Title: At Last …

Author: Lee Suhae

Main Cast:

Kim Kibum ~ Lee Donghae ~ Choi Siwon

Kim Youngwoon ~ Kim Heechul ~ Kim Jaejoong ~ Tan Hangeng ~ Jung Yunho

And others,

Pair: Kihae

Genre: Romance, tragedy, family, yaoi

Rated: T

.

" Ternyata, Choi Siwon dan Kim Kibum adalah saudara kandung. Bagaimana bisa? Lalu, bagaimana nasib Hyukjae, Sungmin dan Zhoumi. Selamatkah mereka? Dan, apa yang dilakukan Donghae sehingga dirinya berada dirumah Hangeng?"

Chapter VI

-LSuhae-

#NP – IT'S ALRIGHT by Yang Hwa Jin

Senja mulai menyapa,terlihat dua orang namja yakni adalah sepasang kekasih yang menaiki sepeda menuju toko roti. Sang namja manis sebut saja Donghae, memeluk pinggang sang kekasih dengan sangat erat. Merebahkan kepalanya dipunggung sang namja tampan. Saling berbagi kehangatan ditengah dinginnya tubuh mereka. Sedikit berkurang, walau dinginnya menusuk hingga kedalam tulang mereka.

Senyum bahagia tertoreh begitu indah dikeduanya. Tatapan suka tercetak jelas diwajah Donghae dan juga, Kim Kibum.

Kibum menunduk sekilas, mencoba melihat rengkuhan yang dilakukan tangan – tangan Donghae atas tubuhnya. Lantas, ia usap dengan lembut sambil berkata,

"Aku benar – benar senang hari ini, gomawo Hae"

Donghae tersenyum mendengar ucapan tulus sang kekasih. Ia memejamkan matanya, saat usapan itu mampu menghangatkan tubuhnya yang masih saja terasa dingin.

"Aku akan membagi kebahagian diriku kepadamu Bumiie, bukankah kita saling mencintai?"

Kibum mengangguk cepat, "Tentu saja. Aku akan selalu mencintaimu dan menjagamu Hae, apapun yang terjadi aku ada didepanmu". Satu kalimat panjang yang membuat Donghae melepaskan pelukan hangatnya, dan tentu saja hal itu membuat Kibum menghentikan kayuhannya.

Ia menoleh ke belakang, mencoba melihat Donghae yang nyatanya sedang memandangnya dengan tatapan bingung dan heran.

"Kau kenapa?"

Donghae terlihat enggan menjawab. Namun, karena satu hal yang mengganjal dihatinya mau tak mau membuat dirinya akhirnya buka suara.

"Apapun yang terjadi kau akan selalu didepanku?" Kibum mengangguk.

Donghae tersenyum sekilas sebelum kembali berucap,

"Bukankah orang yang benar – benar peduli, akan selalu berdiri dibelakang bukan didepan? Aku baru kali ini mendengarnya. Biasanya, setiap sepasang kekasih akan berucap, aku akan selalu berada dibelakangmu, mendukungmu dengan setulus hatiku. Tapi, kenapa kau sebaliknya?"

Kibum tersenyum, lantas memberi acakan ringan pada rambut brunnete milik Donghae.

"Kau – bukan seorang pemimpin yang berjalan didepan, sehingga aku berada dibelakangmu. Kau, adalah seseorang yang membuat Kim Kibum menjadi tameng. Menjaga dan melindungi seseorang yang memegang tameng tersebut"

Donghae memiringkan kepalanya, "Lalu, buat apa mereka – eum, Hyuk Hyung menggombali kekasihnya dengan mengucapkan kata – kata tersebut? Bukankah itu sama saja menyerahkan kekasihnya sebelum dia?"

Kibum tersenyum mendengar pertanyaan polos kekasihnya itu, " Aku dan Hyuk Hyung berbeda. Aku dan mereka berbeda. Yang boleh kau dengar adalah perkataanku, bukan perkataan Hyuk Hyung atau yang lainnya. Aku" ia menunjuk dirinya sendiri, tak lupa, tersenyum lembut ke arah Donghae serta memberi usapan lembut dipipi Donghae dengan tangan yang lain.

"Aku adalah tameng yang akan menjaga dan melindungimu. Aku bukan orang terakhir dibelakangmu, karena aku akan terus menjadi yang pertama agar kau tak pernah tersentuh oleh siapapun. Maka dari itu, sudah ku putuskan untuk bergabung dengan Appamu. Aku tak ingin, jika barang behargaku tersentuh oleh tangan kotor orang lain, apalagi sampai tersakiti"

Raut wajah Donghae yang kebingungan akhirnya bisa tergantikan oleh raut bahagia. Terpancar begitu jelas dari bola matanya yang indah itu.

"Kau sudah mengerti sekarang? Kenapa aku berdiri didepanmu bukan dibelakangmu?". Donghae mengangguk mendengarnya, dan Kibumpun tanpa basa – basi membubuhkan satu kecupan dikening sang kekasih.

"Kajja, kita ke tempat Eomma" ajak Kibum yang mendapatkan teriakan semangat dari Donghae. Ia pun tertawa keras saat dengan teriakannya yang sangat keras itu Donghae berucap,

'Aku sangat lapar .. Beri aku makanan'

Namun tawa Kibum harus hilang saat celetukan Donghae terlontar,

"Memang, barang beharga Bumiie apa?" -_-

Kibum hanya diam, dan mengayuh sepedanya lebih cepat. Dan, Donghae? Hanya bisa memajukan bibirnya kesal karena Kibum tidak menjawab pertanyaannya. Dalam hati ia bertanya, siapa barang beharga Kibum? Apa si tameng?

Semua readers dan juga saya akan berteriak tepat ditelinga Donghae kalau dirinyalah benda beharga itu, Benar begitu?

-LSuhae-

Disebuah ruangan yang terlihat sempit, mungkin karena tumpukkan buku – buku serta map – map yang berukuran besar membuat ruangan yang tadinya hening menjadi sedikit bernyawa. Mungkin hal ini dikarenakan, adanya seseorang didalam ruangan itu.

Siwon.

Ya, seseorang berkemeja putih yang digulung selengan dengan kaca mata hitam itu adalah Siwon. Hampir lima menit waktunya ia habiskan untuk berdiam diri, dan dirinya tak akan bergerak kalau saja pintu ruang kerjanya tak ada yang mengetuk.

