Title : WOLF

Rated : T

Genre : Fantasy, Romance, Adventure, Mystery, AU!School

Cast : EXO MEMBER, some OC

Warning : STRAIGHT and somewhere YURI at first and the last is YAOI. See the PLOT, TYPOS and EYD. Thanks.

Disclaimer : CHARA IS NOT MINE!

Summary : I tell you, I'm suck at summary^^

Pemuda dengan paras cantik itu berjalan gontai melewati beberapa orang yang berlalu – lalang di stasiun kereta bawah tanah sembari mengigit roti isi sebagai menu sarapannya pagi ini.

Pemuda ini melempar pandangan kesekelilingnya, mencoba menemukan bangku yang kosong, setelah menemukannya, pemuda dengan tinggi tanggung ini segera duduk dengan tenang, menghitung tiap detik yang selalu berdetak pada jam dinding yang tergantung tepat diatas pintu masuk yang berada diseberangnya mengabaikan setiap riuh yang bertandang ke dalam gendang telinganya lalu menyumpalnya dengan headphone – dengan corak hitam dan putih - guna mendengarkan musik favoritnya.

Pemuda ini iseng menoleh kearah kirinya, dan mata hitamnya mendapati seseorang tengah duduk diujung bangku yang berurutan dengannya, seorang gadis tengah asyik memainkan i-padnya – sama sepertinya, yang tidak peduli dengan keadaan sekitarnya.

Hanya ada gadis itu seorang yang duduk dibangku yang diduduki pemuda ini, diantara puluhan bahkan mungkin ratusan orang yang sibuk hilir mudik disana.

Merasa diperhatikan, gadis itu menoleh, dan menatap tanpa berkedip. Walau dengan jarak yang cukup jauh, pemuda ini bersumpah bahwa dia bisa melihat betapa angkuhnya pandangan gadis bermata Almond itu.

Dan mata mirip burung Hantu itu membuat pemuda ini merasa tak asing dengan wajah itu, seperti pecahan puzzle yang hilang – dari berbagai gambar bergerak yang terus – menerus memenuhi pikirannya -

Tapi sedetik kemudian, pemuda ini mengernyitkan kedua alis tipisnya saat pandangan mata gadis itu makin terasa menusuk hingga menembus tubuhnya, rasa nyeri pada dadanya membuatnya melupakan fokus pandangnya pada gadis itu. Rasa nyeri yang seakan membakar seluruh tubuhnya, mencabik – cabik organ dalam tubuhnya.

Terasa mirip sesuatu yang harus dihindari.

Sangat terlarang, menurutnya.

Pemuda ini mencengkeram kain kemeja putih – dibagian dadanya - yang menjadi seragam tempatnya bersekolah, dia menunduk meremas surai peach-nya, mencoba mengalihkan rasa nyeri itu - sekiranya.

Pemuda ini kembali menoleh setelah nyeri itu menjadi samar, bibir kissable-nya mengerutu, sosok gadis tadi telah pergi entah kemana. Bersamaan dengan itu, pemberitahuan kereta yang akan segera datang telah disuarakan membuat pemuda ini cantik buru – buru berdiri.

No Label present

WOLF : PUZZLE 'PIECES OF THE PAST'

By E . J . A

Dia terlihat sangat abstrak dengan berbagai kelihaiannya menempati bentuk dan ruang. Dia yang disebut sesuatu itu lebih mirip dengan Oleander, tentu saja sebagai makhluk berakal yang diciptakan di muka bumi – seperti yang kalian umumkan selama ini-, kalian tentu tahu – atau setidaknya pernah mendengar – tentang tanaman ini.

Ya, tanaman beracun. Lebih beracun daripada bisa hewan melata itu. Hanya dengan menyentuhnya saja bisa berakibat fatal untuk tubuh ringkih manusia. Kalian pasti juga tahu seperti apa Black Rose itu, mungkin seperti hal tak nyata – jika berkaitan dengan bunga Mawar ini – sama seperti Oleander, dia menusuk dengan durinya yang melindunginya. Tapi, asal kalian tahu. Ada hal yang lebih beracun dari Oleander dan lebih menyakitkan daripada Black Rose. Dan itu, merupakan hal yang paling dilarang bagi kami – segerombolan minoritas yang menghuni bumi dengan keabadian waktu –

'Hal itu' mengatasnamakan dirinya sendiri sebagai pangkal dari kebahagiaan, hingga membuat manusia – manusia seperti kalian dikelabui dengan mudahnya, tak sadar akan pesonanya yang mempunyai banyak cabang yang penuh dengan jeratan.

