVE CARE
"Intensive Care" punya zo
Naruto by Masashi Kishimoto
[Naruto Uzumaki x Hinata Hyuuga]
Romance, Angst, Hurt/Comfort
AU, OOC, Typos, etc.
.
.
SECOND. Beban
.
.
Tak terasa, sifat tak tau diriku masih kubawa sampai sekarang. Kini telah satu tahun aku lewatkan hidupku di rumah Naruto.
Keadaanku masih sama. Aku masih lumpuh; terbaring di kasur, tak bisa berbuat apapun selain duduk, makan, dan menghabiskan uang Naruto yang ia kumpulkan secara susah payah. Tidak hanya itu, aku juga masih bergantung banyak ke cairan infus dan berbagai macam obat yang berguna untuk membuatku bertahan; bukan menyembuhkan.
Oleh sebab itu aku memiliki sebuah pemikiran.
Aku mengubah sikapku secara sengaja kepadanya.
Aku tak pernah lagi mengajaknya bicara. Apabila dia yang membuka topik, aku lebih sering memilih diam, tak menanggapinya.
Kurang ajar dan bagaikan orang yang tak tau diri, tentu saja. Namun itu semua kulakukan... karena aku ingin membuat Naruto jera menanggungku. Aku ingin membuatnya marah. Aku ingin membuatnya berteriak, dan aku ingin membuatnya murka. Dan pada akhirnya, ia bisa melemparku dengan sukarela dari rumahnya.
Ya, memang seharusnya seperti itu dari dulu.
Soalnya aku tak mau berlama-lama menjadikannya tongkat tumpuan.
Cklek.
Ketika aku sedang tertidur di kasur dengan posisi menyamping—membelakangi pintu kamar—tiba-tiba saja ada yang memecahkan lamunanku. Tanpa melihat, dapat kurasakan adanya kehadiran seseorang yang membuka pintu kamar.
Kubuka kelopak mataku secara perlahan. Aku tersadar, namun aku sama sekali tak bergerak. Kutetapkan posisiku agar terus menghadap dinding, sehingga orang itu dapat mengira kalau aku masih tertidur.
Tep.
Tep.
Tep.
Terdengar suara langkah kaki. Ia memasuki kamar, lalu berhenti tepat di ubin lantai yang berjarak dua meter dari ranjang. Aku tak yakin, tapi mungkin saja itu Naruto.
"Bagaimana keadaannya?"
Ah, salah.
Bukan.
Suaranya lain. Dia bukan Naruto.
Itu... Sasuke Uchiha, sahabat lama Naruto di universitas.
"Kesehatannya stabil. Tapi aku tak tau lagi caranya dia sembuh."
Dari ujung sana—di ambang pintu yang masih terbuka—Naruto berbisik. Tak diragukan lagi, ia sengaja mengecilkan suaranya agar tak membuatku terbangun ataupun mendengarnya. Tapi sayangnya... jelas. Aku dapat mencerna segala kata-kata di kalimatnya yang tadi.
"Kapan dia bisa sembuh?"
"Entahlah."
Ah, iya. Itu benar. Naruto sebenarnya juga pesimis mengenai kesembuhanku. Namun apabila ia sedang berhadapan denganku secara langsung, ia ubah segala pemikirannya menjadi keoptimisan. 'Jangan menyerah' dan 'kau pasti sembuh' adalah kalimat yang sudah berulang-ulang kali ia ucapkan kepadaku.
"Hh..."
Sasuke menghela nafas. Ia melipat tangannya di dada. Kedua mata beriris hitamnya masih memandang punggungku, lekat.
"Mau sampai kapan kau menanggungnya di sini?"
Mendengar itu sontak saja kedua mataku terbelalak. Jantungku berdetak keras. Salah satu tanganku yang menggenggam selimut pun mengerat. Meski kalimat yang diucapkan Sasuke terlontar datar, seakan-akan tak bermaksud menyinggung, aku merasakan sebuah tusukan tajam yang memasuki hatiku.
Karena di saat inilah aku baru mengetahui, bahwa ada orang lain yang beranggapan sama sepertiku; bahwa aku adalah beban dari seorang Naruto Uzumaki.