Ia berdiri, setelah mempersilahkan seseorang disana untuk masuk.

"Akhirnya kau kembali juga, Hyung" ujar seoarang namja berperawakan kecil berwajah manis yang sekarang berjalan menuju sofa, duduk dan meletakkan map yang ia bawa kesamping tubuhnya.

Siwon hanya diam, walau kakinya melangkah menghampiri sosok itu.

"Bagaimana cutimu, apa menyenangkan?" tanyanya, yang hanya dijawab anggukan kepala oleh Siwon.

Sosok itu yang bernama Kim Ryeowook hanya tersenyum kecil melihat tingkah rekan sekerjanya itu. Karena memang dirinya sudah hafal betul watak si penyuka bela diri ini.

Ryeowook menepuk pelan keningnya, "Oh" segera ia mengambil map biru yang ia bawa dan ia serahkan kepada Siwon.

Siwon mengambil map tersebut dan segera ia baca. Matanya bergerak mengikuti setiap kata yang ia baca. Hingga matanya berhenti bergerak, menandakan kalau ia berhenti membaca. Ia mengangkat wajahnya, menatap Ryeowook yang duduk dihadapannya.

"Ini .."

"Itu adalah surat perintah dari Pak Jung"

Siwon menatap tulisan itu lagi, sebelum matanya beralih untuk menatap Ryeowook.

"T –tapi, ini tak adil untukku!"

Ryeowook menghela nafasnya sebelum berdiri. Ia pandang seorang namja yang jauh lebih tinggi darinya.

"Kau sudah diberi kesempatan selama 2 tahun untuk bisa menangkap salah satu anggota TRIAD. Tapi, satu anggotapun tak bisa kau dapat, Hyung. Walau kau bisa menangkap ratusan anggota dari kelompok lain, tapi .. kau ingatkan surat perintah yang turun 2 tahun lalu?"

Perintah yang Siwon terima untuk bisa menangkap satu saja anggota TRIAD yang ditugaskan Pak Jung – atasannya – kepadanya.

Siwon mengusap kasar wajahnya. Ryeowook yang melihat itu hanya bisa tersenyum sedih. Bagaimanapun ia tahu Siwon. Siwon yang mempunyai ambisi yang kuat dan pantang menyerah harus menerima kalau dirinya telah dinyatakan gagal daam misi ini. Mungkin, TRIAD memanglah tangguh sehingga Siwon sangat susah untuk menangkapnya, itu pikirnya. Namun, tahukah jika Siwon mati – matian melindungi anggota kelompoknya dan menyembunyikan identitas aslinya?

Ryeowook menepuk pelan pundak Siwon, "Aku yakin kau bisa melewati misi kali ini. Karena sebelumnya kau sudah berhasil menangkap beberapa anggota dari SNAKERS. Walau kali ini misimu bukan hanya menangkap anggotanya melainkan Big Boss SNAKERS".

"Tapi, siapa yang akan menggantikan posisiku? Atau mungkin misi untuk menangkap salah satu anggota TRIAD akan dihapuskan?" satu harapan yang sangat ia inginkan. Jika hal itu benar adanya, tak perlu lagi ada yang dikhawatirkan. Lagipula, TRIAD bukanlah mafia yang suka rusuh dan berbuat onar. Tindakan brutal yang dilakukan TRIAD semata – mata untuk melindungi anggota mereka – keluarga mereka – dan memusnahkan geng besar bernama SNAKERS.

Ryeowook menggeleng pelan, "Tidak mungkin itu terjadi, Hyung. Walau aku juga merasa kesal dengan Pak Jung dan beberapa petinggi yang ingin sekali membasmi TRIAD. Padahalkan setiap kasus yang mereka buat adalah untuk menyelamatkan kita secara tidak langsung. Bukan seperti SNAKERS dan para sekutunya itu" ucapnya yang membuat Siwon tersenyum kecil.

Ia ingin bertanya tentang sosok yang akan menggantikan dirinya kalau saja ponselnya tak berbunyi.

'Henry?', bathinnya saat membaca nama yang tertera dilayar ponselnya. Ia mengangkat wajahnya, menatap Ryeowook yang saat ini juga menatapnya.

"Kenapa tidak diangkat? Siapa tahu itu penting Hyung" saran Ryeowook yang tentu saja diacuhkan Siwon. Mungkin ia merasa, kalau ada yang tidak beres disaat Henry menelponnya. Tapi, saat ini ia sedang merundingkan tentang tugas baru yang diberikan kepadanya.

Ia tidak lagi mengawasi dan harus menangkap salah satu anggota TRIAD, melainkan anggota SNAKERS. Bukan ia tidak senang, namun dengan tugas barunya ia tidak bisa lagi untuk memberi tahukan apa yang sedang direncanakan sesama rekan kerjanya untuk bisa menangkap anggota TRIAD. Bagaimana disaat ia sibuk dengan tugasnya, salah satu anggotanya tertangkap? Bagaimana jika itu Donghae?

Siwon merasa kalut saat ini. Ia butuh penenangan, ia butuh Donghae saat ini. Tapi, bukankah Donghae tidak ada dan Siwon mempunyai firasat kalau Donghae yang sudah diklaim miliknya sedang bersama Kibum, seseorang yang tidak disukainya.

Jika memikirkan hal ini semakin membuat kepalanya ingin pecah. Bingung harus memikirkan yang mana.

Ryeowook yang melihat raut wajah Siwon yang begitu aneh hanya diam. Ia bisa menilai kalau arti raut wajah Siwon diantara khawatir, bingung dan cemburu, entahlah.

"Hyung, surat perintahnya akan keluar beberapa jam lagi. Dan kau akan tahu siapa yang akan menggantikan posisimu"

Siwon tak menyahut sepatah katapun. Bahkan sampai tubuh Ryeowook tak ada dihadapannyapun ia masih memilih untuk bungkam. Dalam benaknya pikiran itu kembali muncul.

'Apa yang dilakukan Kibum dan Donghae?'

Hanya itu, dan ia tak lagi memikirkan tentang Henry yang mencoba menghubunginya hingga saat ini dan tentang pergantian tugas baru yang dilimpahkan untuknya.

