Baekhyun terbangun di sebuah kerumunan orang-orang yang berpakaian hitam. Ekspresi wajah mereka terlihat suram dan berduka.

'Dimana ini?'

Baekhyun melirik sekitarnya. Kerumunan orang-orang itu tampaknya tengah mengiringi sesuatu.

Sebuah peti mati yang tertutup rapat.

Baekhyun mengernyit heran.

'Siapa yang meninggal?'

Baekhyun lalu menerobos kerumunan itu, berusaha mencari tahu siapa yang tengah terbaring di dalam peti. Tapi, orang-orang itu bersikap seperti tidak ada Baekhyun disana. Mereka seperti tidak merasakan kehadiran Baekhyun.

Baekhyun terdiam.

Entah kenapa, ia merasa familiar dengan suasana ini.

Terasa seperti dejavu.

"...Maaf..." kata Baekhyun pelan pada seseorang yang ada di depannya. Orang itu terlihat membawa sebuah foto besar berpigura keemasan. "...Apa anda bisa memberitahu saya siapa yang meninggal dunia?" tanya Baekhyun sesopan mungkin.

Orang itu lalu menoleh kearah Baekhyun, sementara itu Baekhyun merasa lega karena ada juga orang yang mengetahui keberadaannya.

Tapi, rasa lega Baekhyun sirna ketika ia melihat sosok orang yang ia panggil itu.

"...K...K...Kau... T-tidak...tidak mung..."

Baekhyun menutup mulutnya dengan kedua tangannya, ia langsung berbalik dan berlari sejauh-jauhnya dari kerumunan itu.

Tidak mungkin.

Orang yang ia panggil itu...itu tak lain adalah dirinya sendiri.

Byun Baekhyun.

Ada dua orang yang sama. Namun, wajah Baekhyun itu benar-benar pucat bagai tak bernyawa.

Orang itu tengah memegang sebuah foto berpigura keemasan yang memasang foto seseorang... seseorang tanpa kepala.

Baekhyun terus berlari.

Baekhyun sangat ketakutan—tidak, ia berpikir ini hanya mimpi buruk. Ia terus berlari, dan berlari sampai ia berhenti karena kegelapan menyelimuti dirinya.

"...T-tidak...kumohon keluarkan aku..." isak Baekhyun. "Kembalikan aku ke tempat asalku kumohon! Aku tidak mau disini, aku tidak mau mati!"

Suasana tetap gelap dan hening.

Nafas Baekhyun terasa sesak. Ia sulit bernafas. Matanya tidak bisa melihat apa-apa—ia sangat ketakuta dan tidak tahu harus berbuat apa.

Ia harus bertahan hidup.

"Khhh...akkkhhhhh..."

Nafas Baekhyun benar-benar terkunci. Ia merasa seakan akan mati.

Tapi, tiba-tiba terasa nafas seseorang menyentuh lembut telinganya. Nafas yang dingin dan mencekam.

"...Byun Baekhyun?"

Baekhyun tidak berani berbalik.

Kakinya kaku dan gemetar.

"...Ini aku... apa kau mau menemaniku?"

.

.

Baekhyun tidak bisa melihat apa-apa lagi.

.

.

.

.

.

.

.

.

"AAAAAAAAAAAAAAAAAAHHHHH!"

Baekhyun terbangun di kamar villa itu. Nafasnya tersengal-sengal. Keringat membasahi tubuhnya, tapi ia benar-benar merasa lega.

Ia masih hidup.

"...hh...hah..." Baekhyun mengatur nafasnya, matanya menelisik ke segala arah. Ia masih ada di kamar villa-nya dan tidak ada yang aneh.

Itu hanya mimpi buruk.

"...Syukurlah, Ya Tuhan..."

Baekhyun lalu turun dari ranjangnya—berusaha menenangkan dirinya sendiri. Ia lalu membuka gorden kamarnya.

Sudah pagi.

Pagi dengan langit yang kelam.

Langit itu terlihat gelap dan mencekam—tidak bisa menyembunyikan perasaan cemas dan khawatirnya.

Ini tanggal dua puluh satu April.

Dua hari sudah berlalu dari saat pertama mereka sampai di villa ini—dan semuanya masih jadi misteri. Kecelakaan bus mereka... Tiga hari yang terlewat... semua teror yang ditujukan pada mereka... kematian teman-temannya... pembunuh yang belum terungkap...

Semuanya membuat Baekhyun sakit.

Ia sakit karena ia tidak bisa berpikir jernih.

"Lebih baik aku memeriksa keadaan yang lain," gumamnya sambil keluar dari , Baekhyun tercengang saat ia melihat sebuah noda seretan darah di lantai parkit yang ada di hadapannya.

"...I...ini..."

Baekhyun menelan ludahnya.

Itu bukan darah Sehun.

Ia lalu menepiskan rasa takutnya dan mengikuti arah darimana darah itu berasal,

.

.

.

.

Noda darah itu berasal dari kamar Yixing.

Baekhyun hanya tercengang saat ia sampai disana—Noda cipratan dan genangan darah di pintu kamar Yixing, Yixing yang tengah terduduk dengan wajah pucat, dan juga Kris yang tengah berdiri di sebelah Kyungsoo.

