CRAAAAASHHHH!

.

.

"KYUNGSOO!"

Kris berlari menghampiri Kyungsoo.

Tubuhnya sudah penuh oleh cipratan darah.

Kris tercengang.

Tubuh Kyungsoo bergetar hebat. Kris segera menarik tubuhnya menjauh dari pintu itu, tangan kanannya menutup mata Kyungsoo dan tangan kirinya menarik pinggang kecil Kyungsoo yang tengah kaku itu.

Air mata menuruni rahang Kyungsoo yang penuh cipratan darah itu.

"J-Jong...In..." Kyungsoo sulit bernafas. Kris menariknya pelan dan menenangkannya. "...Kyungsoo, tenangkan dirimu..." ucapnya. Padahal, Kris sendiri sama kagetnya dengan Kyungsoo.

"Y-Yi...fan..." nafas Kyungsoo tersengal. "J-jong..."

Kris memegang erat pundak Kyungsoo. Kyungsoo tengah menangis, sangat keras, meskipun tanpa suara, karena ia sulit bernafas saking menyesakkannya pemandangan yang ia lihat tadi. Sekujur tubuhnya bergetar hebat, air mata membuncah, bercampur dengan darah yang menghiasi kulit putih Kyungsoo.

Darah itu...darah Jongin.

Dia melihat semuanya, semuanya.

Kris menggendong Kyungsoo yang masih gemetar, membawanya ke ruangan lain, dimana ia bertemu Baekhyun.

"K-Kyungsoo?! Kris, apa yang terjadi?!" tanya Baekhyun kaget. Kris mendudukkan Kyungsoo di sofa, tidak berkata apa-apa.

"Kris, katakan sesuatu!" kata Baekhyun cemas. Kris menunduk.

"...tolong jaga Kyungsoo untuk sementara. Aku akan pergi memeriksa Jongin."

Dan ketika Kris melangkah pergi dari ruangan itu, Baekhyun merasakan sesuatu yang tidak beres.

Terjadi sesuatu pada Jongin.

.

.

.

.

Kris berdiri di depan pintu dimana Jongin 'dikunci' tadi. Disana, masih penuh cipratan darah dan juga tubuh Jongin.

Ya, tubuh Jongin yang sudah bergelimang darah.

Ketika Kyungsoo membuka pintu itu tadi, sebuah lampu kristal jatuh menghantam tubuh Jongin dengan keras. Memecahkan tengkorak belakangnya, dan pecahan-pecahan kristal dan juga baja tua yang menjadi aksen lampu bergaya klasik itu membuat tubuhnya tergores, teriris, mengeluarkan darah, cukup untuk membuat Kris bisa melihat lengan Jongin terpotong seperti apa yang ia tonton di film Hannibal.

Pecahan Kristal yang paling tajam itu pun menusuk jantung Jongin dengan tepat.

Pembunuh itu...melakukan semuanya dengan sangat baik.

Kris mengepalkan tangannya kuat-kuat. Yang ada di depannya ini adalah sahabatnya, adik yang harusnya ia jaga.

Dan sekarang?

Ia terlihat seperti...mayat. Bukan terlihat lagi, tapi itulah kenyataannya.

"...Kau melakukannya dengan sangat baik." Gumam Kris pelan pada seorang namja yang berdiri tak jauh di belakang pundak Kris.

"...Bagaimana kau bisa melakukannya dengan serapi ini," ucap Kris lagi, sambil berbalik ke belakangnya, menghadap namja itu. "...Park Chanyeol?"

Chanyeol menahan tangisnya.

"...K-kau...salah..." kata Chanyeol. Bibirnya bergetar. "...kris...apa yang terjadi pada jongin?"

"jangan pura-pura tidak tahu, Park Chanyeol."

Nada dingin Kris membuat Chanyeol bergidik. Kris mengambil pecahan kristal tajam yang tertancap di jantung Jongin, lalu berjalan menghampiri Chanyeol yang mulai mundur.

"...Demi Tuhan, Kris. Kau tidak mengerti," kata Chanyeol lagi. "Kumohon jangan lakukan ini!"

Kris menajamkan matanya.

"Akan kubunuh kau juga, Park Chanyeol. Demi teman-temanku yang sudah kau bunuh."

.

.

.

CKLEK!

Baekhyun segera membuka pintu ruangan Yixing setelah ia berkutat dengan kuncinya. Ia benar-benar panik, dan khawatir.

"Apa yang terjadi?!" tanya Yixing khawatir. Dia melihat Kyungsoo yang menatap kosong ke lantai, dengan tubuh yang penuh darah.

"K-Kyungsoo? Kenapa dia...berdarah?" tanya Yixing. Baekhyun menggigit bibir bawahnya. "Itu...Itu Jongin..."

Yixing menelan ludahnya.

"Baekhyun, ayo cepat cari Chanyeol!" kata Yixing sambil menariknya. Baekhyun menaikkan alis. "K-kenapa Chanyeol?!"

Yixing mengerutkan alisnya. "Karena...karena aku punya firasat kalau Kris tidak akan diam saja pada Chanyeol...dia pasti akan melakukan sesuatu pada—"

BRAKKKKK!

Terdengar suara keras dari ruang lain. Baekhyun benar-benar takut saat itu. "...Ch-Chanyeol?!"

"Ayo pergi!"

Yixing mengajak Kyungsoo untuk beranjak dari tempat itu, lalu mengikuti kemana suara keras itu berasal, dan mereka berhenti di satu tempat—koridor, di dekat ruangan dimana Jongin seharusnya berada. Dan disana...

...Kris tengah mencekik Chanyeol.

"YA TUHAN—CHANYEOL!" Teriak Baekhyun histeris. "KRIS APA YANG KAU LAKUKAN?! LEPASKAN TANGANMU DARI CHANYEOL! KAU BISA MEMBUNUHNYA!"

"MEMANG ITU YANG AKU INGINKAN!"

Baekhyun langsung kaku dan langkahnya terhenti.

"K-Kris...kau...kenapa?!" tanyanya lagi dengan nada takut. Yixing tetap bersama Kyungsoo di belakangnya, berusaha menjaga jarak dari mereka.

Kris menatap kembali Chanyeol yang sudah tidak berdaya—tatapannya penuh dendam.

"Dia...dia pembunuhnya, Baekhyun. DIA! PARK CHANYEOL YANG MELAKUKAN SEMUA INI!"

Baekhyun terdiam, kaku.

"DIA YANG MEMBUNUH SEMUANYA! DIA YANG MELAKUKAN SANDIWARA BUSUK INI!" teriak Kris lagi sambil menghantamkan kepala Chanyeol ke dinding. Baekhyun meringis. Airmatanya sudah mulai bercucuran.

"...Hentikan..." ucap Baekhyun pelan. Bibir tipisnya bergetar menahan takut. Kris tetap memukuli Chanyeol dengan keras, dan Chanyeol berusaha untuk mengatakan 'Baekhyun...aku tidak melakukannya...kumohon...'

Ini benar-benar mengiris hati Baekhyun.

"Kumohon, Kris...hentikan...hentikan, kumohon!" teriak Baekhyun sambil menghampiri Kris dan mencoba melepaskannya dari Chanyeol. "Kumohon! Bukan Chanyeol pelakunya... aku tidak percaya ini...kumohon!"

"Minggir, Byun Baekhyun!" bentak Kris. Kris benar-benar menakutkan. Ia sudah terselubungi amarah, dendam membutakannya.

Chanyeol melirik Baekhyun sekuat tenaga—melihat airmata Baekhyun, Chanyeol benar-benar sakit.

"Baek...hyun..."

"Chanyeol, Chanyeol ayolah...aku tidak percaya kau yang melakukannya..." ucap Baekhyun dengan nada bergetar. "Kau tidak mungkin pembunuhnya, aku tidak percaya..."

"Akupun tidak percaya," kata Kris. "Tapi kecurigaanku beralasan. Aku sudah mengetes-nya dengan bagaimana sikapnya ketika aku mencurigai orang lain, tapi kecurigaanku tetaplah padanya. Park Chanyeol...aku tidak bisa menahan diriku sendiri lagi."

Yixing menghampiri Kris dan memegang pundaknya. "Kris, aku tahu perasaanmu, sangat tahu dan mengerti. Tapi...apa yang akan kau lakukan pada Chanyeol kalau ia benar pelakunya?"

