Title : WOLF

Rated : T

Genre : Fantasy, Romance, Adventure, Mystery, AU!School

Cast : EXO MEMBER, some OC's

Warning : STRAIGHT and somewhere YURI at first and the last is YAOI. See the PLOT, TYPOS and EYD. Thanks.

Disclaimer : CHARA IS NOT MINE! STORY IS MINE!

Summary : I tell you, I'm suck at summary^^


HanGyeo International High School, Gangnam Distric, 21 April 2012


[ 2 ]

"Siapa namamu?"

Mata sipit itu makin menyipit saat menatap objek didepannya, alisnya tertaut sempurna – wajahnya tersirat sangat keheranan – "eum? Kau bisa bicara?"

Heran. Tentu saja, dia sangat heran. Gadis keturunan Jepang – Germany itu hanya iseng berjalan–jalan disekitar pameran kesenian untuk acara penyambutan murid baru – area kerajinan patung – didaerah aula dan lorong–lorong panjang sekolahan, tapi tiba–tiba saja ada sebuah manekin – menurut gadis ini, sebenarnya – menghalangi jalannya dan kemudian bersuara dengan suara berat yang jarang dimiliki untuk ukuran seorang gadis – terlihat dari seragam kemeja putih yang dihiasi dasi panjang merah dengan rok berwarna biru tua selututnya -

Manekin yang hidup, atau hanya manekin yang dibuat seperti manusia pada umumnya. Tubuhnya tinggi kecil dan kulitnya sangat halus, putih pucat tidak seperti kebanyakan siswa lain. Rambutnya pendek berwarna coklat hitam dengan highlight coklat kayu. Hidungnya tegak mancung tanpa cacat. Matanya bulat seperti burung hantu, dan iris mata keemasannya. Apa ada orang Korea yang mempunyai manik seperti itu? Contact lens? Benar, sepertinya sosok didepannya hanya sebuah boneka, atau bisa saja dia robot?

Dia tampan, tapi sekaligus juga cantik.

"Siapa namamu?"

Manekin itu berbicara lagi. Hisa Miwaru – gadis yang duduk di second grade HanGyeo International High School ini – hanya mengerjap kecil. Keduanya ditelan keheningan dilorong sempit ini. "A-aku Hisa Miwaru." Hisa memperkenalkan dirinya, suaranya terputus – putus, dia masih merasa heran dan tidak mengerti.

Manekin itu tersenyum lagi, tapi kini terlihat berat sebelah "Aku menyukaimu."


No Label present

WOLF : PUZZLE 'PIECES OF THE PAST' - B

By E . J . A


Ketiga siswa – masing masing berbeda grade – itu terlihat berjalan beriringan menyusuri koridor sekolah yang sangat sepi, karena kegiatan belajar mengajar tengah dilaksanakan semenjak bel masuk yang berbunyi sekitar lima belas menit yang lalu.

Dari yang paling kiri – yang paling tinggi dari fisiknya – seorang siswa dari grade satu, kulitnya sewarna susu sangat kontras dengan warna rambutnya yang gelap. Dari badge dibagian lengan sebelah kirinya – pada blazer almamaternya, biru tua – terlihat dia seorang anggota organisasi OSIS. Dan tag name yang tersemat dibagian dadanya menunjukan bahwa nama pemuda tinggi itu bernama Sehoon Oh.


Nama : Sehoon Oh

Umur : 16 tahun

Kelas : X - A

Organisasi : Anggota Klub Dance

Anggota tim Basket Putra

Sie Sosial OSIS

Anggota Divisi Kedisiplinan


Pemuda yang berjalan ditengah – dengan wajah kotaknya – seorang siswa dari grade dua, badge-nya menunjukkan dia bukan salah satu siswa yang biasa – biasa saja, terlihat juga dari kacamata minus yang dipakainya, dia terlihat sebagai salah satu jajaran siswa berotak encer.


Nama : Jongdae Kim

Umur : 17 tahun

Kelas : XI - A

Organisasi : Anggota Klub Musik

Ketua Paduan Suara

Ketua Divisi Kesenian Sekolah

Mantan Ketua OSIS


Sedangkan gadis yang berjalan dibarisan paling kanan sibuk mengutak – atik PSP dengan selarik warna pink yang ada dipinggirannya, rambut mirip putri Cleopatra itu bergerak – gerak kecil saat si empu tengah asyik membuat gerakan – gerakan tiba – tiba.