"Apa yang terjadi?" tanya Baekhyun dengan suara gemetar. Kris melirik kearah Baekhyun. "...Seseorang dari kita mungkin diserang lagi. Dimana Chanyeol dan Kai?"

"Kurasa mereka masih tidur." Jawab Baekhyun sambil menghampiri Yixing. "...Yixing, kau tidak apa-apa?"

Yixing mengangkat wajahnya. Mata yang sembab dan penuh dengan rasa ketakutan—bola mata yang menyiratkan rasa takut yang tidak biasa. Baekhyun menelan ludahnya pelan saat melihat tatapan Yixing yang agak aneh. "K-Kau...kenapa? Apa yang terjadi?"

"...A...Aku..." jawab Yixing pelan. "...Aku tidak bisa..."

"Ceritakanlah, Yixing-hyung." Kata Kyungsoo dengan suara pelan. Barusan ia menangis dan suaranya jadi serak. Kris mengusap pundaknya pelan—menenangkan Kyungsoo. "...Mungkin kau mengetahui sesuatu..."

"Aku tidak melakukannya...sungguh..." kata Yixing lagi. "Aku tahu...aku tahu kalian mungkin mencurigaiku karena ini tapi aku tidak melakukannya, aku berani bersumpah!"

Kris mengusap pelan pundak Yixing dan menatapnya. "Kami mungkin mencurigaimu tapi kami tidak akan bertindak kalau tidak punya bukti. Ceritakanlah, Yixing."

Tangan Yixing mulai berhenti gemetar dan sorot matanya mulai melembut.

"...Jadi...aku...

.

.

.

-18 menit yang lalu-

.

.

Yixing terbangun dengan perasaan tidak enak yang menghantuinya. Ia bermimpi sangat buruk—Ia berjalan di tengah tidurnya, menembus hujan, dan kakinya melangkah dengan sendirinya kearah sebuah kolam tua yang ada di taman belakang villa.

Semuanya terasa nyata.

Tapi, ia menghentikan langkahnya saat seseorang memanggil namanya. Itu Joonmyeon. Joonmyeon lalu menariknya, menggendongnya kembali ke dalam villa.

Semuanya terasa nyata, sangat nyata, dan ia tidak percaya kalau itu adalah mimpi. Matanya memang terpejam, tapi ia bisa melihat jelas apa yang terjadi.

Saat Joonmyeon menggendongnya kedalam kamar, di balik pintu, Yixing bisa melihat ada seseorang yang bersembunyi disana.

Sepasang mata yang menyiratkan kegelapan dan kematian.

Dan Yixing tidak bisa mengingat apa-apa lagi setelah itu. Ia kembali sadar saat ia bangun tidur. Ia sadar kalau baju piyama-nya sudah diganti oleh seseorang—mungkin Joonmyeon, dan juga perasaan cemas yang benar-benar menusuk.

Perasaan itu benar-benar menguat saat ia membuka pintu kamarnya. Disana sudah ada cipratan dan genangan darah, dan juga noda seretan darah yang ada di sepanjang koridor, dimulai dari kamarnya.

Yixing benar-benar ketakutan.

Ia mengingat perlahan mimpi buruknya—orang itu, mungkin pelakunya...seseorang yang bersembunyi di balik pintu, hingga kegelapan tidak mengizinkannya terlihat.

Dan ia juga ingat seseorang yang sangat ia khawatirkan, Joonmyeon.

Akhirnya ia jatuh terduduk dengan tubuh yang lunglai—mencoba berdoa agar bukan Joonmyeon-lah pemilik darah itu. Ia tidak bisa mengontrol tangisnya. Sekujur tubuhnya gemetar hebat.

Semoga saja bukan Joonmyeon.

.

.

.

.

.

.

"...Begitu..." gumam Baekhyun. Ia mengerti sekarang. Yixing mengangguk lemas. "Kumohon... apa salah satu dari kalian sudah bertemu dengan Joonmyeon? Dia muncul di mimpiku dan aku tahu sejak insiden ini dimulai, aku sering bermimpi aneh. Tapi aku benar-benar berharap ini bukan Joonmyeon...aku tidak kuat... Aku tidak ingin dia mati disini... Kumohon, apa dia masih tidur, sama seperti Chanyeol dan Kai?" tanya Yixing dengan matanya yang mulai berair kembali.

Kyungsoo meremas tangannya sendiri kuat-kuat. "A...aku...aku tidur bersama Kai. Aku tahu Chanyeol-hyung tidur di kamar sebelah, tapi... aku... belum bertemu Joonmyeon-hyung...maaf, Yixing-hyung."

Mendengar perkataan Kyungsoo membuat Yixing semakin tercekat dan khawatir. Kris membantunya berdiri dan mencoba menenangkannya. "Tenanglah, mungkin Joonmyeon masih tidur di ruangan lain. Lebih baik kita mengikuti kemana noda darah ini berakhir. Mungkin saja ada petunjuk. Kita berdoa saja agar itu bukan Joonmyeon seperti firasatmu, Yixing..."