-LSuhae-

Kibum tersenyum, "Tubuhmu bertambah berat Hae" satu kalimat pujian atau, entahlah, yang harus Donghae terima.

"Aku ini langsing" elak Donghae sambil memeluk leher Kibum lebih erat, walau tidak sampai mencekik.

Kibum terkekeh pelan, "Memang kau seorang yeoja hm?". Donghae menggelengkan kepalanya pelan, "Tidak. Aku namja tulen. Hanya saja, kemanisanku melebihi kemanisan seorang yeoja. Kau tahu Park Min Young? Kata Appa, yeoja itu kalah manis dariku" ia berucap bangga, dan membuat Kibum mengangguk mendengarnya.

"Ya, kau lebih manis dari siapapun. Kau yang termanis "

Donghae tersenyum senang mendengarnya. Ia merebahkan kepalanya pada punggung Kibum. Namun, ia mengangkat kepalanya saat melihat sesuatu yang mengusik sanubarinya.

"Bumiie .. apa ini masih sakit?"Tanya Donghae sambil menyentuh lengan tangan Kibum yang masih berbalutkan perban putih yang basah, tentunya.

Kibum tersenyum sambil membenarkan letak posisi Donghae dalam gendongannya. Ia menggeleng, "Tidak sakit sama sekali" jawabnya pelan.

Donghae tersenyum, lantas merebahkan kembali kepalanya pada punggung hangat Kibum. Walau pakaian mereka basah, namun Donghae bisa merasakan kehangatan yang tercipta diantaranya.

"Bumiie .."

"Hm"

"Saranghaeyo"

Kibum menghentikan langkahnya. Oh ya? Mana sepeda mereka? Ternyata mereka mengalami kebocoran ban saat menuju ke toko Roti milik Eommanya. Sehingga dirinya dengan ikhlas harus menggendong Donghae yang mengaku sangat kelelahan.

Ia melirik sekilas ke belakang, menatap Donghae yang kini memejamkan matanya. "Nado" ujarnya pelan lalu melanjutkan langkahnya yang tertunda.

Pandangannya kini terfokus pada rumah yang tak begitu luas terpampang jelas didepan matanya. Rumah yang dijadikan Eommanya untuk mencari nafkah untuk dirinya.

Namun matanya menyipit kala menangkap sebuah mobil bewarna hitam pekat yang ia tahu sangat mahal harganya. Mungkin butuh 10 tahun dirinya menabung untuk membeli mobil itu. Ia pun mempercepat langkahnya dan membuat gumaman kecil dari bibir Donghae. Ternyata, bocah itu tidaklah tertidur. Dirinya hanya memejamkan mata sambil menghirup aroma maskulin dari tubuh Kibum.

Beberapa menit berselang setelah Kibum dan Donghae masuk ke dalam toko roti milik Heechul – Eomma Kibum. Keadaan senyap menyelimuti empat namja termasuk Donghae dan Kibum itu sendiri. Disalah satu meja bundar, mereka berempat duduk melingkar. Dengan Donghae yang di apit oleh Kibum dan pemilik toko – Heechul.

Hingga akhirnya, sebuah deheman terdengar. Satu diantaranya menyeruput secangkir susu hangat yang sempat Heechul buat untuknya. Hingga semua mata tertuju padanya. Bagaimana tidak, ia membuat suara saat ia menyeruput minumannya itu.

"Kau, benar – benar menggemaskan" celetuk Kibum sambil menyentil hidung Donghae. Donghae tersenyum amat lebar. Menatap Kibum dengan pandangan lembut dan dirinya menganggap kalau hanya ada dirinya dan orang terkasih dimeja itu. Tanpa peduli ada dua pasang mata yang memperhatikan dirinya.

"Aku memang segalanya" ujarnya sambil terkekeh pelan.

"Eumh .. sebaiknya Eomma ke belakang dulu" Heechul berdiri dan hendak berjalan kalau saja Donghae tidak menahan lengannya.

"Eomma mau kemana? Bukankah pertanyaan kami belum dijawab?"

Mau tak mau Heechul kembali duduk. Terdengar helaan nafas dari mulutnya. Sekilas ia melirik Kangin - yang hanya diam sambil memfokuskan pandangan kea rah Donghae.

"Jadi sebenarnya, kami –"

"Adalah teman dekat dari bangku sekolah dasar" sambung Kangin yang membuat Heechul menoleh ke arahnya. Tentu saja hal itu membuat mata jeli seorang Kim Kibum menyipit. Ia bisa membaca raut keterkejutan dari sang Eomma. Kenapa harus kaget saat Kangin menyambung ucapannya? Atau mungkin Eommanya akan menjawab hal lain sehingga ia tidak menyangka kalau Kangin akan menjawabnya dengan kata – kata seperti itu. Dan Kibum tidak bertanya lebih lanjut. Karena ia melihat, ada sesuatu hal yang disembunyikan oleh dua orang yang sangat diseganinya ini. Dan ia memilih untuk diam, dan mendengarkan cerita Kangin bersama Eomma dan Appanya.

"Jadi, Appa, dan Hee Eomma mengenal satu sama lain? Berarti, Eomma juga kenal dengan Eomma ku?"

Heechul mengangguk dan menarik tubuh Donghae ke dalam dekapannya. Ia menciumi pucuk kepala Donghae bertubi – tubi.

"Tentu saja sayang … Eomma-lah yang menggendongmu setiap kali kau menangis. Eomma-lah yang menyuapimu saat kau kelaparan. Eomma-lah yang membuatkanmu susu saat kau haus" Donghae tersenyum mendengar penuturan Heechul. Ia tak menyangka jika akhirnya ia bisa bertemu dengan salah satu orang yang sangat beharga dalam hidupnya.

Dengan mata berair Heechul kembali berucap, "Tapi sayang, saat usiamu dua tahun kau dibawa pergi Appamu ke Belanda kala itu. Dan sepanjang waktu itulah kita tidak pernah bertemu satu sama lain" lanjutnya sambil mengenang masa – masa itu. Masa dimana ia kehilangan untuk kedua kalinya orang yang begitu ia cintai. Dimana mereka pergi untuk menyelamatkan hidup mereka dan keluarga besar mereka termasuk dia. Walau Kibum masih ada disampingnya, hal itu tak mampu mengobati rasa kerinduannya dengan bayi mungilnya yang sudah ia temukan sekarang dan juga, tentang Siwonnya. Kakak kandung dari seorang Kim Kibum.