"Jaga bicaramu, Sasuke." Dibarengi oleh Sasuke yang berjalan keluar kamar, Naruto berdesis. "Kau tidak pantas mengatakan itu."
Cklek.
Pintu tertutup. Tampaknya mereka berdua sudah pergi dari kamar ini.
"Aku akan mengambil minum. Tunggulah di ruang tamu."
Di balik pintu kayu, nyatanya suara Naruto masih terdengar di telingaku.
Setelah suasana menjadi hening kembali, kugunakan kesempatan itu untuk menghirup nafas dalam-dalam, dan kemudian membuangnya perlahan. Aku hanya mengandai-andai; oksigen ini dapat mengambil segala beban yang kurasakan di dalam dadaku, dan mengeluarkannya dalam sekali hembus.
Seandainya bisa seperti itu...
Cklek.
Entah kenapa aku merasa pintu kamar ini terbuka—lagi.
Aku tak tau itu siapa. Yang jelas, kali ini ia menutup pintu dan berjalan mendekatiku bersama langkahnya yang teramat sangat pelan.
Kutelan ludahku dalam diam, lalu kututup kembali kedua kelopak mataku.
Dapat kurasakan dengan jelas, orang itu berada tepat di belakangku. Ia tak bergeming. Sama sekali tak bersuara. Hanya ada suara detikan jam dan hembusan nafasnya yang terdengar jauh.
"Ck." Orang itu berdecak. Dan sudah cukup jelas bahwa itu milik Sasuke.
"Aku tidak tau apakah kau tertidur atau masih terjaga..." Ucapnya, mengawali.
"Tapi kalau kau bisa mendengar suaraku, sebaiknya kau dengarkan baik-baik."
Kemudian Sasuke memberi jeda yang cukup lama.
"Sebenarnya... dari dulu aku paling malas mengurusi hubungan kalian." Ia mengawali dengan perlahan. "Sudah lima tahun kalian membina hubungan; dimulai dari sepasang kekasih yang berbahagia, dan berakhir menjadi duka seperti ini hanya karena kecelakaan lalu lintas."
"Kami—teman-teman Naruto—merasa simpati kepada kalian. Namun di saat itu, kami juga salut." Ia terdiam selama beberapa saat. "Naruto begitu menyayangimu, sampai ia rela menanggungmu..."
Tidak tau kenapa, walau kedua mataku masih terpejam rapat, aku jadi sesak sendiri. Lagi pula, kenapa datang-datang ia malah mengatakan hal itu?
Pria yang merupakan pangeran es dari universitas itu diam sesaat, lalu kembali memulai.
"Tapi, sebulan yang lalu, Naruto menceritakan sesuatu kepadaku." Bisiknya. Ada nada geram yang terdengar dari sana. "Katanya, kau berubah."
"Kau tak lagi tersenyum kepadanya. Kau tak lagi menanggapinya, dan kau tak lagi mau mengajaknya berbicara."
"Dan... kau tak lagi menganggapnya ada."
Ia terdiam.
"Aneh, iya kan?" Katanya. Ia sedikit tertawa. Tertawa sinis. "Seharusnya Naruto yang melakukan hal seperti itu kepadamu."
Desisan Sasuke, tanpa sadar membuat mataku berair.
"Apa yang kau pikirkan, Hyuuga? Kenapa kau malah membuat Naruto yang begitu baik kepadamu menjadi terluka?" Ia semakin mendekati ranjangku, serempak dengan nada suaranya yang meninggi. "Apa kau tidak sadar kalau kau lah yang selalu membebaninya, hah!?"
Sasuke membentakku. Aku takut. Tubuhku bergetar. Air mataku semakin menetes melewati pelipis dan kemudian jatuh membasahi bantal.
Aku tak bisa menahan diriku agar tak terisak.
Menyadari diriku yang menangis, dari sini, dapat kudengar Sasuke berdecih.
