Di hari pertama, hampir seluruh shinigami Gotei 13 dikerahkan untuk mendukung upacara sakral tersebut agar dapat berlangsung dengan lancar tanpa hambatan dan kekurangan. Kesempurnaan dituntut dalam acara yang akan dilangsungkan pagi ini di alun-alun Kediaman Utama Kuchiki dan nantinya akan diakhiri dengan parade besar-besaran, mengambil jalur Seireitei hingga Rukongai, yang pasti akan memakan waktu hingga tengah malam nanti.
Masih sibuk melakukan persiapan barisan untuk pengawal di jalur Rukongai, Ichigo yang telah membantu di sana selama lima belas hari sudah sepenuhnya mampu memegang kendali pasukannya. Penampilan Ichigo yang sedikit berubah dan lebih berwibawa, sudah menjadi pemandangan yang awam di sana.
Kurosaki Ichigo dengan haori putih melambangkan pemimpin devisi ke-13 sudah ia sandang sejak Kapten Ukitake mendesaknya untuk mengatakan ya beberapa hari yang lalu. Devisi ke-13 sudah kehilangan pilar kepemimpinan sejak Kapten Ukitake bahkan Rukia sebagai wakilnya tidak mampu lagi menjalankan tugas seperti sedia kala. Awalnya pekerjaan ini terasa begitu memberatkan, tapi Ichigo tidak memiliki pilihan lain untuk menolak.
Banyak hal yang telah dijelaskan Ukitake kepadanya. Mulai dari tugas pokok devisi ke-13 yang menitik beratkan pada perlindungan dan pengawasan Rukongai hingga hal-hal kecil seperti wajah Ichigo yang sangat mirip dengan pendahulu posisi Rukia di masa lalu. Sejak saat itu, kecurigaan mulai muncul dalam benak Ichigo, Rukia melihatnya sebagai Shiba Kaien seperti yang dilakukan Ukitake saat memutuskan untuk percaya padanya. Pantas saja, Rukia mati-matian melindunginya saat pertama kali mereka bertemu di dunia.
"Kapten Kurosaki? Kapten Kurosaki? KAPTEN KUROSAKI!"
Ichigo terjingkat. "E-eh, ya? Maafkan aku," Ichigo memijat dahinya. "Ada apa?"
Kiyone yang kali ini bertugas sebagai asisten pribadi Ichigo kini memandang pria itu penuh curiga. "Apakah Kapten sedang sakit? Kapten Kurosaki terlihat sedikit pucat."
Sontak seluruh bawahan yang berdiri mengelilinginya menatap Ichigo dengan wajah penuh akan tanda tanya. Mereka sudah menerima Ichigo sebagai pemimpin karena percaya atau tidak, para pasukan devisi ke-13 pun sangat menyukai wajah Ichigo seperti mereka sedang berhadapan langsung dengan wakil kapten yang dahulu. Lalu, ditambah dengan sedikit sifat terang-terangan Ichigo, akhirnya mereka saling bahu-membahu meminjamkan seluruh kekuatan mereka untuk membantu Ichigo menjadi pemimpin yang baik.
Ichigo mengibaskan tangan dan tersenyum samar. "Tidak, aku baik-baik saja. Aku hanya sedikit melamun. Kalian tidak perlu cemas."
Kiyone menangkap kebohongan dari gerak bibir kaptennya itu. "Anda semakin mirip dengan Wakil Kapten Abarai yang akhir-akhir ini sering kehilangan konsentrasi saat bekerja."
Ichigo tidak memungkiri dan ia masih ingin tersenyum tipis. "Banyak hal yang telah kami lewati bersama Rukia. Tentu saja, pernikahannya membuatku dan Renji tak habis pikir bahwa si cebol itu mendahului kami dalam urusan seperti ini. Aku hanya sedikit gugup."
Kalimat Ichigo terdengar lebih bijak dari pada sorot matanya yang mencerminkan kekecewaan yang tak terukur. Sedikit banyak, para shinigami yang masih mengingat sepak terjang Ichigo dulu saat menggagalkan eksekusi Rukia, mungkin kini cukup mengerti tentang apa yang dirasakan pria bersurai jingga tersebut. Maka dari itu, mereka berusaha untuk tidak bertanya lebih jauh daripada ini.
"Ka-kalau begitu maafkan aku, Kapten!" Kiyone mendadak kikuk dan tanpa sengaja meremas kertas di tangannya. "Apakah Anda terganggu dengan teriakanku barusan? Sekali lagi aku minta maaf. Kebiasaanku berteriak saat memanggil kapten masih belum bisa berubah."
Ichigo tertawa kecil dan hal itu cukup membuat bahunya terguncang pelan. "Sudahlah, tak perlu bersikap terlalu formal kepadaku. Aku ingin kalian memperlakukanku seperti dulu, saat aku hanya menjadi shinigami daikou. Kalian mengerti?"
"Baik, Kapten!" semua menjawab lantang dengan sikap sempurna.
Selanjutnya Ichigo kembali menatap mata Kiyone yang mirip dengan mata yang ia rindukan. "Ada apa kau memanggilku, Kiyone-san?"
Kiyone yang terlanjur gugup dan berwajah memerah kini menyerahkan sebuah kartu undangan berwarna merah yang hampir kusut kepada Ichigo. "I-ini, Kapten Kurosaki diminta untuk mengunjungi Kediaman Utama Kuchiki sekarang juga."
Ichigo tidak percaya dengan pendengarannya sendiri. Jemarinya ragu meraih kartu undangan yang dijulurkan kepadanya. Ichigo tetap membisu, bahkan setelah ia berhasil membuka, membaca, lalu menutup kembali surat itu.
Ichigo tersenyum lebar kepada semua bawahannya. "Baiklah, Byakuya mengundangku menghadiri prosesi tertutup Upacara Penyucian Rukia. Bisakah kalian menangani ini tanpaku untuk sementara? Aku akan segera kembali sebelum acara itu usai untuk memantau posisi barisan di jalur Rukongai. Sejauh ini, apakah ada yang ingin kalian tanyakan?"
Semua memilih untuk mengangguk daripada menjawab lantang seperti sebelumnya. Mungkin karena Ichigo yang buruk dalam bersandiwara. Senyuman itu malah membuat wajah Ichigo terlihat sedih.