Nama : Liu Ai

Umur : 16 tahun

Kelas : X - A

Organisasi : Anggota Klub Sastra

Anggota Paduan Suara

Anggota Klub Bela-diri

Anggota Divisi Kesenian Sekolah


"A-a-a! Aduh aku kalah!" sang gadis berteriak, tak lupa decakan kecil saat tangan berwarna kuning langsat itu memasukkan sang pacarnya kedalam tas gendong berwarna ungu itu. Jongdae – pemuda dengan kacamata – itu mendengus "Kerjamu hanya bermain game terus, Sunday-ah."

Liu Ai – gadis mungil dari dari daratan China itu – atau yang akrab dipanggil Sunday – oleh anggota Divisi Kesenian Sekolah – sering juga dipanggil Zee itu merengut "Memang apa masalahmu, eum?"

Sehoon – pemuda yang paling muda diantara ketiganya – memutar kedua bola matanya imajinatif, merasa malas dengan debat antara kucing dan anjing ini "Well, aku berani bertaruh. Kalian akan thaling menyukai thatu thama lain – perlahan." Ucapnya dengan gangguan pengucapan huruf 'S'.

Ketiganya berhenti melangkahkan kaki – lebih tepatnya Jongdae dan Liu Ai –

"APAA! KAU GILA, THEHUNNA! AKU TIDAK AKAN PERNAH TERTARIK DENGAN ORANG INI!" Jongdae dan Liu saling menunjuk satu sama lain dengan jari telunjuk mereka yang saling menempel dihidung mereka. Sehoon mengosok daun telinganya "Uhh. Bithakah kalian memelankan thuara kalian. Bahkan suara dan jawaban kalian sama perthith. Kalian berjodoh, bukan?"

.

.

.

.

.

.

Luhan – pemuda yang tumbuh besar di Korea ini – berjalan gontai menyusuri pedestrian yang cukup ramai bercampur baur dengan beberapa orang yang akan naik maupun telah turun dari Subway. Beruntung sekali jarak antara Stasiun Subway dengan Sekolahnya tidak begitu jauh.


Nama : Luhan Xi

Umur : 18 years old

Kelas : XII - A

Organisasi : Anggota Paduan Suara

Anggota Klub Dance

Wakil Ketua Klub Musik


Luhan meringis layaknya orang kesakitan kala mendapati kepalanya barusan dipukul dengan benda empuk mirip balon, seseorang dengan tinggi badan melebihi tiang listrik itu tersenyum lebar, hingga giginya pun nampak silau diterpa sinar matahari pagi yang bersinar cukup cerah.

"Wassapp Lu?"

Luhan memutar bola matanya malas saat pemuda tinggi – teman satu club Vocalnya - ini menyapanya dengan sapaan aneh itu "Baik, Chanyeol. Itu-pun sebelum kau datang."


Name : Park Chanyeol

Umur : 17 years old

Kelas : XI - A

Organisasi : Anggota Paduan Suara

Kapten Basket Putra

Wakil Ketua Divisi Kedisiplinan Sekolah


Chanyeol tertawa, terdengar sangat mengelegar dengan suara bak paman-paman itu. Tangannya yang besar menepuk bahu Luhan dengan amat sangat keras hingga berbunyi "Aku memang famous mood-maker at School, aku membuat mood-mu bertambah sangat baik, bukan?" Chanyeol menaik-turunkan kedua alisnya, tapi Luhan hanya mengerutkan alisnya "Kau idiot." Ucapnya lalu melenggang pergi, mengacuhkan umpatan – umpatan kasar Chanyeol karena Luhan sengaja menginjak kaki besar Chanyeol dengan kasar.

Luhan bertemu dengan seorang gadis lain, kedua berpapasan ketika akan memasuki gerbang sekolah, keduanya berhenti untuk saling menatap selama beberapa detik, setelahnya gadis itu bergegas masuk tanpa mempedulikan Luhan yang tiba – tiba kesakitan seperti tadi.

Chanyeol yang baru datang segera menolong Luhan, mengalungkan tubuh ringkih Luhan pada bahunya, memapah pemuda cantik itu "Kau kenapa, Lu?"

Luhan menggeleng kecil, tubuhnya terasa begitu aneh hanya karena melihat dua orang gadis yang berbeda.