Ini yang tidak kami suka ketika 'hal itu' merasuki kami, kami akan kehilangan kekuatan dan akal sehat kami. Hal itu akan menyerang telak pada organ tubuhmu – yang sangat mengiurkan untuk kami, berwarna merah dengan darah dan berdetak – dan melumpuhkan kerja syaraf di otakmu, dan terakhir mengambil-alih tubuhmu sendiri jauh sebelum kau sempat menyadarinya.

Menusukmu hingga nafas berada pada ujung waktumu, hal itu tidak mengenal belas kasihan sama sekali.

Sebut saja hal itu – sebagaimana para manusia bodoh itu menyebutnya – dengan nama .. Cinta.

[ 1 ]

Stockholm , 3 September 1870

Pekat gelap saat malam beranjak turun dari langit – setelah mengantarkan sore pada perputaran waktu bumi – dari belahan bumi yang lain. Suasana tampak mencekam saat bulan menampakkan sosoknya dalam bentuk bulat sempurna, dan terdengar suara melolong yang sangat panjang, menyatu dalam angin kencang yang berbalut dingin.

Banyak rumah – rumah penduduk pribumi yang langsung menutup pintu dan jendela mereka rapat – rapat karena suara ancaman itu. Bukan pertanda baik saat bulan ber-transformasi menjadi bulan purnama. Bukan, ada hal keji diluar sana yang siap menghancurkan peradaban manusia dalam sekejap mata berkedip.

Suara lolongan – bagaikan puisi kesakitan - itu berhenti, menyisakan suara ranting – ranting pohon yang saling bergesekan menyanyikan lagu penghantar kegelapan yang sarat akan kematian. Penduduk disana hanya mendekam ketakutan diruang bawah tanah mereka – tentu saja beradu didalam kegelapan hanya dengan satu lampu minyak seadanya – sebisa mungkin menutupi keberadaan mereka agar tidak menjadi korban keganasan makhluk yang satu ini.

Bulan purnama yang begitu dibenci oleh seluruh penduduk dikota kecil ini.

Tapi tidak untuk -

"Aku sudah menunggu hingga bulan menjadi bulat seperti ini. Dan aku ingin merasakan manisnya cairan pekat – berwarna merah dan berbau anyir – itu." Seorang pemuda dengan surai peach-nya tampak mencakari tanah yang menjadi tempatnya berguling, kedua kakinya sudah bertransformasi penuh – dengan bulu – bulu halus – pemuda itu melolong melampiaskan rasa sakitnya saat berubah sesaat setelah sebuah tanda berbentuk seperti ukiran rumit bersinar pada pergelangan tangannya.

Sosok pemuda lain – yang sudah berubah sepenuhnya – menatap saudaranya yang sedang menikmati masa – masa perubahannya melalui sudut matanya lalu dengan mata setajam elang, dia – pemuda yang berwujud manusia serigala jejadian – menampakkan seringai kecilnya – dengan bibir hitam khas hewan serigala –

"Tidak usah bersembunyi seperti itu. Bau-mu terlalu pekat untuk hidung-ku."

Sesosok gadis bergaun kuning gading selutut keluar dari balik pohon besar, matanya coklat muda-nya tampak sayu ditambah dengan pucatnya kulit gadis cantik itu – perpaduan sempurna dengan rambut bergelombang sebahu berwarna coklat eboni - "Aku masih terlalu muda untuk mengaburkan keberadaanku, Kevin." Ucapnya merendah dengan senyum kecil membentuk dimple samar dipipi kanannya.

Kevin – pemuda serigala berbulu perak yang berdiri diatas keempat kakinya itu – mendecih pelan, meludah tepat pada tanah keras dibawahnya "Kau itu lemah."

Gadis itu menyeringai dengan bibir pucatnya "Tidak, kau salah besar, Kevin. Akulah pemimpin bangsa-ku. Bangsa kami jelas sangat unggul daripada kaum-mu. Dan sejarah membuktikan itu."