Kris mendelik kearah Yixing. Yixing mencoba untuk berani. "...Apa kau akan membunuhnya juga? Kalau begitu, kau tidak ada bedanya dengan Chanyeol. Kalian sama-sama pembunuh."

"Tapi, dia sudah membunuh teman-teman kita!" kata Kris lagi. "Kau tahu betapa keji-nya dia?!"

"Kekejian seseorang tak bisa kita pandang satu pihak, Yifan." Kata Yixing lagi. "Kau juga akan dicap keji kalau kau membunuh Chanyeol, tapi bagaimana kalau pelakunya bukanlah dia? Kau memfitnah orang dan juga membunuh manusia. Berapa banyak dosamu nanti?"

Cekikan Kris mulai longgar. Chanyeol menarik nafas sebisa ia dapat. Baekhyun mendekati Chanyeol dan memastikan kalau ia tidak apa-apa.

Tapi, Kris masih belum bisa melepaskannya begitu saja.

"Jangan bahas dosa disini, Yixing. Aku tidak peduli lagi." Ucap Kris dingin. Ia kembali menarik badan Chanyeol dan menusuknya dengan tatapan benci. "Kalau Chanyeol mati di tanganku kali ini dan setelahnya tidak ada pembunuhan lagi, itu berarti langkahku memang benar. Chanyeol adalah pelakunya, karena itulah ia tidak bisa membunuh lagi."

Sekujur tubuh Chanyeol gemetar mendengarnya.

Kris lalu mencengkram kepala Chanyeol lebih kuat.

"Tapi kalau setelah ini masih ada pembunuhan—bahkan sampai aku, kau, Baekhyun, dan Kyungsoo mati—bisa saja salah satu dari kita adalah pembunuhnya, atau orang lain adalah pembunuhnya."

"Dan mungkin saja itu kau." Kata Baekhyun sinis. "Kau si pembunuh itu—kau hanya mencoba berlaku sok pahlawan dan membunuh Chanyeol di depan kami, berlagak agar terlihat benar. Padahal, mungkin saja kau pelakunya dan kau hanya menyimpangkan rasa curiga kami padamu."

Kris menghela nafasnya.

"Aku tidak peduli apa yang kau katakan, Baekhyun..." ucapnya dingin. Ia kembali fokus pada Chanyeol yang sudah tidak bisa bergerak itu.

Kris mengangkat tangannya yang tengah menggenggam pecahan kristal.

"Y-Yifan apa yang akan kau lakukan?!" seru Yixing, berusaha menghentikan Kris. "Yifan!"

"Ini demi semuanya," ucap Kris pelan. Chanyeol tercengang. "...K-Kr...is..."

"Kau harus merasakan apa yang mereka rasakan, Park Chanyeol!"

.

.

.

.

CRASHHHH!

CRASHHHH!

.

.

.

Kristal itu kini tertancap di leher dan jantung Chanyeol.

Darahnya mengalir tak henti, membasahi sekujur tubuhnya. Kris dengan lega melepaskan cengkramannya dan jatuh terduduk.

Yixing terdiam kaku.

Kyungsoo terperangah.

Baekhyun... ia benar-benar kalap.

Apa...

...Semuanya sudah berakhir?

"Ch...Chanyeol..." panggil Baekhyun pelan.

Chanyeol tidak bisa menjawabnya. Pita suaranya sudah putus—lehernya hampir terkoyak.

Chanyeol sekarat.

"Chanyeo...tidak...TIDAK!" teriak Baekhyun. Ia menghampiri tubuh Chanyeol yang penuh darah itu. Ia mencoba membangunkannya berkali-kali. "Chanyeol...tidak...jangan mati! PARK CHANYEOL!"

Baekhyun menangis sangat keras. Ia terus mencoba membangunkan Chanyeol. Yixing meraih pergelangan tangan Chanyeol dan menekannya.

Tidak ada denyut nadi.

Chanyeol sudah mati.

Kris benar-benar membunuh Chanyeol.

"...Baekhyun...dia sudah pergi..." kata Yixing pelan. Baekhyun menggeleng. "Tidak...tidak...itu bohong... kumohon bantu Chanyeol, ia berdarah terlalu banyak—"

"Dia sudah pergi, Baekhyun... kita tidak bisa melakukan apa-apa!" Yixing menahan tangisnya. "Dia meninggal!"

Baekhyun terdiam. Matanya melirik Kris yang tengah terdiam tak jauh darinya.

"Kau pembunuh," ucapnya pelan. Baekhyun lalu berdiri dari duduknya dan mendekati Kris—berusaha untuk mencekiknya. "WU YI FAN, KAU PEMBUNUH!"

Kyungsoo mencegah Baekhyun yang hampir mencekik Kris. Baekhyun mengatur nafasnya. Airmatanya bercucuran, tangannya bergetar hebat dan penuh oleh darah Chanyeol. "Kyungsoo, lepaskan! Dia—dia..."

"...Ayo menjauh dari sini,"

Kyungsoo mencengkram tangan Baekhyun dan menariknya menjauh dari juga mengikuti mereka—meninggalkan Kris yang masih terdiam dengan pandangan kosong, dengan tubuh Chanyeol yang penuh darah, tergeletak di depannya.

Kris ketakutan sekarang.

Sangat ketakutan.

"...A...apa...yang kulakukan?" gumamnya pelan. Sekujur tubuhnya bergetar hebat.

Tangannya...darah Chanyeol membasahi tangannya.

Ia sudah membunuh temannya sendiri, dengan tangannya sendiri...

Kris benar benar tidak bisa berpikir logis sekarang. Otaknya sangat kacau. Bahkan dari awal kejadian ini semua, dia memang tidak bisa berpikir secara rasional lagi.

Ia memejamkan matanya perlahan—berteriak dalam hati,

'Apa aku...melakukan sesuatu yang salah?'

"Tidak."

DEGG

Kris membuka matanya ketika ia mendengar sebuah suara menjawab pertanyaan yang terlintas di kepalanya—hanya di kepalanya.

"S-Siapa?!" tanya Kris.

Tidak ada orang lain disana.

"Ini sesuai skenario-ku," suara itu muncul lagi. "Seperti yang kuinginkan.."

Kris hanya bisa terdiam saat ia melihat sesuatu yang bergerak tak jauh darinya.

"K-K..Kau...tidak mungkin!"

.

.

.

.

.

.

"KYUNGSOO! LEPASKAN AKU!"

Kyungsoo lalu melepaskan tangan Baekhyun saat mereka bertiga berhenti di ruangan Yixing. Kyungsoo masih diam, matanya sangat kosong. Badannya masih penuh darah—darah Jongin—dan matanya masih sangat merah.

Perasaan Kyungsoo benar-benar campur aduk. Dia sudah lelah dan tidak tahu harus berbuat apa lagi. Hal yang sangat ia takutkan adalah dimana Jongin akan meninggalkannya—dan tadi, ia bisa melihat dengan jelas bagaimana Jongin mati di hadapannya.

Lampu kristal itu jatuh, tepat diatas kepala Jongin. Kejadiannya sangat cepat, bahkan ia tidak sadar kapan Kris menggendongnya dan ia terdiam bersama Baekhyun.

Dan Baekhyun pun sama.

Chanyeol mati di depannya. Padahal ia berjanji akan selalu bersama Chanyeol.

Dan yang lebih parah, yang membunuhnya adalah Kris.

Kris. Orang yang ia percaya dan orang yang seharusnya melindungi mereka.

"...Kris sedang tidak bisa berpikir dengan sehat..." gumam Yixing. Ia bisa merasakan tangannya digenggam erat oleh Baekhyun. Dan Ia juga bisa melihat air mata berjatuhan saat ia melirik kearah dongsaengnya itu. "...Baekhyun..."

"Kenapa ini semua harus terjadi?" gumam Baekhyun. "Aku...aku tidak pernah membayangkan akan kehilangan Chanyeol seperti ini...aku..a..."

