Mati.
Apa yang Yixing katakan itu membuat Baekhyun terdiam tidak percaya.
Bukan hanya Baekhyun, tapi semuanya tersentak.
"Kau pasti bercanda, Yixing." ucap Baekhyun—lalu tangannya menepis tangan Yixing. "TAO MASIH HIDUP!"
GREPP!
Tangan besar Kris menarik Baekhyun dan mendorongnya untuk melihat kebawah—ke sebuah pisau berlumuran darah yang tergeletak di karpet.
"Byun Baekhyun," ucap Kris. "Aku menemukan ini saat aku bangun tadi, dan benda ini ada di jantung Tao. DI JANTUNGNYA. Ini sangat brengsek dan aku tidak mau percaya, tapi… TAPI APAPUN YANG KULAKUKAN, DIA TIDAK MEMBUKA MATANYA SAMA SEKALI, BYUN BAEKHYUN! DIA TIDAK BERNAFAS, APA KAU TAHU MAKSUDNYA APA?! DIA MATI DAN AKU TIDAK MAU PERCAYA ITU SAMASEKALI! BRENGSEK!"
Suara besar Kris mengagetkan beberapa orang di ruangan itu. Nada Kris memang keras dan penuh kemarahan—juga kesedihan dan rasa tidak percaya.
Orang yang dia cintai tiba-tiba meninggalkannya dengan tiba-tiba di situasi seperti ini.
"…Kris…" panggil Baekhyun, matanya sudah memerah dan air mata mulai menetes. Kris terus menunduk. Dia terlihat sangat diam dan suram. "…Maafkan aku…"
Suho menghela nafasnya, lalu menghampiri Kris dan mengusap pundaknya pelan. "Tenanglah Kris. Kita harus mencari tahu siapa yang melakukan hal ini, oke?"
Kris mengangguk dan kembali duduk di samping badan Tao, seakan tidak mau melepasnya. Suho berusaha tegar dan memulai kata-katanya. "…Tao diserang seseorang, mungkin waktu dia tidur. Terakhir kali setelah kita makan malam semuanya berpencar ke kamar masing-masing, tapi mungkin saja ada yang melihat siapa yang melakukan hal ini pada Tao. Bagaimanapun, villa ini jauh dari rumah kita dan kita tidak tahu apa-apa tentang villa ini. Kita tidak tahu disini aman atau tidak—karena tidak ada satupun staff yang bersama kita sekarang. Kris, apa yang kau lakukan saat itu?"
"Aku tidur dan Tao ada di sampingku." jawab Kris pelan. "Ketika aku terbangun tengah malam, kukira dia masih tidur—tapi semuanya berubah saat aku sadar kalau ada genangan darah disana. Saat kunyalakan lampu…ternyata sebuah pisau menancap di jantungnya."
"Apa kau melihat sesuatu, Kris?" tanya Chanyeol. Kris menggeleng. "Tidak, aku benar-benar tertidur. Aku tidak sadar."
Kyungsoo menghela nafas dalam-dalam. Ini terlalu berat dan menyesakkan. Di pojok, Luhan tengah berusaha menghubungi kantor dengan telepon yang ada dan handphone kami, tapi tetap saja tidak berguna.
"Suho," panggil Luhan. "Ini tidak berfungsi. Tidak ada sinyal sekali. Nanti kucoba lagi saja." sungutnya. Matanya terlihat merah karena capek dan juga gara-gara menangis tadi, dan dia memasukkan HP-nya kembali ke saku.
Suho mengangguk dengan wajah kecewa. "Baiklah, terimakasih Luhan-hyung. Sekarang kita kembali lagi ke—hei, Kyungsoo? Ada apa dengan tanganmu?" tanyanya sambil melirik kearah Kyungsoo.
Dan sekarang semua mata menuju kearah Kyungsoo. Kyungsoo masih berusaha menyembunyikan tangannya.
Tangannya yang tadi ia katakan 'karena-tergores-kapak-dalam-mimpi-tapi-itu-benar- benar-gila' itu masih mengeluarkan darah. Ia sudah menyekanya dengan selimut, tapi noda darah tetap keluar dan darahnya belum berhenti sepenuhnya.
Baekhyun ingin menghampirinya, tapi Kai segera ke samping Kyungsoo dengan wajah kaget. "…Kyungsoo-hyung! Kau tidak apa-apa?!"
"Apa dia memegang pisau itu?"
Suara Chen membuat semua orang terdiam dan Kai menghampirinya—langsung mengangkat kerah baju Chen dengan wajah sangat marah.
GREP!
"JONGIN! LEPASKAN JONGDAE!" seru Luhan. Tapi Kai tidak bergeming. "Aku tidak akan melepaskan orang sial ini—Apa maksud omonganmu?! Kyungsoo memegang pisau itu?! Apa kau sedang berpikir kalau Kyungsoo memegang pisau itu untuk membunuh Tao dan darah yang ada di tangannya itu adalah darah Zitao?! Iya?! JAWAB AKU, KIM JONGDAE!"
"Lepaskan aku, Kai!"