Kibum yang melihat itu turut bahagia, akhirnya sang Eomma bisa juga menemukan malaikat yang pernah hilang dalam hidup sang Eomma. Tak berbeda jauh dengan Kangin. Pikirannya melayang ke tempo dulu. Dimana dirinya hidup bahagia dengan istrinya, hingga akhirnya sang istri tewas dihari kedua usia anaknya. Tentang penyembunyian kehamilan Heechul saat mengandung Kibum. Tentang pelarian Siwon ke America bersama Yoochun dan Jaejong. Tentang pembunuhan tragis sahabat baiknya Yoochun. Tentang –

Permusuhan dirinya dengan Hangeng yang belum usai sampai sekarang.

"Aku sangat senang bisa bertemu denganmu Eomma" Donghae melepaskan pelukannya, lantas memberikan satu kecupan ringan dipipi Heechul,

"Aku akan menjadikanmu Eomma ketigaku"

Kening Heechul mengerut samar, "Ketiga? Memang siapa kedua?" tanyanya heran. Kalau yang pertama tentu saja ia tahu, yaitu Eomma kandungnya. Tapi, kalau kedua?

Donghae tersenyum manis, sepintas ia menatap Kangin sebelum mengalihkan pandangan kea rah Heechul sepenuhnya.

"Jaejoong Eomma, dia adalah Eomma dari Siwon Hyung. Anak angkat dari Appa"

Mendengar nama Siwon yang begitu indah mengalun ditelinganya membuat mata Heechul berbinar.

"Jongie?" ujarnya pelan tanpa sadar, namun Kibum dan Kangin mendengar ucapannya itu. Tentu saja hal itu membuat Kibum semakin dirasuki rasa penasaran.

"Apa Eomma mengenal Jae Eomma?" Tanya Donghae lagi, tanpa menyadari perubahan raut kekasihnya dan Appanya.

"Ya, ten –"

"Sebaiknya kami pulang dulu" Kangin angkat suara, memotong pembicaraan Heechul yang belum usai. Untung saja Kangin dengan cepat mendahuli Heechul yang ingin mengatakan kalau dirinya dengan sangat baik Jaejong. Itu akan memperburuk keadaan. Bagaimana kalau saat ini ada yang menguping pembicaraan mereka. Tentu saja keselamatan Jaejong akan terancam. Bukan hanya Jaejong tapi seluruh keluarga besar TRIAD. Kenapa? Karena bagaimanapun, rahasia besar ada ditangan Jaejong. Tentang Siwon dan Yoochun. Tentang kebenaran Siwon yang bukanlah anak kandung dari pasangan suami istri Jaejong dan Yoochun, melainkan dari pasangan Heechul dan Hangeng. Maka dari itu, Kangin tidak ingin kalau Donghae ataupun Kibum tahu kalau Heechul mengenal Jaejong. Lagipula, Kangin takut kalau rahasia Siwon yang ternyata bukanlah anak kandung Jaejong akan membuyarkan rencananya yang ia susun bertahun – tahun. Jika hal itu sampai terbongkar dini, hancurlah rencananya untuk menangkap seseorang yang benar – benar dibalik cerita ini. Entah itu Hangeng atau bukan, karena hatinya pun berkata kalau Hangeng tidaklah sejahat itu. Membunuh istri dan Yoocuh yang notabene adalah sahabat dekatnya. Dan tentu saja, keselamatan Jaejong dan Donghae terancam. Bagaimana tidak? Pasti Hangeng akan mengincar keduanya karena ingin balas dendam bukan?

Desahan kecewa terdengar jelas dari bibir ranum Donghae.

"Kenapa pulang Appa .. sebentar lagi" rengeknya manja dengan mengeluarkan tatapan andalannya kea rah sang Appa.

Namun Kangin memiliki rahasia jitu untuk melawan senjata pemusnah ala Donghae dengan cara mengalihkan pandangan kea rah lain, kea rah Heechul.

"Maaf Chulie Hyung, kami harus pulang. Ada masalah" ujarnya yang mendapat anggukan dari Heechul.

"Berhati – hatilah"

Kangin berdiri, tanpa memperdulikan isakan kecil yang Donghae buat untuk meluluhkan hati sang Appa. Ia menatap Kibum yang sedang membujuk Donghae untuk diam. Dirinya ingin tertawa, melihat tingkah lucu sang anak yang begitu menggemaskan dimatanya. Namun sayang, kekhawatiran dirinya tentang tiga orang yang dipercayainya sedang dipertaruhkan.

"Kibum"

Kibum menoleh, saat namanya diucapkan begitu tegas oleh Kangin. Ia menatap Kangin dengan tatapan – apa? – tanpa menjawab.

"Mulai mala mini kau akan tinggal dirumahku"

"Jinjjaa?"

Bukan Kibum yang berteriak senang, melainkan Donghae yang saat ini sudah berdiri disamping Kangin. Memeluknya dengan erat tanpa adanya tangisan palsu yang ia buat.

Kangin mengusap lembut rambut Donghae, "Ya. Dia akan menjaga dan melindungimu setiap saatnya" ucapnya yang membuat Donghae tersenyum senang. Hal yang ia harapkan akhirnya bisa terwujud juga. Kibum kini, akan selalu ada didepannya!

Dalam hitungan detik, Kibum, Donghae dan Kangin sudah pergi dari tempat itu. Meninggalkan Heechul yang diam sambil memperhatikan mobil hitam melaju dan hilang dipekatnya malam.

Setetes air matanya jatuh begitu saja. Ia hapus air mata itu dengan usapan lembut ibu jarinya. Ia mendekap tubuhnya sendiri. Seakan memberi kehangatan ditubuhnya yang hanya dibalut oleh selembar kaos.

"Siwon, Eomma merindukanmu … "

"Kangin –ah, tolong jaga Siwonku dengan baik hingga semuanya menjadi terang".

"Tentu, Hyung. Aku akan menjaganya".

"Kibumku, dan juga Donghae. Tolong lindungi ketiga anakku".

