Title: At Last
Author: Lee Suhae
Main Cast:
Lee Donghae
Kim Kibum
Choi Siwon
And others,
Main Pair: Kihae
Genre: Romance, Family, tragedy, yaoi
Rated: M
Summary: Tak ada yang tahu akhir sebuah perjalanan seperti apa. Indah atau tidak, semua harus diterima dengan lapang dada. Pahit dan getirnya perjuangan akan terbayarkan akan kisah cinta dua manusia yang begitu kuat hingga mampu mematahkan permusuhan dua kubu Mafia yang sangat disegani .
(Special ff for Uri Kibum .. HAPPY BIRTHDAY FOR U GUY. GBU. I still waiting for u ~~~ )
…
Lee Suhae ::::::::::
Sebelumnya,
Kangin menatap foto diruang pribadi miliknya. Ia tersenyum sambil menatap foto dirinya, bersama istrinya, dan keempat temannya yang lain. Foto dirinya masih muda dulu . Foto terakhir yang ia punya, sebelum keadaan berubah.
Pandangannya jatuh pada sosok namja berwajah oriental,"Kau benar-benar sudah berubah Hangeng Hyung, tak ku sangka, kau tega untuk menyakiti anakku ?" setetes air matanya jatuh, bergulir membasahi pipinya.
"Apa kau masih seperti ini, jika kau tahu anakmu masih hidup dan bersamaku ?"
Lee Suhae ::::::::::::
Tak ada yang berubah hari ini. Sama seperti biasanya. Matahari muncul disebelah timur dan berakhir disebelah barat. Namun setidaknya, hari ini yang 'biasa saja' tidak berlaku untuk seorang namja manis yang nyatanya tengah duduk ditepi ranjang sambil memeluk boneka nemonya dengan sangat erat.
Dia melirik kea rah jam dinding berbentuk ikan badut yang terpasang disamping lemarinya yang bewarna biru laut itu. Dia mengerucutkan bibirnya, "Jam 6" ujarnya setelah itu ia menguap dengan sangat lebar. Hingga, dari sudut matanya mengeluarkan cairan bening. Terlihat dirinya sangat dan masih mengantuk. Wajar saja, ini bukanlah jamnya untuk bangun. Namun sepertinya, sesuatu memaksa dirinya untuk terbangun.
Mungkin ini ada hubungannya dengan namja tampan yang tadi malam ada didalam rumah Appanya. Memeluk dirinya dengan begitu erat dan juga, mengecup keningnya dengan mesra. Mengingat hal itu saja, membuat kedua pipinya dihinggapi oleh semburat-semburat merah nan menawan.
Lihatlah, betapa menggemaskan dirinya saat ini.
Dia tersenyum sambil menangkupkan kedua pipinya dengan kedua tangannya. Dagunya sebagai tumpuan wajahnya diatas mulut ikan badut tersebut.
"Dia benar-benar tampan" ungkapnya entah yang keberapa kalinya hari ini yang hampir menjelang pagi. Saat dirinya menyelami alam mimpi, ia pun bertemu dengan pujaan hatinya itu.
Dia menolehkan wajahnya saat ia mendengar keributan didepan pintu kamarnya. Bukan hal yang aneh, mengingat rumah Appanya itu dipenuhi oleh ratusan pelayan dan juga pengawal. Belum lagi para butler yang sengaja disewa Appanya untuk melindungi rumahnya. Terlalu berlebihan, namun memang seperti itulah kenyataannya yang ada. Kangin tidak ingin mengambil resiko apapun, jika nanti dia melengahkan pertahanan rumahnya hanya karena urusan sepele.
Tidak, terimakasih.
Donghae berjalan mendekati pintu kamarnya dengan sangat perlahan. Hingga, diapun tidak mendengar langkah kakinya sendiri, mungkin. Dia menempelkan telinga pda daun pintu tersebut. Mencoba menguping apa yang sedang dibicarakan diluar sana. Dia hanya diam sambil mengeratkan nemo pada dekapan hangatnya.
…
"Lalu siapa yang akan kesana Hyung?" tanya Henry sambil membenarkan letak dasi miliknya dengan Kyuhyun yang berada disampingnya.
Siwon menatap pintu kamar Donghae sekilas, ada yang tidak beres pikirnya. Namun ia mengabaikannya.
Ia menatap Kyuhyun dan Henry yang berada didepannya lalu beralih menatap seorang namja tampan yang kini berjalan kea rah mereka.
"Sungmin Hyung, Zhoumi, dan Hyukjae yang akan pergi ke Busan" ujar Siwon yang dianggukan oleh Henry juga Kyuhyun dan tentunya seseorang yang baru saja datang tadi, Hyukjae.