"Tidak sampai kau jelaskan kenapa kau menuduh Kyung—"
PLAKK!
Tangan Baekhyun menampar keras pipi Jongin, membuatnya melepaskan cengkramannya dari kerah baju Chen.
"…Byun Baekhyun…" geramnya.
"Aku tidak tahan lagi. Semuanya terjadi dengan tiba-tiba dan semuanya makin membingungkan! Ayo kita pikirkan dengan otak, bukan dengan otot seperti itu karena bukan hanya satu orang yang bingung, marah, atau sedih disini—tapi semuanya! Teman kita meninggal dan tidak seharusnya kita bertindak iKyungsoot seperti ini dan tidak membantu apa-apa! Apa kalian juga berpikiran sama dengan Jongdae? Apa kalian berpikiran kalau Kyungsoo terlibat?!" tanya Baekhyun pada semuanya.
Kyungsoo masih terdiam, tidak mengeluarkan sepatah kata. Luka di tangannya ia tutupi dengan telapak tangan mungilnya, menyembunyikan tetesan darah yang keluar dari sana dengan wajah ketakutan, bingung, dan sakit.
Sehun, Chanyeol, dan Suho menghela nafas. "…Maaf…"
Baekhyun berdiri di sebelah Kyungsoo dan mengangkat tangannya. "…Bisa-bisanya kalian menuduh teman sendiri! Semuanya, dengarkan penjelasanku. Tangan Kyungsoo terluka begini—karena tergores kapak, di dalam mimpinya. Memang aneh. Hal seperti ini tidak biasa. Tapi aku juga tadi terbangun karena mimpi buruk, yaitu dibunuh dengan gergaji mesin. Kyungsoo bukanlah pembunuh Zitao, camkan itu semua. Tidak ada saling menuduh, dan jelaskan apa yang kalian alami sebelum kejadian Tao seperti ini."
Beberapa orang di ruangan terasa terhentak.
"…A-aku…" mulai Xiumin. "…Aku bermimpi…buruk…sebuah anak panah menusuk mata dan tanganku, tapi saat aku terbangun, tidak terjadi apa-apa. Anehnya, anak panah itu ada di bawah ranjang."
Sehun menunduk. "Ada tangga gelap dan kepala rusa di dalam mimpiku."
Luhan yang berdiri di sebelahnya terlihat berpikir. "…Di mimpiku tadi ada sebuah lilin redup di ruangan gelap. Di bawah kakiku ada genangan darah dan saat aku bangun, ada setetes darah di dahiku dari atas langit-langit. Tapi segera kuhapus karena kaget saat Suho masuk ke kamar."
"Jadi bukan Cuma aku dan Kyungsoo yang bermimpi buruk?" tanya Baekhyun lagi. "Kris, bagaimana denganmu?"
"…Di mimpiku ada lampu berwarna hitam dan percikan darah di dinding. Tapi kupikir itu mimpi biasa." jawabnya.
"Yang lain?"
Semuanya menggeleng.
"Jadi semuanya tertidur dan ada yang bermimpi buruk… oke kesampingkan dulu mimpi buruknya, intinya kita semua punya alibi. Kita tidur." ucap Chanyeol. "Apalagi, tidak ada alasan untuk saling membunuh disini, bukan?"
Chen melirik Kai dengan ekor matanya. "Dan tidak ada alasan untuk mencengkram kerah temanmu sendiri disaat suasana berkabung."
"Jaga mulutmu." gumam kai.
"Jongin, Jongdae, hentikan." panggil Suho. "Kita harus was was karena kita tidak tahu kenapa ini bisa terjadi. Siapa dan kenapa, dan alasannya, kita tidak tahu. Teman kita…meninggal. Ini bukan hal kecil ataupun sepele karena berhubungan dengan nyawa. Nyawa keluarga kita. Apa ada yang tahu apa yang terjadi pada Tao sebelumnya?"
Luhan mengangkat tangannya. "…Tao mengalami hal aneh, dia bilang di washtafel keluar darah, bukan air. Kupikir itu bohong tapi aku dan Kris melihat sendiri ada percikan darah di kaosnya, tentunya bukan darah dari luka kecelakaan saat kita menuju kesini."
Chen terlihat agak panik. "…T…tap..tapi…itu kan…kukira itu…aish, ini semakin angker! Bukannya tadi sudah kujelaskan itu bisa saja bukan darah?! Jangan bilang kalau villa ini horror, atau…."
"Satu, Villa ini horror." ucap Yixing. "Dua. Ada pembunuh disini, di villa ini."
Suho angkat bicara menjawab cetusan Yixing. "Yixing, hanya kita yang ada di villa ini. Itu aneh."
"Memang aneh, hyung."
Akhirnya, Kyungsoo bicara—meskipun dengan suara yang sangat pelan.
"…Semuanya sudah aneh…sejak aku dan Baekhyun-hyung membuka mata kami, setelah kecelakaan itu…"
.
.
.
.
.
.
.
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi.
Semuanya kembali sibuk pada kegiatan masing-masing. Mereka juga masih mengurusi insiden yang tadi terjadi.