"Baiklah. Kiyone-san, untuk sementara ini, kuserahkan semuanya kepadamu."
"Ba-baik, Kapten!"
Ichigo pun melesat cepat bahkan sebelum mereka berhasil untuk mengedipkan mata. Wajah pasukan devisi ke-13 mendadak geram, bukan karena merasa marah ditinggalkan sang pemimpin melainkan karena mereka tidak menyukai cara bangsawan itu mempermainkan perasaan kaptennya.
XXXXXXX
Acara inti pada hari pertama ini adalah pelaksanaan ritual Upacara Penyucian Putri Bangsawan Kuchiki. Tidak banyak yang diperkenankan hadir dalam acara itu dan Ichigo bukannya merasa tersanjung, malah ia semakin ingin segera pulang dari sana.
Ichigo hanya berdiri bersandarkan tiang di bagian belakang jejeran kursi yang sejak lalu sudah dipenuhi oleh para tamu undangan penting dari segala penjuru Seireitei. Kursi khusus yang disediakan panitia untuk Ichigo disia-siakannya begitu saja. Dia tak ambil pusing untuk mengeluh, Ichigo hanya berlagak seperti pria kurang kerjaan dan justru berdiri menjauhi tempat Penyucian serta memilih untuk meratapi rumput yang sedang bergoyang.
Suara genderang bertabuh menyita perhatiannya saat Ichigo merasa semakin bosan. Pria itu melihat, lalu jantungnya berdenyut aneh ketika arak-arakan kecil mengiringi sosok dara jelita yang memang dikenalnya, tapi mungkin tak cukup membuat otaknya percaya. Apa karena riasan, baju dan tatanan rambutnya yang tak biasa? Semua itu membuat Ichigo rela terpana saat wanita itu berjalan seolah tengah menginjak awan—sangat anggun, berwibawa, tanpa keraguan tapi berhati-hati—mungkin karena wanita itu tak ingin merusak kimono besar yang menjuntai hingga menutupi seluruh kakinya.
Rukia terlihat lebih menarik di mata Ichigo. Dan akhirnya pria itu melihat Rukia sebagai wanita, bukan lagi sebagai pasangannya saat bertarung.
Ichigo hampir tak berkedip meskipun ia tak sampai harus menganga dan meneteskan air liur. Serat kain yang terlihat berat itu berwana merah bata dan sangat elegan, bercorak dedaunan momiji besar yang semakin memperkuat daya magisnya dan mengingatkan Ichigo betapa ia sangat menyukai Musim Gugur. Kain itu terayun begitu lembut, suara gemerincing hiasan berwarna emas di kepala Rukia membuat sosok itu terlihat lebih indah daripada definisi kata indah yang sejak dulu dipahami Ichigo.
Bibir kecil itu dipoles oleh warna merah yang segar, wajahnya dibubuhi bedak yang tebal dengan aksen merah pipi yang tak berlebihan, bahkan jika boleh mengkhayalkan, mungkin bulu-bulu mata panjang yang letik itu akan semakin memperindah manik amethyst Rukia—yang selalu membuat Ichigo tak mampu mengelak saat terjerat.
"Rukia…," mungkin karena ikatan batin atau kemurahan dari Dewi Fortuna yang menakdirkan mereka untuk bisa bertatapan.
Rukia mencuri pandang dari sudut matanya dan menemukan sosok Ichigo saat pria itu selesai membatinkan nama Rukia untuk dirinya sendiri. Ichigo memekik seolah tersedak ludahnya sendiri. Pria itu tak sempat membubuhkan senyum sebelum mata Rukia kembali menatap ke depan. Ichigo mendengus kesal.
"Kurosaki Ichigo," seseorang memanggilnya dan yang bersangkutan tidak cukup sadar menyikapi.
"Hm?"
"... Kau sedang melihatnya?"
"Ya."
"Bagaimana menurutmu?"
"Dia sangat sempurna."
Ichigo masih tetap tak menyadari seseorang itu sebelum akhirnya ia mengingat bagaimana suara bariton tersebut pernah beberapa kali didengarnya. Oh, tidak, Ichigo seharusnya lebih fokus dan tidak harus larut dalam keterpanaan sebegitu parahnya sampai-sampai tidak menyadari kehadiran orang itu. Pria di sampingnya sekarang adalah Kuchiki Byakuya—orang yang paling tak ingin ia temui, bahkan yang sangat tidak ingin diajaknya bicara.
Mereka bertatapan cukup lama dan Byakuya hanya tersenyum samar sebelum Ichigo melengos karena cukup malu telah tertangkap basah.
"Aku senang kau memenuhi undanganku, Kurosaki Ichigo." Byakuya tampak lega.
Ichigo bersedekap dan menyandarkan kepalanya di sisi tiang yang sejak tadi menyangga tubuhnya, menatap luasnya langit yang tak seluas hatinya kini. Dadanya terasa menyempit.
"Aku tidak mungkin mengabaikan acara sepenting ini, bukan? Meskipun undangan yang kudapatkan terlalu mendadak untuk sampai di tanganku."
Byakuya membenarkan posisi untuk menatap ke depan, melihat Rukia seperti ia mengamati pajangan boneka tak berjiwa yang saat ini menjadi tontotan gratis untuk para tamu undangannya. Dahinya mengerut, Byakuya tak menyukai hal ini.
"Bagaimana bisa kau membiarkan adikmu mengumbar diri seperti itu, Byakuya? Tidakkah kau merasa sayang?" tanpa sadar Ichigo menjawab kerutan di dahi Byakuya dengan kalimat yang hampir terasa mengambang.
Byakuya tersenyum lagi dan memilih untuk mengabaikan basa-basi Ichigo. "Sebenarnya aku tidak ingin mengundangmu, mengingat kau ditunjuk secara resmi untuk menjadi penanggung jawab acara setelah ini. Kukira kau tidak akan menghadirinya, tapi setelah kupikirkan lagi, tak bagus juga mengabaikan teman Rukia sebaik dirimu."