"Kau jangan risaukan hal itu, Hyung. Aku akan menjaga mereka".

"Gomawo".

"Aku yang harusnya berterima kasih denganmu. Berkatmu, aku tak membunuh Hangeng kala itu"

"Karena aku yakin, bukan dia pembunuh istrimu dan Yoochun"

"Aku akan mengungkap semuanya. Ah, bukan aku tapi kedua anakmu. Aku hanya membantu mereka. Biarkan kakak beradik itu menyelidiki siapa dalang dibalik hancurnya hubungan persahabatan kita, orangtua mereka"

"Aku percaya padamu Kangin –ah. Tapi jika benar Hangeng yang melakukannya, aku, aku .. menyerahkannya padamu dan Jaejong"

Heechul menatap selembar foto dirinya dengan kelima sahabatnya termasuk suaminya, Hangeng. Ia usap wajah Hangeng beberapa belas tahun yang lalu. Dimana Hangeng saat itu masihlah Hangeng yang menjadi anggota kelompok TRIAD.

"Aku merindukanmu, suamiku. Maafkan aku yang tak bisa menemuimu dan jujur padamu"

-LSuhae-

Terdengar suara tembakan. Bukan sekali, bahkan puluhan kali. Peluru itu meluncur dan melayang ke berbagai arah. Hingga satu peluru menembus kulit seorang namja bertubuh jangkung yang melindungi tubuh namja pemilik gummy smile yang sedang berkelahi dengan beberapa orang yang menhadang mereka.

"Awas" peringat Sungmin saat melihat seorang lain datang, dan melempar balokan besar kea rah Zhoumi.

Zhoumi bisa menghadapinya. Dengan satu tangan, ia masih bisa bertarung. Hingga sepuluh menit berselang, satu persatu musuh bisa tumbang.

Hingga mereka harus berlari lagi, berusaha melarikan diri dari tempat yang bisa melayangkan nyawa mereka satu – satunya.

"Apa kau sudah mencoba hubungi Siwon, Hyuk?"

Hyukjae menggeleng, "Tidak ada signal disini" jawab Hyukjae terbata – bata, karena nafas yang ia miliki terbatas. Lelah dan tubuhnya penuh luka. Satu peluru telah mencicipi sedikit pelipis matanya. Karena waktu itu ia mencoba menyelamatkan Zhoumi yang telah dibidik seseorang dengan pistol yang mengacung ke wajahnya.

"Sial" runtuk Sungmin kesal saat melihat tembok besar dihadapan mereka, jalan buntu.

Hyukjae mengeram, "Bagaimana ini?" ia mengacak rambut merahnya. Lalu, menolehkan wajah kea rah Zhoumi yang sedang memengangi lengannya yang terus mengeuarkan darah.

"Apa kau masih bisa menahannya?"

"Apa kau melihat aku pingsan saat ini?"

"Ku anggap itu jawaban iya"

Sungmin berbalik cepat saat ia mendengar beberap langkah kaki mendekat. Hal itu juga dilakukan oleh Zhoumi dan Hyukjae.

"Peluruku habis"

"Punyaku tinggal .. satu" timpal Zhoumi.

Hyukjae menolehkan wajahnya ke kanan untuk melihat Sungmin dan ke kiri untuk melihat Zhoumi.

-LSuhae-

Dipagar jembatan yang dialiri Sungai kecil, nampaklah seorang namja sedang menyandarkan punggungnya pada pintu mobil yang tertutup. Ia membetulkan jaketnya, sebelum akhirnya ia menoleh dan melihat seorang namja berwajah manis sedang berjalan menghampirinya.

"Bagaimana?" tanyanya yang mendapatkan gelengan dari dia – Henry.

"Siwon Hyung sama sekali tidak mengangkat teleponku, Kyu"

Kyuhyun menutup resleting jaketnya, lantas membuka pintu mobil dan menyuruh Henry untuk masuk ke dalam mobil.

"Kita mau ke mana Kyu?"

Kyuhyun menyalakan mesin mobil, dan memilih diam. Belum sempat Henry mengulangi pertanyaannya, Kyuhyun lebih dulu angkat bicara,

"Mereka dijebak, Shindong Hyung sama sekali tidak menemukan koper metallic itu. Siwon salah perhitungan lagi"

Mata Henry membulat, "Lalu? Bagaimana nasib Min Hyung, Mimi gege dan Hyuk Hyung?" tanyanya penasaran dan tersirat kekhawatiran diraut wajahnya.

Kyuhyun mengedikkan bahunya, "Aku tak tahu, ponsel mereka sama sekali tidak bisa dihubungi" jawabnya tanpa memandang Henry karena dirinya focus pada jalan raya didepannya.

"Lalu, apa yang harus kita lakukan? Aku akan menghubungi Siwon Hyung"

"Jangan" cegah Kyuhyun yang membuat Henry berucap, "Huh?".

"Kenapa?"

"Jangan hubungi dia, aku merasa ada sesuatu yang aneh dengannya. Kita akan kembali ke rumah, kita pikirkan caranya disana".

"Tidak mungkin Kyu, mereka menunggu kita. Bagaimana kalau nyawa mereka dalam bahaya"

Kyuhyun menambah kecepatan laju mobilnya. Membelah malam yang baru saja menyapa keduanya.

"Bagaimana kalau kita menyuruh Shindong Hyung?"

Kyuhyun menggelengkan kepalanya pelan, "Tidak bisa. Aku mendapatkan kabar dari salah seorang yang ikut dalam misi penyerbuan diteluk Kyongi bersama Shindong Hyung, kalau butuh 5 jam mereka sampai di Busan".

Jawaban Kyuhyun membuat Henry dirundung rasa cemas dan gelisah. Pikiran buruk mulai merayapinya. Dan hal itu, membuat dirinya bingung untuk memikirkan jalan keluarnya.

"Kita bicarakan masalah ini dengan Tn Kangin. Beliau sudah tahu masalah ini" ujar Kyuhyun yang dianggukan pasrah oleh Henry. Dalam hati ia berdo'a, semoga saja semuanya selamat. Dan terbesit pertanyaan tentang Siwon yang sama sekali tidak mengangkat teleponnya hingga sekarang.

-LSuhae-

"Taechyeon?"