Tetap membingungkan karena tidak ada petunjuk sama sekali atas siapa pelakunya.
Disaat para member masih berdiskusi dan berbincang-bincang serius, Luhan menghela nafas dengan raut muka sedih. Tangannya fokus pada game di handphone-nya.
'…20 April…' pikir Luhan. 'Ini ulang tahunku tapi kenapa seperti ini? Kenapa kami harus mengalami hal seperti ini? Kenapa Tao harus meninggal seperti itu? Kenapa?!'
Air mata menuruni pipi pucat Luhan. Dia tidak kuat. Dia ingat ulang tahunnya di tahun kemarin saat mereka masih di awal-awal debut. Tertawa bersama, bekerja keras bersama, berbahagia bersama…
…Tentu saja Tao masih ada disana dan tidak ada insiden seperti ini.
"Hyung, awet-awet baterai HP-mu. Disini tidak selalu bisa mencharge Hp, jangan dipakai main game terus." kata Baekhyun. Luhan mengangkat kepalanya dari posisi menunduk tadi—segera menghapus air matanya. "…Iya, maaf. Tapi aku bosan."
Baekhyun menghela nafas panjang. Dia tahu hari ini hari ulang tahun Luhan.
"…Selamat ulang tahun, hyung." ucap Baekhyun, berusaha tersenyum sedikit. "Maafkan kami tidak mengucapkan hal ini duluan…"
Luhan menggelengkan kepalanya dengan senyum tipis. "Tidak apa-apa. Aku tahu situasi saat ini, tidak mungkin kalian mengucapkan selamat ulang tahun padaku sedangkan Tao…sudahlah. Terimakasih, Baekhyun."
Sehun yang berdiri tidak jauh dari mereka melihat wajah Luhan yang tidak secerah biasanya. Dia menghampiri hyung favoritnya itu, lalu mengelus pundaknya pelan. "…Maafkan aku ya hyung, aku juga tidak mengucapkannya duluan…"
Tangan Luhan melepaskan tangan Sehun yang ada di pundaknya itu dengan senyum tipis. "Tidak apa, Sehun. Aku senang kau mengigau 'selamat ulang tahun, luhannie-hyuuung' saat kau tidur tengah malam tadi."
"…Benarkah?"
"Iya. Aku terbangun sebentar, lalu tidur lagi. Terimakasih, Sehun."
Sehun tersenyum kecil sambil mencium dahi Luhan, lalu Luhan melepaskannya dan berjalan sendirian meninggalkan Baekhyun dan Sehun yang tadi bersamanya. "Aku butuh refreshing, aku mau sendirian dulu. Jangan ikuti aku ya," ujarnya.
Langkah kaki Luhan membawanya ke balkon. Cuaca sangat dingin pagi itu, dengan langit mendung dan cuaca berkabut pegunungan.
"Sendirian saja?"
Luhan mendengar suara seseorang dari belakang, membuatnya menghela nafas.
"Sudah kubilang aku ingin sendirian, jangan ikuti a—".
.
.
.
.
BRUKKK!
.
.
.
.
Kris tetap menjaga Tao yang dibaringkan di kamar, sementara itu di luar kamar Suho, Chen, Xiumin, dan Baekhyun masih berbincang-bincang.
"Kita harus lapor polisi!" kata Chen. Xiumin menggelengkan kepalanya. "Tidak, kita tidak bisa memakai telepon kan? Apalagi jarak dari sini ke kantor polisi itu jauh sekali!"
"Mungkin kita bisa pinjam kendaraan pada warga sekitar, mungkin ada yang punya kendaraan kan meskipun ini di tempat terpencil? Atau kita bisa pinjam telepon, mungkin saja telepon mereka berfungsi." ujar Suho.
Kris keluar kamar, menghela nafasnya. "…Kita coba tanya pada warga sekitar. Pinjam alat komunikasi untuk menghubungi kantor polisi, rumah sakit, dan kantor di Seoul. Lalu, kalau ada yang punya kendaraan besar—yang bisa menampung kita berduabelas, kita pulang segera ke Seoul. Aku akan pergi."
"Aku juga! Harus ada yang menemanimu, Duizhang." seru Chen. Xiumin mengangguk. "Aku juga ikut. Kakimu masih sakit, kan? Seharusnya kau istirahat saja, tapi kalau kau memaksa, kita harus ada di samping—"
"Kalian mau kemana?" tanya Chanyeol yang baru datang sambil membetulkan resleting celana—Suho menghela nafas. "Chanyeol kau ini sudah dewasa -_- perbaiki resletingmu di tempat yang tidak ada orangnya."
"Maaf, aku baru dari kamar mandi terus aku dengar kalian berdiskusi." kata Chanyeol. "Aku ikut!"
"Baiklah, ayo pergi. Suho, aku titip Tao padamu." kata Kris sambil memakai jaketnya. Suho mengangguk. "Tentu saja."
Chen lalu memapah Kris. Chanyeol dan Xiumin berjalan di belakang mereka. Saat keluar dari pintu villa, udara dingin menghembus, membuat Xiumin bersin. "HATCHHIH! Urrgh…dinginnyaaa… ini sudah jam 10 pagii!"
