Previous Chap :

"Karena aku sangat ingin bersamamu. Masih bisa mendengar nafasmu saja itu sudah sangat membuatku senang." Naruto terkekeh. Punggung tangannya ia gunakan untuk menghapus linangan bening yang dari tadi keluar dari sudut mataku.

Aku tak menjawab. Aku cuma menunduk. Hatiku terasa sakit. Terasa sakit karena perbuatanku sendiri yang sebenarnya telah melukai hati Naruto.

"Kalau begitu, tidurlah..." Katanya. Ia menunduk dan memberikanku bantal yang sebelumnya kujatuhkan. "Aku akan membereskan tumpahan ini dulu."

Dengan pandangan bersalah, kulirik obat-obatanku yang baru saja Naruto rapikan lagi di atas laci. Naruto pun keluar. Mungkin ia akan mengambil pel untuk mengelap genangan cairan kental yang sebelumnya kujatuhkan.

Aku menundukkan wajahku, lalu menutup salah satu sisinya dengan telapak tangan. Kuhembuskan nafasku keras-keras.

"Gomen ne, Naruto-kun..."

.

.

Sejak kejadian di beberapa saat yang lalu, aku terduduk di atas ranjang dengan diam. Meski tak ada lagi air mata yang keluar, kedua mataku sembab, karena terlalu lama menangis. Wajahku tertunduk, pandanganku kosong.

Merasakan keheningan di dalam kamar yang begitu mencekam, aku pun menoleh. Kuperhatikan bagian bawah ranjang. Di atas lantai terdapat cairan kental yang tergenang. Salah satu akibat dari kelakuanku saat lepas kendali tadi. Dan sekarang Naruto sedang ke dapur untuk mengambil sapu dan juga pel untuk membereskan itu semua.

Aku menghela nafas sampai kedua mataku terpejam.

Lihat, sekali marah saja aku sudah membuat Naruto kerepotan. Benar-benar payah.

Walau Naruto sudah berkali-kali mengatakan 'tidak apa', aku tetap merasa bersalah. Terlebih lagi, korban benda yang hancur karenaku—akibat tak sengaja kujatuhkan—adalah obat itu. Obat yang bisa terbilang sangat mahal. Naruto harus bekerja banting tulang untuk mendapatkan satu. Sedangkan aku, dengan alasan marah karena takut membebani Naruto, malah memecahkannya dalam waktu beberapa detik. Padahal baru kemarin Naruto membuka segel obat yang harus kuminum rutin itu.

Cklek.

Pintu terbuka, memperlihatkan sosok seorang Naruto Uzumaki yang membawa peralatan bersih-bersihnya.

"Hinata, tegakan kepalamu." Sambil menggulung ujung kemeja lengan panjangnya ke siku, Naruto tersenyum lembut. "Pasti kamu memikirkan hal-hal negatif lagi deh."

Iya. kamu benar.

Aku memandangnya, memandang ia yang sedang tersenyum kepadaku. Senyum ikhlas yang teramat tulus.

Aku memikirkanmu, Naruto.

.

.

.

INTENSIVE CARE

"Intensive Care" punya zo

Naruto by Masashi Kishimoto

[Naruto Uzumaki x Hinata Hyuuga]

Romance, Angst, Tragedy

AU, OOC, Typos, etc.

.

.

THIRD. Berbahagialah

.

.

Sret sret sret.

Usapan dari pel yang menggosok lantai menjadi latar suara di dalam kesunyian kamar. Di atas ranjang, mata sayuku menatap Naruto tanpa bicara. Sedangkan Naruto mengelap sisa cairan obat yang sempat tertumpah dengan kain karet yang mudah menyerap air. Bibir pria itu membentuk tali simpul. Dia juga mengeluarkan sebuah senandung pelan, seolah sedang menikmati apa yang dia kerjakan saat ini.

Merasakan adanya sepasang mata yang terus mengamatinya, Naruto menoleh. Kami berpandangan lama, lalu Naruto pun terkikik geli. "Kenapa? Apa aku terlihat keren saat membersihkan lantai, hm?"