Yixing menarik nafas dalam-dalam, mencoba menguatkan hatinya sendiri dan berjalan mengikuti Kris dan Kyungsoo yang sudah berjalan duluan di depannya.

Mereka mengikuti jejak seretan darah itu sampai keluar dari bangunan villa, mengarah ke taman belakang, dan disana Yixing semakin terdiam kaku.

Jejak darah itu memang sudah semakin terhapus hujan, tapi pekat dan baunya darah tidak salah lagi...

...jejak itu berhenti di kolam tua yang ada dalam mimpinya.

"...Tidak..." gumam Yixing serak. Air mata menetes perlahan menuruni pipinya.

Baekhyun tercengang melihat apa yang ada di depannya. Matanya membulat—air mata berkumpul di sudut mata kecil Baekhyun. Kyungsoo menutup mulutnya dan menahan isakannya, sementara Kris hanya bisa terdiam dan memegang bahu Kyungsoo kuat-kuat.

Di depan mereka, di dalam kolam tua itu...

Kolam itu telah terisi oleh air hujan yang dingin.

Tapi bukan itu yang membuat mereka terdiam.

Air kolam itu telah berubah warna menjadi merah pekat.

Merah darah. Bau darah yang pekat.

Darah yang berasal dari sebuah mayat yang terapung di kolam itu—sebuah mayat yang penuh luka dan bersimbah darah.

Yixing segera berlari mendekati kolam itu, menarik tubuh yang sudah tak bernyawa itu lagi. Kris membantunya dan mengangkatnya. "...Ya Tuhan, Joonmyeon... " desis Kris.

Yixing tidak bisa menahannya lagi—ia segera memeluk tubuh Joonmyeon yang basah bersimbah darah, tubuhnya penuh luka cabikan dan kulitnya sudah memucat.

"...J...Joonmyeon...tidak...kumohon... Joonmyeon!"

Isakan tangis Yixing terdengar keras. Suaranya penuh rasa perih dan sakit. Ia terus memeluk tubuh Joonmyeon dengan tangan yang bergetar. Darah Joonmyeon sudah membasahi Yixing. "Joonmyeon...kumohon..."

Baekhyun hanya bisa terdiam, matanya terbuka dan airmata sudah terus mengalir dari sana. Ia benar-benar kaku, terdiam. Tubuh Joonmyeon benar-benar mengenaskan. Kyungsoo tidak kuat lagi melihatnya dan menangis sambil menunduk. Kris mengepalkan tangannya kuat-kuat—emosi. Kesal. Cemas. Khawatir. Sedih. Marah. Murka.

Ia sudah tidak tahan lagi.

"SIALAN! KAU, KELUARLAH SEKARANG JUGA!" teriak Kris pada entah siapa. "APA YANG KAU MAU?! KAU MAU KEMATIAN?! KAU MAU APA?! DATANGLAH KEMARI DAN HADAPI AKU, PENGECUT BRENGSEK! PEMBUNUH BAJINGAN SEPERTI KAU—AKU TAK BISA MENAHANNYA LAGI! KAU SUDAH MEMBUNUH TEMAN-TEMANKU— AKAN KUBUNUH KAU!"

Kyungsoo menggenggam kepalan tangan Kris pelan untuk menghentikan rasa marah Kris yang sudah jadi sosok kakak baginya itu. "...H...hyung...tenanglah..."

"Aku tidak bisa tenang, Kyungsoo..." kata Kris, giginya bergesekan kuat menahan kesal. "...Aku tidak mau semua dari kita mati disini... di tangan si brengsek itu... aku tidak akan pernah sudi."

"Kenapa kalian berkumpul disini?"

Suara Kai dan Chanyeol yang baru datang membuat semuanya langsung menoleh. Kai dan Chanyeol yang datang dengan wajah mengantuk langsung terdiam dan tergagap saat melihat apa yang terjadi.

Tubuh Joonmyeon yang tidak bernyawa—ada di pelukan Yixing.

"...Ya Tuhan...Suho..." gumam Chanyeol. Ia segera menghampiri Yixing. "Apa yang terjadi padanya?!"

"Seperti yang kau lihat, Park. Dia terbunuh." Jawab Kris dingin. "Dan kalau ini terus berlanjut, kita semua akan mati. Kita. Semua."

Semuanya terdiam kaku dan tidak bisa menjawab apa-apa.

.

.

.

.

.

.

Yixing tengah menyeka darah dari tubuh Joonmyeon dan membersihkan luka-lukanya setelah ia membaringkan Joonmyeon di ranjangnya. Meskipun ia sudah tidak bernyawa, Yixing tidak ingin membiarkan Joonmyeon dengan keadaan seperti ini.

Kini matanya benar-benar kosong.

Firasatnya selalu benar.

Yixing menarik nafas pelan. Ia tidak mengerti. Ia sangat tidak mengerti.

Kenapa semua ini terjadi pada mereka? Dan kenapa hanya dia yang merasakan firasat buruk dan aneh?

...Tunggu...

Tidak...mungkin bukan hanya Yixing... ia ingat saat Baekhyun dan Kyungsoo tengah membicarakan soal masalah tanggal. Tiga hari yang terlewat. 16 April... ke 19 April. Dan rangkaian kematian yang memerangkap mereka.