"Baiklah, tapi hanya kami bertiga sajakah? Maksudku, tidak ada Shindong Hyung atau" Hyukjae melirik kea rah Henry dan Kyuhyun, "Salah satu diantara mereka berdua ini?" tanyanya yang membuat Henry memutar bola matanya malas.
"Kau pikir kami mau kemana huh?" tanyanya ketus yang membuahkan tawa dari Hyukjae.
"Maaf, maaf, aku tidak ingat kalian masih sekolah" setelah berucap itu dia tertawa dengan sangat keras dan melangkah menjauh meninggalkan Siwon, Kyuhyun dan Henry yang sinis menatap kepergiannya.
"Terkadang aku kagum dengan dia, terkadang pula aku ingin menginjak-injak wajahnya"
"Aku sangat setuju dengan ucapanmu Kyu"
Siwon tersenyum tipis mendengarnya, ia pun berusaha untuk membuka pintu kamar milik Donghae kalau saja Henry tidak menahan lengannya.
Siwon menatap Henry dengan tatapan – ada apa? –
Henry menggaruk tengkuk lehernya, "Lalu, tugas kami apa? Menjaga si ikan manja?" tanyanya dengan sengaja mengeraskan suaranya.
Kyuhyun yang berdiri dibelakang Henry tersenyum mendengarnya. Si ikan manja yang membuatnya jatuh cinta.
Siwon diam karena sekarang pandangannya jatuh pada Kyuhyun yang tersenyum dengan mata yang focus pada psp-nya. Hatinya memanas melihat itu, dan ia merasakan kalau ia ingin sekali membunuh Kyuhyun saat ini.
Cemburu? Mungkin.
Tidak menjawab, cukup dengan anggukan kepala Siwon membuat Henry mengerti dan segera mengundurkan diri dari tempat itu. Tidak lupa menyenggol Kyuhyun untuk mengikuti langkahnya.
…
Terdengar suara ribut dari arah dapur dikeluarga Kim. Lihatlah, sang namja cantik yang tidak lain adalah Heechul, Eomma dari Kibum tengah beradu argument dengan hewan tersayangnya, Heebum.
"Lihat ulahmu Heebum, ini makanan Kibum bukan makanananmu" teriak Heechul sambil menatap tajam mata kucing peliharaannya itu. Namun sang kucing tercinta hanya memberi dirinya kata ' meong' sebelum dirinya melenggang pergi melalui jendela.
Heechul mengacak frustasi rambutnya, " Aisshh~" ia mendudukan dirinya dikursi sambil menatap nanar sarapan pagi yang ia siapkan untuk Kibum yang ternyata, dilahap habis oleh Heebum.
"Selamat pagi Eomma" sapa Kibum saat memasuki dapur.
Heechul mengangguk, "Ya, pagi" ucapnya lesu sambil melirik seseorang yang kini sudah duduk disampingnya.
"Ini, makanan untukku?" tanya Kibum sambil menatap piring yang sudah tidak layak untuk dinyatakan sebagai makanan.
Heechul menatap Kibum lalu menatap kea rah piring tersebut, "Awalnya, sebelum Heebum datang dan mengacaukan semuanya" ujarnya yang membuat Kibum tertawa kecil mendengarnya.
"Ya sudah, tidak apa Eomma. Aku bisa sarapan diluar" ujarnya menenangkan sang Eomma yang terlihat bersalah seperti itu.
Heechul tersenyum, "Tapi, apa kau baik-baik saja? Lukamu?" tanyanya yang membuat Kibum reflex melihat kea rah lengannya.
Kibum terdiam, sedetik berlalu ia mengangguk, "Ya, aku baik-baik saja" jawabnya sambil menatap mata sang Eomma yang menyiratkan kekhawatiran kepadanya.
Heechul mengusap wajah Kibum perlahan, "Kau serius dengan perkataanmu Kibum?" tanya sang Eomma yang dianggukan oleh Kibum, "Ya, aku baik-baik saja" jawabnya dengan diiringi senyum khasnya.
Heechul menggeleng, "Bukan itu, tapi niatmu untuk bergabung dengan para mafia itu. Kau serius?" tanyanya lagi.
Kibum menghela nafasnya, ia tersenyum seraya mengusap lembut punggung tangan Eommanya yang berada diatas meja.
"Aku ingin sekali melindunginya Eomma. Bahkan bukan keinginan, melainkan sebuah kewajiban yang harus aku lakukan untuknya"
Heechul mengerutkan keningnya, "Nugu?" tanyanya lagi. Seingatnya tadi malam, Kibum tidak menceritakan tentang apa alasannya. Yang dia katakan hanya, keinginan dia untuk bisa bergabung dengan sekelompok mafia hebat yang mencoba mencari arti kebenaran didalam hidup mereka.
Kibum tersenyum senang, "Eomma masih ingat dengan namja manis beberapa waktu lalu yang datang ke toko roti kita?" tanyanya dengan penuh antusias.