"Ya. Dia yang akan menggantikan posisimu untuk menangkap salah satu anggota dari TRIAD"

"Tak bisakah anda memberikan kesempatan untukku sekali lagi"

Pak Jung tersenyum sinis, "Untuk apa?".

Siwon mencoba menahan emosinya saat berhadapan dengan atasan yang sangat dibencinya ini. Kalau saja bukan untuk melindungi keluarganya ia sama sekali tak mau masuk dalam agen rahasia berlabel – FBI ini. Padahal dengan mudah ia bisa membunuh si tua keparat ini. Tapi, ia masih memikirkan istri dan anak atasannya itu.

"Aku akan .. " ia berpikir sejenak, "Aku akan berusaha menangkap salah satu anggota TRIAD" lanjutnya.

Pak Jung berdecih, "Dua tahun kau sia – siakan hanya untuk mengurusi SNAKERS. Maka dari itu aku menugaskanmu untuk menangkap Bos SNAKERS"

"Aku juga mengawasi pergerakan TRIAD"

"Buktinya? Setiap kali kau menyuruh anak buahmu untuk melakukan penggebrekan tak ada satupun orang yang mereka temui disana. Malah, kau memberi mereka dengan kumpulan orang – orang idiot bertatto ular tersebut.

"Tapi, mereka juga penjahat, Pak"

"TAPI YANG AKU INGINKAN ADALAH KAU BISA MENANGKAP ANGGOTA TRIAD, BUKAN SNAKERS"teriaknya keras.

Pak Jung memandang Siwon remeh, "Kau ini bisa diajak kerja sama tidak? Jika kita bisa memusnahkan mereka, kita akan mendapatkan penghargaan yang sangat tinggi dari Presiden"

Ingin rasanya Siwon mencabik – cabik isi perut si keparat ini karena yang dipikirkan tua Bangka itu hanya kedudukan.

"Asal anda tahu saja, anak anda bersekolah disekolahan elite karna bantuan TRIAD yang dengan mudahnya mengeluarkan uangnya untuk biaya – biaya anak yang tak mampu. Terkadang aku heran dengan anda, Pak. Anda mengenakan pakaian mahal dan mobil anda berganti – ganti setiap harinya tapi, kenapa anda, menyekolahkan anak anda disekolah yang tak layak untuk orang sepenting anda"

Pak Jung membelalakan matanya, bagaimana Siwon tahu tentang masalah anaknya.

"Tutup mulutmu anak muda"

Siwon tersenyum sinis, "Kartu anda sudah mulai terlihat Pak Jung yang terhormat. Jika kau tak menurunkan surat perintah agar aku tetap menjalankan tugasku dalam misi pengawasan dan penangkapan anggota TRIAD. Aku akan membuat anda, keluar dari tempat ini tanpa sehelai benangpun. Karena aku juga tahu, uang apa yang anda makan selama ini. Bajingan" ucap Siwon panjang lebar yang membuat kemarahan Pak Jung memuncah. Namun, ia sama sekali tak bisa melawan Siwon saat ini.

"Baiklah. Akan ku tunggu surat perintah darimu" Siwon melangkahkan kakinya keluar, sebelumnya ia membersihkan topi yang dikenakan Pak Jung.

PaK Jung mengepalkan tangannya, "Akan ku buat kau menyesal karena telah mempermalukanku" ungkapnya penuh dengan emosi.

Ia segera mengeluarkan ponsel, menghubungi seseorang diseberang sana.

"Cari tahu tentang Choi Siwon, agen FBI" ia tersenyum senang, "Baguslah jika kau tahu orangnya, cepat kau cari identitas aslinya" setelah itu sambungan telepon terputus.

"Kau lupa satu hal Tn Choi, kartu joker ada ditanganku"

-LSuhae-

"Kyu, Mochie"

Dua orang yang dipanggil namanya membalikkan tubuh mereka. Bisa mereka lihat seorang namja berwajah manis yang mengenakan kaos oblong dan celana pendek menghampiri mereka yang saat ini berada dipinggir kolam. Ia datang tak sendiri, melainkan bersama Kibum dan bos mereka, Kangin.

"Tuan" sapa keduanya berbarengan.

Kangin tersenyum sekilas sebelum berucap, "Kalian ku tugaskan untuk menyusul mereka. Saat ini posisi mereka ada diujung pelosok. Disebuah gedung tua yang pernah dijadikan pabrik tekstil"

"Pantas saja mereka bertiga susah sekali dihubungi" sahut Henry yang dianggukan Kyuhyun.

"Baiklah. Kyu, kau pimpin misi ini" Kangin mengalihkan pandangannya untuk menatap Kibum yang ternyata juga menatapnya.

"Kau ikut dalam misi ini. Ku harap kau bisa membantu Kyu dan Henry. Dan .." Kangin mengambil sesuatu dari balik jas coklatnya.

"P-pistol?" ungkap Kibum tak percaya.

Kangin tersenyum sambil menepuk pelan, "Jaga pistol itu baik – baik, karena pistol itu .."

"Adalah pistol yang membuat Eomma meninggal" sambung Donghae dengan nada sedih. Dengan cepat Kibum merangkulnya dari samping, "Tenanglah. Aku akan menjaganya dan menjagamu. Aku berjanji akan menemukan pembunuh Eommamu" 'dan mengungkap misteri kematian Appaku dan rahasia dibalik cerita masalalu Appamu dengan Eommaku'

"Sebaiknya kalian bertiga berangkat"

"Baik Tuan"

"Tunggu"

Semua mata tertuju pada Donghae. Donghae meneguk salivanya susah.

"Emh, Appa bolehkan aku ikut dalam misi ini?"

Dengan cepat Kangin – bukan hanya kangin tapi Henry, Kyuhyun dan Kibum menggelengkan kepalanya.

"Tidak boleh Hae. Kau akan membahayakan dirimu sendiri"

"Tapi, aku ingin menyelamatkan mereka juga Appa .. Ku mohon .. Lagipula ada Bumiie yang akan menjagaku"

"Tugas Kibum bukan untuk menjagamu Hae, tapi untuk membantu menyelamatkan nyawa Hyukjae, Sungmin dan Zhoumi disana "

"Kalau begitu, biarkan aku menunggu didalam mobil"

"Tidak boleh"

Donghae menghentakkan kakinya kesal, "Kalian jahat. Pergilah" ia melangkah pergi dengan tangisannya. Satu hal yang tidak bisa dihindari Kyuhyun, Henry dan juga Kibum, tentu saja.