.

.

.

.

.

Gadis berambut lurus sepunggung berwarna hitam pekat ini segera duduk dibangkunya, kemudian mengeluarkan beberapa buku – dengan sampul buku yang bertuliskan namanya dipojokan, Hana Kim - yang sekiranya menunjang pelajaran yang akan segera dilaksanakan beberapa menit lagi setelah bel masuk berbunyi dengan nyaring. Menandakan hari Senin yang panjang segera dimulai. Gadis ini mendengus lalu mencoba mengusir bosannya dengan mengutak – atik handphone-nya. Sungguh, rasanya begitu malas hanya untuk menegakkan dagunya untuk menjalani hari Senin. Monday Sick's.


Name : Hana Kim

Umur : 17 years old

Kelas : XI - A

Organisasi : Anggota Paduan Suara

Anggota Klub Dance

Mantan Wakil Ketua Divisi Kesenian


Satu orang gadis lain datang menghampiri Hana, gadis dengan rambut yang diwarna senada dengan cream berserta kacamata berframe merah yang bertengger di hidung mancung tanpa cacat itu, Sungyoung Ahn, namanya.


Name : Sungyoung Ahn

Umur : 17 years old

Kelas : XI - A

Organisasi : Anggota Paduan Suara

Anggota Klub Bela Diri

Anggota Klub Musik

Ketua Organisasi Kesehatan


"Hanna-ah, kau tampak tidak bersemangat hari ini, eum?" Sungyoung mengeluarkan beberapa alat tulis-nya, menatap sahabatnya dari sudut matanya yang sedikit menyiratkan kekhawatiran.

"Entahlah. Aku mimpi buruk semalam. Dan beberapa kejadian aneh pagi ini, dengan seorang pemuda kakak kelas." Ujarnya dengan nada yang kalut, Hana kembali menghela nafas "Aku berharap itu hanya sekedar bunga tidur saja. Aku tak ingin itu benar – benar terjadi." Gadis berdarah Korea – Italia itu menutup wajah cantiknya dengan kedua tangannya.

Sungyoung menepuk bahu sahabatnya itu, mencoba mengalirkan ketenangan "Jangan terlalu dipikirkan, oke? Semua akan baik – baik saja. Dan siapa kakak kelas yang beruntung bisa bertatap muka denganmu, eum?"

Seora menganguk pelan – dan tidak menjawab pertanyaan dari Seora - seiring dengan bel masuk yang nyaring.

.

.

.

.

.

Rumania , 13 January 1869


Seperti langit dan bumi, terpisah dengan beberapa jarak yang jauh. Langit tak mungkin digapai, dan bumi tak mungkin dipijak. Manik elang itu mengerjap menatap sosok didepannya – seorang gadis dengan gaun panjang berwarna putihnya, begitu kontras dengan rambut bergelombang hitam sepunggungnya yang sekarang dihiasi dengan sayap hitam dibalik punggungnya –

"Ada apa, Kevin?" suara gadis itu tampak mengalir seperti air, lirih dan begitu menghanyutkan, seperti air yang tanpa riak. Gadis itu melayang – hanya tersisa jarak sejengkal dari tanah, seolah melawan daya gravitasi bumi – dengan kedua sayapnya yang mengepak mendekati tubuh tinggi tegap Kevin yang berjarak tiga meter darinya. Gadis keturunan bangsawan Vampire pure blood itu terbang mengelilingi Kevin yang berdiam diri "Ada tujuan apa memanggilku ketempat ini, Kevin? Kau merindukanku?"

Kevin memejamkan kedua matanya, menikmati semilir angin yang membawa wangi pinus basah dari kepakan sayap hitam itu – sayap yang sejenis sayap kelelawar tapi yang lebih lebar – "Kau benar. Aku merindukanmu. Aku menjadi seperti pesakitan karenamu." Suara baritone Kevin mengema dalam senyap diantara keduanya.

Gadis itu tersenyum, mengangkat sudut bibirnya dengan sempurna "Aku tahu itu."

.

.

.

.

.

.

Penghujung musim luruh, 23 November 1997


Beberapa orang berpakaian jubah hitam panjang seperti biarawan ataupun biarawati itu masuk kedalam sebuah ruangan yang gelap dengan tiang – tiang besar yang ada disekeliling ruangan. Mereka membentuk lingkaran yang terisi oleh beberapa orang dengan hitungan ganjil disana, mengelilingi sinar bulan yang masuk dari lubang ditengah – tengah ruangan itu.