Grrr…

Mata gadis itu tiba – tiba berubah menjadi merah darah – dengan selimut cincin pada iris berwarna hijau - saat mendengar geraman dari belakang Kevin "Ah aku baru ingat. Ada satu makhluk hina lagi dibelakangmu."

Serigala berbulu abu – abu dibelakang Kevin makin menggeram tak senang, sorot tajam mata hitam itu makin nyalang kala menatap pandangan angkuh yang meremehkan dari gadis – dari bangsa Vampire, makhluk immortal pecinta darah dan jantung manusia – tertangkap oleh maniknya.

"Deer. Kita disini bukan untuk bertarung." Kevin mencoba menenangkan Deer – pemuda serigala dibelakangnya – yang mulai kalap, lalu dengan cepat dia menatap tajam gadis didepannya lagi "Kau pergilah dari hadapanku. Sebelum aku benar – benar murka padamu. Kalau kau saja bukan adik-nya. Aku tidak segan – segan mencabik – cabikmu."

Gadis itu tertawa kecil setelah kedua bola matanya berubah warna lagi, menjadi hitam – bergonta – ganti sesuka hatinya, ciri salah satu bangsawan Pemimpin bangsa Vampire - "Itu kelemahan terbesarmu, Kevin. Bahkan aku tidak peduli jika 'seseorang' itu adalah saudaraku sendiri. Aku bisa dengan mudah menyingkirkannya seperti ini." Gadis ini mengulurkan tangan kanannya, membawa beberapa dedaunan kering hanya dengan satu gerakan jari telunjuk saja, lalu tiba – tiba saja muncul api kecil dari telapak tangannya, membakar daun – daun itu hingga menjadi abu.

"Aku pergi. Pastikan kesalahanmu tidak membahayakan kaum- hina – mu itu." Kumpulan daun – daun menelingkupi tubuh tinggi gadis Vampire ini, satu seringai menyebalkan kembali dilihat Kevin "Sampai berjumpa lagi. Dikehidupan baru yang lain." Menyisakan suara gadis itu mengatakan kalimat terakhir sebelum tubuhnya benar – benar hilang, meninggalkan kedua manusia serigala itu dengan lolongan – lolongan panjang mereka.

.

.

.

Somewhere at Germany, 20 March 1960

"Aku harus pergi."

"Kau bercanda. Kau – "

Pemuda yang lebih tinggi – dengan surai pirangnya – menatap tajam pemuda yang lebih pendek darinya "Diam!"

"-jangan pergi, Kevin…" suara merdu itu perlahan melirih, sang empu tertunduk menghindari tatapan yang seakan bisa membunuhnya. "Aku harus pergi. Jaga dirimu baik – baik, Deer. Kehidupan akan mempertemukan kita untuk kesekian kalinya. Walau ingatan kita terbelah, pecah menjadi kepingan – kepingan yang menyebar. Percayalah, kita – semua, asal kau tahu saja – pasti akan berkumpul dan membalas dendam dari leluhur kita. Ingat, pastikan kesalahan yang pernah kuperbuat jangan menimpamu." Kevin menepuk pundak Deer, mencoba menguatkan hati saudaranya.

Pemuda dengan mata rusa itu menganguk kecil "Pergilah."

"Aku mempercayaimu." Bersamaan dengan kalimat itu, Kevin berbalik mengangkat kedua kaki panjangnya menjauhi gang kumuh yang diapit dua gedung – sambil membawa beberapa potong pakaian lusuh dalam tas kain kumal dan payung merah ditangan kanannya –

"Sampai jumpa lagi. Ditempat lain, dikehidupan baru yang lain.."

.

.

.

Gangnam Distric, 16 May 2013

'Oleander.'

Gadis bersurai hitam dengan surai eboni itu menoleh, kepalanya mencari – cari asal suara yang terus – terusan menganggunya beberapa hari, suara yang selalu terngiang dialam bawah sadarnya, tepat menguasai sebagian besar porsi pikirannya.

'Kau sang Oleander.Kembalilah pada takdirmu.'

Gadis ini meremas rambut pendek yang dipotong seperti laki – laki itu, merasa kesakitan setelah berbagai gambar bergerak menyeruak bagaikan klise film di Bioskop.