Bagaikan sihir, kalimatnya membuat suatu perasaan sedih di dalam hatiku terlepas. Aku menahan senyum, senyum kebahagiaan yang dapat kurasakan sampai ke hulu hati. Seolah mengingatkanku ke momen pertama di mana aku yang baru pertama kali jatuh cinta ke pesona seorang Naruto Uzumaki. Kalau tidak salah, semuanya dimulai dari gurauan yang serupa dengan ini; kepercayaan dirinya yang tinggi.

"Hei, jawab dong..." Timpalnya, masih berjongkok di bawah. "Aku tidak sedang berbicara dengan kasurmu, kan?"

Aku geli sendiri. Deretan gigi bagian atasku terlihat. "Tidak."

"Itu jawaban atas pertanyaanku yang mana?"

Kenapa pembicaraan sederhana ini bisa membuatku bahagia?

"Aku tidak mau mengakui kalau Naruto-kun tampan..."

"Jadi kamu menganggapku jelek? Begitu, ya?" Naruto menaikkan salah satu alisnya, memasang raut kesal.

"Iya. Naruto-kun payah..."

Lama-lama wajah Naruto mengendur. Bukannya marah, ia malah tertawa ringan. "Tumbenan kamu bisa mengataiku."

Tapi... kenapa aku begitu bahagia bersamanya?

Apa karena Naruto adalah kekasihku?

Apa karena hanya Naruto—satu-satunya orang yang sudi berbicara denganku?

Atau... apa karena aku yang terlalu mencintainya?

"Eh, Hinata. Aku ingin mendengar candaanmu. Coba deh."

Aku memandangnya dengan tatapan bingung. "Candaan?"

"Iya. Tiba-tiba aku kepikiran." Katanya. "Misalnya ngegombal, atau apalah terserah..."

"Ng... aku tidak bisa..."

"Jangan bilang tidak bisa dulu."

Kupikirkan dengan susah payah sebuah gombalan. Kadang ada satu atau dua gombalan sederhana yang akan kukeluarkan, namun aku sering kali ragu untuk melafalkannya. "A-Apa, ya..."

Naruto tertawa. "Dari dulu sampai sekarang, wajahmu saat berpikir selalu lucu. Kalau saja tanganku tidak kotor—karena kegiatan beres-beres ini—mungkin pipimu akan kucubit sampai melar."

Set.

Naruto pun berdiri, lalu ia mengambil ember serta lap kain yang sebelumnya dibawa ke sini.

"Ah, aku pergi keluar dulu, ya. Harus beli obat. Kalau terlambat terlalu lama, keadaan bisa semakin parah."

Aku mengangguk pelan, lalu buru-buru aku meliriknya. Kutatapi punggungnya. Lama. Dan tak terasa, ada sebuah kalimat yang terlepas dari ujung lidahku secara spontan.

"Kalau suatu saat nanti aku meninggal..."

Naruto menghentikan langkahnya.

"Naruto-kun... jangan ikut meninggal, ya?"

Di detik itu, kurasakan sebuah perbedaan atmosfer di dalam suasana kamar ini. Aku buru-buru mengangkat wajah dan menatapnya. Membiarkan iris sapphire-nya—yang di detik lalu menatapku—menemui manik mataku. Takut salah, aku segera menelan ludah.

"A-Apa candaanku... tidak lucu?"

Naruto terus menatapku. Selama beberapa detik, ia sama sekali tak berkedip.

"Candaanmu salah..." Akhirnya ia mengeluarkan senyuman tipis. Sebuah pemikiran melintasi otaknya. "Itu kan pertanyaan. Kamu membuatku bingung untuk membalasnya."

Aku menatapnya dengan pandangan takut. "Maaf... kalau begitu jangan tanggapi kalimatku yang tadi..."

Naruto memutuskan untuk setuju. Ia lanjutkan perjalanannya, lalu meraih kenop pintu. Bukannya keluar, saat sudah membuka pintu lebar-lebar, Naruto malah terdiam.

"Tapi kalau kamu pergi... tentu akan menyusul."

"Eh?" Aku menoleh ke samping. Aku kurang dapat mendengarnya. "Apa?"

Naruto kembali menghadapkan wajahnya kepadaku. Di sana, terpatri sebuah senyuman yang seolah memperkokoh keyakinan kalimatnya. "Tidak apa-apa." Timpalnya singkat, lalu ia melirik jam di dinding. "Mumpung masih jam 19.00, aku mau ke apotik sekaligus ke minimarket. Ada yang mau kamu titip?"