KREEEK

Yixing menoleh kearah pintu yang dibuka itu—disana Baekhyun berdiri dengan wajah khawatir. "...hyung, kita menemukan sesuatu."

"Menemukan apa?" tanya Yixing. Baekhyun menelan ludahnya. "Sebuah surat? Atau mungkin post it."

.

.

.

Hai.

Semuanya sudah menuju tahap yang menyenangkan.

Tapi, selama kalian semua belum bersamaku...aku masih merasa sendirian.

Sekarang uri guardian sudah dalam perjalanan bersamaku.

Dari air, kembali ke air. Kolam itu indah sekali dengan warna merah mawar. Seperti api di tengah udara dingin yang menusuk.

Terimakasih.

Aku mencintai kalian.

.

.

.

.

Semuanya menatap dalam-dalam kertas post it yang tertempel di kapak yang mereka temukan di balik pintu mansion itu dan berusaha berpikir keras.

"...Orang brengsek..." gumam Kris.

"Mencurigakan," gumam Kai.

"...Tulisannya jelek sekali," gumam Chanyeol.

Kyungsoo menginjak kaki Chanyeol pelan. "Bodoh."

"Aku serius, perlu beberapa menit untuk bisa membaca tulisan jelek ini, apalagi dia menulisnya di kertas post it kecil yang sudah lecek. Tidak bermodal. Bahasanya juga sok puitis tapi acak-acakan. Dia bukan anak sastra!" Kata Chanyeol dengan wajah kesal. "Aku benar-benar penasaran siapa yang sudah menulis ini. Apa dia satu orang? Dua orang?"

"Aku tahu itu satu orang." Kata Kris. Baekhyun mengangguk. "Ya, kupikir juga begitu. Ia selalu menyebut dirinya 'aku' saat berkomunikasi dengan kita menggunakan kertas post it. Dia juga mengatakan kalau dia 'tidak mau sendirian'."

Chanyeol mengusap wajahnya sendiri. "Hah...'tidak mau sendirian'? Jomblokah dia?"

Kai menghela nafas. "Betapa forever alone-nya dia sehingga melakukan semua kegilaan ini...membunuh orang lain karena ia tidak ingin sendiri... tapi apa gunanya bersama orang yang sudah mati?"

Kris mengangkat wajahnya dan menatap Kai. "...Kau benar. Untuk apa orang itu ingin bersama orang mati?"

"Apa dia sejenis psikopat yang tidak hanya hobi membunuh tapi hobi mengumpulkan orang mati untuk dirinya sendiri?" tanya Chanyeol. "Setelah ia tidak sendirian dengan jenazah-jenazah itu, dia mau apa? Bermain monopoli?"

"Hahahaha lucu." Kata Baekhyun dengan muka lurus. "Apapun yang ingin dia lakukan, itu pasti tidak masuk akal."

"Orang bodoh yang menulis puisi gagal, forever alone, dan suka diam bersama orang mati." Gumam Kai lagi. "Dia benar-benar menghabiskan kesempatan hidupnya untuk hal yang tidak bermanfaat, membunuh orang lain dan menciptakan ter—"

"Tunggu."

Yixing yang daritadi hanya diam akhirnya mengatakan sesuatu. "...Kai, kau tadi seolah mengatakan kalau pembunuh itu...terkesan masih hidup. Seorang manusia hidup."

Semuanya saling bertatapan heran.

"Tentu saja, Yixing-hyung. Dia pasti manusia hidup. Mana bisa dia membunuh kalau dia tidak hidup? Apa maksudmu kau mau bilang kalau dia semacam hantu?" tanya Kai. Yixing menggeleng. "...Tidak, tapi... aku merasa... dia tidak manusiawi... maksudku, aku tidak merasa kalau dia masih manusia."

"Ini bukan film The Conjuring, Yixing-hyung...jangan membuatku semakin takut," kata Chanyeol pelan. Sementara itu Kris berdiri dari duduknya dan menghampiri Yixing. "...Yixing, aku tahu kau mengetahui sesuatu sejak awal."

"...Kris..."

"Apa yang kau ketahui?" tanya Kris. "Sejak kau ada di bus, kau terus saja terdiam dan matamu kosong. Setelah itu, kau bertindak sangat aneh. Kau hilang sendirian saat kita menuju villa. Kau tak bicara banyak, kau diam. Apa yang kau sembunyikan?"

Baekhyun mengerutkan alisnya. "Kris-hyung, nada bicaramu seperti memojokkan Yixing. Lembutlah sedikit."

Kris berkata tanpa menoleh kearah Baekhyun. "Ya, ya. Aku memojokkannya. Kau tahu, Baekhyun? Kau harus ingat perkataan Sehun sebelum dia meninggal kemarin."

Semuanya menelan ludah.

Kris menatap Yixing dengan tatapan dingin. "...Dia mengatakan, kalau pelakunya sudah pasti berada diantara kita. Orang yang kita kenal. Tidak masalah buatku dia masih hidup atau sudah mati. Kalau dia masih hidup, akan kubunuh dia dan akan kubuat dia menderita. Kalau dia sudah mati...kupastikan dia akan pergi ke neraka."