Baru kali ini Kibum seperti ini, pikir Eommanya.
Heechul mengangguk, "Ya, yang wajahnya mirip sahabat Eomma itukan?" Kibum mengangguk.
"Lalu?"
Kibum menarik nafas dalam, lalu ia hembuskan secara perlahan.
"Begini Eomma, sebenarnya dia adalah anak dari ketua Mafia" Kibum berucap sambil menatap wajah sang Eomma yang sepertinya sangat terkejut. Namun Kibum tidak peduli, wajar saja anak semani itu ternyata mempunyai darah seorang Mafia.
"M-mafia?" tanya Eommanya terbata. Kibum mengangguk, "Ya" jawab Kibum singkat.
Heechul meremas taplak meja makan dengan sangat kuat, tapi tanpa Kibum bisa melihatnya. Karena memang dia meremas taplak meja bagian bawahnya.
"Apa kau pernah bertemu dengan Appanya?" Kibum terdiam sambil menatap wajah Eommanya. Tapi, tidak berangsur lama ia tersenyum lantas menggelengkan kepalanya, "Tidak, saat itu Tuan Kangin tidak ada dirumah. Dia sedang melakukan bisnis diluar" jawab Kibum yang membuat mata Heechul membulat.
"Kau bilang apa? Kangin?"
"Ya, Appa anak itu bernama Kangin. Ada apa Eomma?" tanya Kibum saat melihat gelagat aneh dari Eommanya tersebut.
Heechul menggeleng, "Tidak ada" ia berdiri kalau saja Kibum tak menahan tangannya dengan keras.
"Kau menutupi sesuatu dariku Eomma, katakanlah padaku" pinta Kibum tulus sambil menatap lembut mata sang Eomma.
Akhirnya Hechul menyerah, dan mulai berkata dengan mata yang berair.
"Dia adalah-"
…
Donghae tersenyum saat Siwon menyisiri rambutnya. Ia menatap tubuh Siwon yang berdiri dibelakangnya, nampak melalui cermin lemarinya yang besar itu.
Siwon mengenakan pakaian tak biasa. Pakaian jas hitam entah hilang kemana. Tergantikan pakaian kemeja panjang dan celana jeans yang membuat dirinya jauh terlihat lebih muda.
Mungkin pengaruh jas hitam tersebut, yang membuat dirinya terlihat lebih dewasa daripada usia sebenarnya.
Siwon membalikkan tubuh Donghae hingga menghadap ke arahnya.
"Kau sangat manis" ujar Siwon saat kecupan singkat dikening Donghae terlepas. Donghae tersenyum mendengarnya, "Kau juga sangat tampan" balas Donghae dengan tingkah lucunya yang membuat Siwon tidak bisa menahan untuk tidak mencubit gemas pipinya.
Siwon tertawa saat melihat Donghae mengerucutkan bibirnya, "Sakit Hyung" keluhnya sambil mengusap pipinya yang sedikit memerah itu.
Siwon tersenyum,"Maaf" ujarnya sambil ikut mengusap pipi Donghae yang memerah. Membuahkan senyum manis dibibir tipis milik Donghae.
Siwon yang melihat itu terpaku. Sungguh, setiap kali ia melihat senyum Donghae yang begitu indah dimatanya. Senyum seperti malaikat cinta yang menebarkan asmaranya. Selalu saja berhasil membuat otak sarafnya menjadi lumpuh seketika.
Senyum itu selalu berhasil membuat dirinya jatuh lebih dalam direlung hati Donghae.
"Hyung"
Siwon sedikit terkejut saat melihat Donghae menepuk pelan pipinya, "Kau kenapa?" tanyanya lagi saat Siwon masih belum merespon ucapannya.
"Tidak ada, kajja kita berangkat" Siwon mengamit tangan Donghae dan berjalan menuju pintu. Donghae menghentikan langkahnya, membuat Siwon menoleh ke arahnya, "Ada apa?" tanyanya pada Donghae yang nyatanya tengah mencari sesuatu didalam tasnya.
Donghae mengangkat wajahnya, ia tersenyum kea rah Siwon.
"Tidak apa. Ayo" ujarnya riang sambil membalas genggaman tangan Siwon pada tangannya. Siwon yang melihat itu, tidak henti-hentinya untuk menebarkan senyumnya yang menampilkan kedua lesung pipinya.
…
Disalah satu ruang kerja yang begitu luas. Banyak document tergeletak disana-sini. Nyatanya Kangin tak bergeming sedikitpun. Dia menatap sebuah pulpen yang berada diatas meja.
Pandangannya kosong, mungkin ia tidak benar-benar menatap pulpen tersebut. Pikirannya melayang jauh entah kemana. Namun yang pasti, pikirannya tidak jauh dari kata 'kematian' dan ' Hangeng'.