"PERGI!" gadis ini berteriak.

"Kau menyuruhku pergi, Hyeri-ah?" terdengar suara lain, perlahan menjadi pertanda untuk gadis tinggi – yang masih meremas kuat seperti ingin mencabut seluruh rambutnya itu – mendongak setelah terlalu lama menunduk. Hyeri – nama gadis itu – mengerjapkan kedua matanya, memfokuskan pandangannya yang sempat memburam.

Nama : Hyeri Park

Umur : 16 tahun

Kelas : X - A

Organisasi : Anggota Paduan Suara Sekolah

Anggota Klub Musik

Ketua Klub Photography

Kapten tim Basket Putri

Ketua Divisi Kedisiplinan Sekolah

Sie Kedisiplinan dan Tata-Tertib OSIS

"Tidak. Bukan kau yang kumaksud." Hyeri meremas ujung kemeja putih yang keluar dari rok biru tua setinggi lututnya – seragam sekolahnya dengan badge nama sekolah dan badge organisasi bergengsi disekolahnya, Divisi Kedisiplinan dibagian kanan lengannya – yang dipakainya.

"Kau tampak aneh beberapa minggu ini." Kedua gadis itu akhirnya memilih berjalan menyusuri koridor yang lenggang karena hari masih sangat pagi, dan tentu saja belum banyak murid yang datang, apalagi staff pengajar.

"Ya, aku tahu itu. Sebuah suara yang terdengar sangat mirip dengan suaraku, terus – terusan berdengung dipikiranku. Mengatakan bahwa aku adalah sang Oleander, dan memaksaku kembali pada takdirku. Apa itu? Takdir? Takdir tentang apa."

Nama : Hisa Miwaru

Umur : 17 tahun

Kelas : XI - A

Organisasi : Anggota Paduan Suara Sekolah

Anggota Klub Musik

Anggota Divisi Kedisiplinan Sekolah

Sekretaris OSIS

"Adikku sayang, berhentilah mengigau. Mari bangun.." gadis keturunan Jepang – Germany ini tersenyum lebar lalu mencubit pipi tirus milik gadis tomboy yang berjalan disampingnya, merelakan dirinya berjinjit untuk mengapai pipi Hyeri – yang lebih tinggi darinya sepuluh centi- .

"Aku menyayangimu, Noona."

"Panggil aku Eonnie, bukan Noona!"

.

.

.

Dua pemuda dengan tinggi yang hampir sama itu berlari kecil, menaiki undak – undakan yang penuh dengan rumput tinggi dimasing – masing sisinya dengan nafas memburu. Pemuda berkulit seperti coklat itu membungkuk – menumpukan kedua tangannya pada lututnya – dan mengambil nafas dengan rakus, sedangkan pemuda satunya – dengan kantung mata hitam yang terlihat sangat jelas – hanya berkacak pinggang dan sibuk mengatur nafasnya dengan bibir membentuk salah satu huruf vocal – berbentuk O bulat sempurna.

"Ini menyenangkan bukan?" pemuda berkulit coklat ambil suara pertama kali, memandang pemuda yang ada disampingnya "Berlomba siapa yang tercepat sampai diatas. Tapi tidak kusangka, kita seri." Bibir tebalnya menyunggingkan senyum miring – yang cukup menawan – tapi cukup menyeramkan.

Nama : Jongin Kim

Umur : 16 tahun

Kelas : X - A

Organisasi : Anggota Klub Dance

Anggota Klub Bela Diri

Anggota Gank Bullying

Anggota tim Basket Putra

"Konyol." Tanggapan singkat dari pemuda yang sangat mirip dengan hewan maskot Negara China itu.

Nama : Zitao Huang

Umur : 16 tahun

Kelas : X - A

Organisasi : Anggota Klub Dance

Anggota Klub Bela Diri

Anggota Gank Bullying

Anggota tim Basket Putra

"Jadi mari kita kembali ke kelas, Kai-ah." Tao, pemuda manis dengan tindik ditelinga kirinya menarik lengan sahabatnya – partner in crimenya – mengajak pemuda itu menuruni tangga kembali, hanya saja …

"Aku ingin membolos lagi. Aku bosan dikelas. Pergilah.."

.

.

.