"Kau dengar aku, kan!?" Dengan kasar, ia menarik bahuku, membuatku yang masih memejamkan mata menjadi terbaring—lurus. Aku mengatupkan kelopak mataku rapat-rapat, aku tak ingin memandang wajah Sasuke yang diliputi oleh raut bencinya.
"Jangan membuatku jijik, Hyuuga!"
Bersama detak jantung yang telah mengacau, aku membuka mata, menampilkan iris lavenderku yang terus mengeluarkan air mata. Kubiarkan tetesan bening ini semakin banyak berjatuhan, membasahi permukaan wajahku yang memerah.
"A-Aku..." Bisikku, terbata. "A-Aku..."
Aku tau!
Tapi sayangnya kalimat itu tak bisa kuucapkan.
Kupejamkan mataku, dan kembali menangis.
Aku tau kalau aku merepotkan.
Dan aku pun... membenci diriku yang seperti ini.
Brakh!
Mendadak, ada pintu yang terbuka kencang.
"Sasuke!"
Sekarang cengkraman kedua tangan Sasuke di masing-masing bahuku terlepas. Itu disebabkan oleh Naruto yang sudah menariknya dengan keras, dan melemparkannya begitu saja ke tembok di samping kami.
"Apa yang kau katakan kepadanya!?"
Mendapati amukan Naruto, Sasuke berdesis sinis. Ia dorong Naruto, sehingga ia bisa membenarkan kerah kemeja putihnya yang sedikit kusut akibat tangan tan sahabatnya. "Aku hanya menasihati agar orang sialan ini mau berterima kasih kepadamu—!"
"Siapa yang kau maksud 'orang sialan'!?" Naruto berteriak semakin kencang. Membuatku yang melihatnya semakin menangis sedih. "Daripada kau mengatainya sialan, lebih baik kau bercermin dulu! Berani-beraninya mengatakan hal seperti itu ke Hinata!"
"Oh, jadi kau masih membelanya, hn?" Sasuke mendengus, lalu ia memandangku sekilas. "Kalau begitu... selamat. Semoga ia cepat mati, sehingga kau bisa kembali menjadi 'Naruto' yang dulu kukenal."
"Sasuke, kau—!"
"Aku akan pergi dari sini." Selanya. Pria itu pun segera keluar dari ruangan.
Cklek.
Pintu kembali tertutup, menyisakan ruangan yang hanya dipenuhi oleh isak tangis Hinata dan juga gerutuan dari Naruto untuk Sasuke. Namun karena ia benar-benar merasa bersalah, Naruto menghela nafasnya keras-keras dan menatapku yang sedang menunduk.
Dari pandangannya, dia terlihat iba, mengasihaniku yang seperti ini.
Ia pun mendekat, dan mulai membelai pipiku dengan punggung tangannya.
"Maaf, Hinata. Lupakan saja kalimat Sasuke..." Ucapnya.
Tak bisa.
Tak bisa semudah itu.
Naruto sedikit membungkuk, ia berniat menghapus uraian air mataku yang terus berlinangan. Tapi aku mencegahnya dengan cara memalingkan wajah. Naruto terkejut melihatku yang seperti itu. Tangannya masih mengambang, belum ia tarik kembali. Dapat kutebak dirinya terheran.
"Hinata?"
"Ke-Kenapa...?" Aku berbisik dengan suara pelan. "Kenapa Naruto-kun tidak menuruti saja apa kata-kata Uchiha-san?"
Naruto terdiam. "Apa maksudmu?"
"Uchiha-san bilang..." Aku berusaha tertawa kecil. Tawa ironi untuk menertawakan diriku sendiri. "Aku ini beban—"
"Sudah kubilang, Hinata... abaikan kalimat Sasuke." Dengan segera Naruto menyela kalimatku. "Ia hanya sedang tidak mood. Karena itu kalimatnya agak sedikit—"
"Dengarkan aku dulu, Naruto-kun!" Sergahku, cepat. "Bahkan orang yang tak pernah merawatku sampai berkata demikian!" Air mata kembali meluncur turun. "A-Aku tau kamu sudah sangat lelah mengurusiku selama beberapa tahun ini! Tapi kenapa kamu masih bersikeras merawatku—merawat orang lumpuh, cacat, dan tak berguna sepertiku ini di kehidupanmu!?"