"Kita semua tidak pernah membayangkan ini," kata Yixing sambil berusaha menjaga nada suaranya. "T-tapi...aku yakin... Kris... dia tidak sama sekali berniat buruk, dia hanya—"

Baekhyun mengerutkan alisnya. "Tidak berniat buruk? Dia membunuh Chanyeol! Itu bukan niat buruk lagi, Yixing! Dia pembunuh! Dia bisa saja pura-pura baik pada kita semua, tapi ternyata dia pembunuhnya! Dia punya alibi, apa tidak!? Kau lupa, bisa saja salah satu dari semua pembunuhnya...dan aku yakin, Kris pasti pembunuhnya! A—"

"Tidak, bukan Kris." Kata Yixing lagi. Baekhyun menatap Yixing dengan tatapan kesal. "...Kenapa kau membela Kris? Kau ada di pihak siapa, Yixing?! Dan kenapa taadi kau dan Kyungsoo menarikku kesini?! Kau tahu disana apa yang terjadi pada Chanyeol dan Jongin! Kita seharusnya disa-"

"Kalau disana, kita akan mati."

Suara Kyungsoo yang dingin membuat Baekhyun kaku. "...Maksudmu... pelakunya ada disana? Kyungsoo...apa kau juga berpikir kalau Kris adalah pembunuhnya?"

"Tidak, Aku tahu dia bukan pembunuhnya... tapi—ada sesuatu yang aneh saat Kris...melakukan itu pada Chanyeol...dan kupikir...kita harus secepatnya pergi dari sini. Dari tempat ini. Jongin benar, kita seharusnya tidak membuang waktu dengan diam disini." Lanjutnya. Nama 'jongin' masih membuat jantungnya berdetak kencang saat ia mengingat apa yang ia lihat tadi pada jongin.

Yixing hanya menunduk. Ia masih terngiang-ngiang kematian Joonmyeon dan juga luka tusukan di leher Chanyeol.

Luka di leher Chanyeol.

.

.

.

"...Yixing? Kau kenapa?"

Yixing melirik kearah Baekhyun. "A-apa? Kenapa?"

"Kau...melamun...?" jawab Baekhyun pelan. Ia masih keliatan kaku. "Jadi...apa yang akan kita lakukan sekarang? Apa kita harus diam, atau—"

"Bisa kita kembali...ke tempat Chanyeol dan Kris tadi?"

Baekhyun tercengang.

"Yixing, tadi kalian menyeretku kesini karena tidak mau kita semua mati. Sekarang kau ingin kita kembali lagi kesana?! Apa kau berubah pikiran dan mau mati disini?!"

"Aku harus memeriksa sesuatu..." kata Yixing dengan nada linglung. "Luka...itu... aku harus memeriksanya, kumohon..."

Baekhyun menggigit bibir bawahnya sendiri. Ia benar-benar ketakutan pada pembunuh itu. Dia tidak mau mati. Dia ingin selamat. Dia ingin membantu teman-temannya. Dia tidak mau berakhir disini.

Tapi... dia juga ingin melihat Chanyeol lagi.

Mungkin keadaan sudah mulai terkendali sekarang. Bagaimanapun...Chanyeol tidak bisa dibiarkan disana. Jongin juga masih berada disana.

"Baiklah...kita kembali," kata Baekhyun. Ia melirik kearah Kyungsoo. "Bagaimana denganmu? Apa... soal Kai, tidak apa-apa?"

Kyungsoo terlihat berpikir sejenak, tapi akhirnya ia mengangguk pelan.

"...K-Kurasa...ya,"

.

.

.

.

.

.

.

Mereka bertiga tercengang saat sampai ke tempat tadi, koridor dimana seharusnya tubuh Chanyeol tergeletak. Tapi disana hanya tertinggal genangan darah dan juga pecahan-pecahan kristal yang tadi Kris tusukkan ke tubuh Chanyeol.

"D-dimana Chanyeol?!" tanya Baekhyun cemas. Yixing menaikkan alisnya. "Apa Kris...memindahkannya?"

Kyungsoo menggeleng. "Tidak ada bekas darah yang menetes kemanapun... kalau Kris memindahkannya, pasti akan meninggalkan jejak kan?"

"Aku akan memeriksa Jongin," kata Yixing—mengerti kalau Kyungsoo tidak seberani itu untuk melihat keadaan Jongin saat itu. Kyungsoo diam disana bersama Baekhyun, di koridor yang penuh cipratan darah. Bau darah seakan sudah akrab untuk mereka selama beberapa hari mereka tertahan disini—bau darah itu ada di seluruh ruangan di mansion ini.

Begitu juga dengan aura mencekam yang semakin lama semakin membuat bulu kuduk berdiri, karena bisa saja mereka mati kapanpun disini. Tidak ada seorang pun yang tahu.

"...Aku tidak mau mati disini,"

Kyungsoo menoleh kearah Baekhyun yang terus menunduk ke bawah lantai parkit yang penuh genangan darah itu.

"...Baekhyun," panggil Kyungsoo pelan. Baekhyun menghela nafas, menahan tangisnya. "Kyungsoo...Ini sudah diluar batas nalar. Kita seperti terperangkap dalam permainan pembunuh itu. Sebenarnya apa yang dia mau? Kenapa kita? Kenapa harus begini?! Yang kuingat...kita hanya datang kesini untuk syuting, kan?! Fans menunggu kita, kita bekerja keras untuk hari-hari ini, tapi... saat perjalanan, kecelakaan itu mengubah semuanya. Hanya kecelakaan bus. Memang parah, tapi setelah itu...kejadian aneh terus muncul. Kita seperti masuk ke dunia lain... semua komunikasi terputus, seperti mengekang kita agar tidak bisa lari. Lalu, tanggal berubah. Tiga hari terlewat tanpa kita sadari dari hari yang sebenarnya. Lalu, kita masuk ke mansion ini dan ini semua seperti sudah direncanakan—kita terkurung disini tanpa bisa melakukan apa-apa, sampai satu per satu dari kita mati di dalam sini! Apa ini akan berakhir sampai kita semua mati?!"

Kyungsoo mengepalkan tangannya keras, menahan rasa berat di dadanya. Semua yang dikatakan Baekhyun benar.

Terkekang.

Sesuai seperti skenario.

Dan mati secara perlahan.

"...Bahkan salah satu dari kita sekarang bisa membunuh temannya sendiri..." kata Baekhyun lagi, mengingat dimana Kris membunuh Chanyeol tanpa pikir panjang—bagaimana bisa dia melakukannya? "...Semua kejadian ini membuat mental kita kacau... mata kita seakan tidak asing melihat kematian dan kita diikuti rasa takut dan curiga... curiga pada Sahabat kita sendiri, Kyungsoo... ini lebih menakutkan..."

"Kalaupun kita tidak mati, tapi faktanya, dalam beberapa hari ini... kita mulai bersikap seperti orang mati," kata Kyungsoo pelan dengan suaranya yang serak. "Karena terlalu banyak yang mati, kita tidak punya waktu untuk kaget, sedih, shock, berduka, ataupun marah. Kita hanya punya waktu untuk mencoba lari setelah itu terjadi, tapi itu tidak berguna dan pada akhirnya...kita akan dikejar-kejar kematian."

Baekhyun menatap langit-langit dengan mata kosong.

Kapan ia bisa melihat matahari bersinar cerah seperti sebelum mereka datang ke tempat ini?

"...Manusia seperti kita benar-benar egois...itu yang menyebabkan kita seperti ini," gumam Baekhyun lagi. Kyungsoo mengangguk. "Egois untuk ingin selalu bersama orang yang kita kehendaki untuk selalu bersama dengan kita, tapi tidak mau menerima saat kita kehilangannya, ataupun kita sama egoisnya untuk selalu ingin menjadi yang beruntung—beruntung dari orang lain, berusaha untuk selamat...tanpa peduli pada hal lain,"

"Sebenarnya apa yang kita bicarakan, sih? Bahasanya sangat berat dan rumit," kata Baekhyun sambil melangkahkan kakinya kearah ruangan dekat koridor. Ia sudah mulai tidak takut dan lebih tenang. "Kyungsoo, apa kau mendengar suara Yixing? Kenapa ia belum kembali?"

"Aku tidak mendengarnya...ayo kita periksa Jongin, mungkin Yixing masih disana."

Baekhyun mengerutkan alisnya. "Apa... kau yakin, bisa melihat Jongin? Tadi kau sangat ketakutan, kupikir—"

"Tidak apa-apa...aku sudah...mulai tenang." Kata Kyungsoo sambil menelan ludah. Baekhyun mengangguk dan berjalan bersama Kyungsoo kearah ruangan itu, sembari mencari keberadaan Yixing atau Kris.