"Tidak ada. Tapi... apa yang tadi Naruto-kun—"

"Kalau begitu, aku pergi dulu, ya. kamu beristirahatlah dulu."

Sebelum aku menyelesaikan kalimatku, Naruto sudah terlebih dulu keluar, menyisakan bunyi pintu yang tertutup rapat.

Blam.

.

.

~zo : intensive care~

.

.

Seperti apa keinginan Naruto, setelah ia meninggalkan kamar, aku langsung berusaha merebahkan punggungku ke kasur. Walau energiku masih banyak terkumpul, aku rasa tak ada salahnya mematuhi keinginan Naruto. Lagi pula ini demi kesehatanku juga.

Selama berjam-jam aku memejamkan mata, tak ada satu hal pun yang terbayang di pikiranku. Yang ada hanyalah kegelapan yang berwarna hitam pekat. Aku lagi tak mendapati mimpi. Padahal biasanya aku selalu bisa bermimpi indah. Entah aku dan Naruto sedang berjalan di pantai, ataupun sekedar berjalan berduaan di taman. Intinya, aku selalu bermimpi bisa kembali berjalan dan hidup seperti normal—tanpa tergantung ke siapa-siapa. Namun aku tau. Itu hanya imajinasiku belaka. Sehingga tak jarang aku terbangun, dengan kedua mata yang berurai air mata. Menangisi sesuatu yang sangat tak mungkin terjadi.

Set.

Dengan perlahan aku membuka mataku yang berat dan sedikit lengket.

Lagi-lagi aku terbangun dengan mata yang lembab. Di kain bantal yang kutiban pun tercetak sebuah genangan basah. Mungkin itu dikarenakan aku yang tidur dengan kepala yang miring—bukan karena bunga tidur. Kuusap pelan kedua kelopak mataku dengan punggung tangan. Sambil mengubah posisi duduk, kusandarkan punggungku ke sisi kasur, dan barulah kulihat jam.

23.49 malam. Ternyata aku sudah tertidur selama 5 jam.

"Uh..."

Tiba-tiba dadaku terasa berat. Rasa sesaknya menyerupai lubang pernafasan yang tak sengaja tersumbat. Dengan kedua tangan yang mencengkram piyama, aku memejamkan kedua mataku dan membungkukkan badan. Bulu kudukku meremang seiring pergantian detik.

"Hh... enhh..."

Kutelan ludahku sekali, berharap itu bisa membuatku terbebas dari rasa sakit ini. Tapi rasa sakitnya tidak bisa terlepas. Tubuhku mulai bergetar tatkala kutolehkan wajah ke samping. Dan di posisi ini, kupandangi satu per satu obat yang terjejer di samping meja.

Sepertinya ini efek karena aku terlambat mengonsumsi obat, sehingga salah satu syaraf vitalku melemah dengan perlahan. Karena itulah di detik ini aku harus minum obat. Susah payah, kugeser posisi tubuhku ke samping. Kuulurkan tangan kananku, lalu kuraih satu dari dua botol pil tersebut. Kubuka tutupnya lalu kupandangi isinya. Sekalipun pandanganku sudah mulai memburam karena pening, kuusahakan untuk melihat. Tapi sayangnya, tak ada apapun yang kudapatkan di dalam sana—kecuali sisa cairan yang menempel di dinding botol.

Mungkin ini obatku yang habis. Kuambil lagi botol terakhir yang ada di meja. Namun sebelum kuputar tutupnya, aku menggeleng. Itu hanya aspirin. Aku tidak boleh meminum sembarang obat—yang bukan anjuran dokter—di saat-saat seperti ini.

Apa jangan-jangan... obat yang saat ini kubutuhkan adalah obat yang sebelumnya kupecahkan?

Tapi bukannya ini sudah larut malam? Pasti Naruto sudah pulang dari apotik, kan? Lalu kenapa tidak ada obat di meja?

Putus asa, aku mulai menangis. Aku tidak tahan. Semua organ tubuhku memanas, bahkan nafasku pun menjadi berat.

Naruto tidak mungkin lupa tentang obatnya.

Ah, tidak.

Itu sepertinya bisa. Naruto bisa saja lupa. Bagaimanapun juga, Naruto tetaplah manusia. Mungkin hari ini dia terlalu lelah, sehingga sepulang dari apotik, ia langsung tidur di kamarnya—tanpa menaruh obatku ke sini. Hal itu bisa saja terjadi sekali-kali, kan?