Dia memejamkan matanya dengan cepat saat kejadian bertahun-tahun yang lalu merasuk dibenaknya. Kejadian dimana ia kehilangan orang yang sangat dicintainya.
"Teuki, aku sangat merindukanmu" gumamnya pelan dan terdengar amat lirih, "Bantulah aku untuk menemukan siapa yang membunuhmu. Karena aku tidak yakin, kalau Hangeng Hyung yang melakukannya. Walau kemarin, dia sempat berusaha untuk membunuh anak kita"
Dia membuka matanya, bersamaan dengan itu setetes air matanya jatuh membasahi pipinya.
"Apa yang harus aku lakukan? Apa aku memang harus merekrut pemuda itu? Aku tahu dia anak yang baik dan sepertinya anak kita pun sangat mencintainya"
Dia tersenyum sambil menatap sebuah foto dimana dirinya masih muda dengan seorang namja cantik didalam pelukannya.
"Sebaiknya aku harus merekrut pemuda itu, lagipula aku melihat dia mempunyai tekad yang kuat seperti Siwon"
Dia mengeluarkan ponselnya, mencoba menghubungi seseorang disana.
"Tolong carikan info mengenai pemuda bernama Kim Kibum" ujarnya setelah itu sambungan telepon terputus.
Dia kembali meraih ponselnya saat mendengar ponselnya bergetar. Ada dua buah pesan singkat yang masuk kedalam ponselnya. Satu pesan pertama ia tersenyum, saat ia membaca pesan kedua ia tertawa dengan sangat keras. Seakan melupakan kegundahan hatinya yang baru saja ia rasakan.
Pesan dari anaknya,
From: My little baby
Appa, hari ini aku bolos ya^^ aku mau merayakan ulangtahun Kibumiie. Ok Appa? I love u :3
"Bahkan dihari keduamu sekolah, kau sudah berani membolos? Ck, ck, ck" Kangin tersenyum setelahnya. Tak sedikitpun rasa khawatir terselip didalam hatinya. Karena memang dirinya sangat percaya pada sosok Kibum yang mampu menjaga dan melindungi anaknya, anak semata wayangnya.
"Lihatlah Teuki, anak kita mulai jatuh cinta"
…
Donghae kini sudah berada didepan gerbang sekolah miliknya. Ia menatap mobil Siwon yang sudah menghilang dari pandangannya. Sedikit lega mengingat kalau Siwon untuk beberapa hari kedepan tidak akan mengawasinya. Karena Siwon harus kembali pada pekerjaannya setelah cutinya sudah berakhir.
Anggota Fbi. Donghae tahu itu, hanya dirinya dan juga Appanya.
Donghae bersembunyi dibalik pohon yang sangat besar saat melihat Kyuhyun dan Henry. Sepertinya dua namja itu sedang menunggu datangnya Donghae.
Donghae menyeringai saat membaca ulang pesan yang akan ia kirimkan pada Kyuhyun.
Ia terkejut saat sebuah lengan kekar melingkari pinggangnya. Ia berbalik, "Bumiie, kau mengejutkanku!" sungutnya kesal sambil memajukan bibirnya.
Kibum tertawa kecil, lalu menarik Donghae kedalam pelukannya. Ia mengusap punggung belakang Donghae dengan sangat sayang. Mengibaratkan kasih sayang yang tersimpan bertahun-tahun lamanya yang akhirnya bisa tertuang saat ini.
"Akhirnya aku menemukanmu Hae, jeongmal bogoshipoyo" gumam Kibum pelan.
Kibum merenggangkan pelukannya, ia menatap wajah manis Donghae yang begitu dekat dengannya. Ia tersenyum, " Kau hari ini mau kemana?" tanyanya sambil mengelus pipi Donghae.
Donghae berpikir sejenak, "Bagaimana kalau kita ke danau dekat toko roti milik Bumiie. Aku pernah diceritakan oleh Min Hyung, kalau didekat toko roti milik Bummie ada sebuah danau yang sangat indah" ujar Donghae dengan ekspresi senangnya.
Kibum tertawa kecil, "Jeongmal? Ah~ kalau begitu, kajja kita kesana" ia menautkan jemarinya pada jemari Donghae yang lebih kecil darinya.
Donghae menundukkan wajahnya untuk menutupi semburat merah pada kedua pipinya. Ia melirik tangannya yang digenggam erat oleh Kibum.
Perasaan yang tak ia dapati kala bersama Siwon terlebih Kyuhyun.
Donghae mengangkat wajahnya, menatap wajah tampan Kibum dari samping. Ia tersenyum, sambil memandangi wajah Kibum yang begitu dingin dan datar namun tersimpan sejuta kehangatan didalamnya.
Kibum menolehkan wajahnya kea rah samping, tepat ke arahnya. Hingga mata mereka beradu, saling melempar sebuah senyum yang tersirat dalam sorot mata mereka berdua.