Heran. Byakuya memuji Ichigo tanpa menatap langsung wajahnya. "Ceh, meskipun pekerjaan ini menghabiskan waktu dan tenagaku yang berharga, kurasa aku akan sangat menyesal jika tidak melihat Rukia yang tengah berbahagia seperti saat ini. Akhirnya Rukia memenuhi tujuan hidupnya sebagai wanita. Tidak ada yang lebih penting selain memberikan dukungan penuhku kepadanya."
Byakuya mengangguk-anggukan kepala. "Kau sudah sangat pandai dalam berbicara, Kurosaki Ichigo. Aku hampir tidak bisa mengenalimu jika kau bersikap sedewasa itu di hadapanku."
Ichigo melengos kemudian menatap kedua kakinya yang memijak tanah. "Kau pikir aku akan selamanya menjadi remaja ingusan seperti yang kau pikirkan? Hey, usiaku sudah mencapai 25 tahun. Kau tidak sepantasnya meragukanku lagi seperti dulu. Ya… meskipun kau beratus-ratus kali lebih tua dibandingkan denganku."
Byakuya mengangguk paham. Dan entah kenapa, Ichigo muak melihat cara Byakuya mengangguk seolah semua yang dilakukannya begitu sangat diharapkan oleh Kepala Kuchiki tersebut. Ichigo memutuskan untuk beranjak dari sisi Byakuya sebelum bangsawan itu bermaksud untuk menghentikannya.
"Sebenarnya aku memiliki tujuan khusus menemuimu di sini."
Ichigo menghentikan langkahnya dan menoleh. "Heh? Tujuan khusus apa lagi sekarang?"
"Ini tentang besok malam," Byakuya menyahut dengan ringan saat sebelah tangan yang terbungkus sarung tangan putih itu mulai merayap untuk menggapai pangkal pedang di pinggangnya. "Aku hanya ingin mengingatkanmu tentang pertunjukan khusus kita. Kau dan aku akan berduel untuk memeriahkan acara di malam kedua. Kau harus mempersiapkan diri."
Ichigo mengerjapkan mata beberapa kali. "Berduel? Kau dan aku?" ucapnya seolah mengelak. "Aku tidak ingat pernah menyetujui duel yang kau maksud."
"Kau tidak harus menyetujuinya, Kurosaki Ichigo, karena kau memang harus terlibat di dalam duel ini. Pertarungan pedang secara simbolis merupakan tradisi wajib sebelum prosesi pernikahan diputuskan. Kau akan bertarung melawanku di depan Rukia. Pastikan kau menggunakan sesuatu untuk menutupi wajahmu dan bawalah katana yang lebih normal dari pada zanpakutou di punggungmu. Itulah peraturannya."
Ichigo menggeleng. "Tidak! Aku tidak mau bertarung lagi denganmu. Kau bukan musuhku dan aku tidak ingin melakukan hal yang sia-sia seperti itu."
Byakuya hampir memperlihatkan tawanya menanggapi ekspresi malas yang tersirat pada wajah Ichigo. Byakuya sedikit lega melihatnya, rupanya rencana B memang harus ia gunakan untuk membujuk pemuda ini.
Pria Kuchiki itu berjalan beberapa langkah untuk berdiri di depan Ichigo. Kemudian mengatur postur tubuhnya agar terlihat mengesankan di depan lawan bicaranya itu. Seringai yang tak biasa tersungging di bibir tipis Byakuya, selanjutnya ia berbisik, "Kau tidak ingin menentukan siapa yang berhak memiliki Rukia? Ini adalah kesempatanmu merebutnya dariku. Kutunggu kehadiranmu malam nanti. Kau akan menyesal jika melewatkannya."
Ichigo cukup membatu saat merekam kalimat yang meluncur dari mulut Byakuya. Ichigo berkedip sebelum ia sempat menyadari bahwa Byakuya sudah menghilang secepat angin yang berhembus menerpa wajahnya. Ichigo menoleh ke kanan dan ke kiri dengan resah.
"Apa yang dia rencanakan?"
"Ichigooo!" lengkingan suara Matsumoto berhasil menarik nyawa Ichigo yang sempat terperangkap dalam sangkar buatan Byakuya. Ia menyerongkan tubuh dan menemukan dada besar bergoyang-goyang menghampirinya.
Ichigo meringis dan menolehkan wajah ke arah lain. "Oh, Rangiku-san?"
"Aku tidak menyangka akan melihatmu di sini, Ichigo! Apa yang kau lakukan, hah? Aku sudah menyiapkan satu kursi khusus untukmu di depan sana."
Ichigo tahu saat melihat pakaian yang dikenakan Matsumoto. Wanita itu bertugas sebagai penerima tamu dalam acara ini.
"Aku baru saja akan pergi, tapi," ucapnya janggal dan kemudian menjeda. "Boleh aku menanyakan sesuatu kepadamu?"
Matsumoto cukup sedih melihat mata Ichigo yang seolah tertutup mendung yang tebal. Ia mengesah pelan. "Aku sudah menunggumu mengatakan hal itu kepadaku, Ichigo. Setidaknya aku menunggu kau atau Renji yang menanyakannya."
Ichigo menarik satu alisnya ke atas. Tertarik dengan jawaban Matsumoto yang seolah sedang menguji dirinya dengan Renji atau menegaskan bahwa hanya wanita itulah yang bisa menjawab seluruh pertanyaannya.
"Siapa pria yang akan menikahi Rukia? Apakah dia juga seorang bangsawan?"
"Seharusnya begitu."
Ichigo mengehela napas. Rahangnya mengeras saat percikan amarah mulai membakar dirinya. Tangan Ichigo terkepal kuat. "Jangan katakan padaku jika pria itu adalah Byakuya! Apakah dia sudah gila menikahi adiknya sendiri?"
Matsumoto menatap Ichigo tanpa mengurangi keseriusan yang terpantul di kedua matanya. Matsumoto menghela napas sebelum memandang kembali pada sosok Rukia yang tengah terduduk anggun bagai patung porselen tak bernyawa.
"Itulah yang kutakutkan, Ichigo."
"Maksudmu?"
"Seluruh kalangan bangsawan bahkan Dewan Central 46 bersekongkol untuk menyembunyikannya dari publik. Kali ini aku tidak bisa begitu banyak membantumu, tapi firasatku sejalan denganmu, mungkin."