Seharusnya aku memaklumi itu. Hanya saja... bagaimana caranya aku bisa bertahan apabila obat itu tidak ada?

Dengan perlahan, aku baringkan tubuhku yang sudah mulai melemas. Laju nafasku semakin menjauhi hembusan normal per detik. Pundakku yang semula tegang menjadi turun, karena tubuhku yang kini berubah pasrah.

"Uhuk..." Aku terbatuk. "Hhh—uhuk! Uhuk uhuk!"

Tiba-tiba, hembusan kencang tadi membuat pernafasanku kembali lancar seperti semua. Selagi mengambil udara, mulutku terus terbuka—memperlebar celah. Sambil menghirup banyak oksigen, aku pun menyeka poniku ke belakang. Tersapulah banyak buliran keringat yang sebelumnya mendominasi dahiku.

Mungkin saat ini aku masih diberi kesempatan untuk bernafas oleh Tuhan. Tapi bukan berarti hidupku sudah aman. Aku masih tidak tau apa yang akan terjadi kepadaku kalau saja aku semakin terlambat meminum obat.

Aku melirik ke samping, lalu kupandangi sebuah ponsel berwarna putih yang berada di atas meja kecil. Kata Naruto, aku boleh menghubungi siapapun dengan benda itu. Seperti misalnya ayah, adik, sepupu, teman ataupun orang lain—termasuk menghubungi Naruto, kalau misalnya pria itu tidak sedang berada di dalam kamar.

Sambil mengeratkan jemariku di cengkraman piyama, kuambil ponsel flip tersebut dan menekan kontak Naruto. Namun baru saja layar memuat tulisan 'Calling ... Naruto Uzumaki' diriku terdiam. Air mataku lagi-lagi terjatuh.

"U-Untuk apa aku membangunkannya?" Di saat mataku berkaca-kaca, aku berusaha tersenyum. "Naruto-kun pasti sedang tertidur. Seharusnya aku t-tau diri. Aku... tidak boleh mengganggunya..."

Kutekan tombol merah—mematikan sambungan.

"Aku bisa kok bertahan tanpa obat..." Dadaku semakin sesak. "A-Aku yakin aku bisa..."

Kalau saja aku bisa jujur ke diriku sendiri, ingin rasanya aku mengadu kepada Naruto. Memeluknya, dan mengatakan bahwa diriku sungguh tersiksa dengan penyakit ini. Tapi sayang. Aku terlalu mencintainya, sampai-sampai aku tak rela membuatnya kerepotan demiku seorang.

Masih dengan terisak, aku mengeratkan peganganku ke badan ponsel. Kurebahkan paksa tubuhku, menyebabkan selang infus bergoyang. Kupejamkan mataku secara paksa, lalu kububuhi pikiranku dengan sebuah imej hitam. Siapa tau dengan ini semua aku bisa lebih cepat tertidur, berenang ke alam mimpi, mengkhayalkan diriku yang telah sehat. Dengan itu, aku yakin bisa melepaskan segala rasa sakit yang semakin membeludak perih ini.

.

.

~zo : incentive care~

.

.

Tepat di jam 00.00 lewat beberapa menit, suasana di kediaman Uzumaki terasa hening. Hanya ada suara bervolume kecil yang keluar dari stereo TV di ruang tamu. Itu dikarenakan oleh Minato Uzumaki—ayah Naruto—yang ingin menonton pertunjukan sepak bola menjadi ketiduran dengan cemilannya yang masih banyak

Selain itu, tak ada lagi yang bersuara. Paling tidak, yang menambahkannya adalah suara nafas tenang milik Minato, Kushina di kamar, dan juga Hinata Hyuuga.

Hanya saja, rumah itu kekurangan satu orang. Dan tak ada yang menyadarinya.

Tik.

Tik.

Tik.

Jarum jam bergerak per detiknya.

'Hanya dengan 5.000 yen, maka Anda bisa mendapatkan paket hemat ini~!"

Ajakan persuasif dari si pengiklan terdengar nyaring. Bahkan Minato sampai menggerakkan tubuhnya ke samping, mencari posisi yang bisa membuat kepala bersurai pirang jabriknya menjadi nyaman.