Hingga Kangin menyerah, melepaskan Donghaenya ke dalam misi yang sangat berbahaya. Tapi, ia percaya ketiga orang yang Donghae kasihi akan mampu melindungi anaknya itu.

-LSuhae-

"Yang ku punya tinggal granat ini" ucapnya sambil memegang benda berukuran sebesar kepalan tangan bewarna buram coklat.

"Mereka mendekat" ujar Sungmin.

"Apa kau siap mati Hyuk?" gurau Zhoumi yang membuahkan tawa dari Hyukjae.

"Sudah ku bilang, aku tidak akan mati sebelum aku menggantikan posisi Siwon"

"Satu"

"Dua" sambung Sungmin, dan Hyukjae pengait kepala ujung granat itu. Ia tersenyum, "Tiga".

Sebuah ledakan besar menghabisakan beberapa orang tepat dihadapan mereka. Membuat tubuh Hyukjae, Sungmin dan Zhoumi terpental, dampak dari ledakan itu. Kebakaran kecil terjadi akibat ledakan tersebut. Membakar sisa – sisa kayu bangunan tersebut. Namun perkiraan mereka salah, masih ada satu orang yang datang dengan secara mengejutkan.

"Tamatlah riwayat kita" ujar Hyukjae pasrah saat melihat seorang namja bertopeng dengan mengenakan pakaian serba hitam. Dan yang membuat ketiganya tersenyum miris adalah senjata yang dibawa sosok itu. Karena mereka tahu, senjata apa yang dibawa sosok itu. Sebuah senjata laras panjang 'Steyr AUG' yang mempunyai kecepatan yang tinggi. AKurasinya pun tepat. Jadi, jika sosok itu menembakkan satu peluru ke tubuh mereka, hanya dalam hitungan detik nyawa mereka melayang.

Sosok itu semakin menambah kecepatan larinya, lalu mengacungkan senjata itu kea rah mereka –

-LSuhae-

Heechul dan Leeteuk baru saja masuk ke dalam rumah mewah milik Heechul. Tak ada orang disana. Hanya ada seorang pembantu.

Heechul terduduk sedih ditepi ranjangnya. Leeteuk yang melihat sahabatnya seperti itu segera menghampirinya.

"Apa tentang Siwon lagi, Chullie?"

Heechul mengangguk lemah, "Benar. Aku merindukannya Teuki, sangat merindukannya" adunya dengan diiringi air mata bening.

Leeteuk tersenyum, ia usap air mata itu dan segera ia rengkuh tubuh Heechul kedalam pelukannya.

"Wajar saja, kau sudah tidak bertemu dengannya hampir tiga tahun lamanya setelah kau menghadiri acara ulangtahunnya yang kedua"

"Ya, untuk menyelamatkan dirinya dari kejaran Appanya. Tapi aku sangat bahagia, Jongie begitu mencintai anakku seperti anak kandungnya"

"Ya, Tuhan masih tidak mengizinkan dirinya mempunyai seorang anak"

Heechul membuang nafas beratnya, "Siwonn .." lirihnya.

Leeteuk merenggangkan pelukannya, menatap Heechul dengan tatapan sendunya.

"Maafkan suamiku, Chullie. Karena dia, kau harus terpisah dengan anak kandungmu"

Heechul menggeleng, "Tidak. Ini bukan karna Kangin, Teuki, melainkan semua ini karna Hangeng yang mulai terpengaruh oleh teman – teman barunya. Apakau ingat ucapannya saat aku hamil tujuh bulan?"

"Tentang pesan singkat itu?"

"Ya. Apa dia ayah yang baik jika ingin menjual anaknya saat lahir?"

"Tapi,, aku rasa bukan dia"

"Tidak. Itu memang dia. Karena sebelum itu aku bertengkar hebat dengannya. Gara – gara ia ingin keluar dari TRIAD. Dan ingin bergabung di SNAKERS. Kau tahukan kalau kelompok itu adalah musuh besar keluargamu?"

Leeteuk mengangguk, "Ya, Hangeng telah berubah banyak. Tapi, apa dia tahu kau hamil saat ini?" Tanya Leeteuk sambil mengusap lembut perut Heechul yang telah membuncit. Maklum saja, dirinya saat ini dirinya sedang hamil 7 bulan.

Heechul menggeleng, "Tidak. Pada malam itu, ia memaksa aku untukmelakukan hubungan intim. Padahal sebelumnya, kami bertengkar gara – gara aku yang selalu menghindarinya dan menutupi keberadaan Siwon. Lalu, pada malam itu pula, aku pindah dari Tokyo ke Seoul. Semua berkat Kangin, jika saat itu Kangin tidak ada mungkin aku sudah terpanggang habis didalam rumah sewa itu"

"Apa pelakunya kala itu memang Hangeng?"

"Entahlah. Suamimu juga tak bisa menangkap orang itu bahkan untuk mengetahui identitasnya"

Heechul tertawa, "Sudahlah. Intinya, aku tak ingin lagi bertemu dengannya dan tak akan ku biarkan dia menyentuh anak – anakku" ujarnya yang membuat Leeteuk tersenyum.

"Oh ya, aku sampai lupa"

Heechul segera meraih tas-nya, mengambil sesuatu dari dalam sana.

"Nemo?"

Heechul mengangguk, lantas ia usap perut Leeteuk yang ternyata juga membunit. Ah. Dia juga hamil walau tak sebesar Heechul. Wajar saja, karena kehamilannya masih memasuki bulan ke empat..

"Anakku akan menjaga calon bayimu nanti"

"Siapa?"

"Dia –"

-LSuhae-

"Henry, kau tahu tempatnya kan?" Henry mengangguk mendengar pertanyaan yang dilontarkan Kyuhyun kepadanya. Dengan cepat Kyuhyun melajukan mobil untuk bisa sampai ditempat tujuan mereka. Butuh 30 menit melalui jalan pintas untuk bisa sampai disana.