"Ini kan pegunungan tinggi, maklum saja kalau dingin." kata Kris. Chen merapatkan jaketnya, sementara Chanyeol memandangi langit yang tidak cerah itu. "Sepertinya mendung, kita harus cepat…"
"Aku tidak mau mati kedinginan disiiniiii!" seru Xiumin sambil berlari. "Ayo cepattt!"
.
.
.
.
Langkah kaki mereka sudah sampai di hutan yang memisahkan antar villa besar itu dengan rumah penduduk yang ada di sekitar sana. Pepohonan dan kabut mulai terlihat dan suara burung-burung terdengar indah.
"Pagi yang indah…meski tidak cerah." gumam Chen. Kris sudah bisa berjalan sendiri (karena dia gengsi dipapah oleh Chen). "Ayo percepat jalan kalian," ucap Kris.
Chen menghela nafas. "Heh, duizhang. Kami ini jalan lambat untukmu tau! Agar kau tidak tertinggal di belakang sambil meringis 'ADUUUH KAKIKUUU ADUUUUH, BANTU AKU JONGDAEEE! CAKITT NDAK CUATTTT' lalu bicara tidak karuan dengan bahasa cina."
Chanyeol tertawa. "Pffftttttt huhauhauhauhauah lalu duizhang kita gotong ramai-ramai hohohohohoho"
"AHHAHAHA! "
"Diam."
Setelah terdengar suara berat Kris yang menyiratkan kemarahan, Chen dan Chanyeol langsung bungkam sebelum Kris menggantungkan badan mereka di pohon terdekat.
Sekarang, Kris benar-benar tidak mood. Siapa yang mood setelah terlibat dengan semua hal aneh ini, ditambah pacarmu meninggal tiba-tiba dengan darah dimana mana dan…
…Kris memejamkan matanya frustasi.
Mereka terus berjalan, sampai Kris menyadari kabut makin menebal.
Tak lama kemudian, jarak pandang mereka benar-benar tersita.
"…Chen?" panggil Kris. Chen menyahut. "DUIZHAAANG KAU DIMANAA?"
Xiumin berteriak. "AAAAAA AKU MAU PULAAAANG QAQ"
Chanyeol tertawa. "AHAHAHAHAHA INI KEREEEN, KABUTNYA TEBAAAL! AKU MAU FOTO-FOTOOO!"
"KALIAN JANGAN BERCANDA! TETAP BERSAMA, NANTI TERSASAR!" teriak Kris.
Namun, pada akhirnya mereka terpisah juga.
"…Ya ampun…" gumam Kris sambil berdecak kesal.
.
.
"Chen, kau yakin ini jalan yang benar?" tanya Xiumin pada Chen yang berusaha menerangi jalan dengan senter HP-nya. "Umm ya, kurasa. Ini jalan yang kita lewati saat sudah membawa kunci dari rumah paman yang kemarin kan?"
Xiumin tercekat. "P-p-paman…yang…kemarin?"
"Iya, kenapa?" tanya Chen. Xiumin memegang tangan Chen lebih erat. "…Kau tahu kan Yixing kemarin terpisah dengan kita?"
"Iya?"
"Lalu Jongin menyusulnya…"
"…Ya?"
"…Jongin bilang, paman itu…..kesurupan…."
DEGG
Chen jadi kaku, matanya melotot dan mukanya pucat pasi.
"X-X-X-X-X-X-XIUMIN HYUNG JANGAN BILANG HAL BEGITU DI SAAT SEPERTI INIIIII!"
"TA..TAPI AKU BENAR KAN?!"
"IYAAAA TAPI JANGAN DIBAHAS DISINII!"
"M-m-m-maaf…kau takut ya?"
"Memangnya hyung tidak takut?!"
"…aku juga takut…ta-tapi ini masih jam sepuluh pagi…"
"JAM SEPULUH PAGI DENGAN PEMANDANGAN SEPERTI JAM DELAPAN MALAM TTATT AYOLAAAH HYUUUNG JANGAN BAHAS ITUUU"
"JONGDAE KAU KIRA AKU TIDAK TAKUT?!"
Chen lalu memperhatikan sekujur badan Xiumin yang sudah bergetar ketakutan.
"…Suruh siapa hyung membahas soal hantu dan kesurupan! Sudahlah jangan bicara lagi, ya! Ayo kita terus jalan!"
Mereka lalu melanjutkan jalannya. Xiumin agak mengernyit karena banyak lumpur berumput di sepanjang jalan.
Jejak kaki Xiumin dan Chen terlihat di lumpur.
Tapi beberapa saat kemudian…
.
.
.
…Terdapat tiga pasang jejak kaki disana.
"JONGDAEE?!"
Kris tetap berteriak-teriak memanggil anak buah(?) nya itu.
"MINSEEEOK?!"
"CHANYEOOOOL!?"
Dan setelah lima menit berteriak-teriak di tengah hutan, Kris menyerah. "…Hhh…cukup! Aku akan jalan duluan saja sendirian!"
