BRAKKKK!
Pintu depan bangunan itu terbuka dengan keras—suara hujan dan petir terdengar sangat menakutkan.
Suho yang tengah membantu membaringkan tubuh Luhan di sofa mendengar suara pintu itu. "…Sepertinya aku mendengar sesuatu, dari lantai satu?"
"Mungkin Chanyeol dan yang lainnya kembali!" kata Baekhyun. Dia dan Kai cepat-cepat turun ke lantai satu, mendapati Chanyeol dan Kris yang masuk ke villa itu dengan basah kuyup dan tubuh berlumuran lumpur.
"Chanyeol, kau tidak apa-apa?!" seru Baekhyun khawatir sambil berlari kearah Chanyeol. Kai mengerutkan alisnya heran. "…Kenapa kalian hanya berdua? Dimana Chen dan Xiu—"
"Dia disini," jawab Kris. Dia menunjukkan Xiumin yang ia gendong di punggungnya—begitu juga Chanyeol yang menggendong Chen.
"…Apa mereka pingsan?" tanya Kai lagi.
Tapi, Kris dan Chanyeol hanya terdiam, tidak menjawabnya.
Kai yang merasa makin khawatir menghampiri mereka, dan dia menyadari kalau baju Kris dan Chanyeol tidak hanya kotor karena lumpur dan juga hujan.
Tapi oleh darah.
Yang menetes dari tubuh Chen dan Xiumin.
"…J-Jong…dae… Minseok…" panggil Kai dengan tatapan tidak percaya. Ia langsung berbalik pada Chanyeol—meminta penjelasan padanya. "…Chanyeol, katakan sesuatu!"
"…Maaf…"
Bibir, tangan, kaki, dan sekujur badan Chanyeol bergetar karena takut. "…Maaf…kan…aku… aku… kami… tadi kami terpisah, dan… dan tiba-tiba saja semuanya terjadi saat kami memutuskan untuk pulang!" jelasnya dengan isakan tangis dan suara yang bergetar. "Aku benar-benar shock, Kai! Mereka menghilang dan kami menemukan mereka di pohon besar, dan… dan…."
"Dan kami menemukan jasad mereka yang sudah bersimbah darah—tertusuk dan tergantung di ranting pohon."
Kai dan Baekhyun terdiam kaku mendengar sebaris kata yang diucapkan Kris.
"A-apa?! Jasad?!" tanya Baekhyun kaget. Tangannya bergetar hebat. "Mereka…mereka tidak mungkin ma…"
"Mereka mati, denyut nadinya tidak ada dan jantungnya tertembus ranting, di kepala mereka juga ada bekas pukulan benda tumpul dan terjadi pendarahan hebat, tapi aku tahu mereka belum lama meninggalkan kita!" jelas Kris dengan nada marah.
Tapi, tidak hanya marah.
Rasa sedih menyelimutinya. Mata Kris memerah—dia sudah tidak bisa menahannya lagi.
"…Pembunuh itu… apa dia akan membunuh kita semua satu per satu?!" teriak Kris dengan marah. Dia tidak bisa mengontrol dirinya sendiri dan ingin mengatakan sesuatu lagi—sampai dia terdiam saat melihat Sehun yang menggendong tubuh Luhan, sepertinya berjalan ke ruangan dimana Tao berada untuk meletakkan Luhan yang tidak bernyawa lagi.
Tidak bernyawa.
Kris membelalakkan matanya saat melihat sosok sahabatnya yang terkulai lemas, tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan itu.
"…Luhan?"
.
.
.
.
.
.
"Luhan meninggal karena ia disekap di ruangan kaca tanpa oksigen. Dia mati lemas." jelas Suho pada teman-temannya yang masih termenung itu. Saat itu mereka semua tengah duduk di lantai dua, setelah mereka meletakkan jasad Luhan, Xiumin, dan Chen.
