| TWOSHOOT | MIANHAEYO NAE SARANG | PART B |

Main Cast :

Choi Siwon
Kim In Hye (OC)
Kang In

Other Cast :

Lee Donghae
Kim Jongin

Summary :

Tuhan pasti telah menyimpan sesuatu yang lebih manis di balik sebuah kepahitan.

Tuhan memang tak selalu memberi apa yang kita harapkan tapi tuhan pasti memberi apa yang kita butuhkan.

Kehilanagan bukan akhir dari perjalanan seseorang tapi sebuah pelajaran berharga menuju masa baru.

Langsung aja yah^^
Happy Reading

"Kau mau sampai kapan seperti ini?. Menutup rapat-rapat bibirmu dan menyimpan semua bebanmu." Gadis manis itu hanya duduk terdiam di atas kursi roda yang didorong kekasihnya. matanya lurus menatap kosong pada jalanan di depannya. Bibirnya terkatup rapat tak berniat menjawab pertanyaan laki-laki di belakang kursi rodanya. Sejenak terdengar helaan nafas berat dari bibir Tuan muda itu. siwon menghentikan langkahnya dan dorongannya pada kursi roda In hye tepat di bawah pohon rindang pada taman rumah sakit. "Bukankah dulu kau selalu berkata jika kita harus saling terbuka. Tidak ada rahasia di antara kita dan kita harus siap untuk saling berbagi. Sesakit dan sesulit apapun itu.. Tapi mengapa kini kau yang mengingkari kata-katmu sendiri." Siwon berlutut tepat di depan In hye, kedua tangannya menyentuh jemari-jemari kekasihnya yang terdapat beberapa bekas luka sayatan tempo hari.

Dipandanginya setiap lekuk wajah manis kekasihnya. perlahan jemarinya terangkat untuk mengelus pipi gadis di hadapannya. Senyuman miris terukir kala merasakan betapa menyedihkannya tatapan gadis itu. dadanya bergemuruh kala kesekian kalinya gadisnya menitihkan air mata tanpa satu kata atau suara yang muncul dari bibirnya.

"Aku mohon bicaralah! Jika memang kau tak sanggup bercerita setidaknya ucapkan satu kata untukku. Atau setidaknya tunjukkan sedikit ekspresimu padaku." Namja bertubuh atletis itu tak mampu lagi membendung aliran air matanya. Benar-benar miris dan perih melihat orang yang sangat dicintainya seperti raga tanpa nyawa. Siwon tak sanggup lagi untuk memandang In hye,ia memutuskan untuk menundukkan wajahnya. menangis pada pangkuan kekasihnya. Dan isakan pun meluncur dari bibir namja tampan tersebut. tanpa terduga sebuah lengan terulur untuk mengelus surai hitam namja tampan—siwon. Saat merasakan sentuhan lembut pada kepalanya,seketika dia mengangkat kepalanya dan betapa terkejutnya dia. Tatapan menyesal dan merasa bersalah itulah yang ditangkap oleh indera penglihatan siwon. "Maaf!". Dan lebih tersentak lagi saat ia mendengar gumaman kecil dar bibir orang yang dicintainya. Air matanya semakin deras mengalir,senyuman kecil muncul kala itu. siwon menggelengkan kepalanya saat didengarnya satu kata itu terus muncul dari kekasihnya.

"Tidak, sayang..kau tidak salah dan aku tidak bermaksud menyalahkanmu. Aku hanya merasa khawatir dengan kondisimu. Yang hanya diam tanpa mau berbagi padaku ataupun keluargamu." Siwon menghapus air mata yang mengalir pada wajah In hye kemudian membawa gadis itu dalam pelukannya.

"Tapi aku memang bersalah. Mungkin saat ini aku belum bisa memberitahumu tapi cepat atau lambat kau akan mengetahuinya dan aku yakin saat itu kau akan sangat membenciku. Tapi setidaknya aku ingin meminta maaf padamu sebelum kau benar-benar membenciku. Dan aku ingin kau tahu,jika aku tulus mencintaimu." Lagi-lagi siwon tersentak karena kata-kata kekasihnya. "Apa yang kau bicarakan? Mana mungkin aku membencimu,dan aku tahu jika kau benar-benar tulus padaku,begitu juga denganku." nada bicara siwon terdengar sedikit emosi dan terkejut. Setelah berhari-hari orang di hadapannya ini menutup rapat bibirnya kini tiba-tiba berbicara seperti itu.