CKREK
CKREK
"…Suara apa itu?" gumam Kris. Dia lalu berjalan mencari sumber suara itu, sampai akhirnya suara itu mulai dekat dan…
CKREKK
CKREKK!
"ASIIIIK! FOTO YANG INI BAGUS! AKAN KUPAKAI UNTUK FOTO PROFIL WEI—"
"PARK CHANYEOL! DASAR IKYUNGSOOT SEDANG APA KAU DISINI?!"
Chanyeol yang sedang memegang kamera dengan senyum creepy lalu menoleh pada Kris yang datang dengan nafas ngos-ngosan—juga dengan keringat dingin.
Jadi…suara 'ckrek ckrek' itu adalah suara shutter foto Chanyeol?
"…Oh hai Duizhang! Aku sedang…foto-foto."
Kris terdiam.
"…memangnya fotoku aYixing ya?" tanya Chanyeol lagi. Kris menarik nafas dalam-dalam—berusaha tabah. "...Park Chanyeol, dengar…"
"Jadi fotoku bagus!? HAHAHA SUDAH KUBILANG AKU TAMPAN! Lihat background-nya, Kris! Hutan berkabut ini bagus kan untuk weibo—"
"BAGUS JIDATMU?! APA KAU PIKIR, KITA SEMUA TERPISAH ITU BAGUS!? KITA TERSESAT DAN KABUT INI MEMBUAT KITA SUSAH MELIHAT! DAN KAU MALAH FOTO-FOTO DISINI?!"
Chanyeol terdiam, lalu kepalanya menunduk ke tanah. "…maafkan aku, Kris." ucapnya dengan nada bersalah.
"…Ya. Ayo kita cari Jongdae dan Minseok."
.
.
Chanyeol dan Kris lalu menyusuri lagi jalan yang tadi mereka lewati untuk mencari Chen dan Xiumin.
"…Bagaimana kalau mereka sudah sampai duluan di rumah paman itu?" tanya Chanyeol. "Apa sebaiknya kita tidak jalan saja dulu ke sana?"
"…Tidak, kita cari saja mereka dulu." jawab Kris.
"Tapi kalau kita terus berputar-putar disini, kita tidak akan menemukan mere—"
ZRAAAASHHHHH
Hujan deras tiba-tiba turun, membuat hutan yang berselimut kabut itu semakin dingin.
Dan Chanyeol dengan excited langsung berlarian di tengah hujan.
"BOCHOORR BOCHOORR HAHAHAHAHA! Ya ampun sudah lama sekali sejak terakhir kali aku main hujan-hujana-"
"PARK CHANYEOL, BERHENTI BERCANDA!"
Sekali lagi, Chanyeol langsung bungkam.
"…Ooooke, …Kau bawa payung?" tanya Chanyeol pada Kris dengan nada takut-takut.
Kris menjawab tanpa melirik. "Tentu saja tidak. Ayo segera cari mereka berdua, kita sudah basah kuyup. Setelah menemukan mereka, sebaiknya kita kembali saja ke villa."
Chanyeol mengangguk setuju dan berusaha agar tetap diam di sebelah Kris—karena dia tahu kalau Kris sedang badmood.
Kabut perlahan-lahan menipis, membuat hutan terlihat makin jelas meskipun derasnya hujan belum reda juga. Apalagi langit semakin gelap dan petir dimana-mana. Chanyeol sudah merasa kedinginan dan luka di kaki Kris terasa sakit kembali karena terguyur air hujan.
"…Lebih baik kita berjalan pulang saja, mungkin mereka juga sudah pulang ke villa. Hujannya sederas ini," ucap Chanyeol. Kali ini Kris mengangguk setuju.
Mereka mempercepat langkah agar sampai di villa lebih cepat, tapi Chanyeol tiba-tiba berhenti.
"Ada apa?" tanya Kris. Chanyeol mengernyitkan alisnya. "…Ini handphone Chen, kan?"
Kris lalu memperhatikan benda yang ada di lumpur itu—senternya masih menyala. "…Iya, sepertinya itu handphone Chen…"
Chanyeol lalu mengambil HP itu dan Kris memperhatikan sekeliling mereka. "…Mungkin mereka ada di sekitar sini," gumamnya.
Tapi, tidak ada tanda-tanda adanya Chen atau Xiumin.
"JONGDAEEE! MINSEOK!"
Tidak ada jawaban.
Chanyeol menghela nafas dalam-dalam, dia sudah benar-benar kedinginan. "…K-Kris…ayo kita kembali ke villa, mungkin mereka tidak sengaja menjatuhkan HP dan mereka sudah kembali ke vill-"
"…Tunggu, Chanyeol…" ucap Kris pelan. Matanya terpaku pada tanah berlumpur di dekat mereka.
Disana, ada bekas seretan yang besar.
"…Sepertinya ini baru…" gumam Kris. "Chanyeol, ikuti aku!"
Mereka lalu mengikuti bekas seretan itu, yang menuju ke sebuah pohon besar.
Dan membuat mereka berdua tercengang, tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
"…I…Ini…."
TRAKK!
Chanyeol menjatuhkan HP Chen yang daritadi ia genggam saking shocknya.