Setelah iklan tadi terlewat, terdengarlah sebuah intro dari liputan berita.

'Kembali lagi dengan saya, Iruka Umino, di berita malam...'

Lagi, berita tersebut tak membuat Minato terbangun. Pria paruh baya itu masih terlelap.

'Di sebuah perempatan jalan kota Konoha, Provinsi Tokyo, terdapat sebuah kecelakaan.'

'Korban dinyatakan langsung tewas ketika bagian belakang kepalanya membentur aspal.'

'Dapat diduga, ini adalah disebabkan oleh insiden tabrak lari.'

Dan tak ada yang menyadari suara dari televisi itu.

.

.

~zo : incentive care~

.

.

Di suatu malam, aku membuka kedua kelopak mataku. Tatapanku lurus mengenai plafon kamar yang berwarna putih. Kupejamkan kedua mataku lagi, tentu dengan gerak yang teramat sangat lambat. Aku masih sangat mengantuk.

Kusampingkan posisi tidurku. Dan karena di dinding hadapanku terpajang sebuah jam bundar yang besar, kulihat bahwa ini sudah jam 04.36 pagi. Namun di detik itu juga, aku tersadar oleh sesuatu yang membahagiakan. Kusentuh dadaku yang tadi sedikit sesak, kini rasa sakit itu menghilang..

Senyumanku mengembang. Nyatanya aku masih bisa bertahan, sekalipun tak mengkonsumsi obat.

Tampaknya itu sebuah kebiasaan yang seharusnya kupertahankan. Jika kulatih diriku untuk tidak terlalu tergantung kepada obat, paling tidak diriku bisa mengurangi pengeluarannya—untuk membelikanku obat—juga, kan?

Kuhela nafas lega, dan kemudian menyandarkan kepalaku ke bantal. Namun kali ini aku tak langsung kembali tertidur. Rasa kantukku serasa hilang. Apa karena aku sudah terlalu banyak menghabiskan waktu untuk tidur, ya?

Kupejamkan mataku dan berpikir.

Tidak tau kenapa, aku ingin cepat-cepat melihat Naruto. Aku ingin menceritakan hal bahagia ini kepadanya—walau aku yakin, dia pasti akan memarahiku apabila tau bahwa aku tak menelfonnya di saat diriku membutuhkan bantuan.

Di dalam pikiranku, kubayangkan sesosok pria berwajah tampan yang sedang menatapku dengan pandangan yang menyejukkan. Dan kemudian, garis bibirnya membuat lengkungan, lengkungan manis yang dinamakan senyuman.

Senyuman penyemangat.

"Aku mecintaimu... Hinata."

Awalnya kukira suara itu hanyalah sebuah delusi semata dari khayalanku. Namun karena suaranya terdengar begitu jelas di telingaku, segeralah kubuka kedua kelopak mataku secara bersamaan. Baru kusadari bahwa pria berambut pirang itu sudah berdiri di sebelah ranjangku.

Aku terkejut bukan main.

"Na-Naruto-kun... kamu mengagetkanku..."

Ia tertawa lembut. "Iya, ya? Padahal aku sudah mengetuk pintu..."

Kupandangi wajahnya, lalu kulihat ada sebuah plastik yang dia pegang. "Dari mana saja?"

"Kemarin aku beli obat, tapi karena ada kecelakaan yang terjadi di saat perjalanan balik, jalan pulang jadi ramai dan aku bertemu dengan teman. Jadi aku mampir dulu ke rumahnya untuk main game sampai akhirnya tak sengaja menginap." Ia menjelaskan secara singkat. "Nah, sekarang ini obatmu yang baru. Jangan dihambur-hamburkan lagi, ya?"

"Iya. Maaf..."

"Tidak perlu minta maaf..." Naruto tersenyum manis. "Ngomong-ngomong, kenapa kamu bangun pagi? Lebih baik kamu istirahat..."

Aku tak lagi merespon. Hanya pandangan mataku saja yang sedikit menurun, tatkala telapak tangannya yang lebar menyentuh puncak kepalaku. Ia mengusapku dengan lembut. Benar-benar sifat alami yang hanya dimiliki Naruto ketika ia menenangkanku.