Dddrrtt dddrrttt dddrrrttt~~

Tiba-tiba siwon merasakan getaran ponsel dari dalam saku celananya. Sedikit mengerutkan dahi saat melihat nomor asing menelponnya. Namun tanpa menunggu lebih lama lagi siwon pun mengangkat panggilan tersebut.

"Yeobseoyo" sapa siwon pada seseorang yang menghubunginya.

"Kau sedang bersama kekasihmu bukan? Bisakah aku berbicara dengannya?" sebuah suara pria menyapa indera pendengaran siwon. Sedikit terkejut karena bagaimana bisa orang itu tahu kekasihnya sedangkan dirinya saja tak mengenal siapa penelpon itu.

"Siapa kau? Bagaimana... pria itu memotong ucapan siwon "Bagaimana aku mengenalnya? Kau tak perlu tahu yang pasti aku dan kekasihmu Kim in hye saling mengenal." Siwon tampak semakin kebingungan kala orang itu menyebutkan nama In hye. di pandanginya gadis bermata coklat itu sejenak lantas menyerahkan ponsel tersebut pada kekasihnya.

"Mwo?" tanya in hye yang menyiratkan kebingungan.

"Ada yang ingin berbicara denganmu." Belum sempat in hye bertanya siwon sudah memotongnya "Dan jangan tanya siapa karena aku juga tidak tahu dia siapa." Perlahan in hye menerima ponsel itu. matanya terbelalak dan seketika tubuhnya bergetar saat mendengar suara dari seberang sana. "Kangin?" batin in hye

"Kau pikir aku tidak tahu hubunganmu dengan tuan muda tampan itu hah?". "Bagaimana kau mengetahui nomor ini?" dengan cepat in hye bertanya meski tak dapat dipungkiri jika nada suaranya sedikit bergetar. "Hahahahah... tak sulit untukku mendapatkan informasi kecil seperi ini". tawa keras dan terkesan puas pun terdengar membahana dari seberang sana. Tubuh in hye semakin bergetar ketakutan dan mengundang kebingungan dari seorang Choi siwon.

"Aku tahu, kau belum menyelesaikan tugasmu. Ada apa gerangan dengan my killer doll?". beruntung in hye tak berhadapan langsung dengan kangin sehingga ia tak harus melihat seringai mengerikan dari pria itu.

"Berhenti memanggilku begitu" dengus in hye dingin. Siwon semakin bingung melihat kekasihnya.

'Siapa sebenarnya penelpon itu? kenapa raut wajah In hye berubah ketakutan seperti ini' siwon terus memandang gerak-gerik In hye sambil menggumam dalam hati.

"Wow! Ternyata kau tak suka dengan nama itu. lalu aku harus memanggilmu apa? Mesin pembunuh? Atau pembunuh berdarah dingin?. Hahahahah" lagi-lagi kangin tertawa keras mendengar respon In hye yang mulai tersulut emosi.

"Berhenti basa-basi dan cepat katakan apa maumu?' In hye berkata dengan tajam dan dingin,semakin membuat seringai di bibir kangin mengembang.

"Mudah saja. aku ingin kau membunuh namja yang ada di hadapanmu saat ini." "Shireo!" tolak in hye cepat. "Tidak masalah,tapi bersiaplah mendapat paket yang berisi potongan anggota tubuh dari adik dan ibumu tercinta."

"Brengsek kau! Jangan pernah menyentuh mereka! Atau kau mati!". In hye benar-benar tak lagi bisa menahan amarahnya. "Boleh saja,tapi setelah aku mengirim mayat kedua orang yang kau cintai. Dan satu lagi,hanya sebagai informasi untukmu. Ibu dan adikmu telah ada bersamaku." Semakin keras tawa yang In hye dengar dari lawan bicaranya.