"….M-MINSEOK HYUNG! JONGDAE!"
.
.
.
.
.
ZRAAAAAASSSSSSHHHHH
Hujan deras yang diiringi petir membuat perasaan mereka semua tidak nyaman.
"…Dingin…" gumam Yixing. Suho yang ada di belakangnya memasangkan jaket dan menariknya menjauh dari jendela. "Kalau begitu, jauhi jendela, disana memang dingin, Yixing. Aku tidak mau kau sakit."
"Tapi Jongdae, Minseok, Kris, dan Chanyeol belum kembali." ucap Yixing. Suho menghela nafas. Benar, mereka belum kembali dan semuanya mengkhawatirkan mereka. Cuacanya sangat buruk untuk berada di luar sana.
"…Sebentar lagi mereka kembali, kok." kata Suho menenangkan Yixing.
Kyungsoo duduk di sebelah tubuh Tao yang masih terbaring. Ia lalu menyelimuti Tao dengan selimut yang ada di pinggiran ranjang.
"…Kau pasti kedinginan," gumam Kyungsoo menahan tangis.
Ia masih tidak percaya semua ini.
Matanya lalu beralih ke tangannya yang sekarang sudah terbalut perban.
Sayatan kapak itu masih teringat di ingatan Kyungsoo—tapi dia tidak mengingat siapa yang melakukannya.
Mungkin itu hanya mimpi buruk.
Tapi kenapa bisa jadi kenyataan?
"…Hyung," panggil Kai. Kyungsoo menoleh ke belakangnya, Kai sudah berdiri di dekat pintu.
"Jongin-ah,"
"Kau tidak apa-apa?"
Kyungsoo mengangguk kecil, dan Kai duduk di sebelahnya, di dekat Tao.
"…Kau tahu, aku tidak percaya ini semua terjadi, hyung. Maksudku…Tao…kemarin dia masih mengobrol dengan kita kan?"
"Tidak ada yang tahu kapan kematian akan datang," jawab Kyungsoo. "Tidak ada yang tahu…hanya Tuhan yang tahu…"
Kai mengelus pundak Kyungsoo pelan. "…Kau benar, hyung."
Kyungsoo tersenyum tipis—lalu matanya kembali beralih kearah Tao yang masih memejamkan matanya.
"…Emm…hyung?"
"Ya?"
"…Kau tahu, em…aku… a—"
BRAKKKK!
Bakhyun masuk ke kamar dengan tergesa-gesa. Wajahnya terlihat panik.
"K-KYUNGSOO! JONGIN! KALIAN LIHAT LUHAN-HYUNG?!" tanyanya.
Kai dan Kyungsoo berpandangan satu sama lain.
Ada sesuatu yang tidak beres.
.
.
.
.
"SEHUN!" panggil Kai. Sehun yang tengah berlari menghentikan gerakannya dan menoleh. Wajah Sehun terlihat sangat panik dan khawatir—bahkan sudah berkeringat dingin.
"Apa yang terjadi?!" tanya Kyungsoo. Sehun mengatur nafasnya. "….Luhan-hyung menghilang, sudah beberapa jam aku tidak melihatnya…"
"Mungkin dia tidur?" tanya Kai. Sehun menggeleng. "Tidak, aku sudah mencarinya ke semua kamar, tidak ada."
"Dimana terakhir kali kau melihatnya?" tanya Yixing yang baru datang. Suho berjalan di belakangnya, masih berusaha menghubungi handphone Luhan. "…Tidak ada sinyal sedikitpun, kukira akan tersambung karena jaraknya tidak jauh, tapi sepertinya memang benar-benar terputus….Sehun, dimana kau terakhir kali melihat Luhan-hyung?"
"Tadi dia berjalan ke balkon, dia bilang ingin sendirian dulu. Tapi setelah itu aku tidak melihatnya," jelas Sehun. "Tapi aku yakin dia masih ada di villa ini! Cuaca sangat buruk diluar, tidak mungkin dia pergi…"
Suho tambah khawatir. "…Kris-hyung, Chen, Xiumin-hyung, dan Chanyeol juga belum kembali…" gumamnya. Suho terlihat berpikir keras, "Baiklah. Ayo kita cari ke semua bagian villa. Kita berpencar!"
Semuanya mengangguk dan segera mencari Luhan ke semua tempat yang ada di villa.
.
.
.
Setelah tiga puluh menit mereka semua mencari, Luhan tetap tidak ditemukan.
"…Tidak mungkin…sebenarnya dia dimana?!" protes Baekhyun. Kai mengangguk. "…Benar, semua ruangan sudah dicari…tapi… dia tidak ada…"
Sehun terlihat benar-benar khawatir. Mukanya semakin pucat dan ketakutan. "…Tidak…aku tidak mau ada sesuatu yang terjadi pada Luhan-hyung…"
"…Sehun…" panggil Kyungsoo. Sehun menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Suaranya benar-benar parau. "…Tidak…ini hari ulang tahunnya… aku tidak mau…. aku tidak mau kehilangan Luhan-hyung!"