Semuanya tampak murung dan menyiratkan ekspresi ketakutan—tidak tahu lagi harus berbuat apa. Teman-teman mereka sudah kehilangan nyawa karena pembunuh yang sampai sekarang masih menjadi misteri. Teka-teki yang memuakkan.
"Bagaimana….dengan Jongdae dan Minseok?" tanya Kyungsoo. Kris menghela nafas, mengepalkan tangannya kuat-kuat agar ia tidak hilang kendali. "…Aku tidak tahu pasti. Kami berempat terpisah karena kabut yang tebal. Aku menemukan Chanyeol kembali. Saat kami mencari jalan pulang karena tidak memungkinkan untuk pergi lebih jauh dan mencari mereka berdua… kami melihat jejak bekas mereka dan mengarah ke sebuah pohon besar… disana mereka sudah tidak bisa terselamatkan. Tubuh mereka tertancap di pohon, dan kepala Chen retak… mengucurkan darah…"
Baekhyun menelan ludah mendengar penjelasan Kris. Itu benar-benar menakutkan—melihat sahabatmu kehilangan nyawa dengan cara seperti itu.
Suho memutar otak, mencari apa yang ada di balik ini semua. "…Sudah pasti itu bekas penganiayaan. Ini dilakukan oleh seseorang. Tapi… kalau pelakunya satu orang… bagaimana bisa dia membunuh Luhan dan membunuh Xiumin dan Chen dalam waktu yang tidak jauh?"
"Luhan mati karena tersekap selama beberapa jam." terang Sehun. Matanya tidak bisa fokus di ruangan itu. Menerawang ke segala arah. Pecahan kaca dari tempat Luhan meregang nyawa itu masih jelas berada di sana, tak jauh dari ornamen berbentuk tanduk rusa setajam pedang yang terpasang di dinding.
Sehun menggelengkan kepalanya pelan, berusaha menenangkan dirinya sendiri. "…Dan kalau pelakunya sampai tahu ada tempat semacam itu untuk menyekap seseorang, di balik tembok, dan terutama terletak di bangunan ini… mungkin itu adalah seseorang yang sudah bersama kita lumayan lama…karena dia bisa mencari tahu tentang ruangan itu."
Kai menaikkan alisnya—merasa tertarik dengan pernyataan Sehun. "Maknae, apa maksudmu? Kau berpikir bahwa pembunuh sialan itu ada diantara kita? Itu gila. Untuk apa saling membunuh? Memangnya itu prestasi, brengsek sekali."
"Jongin, tenanglah. Bicara yang sopan karena ini masalah serius." kata Kyungsoo menenangkan Kai yang terlihat murung itu. "Bisa saja pelakunya orang luar, setelah dia menyekap Luhan, dia mengikuti Kris, Chanyeol, Xiumin, dan Chen keluar secara diam-diam, lalu…menyerang Chen dan Xiumin," ujar Kyungsoo lagi.
Baekhyun mengangguk. "Itu masuk akal. Bisa saja dia punya perhitungan yang tepat. Kris bilang mereka tersesat karena kabut, jadi sulit untuk melihat dimana pelaku itu berada, bukan?"
"Tapi kenapa pelaku itu bisa menyelinap dan bahkan tahu soal kita semua?! Dia bahkan tahu nama panggilan Tao dalam pesannya!" kata Sehun lagi.
Kris menoleh kearah Sehun. "Itu tidak mencegah kemungkinan orang luar yang menjadi pelakunya, Sehun…kita semua sering memanggil Tao dengan 'taotao', jadi pasti jika pelakunya mendengar kita memanggilnya begitu, dia akan tahu."
"Tapi kenapa?!"
Chanyeol mengerutkan alisnya kesal. "Arrrghhhh….ini makin membingungkan! Aku jadi makin tidak mengerti ini! Apa mungkin saja pembunuh itu sekarang sedang bersembunyi di dekat kita dan tertawa 'HAHAHAHAHHAA' sambil berpikir kalau kita idiot karena kita hanya menunggu disini dan menjadi korbannya?!"