"Mungkin? Bagaimana bisa kau hanya mengatakan mungkin sedangkan acara ini sudah direncanakan sejak lama sebelum aku datang? Kau sengaja membodohiku, 'kan?"
Ichigo merasa dikhianati dan merasa ditipu karena dirinya memang orang luar yang hanya bisa datang lima belas hari sebelum acara ini digelarkan. Ichigo meredam emosi dalam benaknya dengan mengutuk pelan lalu memutuskan untuk meninggalkan tempat itu sebelum ia tak sempat mengontrol perasaannya lagi.
"Tunggu!" Matsumoto meraih tangan Ichigo yang terkepal kaku, selanjutnya meneguk ludah karena tiba-tiba ia bisa merasakan tekanan roh Ichigo mulai menguat dan mencekik lehernya. "Aku tidak peduli jika kau menilaiku seperti itu, tapi aku akan memberitahumu tentang hal ini, kita akan tahu jawaban dari pertanyaanmu tepat setelah duel yang akan dilangsungkan besok malam."
"Duel? Oh, apa lagi sekarang?" ia menanggapinya dengan malas dan sinis tanpa ketertarikan lagi, ia tak ingin dipermainkan.
Matsumoto menatap Ichigo seolah menyuruh pria itu untuk tenang dan mendengarkannya hingga selesai. "Malam kedua besok dimaksudkan sebagai penerimaan calon bangsawan lain yang nantinya akan bersanding di sisi Rukia. Permainan pedang dalam duel nanti dilakukan sebagai bentuk simbolisme dari perjuangan yang harus dicapai demi menempati kursi kosong di samping Rukia. Ini hanya tradisi kuno yang selalu dinantikan."
Ichigo tak mampu menjawab apa-apa lagi. Perkataan Byakuya beberapa saat yang lalu berhasil dipatenkan oleh Matsumoto. Padahal, pada awalnya Ichigo tak terlalu menganggap serius kalimat Byakuya. Namun, sekarang, ada kilat ingin yang menguasai kedua matanya.
"Pertarungan itu… apakah pertarungan itu benar-benar akan menentukan segalanya? Bisakah kau lebih menjelaskannya lagi?"
"Sebenarnya permainan pedang mereka sudah direncanakan dan tentu saja pemenangnya pun sudah ditentukan. Mereka memang harus saling menyembunyikan identitas agar tidak ada yang bisa menebak siapa yang sebenarnya saling bertarung. Tenang saja, mereka tidak akan saling melukai meskipun keduanya harus berduel di dalam arena yang dikelilingi api sungguhan. Ini hanya rekayasa, yang perlu kau perhatikan hanya orang yang akhirnya mengisi tempat kosong di samping Rukia."
Seperti tidak memedulikan penjelasan Matsumoto, Ichigo terlalu larut dengan berbagai pertimbangan yang kini telah melahirkan satu keputusan mantap dalam benaknya.
"Aku mengerti. Aku tahu apa yang harus kulakukan."
"Eh?"
"Tentang Renji… apa kau mengatakan hal ini kepadanya?"
"Tidak, akhir-akhir ini Renji sering menghilang tak jelas. Kurasa dia jauh lebih menderita daripada dirimu."
Ichigo tersenyum lebar. "Baiklah. Kurasa urusanku di sini sudah selesai. Terima kasih, Rangiku-san!"
Ichigo berjalan meninggalkan Matsumoto, yang tanpa diketahui pria itu kini tengah menyeringai penuh arti.
XXXXXXX
Malam ini, semua akan ditentukan. Genggaman pada katana-nya menguat saat suara angin malam kembali memicu hasratnya untuk segera bertarung. Pria itu menunggu sampai waktu yang telah mereka sepakati tiba. Dan demi menunggu detik-detik itu bergulir, ingatannya terlempar kembali ketika arak-arakan megah menyusuri jalur Rukongai yang berada di bawah pengawasannya pada malam itu—seperti saat ini, tapi sehari yang lalu.
Saat itu sinar sang rembulan memantulkan sosok menawan Putri Kuchiki di atas sella bercorak emas dan merah yang menyerupai tandu megah beratap besar. Benda transportasi untuk kalangan tinggi itu dipanggul oleh puluhan pria berbaju serba putih di bawahnya. Wanita itu hanya duduk sopan masih dengan menggunakan pakaian kebangsawanan—yang sejak Upacara Penyucian berlangsung sudah menjadi hal terwahid, kenapa Kuchiki Rukia tampak begitu sempurna dibandingkan seluruh gadis yang pernah Ichigo temui sebelumnya.
Kepala wanita itu kadang terangguk-angguk untuk menyambut sorai kencang barisan rakyat Rukongai yang kini melambai ke arahnya dengan antusiasme tinggi. Cukup melelahkan, memang, tapi sesi ini bertujuan untuk mengenalkan sosok Putri Kuchiki kepada seluruh penghuni Soul Society, khususnya di daerah non-bangsawan seperti Rukongai. Berharap mereka lebih mengenal pemimpinnya tersebut secara lebih dekat dan tentu dengan beberapa tujuan politik lainnya yang tak perlu disebutkan.
Ichigo cukup bisa menera wajah gugup Rukia, padahal pria itu merasa bahwa Rukia tidak perlu merasa ragu karena gadis itu sudah luar biasa cantik dan menawan hari ini. Mungkin karena Ichigo tidak suka atau tidak puas hanya dengan melihat saja, akhirnya pria itu nekat melompat ke jalur pawai dan berdiri tegak di sana—menghadang mereka.
"OY, RUKIA!"
Seluruh mata kini tertuju pada Ichigo karena pria itu jauh lebih bisa berteriak lantang melebihi rakyat lain yang mengelu-elukan nama Rukia sejak tadi. Barisan yang melibatkan prajurit berpedang, pasukan berkuda, sekelompok penabuh gendang, sella menakjubkan, beberapa penari tradisional dan diakhiri oleh shinigami devisi ke-6 itu akhirnya berhenti karena ulah Ichigo membuntu jalan mereka. Bagaimana mungkin, penanggung jawab yang seharusnya menjamin segalanya berjalan lancar malah melakukan sebaliknya? Para shinigami di bawah asuhan Ichigo hanya tertegun bingung.