Di depan pintu, cipratan darah Jongin masih terlihat jelas. Kyungsoo menghela nafas perlahan, mencoba menguatkan dirinya sendiri. Baekhyun membuka pintu, dan disana mereka tidak menemukan siapapun.

Tidak ada Yixing, Kris, ataupun Jongin.

Hanya tersisa lampu kristal yang jatuh dan sudah hancur, darah Jongin, dan sesuatu gumpalan yang tidak berbentuk lagi—mungkin itu mata? Atau jari?

Melihat keadaan ruangan itu, Baekhyun merasa mual. Ia sudah terlalu banyak melihat darah."K-Kyungsoo...ayo kita keluar,"

Kyungsoo mengangguk dengan kaku. Ia tidak berani melihat ini semua, meskipun tubuh Kai sudah tidak berada di tempat ini...ia masih terbayang-bayang olehnya.

Mereka keluar dari ruangan itu dengan tanda tanya besar. Kemana Yixing? Dan kenapa tubuh Jongin dan Chanyeol sama-sama menghilang?

"...Tidak ada bekas atau jejak kemana mereka menghilang...Yixing juga tidak ada dimanapun...bagaimana ini?!" tanya Baekhyun agak panik. Kyungsoo berjalan kearah tangga. "Ayo kita cari ke lantai atas."

"Tapi aku tidak melihat Yixing ke lantai atas tadi, Kyung—"

"Mungkin Kris ada disana," kata Kyungsoo, memotong perkataan Baekhyun. "...Ayolah,"

Baekhyun akhirnya mengikuti Kyungsoo menaiki tangga. Kyungsoo berjalan di depannya, masih dengan waspada, mencari keberadaan Kris ataupun Yixing.

Tangan Kyungsoo memegang pegangan tangga dengan erat. Kepalanya terasa sangat berat, jalannya mulai terhuyung dan tangga itu seakan bergoyang. Ia segera berbalik kearah Baekhyun. "B-Baek...hyu—"

Perkataannya terpotong dan mata Kyungsoo terbelalak saat ia berbalik kearah Baekhyun yang berjalan di belakangnya.

Disana...ada sebuah tangan.

Tangan yang penuh darah, berusaha meraih Baekhyun dari belakang.

"B-BAEKHYUN!" teriak Kyungsoo sambil menarik Baekhyun menjauh. Baekhyun terlihat kaget dan bingung. "A-ada apa?!"

"CEPAT LARI DARI SINI!"

Baekhyun berlari mengikuti Kyungsoo yang berlari secepatnya menaiki tangga. Keringat dingin bercucuran. Kyungsoo masih merasa kepalanya sangat berat. Akhirnya mereka berhasil menaiki tangga dan berlari menjauh. Kyungsoo tetap berlari kearah koridor lantai dua dan dari atas tangga, ia bisa melihat kalau di bawah tangga ada sesosok orang yang ia kenal.

"...Sehun?"

"Sehun? Dimana?!" tanya Baekhyun saat mendengar Kyungsoo mengucapkan nama maknae mereka itu. "Apa kita akan menuju ruangan Sehun? Dan kenapa tadi kau menarikku, Kyungsoo?!"

"...A-aku...aku menarikmu karena tadi ada tangan yang hampir menarikmu dari belakang, Baekhyun...tangan itu...sangat menyeramkan, itu melayang tepat di belakangmu! Dan tadi...tadi...aku melihat Sehun...dia ada di bawah tangga!"

Baekhyun memucat. Ia memegang tangan Kyungsoo yang gemetar hebat. "K-Kyung...itu tidak mungkin... Sehun...dia..."

"Aku tidak tahu, Baekhyun... aku tidak tahu! Ayo kita lari, dan temukan Yixing...kumohon..."

Mereka lalu memanggil-manggil Yixing di lantai dua—tapi tetap tidak ada jawaban. Semua ruangan sudah dilihatnya, tapi tidak ada jawaban.

"Apa kita naik ke lantai tiga?" tanya Baekhyun. Kyungsoo menggeleng. "Ku-kurasa..,tidak, Yixing tidak ada di lantai dua, dia tidak mungkin ada di lantai tiga. Ayo turun ke lantai satu," ajak Kyungsoo. Baekhyun menelan ludah. Apa mereka harus melewati tangga itu lagi?

"Kuharap tidak ada apapun di tangga itu kali ini..." gumam Baehyun pelan. Mereka lalu berjalan kearah ruang tengah lantai dua yang menghubungkan koridor dengan tangga ke lantai satu.

Saat mereka melewati ruangan luas itu, Baekhyun melihat ada seseorang yang duduk di sofa dari belakang. "Kyungsoo, itu Yixing? Dia duduk di sofa!"

"T-tunggu, Baekhyun!" panggil Kyungsoo—tapi Baekhyun tidak mendengarnya dan sudah menghampiri orang yang duduk di sofa itu.

Tapi, itu bukan Yixing.

Itu Tao.

Disana bukan hanya ada Tao, tapi Luhan. Tubuh Luhan tergeletak di bawah sofa, tepatnya diatas karpet. Baekhyun langsung berhenti melangkah dan berdiri terpaku.

"T-Tao? Luhan?!"

Tao lalu menoleh kearah Baekhyun—wajahnya sangat pucat. Darah di sudut bibir tipis kebiruannya, dan matanya...

...Ia tidak punya bola mata.

"Y-Ya Tuhan!" teriak Baekhyun histeris. Ia segera berlari saat sosok Tao itu mulai bangkit dari duduknya.

"BAEKHYUN! CEPAT KEMARI!" teriak Kyungsoo dari tangga. Baekhyun segera menuruni tangga dengan cepat—bahkan ia terkesan melompati tangga karena sangat ketakutan. Tidak mungkin. Itu tidak mungkin Tao.

"Tt-Tao...dia...dia...itu bukan Tao?!" tanya Baekhyun dengan wajah yang sangat pucat. Keringat dingin sudah mengucur. Kyungsoo menggeleng. "T-tidak...aku tidak tahu... l-lebih baik kita keluar dari bangunan ini, mungkin Yixing ada di luar dan mencari Kris—mungkin... ayo cepat, Baekhyun!"

Mereka berlari dengan cepat kearah pintu keluar mansion. Dengan tergesa-gesa, mereka mencoba membukanya.

Tapi, gagal.

"K-Kenapa pintu ini tiba-tiba terkunci?! Sial! Apa ini macet?!" protes Baekhyun sambil berusaha mendobrak pintu itu. Kyungsoo menunjuk kearah koridor yang mengarah ke ujung ruang makan. "Disana ada pintu yang menghubungkan taman belakang, kita lewat sana saja. Pintu ini keras untuk didobrak meski usianya sudah tua!"

Baekhyun mengikuti Kyungsoo kearah pintu taman belakang. Disana tidak terkunci dan mereka bisa keluar bangunan. Rintik hujan sudah turun dan langit sudah gelap—padahal itu masih siang hari. Mereka terus mencari Yixing dan melewati kolam dimana mereka menemukan Joonmyeon.

Dan disana, sebuah tangan merangkak keluar dari kolam berisi air darah itu.

"Oh tidak—tidak lagi, jangan katakan kali ini tangan Joonmyeon yang mengikuti kita—kumohon!" isak Baekhyun. Kyungsoo menutup matanya dan tetap berlari dengan kaki gemetarnya. "B-Baekhyun... abaikan saja! Ayo kita menuju taman depan!"

"T-tapi, Yixi—"

GREPP!

BRUGGGGH!

Tangan itu mencengkram kaki Kyungsoo, menyebabkannya jatuh terhempas ke tanah. Baekhyun segera menghampirinya dan menarik Kyungsoo. "KYUNGSOO, PEGANG TANGANKU!"

"T-TIDAK BISA! TANGAN INI MENARIKKU KEDALAM TANAH!" teriak Kyungsoo. "B-BAEK...BAEKHYUN! TOLONG AKU!"

Baekhyun menarik Kyungsoo sekuat tenaga. Akhirnya tangan itu lepas dari kaki Kyungsoo, tapi Kyungsoo kembali ambruk.

"Ayo lari dari sini, Kyungsoo! Kau bisa lari?!" tanya Baekhyun. Kyungsoo berusaha berdiri. "K-kakiku...terkilir,"

Pundak Kyungsoo ia angkat, lalu ia bantu untuk berdiri. "Bertumpu padaku. Cepat!"