"Maaf, KITA IDIOT? Kau saja yang idiot sendirian, Park Chanyeol. Jangan ajak-ajak orang lain." gerutu Baekhyun.
Yixing daritadi hanya terdiam duduk di sebelah Suho, tak bersuara. Dia benar-benar bingung dengan semua ini. Dia tidak tahu apa yang ingin dia katakan.
Saat Yixing ingin bicara sedikit, ia terdiam kembali melihat Kai yang berdiri dari duduknya. Raut wajahnya benar-benar muram dan kesal.
Atau lebih tepatnya…
…Putus asa dan ketakutan.
"Aku…" ucap Kai pelan. "…Aku ingin pergi dari sini secepatnya. Aku tidak peduli, aku ingin pulang!"
ZRAAAAAASHHHHHH
Guyuran hujan diluar jendela meredam suara Kai, namun masih samar-samar terdengar. Kilatan petir sekilas menerangi bangunan tua itu, membuat suasana makin mencekam.
"Kita juga ingin pergi secepatnya, Kim Jongin." ucap Kris dengan nada beratnya. "Tapi kau harus tahu hambatannya. Satu, kita bersama seorang pembunuh gila. Dua, cuaca tidak bersahabat. Tiga, kita tidak punya sarana transportasi. Empat, kita tidak bisa meninggalkan jasad teman-teman kita disini. Dan lima, bukankah kau punya kekuatan teleportasi?"
Kai berdecak kesal.
"Itu hanya di MV, Yifan. Dan aku tidak sedang bercanda. Ini gila. Kalau kita tetap disini sama saja kita menunggu antrian giliran untuk dibunuh. Tidak, terimakasih. Aku ingin tetap hidup dan aku ingin kembali ke Seoul."
"Gampang untuk bicara, sulit untuk dilakukan. Kita semua ingin kembali. Hidup-hidup. Dan tidak meninggalkan teman kita disini, Kim Jongin." kata Chanyeol. Yixing mengangguk setuju. "Benar. Kalau cuaca sudah aman dan kita bisa pulang, kita juga harus membawa Tao, Luhan, Xiumin, dan Chen… untuk kembali dan memakamkan mereka…"
Gulp.
Semuanya menelan ludah sendiri dan tercekat saat mendengar kata 'memakamkan'.
Karena sejujurnya, mereka juga tidak percaya sudah kehilangan sahabat-sahabat mereka itu.
"Aku tahu itu, tapi apa yang bisa kita lakukan disini?! Kita hanya diam dan menunggu untuk mati kalau kita tidak melakukan apa-apa! Kalau pelaku itu ada di dekat kita, atau malah ada diantara kita… apa kalian hanya akan diam?! Diam dan pura-pura sedih melihat teman kalian mati?! Aku muak melihatnya!"
"Jaga bicaramu, Jongin! Memangnya aku juga senang melihat satu per satu dari kita mati?! Kita semua sama! Kita ingin pulang dan jajan ttokkpokki seperti biasanya. Oke? Jangan mengeluh seperti anak kecil dan merengek pulang, tapi pikirkan jalan keluar agar masalah ini segera beres!" celoteh Chanyeol. Kai merasa sangat kesal dan menghampiri Chanyeol. "Kau juga, jangan bicara sok asik. Memangnya apa yang kau lakukan saat Xiumin dan Chen mati?! Berfoto-foto?! Idiot!"
"Hei aku tidak tahu apa yang terjadi pada mereka saat itu, jangan sindir aku, bocah! Apa yang kau lakukan juga disini?! Seperti kau berguna saja!" balas Chanyeol. Kai mendorong Chanyeol keras. "Aku membantu mencari Luhan dan menghancurkan kaca sial itu! Aku lebih berguna daripadamu! Dan aku ingin pergi dari sini sebelum menjadi mayat!"