Aku menunduk lagi, menyembunyikan kedua mata sayuku dengan poni tebal yang terbentang lurus. "Aku yang seharusnya minta maaf. Kelakuanku yang kemarin... tak sopan."

"Sudah. Kan kubilang tidak apa-apa. Aku juga tidak menyalahkanmu..."

Kali ini ujung jari Naruto menyelipkan untaian anak rambutku ke balik daun telinga dengan lembut. Kemudian, ia mengangkat daguku secara perlahan. Lagi-lagi, wajah itu menunjukkan senyumnya. Aku menelan ludah.

"Ayo tersenyum lebar seperti aku, Hinata..."

Aku berusaha mengikuti kemauannya.

"Nah. Kamu lebih cocok seperti itu—sekalipun senyumanmu sedikit terpaksa..." Ia terkikik geli. Sampai akhirnya, ia menggenggam pergelangan tanganku secara mendadak. Lalu menarikku, selaku mengajakku turun dari ranjang. "Oh, iya. Coba berdiri sebentar..."

"Eh? Untuk apa?"

"Tidak apa. Ayo berdiri saja."

Aku terdiam; berpikir. Tapi lama-kelamaan, aku berusaha untuk mengikuti apa yang dia mau. Kusingkap selimut yang sempat menutupi bagian dari pinggang ke bawah. Kakiku yang sudah lama tak kugunakan di waktu senggang—yang tentu karena syaraf-syaraf yang tak lagi berfungsi.

"Tapi kalau aku jatuh, bagaimana?"

"Ada aku yang memegangmu..."

Karena Naruto yang terlihat sangat yakin kepada ucapannya yang barusan, susah payah kuusahakan diriku untuk berdiri. Aku pun berusaha menurunkan kedua kakiku yang seperti mati rasa. Tak lupa kusentuhkan telapak kakiku ke permukaan lantai yang dingin.

Set.

Naruto menarikku. Cukup keras. Dan tak ayal aku langsung limbung ke depan; ke arahnya. Masih dengan posisi berdiri, kami berpelukan. Aku shock karena hampir jatuh, sedangkan Naruto memelukku erat. sangat erat.

Aku tidak mengerti.

Ini kenapa?

Apa maksudnya?

"Nah... bagaimana kakimu?"

"Eh?" Aku tersadar kalau aku sedang berdiri. Kutekuk lutut kaki, lalu kugerakan dengan gerakan kecil. "Ah... kakiku... baik-baik saja. Tidak mati rasa seperti yang kemarin."

Tapi... kok bisa?

Kenapa kakiku tak lagi terasa lumpuh?"

Di sela keheranan yang merajalela, Naruto tersenyum. Ia pun melepaskan beberapa perangkat alat infusku dengan sentakan. Aku terkejut bukan main.

"Na-Naruto-kun... kenapa?" Aku terbata. Tanganku sedikit bergetar saat melihat adanya darah yang sedikit mengalir dari tanganku—karena jarum infusnya baru saja dilepaskan paksa oleh Naruto.

Naruto tak menjawab. Ekspresinya masih menyunggingkan sebuah senyum seperti tadi.

"Ayo..."

Aku terbingung. "Eh?"

"Ayo pergi..."

"Ke mana?"

"Entah."

Naruto menarik tanganku. Kami berjalan menuju sebuah pintu kamar—tampakya ia berminat mengajakku keluar. Namun ketika Naruto membuka pintu dan membuat celah, ada sebuah sinar putih yang keluar dari sana layaknya sinar matahari pagi. Tapi yang ini lebih kuat; sinarnya lebih terang.

Bahkan kedua mataku dibuat menyipit hanya karena melihat sinar itu.

Tak terasa kedua kakiku bergerak maju. Mengikuti Naruto yang membimbingku.

Sampai di langkah ketiga, aku menolehkan wajahku ke belakang. Dan di detik itu juga aku terbelalak.

Di pandanganku saat ini, terlihatlah sebuah sudut kamar. Ada ranjang yang sudah beberapa bulan ini kuhuni. Ranjang yang sengaja Naruto belikan untuknya. Aku tidak terkejut karena masalah itu, melainkan... seorang wanita yang tertidur di atas sana.

Itu aku; itu diriku sendiri...

Perbedaannya, aku di sana tertidur. Tangan kiriku masih tertancap oleh saluran infus. Sedangkan satunya lagi, entah mengapa tergantung begitu saja.