Akhirnya mereka bisa berlari sampai ke taman depan, dan mereka berhenti di gerbang mansion. Hujan turun semakin besar. Baekhyun mendudukkan Kyungsoo di bawah pohon besar. "Bagaimana kakimu?"

"...Masih sakit," jawab Kyungsoo. "Sial...cengkramannya sangat kuat. Apa yang tadi mencengkramku?! Apa ini sebuah tipuan!? Ini seperti..seperti...film horor yang kutonton dulu,"

Baekhyun membantunya kembali berdiri. "Tapi ini bukan film...dan ini lebih menakutkan. Bagaimana ini, apa kita teruskan mencari Yixing? Kita tidak bisa menemukan Kris ataupun Yixing di dalam mansion...dan disana...disana...oke, aku tidak bisa menjelaskannya, Kyungsoo. Aku benar-benar ketakutan, aku ingin menangis pada ibuku, kumohon! Ini benar-benar diluar kendali! Aku yakin kala ini bukan sekedar pembunuhan!" ringis Baekhyun dengan wajah yang sangat pucat pasi. "M-menurutku...ayo kita cari bantuan...pada siapa saja, kumohon. Tapi tidak, jangan kembali ke mansion. Kita cari bantuan pada penduduk sekitar, lalu kembali mencari Yixing dan Kris—lalu bisa kembali ke Seoul dengan 'membawa' yang lainnya juga untuk pulang. Aku percaya penduduk disini ada yang punya transportasi, kumohon?!"

Kyungsoo mengangguk pelan. "Memang itu yang sedang kupikirkan, tapi... bagaimana kita bisa menembus hutan yang membatasi daerah mansion dan rumah penduduk?! Kau tahu apa yang terjadi pada Jongdae dan Minseok, apalagi—"

"Sekarang tidak ada kabut. Mungkin kita bisa melewatinya." Kata Baekhyun sambil membuka pintu gerbang. Kyungsoo mencoba melangkahkan kakinya dan masih terasa sakit sedikit, tapi ia mengikuti Baekhyun dan memaksakan diri untuk berjalan.

Hutan lebat itu benar-benar menakutkan. Memang tidak ada kabut dan hujan tidak sebesar saat Kris melewatinya bersama yang lain, tapi tetap saja hutan itu gelap dan harus berhati-hati agar dapat dilewati. Baekhyun memapah Kyungsoo sambil berjalan melewati jalan setapak. Udara dingin sangat menusuk dan air hujan sudah membuat mereka basah kuyup.

"T-tunggu sebentar... mungkin akan lebih baik kalau aku melepas sepatuku... rasanya sakit," kata Kyungsoo. Ia lalu membetulkan sepatunya dan berjongkok di tanah. Baekhyun masih memeriksa sinyal di HP-nya dan memakai sinar dari HP yang baterainya sudah merana itu.

"...Dingin sekali," gumam Baekhyun. Ia mengusap wajahnya yang sudah basah oleh air hujan—tapi ia tercengang ketika ia sadar kalau bukan hanya air hujan yang membasahi wajahnya—tapi juga cairan warna gelap yang menetes dari atas.

Spontan, Baekhyun menoleh keatas untuk mencari asal cairan gelap itu. Ia mencoba menyorotnya dengan lampu HP-nya yang mulai remang itu.

Dan Baekhyun hanya terdiam, kaku seperti patung.

"K-Kyung...Soo..."

"...ya?"

"Lihat ke atas,"

Kyungsoo heran, tapi ia tetap menengadahkan kepalanya keatas—dan ia melihat sesuatu agak jauh diatas sana, tersorot sedikit sinar dari handphone baekhyun di tengah hujan dan kegelapan.

Diatas sana—di atas pohon tinggi, tergantung dua tubuh namja. Kyungsoo bergidik—ia ingat pakaian mereka, dan cairan gelap itu menetes bersamaan dengan air hujan.

Itu darah.

Kyungsoo sama tercengangnya dengan Baekhyun. Darah itu mulai menetes di tangan Kyungsoo, bibirnya terasa kaku untuk digerakkan.

"B-Baekhyun... Itu... J...Jong...In..."

Baekhyun mengangguk. "...Dan Kris juga..."

Semuanya semakin aneh dan menakutkan.

Kenapa tubuh Jongin...bisa berada diatas pohon tinggi disana?

Dan kenapa Kris juga ada disana? Siapa yang membunuhnya? Siapa yang membawanya kemari? Bagaimana bisa?!

"...Kyungsoo... kalau Kris sudah mati disini... pasti Yixing tidak akan ada di mansion. Dia...aku tidak yakin...bagaimana ini?" tanya Baekhyun bingung dan ketakutan. Kyungsoo masih terdiam. Kaku.

Kalau Kris sudah mati...berarti pembunuhnya...bukan Kris. Mungkin saja dia bisa bunuh diri, tapi dia tidak mungkin menusukkan badannya sendiri ke pohon, bukan?

Tapi...kalau begitu...siapa?

Kris membunuh Chanyeol karena ia menyangka Chanyeol adalah pelakunya, tapi sekarang Chanyeol sudah mati, lalu Kris pun terbunuh.

Hanya ada tiga orang yang masih hidup.

Byun Baekhyun.

Do Kyungsoo.

Dan...

Zhang Yixing.

Setidaknya, Baekhyun dan Kyungsoo bersama sekarang. Mereka tahu mereka sama-sama masih hidup dan tidak satupun diantara mereka yang menjadi pembunuh.

Jadi...siapa?

Yixing?

Tapi...dimana Yixing? Apa dia masih hidup? Dan tadi, apa dia punya cukup waktu untuk membunuh Kris dan menyeretnya kesini—bersamaan dengan menyeret tubuh Chanyeol dan juga Jongin?

Itu mustahil.

"C-cepat...ayo cepat keluar dari sini," kata Baekhyun seraya membantu Kyungsoo berdiri. "Kita...kita lebih baik mencari bantuan secepatnya..."

.

.

.

.

.

Dari kejauhan, sudah terlihat rumah-rumah penduduk. Baekhyun dan Kyungsoo sudah merasa lebih lega. Mereka sudah melewati hutan itu, tapi hujan semakin lebat, dan waktu yang terus berjalan juga semakin mempersempit mereka dan langit semakin gelap.

Hanya ada beberapa rumah disana. Salah satunya adalah rumah dari paman yang pertama kali mereka kunjungi, penjaga mansion itu sebelum mereka datang kesana.

"Kita ke rumah paman yang kita temui tempo hari saja, bagaimana? Dia mungkin mau membantu kita. Aku juga lihat, sepertinya dia punya transportasi... " usul Baekhyun. Kyungsoo mengangguk setuju. Mereka lalu menuju ke rumah paman itu, melewati rumah-rumah lainnya.

Aneh.

Di hari segelap ini, semua lampu ada pencahayaan sedikitpun dari setiap rumah. Tidak ada pula kehadiran penduduk yang terasa disini.

Semuanya sepi.

Kosong.

"...Sepi sekali disini." Gumam Kyungsoo. Baekhyun tidak bersuara dan tetap berjalan. Mereka lalu sampai di rumah paman itu, dan Baekhyun mencoba mengetuk pintu beberapa kali.

Tidak ada jawaban.

"...Mungkin mereka sedang tidak ada di rumah?" tanya Kyungsoo. Baekhyun melirik kearah garasi—disana garasinya terbuka dan sebuah mobil tua masih terparkir. "Tidak mungkin, mobilnya ada. Kita akan pinjam mobilnya, lalu pulang ke Seoul dan minta bantuan. Mereka pasti akan mengerti,"

"...Kalau begitu, aku akan mengetuknya lagi. Permisii?" seru Kyungsoo sambil mengetuk lagi pintu rumah paman itu.

Tapi, pintu itu malah terbuka sendiri.

"...Tidak dikunci?" tanya Baekhyun. Rumah itu sangat gelap. Tidak ada seorangpun disana, dan rumah ini seperti ditinggalkan.

"...Mungkin mereka memang sedang pergi? Kalau begitu, kita minta bantuan pada yang la—YAH, BAEKHYUN?! KAU MAU KEMANA?!" panggil Kyungsoo saat Baekhyun masuk begitu saja ke rumah paman itu.