…
"Dasar anak manja yang pemalas"
Kyuhyun menatap Henry yang saat ini sudah duduk disampingnya, lalu pandangannya jatuh kembali pada sebuah pesan yang dikirimkan Donghae untuknya.
From : HaeHaeLee
Kyu, aku tidak bersekolah hari ini. Aku lagi tidak bersemangat .
Kyuhyun tersenyum tipis, lalu memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku celananya. Ia menoleh kea rah sampingnya. Tak ada satupun yang menduduki kursi tersebut. Karena memang pemilik kursi tersebut adalah Donghae dan Kibum.
"Sudah ku duga"
Henry mengerutkan keningnya, "Apa? Kau menduga apa?" tanyanya karena memang Kyuhyun berucap sangatlah pelan, mengingat sang guru sudah berada didepan kelas.
Kyuhyun menggeleng, "Tidak, aku hanya menduga kalau Siwon Hyung ada misi tersendiri, makanya dia tidak ikut bersama ke Busan" Henry hanya ber-oh ria mendengar jawaban Kyuhyun.
Setelah itu Kyuhyun memilih diam. Hatinya berkecamuk dengan segenap lukanya. Luka hati yang sebenarnya ia buat sendiri.
'Sebaiknya, aku harus benar-benar melepaskannya'
…
Pemandangan yang sungguh menakjubakan. Air terjun yang menglir dengan indahnya. Turun dengan begitu kuatnya, menghantam keras bebatuan dibawahnya. Menciptakan alunan nada yang terlalu sayang jika dilewatkan.
Dibawah pohon dekat danau itu, tepat didepan air terjun yang menjulang tak terlalu tinggi. Terlihat dua orang namja tengah duduk sambil menikmati keindahan alam tersebut.
"Bumiie"
Kibum menoleh kea rah samping, mendapati wajah Donghae yang berjarak beberapa centi saja dari wajahnya. Ia terpesona dengan keindahan Tuhan yang satu ini. Jauh dari apapun, wajah Donghae memang paling indah diantara yang terindah.
Ia angkat tangannya untuk mengelus pipi Donghae, "Ada apa?" tanyanya lembut dan jangan lupa pancaran kasih sayang yang ia tunjukkan untuk Donghae.
Donghae tersenyum, ia mendekatkan dirinya untuk mengeliminasi jarak antara dirinya dan Kibum. Kibum mengerutkan keningnya tak mengerti dengan tingkah Donghae. Hingga akhirnya ia tersadar dan tersenyum saat sebuah benda kenyal menempel diatas bibirnya.
"Happy birthday Kibumiiee" ujar Donghae riang saat kecupan mesra itu terlepas. Kibum tersenyum lebar mendengarnya.
Kebahagian cinta yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan dari sosok asing dalam hidupnya. Sosok asing yang begitu sangat ia cintai. Walau baru beberapa hari bertemu, nyatanya membuat butiran-butiran cinta itu berkembang.
Kibum menarik Donghae kedalam pelukannya, "Gomawo Hae" ujarnya sambil mengelus punggung Donghae dengan lembut.
"Oh iya, bagaimana kau tahu?" tanya Kibum, dan Donghae tersenyum manis ke arahnya. Ia mencari sesuatu dari dalam tasnya, " Ini, berkat ini aku tahu kalau kau berulang tahun hari ini" Kibum meraih kartu pelajar dari tangan Donghae.
"Pantas saja tadi pagi aku tidak dapat menemukannya" Kibum berucap. Namun wajah ceria Kibum hilang begitu saja saat melihat wajah Donghae berubah suram. Lihatlah bayangan hitam terdapat disisi wajahnya.
"K-kau kenapa Hae?" tanya Kibum sambil meraih wajah Donghae.
Donghae terdiam dengan menundukkan wajahnya, "Maaf" lirihnya.
Kibum menaikan satu alisnya. Dan ia mengangkat dagu Donghae. Hingga kini mata mereka saling bertemu, dan dapat Kibum lihat ada kesedihan dari bola mata indah milik Donghaenya itu.
"Maaf untuk apa? Kau tidak melakukan kesalahan apapun" ujar Kibum dengan diiringi senyum manisnya .
Donghae mengangguk, "Benar, aku tidak melakukan kesalahan apapun" ujarnya, "Namun" tiba-tiba nada sedih tergambar jelas disana.
"Aku sedih tidak bisa memberi Bumiie hadiah" terdengar bergetar saat dia mengucapkannya. Tinggal menunggu saja, cairan bening yang akan jatuh dari pelupuk matanya yang nyatanya sudah berair.