Yixing menatap mata dingin Kris. "...Kau mencurigaiku?"

"Aku tidak ingin mencurigaimu, apalagi saat melihat kau sedih dan memeluk tubuh Joonmyeon tadi. Saat itu aku percaya kau tidak bersalah." Kata Kris. "Tapi saat aku mengingat dari awal hingga sekarang...begitu banyak kejanggalan yang ada padamu."

Baekhyun menggeleng. "Kris-hyung, kau tidak bisa langsung menuduh atau mencurigai Yixing tanpa bukti! Aku—"

Kris memotong perkataan Baekhyun. "Tenang saja, Baekhyun. Aku tidak mencurigai Yixing saja. Tapi..."

Sorot mata Kris berbelok kearah Kai.

"...Aku juga sangat mencurigainya. Kim Jongin."

Suasana hening sejenak.

Untuk memecah ketegangan, Kai tertawa kecil. "...Ahahaha, Kris...tolonglah... aku tidak sampai hati untuk membunuh kecoak...bagaimana bisa aku menyakiti dan membunuh kalian, teman-temanku sendiri?" ujarnya. "Aku punya alibi."

"Jangan samakan dengan kecoak." Kata Kris kesal. "Aku sedang tidak bercanda."

Tawa Kai berhenti, dan wajahnya berubah serius.

"Kau tidak bisa seenaknya seperti ini. Kau bukan yang paling baik disini, Kris. Siapa saja bisa jadi pelakunya disini. Bahkan kau. Dan aku tahu aku punya alibi yang cukup. Aku juga harus tahu kenapa kau mencurigaiku seperti itu."

Kris meliriknya sinis. "Aku memperhatikanmu dan memang, kau punya alibi yang cukup. Tapi kelakuanmu memperlihatkannya juga. Kau terlihat ringan dan santai saat teman-temanmu meninggal. Kau bahkan egois dan memperlihatkan emosimu, kau ingin pulang. Pulang tanpa menyelesaikan masalah ini, karena kau ketakutan akan dibunuh. Kau terlihat benar-benar pasrah dan ketakutan, kau terlihat tidak bersalah. Tapi apa itu hanya untuk pencitraan agar kau lolos dari rasa curiga kami? Tentu tidak."

Kai membalas meliriknya. "Jadi kau memperlakukanku seperti ini karena aku bilang ingin pulang dan aku banyak bercanda? Kalau soal itu, kau seharusnya lebih mencurigai Chanyeol."

"Permisi? Aku dengar itu. Dan aku tidak merasa kalau aku sejahat itu." Kata Chanyeol.

"Kris-hyung, kumohon jangan seperti itu." Kata Kyungsoo. Tangannya menggenggam erat tangan Kai. "Aku percaya bukan Kai. Ia tidak mungkin melakukan ini semua. Ia tidak mungkin membu—"

"Kyungsoo, jangan selalu membela orang. Kau harus tahu alasanku. Saat Tao meninggal, ia bisa saja menyelinap dan menusuknya. Saat Sehun meninggal, ia yang berseteru ingin pulang dan ia yang terakhir menuruni tangga. Aku melihatnya sekilas. Saat Luhan meninggal, ia yang menemukan kemungkinan tempat Luhan disekap dan dia juga menemukan ini." Kata Kris sambil mengangkat kapak yang penuh darah. "Ini kapak yang ditemukan Jongin saat akan menyelamatkan Luhan...Baekhyun yang mengatakannya padaku. Aku tidak berada di tempat tapi kapak ini memang ada pada Jongin sebelumnya."

Jongin mengerutkan alisnya, menatap Kris kesal. "...Kau menuduhku gara-gara itu? Baiklah, kalau kau mencurigaiku telah membunuh mereka... bisa kau katakan siapa yang membunuh Minseok-hyung dan Jongdae?" tanyanya. "Kau seharusnya menyalahkan Chanyeol juga karena dia bisa saja membunuh Minseok-hyung dan Jongdae!"

BUGGGHH!

Chanyeol melayangkan pukulannya pada wajah Kai dengan keras. Baekhyun segera menarik Chanyeol dan Kyungsoo memegangi bahu Kai agar tidak terjatuh. "Chanyeol, kau gila! Apa yang kau lakukan?!"

"KENAPA KAU SELALU MENUDUHKU, KAU BRENGSEK!" bentak Chanyeol. "APA YANG KAU MAU?! KAU MEMBENCIKU?! KAU INGIN PULANG?! PERGI SAJA SENDIRI DAN KUHARAP KAU JADI DAGING CINCANG!"

"AKU MUAK KARENA SIKAPMU YANG SOK TENANG, PARK CHANYEOL! KENAPA ORANG-ORANG MENYALAHKANKU TAPI TIDAK DENGANMU, YANG PUNYA PELUANG PEMBUNUH LEBIH BESAR, HAH?!" balas Kai.