Tidak ada yang berani berkomentar, tentu saja berkat haori yang tengah ia kenakan. Ichigo mulai berbicara ketika ia sudah memastikan sendiri bahwa dirinya berhasil merebut perhatian Rukia secara absolut.
"YO, RUKIA! BAGAIMANA KEADAANMU DI ATAS SANA?" tentu saja Ichigo harus berteriak meskipun hanya untuk membahas hal tak penting sekali pun.
Rukia menjaga diri dengan hanya tersenyum ramah.
"DANDANANMU SEPERTI BADUT JIKA WAJAHMU KAKU SEPERTI ITU, RUKIA!"
Urat marah mulai muncul di wajahnya, tapi sekali lagi Rukia harus bisa mengendalikan diri. Ichigo menggaruk tengkuknya kikuk karena ia tak berhasil menggoda targetnya.
"BAIKLAH, SEBENARNYA, AKU HANYA INGIN MENGUCAPKAN SELAMAT PADAMU! MAAF, JIKA CARAKU SEPERTI INI. KAU SANGAT SULIT KUTEMUI AKHIR-AKHIR INI."
Benar juga. Mereka sangat jarang bisa bertemu, bahkan hampir tidak pernah bertemu sejak Rukia diangkat menjadi wakil kapten devisi ke-13 beberapa tahun silam. Rukia bisa tenang sekarang mungkin karena ia sudah cukup terbiasa tidak melihat Ichigo, tapi saat menyadari bahwa pria itu berusaha sangat keras untuk menemui dirinya seperti ini, Rukia tiba-tiba teringat akan usaha keras Ichigo saat menyelamatkannya dari hukuman mati beberapa tahun yang lalu. Ternyata, pria itu masih tetap keras kepala.
Rukia bisa melihat, Ichigo yang sekarang tentu saja berbeda dengan Ichigo yang dulu. Haori putih yang menyelubungi yukata hitam dengan aksen tanda X di bagian leher itu merupakan bukti bahwa mereka telah melalui beberapa fase selama bersama sebagai partner. Rukia tahu segala hal tentang perubahan Ichigo, karena ia sengaja mengamatinya dan karena ia tidak bisa mengentaskan rasa khawatir sebelum ia juga mencerburkan diri ke dalam jurang yang sama dengan Ichigo.
Buktinya kini mereka masih hidup, meskipun memang semuanya telah terlanjur berubah. Ichigo bukan lagi pemuda badung yang selalu mendapat perhatian penuh darinya, Ichigo sudah menjadi pria yang kuat bahkan sebelum Rukia bisa menyadarinya.
Rukia tidak menduga, mungkin karena terlalu larut dalam nostalgianya, tiba-tiba saja kenangan masa lalu tentang dirinya dan pria itu memenuhi otaknya seperti kepulan asap yang tak bisa ia tolak. Rukia menyadari, ia tidak akan bisa seperti ini sekarang tanpa Ichigo yang selalu ada di sisinya. Mereka bagai siang dan malam yang saling menyeimbangkan diri. Namun, kini mereka tengah berdiri di lembah yang dipisahkan oleh jurang besar, mereka tidak akan bisa seperti dulu lagi.
Rukia merasa bahwa sosok Ichigo semakin menjauh meskipun kini mereka masih bisa saling menatap. Lelehan air mata tiba-tiba mengalir di garis pipinya, Rukia tersentak dan membuang wajahnya dari Ichigo. Ada sesuatu yang menyebabkan kehadiran Ichigo membuka luka lama yang sudah lama dikuburnya. Ini bukan hal baik.
Menyadari hal itu, Ichigo hanya bisa terdiam sejenak. Rukia di depannya sangat berbeda dengan Rukia yang dulu ia kenal. Rukia yang dulu ia tahu tidak akan menunjukkan sisi lemahnya semudah ia membalikkan tangan. Rukia yang dulu selalu bersikap tegar, kuat, berpendirian teguh dan tak segan beradu mulut dengannya, serta kasar—secara umum—meskipun ada saat di mana wanita itu mampu mencurahkan perhatian dengan caranya-yang-tak-biasa namun berhasil menenangkan jiwanya.
Wanita memang identik dengan tangisan, seperti yang ia lihat pada diri Inoue Orihime saat mencurahkan perhatian kepadanya. Dan setelah semua yang terjadi, Ichigo sangat tak tenang saat menyadari Rukia menangis begitu bertemu dengannya kali ini. Bukan karena Rukia dihadapkan dengan ancaman hukuman mati, tapi karena Rukia akan menikah.
"KURASA SAMPAI DI SINI SAJA. AKU PERGI DULU, RUKIA!"
Ichigo telah lenyap sebelum Rukia sempat menatap pria itu lagi. Arak-arakan kembali berjalan seperti sedia kala, dan karena seluruh orang hanya menatap Ichigo yang berteriak-teriak dalam insiden tadi, tak ada seorang pun yang menyadari ekspresi wajah Rukia saat ini. Tidak ada, kecuali Ichigo dan dirinya sendiri.
Dan sekarang, di sini, malam ini, sejarah akan ditulis. Pria dengan yukata hitam sederhana itu membuka kedua mata yang sempat terpejam cukup lama, mengentaskan lamunannya sebelum membulatkan tekat untuk terjun tepat di atas arena yang sudah disediakan khusus untuk dirinya. Suara riuh penonton membahana demi menyambut kedatangan sosok mereka yang kini bertopeng. Kurosaki Ichigo dan Kuchiki Byakuya akhirnya datang untuk mengadu kekuatan.
"Byakuya," Ichigo membatin di balik topeng hollow-nya, ia juga memakai tudung untuk menutupi rambut agar identitas aslinya tak cepat terbongkar begitu saja.
"Selamat malam dan selamat datang. Kau memenuhi tantanganku. Keputusan yang bagus." Byakuya mengelilingi sejenak arena pertarungannya sebelum menarik tuas katana dari sarungnya.
Saat mata pedang Byakuya berkilat menentang cahaya rembulan, bara api tiba-tiba tersulut mengelilingi tempat duel mereka—suasana semakin menegangkan saat cuatan api itu diikuti oleh suara gaduh para penonton yang sudah tidak cukup sabar menanti duel yang belum juga dimulai.