Kibum tersenyum, "Ya Tuhan, kau tidak perlu memberiku hadiah apapun Hae. Hadirnya kau disisiku itu lebih dari hadiah apapun. Kau adalah hadiah terbaik yang Tuhan berikan kepadaku, kau hadiah terindah yang pernah aku terima. Jadi, jangan bersedih" Kibum menghapus cairan bening yang bergulir dipipi mulus milik Donghae.
"Benar begitu?" tanya Donghae yang dianggukan mantap oleh Kibum, "Aku serius" jawab Kibum lantang dan penuh keyakinan.
Seulas senyum terlihat diwajah manis Donghae.
"Hae, aku sangat mencintaimu" Kibum membawa Donghae kedalam dekapan hangatnya. Ia mengusap punggung dan rambut Donghae secara bergantian.
Donghae tersenyum dan menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher Kibum, "Aku juga" balasnya pelan namun sangat jelas terdengar oleh Kibum.
Kibum merenggangkan pelukannya, lantas ia kecup bibir Donghae yang tadi sempat menyentuh bibirnya. Lebih terasa manis jika bibirnya yang menawan terlebih dahulu. Apalagi saat Kibum berani membuka mulutnya dan melumat bibir bawah Donghae. Menghasilkan lenguhan dan desahan erotis dari bibir Donghae.
Donghae memejamkan matanya, menikmati sensasi luar biasa yang menyerah system saraf indera perasanya. Ia mengalungkan tangannya, melingkari leher Kibum.
"Hae" Kibum memanggil nama Donghae disela-sela kulumannya. Donghae hanya berdehem membalasnya, karna ia sibuk mendesah.
Kibum melepas ciuman panjangnya, setelah Donghae mendorong pelan dadanya saat dia merasa dadanya sesak dan nafasnya tersengal.
Ternyata ciuman itu melelahkan, pikirnya.
Kibum tersenyum jahil melihat wajah Donghae yang memerah. Ia membawa wajah Donghae ke arahnya, lalu ia kecup lagi bibir Donghae yang sedikit membengkak akibat ulahnya.
Kibum menyeringai, "Aku belum makan Hae" ia berucap sambil matanya focus pada bibir tipis milik Donghaenya itu.
Donghae sedikit takut melihat ekpresi wajah Kibum yang tidak pernah ia lihat sebelum. Belum sempat Donghae membuka suaranya, ia memilih bungkam kala mata tajam Kibum menatap matanya.
"Boleh aku memakanmu?"
"Huh?"
…
Keadaan toko roti milik Eomma Kibum cukup sepi. Karena memang, toko rotinya belum sepenuhnya buka. Lihatlah, Heechul tengah sibuk membereskan kursi dan meja yang terlihat sangat berantakkan.
Inilah resiko yang ia tanggung karena memang dirinya tidak mempunyai karyawan satupun. Dia lebih suka bekerja sendiri. Daripada dia yang harus dibantu dan ditolong. Karena menurutnya, jika bisa melakukan pekerjaan sendiri tanpa meminta tangan orang lain, maka kerjakanlah sendiri dengan tanganmu.
"Permisi"
"Maaf, tunggu sebentar" balasnya tanpa melihat siapa yang kini berdiri disampingnya. Karena ia masih sibuk membersihkan meja yang tadinya kotor terkena tumpahan coklat.
Sosok itu tersenyum, "Heechul Hyung" Heechul terdiam mendengar namanya disebut. Bahkan lebih dari itu. Ia sangat kenal dengan suara itu. Suara yang hilang beberapa tahun yang lalu.
Ia menolehkan wajahnya dengan perlahan. Matanya memanas kala melihat siapa seseorang pria yang kini berdiri tepat dihadapannya.
Heechul menutup mulutnya saat isakan mulai terdengar dari bibirnya. Namja cantik itu menangis dan membiarkan tubuhnya ditarik oleh sosok itu.
"Mianhaeyo Hyung, jeongmal mianhaeyo"
…
Gemericik air terjun kini diiringi tawa membahana dari dua insane yang sedang dimabuk asmara. Mereka, Kibum dan Donghae yang begitu senang menikmati waktu berdua mereka dibawah guyuran air terjun.
Kibum tertawa melihat tawa Donghae yang begitu lepas. Seakan tak ada beban sedikitpun.
'Aku akan menjaga dan melindungimu, bayi mungil kami'
Donghae berhenti tertawa kala melihat Kibum terdiam sambil memandangi wajahnya. Ia mencubit pipi Kibum dengan kuat, "Kau pasti berpikiran yang tidak-tidak!" tuduh Donghae yang membuat Kibum membelalakan matanya.
Kibum menyentil hidung Donghae. Setelah itu ia tersenyum, "Melihat wajahmu, membangunkan imanjinasiku yang indah-indah" satu pukulan kecil tepat dikening Kibum adalah satu tanggapan Donghae.