"Orangnya mungkin tidak ada, tapi ini benar-benar darurat, Kyungsoo! Aku akan mencari kunci mobilnya dan meminjamnya agar kita bisa pergi dari sini!" kata Baekhyun sambil mencari kunci itu di dalam rumah. Kyungsoo terpaksa masuk kesana juga. "Ta..tapi..itu mencuri?!"

"Kita hanya pinjam. Ayolah, nyawa kita terancam dan teman-teman kita sudah jadi korban, Kyungsoo... mengertilah itu!" kata Baekhyun lagi. Ia mencari-cari di laci ruang tengah yang gelap itu dan mendapatkan kunci mobilnya. "Dapat! Terimakasih Tuhaaan!"

"...Ayo cepat keluar sebelum orang lain menuduh kita sebagai pencuri!" bisik Kyungsoo. Mereka lalu keluar dari rumah itu dan menuju ke garasi. Dan disana—

TUKK!

Baekhyun menendang sesuatu.

"...Apa itu?" gumamnya saat melihat sesuatu menggelinding di dekat mobil.

Sesuatu seperti...

.

.

"...T...Teng—tengkorak?!"

Baekhyun tercengang dan panik saat menyadari itu tengkorak. Kyungsoo juga panik dan takut—tapi ada hal yang lebih menakutkan lagi.

Di sekitar mereka, masih banyak tengkorak dan tubuh manusia bergelimpangan tak bernyawa.

Termasuk tubuh paman tempo hari itu.

"...O-Oh... B-Ba...Baekhyun..." panggil Kyungsoo. Wajahnya pucat pasi. ."...C-cepatlah... pergi dari sini..."

Baekhyun semakin kaku saat ia juga menyadari banyak mayat di sekitarnya. "...B-Baiklah...siapa...yang menyetir?!"

"...Kau?"

"Kau yakin?!"

"INI DARURAT, CEPATLAH!"

Mereka segera masuk ke dalam mobil, dan berharap kalau mobilnya bisa berfungsi. Baekhyun segera memasukkan kunci mobil dan menggasnya. Agak macet.

"Ck...mobil tua!" gerutu Baekhyun. Kyungsoo panik."A-apa rusak?! Apa bensinnya habis?!"

Baekhyun terus menginjak gas. "T-Tidak...ini masih berfungsi kok, hanya perlu dico—"

GRAKKKKK!

GRAKKKK!

Ada sesuatu yang menahan mobil itu dari belakang. Kyungsoo spontan berbalik ke belakang dan melihat sesuatu yang menakutkan—mayat-mayat itu bangun dan menarik mobil itu.

"B-BAEKHYUUUUN! M-MEREKA MENARIK MOBILNYA DARI BELAKANG!"

Baekhyun menaikkan alis. "M-MEREKA?! MEREKA SIAPA?!"

Kyungsoo menutup mata. "M-MEREKA! YANG KEPALANYA TIDAK SENGAJA KAU TENDANG TADI—MUNGKIN! YA TUHAN, BAEKHYUN CEPAT JALANKAN MOBILNYA!"

Baekhyun semakin takut. "A-APA?! AYOLAH JANGAN ZOMBIE AYOLAH YA TUHAAAN KITA SUDAH SAMPAI DISINI, KUMOHON! KITA HARUS SELAMAT! INI DEMI SEMUANYA—TOLONGLAH!" ringisnya sambil menginjak gas sekuat tenaga.

"Cepatlaaaaaahhhh!" ringis Kyungsoo.

"Aku mencobanyaaa! Ini macet!"

Baekhyun terus mencoba memajukannya, lalu mundur sedikit dan maju agar bisa dijalankan. Sementara itu Kyungsoo membuka matanya dan melihat ke jendela—

...disana, mayat-mayat hidup itu menggapai jendela mobil sebelah Kyungsoo yang terbuka.

"YA TUHAAAAAN! TIDAKKK MEREKA MENGGAPAI JENDELA!" teriak Kyungsoo. Baekhyun semakin panik. "TUTUP JENDELANYA!"

"TIDAK BISA, INI MACET!" teriak Kyungsoo semakin panik. "YAAMPUN TOLONGLAH YA TUHAAAAN!"

"TE-TENANGLAH! AKU AKAN COBA MENJALANKANNYA—CK!"

"CEPATLAH SEBELUM KITA JADI MAKANAN MEREKA, BYUN BAEKHYUN!"

Mayat-mayat itu hampir menggapai Kyungsoo, dan...

BRRRRRRMMMMMMM!

"BERHASIL!" teriak Baekhyun. Ia segera menginjak gas dan menabrak beberapa mayat—ia tak peduli. Ia segera memacu mobil sampai kecepatan tinggi dan menembus perkampungan penduduk sampai ia menemui jalan besar.

Jalan besar yang mereka lewati ketika mereka berjalan kaki karena kecelakaan—berarti itu arah yang benar.

Arah kembali ke Seoul.

Arah pulang.

Jantung Kyungsoo benar-benar berdetak kencang. Tapi, ia lega. Ia bisa tenang. Ia dan Baekhyun sudah aman. Semuanya sudah berakhir. Sekarang hanya menunggu mereka sampai di Seoul dan selanjutnya, bagaimana nanti. Yang penting, mereka berhasil pulang.

Pulang dengan selamat.

"...H-hhh..." hela napas panjang Baekhyun menandakan ia sangat lega, meskipun tangannya sangat dingin dan agak gemetar.

Kyungsoo menoleh kearahnya. "...Ini gila...kenapa semuanya semakin horror? Dan kenapa tadi sampai harus ada mayat hidup?! Pada—"

"Sssshhhhh, sudahlah, Kyungsoo." Kata Baekhyun sambil menyetir. "Lupakanlah. Kita sudah aman sekarang... ini memang terlalu janggal, tapi... kita bisa tenang, diam saja dan nikmati arah pulang kita dengan istirahat. Kakimu masih sakit, kan?"

Kyungsoo menjawabnya dengan anggukan pelan. Ia memperbaiki posisi duduknya—memeluk lututnya—, mencoba membenamkan wajahnya diantara kedua tangannya.

Apa benar dia bisa tenang sekarang?

Setelah semua yang terjadi?

Karena sebenarnya...ini semua...semuanya belum terungkap. Dada Kyungsoo masih sesak. Ia tidak tahu harus tenang atau makin ketakutan karena siapa yang tahu apa yang mereka alami nanti.

.

.

.

Tak lama kemudian, mereka mulai mendekati tikungan dekat tebing—dimana bus mereka mengalami kecelakaan beberapa hari yang lalu. Jalanan benar-benar sepi, tidak ada kendaraan satu pun kecuali kendaraan mereka. Hujan mengecil dan tinggal rintik-rintik. Tapi, udara semakin dingin. Baekhyun tetap fokus menyetir ke depan, sedangkan Kyungsoo terdiam melihat jalan.

"...Itu...bus kita kan?" tanya Kyungsoo pada Baekhyun saat ia melihat bus mereka dari kejauhan—bus yang benar-benar hancur, masih sama seperti beberapa hari yang lalu.

"Iya, itu bus kita." Jawab Baekhyun datar. Mereka semakin mendekati bus itu dan Kyungsoo melihat sesuatu

Ada sesuatu di dekat bus mereka.

"...Itu...ada apa di bus kita?" tanya Kyungsoo. Baekhyun menaikkan alis. "Apanya?"

"...Disana...ada orang... seperti dua orang..." jawab Kyungsoo.

Baekhyun menggigit bibir bawahnya. "Kau hanya berhalusinasi."

"T-tidak! Aku serius!" protes Kyungsoo. Ia bersikukuh. Ia pertajam matanya dan ia benar-benar melihat dua orang.

Itu dua orang namja, satu namja berdiri di tengah jalan, tak jauh dari bus. Sementara itu seorang namja lagi terlihat seperti...duduk? Ah bukan...tapi...lebih tepatnya...

..Seorang namja itu terlihat seperti 'diseret' oleh namja yang satunya.

Dan namja yang terseret itu seperti...

.

.

.

..Yixing.

.

.

DEGG

Dada Kyungsoo terasa semakin sesak. Ia melirik kearah Baekhyun. "B-Baekhyun! Namja itu..salah satu dari namja itu...Yixing! Yixing disana! Tolong berhenti sebentar saat nanti ada di dekat mobil bus kita!"