Semuanya terdiam. Chanyeol melemaskan kepalan tinjunya. "...Aku tidak membunuh siapapun, Jongin. Yang aku inginkan adalah kita semua tetap bersama, dan aku ingin kalian tidak panik, karena itulah aku bersikap tenang seperti biasanya. Kau pikir aku tidak punya hati dan tidak akan sedih melihat teman-temanku sendiri mati?"

Kai tetap menatap Chanyeol dengan tajam dan penuh kemarahan. Sementara itu, Kris melerai mereka, lalu menatap Kai dan Yixing bergantian. "...Maafkan aku. Kami harus melakukan ini agar semuanya terungkap."

.

.

.

.

.

"...Sialan..."

Kini, Kai diam di ruang tengah sendirian. Seluruh jendela dan pintu telah dikunci, membuat Kai benar-benar tersekap. Di dekat pintu, Chanyeol diam menjaganya. Sama dengan Yixing, yang ada di ruangan lain. Baekhyun menjaga Yixing diluar pintu. Seluruh jalan menuju tempat beradanya Yixing dan Kai sudah ditutup.

Chanyeol menghela nafasnya—mencoba menenangkan dirinya sendiri. Ini gila. Semuanya mimpi buruk.

Baekhyun juga terdiam di depan pintu, mencoba mencerna kembali kata-kata Kris yang tadi ia dengar.

'Kris, apa yang akan kau lakukan setelah kau menahan Yixing dan Kai agar tidak keluar?'

'Aku akan menunggu. Kalau salah satu dari mereka tetap hidup dan terornya belum berhenti saat kita mati... salah satu dari mereka memang pelakunya.'

'Tapi bagaimana kalau pelakunya bukan mereka? Pelakunya akan tetap membunuh kita!'

'Kalau pelakunya bukan mereka, itu berarti mereka juga akan mati.'

'...Kris, kau gila. Kau menunggu agar Yixing dan Kai mati lebih awal?! Kau menggunakan mereka jadi umpan agar mereka mati lebih dulu?!'

'Baekhyun, dengar aku. Aku tidak menjadikan mereka umpan. Aku tidak ingin mereka mati, jadi aku menutup semua akses seperti jendela dan pintu agar tidak ada yang bisa masuk dan pelakunya tidak akan bisa berbuat apa-apa pada mereka. Selain itu, aku juga meminta kau dan Chanyeol untuk menjaga Kai dan Yixing. Mengerti?'

'Aku benar-benar tidak mengerti apa yang kau rencanakan...'

'Kau tidak perlu mengerti, kau hanya perlu mengikutinya. Ini memang beresiko tapi aku sudah berpikir soal ini dengan lumayan matang. Intinya, aku membuat dua kemungkinan. Satu, kalau pelakunya diantara Kai dan Yixing, kita dapat menangkap pelakunya. Dua, kalau mereka bukan pelakunya, siapapun pelaku yang sebenarnya akan menunjukkan diri karena dia menyangka kita menuduh orang lain dan dia merasa aman, lalu kita dapat menangkapnya. Baekhyun. Aku ingin kita semua selamat. Ini demi kita semua.'

'...Baiklah...'

Baekhyun memeluk erat lututnya sendiri.

Ia ketakutan.

Tapi, ia tidak bisa lagi melakukan apa-apa. Lari? Bertahan? Atau tetap mencari tahu siapa pembunuhnya?

Ia hanya bisa percaya pada Kris untuk sekarang. Semua kejanggalan ini membuatnya bingung.

"Baekhyun, kau diluar?"

Suara Yixing dari dalam mengagetkan Baekhyun. Sepertinya ia kesepian. "...Yixing-hyung..."

"Baekhyun, kau tahu aku bukan pelakunya, kan?"

Baekhyun mengangguk. "...Ya, hyung."

Yixing tersenyum tipis di balik pintu. "...Terimakasih, Baekhyun."

"Ya, hyung, tenang saja. Aku akan menjagamu disini. Kita mengobrol saja kalau kau jenuh." Kata Baekhyun mencairkan suasana. "Mau cerita sesuatu?"

Yixing menyandarkan dirinya di balik pintu. "...Aku ingin dengar ceritamu. Kau sering bermimpi aneh, kan?"

Baekhyun segera menoleh. "...Kau tahu?"

"Ya, firasatku merasakannya..." kata Yixing. "Mungkin firasatku-lah yang membuatku dicurigai. Tapi, kau bisa tenang bersamaku, Baekhyun."

.

.

.

.

Kai termenung sendirian. Sesekali ia menelisik ke setiap ujung ruangan. Ruangan ini—bukan, villa ini...tunggu, ini mansion atau villa? Ah, dia bingung. Oke. Ini villa berbentuk mansion. Eh..tunggu...ah, Kai benar-benar semakin bingung. Kesampingkan dulu hal itu.

Dia masih bingung kenapa Kris memutuskan untuk menguncinya seperti ini. Kalau tahu begini, dia tidak akan bermulut besar. Dia tidak mau berseteru dengan Chanyeol seperti ini. Dia tidak mau Chanyeol yang menungguinya di depan. Dia ingin Kyungsoo menemaninya, tapi dia malah dapat orang yang tidak terlalu ia suka.