Chanyeol mulai tersulut dan mendorong Kai lebih keras. "Jangan berlagak sok berguna padahal kau culas dan sekarang malah merengek minta pulang duluan! Kau ingin meninggalkan teman-temanmu disini, hah?! Menjadi mayat?! Membusuk disini?! KUDOAKAN MUKAMU LEBIH BUSUK, JONGIN!"
"KAU LEBIH BRENGSEK, PARK CHANYEOL!"
"SUDAH HENTIKAN!" teriak Baekhyun. Suho menarik Chanyeol dan Lay menarik Kai. "…Sudah, jangan memperumit keadaan di saat seperti ini…" kata Lay. Chanyeol meludah ke lantai. "Aku bosan berada bersama bocah manja itu. Merasa terbaik tapi tidak berguna."
"Memangnya aku suka bersamamu? Kau raksasa sial yang sok melucu, idiot."
"Apa kau bilang?!"
"KUBILANG KAU INI IDI—"
PLAKKKKK!
Kyungsoo menampar pipi kiri Kai,membuatnya terdiam dan tidak melanjutkan kata-katanya.
"…Sudah, jangan dilanjutkan… Jongin, maaf aku menamparmu. Tapi kalian berdua harus tenang dan jangan bertindak seperti ini…" kata Kyungsoo pelan. "Sekarang, kita beristirahat saja dulu. Lalu, kita berdoa untuk teman-teman kita dan agar kita bisa kembali dengan selamat, dan jangan saling mencurigai diantara teman…apalagi bertindak seperti tadi."
Jongin dan Chanyeol akhirnya mulai tenang dan duduk kembali. Sementara itu, Sehun menatap tajam dengan kesal kearah mereka berdua, dan berdiri dari duduknya, meninggalkan teman-temannya di lantai dua. Sehun lalu berjalan ke arah tangga.
"….Dia sebenarnya kenapa?" tanya Yixing. Chanyeol berdesis. "Dia hanya sensitive, Luhan meninggalkannya lebih dulu."
"Sarkastik sekali kau. Kupotong bibirmu nanti." ancam Baekhyun. Chanyeol langsung bungkam, masih melempar pandangan sinis pada Kai sebelum akhirnya saling buang muka.
Kris merasa janggal pada Sehun. Dia memutuskan untuk mengikutinya dan mendapati Sehun sedang menuruni tangga. "Oh Sehun,"
Sehun bergeming mendengar panggilan Kris dan menoleh kearah pria tinggi itu. "Ada apa?"
"Aku tahu kau masih shock dan sedih gara-gara Luhan, tapi… kenapa kau sampai menuduh diantara kita-lah pelakunya?" tanya Kris. Sehun berdecak kesal. "Apa itu salah? Siapa lagi yang melakukannya? Hanya ada kita disini. Memang ada beberapa warga tapi mereka tidak punya alasan untuk membunuh kita sampai seperti ini. Kita memang pendatang tapi mereka tidak mungkin membunuh kita kecuali ini adalah film Resident Evil dan mereka adalah zombie. Tidak ada manusia bodoh yang mau mengikuti kita kemana-mana untuk membunuh kita."
"Dan kenapa kau menyimpulkannya seperti itu? Kau tidak percaya pada temanmu sendiri?!" kata Kris kesal.
Sehun menatapnya dengan tatapan lurus.
"…Aku percaya… tapi aku jadi lebih waspada. Aku sudah kehilangan Luhan-hyung. Siapa yang tahu kalau nanti aku akan mati?"
Kris menelan ludahnya sendiri. "…itu…"
Sehun tersenyum tipis kearah duizhang-nya sambil melangkah menuruni tangga. "Aku akan menjaga Luhan-hyung dulu. Selamat malam, Yi—"
KRAKKKK!
Kaki Sehun menginjak paku yang mencuat dari anak tangga keempat itu, membuatnya terhuyung dan jatuh dengan keras di tangga. Kepalanya terbentur ke pegangan tangga yang berujung tajam dengan keras, dan membuatnya jatuh terguling sampai ke akhir dari tangga naas itu.