Tak ada seorang pun kecuali mereka berdua yang mampu menebak identitas asli kedua petarung tersebut. Byakuya juga memakai sebuah topeng serdadu kerajaan yang berhasil membuatnya terlihat seperti seorang samurai. Pria itu juga sengaja menguncir rambut kelamnya hingga ke atas kepala meniru sosok roh yang menghuni Senbonzakura miliknya.
Suara genderang mulai bertabuh mengiringi sikap kuda-kuda Byakuya ketika bergerak mengelilingi Ichigo sebagai pusatnya. Duel belum sepenuhnya dimulai namun suasana mencekam telah terbangun bahkan sebelum kedua shinigami itu beniat untuk mulai melancarkan serangan.
Insting Ichigo menajam saat ia merasa dirinya sedang diintai oleh seekor predator bertaring tajam. Ia menengadahkan kepala sebelum sempat mengehela napas berat untuk kesekian kalinya. Sejenak Ichigo menatap ke sekeliling, berharap bisa menemukan satu tempat dimana ia bisa berehat setelah pertarungan ini selesai ia akhiri nanti.
Ichigo akhirnya bisa menemukan sosok Rukia yang sedang memperhatikan dirinya di atas tribune paling tinggi dengan cahaya obor mengelilingi singgasananya. Ichigo hanya tersenyum samar dalam topeng. Selanjutnya, radiasi dari api yang mengelilinginya berhasil membuat tubuh Ichigo mulai memanas dan berpeluh. Setidaknya, peluh itu bukan kerena ia ketakutan, ia terbakar oleh suasana yang memang sudah diharapkan. Dia ingin menang!
Tidak menghabiskan sedetik saat Ichigo menoleh kembali kepada Byakuya, dan tiba-tiba saja sosok itu sudah lenyap dari pandangannya. Bola mata Ichigo membelalak tapi refleknya segera bekerja untuk menangkis serangan dari arah belakang tubuhnya. Bunyi pedang yang saling menggesekkan diri membuat suasana tegang semakin menguat daripada sebelumnya. Mereka yang menyaksikan olah pedang dan kecepatan kedua orang itu hanya mampu geleng-geleng takjub atau mengehela napas karena resah. Dalam keadaan normal, tak ada seorang pun yang bisa dengan tanggap menyadari serangan tak terlihat itu.
"Teknik yang kau gunakan sangat kuno, Byakuya."
"… Begitukah?"
Selanjutnya, mereka saling memisahkan diri dan mundur beberapa langkah. Pedang normal mereka bergetar sejenak, mungkin karena baik Ichigo maupun Byakuya sedang tidak menggunakan senjata mereka yang sesungguhnya. Bahkan katana itu tak cukup mampu menahan kekuatan mereka saat saling bertumbukan.
Tidak membuang waktu, Ichigo mencuri sisi kiri Byakuya dan secepat mungkin mengayunkan pedang, bermaksud menebas bahunya. Tidak semudah bayangan Ichigo saat Byakuya dengan sangat lihai menyingkir dari serangannya. Lantas, tanpa menunggu lagi, Byakuya menggunakan kecepatan geraknya untuk menyerang sisi belakang Ichigo saat pria hollow itu masih merentangkan tangan dalam posisi menebas. Tiupan angin seolah memberi tanda waspada kepada Ichigo saat ia terlambat menyadari bahwa Byakuya bisa sangat bergerak cepat meskipun tidak dalam mode bankai atau senkei-nya.
Ichigo gagal menghindari serangan itu, Byakuya menghunus lengan Ichigo dan meninggalkan bekas luka mengaga di robekan yukata yang kini ternoda oleh darah. Ichigo berjengit dan melompat mundur untuk mengantisipasi serangan berikutnya. Ichigo berdiri di sisi arena, cuatan api serasa membakar langsung kulit tubuhnya.
Byakuya tidak hengkang dari titik tengah arena pertarungan mereka, ia hanya melihat ketika Ichigo berusaha kembali menyerangnya. Byakuya menghindar ke samping dengan menghadiahkan sikutan keras di lumbal Ichigo. Pria bertopeng hollow itu terperosok saat keseimbangan tubuhnya kacau. Byakuya tidak menyia-nyiakan kesempatan, ia menahan tubuh Ichigo menggunakan kakinya kemudian menghunuskan pedang tepat di atas punggung Ichigo. Namun sayang, tawanannya itu dengan cepat berguling setelah berhasil menyikut betis Byakuya. Suara hantaman mata pedang yang menusuk lantai meraung keras saat katana Byakuya hanya berhasil membelah udara.
Ichigo menghela napasnya yang mulai terkikis. Byakuya terlihat santai dalam menghadapinya seolah pria itu tidak peduli dengan kemenangan atau kekalahan. Ichigo menyeringai di balik topeng tebalnya. Lawannya ini benar-benar kuat!
XXXXXXX
Bunyi pedang yang saling beradu membuat siapa pun berjengit ngeri saat mendengarnya. Duel itu telah berlangsung sejak tadi, tapi mereka masih bisa saling bertahan. Tidak ada satu pun orang yang berani masuk untuk menghentikan mereka, karena ini tidak terlihat seperti pertarungan simbolisme lagi, akan tetapi benar-benar pertempuran sengit guna memperebutkan singgasana kosong di sisi Rukia.
Sedangkan di pihak lain, gadis itu tidak bisa berpikir lebih jernih lagi ketika ia sadar pernah mengenal baik dua orang yang tengah bertarung mati-matian di depan sana. Rukia bukan gadis bodoh yang tak bisa menyadari bahwa dua sosok itu adalah kakaknya dan sahabatnya sendiri. Namun apalah daya, Rukia mana bisa dengan tak etisnya berlari menggunakan kostumnya yang berat itu untuk datang menemui mereka dan menghentikan pertempuran itu sebelum duel gila tersebut berhasil melayangkan satu nyawa.
Setiap ayunan pedang, hunusan, bahkan pukulan, mampu membuat Rukia menahan napas, menggigit bibir atau memejamkan mata seerat-eratnya. Bahkan dengan mata kepala Rukia sendiri, kini ia melihat kedua mata pisau itu saling menghunus bersamaan, mengarah ke leher masing-masing. Kedua mata Rukia hampir saja keluar jika saja tidak ada ledakan besar yang dengan tiba-tiba membuat seluruh arena pertempuran tertutup kabut hitam.