Tapi, ia juga tidak suka sendirian.

'Tidak mau sendirian? Aish kenapa aku jadi berpikir seperti si pembunuh sialan itu,' gumam Kai.

Ia melihat ke sekeliling ruangan—sebuah lampu kristal yang ada diatasnya menarik perhatiannya. Lampu kristal tua yang bergoyang perlahan, tertimpa oleh sinar matahari yang perlahan masuk dari celah jendela yang sudah terkunci—merefleksikan cahaya kristal tua itu.

'...indah,' pikir Kai.

.

.

.

.

"Kris-hyung,"

Suara Kyungsoo membuat Kris yang tengah memperhatikan tubuh Tao langsung berbalik. "Ya?"

"Aku dengar pembicaraanmu dengan Baekhyun tadi," kata Kyungsoo dan duduk di sebelah Kris. "Kau tahu...aku merasa kurang nyaman dengan itu. Kai dan Chanyeol juga berseteru terus, aku jadi khawatir."

"Tenang saja. Mereka tidak akan berani bertengkar lagi. Ini menyangkut nyawa dan keselamatan kita semua. Chanyeol sudah tidak apa-apa, dia juga tadi mau membereskan ruang tengah itu untuk Kai dan menjaganya di luar pintu. Aku sengaja menyuruh mereka bersama agar hubungan mereka bisa diperbaiki. Mereka harus didiamkan berdua dan bertukar pikiran."

Kyungsoo mengangguk dan memperhatikan tubuh Tao dengan tatapan kosong. "...Ini semua benar-benar di luar nalar ataupun perkiraan kita, ya. Kecelakaan itu...semua kru film yang menghilang...hari yang terlewat...semuanya aneh."

"Hari yang terlewat?" tanya Kris. Kyungsoo menaikkan alisnya. "Kau tidak merasakannya?"

"...Tidak..." gumam Kris. Kyungsoo semakin bingung dan akhirnya menutup mulutnya soal hari itu.

Tidak ada yang merasakan kalau mereka melewati tiga hari itu selain Kyungsoo dan Baekhyun.

Tapi, ia juga berpikir apa Yixing mengetahui ini atau tidak.

Kris menoleh kembali. "Sudah mencoba menghubungi kru, kantor, atau polisi lagi?"

"Semua handphone kita mati karena baterainya habis. Kita bisa saja mencharge-nya tapi...kita tidak bisa mencari charger-nya. Sinyal juga tidak membaik."

Kris tidak bicara apa-apa lagi setelah itu. Kyungsoo menatap Kris dalam-dalam. Matanya benar-benar tidak cerah dan ia tahu, Kris menanggung tanggung jawab yang lebih, jadi sudah pasti dia sangat sedih dan terpukul.

"Bagaimana kakimu yang terluka kemarin, sudah lebih baik?" tanya Kyungsoo. Kris mengangguk. "Ya, setelah pecahan kacanya dikeluarkan, aku tidak apa-apa."

.

.

.

.

Yixing tengah tertidur. Baekhyun sekarang hanya terdiam sendirian dengan tatapan kosong. Ia memang merasa lebih lega karena bisa menceritakan mimpi dan perasaan anehnya pada Yixing, tapi tetap saja ia merasa gelisah.

"...Baekhyun,"

Suara Chanyeol membuatnya mengangkat wajahnya yang dari tadi tertunduk. "...Chanyeol, kukira kau menjaga Kai disana?"

"Kai sepertinya masih marah padaku, ia tidak mau bicara padaku. Mungkin dia tertidur, jadi aku kemari saja." Kata Chanyeol seraya meraih bibir Baekhyun pelan dan menciumnya lembut. "...Bogoshippo, Byun Baekhyun."

"...Aku juga," gumam Baekhyun. Chanyeol segera memeluknya erat. Baekhyun membalas pelukannya dan merasakan bahu Chanyeol bergetar hebat.

Ia menangis.

"...Chan...Yeol..." panggil Baekhyun lembut. Chanyeol tetap memeluknya erat dan menenggelamkan wajahnya di leher Baekhyun. Tidak berkata apa-apa selain terisak.

Baekhyun akhirnya ikut menangis dalam diam.

Chanyeol juga merasakan apa yang mereka rasakan, ia takut dan khawatir, ia cemas, ia sedih. Tapi ia menahan semuanya dan berpura-pura kuat agar yang lain tidak khawatir.

Baekhyun mengerti hal itu.

"Jangan tinggalkan aku, Baekhyun..." kata Chanyeol pelan. "...Teruslah bersamaku..."

Tangan Baekhyun mengelus pelan pundak namja tinggi yang tengah memeluknya erat itu.

Entah kenapa, ia sangat merindukan sosok ini setelah semua kejadian yang menimpa mereka.

"Ya, Park Chanyeol..."

.

.

.

.

.

.

"Kyungsoo?"

Mata Kyungsoo kembali fokus dan mengedipkannya beberapa kali. "...A...ada apa?"

"Apa kau melamun?" tanya Kris. "Kau terlihat tidak sehat."

Kyungsoo memang tidak sehat.