"Bumiie perveertt" Donghae menujulurkan lidahnya kea rah Kibum. Tentu saja hal itu membuat Kibum gemas dan menarik wajah Donghae dengan kasar. Lalu, menciumi bibir Donghae bahkan ia hisap dengan kuat lidah Donghae. Membuat desahan itu kembali terdengar.
Donghae menghirup udara dengan panjang, lalu menatap Kibum dengan tajam. Namun sedetik kemudian ia tersenyum. Ia memeluk tubuh Kibum yang basah sama dengannya.
"Bummie, maafkan aku yang belum siap dengan hal itu. Tapi aku janji akan memberikannya, nanti" Kibum tersenyum saat mendengar penuturan Donghae.
Kibum mendekap Donghaenya dengan sangat erat. Memberikan ciuman bertubi pada pucuk kepala Donghae. Ia merenggangkan pelukannya. Ia menatap lembut Donghae yang juga menatapnya dengan cara yang sama.
"Maaf, jika kau berpikiran yang buruk tentangku. Aku hanya ingin memiliki dirimu untukku sendiri Hae, secara utuh" Kibum mengelus pipi Donghae yang basah akibat tumpahan air terjun yang menjatuhi tubuh mereka. Tidak terlalu sakit, mengingat ada sebuah batu besar diatas mereka, yang menahan air terjun tersebut untuk tidak langsung jatuh mengenai tubuh mereka.
"Aku akan menunggu disaat yang tepat" Donghae tersenyum mendengarnya, "Gomawo Bumiie" dia pun merebahkan kepalanya pada dada bidang Kibum. Sedangkan Kibum dengan posesiv memeluk tubuh Donghae. Memberikan kehangatan ditengah dinginnya semesta alam ini.
…
"Siapkan mobil, kita akan ke Busan saat ini"
Yunho mengangguk, "Baik Tuan Hangeng" ia pun segera keluar dari ruang kerja Hangeng. Meninggalkan Hangeng yang saat ini tengah menyeringai senang.
"Lihat, siapa yang menang" ujarnya sarkatis. Dia menatap sebuah foto yang akhir-akhir ini ia pandangi, "Cepat atau lambat kita akan bertemu, aku tahu kalau Kanginlah otak dari penyerangan rumah kita beberapa tahun silam, cih" ia segera berjalan menuju pintu kerjanya. Namun langkahnya terhenti, ia membalikkan tubuhnya menatap sekali lagi foto tersebut.
"Kau meninggalkanku karna Kanginkan? Benarkan Chullie? " terlihat amarah yang memupuk didasar hatinya yang terdalam. Sebuah kekecewaan terhadap kisah masa lalunya yang awalnya indah berubah menjadi derita bekepanjangan untuknya.
…
Terjadi letusan senjata beberapa kali. Disebuah kawasan Busan, tepatnya disalah satu gudang tua. Kini terjadi adu peluru yang membuat bising telinga. Belum lagi perkelahian yang terjadi diantara.
"Kau tidak apa Hyung?" tanya Zhoumi saat melihat Sungmin menatap bahunya yang mengeluarkan darahnya sedikit. Sungmin mengangkat kepalanya, ia tersenyum, "I'm fine, awas" Sungmin berteriak dan menarik tangan Zhoumi untuk berlindung.
"Kenapa banyak sekali musuh, dan aku sama sekali tidak melihat tiga koper bewarna metallic didalam mobil hitam tadi" ujar Sungmin sambil memperhatikan dari jauh. Dia juga tidak tahu, mereka siapa dan siapa. Karena semuanya memakai masker mulut dan kacamata. Terlihat sama.
"Kalian berdua tidak apa?" tanya Hyukjae yang baru saja sampai ditempat mereka. Terdapat luka lebam dipipi kanannya.
"Kami berdua baik-baik saja" ujar Zhoumi mewakili Sungmin.
Hyukjae mengangguk, "Baguslah" ia pun segera mengeluarkan ponselnya saat merasakan kalau ponselnya bergetar.
"Ada apa Hyuk?" tanya Sungmin saat ia merasakan kalau raut wajah Hyukjae berubah dua kali lebih panic daripada sebelumnya.
Hyukjae mengangkat wajahnya, lalu menatap Sungmin dan Zhoumi secara bergantian.
"Kita dijebak Hyung, aku baru saja mendapatkan informasi dari Shindong Hyung yang mengatakan kalau diwilayah barat Busan tidak terjadi apapun" jelas Hyukjae yang membuat Sungmin mengeratkan pistol dalam genggamannya.
"Padahal Shindong Hyung sudah menghadang mereka dengan seratus orang yang diperintahkan oleh Siwon"
"Tapi, mana mungkin Siwon bisa salah perhitungan?"
"Bisa saja Zhou, kau ingat tentang insiden yang kemarin baru saja terjadi?" Zhoumi mengangguk membenarkan ucapan Hyukjae.