Rukia dan seluruh orang yang menyaksikannya kini panik. Padahal mereka berpikir bahwa gerakan tadi merupakan serangan terakhir yang akan menentukan siapa pemenang yang pantas mengambil posisi yang diperebutkan. Satuan penjaga keamanan segera mendatangi kepulan asap itu, mengelilinginya dan mengambil posisi siaga dengan pedang yang telah teracung siap di depan tubuh.
"Yare, yare…, tepat pada waktunya." Itu adalah nada bicara yang paling tidak ingin Byakuya dengar.
Urahara Kisuke—dalang kerisuhan itu tengah berdiri santai di antara Byakuya dan Ichigo yang masih saling menghunuskan pedang. Urahara berhasil menghentikan laju pedang tersebut menggunakan dua tangan kosongnya yang kini menyilang.
"Sudahlah Kurosaki… Kapten Kuchiki, buat apa kalian melakukan hal kekanakan seperti ini, heh?" Ichigo dan Byakuya segera menarik pedang mereka setelah Urahara mengendorkan cengkraman telapaknya di sana. Ia menatap Ichigo dan Byakuya secara bergantian kemudian mengesah.
"Urahara-san, kau mengganggu di saat yang paling tak tepat! Aku baru saja akan menghabisinya!" ujar Ichigo mulai gusar.
"Apa kepentinganmu berada di sini, Urahara Kisuke?" nada Byakuya terdengar jauh lebih kejam.
"Ayolah, bukankah lebih baik jika kita membicarakan hal ini dengan kepala dingin dan meminum secangkir teh yang hangat? Berhentilah bersikap terlalu kaku, Kapten Kuchiki, itu tidak cukup efektif menyelesaikan masalah ini," ungkap Urahara sembari memperbaiki letak topinya.
Byakuya mengalihkan perhatiannya dari Urahara menuju Ichigo yang tengah ngos-ngosan. Ia terbawa suasana dan perasaannya secara tak sadar. Sejujurnya ia tidak benar-benar ingin membuat duel mainan ini menjadi pertempuran sengit yang melelahkan. Ia hanya ingin menguji Ichigo, menilai seberapa besar tekad pemuda itu untuk bersanding di sisi adiknya. Ia tidak kaku atau kekanakan, karena jalan keluar pun telah tertutup untuknya. Byakuya hanya ingin membuat agar Ichigo seolah sedang merebut Rukia darinya di depan semua orang di sini sehingga syarat apa pun pasti bisa Byakuya ajukan untuk menebus kekacauan yang dilakukan Ichigo.
Itu rencana Byakuya, sebelum digagalkan oleh Urahara.
"Kau sudah mendengarnya sendiri, Urahara Kisuke. Kami tidak menemukan kesepakan apa pun tentang rencana pernikahan ini," jelas Byakuya yang dengan begitu tenang melepas topeng dari wajahnya.
Seluruh penonton terkejut hebat ketika mengetahui identitas asli pria berpenampilan mirip samurai itu. Mereka membatin, pantas saja pagelaran duel rekayasa tadi berlangsung sangat menakjubkan.
"Ya! Pernikahan! Soal pernikahan!" Urahara mendatangi Ichigo kemudian merangkul pundak pria bertopeng hollow itu seenaknya. "Kau tak perlu cemas, Kapten Kuchiki. Itulah tujuanku repot-repot datang kemari."
Ichigo melirik Urahara dengan mata yang aneh. "Kau tahu tentang pernikahan ini? Pasti kupingmu sangat besar, Urahara-san."
"Lalu," Byakuya mencegah obrolan ini dirusak oleh candaan Ichigo. "Apa yang bisa kau lakukan, Urahara Kisuke? Kuharap itu sepadan, karena kau telah berhasil merusak rencanaku."
Urahara berjengit, tapi dengan cepat ia meringis lagi. "Ya, Kurosaki bisa menikah dengan Kuchiki. Dan Kurosaki pasti akan memenuhi semua permintaanmu, Kapten Kuchiki. Aku sudah bisa memastikannya."
"Apa maksudmu?" Ichigo dan Byakuya menyahuti spekulasi itu dengan tingkat kesabaran minim secara bersamaan meskipun berlainan pemahaman.
Urahara berjalan menjauhi Ichigo dan mengambil posisi awal kedatangannya. "Kurosaki Isshin telah menyetujuinya, tapi dengan satu syarat. Nama Kurosaki harus tetap disandang Ichigo."
Ichigo terlihat makin gusar setelah merasa bahwa kehadirannya benar-benar tak dihargai sama sekali. Pemuda itu melepas tudung dan topeng hollow-nya kemudian menodong Urahara dengan teriakan lantang."Tunggu dulu! Kubilang tunggu! Apa yang kalian bicarakan, hah? Urahara-san, apa maksudnya ini?"
Riuh penonton semakin menjadi saat sosok Ichigo akhirnya terungkap. Benar-benar tak bisa dipercaya, pantas saja selama duel berlangsung mereka sempat merasakan sesuatu yang tak biasa. Ternyata para pelakon duel tersebut memang bukanlah shinigami biasa.
"Beraninya kau mempermainkanku, Urahara Kisuke." Mata Byakuya menyipit tajam, kerutan di dahinya makin dalam dan untuk kesekian kali Ichigo diabaikan.
Baru saja Urahara ingin menjelaskan semuanya, tapi suara jernih seorang wanita berhasil mendahuinya sebelum Urahara sempat membuka mulut.
"Tujuan Anda yang sebenarnya hanya ingin membungkam Dewan Central 46, bukan? Dengan memberikan apa yang mereka inginkan seharusnya sudah cukup menyelesaikan masalah Anda, Kapten Kuchiki." Matsumoto melompat ke atas arena saat seluruh api yang mengelilingi daerah itu berhasil padam oleh kekuatan Hyorinmaru milik Hitsugaya. "Mereka berdua akan menghasilkan keturunan seperti yang Anda harapkan. Anak pertama mereka akan mengambil nama marga Rukia tanpa harus mengubah nama Ichigo. Beres, 'kan?"