Kris tercengang melihatnya, ia segera menuruni tangga dengan tangan bergetar. "S-SE…"
BRUUUKK!
Sehun terhempas ke lantai satu dengan tubuh tergeletak tak sadarkan diri.
Kepalanya mengeluarkan darah.
Kris benar-benar terdiam melihat apa yang ada di depannya ini.
Ini sangat lucu.
Ini tidak mungkin.
Baru saja Sehun mengatakan sesuatu soal 'mati',dan…
ini…
"KRIS-HYUNG, APA YANG TERJADI?!" tanya Suho yang turun dari lantai atas, diikuti oleh yang lainnya. Kris tetap terdiam, tidak menoleh.
Baekhyun turun cepat-cepat. "Tadi ada suara apa? Terdengar keras seka—YA TUHAN!SEHUN?!"
Mereka semua lalu segera turun dan bermaksud untuk menghampiri Sehun, tapi saat mereka hampir mendekati Sehun…
CLEBBBB!
.
.
"…a….h…"
.
.
.
.
.
.
.
Darah keluar dari mulut, kepala, dan tubuh Sehun.
Kini, tubuhnya bergelimang darah merah yang segar.
Semua orang yang berada disana ternganga, menatap nanar pada apa yang ada di depan mereka saat itu.
Kejadiannya benar-benar cepat dan tidak bisa dipercaya.
Sebuah benda dilempar oleh seseorang dari lantai atas kearah bawah tangga, menusuk dada kiri Sehun, tepat di jantungnya.
Benda itu…
…Adalah sebuah ornament tanduk rusa yang sangat tajam...
.
.
Malam itu benar-benar sunyi dan mencekam.
Semuanya berada di ruangan masing-masing setelah membaringkan tubuh Sehun di sebelah tubuh Luhan. Mereka berusaha memejamkan mata, melupakan sejenak peristiwa menakutkan yang mereka lihat dengan mata kepala sendiri itu.
Namun, mereka tetap waspada dan tidak bisa mengabaikan fakta yang mereka dapatkan.
Fakta bahwa Oh Sehun baru saja meninggalkan mereka.
Dan juga…
Fakta baru bahwa bisa saja pelaku itu benar-benar ada diantara mereka semua.
Ini semua sudah mulai jelas.
Ornamen tanduk rusa itu berada di lantai dua, terpasang di dinding. Dan seseorang dari mereka-lah yang melemparkan ornament itu ke lantai bawah, tepat di jantung Sehun, yang tengah tergeletak di bawah tangga karena terjatuh.
Tidak mungkin tanduk rusa itu bergerak sendiri.
Siapapun yang melemparkannya, dialah pelakunya. Salah satu dari mereka yang masih hidup, yang ikut berdiskusi di lantai dua, yang berjalan paling akhir dan tidak langsung menuju ke lantai bawah.
Tapi, itu sulit untuk diingat.
Mungkin saja itu salah satu dari mereka.
Bisa saja orang lain.
Atau apapun yang lain.
Semuanya berusaha memejamkan matanya dan memutuskan untuk menyimpan misteri ini untuk pagi hari nanti.
.
.
.
.
.
.
.
.
TIK
TIK
TIK
Suara rintik hujan membuat mata Suho yang berusaha dipejamkan menjadi tidak fokus karena telinganya teralihkan pada suara hujan. Akhirnya, ia membuka matanya sedikit demi sedikit, meraih handphone yang ia letakkan tidak jauh dari kasurnya. Ia lalu memandangi jam digital di handphone-nya itu.
Pukul satu malam.
Malam masih benar-benar panjang, dan hujan belum juga berhenti menumpahkan air dari langit. Suho bingung apa dia akan bisa tidur atau tidak.
Dia merasa takut.
Dia khawatir.