"Tapi aku tidak melihat apa-apa, Kyungsoo!" sanggah Baekhyun. "Aku hanya meli—"

"LIHATLAH DENGAN MATA KEPALAMU SENDIRI!" protes Kyungsoo. Baekhyun terus mengemudikan mobil itu tanpa gangguan.

Baekhyun tidak bisa melihat apa-apa. Mungkin Kyungsoo hanya berhalusinasi—iya kan?

Tapi... entah kenapa, saat mobil itu dan dua namja itu 'berpapasan', ada dua fakta yang membuat Baekhyun dan Kyungsoo merasa aliran darahnya berhenti.

Yang pertama.

Namja yang diseret itu benar-benar Yixing. Ia tak bernyawa lagi. Dan ia disana tergenang darah.

Yang kedua.

Namja yang satunya lagi—yang berdiri di pinggir Yixing, yang menyeret Yixing, namja itu terluka juga. Senyum menghiasi wajahnya, dan tubuh tegapnya itu sangat sulit untuk tidak bisa tidak dikenali.

Senyum itu...

Wajah itu...

Dan luka yang ada di lehernya.

.

.

.

.

.

.

.

"...P-Park...Chan...Yeol...?"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Chanyeol tersenyum kearah mereka.

Seketika setelah itu, pandangan Kyungsoo dan Baekhyun hilang—semuanya gelap dan hanya hitam yang terlihat.

Senyum Chanyeol saat itu adalah senyumnya yang termanis.

.

.

.

.

.

.

.


16 April 2013.

.

.

.

.

Chen yang terantuk-antuk dan hampir tidur tiba-tiba terbangun. "Hm?"

"Kenapa, Jongdae?" tanya Kris. Chen terdiam. "…Duizhang, kau merasa tidak? Bisnya…kenapa seperti berbelok-belok ya?"

Kris menaikkan alisnya. "Ini jalan lurus, tidak mungkin belok. Lajur kanan juga lajur yang berlawanan arah."

Suho menoleh kearah mereka. "Kris-hyung. Aku juga merasakannya. Coba tanya supirnya, siapa tahu dia mau belok arah atau menyalip?"

Kris mengangguk dan berdiri dari duduknya, berjalan melewati Chanyeol yang masih asyik berdiri di tengah bus sambil merekam video. "Chanyeol, duduk sana, yang lain juga duduk."

"Gak ah," tolak Chanyeol. Kris tidak menanggapinya dan berjalan ke depan bis, menghampiri supir.

"Pak? Kenapa tadi busnya berbelok-belok?"

Tidak ada jawaban.

"…Pak?"

Dan Kris sadar kalau supirnya terantuk-antuk. Mata supir itu setengah tertutup, seperti mengantuk.

Oh tidak,

Ini gawat.

.

.

Dio melepas headset yang terpasang di telinganya. Pemandangan di perjalanan itu sangat indah, pohon-pohon dan hamparan luas padang rumput menghiasi jendela bus.

Tapi sesuatu yang aneh mulai terjadi.

CKIIIIITTTTT

"U-UWAAAAA!"

CKIIIITTT

Semuanya hampir panik. Xiumin yang tadi tertidur langsung terbangun. "Ke-kenapa ini?!"

"Busnya….busnya tidak seimbang!" kata Lay. "Bagaimana ini?!"

Kai tetap bertahan di tempat. "Sial! Goncangannya tidak mau berhenti!"

Bus semakin condong kearah kanan. Yang lainnya tetap bertahan di tempat, menyeimbangkan bus, dan Kris berteriak dari kursi supir. "SEMUANYA, MERUNDUK!"

Luhan menaikkan alis. "A-ada apa, Kris?!"

"MERUNDUK!"

.

.

BRAAAAAAAKKKKKKK!

.

.

.

.

.

Baekhyun membuka matanya perlahan. Kepalanya terasa sangat sakit—tangannya juga sulit digerakkan. Tapi, ia memaksakan diri untuk bangun dan akhirnya ia bisa duduk. Ia memperhatikan keadaan sekelilingnya—ia terbangun diatas aspal jalan. Tak jauh dari sana, ia bisa melihat bus mereka benar-benar hancur. Mobil polisi sudah ada disana, dan mobil staf SMent sudah terparkir tak jauh darisana. Banyak orang sudah berkumpul—ada yang Baekhyun tahu, ada yang tidak. Yang pasti, mereka mengerubuni tempat itu, dan Baekhyun menyadari satu hal.

Busnya terlibat kecelakaan hebat.

"Ah! Baekhyun, kau bangun!" seru Minseok. Ia kemudian membantu Baekhyun untuk berdiri. "Kau tidak apa-apa? Ada yang sakit? Ambulans akan datang sebentar lagi..."

Baekhyun tetap terdiam. Ia memperhatikan teman-temannya satu persatu, dan mereka semua terluka meski tidak parah—Minseok, Joonmyeon, Kris, Jongdae, Jongin, Kyungsoo, Sehun, Luhan, Yixing, Tao...

...Tunggu...

"...Chanyeol?" tanya Baekhyun. Minseok menaikkan alisnya. "...Eh?"

"Dimana Chanyeol? Apa dia baik-baik saja?"

Minseok hanya terdiam dan menunduk. "...Dia tidak baik-baik saja, kami semua juga terluka. Kau juga sama."

"Tapi, apa dia baik-baik saja?"

Minseok menggeleng pelan. Air mukanya suram. "...Dia...lukanya... lumayan parah. Saat kecelakaan, dia berdiri di tengah-tengah bus. Kris sudah menyuruhnya untuk duduk, tapi dia tidak mau. Hanya dia yang berdiri karena asyik mengambil video... dia tertimpa barang-barang bawaan dan lehernya tertekan oleh besi atap bus... bus oleng kesamping dan dia tertimpa, jadi—"

"...Hyung, tolong katakan yang sebenarnya... Chanyeol kenapa?"

Minseok menggigit bibir bawahnya.

Ia tidak bisa mengatakannya pada Baekhyun.

.

.

.

Baekhyun terdiam dan wajahnya pucat pasi saat ia melihat sesuatu yang ada di hadapannya ini.

Tubuh Chanyeol.

Tergeletak tak berdaya.

Dan tertutupi kain putih.

Baekhyun mencoba membuka kain putih yang menutupi tubuh Chanyeol—tapi suara Joonmyeon mencegahnya, "...Baekhyun, kami takut kau tidak akan kuat—lebih baik...jangan kau buka,"

"Tapi aku...aku ingin melihat Chanyeol."

Joonmyeon tidak bisa melarangnya lagi. Baekhyun menarik kain putih itu dan disana terlihat Chanyeol yang tengah terpejam dengan damai. Kulitnya sudah dingin dan pucat.

Dan lehernya...

.

.

.

.

.

...lehernya sudah tidak tersambung lagi dengan tubuhnya.

Nafas Baekhyun tercekat saat melihatnya—ia tidak percaya ini.

Rasanya...sangat sesak, dan sakit.

"...Tidak ada harapan lagi bagi Chanyeol," ucap Kris pelan. Baekhyun masih menatap Chanyeol lekat-lekat. Air matanya sudah menuruni pipi putihnya.

Kris menutup kembali kain itu. "...Park Chanyeol... dia sudah meninggalkan kita."

.

.

.

.

.

.


.

17 April 2013.

.

.

.

.

Butuh waktu sehari semalam untuk kembali dari lokasi kecelakaan sampai kembali ke Seoul.

Saat jenazah Chanyeol sampai di Seoul, keluarganya sangat sedih dan tidak percaya akan hal ini. Beribu fans juga mengiringi sampainya Chanyeol di Seoul dengan iringan isak tangis dan rasa sedih.

Mereka benar-benar kehilangan sosok Park Chanyeol, Happy Virus dari EXO-K.

Begitupun dengan pihak EXO dan SMent.

Mereka semua masih merenung dan berduka cita—belum dapat memberikan komentar ataupun penjelasan tertentu pada awak media.

Tapi, hal yang sudah pasti—adalah Park Chanyeol akan disemayamkan di tempat peristirahatan terakhirnya keesokan hari.

.

.

.

.

.

.


18 April 2013.

.

.

.

.

.

Hari itu adalah hari disemayamkannya Chanyeol di tempat peristirahatan terakhirnya.