"Tunggu, apa Shindong Hyung melihat tiga koper metallic itu?" selidik Sungmin yang dibuahkan gelengan dari Hyukjae, "Tidak Hyung" jawabnya.
"Sebaiknya kita pergi dari sini" Sungmin dan Hyukjae mengangguk, sambil mengikuti langkah Zhoumi.
Namun siapa sangka, sebuah pistol menghadang mereka. Mengacung tepat diwajah tampan Zhoumi.
Hingga suara letusan terdengar.
…
Heechul tersenyum santun pada seseorang yang kini duduk didepannya. Dia menghela nafas sebelum berucap, "Dia ternyata si bayi mungil itu, aku tidak menyangkanya" ujarnya pelan tanpa menghilangkan gurat kebahagian dari wajah cantiknya.
"Ya, seperti itulah kenyataannya"
Heechul menatap sosok itu dengan tatapan memelasnya. Seakan memohon sosok itu akan menjawab sebuah pertanyaan yang akan terlontar dari mulutnya.
"Apa dia baik-baik saja?" dia mengucapkan dengan nada yang bergetar, "Katakan, apa dia baik-baik saja?" tanyanya sekali lagi.
Sosok itu diam, memilih menyesap teh hangat yang disediakan Heechul kepadanya. Aura cukup menegangkan, hanya ada dirinya dan juga sosok itu.
Dia pun dengan sengaja tidak membuka toko rotinya hari ini.
"Katakan Kangin, dimana Siwonku?"
Kangin tersenyum kecil sambil menatap Heechul yang sudah berlinang air mata, "Tenanglah, dia baik-baik saja. Siwonmu saat ini sedang bertugas menjadi salah satu anggota FBI" jawab Kangin santai dan tiak terpengaruh oleh situasi yang ditimbulkan oleh Heechul.
"Apa dia tinggal bersamamu?" tanya Heechul sekali lagi.
Kangin mengangguk, "Ya, tapi terkadang dia sering pulang mengunjungi rumah Jaejong" Heechul tertegun mendengar nama Jaejong.
"J-jaejong? Jaejong kau bilang?" Kangin mengangguk, "Benar, kemarin aku sempat menemuinya. Bahkan dia sangat merindukanmu Hyung" Kangin berucap.
Heechul tak kuasa menahan senyum diantara tangisnya, "Bisa kau mempertemukanku dengannya?" tanya Heechul pada Kangin.
"Ya, tentu saja. Akan ku lakukan, tapi tidak sekarang"
…
"Bumiie~ apa masih sakit?" tanya Donghae sambil menyentuh lengan Kibum yang masih berbalutkan perban putih yang basah, tentunya.
Kibum tersenyum sambil membenarkan letak Donghae didalam gendongannya. Ia menggeleng, "Tidak sakit sama sekali" jawabnya pelan.
Donghae tersenyum, lantas merebahkan kepalanya pada punggung hangat Kibum. Walau pakaian mereka masih sangat basah, namun Donghae bisa merasakan kehangatan yang tercipta diantaranya.
"Bumiie~"
"Hm"
"Saranghaeyo"
Kibum menghentikan langkahnya, dan melirik sekilas kea rah belakangnya. Menatap Donghae yang kini memejamkan matanya, "Nado" ia pun melanjutkan langkahnya yang tertunda.
…
"Jadi, Siwon masih tidak mengetahui kalau sebenarnya Jaejong bukan Eomma kandungnya?" tanya Heechul yang dianggukan oleh Kangin.
"Aku pun berharap kau tidak memberitahukan hal ini pada Kibum"
Heechul mengangguk pasrah mendengarnya, "Aku hanya masih tidak percaya, kalau Hangeng" dia menggantungkan perkataannya.
Kangin tersenyum, "Aku akan mencari kebenarannya, maka dari itu aku membutuhkan Kibum dan Siwon dalam membantuku" ujarnya tulus.
Heechul tersenyum, "Aku penasaran dengan wajahnya" ia tertawa, "Oh iya, Hangeng tidak tahukan masalah nama Siwon atau segalanya?" Kangin menggeleng, "Tidak. Dia tidak tahu hal itu, sedikitpun" jawabnya datar.
Keduanya menoleh, saat mendengar pintu toko terbuka dan menampakkan dua orang namja yang saling bergandengan tangan menatap keduanya lurus.
"Appa"
"Eomma?"
….. TBC …..
Semakin anehkah? Aku rasa tidak! Sedikit demi sedikit rahasia dibalik ff ini terkuak. Tunggulah di chap selanjutnya.
Untuk Kibum,
Happy birthday ^^
Bagaimana Kihae momentnya?
Maaf kalau masih ada typo(s) ya .. ^^
Oh iya, maaf tidak bisa balas review kalian satu-satu .
Aku mencintai kalian para readers ~ (^^ )~ ~( ^^)~