Dan ia tak munafik, jika ia saat ini dihinggapi rasa cemburu. Apalagi saat ia melihat Donghae tertidur begitu lelap didalam dekapan Kibum.

Henry melihat sekilas wajah Kyuhyun, kenapa ia merasa ada yang tak beres dengan hatinya?

Kibum tersenyum seraya mengusap kepala Donghae yang beralaskan pahanya untuk bantal. Ia kembali merenungkan tentang kejadian yang terjadi di toko roti milik Eommanya.

Siapa itu Jongie? Apa itu nama panggilan Jaejong? Tapi jika Eommanya tak mengenali Jaejong buat apa ada nama Jongie terlontar?

Mobil mereka kini sudah memasuki kawasan hutan belantara, diikuti beberapa mobil dibelakangnya. Ya, anak buah Kyuhyun.

Setiap anggota seperti Sungmin, Kyuhyun, Zhoumi, Hyukjae, Henry dan Shindong memiliki anak buah masing – masing. Sedangkan Siwon memiliki anak buah yang tidak lain adalah mereka.

Other place,

Hyukjae, Sungmin dan Zhoumi hanya bisa membuka matanya lebar melihat aksi heroic yang terjadi didepan matanya kali ini.

Bagaimana tidak? Sosok itu ternyata sedang menyelamatkan nyawa mereka dari dua puluh orang yang tengah mengacungkan senjata kea rah mereka bertiga. Namun, dengan tenang sosok yang tidak diketahui namanya itu menembaki mereka semua dengan sekali gerakan.

Hingga dalam hitungan detik semua musuh terjatuh sebelum sempat mereka menghadiahi Hyukjae cs dengan peluru mereka.

"Hyung, apa kita ada dalam keadaan syuting?"

"Mungkin" jawab Sungmin sekenanya.

Mereka bertiga berdiri dan menghadap lurus ke arah sosok itu yang kini berjalan menghampiri mereka.

-LSuhae-

"Kau tunggu disini Hae. Jika dalam waktu 10 menit aku tidak kembali, hubungi Appa untuk mengirimkan bantuan lebih"

Donghae mengangguk mantap, "Ya Bumiie, kau berhati – hatilah" satu kecupan Donghae berikan tepat diatas bibir milik Kibum. Untung saja, Kyuhyun tak ada karena sedang memberi intruksi kepada anak buahnya. Tak ada Henry, mungkin saat ini dirinya sudah melakukan pegintaian dengan beberapa anak buah dari Kyuhyun.

Mata Donghae tak lepas dari jam digital yang ia kenakan. Mulutnya tak berhenti untuk tidak mengucapkan, "Bumiie kembalilah, kembalilah, kembalilah …" terus saja ia berucap hingga menit ke 9:20.

"Bumiie", ia merogoh saku celananya, untuk menghubungi sang Appa. Namun sial, ia baru ingat kalau signal didaerah itu tidak ada.

Ia menepuk pelan keningnya, "Aku lupa" ia berucap pelan, "Lalu apa yang harus aku lakukan?" segera ia memutar otaknya.

Hingga satu jawaban muncul begitu saja. Ia membuka pintu mobil dengan perlahan. Namun, sedetik kemudian, ia mengunci kembali dengan rapat. Keadaan diluar sana sangatlah gelap. Dan ia benci gelap. Tapi, apa dirinya hanya diam saja seperti inikah?

Ia dengan cepat mematikan lampu dalam mobilnya saat dirinya mendengar ada suara yang masuk ke dalam gendang telinganya.

Dalam ke gelapan, ia bisa melihat seseorang sedang melakukan pembicaraan melalui telepon. Karena Donghae melihat cahaya dari sosok itu. Dirinya beruntung karena Kyuhyun memakirkan mobil diantara rerongsokan mobil yang sudah tak layak pakai. Ah, ini ide dari kekasihnya.

Sosok itu mulai melangkah jauh, tapi kenapa ia penasaran dengan sosok itu. Hingga ia memutuskan untuk keluar dari mobil dengan hati – hati. Rasa takutpun hilang, karena dengan samar – samar ia bisa mendengar nama Appanya tersebut dengan sangat lantang.

Belum sempat kakinya melangkah lebih jauh, sebuah telapak tangan yang cukup besar membekap mulutnya membuat Donghae terlonjak kaget dan tak bisa berteriak.

-LSuhae-

Siwon kini sedang berada didalam ruangan kerjanya. Pikirannya tak tenang dan hatinya tak karuan. Apa yang terjadi diluar?

Ia mencoba menghubungi kembali Donghae. Satu nama yang tak lepas dari pikirannya saat ini. Tak bisa dihubungi. Bahkan nomor Henry dan yang lainnya sama sekali tak bisa dihubungi. Nomor Shindong pun sibuk sedari dua jam yang lalu.

"Appa"

Sambungan terhubung, namun teleponnya sama sekali tak diangkat oleh Kangin.

"Apa yang terjadi?" ia bertanya entah kepada siapa. Karena memang, dirinya tak bisa keluar dari 'penjara' ini.

Ia bermaksud untuk menaruh ponselnya, namun malah tersenggol secangkir kopi hangat hingga jatuh ke lantai.. Membuat cangkir yang terbuat dari kaca itu hancur berkeping – keeping.

'Ada apa dengan hatiku?'

Kangin memandang foto dirinya dengan Hangeng saat masih muda dulu. "Apa kau masih seperti ini, jika aku beritahukan kalau kedua anakmu ada bersamaku?".

Ia memejamkan matanya, "Sebenarnya, kau atau bukan otak dari ini semua?" ia bertanya, lalu membuka matanya untuk melihat kobaran api yang begitu hebat membakar sebuah panti asuhan. Panti yang didirikan Kangin dua tahun yang lalu.

"Aku akan menghancurkan kalian, tanpa bersisa satupun"

-Tbc-

Akhirnya chap ini selesai juga. Sudah selesai dua hari sebelum ff ini update. Karena sebelumnya saya cempat menghapus file-nya dari folder saya.

Hahah, bagaimana? Bagaimana? Tangan saya sangat lelah menuliskan 5.497 kata untuk AT LAST Ini …. Makin membingungkan? Saya pusing .

UNTUK SEMUANYA THNKS A LOT …

Maaf lama yaaa …

MIND rNr plissssss :D :D