Suho mengelus pundak Sehun pelan, berusaha menenangkannya. Sehun mulai terisak.
Baekhyun menelan ludahnya. "…Erm…maaf, tapi… sepertinya… masih ada tempat yang belum kita periksa, bukan?"
"Dimana?" tanya Kai.
Yixing terlihat berpikir, dari raut wajahnya… dia terlihat segan.
"…Kau bilang dia berjalan ke balkon?" tanya Yixing. Baekhyun mengangguk. "Ya, aku dengar saat Luhan-hyung bilang kalau dia mau sendirian, lalu berjalan ke balkon."
Yixing menggigit bibir bawahnya.
"…Apa…
.
.
.
.
.
…Dia tidak akan jatuh dari balkon ke taman belakang?"
Semuanya terdiam.
.
.
.
.
.
ZRAAAAASSSHHHHH
Hujan masih turun dengan deras. Suho, Kai, dan Sehun berjalan ke pinggir agar tidak terlalu basah karena hujan.
Mereka sampai di taman belakang, tepat di bawah balkon. Disana benar-benar gelap dan semak belukar memenuhi taman.
Bunga mawar merambat di tiang gazebo dan tembok sudah dipenuhi oleh tumbuh-tumbuhan.
Disana, tidak ada tanda-tanda manusia—apalagi Luhan.
"…Tidak mungkin ada disini," kata Kai. Mereka mengangguk. "Ayo kita kembali."
.
.
.
.
.
"Tidak ada," kata Kai. "Tidak ada Luhan disana."
Semuanya terlihat makin khawatir.
"…Lalu dimana?" tanya Baekhyun. "Kita tidak tahu harus mencarinya kemana lagi, kita bahkan tidak tahu keadaan Luhan bagaimana!"
Kyungsoo mengangguk setuju, matanya melirik kearah Sehun. Sehun sudah tidak bisa mengatakan apa-apa lagi.
"Kita cari ke lantai atas?" tanya Yixing. "Kita periksa ulang mulai dari sana."
Mereka semua lalu pergi ke lantai atas, tepatnya di ruang tengah lantai dua. Di ruangan luas itu, perabotan serba tua masih terletak di tempatnya. Cat warna merah tua dan aksen gold-hitam menghiasi ruangan itu.
"Kita jangan hanya mencari di setiap ruangan, tapi juga celah-celah. Teliti semuanya." kata Suho.
Mereka lalu menyisir semua ruangan dan juga tempat-tempat yang memungkinkan seorang manusia bisa muat berada di sana, tapi tetap saja nihil.
"…Tidak mungkin…" ucap Sehun. "…Dia tidak ada di manapun…"
Semuanya sudah terdiam. Tidak bertenaga lagi untuk mencari Luhan dimanapun, dan sudah hampir menyerah. Semua sisi ruangan sudah mereka cari—tapi tidak ada yang menemukan Luhan atau petunjuk dimana Luhan berada.
Kai memijit dahinya, bingung. "…Jangan-jangan, Luhan sudah…."
"…Sudah apa?" tanya Yixing. Kai menggeleng. "T-t-tidak…lupakan."
Kyungsoo terdiam. Semuanya masih berdebat tentang kemungkinan dimana Luhan sebenarnya—tapi dia benar-benar bingung sampai tidak bisa ikut berdebat.
Mata Dio memperhatikan semua sisi-sisi ruangan itu—memang tidak ada celah yang cukup untuk menyembunyikan satu manusia, apalagi Luhan itu orang dewasa dengan tinggi badan 178cm.
Tapi…mungkin…
…ada tempat untuk menyembunyikan jalan masuk ke tempat yang dipakai untuk menyembunyikan Luhan?
Kyungsoo berdiri dari duduknya—lalu menyusuri semua tembok yang ada di ruangan itu.
"…Kyungsoo, kau sedang apa?" tanya Suho. Kyungsoo menoleh. "Mencari jalan masuk, mungkin ada jalan masuk rahasia? Atau sebuah tempat yang disembunyikan…entah, mungkin aku terlalu banyak nonton film atau nonton komik detektif—oke jangan salahkan setumpuk manga Kuroshitsuji di kamarku."
Semuanya terlihat berpikir, namun akhirnya mereka ikut menyusuri lagi ruangan itu.
Dan yang paling mencolok adalah sebuah lemari besar yang hampir setinggi langit-langit. Lebarnya sekitar dua meter.
"…Ini kita geser?" tanya Baekhyun. Kai tersenyum. "Iyaaaa."
"…Pasti di belakangnya tembok -_- Luhan tidak bisa disembunyikan di tembok tahu!" protes Baekhyun. Sehun masih memperhatikan lemari itu—lalu dia menengok ke celah belakang lemari.
"…Sepertinya bukan tembok," kata Sehun dengan mata yang masih mengintip celah itu. "…seperti..kaca…"
Kai menaikkan lengan bajunya. "Ayo…kita geser lemari ini!"
.
.
.
Setelah beberapa menit, mereka berhasil menggeser lemari itu, dan apa yang mereka temukan benar-benar mencengangkan.