Isshin yang sudah berdiri di samping Hitsugaya pun turut menambahkan. "Bukankah peraturan bisa diubah jika hal itu memang diperlukan, Kuchiki Byakuya?"
Ichigo tidak mampu mempercayai apa yang ia lihat. "Rangiku-san? Ayah? Toushirou?"
Kurosaki Isshin akhirnya menampakkan wajahnya kembali setelah ratusan tahun lalu menghilang dari Soul Society. Mereka bertiga tampak cukup baik dalam berkomplot untuk menggagalkan sekenario buatan Byakuya. Jujur, duda Kuchiki itu tidak terlalu heran jika Matsumoto dan Hitsugaya mampu mengungkap rencananya, mereka adalah pemimpin devisi ke-10 yang bergerak di bidang inteljen (mata-mata).
Matsumoto tak lantas menjeda. Namun Urahara berhasil mencuri perhatian sebelum Matsumoto bisa meneruskan penjelasannya.
"Bukankah aneh jika di Gotei 13 memiliki dua orang Kapten Kuchiki? Akan lebih mudah membuat yang kita inginkan terwujud tanpa harus mengubah apa yang sudah ada sebelumnya. Anak pertama mereka akan menyandang nama Kuchiki sesuai permintaanmu dan anak kedua akan menyandang nama Kurosaki, begitu seterusnya." Urahara menjelaskan dengan senyum yang sangat lebar seolah puas.
"Tunggu! Apa-apaan ini? Apa yang kalian bicarakan, hah? Jangan memutuskan hal yang tidak-tidak!" Ichigo tambah panik, tapi tetap tidak dipedulikan mereka.
Byakuya mencerna gagasan itu kemudian mengangguk kecil setelah menjeda cukup lama. "Baiklah. Kedengarannya tidak terlalu buruk."
Semua tersenyum dan tentu saja kecuali Ichigo.
"A-APA?" pria bersurai jingga itu menoleh cepat kepada Byakuya. "Itu terdengar sangat buruk bagiku!"
Ichigo kembali diabaikan oleh Byakuya. "Baiklah, Urahara Kisuke, aku setuju dengan rencanamu itu," akhirnya mereka menemukan penyelesaian dari masalah ini. Selanjutnya Byakuya datang menemui Ichigo. Menatap pemuda itu penuh makna. "Pastikan kalian berdua mengerti akan tugas yang harus kalian penuhi setelah menikah nanti."
Ichigo melongo sejenak sebelum sadar untuk menampik tangan Byakuya yang tersulur menepuk bahunya. Ada gurat malu di wajah Ichigo. "Ja-jangan memutuskan hal seenaknya! Mana mungkin aku melakukan hal konyol seperti itu?"
Urahara berdehem sejenak kemudian merangkul Ichigo saat menyadari perubahan ekspresi Byakuya yang tak biasa—menyiratkan pilu yang berusaha ditekan sekuat-kuatnya.
"Kapten Kuchiki, serahkan sisanya kepadaku. Kau boleh beristirahat dan mengobati luka-luka kecil itu," ujar Urahara berusaha mengakhiri suasana aneh ini.
Ada satu hal yang mampu dipahami oleh mantan kapten itu, karena Ichigo masih terlalu emosi untuk menyadari raut aneh yang menyelubungi wajah lelah Byakuya. Akhirnya, masalah ini terpecahkan berkat bantuan beberapa rekan mereka. Dalam hati Byakuya bersyukur, karena Ichigo akhirnya bisa terpilih untuk mendampingi hidup adiknya di masa depan.
"Aku berhutang padamu, Urahara Kisuke."
Dan akhirnya Byakuya lenyap bersama dengan usainya kalimat itu. Urahara lantas mendorong tubuh Ichigo untuk turun ke bawah arena, memberi isyarat pada Ichigo untuk tidak memedulikan Isshin yang terus menatapnya dengan penuh keharuan.
"Apa yang kau lakukan, Urahara-san? Jangan mendorongku seperti ini. Aku harus mendapatkan penjelasan dari ayahku. Apa dia telah melakukan pertemuan khusus untuk merencanakan semua ini? Aku benar-benar tidak bisa menerimanya!"
Urahara mengesah. "Kurosaki, tidakkah kau melihat, seorang wanita tengah menunggumu di atas sana? Utamakan itu, setelah kewajibanmu selesai, kau bebas melakukan apa pun setelahnya."
Wajah Ichigo merona. Jadi, dialah si calon suami Rukia itu? Dan hal ini memang sudah direncanakan sejak awal? Oh, Ichigo bingung harus bertingkah seperti apa sekarang. Bahkan untuk melangkah pun ia lupa caranya.
"Nah, cepat temui dia, sebelum aku sendiri yang akan menggantikanmu, Kurosaki!" geram Hitsugaya menilai Ichigo terlalu lambat mengambil keputusan.
Ichigo meneguk ludahnya sebelum ia berhasil berdiri tegak, menghadap untuk menyongsong sosok Rukia yang terlihat jauh di depan sana. Dengan percikan kembang api yang meletus-letus di dalam dada, Ichigo akhirnya melangkah menuju ke pelaminan yang sejak tadi telah menunggunya. Benar, di sanalah Rukia telah menanti. Dan setelah semua yang terjadi, Ichigo tidak akan menyesali keputusan yang telah diambilnya sejak awal.
Iringan suara penonton dan riuhnya tepuk tangan membimbing langkah demi langkah Ichigo untuk menuju ke singgasana hatinya. Semakin jauh jarak yang terhapus di antara mereka, semakin Ichigo mengerti bahwa Rukia sama terkejutnya dengan dirinya sendiri. Ini cukup adil, batin Ichigo.
Dan saat ia berhasil menempati tahtanya itu, Ichigo telah berjanji demi pertemuan mereka di masa lalu, ia akan membahagiakan wanita di sampingnya ini selama-lamanya. Seumur hidupnya.
Tamat
CC : Maaf, terlalu panjang. Memang seharusnya multichapter. Renji tidak bisa dimunculkan, karena bisa jadi lebih panjang. Semoga bisa menebus kekesalan pembaca yang sudah menunggu Si Kelabu Senja.