Iring-iringan pelayat berbaju hitam memenuhi pemakaman itu. Dipenuhi oleh sanak saudara, keluarga, sahabat, rekan kerja, fans, senior, kerabat... dan mereka semua adalah orang-orang yang menyayangi Chanyeol.

Baekhyun berjalan sambil memegang foto Chanyeol yang berpigura keemasan.

Air matanya tidak bisa berhenti.

Betapa ia akan merindukan sosok Park Chanyeol.

Semuanya pasti akan kehilangannya.

Saat-saat peti mati Chanyeol akan dimasukkan, Baekhyun berjongkok di dekatnya, seraya membisikkan sesuatu.

'...Park Chanyeol... jangan lupakan kami. EXO selalu satu, bukan? Kita adalah satu dan selalu bersama... dimanapun kau, kau akan selalu bersama kami...dan kami akan selalu bersamamu.'

Semuanya lalu berdoa untuk Chanyeol. Baekhyun pun membisikkan kalimat terakhirnya untuk Chanyeol.

.

.

.

.

'...Kami mencintaimu, Park Chanyeol. Kau tidak akan sendirian.'

.

.

.

.

.

.

.

.


22 April 2013

.

.

.

.

.

.

BRAAAAAAAAAAAKKKKKKKKKK!

.

.

.

Mobil yang dikemudikan Baekhyun dan Kyungsoo kehilangan kendali dan menabrak pembatas jalan. Betonnya hancur—dan dengan kecepatan tinggi, mobil itu terhempas ke tebing curam.

.

.

"...Baekhyun..."

Kyungsoo terdiam dengan mata terbukal lebar. Baekhyun sudah memucat dan airmatanya sudah berjatuhan.

Keduanya gemetaran—takut, sedih, marah... dan tegang,

Karena ajal akan menjemput mereka.

.

.

.

.

Senyum kecut terhias di bibir Byun Baekhyun.

Ia ingat semuanya.

Ia tahu semuanya.

Ia tahu kenapa semua in terjadi.

Ia Ingat semuanya bersamaan dengan senyum manis Park Chanyeol yang ia sunggingkan saat kedua 'sahabat' nya yang masih hidup itu berpapasan dengannya.

Ya...

Park Chanyeol...

.

.

.

"...Park Chanyeol...

.

.

.

.

.

.

...keinginanmu untuk bersama kami... apa tercapai sekarang?"

.

.

.

.

.

Park Chanyeol adalah pembunuhnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Chanyeol tersenyum sambil berdiri di atas pembatas tebing. Di bawah sana, orang-orang dan para polisi tengah berkumpul, karena ada kecelakaan yang merenggut dua nyawa manusia sekaligus.

Chanyeol tidak sedih. Samasekali tidak.

Ia bahagia.

Ia sangat bahagia.

Ia tersenyum dengan sangat puas. Ia tidak sendirian. Semuanya sama seperti janji Baekhyun dan juga teman-temannya—Mereka tidak akan meninggalkan Chanyeol sendirian. Mereka akan selalu bersama.

EXO adalah satu.

Walaupun ada di dua dunia yang berbeda, mereka akan selalu bersama—Chanyeol yang mengajak mereka. Mengajak mereka agar kembali ke peristiwa dimana Chanyeol 'pergi', dan Chanyeol akan 'mengaturnya' lagi agar mereka semua dapat 'pergi' bersama-sama.

Bukankah itu persahabatan yang indah?

Park Chanyeol sangat mencintai sahabat-sahabatnya.

.

.

.

Senyum kembali mengembang di wajah tampan Chanyeol. Luka di lehernya dan wajahnya yang rusak pun tidak mengurangi ketampanannya.

Ia tersenyum dengan tulus pada sahabat-sahabatnya yang kini akan menemaninya .

.

.

.

.

"...Terimakasih sudah menemaniku...karena aku tidak mau sendirian, Aku mencintai kalian..."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"EXO, WE ARE ONE"

.

.

.

.

.

.

.

THE END


...Hai.

...Ini tamat lho.

Tamat lhoooooo TAAAAAMAAAATTTTTT QAQ –guling2- -joget aserehe sama kebo-

WOAAAAAWWW GUE GA PERCAYA INI EPEP TAMATTT –guling2 lagi kek marmot-

Maaf ya lama apdetnyaaa abisnya ini ampe berapa kali ganti konsep endingnya .-. Hampfuuuraaaa –sungkeman-

Dan maaf kalo endingnya geje. GEJE BANGET. GA HORROR. GA SEREM. GA TRAGEDI. GA GREGET. GEJE. Dan agar kalian tidak merasa kalau ini terlalu geje, saya kasih penjelasan hehe...

.

.

Jadi, siapa pembunuhnya? Pembunuhnya adalah CHANYEOL. Dia satu-satunya yang meninggal pas kecelakaan tanggal 16 April 2013. Tiga hari yang kelewat itu tanggal 16-17-18 April 2013. Kelewat? Karena tanggal 16 Chanyeol meninggal, tanggal 17 mereka nyampe pulang ke Seoul, dan tanggal 18 hari pemakaman Chanyeol. Di hari pemakaman Chanyeol, temen2nya [terutama Baekhyun yang lebih dari temen wkwkwk], janji buat selalu nemenin Chanyeol, mereka gak akan biarin Chanyeol sendirian. Dan apesnya, roh Chanyeol ngedenger itu semua dan dia nagih janji. Chanyeol malah jadi pengen 'ngajak' semuanya buat ikut dia [intinya sih ngebunuh mereka semua biar sama-sama mati semua], dengan cara pas tanggal 19 april 2013, mereka diajak masuk 'ILUSI' TIME SLIP, dimana tanggal itu sebenernya tanggal dimana mereka kecelakaan dan mau shooting film. Itulah kenapa ga ada kru SMEnt, karena itu Cuma ILUSI, bukan tanggal 16, padahal tanggal 19. Yang nyadar Cuma 3 orang, Yixing, Kyungsoo, Baekhyun. Dan dari tanggal 19 sampai 22, Chanyeol berangsur-angsur ngebunuh mereka semua, tapi dia pengen main-main sedikit—supaya dia gak ketauan sebagai pembunuhnya, dan dia pengen bunuh Baekhyun sebagai orang terakhir.

.

.

Note#1 : Chanyeol meninggal soalnya dia lehernya putus, kegencet bus. Soalnya dia gak mau disuruh duduk sama si Kris, malah berdiri di tengah bus. Pas kecelakaan, dia doang dah yang kena [TURUTI APA NASIHAT KRIS]. Terus, kematiannya juga kepengaruhin yang dibawah ini nih

Note#2 : Sebenernya juga, penduduk kampung itu udah mati semua... jadi, wilayah pegunungan [mansion+hutan+perkampungan penduduk] itu sebenernya udah jadi wilayah mati dan ga ada yang ngehuni lagi, soalnya ada kebakaran hebat bertahun-tahun silam, dan katanya yang jadi pendatang emang bakal diterror.

.

.

.

.

YAP! WELL SEGITU AJA KEKNYAAA TT~TT

Nah, jadi begitulah FF ini. Thanks buat yang udah baca+ikut nebak+ikut dendam sama author/? Soalnye biasnya dimatiinnya ga elit lah, ini lah, itulah, wkkwkw. Maaf udah bikin anak-anak EXO meninggal semua pas lagi mau shooting MV. MARI KITA SYUKURI KALO EXO UDAH COMEBACK WOLF+GROWL, dan kita doain COMEBACK NOVEMBER LANCARRR! YAHOOOOO!

Kalo ada yang masih kurang jelas, tanya aja sama author ye hehe. Bebas ngepo-in lewat FB Ato PM Ffnet. Ato akun RP gue. LOOOL. FB Gue : Ahlryan Hatef Wu. :p

THAAAANKSSS BANGET BUAT KALIAAAAN READERRSSS MAAF KALO ADA KESALAHAN—BANYAK KESALAHANNNNNN DI FF INI. UDAH JARANG APDET, GEJE PULA. SEMOGA GUE BISA NGALIRIN IDE2 GUE DENGAN LANCAR. AMINNN.

THANKS FOR READING OR VISITING, EVEN REVIEWING THIS FANFICT.

MUCHAS GRACIAS!

.

.

.

.

THEHUNGOGREEN