Beberapa saat lalu, setelah ia kehabisan topik pembicaraan dengan Kris, ia mengingat beberapa hal.

Kematian beberapa dari mereka...terjadi hampir mirip dengan mimpi yang mereka alami...

Apa itu sebagai pertanda?

Dan juga kematian mereka hampir tidak meninggalkan jejak, kecuali jejak yang disengaja seperti pesan post-it itu.

'Benarkah orang yang membunuh mereka masih hidup? Atau...pembunuh itu...bukan manusia hidup?'

Apa pembunuh itu sudah mati sebelumnya?

"K-Kris..." ucap Kyungsoo sambil berdiri. "Ayo kita periksa Yixing dan Kai... kumohon..."

"Kenapa? Kau mengetahui sesuatu?" tanya Kris. Kyungsoo menggeleng. "Aku punya firasat buruk...entah kenapa, aku jadi terpikir soal apa yang dikatakan Kai dan Yixing."

"Soal?"

"Soal pembunuh itu. Apa dia masih hidup atau sudah mati? Aku bukannya percaya pada hantu, tapi... ada kemungkinan itu terjadi." Kata Kyungsoo. "Ayolah, Kris... aku sangat khawatir, bisa saja pembunuh itu punya cara dalam pembunuhan ruang tertutup..."

Sebelum Kris mengatakan sesuatu, Kyungsoo sudah berjalan keluar dari ruangan Tao dan menuruni tangga, menuju ke ruang tengah.

Perasannya makin tidak enak.

Kyungsoo mempercepat langkahnya, dan akhinya ia berlari. Kris mengikutinya dari belakang. Ia berlari sekuat tenaga dan ia hampir sampai di pintu koridor besar yang menghubungkan jalan dari tangga ke ruang tengah.

Chanyeol tidak ada di depan pintu itu.

Seharusnya ia ada disana.

"...Jongin... Jongin!" panggil Kyungsoo sambil berlari. Ia lalu meraih kenop pintu itu dan membukanya secepat mungkin. "JONG—"

.

.

.

BRRRAAAAAAAAAAKKKKKK!

.

.

.

CRASHHHHHHH!

.

.

.

"KYUNGSOO!"

Kris berlari menghampiri Kyungsoo .

.

.

.

.

.

.

Tubuhnya sudah penuh oleh cipratan darah.

.

.

.

.

.

.

.

TO BE CONTINUED


.

.

-SEPUTJUK KABAR DARI AUTHOR YANG AMPIR PUNAH-

Hai. Halo. Ini author ThehunGoGreen alias si Hatef yang jarang apdet.

Terlalu jarang.

Makasih udah mau baca ini apdetan FF Haunted, maaf lama dan malah apdet FF ini duluan... bukannya Complicated Complex. BTW itu FF CC udah ampir dua bulan kaga apdet, ya? Pasti kalian bete... maafin gue... beneran, gue lagi bingung banget buat nulis ff. Jadi, gue cobain dari FF haunted dulu karena yang bisa gue ketik baru ini. Mohon kalian ngertiin si hatef yang lagi setres ini...Maaffff... bukannya gue sombong ato males ato sok sibuk...

Gue selalu mencoba lebih baik tapi manusia boleh berencana, Tuhan yang menentukan... –sobs-

Gue gak bisa banyak ngomong disini... gue tahu gue tukang PHP yang jarang apdet...hukum gue guys, hukum gue dengan ini! –tunjuk sate kambing- ini adalah hal yang paling gue takutin tapi gue rela makan ini buat kalian! –emang ngaruh?-

Oke... back to story.

Mungkin FF ini akan berakhir sebentar lagi. Dan kemungkinan apakah semuanya mati? Apakah ada yang masih hidup? Siapa yang ngebunuh? Apa hantu? Apa member EXO? Apakah bener Yixing atau Kai? Kita tunggu epep ini ntar Oktober-November –smile-

Dan ya, ini ff kaga kerasa horror nya, dan gue ga kuat nulis kematian yang terlalu ekstrim karena gue takut dosa, dan takut disamber santet si Jongong/?. Dan yeaaah gue suka Insidious, The Conjuring, dll (meskipun akhirnya gue takut ke kamar mandi sendirian dan akhirnya kalo ke kamar mandi sendirian malem-malem, gue bawa HP dan nyetel growl di toilet) #curcol.

Maaf selalu bikin kalian nunggu dan lama apdet. Tapi gue harap kalian juga ngertiin gue karena my life is not just in , i have my own life and now my real life is sucks so I'm trying to solve it both in fanfiction and in my real life. I'm sorry, guys.

Thanks for reading this, I really appreciate it. I love you, guys!

Ha-Teu!

P.S : Yang nebak-nebak pelakunya bikin gue soak ah jawabannya wkkwkwkwkkw. Nice job kawan kawan!

P.S.S : Thanks buat yang says happy bday di ffnet atau di fb atau dimanapun... gue seneng banget! Maaf gabisa bilang makasih pada satu-satu dari kalian!

P.S.S.S : Thanks for all readers and my friends... and my love :]

P.S.S.S.S : Sedang berusaha ngebut buat ngetik gaibian+CC. Stay anticipate it guys! Love you!