Seorang gadis memutar mawar merah – dengan kuncup bunga yang sama sekali belum mekar dan rentetan duri kecil pada batangnya – tanpa rasa takut sama sekali duri itu dapat melukai tangannya yang mulus, memutarnya seperti mainan. Jemarinya sempat tergores kecil dan mengeluarkan cairan merah yang mengalir dari dalam tubuhnya.

Tangan kirinya bergerak cepat menuju kearah lehernya, bertingkah seolah ingin mencekik dirinya sendiri, gadis ini mengeram kecil saat merasa dahaga berkepanjangan yang terasa panas sekaligus perih, tanpa disadarinya – oleh gadis ini sendiri tentunya – bola mata jernih berwarna hitam pekat itu berubah menjadi merah dengan warna kelabu samar menelingkupi irisnya saat indera penciumannya mendapati bau karat yang menguar dari darahnya sendiri – terasa aneh, mendapati bau itu begitu wangi.

Baru saja akan mengangkat jarinya yang terluka itu, sebuah tangan menghentikan pergerakannya "Kau terluka, Jaeni-ah." Suara lembut itu mengalir seperti air yang mengembalikan kesadaran gadis – dengan rambut pendek berwarna coklat kayu – yang dipanggil dengan nama Jaeni itu kembali kedunia nyata, mengembalikan iris matanya menjadi sewajarnya.

Nama : Jaeni Park

Umur : 18 tahun

Kelas : XII - A

Organisasi : Anggota Klub Musik

Ketua Klub Basket Putri

Mantan Ketua Klub Bela Diri

Mantan Wakil Ketua Divisi Kesenian

"A-ah. Apa?" katanya kebingungan. Gadis berambut ikal panjang madu itu mengeluarkan kapas dari tas selempang-nya beserta beberapa peralatan P3K dari dalam tas-nya. "Kau melamun. Ada apa?"

Nama : Nara Jung

Umur : 17 tahun

Kelas : XI - A

Organisasi : Anggota Klub Musik

Anggota Klub Dance

Anggota Divisi Kesenian

Wakil Ketua Klub Sains

"Tidak ada apa – apa, Sena-ah. Kau tidak perlu khawatir." Jaeni, gadis dari keluarga Park ini mengelus telunjuknya yang kini sudah terbalut plester luka bermotif polos coklat. Gadis yang lebih muda satu tahun darinya tersenyum kecil lalu mengengam tangan Jaeni, dan mengecup – dengan singkat – jari telunjuk Jaeni yang berbalut plester luka itu "Cepat sembuh, sayang.."

.
.

.

Jemari itu dengan lincah menari diatas tuts – tuts piano yang tengah dimainkannya. Kedua matanya terpejam, menikmati sendiri alunan nada yang saling berkesambungan, nada – nada dengan aura kematian yang kental.

Nama : Yeona Yoo

Umur : 18 tahun

Kelas : XII - A

Organisasi : Anggota Paduan Suara Sekolah

Anggota Klub Dance

Mantan Wakil Ketua Divisi Kedisiplinan

Ketua Klub Drama

Gadis ini membuka matanya perlahan, menampakkan iris merah dengan lingkaran emas. Senyum miring tersemat pada wajah ayu-nya, ditambah dengan gumaman kecil dari bibir itu "Jangan hanya bersembunyi disana. Aku tahu keberadaanmu." Bola mata itu kembali kebentuk normal – berwarna hitam – setelah terdengar langkah kaki kecil mendekati gadis itu – singkatnya, nama gadis itu Yeona –

Nama : Seulhee Yoon

Umur : 18 tahun

Kelas : XII - A

Organisasi : Anggota Paduan Suara

Anggota Klub Musik

Anggota Divisi Kesenian

Anggota Klub Drama

"Kau tidak pernah berubah, Yeona-ah." Suara lirih yang menghanyutkan terlontar dari seorang gadis dengan rambut panjang hitamnya, menempatkan diri disamping Yeona – menggerakkan kesepuluh jarinya untuk menekan tuts –

Hanya saja, lagu yang terdengar kini berubah lebih ceria.

"Bagaimana dengan kabarnya?" Seulhee tersenyum – menampakkan eyesmilenya – yang membuat wajahnya makin nampak cantik namun juga makin mengerikan.

- tbc, wait for next chapter for the other cast -