Disana, ada ruangan tanpa jalan masuk. Ruangan itu sebesar lemari yang menutupinya, hanya saja antara ruangan itu dan ruang luar dibatasi oleh sebuah kaca besar yang sejajar dengan tembok.
Tapi, bukan itu yang membuat mereka terdiam.
Melainkan apa yang ada di dalam ruangan kaca itu.
Di dalam ruangan kaca yang gelap itu, Luhan duduk di sebuah kursi. Kedua tangan dan kakinya terikat di kursi, mata dan mulutnya tertutup oleh kain yang diikat di belakang kepalanya—dan juga dua tempat lilin tinggi berwarna hitam dengan lilin yang menyala.
"…L…Luhan…" ucap Sehun ternganga. "….LUHAN!"
DAKKK!
DAKKK!
Sehun memukul-mukul kaca itu dengan tangis—ia benar-benar shock atas semua ini.
"SEHUN, BERHENTI!" larang Suho. "Kita cari saja jalan masuknya, kita tidak bisa menghancurkan kacanya dengan tangan kosong!"
"TAPI LUHAN ADA DISANA! DIA TIDAK BERGERAK, KITA HARUS MENYELAMATKANNYA!" teriak sehun. "TOLONGLAH, SUHO-HYUNG!"
"Tidak ada jalan masuk, hyung…" kata Baekhyun khawatir. "…Dan…kalau dilihat…dari lilin itu…."
"Kenapa dengan lilinnya?" tanya Suho.
Baekhyun menghela nafas dan melirik Yixing. "…Tolong jelaskan, Yixing…"
Yixing menelan ludahnya sebelum menunduk dengan perasaan tidak enak.
"…Lilin itu terlihat stabil di dalam ruangan kaca itu, tidak terhembus dan tidak bergerak sedikitpun, padahal ada manusia di dalamnya. Biasanya, kalau ada oksigen, lilin itu terlihat terhembus-hembus… jadi… ruangan itu…
.
.
.
.
.
.
…hampa udara…"
Semua mata membulat seketika—dan lutut Sehun rasanya melemas.
Luhan disana—tidak bergerak, mulut dan mata tersekap kain, dan juga ruangan yang hampa udara…
"…D-dia bisa kehabisan oksigen!" seru Kyungsoo. Yixing menggeleng. "Kalau ada oksigen pun, dalam keadaan tersekap seperti itu dalam waktu yang lama…aku tidak yakin…dia bisa berta—"
"KALIAN! PAKAI INI!" teriak Kai sambil membawa kapak—sepertinya tadi dia langsung mencari barang untuk menghancurkan kaca itu.
PRAAAAAAAANG!
Kai mengayunkan kapaknya kearah kaca—menghancurkan kaca itu dan membuka jalan masuk. Sehun segera berlari masuk kesana—tidak dihiraukannya pecahan kaca yang bisa saja melukainya.
Yang ada di depan matanya, hanya Luhan.
"LUHAN! LUHAN-HYUNG!" panggil Sehun. Airmatanya tidak bisa ia tahan lagi. Dengan tangan bergetar, ia melepaskan ikatan Luhan dan juga melepas kain yang menutupi mata, mulut, dan hidungnya.
Begitu ikatannya terlepas, Luhan segera terjatuh ke pelukan Sehun—dengan wajah yang amat pucat dan badan yang seakan tidak bisa bergerak lagi.
Sehun tidak bisa bergerak—rasanya sangat kaku. Air matanya jatuh bercucuran—tangannya masih tetap mendekap Luhan.
Tapi, tidak terasa hangat sama sekali.
Suho mendekati Sehun dan Luhan, mencoba memeriksa keadaan Luhan—mulai dari nafas, nadi, dan detak jantung.
Tidak menunjukkan respon.
Suho menunduk, menggeleng pelan.
Sehun tetap memeluk erat Luhan.
Yixing menghela nafasnya.
"…Maafkan aku, Sehun…" ucap Suho pelan. "…Luhan… dia tidak bisa bertahan… dia…."
Sehun menggeleng kuat, masih memeluk Luhan, tidak mau melepaskannya.
Isakan Sehun terdengar keras.
Sementara itu, Kyungsoo menemukan secarik kertas di kursi yang tadi ditempati Luhan.
.
.
.
'Setelah TaoTao, aku mengajak Luhan dan yang lainnya juga~
Selamat Ulang Tahun, Luhan-hyung!'
.
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUED
SAMLEKUUUUM! ^w^
Akhirnya apdet yang chap 3 hehehehe
gamau banyak2 ninggalin author note, tapi maaf ya kalo lama apdet + ceritanya tidak memuaskan
Dan maap kalo kurang horror…
Dan maappppp kalo banyak yang terbunuh –kekekeke-
Dan…. Mari kita saling bermaaf-maafan karena bentar lagi bulan Ramadhan :3 Nisfu Sya'ban nih hehehee
-sungkeman sama semua readers-
Thanks yaa for reading untuk semuaaaa yang udah nyasar ke link iniii
I love you aaall, sori gbs sebutin satu2 para readers :s
heaaaart!