Di detik yang sama, kulirikan mataku ke arah obat-obatan di atas laci sebelah ranjang. Bagai tak kuasa lagi menahan emosi, ada sesuatu yang menyebabkanku menjadi geram saat melihat jejeran benda itu. Sebab deretan obat itulah yang membuatku bisa bernafas sampai saat ini, dan juga membuat Naruto kerja banting tulang hanya untuk membelinya.
Tanpa sadar, kuambil sebuah bantal di kasur, lalu kulemparkan seenaknya ke arah laci. Suara keras menemani segala barang yang sontak saja bergoyangan. Dan bersama bantal yang menjatuhi lantai, tiga botol obat terjatuh. Dua diantaranya hanya retak, sedangkan yang satu lagi pecah, sehingga ada cairan kental menggenangi permukaan lantai.
Mendapati keadaanku yang sedang kacau, Naruto tak langsung bertindak. Ia bergeming di tempatnya. Mungkin ia sudah terlalu lelah untuk menceramahiku dengan segala macam kalimat penenang—yang sebelumnya sering ia katakan kepadaku.
Bersama kedua bahu yang masih terguncang akibat tangisan, aku menolehkan wajahku yang sudah dipenuhi oleh keringat dan air mata itu ke arah Naruto. Dengan berani, aku menunggu reaksinya.
Aku siap apabila aku dimarahi.
Aku siap apabila aku ditampar.
Aku siap apabila aku dihina.
Namun sayangnya, Naruto hanya tersenyum tipis kepadaku.
"Jadi... sekarang kau mau apa?"
Kenapa? Kenapa dia mengeluarkan senyum itu?
Apa dia benar-benar ingin membuangku?
—tapi kalau benar begitu; baguslah,
Aku menarik nafas, lalu mengeluarkan nafasku dengan sebuah kalimat panjang. "A-Aku... Aku ingin kau kembali ke kehidupanmu yang normal, Naruto-kun..." Aku tak bisa menahan tangisan ini. "Aku ingin kau kembali mengejar cita-cita awalmu dengan berkuliah, lalu menggunakan uangmu untuk mencari hiburan yang dapat membuat tubuhmu rileks." Aku mencengkram kain piyamaku. Dadaku sakit. "D-Dan juga, carilah pacar yang normal dan sehat... dan bisa membuatmu bahagia..."
Naruto memejamkan kedua matanya. Sepintas dirinya terlihat tenang. Namun aku tau dirinya kesal. Dapat dilihat dari kedua telapak tangannya yang kini sudah tergenggam erat. Setelah 15 detik berselang, ia bertanya.
"Lalu... bagaimana dengan dirimu?"
"Mu-Mudah..." Aku tersenyum. Suaraku menjadi teramat sangat serak. "Lebih baik orang sepertiku kau buang ke tempat sampah—"
Grep.
Bulu kudukku meremang tatkala kurasakan adanya dua tangan yang bergerak spontan, meraup tubuhku yang kurus ke dekapannya yang hangat.
Naruto memelukku.
Erat... dan hangat.
Aku dan juga pria itu terdiam. Naruto sama sekali tak mengeluarkan suara. Hanya ada wajahnya yang sengaja ia benamkan ke leherku, menyalurkan nafasnya yang sedikit memburu. Tak perlu bertanya lagi, dari ciri-ciri itu saja aku sudah dapat mengetahui bahwa Naruto sedang bersusah payah menahan emosinya.
Selama berdetik-detik, situasi menjadi hening.
Usai merasa diriku menjadi lebih diam dan tak memberontak, Naruto menggerakkan dagunya. Membiarkan permukaan bibir tipis itu berdiam di kulit bahuku yang terbuka. Mendapati sentuhan tadi, aku mengatupkan kelopak mataku. Kurasakan sebuah sensasi aneh yang menjalar di dalam tubuhku dalam sekali sengatan.
"Sudah?"
Kedua mataku terbuka secara perlahan.