Semuanya benar-benar membuatnya depresi—dia bahkan sangat bingung, kenapa dia dan teman-temannya masih bisa diam disini. Melihat sahabatmu meninggal berturut-turut, itu sangat gila. Jongin benar. Mereka harus meninggalkan tempat ini secepatnya.
Tapi, bagaimana?
Ini benar-benar membingungkan. Dan kalaupun benar pelakunya adalah salah satu diantara mereka, sudah pasti meskipun mereka semua bisa kembali ke Seoul, nyawa mereka tidak akan aman.
Pembunuh itu masih ada di sekitar mereka.
Suho harus tetap waspada. Ia tahu kalau ini benar-benar tidak mudah. Dia seorang pemimpin. Dia harus melindungi teman-temannya.
Batinnya benar-benar tertekan. Dia ingin meringkuk dalam diam.
Dia takut saat dia mengetahui siapa yang sebenarnya melakukan ini semua—ia akan kehilangan nyawanya. Ia akan kehilangan kepercayaannya.
Suho tidak mengerti.
Ia menghela nafas pelan. Sungguh, ia tidak ingin teman-temannya meregang nyawa berkali-kali di depan matanya.
Ia juga tidak ingin melihat orang yang dia cintai kehilangan nyawanya.
Zhang Yixing.
Ia sangat khawatir pada Yixing.
Meskipun mungkin Yixing tidak terlalu tahu bagaimana perasaan namja bersenyum malaikat itu padanya, Suho tetap ingin melindunginya.
Seketika, terbesit di benaknya untuk mengecek keadaan Yixing saat itu. Suho kadang paranoid.
Ia memutuskan untuk mencari Yixing. Kalau Yixing sudah tidur, ia akan menjaganya dan tidur bersamanya saja sampai pagi. Kalau Yixing belum tidur, ia ingin mengajaknya berkonsultasi.
Karena… mungkin saja Yixing mengetahui sesuatu. Ya, itu benar.
Suho memperhatikannya dari awal. Yixing bertindak aneh. Dia memang tidak banyak bicara, tapi ia terlihat mengetahui sesuatu, namun ia sulit untuk mengeluarkannya dan membicarakannya.
KREETTT
Suho turun dari kasur berseprai putih itu, melangkahkan kakinya keluar kamar—mencari kamar Yixing, karena mereka tidak tidur satu kamar kali ini. Kakinya melangkah di koridor yang gelap, guyuran hujan di luar masih terdengar keras dan petir masih sesekali menyambar.
Ia pun sampai di depan kamar Yixing.
Perlahan, ia membuka kenop pintu itu. Kepalanya menyembul sedikit ke dalam, melihat keadaan kamar itu.
Tidak ada.
Yixing tidak ada di kamarnya.
Kasurnya kosong, yang ada hanya selimut dan bantal yang acak-acakan diatas kasur.
Rasa paranoid Suho mulai muncul kembali.
Kemana Yixing?
.
.
.
.
.
TAP
TAP
TAP
Suho melangkahkan kakinya ke lantai bawah. Disana, darah Sehun masih tergenang, membuatnya menelan ludah dalam-dalam.
Tapi, dia harus mencari Yixing.
JLEGEERRRRR
Sebuah kilat petir menyinarinya seketika. Cahaya itu berasal dari pintu luar yang agak terbuka. Suho menaikkan alisnya heran.
Kenapa pintu itu terbuka?
Apa jangan-jangan… ada seseorang yang masuk?
Atau bahkan keluar?
Apa Yixing ada di luar?
Beribu pertanyaan menghantam Suho. Akhirnya dia memberanikan diri untuk menengok keluar,meskipun dia sebenarnya takut.
ZRRRAAAASHHHHH
Hujan besar masih mengguyur bangunan itu dari kemarin, membuat udara yang dingin itu semakin dingin. Suho merapatkan tangannya, berjalan keluar bangunan dengan langkah hati-hati dan menghindari hujan dengan jaketnya. "…Yixing?" panggilnya.