Salah satu dari mereka maju, ketengah. Tepat berdiri dengan tatapan menunduk dibawah sinar bulan. Terlihat seperti salah satu pemimpin perkumpulan itu.

"Cesa întâmplat?" seseorang yang ada didekat pilar, disamping tempat pemujaan itu bersuara.

"nu se întâmplă nimic, la toate. darsuntemtot maipresat deexistențavampirilorestemai puternic."

Seseorang bergerak maju, hanya selangkah tak berani mengambil langkah lagi setelah mendapat lirikan tajam dari beberapa orang "le putemdistruge cu ușurință, președinte." Seketika ruangan langsung terdengar ricuh.

"nuatât de ușor. nucu lideriilor." Yang ditengah langsung menjawab dengan suara tegasnya, ruangan mendadak hening. " nubinecuvârcolac." Lanjutnya, membuat semua orang membungkam mulut mereka masing – masing.

.

.

.

.

.

.

Baekhyun membuka mulutnya lebar – lebar sambil berkacak pinggang, mata sipitnya menatap awang – ruang kosong. Dia berdehem kecil, melegakan suaranya yang sempat seperti radio rusak itu.


Name : Baekhyun Byun

Umur : 17 years old

Kelas : XI - A

Organisasi : Anggota Paduan Suara

Anggota Klub Musik

Wakil Ketua Klub Bela Diri


Baru saja akan mengambil nada awal, seseorang mengagetkannya dengan suara pintu masuk ruangan klub paduan suara yang dibuka cukup keras dan suara bedebuk yang menandakan beberapa orang yang datang.

"Baekhyun-ah." Pemuda mungil bersurai coklat kayu itu mendengus saat melihat siapa yang masuk, memilih melangkah kearah pojok ruangan dimana setumpuk tas – tas dari para anggota paduan suara ada disana. Baekhyun mengambil tas abu – abunya, membuka zippernya dan mengeluarkan botol mineral dari dalamnya. Matanya menelusuri tanda yang ada pada pergelangan tangannya, tanda aneh berupa ukiran seperti matahari sesaat setelah dia menarik kain kemeja putihnya itu keatas hingga siku.

Baekhyun tidak tahu tanda apa yang ada pada pergelangan tangannya ini, yang dia tahu tanda ini akan muncul saat – entah, ini hanya pemikirannya saja – dia berkumpul dengan anggota paduan suara, seperti sekarang ini.

Sebuah tepukan pelan pada bahunya membuat Baekhyun buru – buru menurunkan lengannya dan berusaha menutupi tanda itu. Seorang gadis dari kelas sebelah sudah berdiri didepannya sambil tersenyum kecil "Ayo berlatih.." ajaknya.


Name : Yeonchan Park

Umur : 17 years old

Kelas : XI - A

Organisasi : Anggota Paduan Suara

Anggota Klub Musik

Anggota Divisi Kesenian


Baekhyun mengedarkan pandangannya kesekeliling ruangan "Kita harus menunggu Jongdae dahulu, banyak anggota yang belum berkumpul, Kkuma-ah."

Gadis berambut kuncir kuda itu menganguk kecil lalu menarik seseorang yang sedari tadi berdiri dibelakangnya, dan keberadaan gadis lain itu baru disadari oleh Baekhyun "Ini temanku, Baekhyun-ah. Dia akan menjadi anggota baru paduan suara mulai hari ini sampai hari perayaan akbar musim semi nanti. Ini kata Kepala Sekolah lhoooo … "

Baekhyun menganguk, dia mengulurkan tangannya untuk berjabat dengan gadis baru itu. Tapi begitu keduanya saling berjabat, Baekhyun segera memejamkan kedua matanya, merasakan nyeri seperti disengat listrik beribu – ribu volt. Dia benar – benar tersiksa karena waktu berjalan dengan sangat lambat.

Kedua matanya terbuka, dalam sekejap saja wajah manisnya sudah dipenuhi bulir – bulir keringat "Selamat bergabung.." Baekhyun tersengal, nafasnya memburu saat melihat gadis itu menyunggingkan seringainya.

"Tentu. Terima kasih sudah menyambutku dengan sangat baik."

- tbc, wait for the cast in next chapter -