"Sudah teriak-teriaknya, Hinata?"
Aku benar-benar bungkam.
"Asal kamu tau saja. Tanpa cintaku yang 'masih' sebesar sekarang, tak mungkin aku bisa bertahan merawatmu." Ia berbisik. "Dan rasanya, cintaku kepadamu tak akan terkikis hanya karena cobaan yang mudah ini..."
Ia memundurkan wajah, memperlihatkan senyumannya yang menyerupai malaikat.
"Kamu boleh mengamuk, kamu boleh memecahkan obat-obatan itu. Tapi jangan katakan hal seperti tadi. Jangan bilang hal seperti tadi; mengatakan bahwa dirimu cacat dan menyuruhku pergi meninggalkanmu. Hah, yang benar saja..." Ucapnya. "Hinata Hyuuga di mata Naruto Uzumaki adalah perempuan tersempurna yang pernah ia temui."
Aku tidak mampu berbicara. Perasaanku dipenuhi oleh sesuatu yang tak terdefinisikan. Teramat sangat sesak.
"Dan kalau kau ulangi kalimatmu yang barusan, nanti aku bisa marah besar..."
Pandanganku memburam. Lagi-lagi air mata ini menyebabkanku ingin menangis tersedu-sedu.
"Ta-Tapi... kenapa...?"
Lekungan garis di bibir Naruto semakin melebar.
"Jawabannya mudah saja; karena aku sangat ingin bersamamu. Masih bisa mendengar nafasmu saja itu sudah sangat membuatku senang." Naruto terkekeh. Punggung tangannya ia gunakan untuk menghapus linangan bening yang dari tadi keluar dari sudut mataku.
Aku tak menjawab. Aku cuma menunduk. Hatiku terasa sakit. Terasa sakit karena perbuatanku sendiri yang sebenarnya telah melukai hati Naruto.
"Kalau begitu, tidurlah..." Katanya. Ia menunduk dan memberikanku bantal yang sebelumnya kujatuhkan. "Aku akan membereskan tumpahan ini dulu."
Dengan pandangan bersalah, kulirik obat-obatanku yang baru saja Naruto rapikan lagi di atas laci. Naruto pun keluar. Mungkin ia akan mengambil pel untuk mengelap genangan cairan kental yang sebelumnya kujatuhkan.
Aku menundukkan wajahku, lalu menutup salah satu sisinya dengan telapak tangan. Kuhembuskan nafasku keras-keras.
"Go-Gomen ne, Naruto-kun..."
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
Author's Note :
Hai, aku kembali. Ini chap 2-nya. Semoga feel-nya kerasa (meski aku sendiri juga agak ragu). Oh, ya. Aku melakukan perubahan di fict ini. Kan awalnya aku pengen buat twoshot, tapi sayangnya fict ini nyatanya threeshot. Jadi dapat dipastikan chap besok tamat... :')
.
.
Thankyou for Read & Review!
Special Thanks to :
Neko Darkblue, Neko, Luscania'Effect, Paris Violette, zielavenaz96, gece, ajie-bagas-9, Soputan, Waraney, tika-thequin, vincentyagami, Yomu-chan, saerusa, flowers lavender, wirna, Guest, Amalia Panda, Tanigawa Rizumi no Sari-chan, Arakida Kirito, amexki chan, rn-classie-9.
.
.
Pojok Balas Review :
Cerita yang mengharukan. Terima kasih... Chap 1 TBC atau Fin? Sebenernya Fin, tapi nyatanya aku mau nulis kelanjutannya hehe #labil. Hiashi bapak macam apa sih? Huhu, tuntutan peran :') Seandainya fict ini ber-ending bahagia. Kita lihat di chap depan, ya :D Pengen banget punya pacar kayak Naruto. Bener banget.
.
.
Next Chap :
"Iya. Tiba-tiba aku kepikiran."
"Na-Naruto-kun... dari mana saja?"
"Aku barusan beli obat."
"Sudah kubilang, kita akan selalu bersama-sama."
.
.
Review kalian adalah semangatku :')
Mind to Review?
.
.
THANKYOU