Suho terus melangkah. Sesekali ia mengernyit. Tanah ini menjadi sangat berlumpur karena hujan. Jadi, ia harus lebih berhati-hati agar ia tidak terjatuh atau terselip sesuatu.
Namun, ia menemukan sesuatu saat melirik ke lumpur di bawahnya.
Disana ada jejak kaki dan juga sebelah sandal Yixing yang ia pakai saat di dalam rumah.
Yixing benar-benar ada di luar.
"…Yixing!" panggil Suho terus-menerus sambil mengikuti jejak itu. Ia terus berjalan sampai ke taman belakang, dimana mawar tumbuh subur, begitupun dengan tanaman lain, di dekat taman mawar itu, ada sebuah kolam ikan yang sudah tidak terawat—namun air masih menggenang disana. Memang tidak terlalu terlihat karena letaknya agak memojok di taman.
Dan Suho tercengang saat melihat Yixing berjalan menuju kolam itu.
"…YIXING!" seru Suho sambil berlari menghampiri Yixing. Hujan diabaikannya. Ia langsung meraih tangan Yixing khawatir. "Sedang apa kau disini?!"
Yixing tidak menjawab apa-apa.
Matanya terpejam.
Suho makin heran dan khawatir dengan ini semua.
'…Apa dia sleep walking?' pikirnya. Ia tidak pernah tahu kalau Yixing punya kebiasaan berjalan dalam tidur.
Namun, sleep walking di tengah hujan dan di tempat seperti ini terlalu tidak wajar. Suho lalu menggendongnya a-la bridal style, dan berlari cepat-cepat kembali ke dalam bangunan agar tidak terguyur hujan lebih lama lagi. Suho tahu kesehatan Yixing tidak sestabil yang lain.
Setelah sampai di dalam kamar Yixing, Suho menyeka tubuh Yixing yang basah dengan handuk, dan menggantikan pakaiannya yang basah karena hujan. Ia tidak mau Yixing kedinginan.
Sesekali Suho tersenyum saat melakukan itu semua pada Yixing—ia tidak selalu bisa menunjukkan perhatiannya pada Yixing di depan yang lainnya karena dia adalah sosok leader, dia harus membagi sama rata perhatiannya. Namun, bukan berarti ia mengabaikan Yixing. Ia dan Yixing memang jarang bicara, namun mereka sudah mengerti satu sama lain. Kadang-kadang Yixing memang tidak tahu, tidak peka, dan pelupa, tapi Suho bahagia Yixing mengerti dirinya.
"Nah, sudah beres." gumam Suho kecil. Ia lalu menidurkan Yixing kembali di kasurnya, menyelimutinya dengan selimut tebal, tak lupa dengan bisikan 'wo ai ni' di telinga Yixing.
Suho lalu berjalan kearah pintu kamar Yixing, ia hendak menutup pintu kamar yang tadi terbuka. Ia memutuskan untuk tidur saja bersama Yixing malam ini.
KREEETT
"Joonmyeon?"
Suho menoleh. "…Ya-"
CLEBBBB!
.
.
.
.
.
.
CLEBBB!
CLEBBBB!
KLAKKKK!
Sebuah kapak dicabut oleh seseorang dari tubuh Suho yang sudah bergelimang darah dan lemas. Tubuhnya sudah tercabik-cabik berkali-kali oleh kapak itu.
Kapak yang tadi digunakan untuk membebaskan Luhan.
Luka-luka di tubuh Suho benar-benar dalam—ia tidak sempat untuk melindungi diri, karena saat ia menarik kenop pintu, seseorang memanggilnya dan ia refleks menoleh.
Ia tidak tahu orang itu sudah masuk ke kamar Yixing ketika Suho tidak menyadarinya karena tengah menggantikan baju Yixing, lalu ia bersembunyi di belakang pintu.
Benar-benar licik.
Orang itu menyeringai tipis, lalu kembali berekspresi lurus. Ia lalu menarik tubuh Suho keluar dari kamar Yixing, masih menggenggam kuat kapak yang telah bermandikan darah itu.