Aku terdiam. Tak lagi bergerak. Aku terlalu tak mengerti apa yang sedang terjadi di sini. Aku benar-benar tak bisa mercerna keadaan.

Grep.

Ada sebuah kehadiran dari sebuah telapak tangan di lenganku. Aku menoleh ke Naruto, lalu kulihat dirinya membentuk sebuah senyum lirih.

"Tuhan mengabulkan doa kita..."

Tanpa diminta mataku berkaca-kaca. Di detik itu aku mengerti sebuah hal besar.

"Sudah kubilang... kita... akan selalu bersama-sama..."

"tapi itu... tandanya... a-aku..." Aku pun terbata.

"Sstt..." Naruto menyela kalimatku dengan suaranya. "Ini keinginan Tuhan... karena Tuhan menyayangi kita..."

Tangisanku tak tertahankan. Aku terisak. Dengan senyuman yang sedikit bergetar, aku pun menggapai tangannya, dan membiarkan Naruto menarikku pergi menuju cahaya itu. Bersama Naruto.

"Mm. Ayo pergi..." Aku berbisik bahagia. "Bersama-Sama..."

Aku... tak pernah sebahagia ini sebelumnya.

.

.

OMAKE

.

.

Ramai di kediaman Uzumaki, Minato dan Kushina menangis. Pagi yang diselimuti oleh ras duka yang begitu pekat. Terutama saat keduanya mengetahui bahwa anak tunggal mereka, Naruto Uzumaki, dinyatakan meninggal kemarin sore. Sebuah mobil menabraknya yang sedang menyeberang jalan—ketika sedang membeli obat untuk Hinata. Singkatnya, karena kecelakaan lalu lintas.

Sedangkan satunya lagi, Hinata Hyuuga. Pacar dari Naruto Uzumaki, seorang gadis yang tinggal di rumah Uzumaki, juga meninggal karena beberapa syaraf di tubuhnya yang tak berfungsi lagi secara mendadak.

Seluruh perasaan duka itu terus berlangsung, sampai malam menjelang.

.

.

THE END

.

.

Author's Note :

Fict ini akhirnya kelar juga. Kukira bakalan discontinued loh #woy. Soalnya aku ngga tega sih ngetik Intensive Care. Apalagi pas di bagian ending. Nangis sendiri deh sampe mata merah. Tapi moga aja kalian juga begitu, ya.

Sekedar pengumuman bagi yang belum tau, aku membuat fanart dan fanvideo dari fict ini. Fanart-nya bisa dicek di: zoroutecchi devianart com /NaruHina-13-397834197 (tambah titik; hapus spasi). Sedangkan fanvideo-nya bisa dicek di: www dailymotion com /video /x144lz4_ naruhina-fanvideo-your-call_shortfilms (tambah titik; hapus spasi). Kalo ngga ketemu, cek link-nya di profile aku. Okeh. Sekali lagi, Happy NaruHina Tragedy Day, minna-san! Semoga makin banyak fict NaruHina di FFn!

.

.

Thankyou for Read & Review!

Special Thanks to :

Naru sayang Kaa-chan, Ayzhar, flowers lavender, TheBrownEyes'129, Guest, Yumi Murakami, Waraney, saerusa, gece, NM, zialavena96, K, Guest, orchideeumi, Paris violette, Karizta-chan, tika-thequin, Luscania 'Effect, Guest, Fauzia Ozora, harry, Goonjun, amu.

.

.

Pojok Balas Review :

Apa nanti Naruto akan membuang Hinata? Tidak akan pernah. Happy atau sad ending? Happy :D NaruHina emang paling cocok untuk dibuat nge-angst. Iyaa. Walopun aku lebih seneng NaruHina nge-fluff sih. Sasuke-nya nyebelin. Wkwk. Feel-nya dapet. Semoga di chap ini juga bisa kerasa. Saya harap Naruto bisa terus bertahan. Iya. Kenapa Hinata tidak dijadikan istrinya saja? Pengennya gitu, tapi nanti jadi panjang ceritanya (?). Fict ini ngingetin aku ke seseorang yang mirip Naruto. Wah, kamu beruntung banget bisa nemu orang yang kaya Naruto :')

.

.

Review kalian adalah semangatku :'D

Mind to Review?

.

.

THANKYOU