SREEEETTTTT
TAP
TAP
TAP
Koridor ruangan itu sekarang terpenuhi jejak darah Suho.
Perlahan demi perlahan, tubuh Suho diseretnya entah kemana.
Sembari bersenandung kecil, menarik tubuh itu—memikirkan rangkaian apa lagi yang akan ia perbuat.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
Annyeooong! Ne I'm here again
Thanks God Finally I can post this chapter
Dan pas ngetik ini, malem malem, alone, agak horror ye.
Skip.
Maaf ya lamaaaaaaaa banget lanjutnya. Kaga banyak alesan deh, pkoknya maaf lama ga post ini lanjutannya. Hope u like this chapter ne, guys!
Dan ini nih, soal chap yang kemaren… ada dua kesalahan yang pengen gue akuin:
Satu : teori matinya Luhan. Gue salah teori. Harusnya lilinnya mati. Geblek dah gue. Soalnya gue baca itu teori pas gue kelas 5 SD dan sekarang gue SMA kelas dua. Mohon dimaklum atas buremnya ingetan gue dan kesalahan gue yeeeee –bow-
Dua : i-Kyungsoo-t dan juga A-Yixing. Okeh ini penjelasannya. Ini pure accident. Gue kan bingung ya di tiap gue bikin epep, kadang gue nyebut nama Kyungsoo itu Dio ato Kyungsoo. Lay juga, gue pake Lay sama Yixing. Nah tapi gue pikir, mending pake nama asli mereka dah. Tapi gue udah keburu nulisnya campur, ada dio, kyungsoo, lay, sama yixing. Terus gue pake fitur 'replace words' di MS Word aja tuh. gebleknya, gue replace all 'DIO' sama 'LAY' words jadi 'KYUNGSOO' dan 'YIXING'. Gue ga nyadar gue tuh di epep ngetik kata 'IDIOT' dan 'ALAY' sebelumnya, nah gara2 di 'replace all', jadinya tiap ada kata 'dio' bakal jadi kata 'kyungsoo', kata 'lay' bakal jadi 'yixing'.
Begitulah sodara-sodara.
Gue jadi malu buka chapter yang kemaren gara-gara kesalahan ini. Banyak sih kesalahan gue, tapi ini yang paling bikin gua malu nih. Maapin gue yak. Maklum yak. Namanya juga manusia –bow-
Nah, ini soal horror ato tidak. Pada dasarnya gue jalma borangan. Dan gue bukan spesialis horror. Tapi gue heran ini epep kok bijil/? dari otak gue gitu. Apakah ini horror? Tidak? bagus. Karena gue orangnya baik hati /?
Maaf ya kalo kurang berasa feel-nya, dan gue selalu bikin orang2 mati disini, tenang aja ga mengenaskan kok/?, gue udah tobat psiko-psikoan. Yang biasnya udah the end tabah ya. Bersyukur aja sekarang EXO udah comeback jadi ga kejadian deh bkin MV-nya jadi horror kek epep ini/?, comebacknya dua kali malah, wolep sama growl. Menang banyak lagi. Triple crown aja ampe dua kali. SELAMAT WOY BUAT ENTE WOY! –lempar susu ultra ke anak EXO-
Okay, hope u enjoy the story. Stay tune dan stay kepo about siapa yeee pelaku sebenernye wkwkwkkw. Yang tebakannya bener gue kasih choki-choki tapi beli sendiri /?.
Thanks for reading all!
Saranghae ye ye ye!
.
P.S : Mau semi hiatus dulu yak, soalnya sekolahan tugasnya numpuk mak… wkwkwk
P.S.S : Bulan September. Daku bertambah tua bulan ini. –sigh-
P.S.S.S : Love ya boo! Gw harep lu baca ini kekeke (curcol ayey)
.
.
[THEHUNGOGREEN.2013]