"Dasar bajingan! Jangan sakiti keluargaku!" Amarah,rasa takut dan sedih bercampur menjadi satu dalam benak gadis manis itu. air matanya semakin deras mengalir bersama kerasnya teriakannya pada sang penelpon.

"Aku tidak akan menyakiti mereka jika kau mau membawa kekasihmu itu padaku. Aku akan membantumu untuk membunuhnya tepat di depan matamu. Aku tunggu kedatangan kalian besok di markas besarku,saat jam makan siang. See you baby". Dan sambungan telpon itupun terputus dengan diakhiri tawa kemenangan dari kangin. Perlahan ponsel siwon yang berada dalam genggaman In hye jatuh terhempas ke tanah taman rumah sakit.

"Ada apa? Siapa orang itu? dan siapa yang ingin menyakiti keluargamu?". Siwon yang sejak tadi hanya diam memandang In hye bingung pun mengangkat suara. "KIM IN HYE! JAWAB AKU!" siwon berteriak sambil mengguncang bahu In hye, saat yeoja itu tak juga menjawab kebingungannya.

"Jika memang itu bisa menyelamatkan bibi dan jongin,aku rela. Bunuhlah aku! lagipula kedua orang tuaku tak akan peduli,karena bagi mereka yang terpenting adalah menumpuk harta." In hye tersentak mendengar tanggapan siwon setelah ia menceritakan semuanya. Mulai dari kisah hidupnya setelah ayahnya meninggal hingga ia menjadi boneka pembunuh untuk bajingan bernama kangin itu. bahkan in hye juga telah menjelaskan tentang perintah kangin agar in hye membunuh siwon jika tidak ibu dan adiknya menjadi gantinya.

"Aku pikir kau mengerti aku lebih dari siapapun. Tapi seprtinya aku salah. Kau tak pernah mengerti apa-apa tentangku." Siwon mengalihkan pandangannya untuk mentap gadis di sisinya. "Apa maksudmu?" tanya siwon tak mengerti.

"Kau pikir aku bisa melakukannya? kau pikir aku sanggup melukai orang yang kucintai dan mencintaiku? Jika aku memang sanggup melakukannya,untuk apa aku menunggu mereka menyekap keluargaku. Jika memang aku sanggup,aku pasti sudah melakukannya sejak awal." In hye merasa marah dengan ucapan siwon yang terkesan putus asa.

"Mianhae! Tapi aku tidak ingin kau menderita lebih dari ini. aku tidak ingin melihatmu kehilangan keluargamu lagi." In hye membalas pelukan hangat siwon. Dan bergumam "Tapi aku tidak mau mohon mengertilah! Aku yakin pasti ada jalan lain". Siwon tersenyum seraya mengusap rambut In hye.

"Kau mau ke mana?" tanya siwon saat melihat In hye tidak lagi berpakaian pasien rumah sakit tersebut. "Apa kau lupa?hari ini aku harus menemui bajingan itu!". in hye menjawab tanpa memandang siwon di belakangnya. Ia terus sibuk mempersiapkan beberapa senjata untuk berjaga-jaga. "Apa kau sudah tidak waras? Kau mau menghadapi orang seperti dia seorang diri? Lagipula kau belum sembuh benar,kau masih harus dirawat di sini. Biar aku yang menemuinya,bukankah dia menginginkanku?". "Itu lebih gila dan bodoh! Jika kau yang pergi,itu sama saja kau bunuh diri" sahut in hye sedikit kesal.

"Kalau begitu,kita temui bersama." yakin siwon dan menyentuh pergelangan tangan In hye yang tengah sibuk mempersiapkan apa saja yang akan ia bawa serta dalam pertemuannya dengan kangin. In hye memandang siwon sejenak lalu mengangguk setuju. In hye berpikir jika ada partner akan lebih mudah menjalankan rencana yang telah ia susun semalaman.

Tampak seorang yeoja dan seorang namja berjalan menuju sebuah bangunan tua yang cukup besar di ujung jalanan pinggiran kota yang terbilang cukup sepi itu. kedua orang itu tak lain adalah Kim In hye dan Choi Siwon. mereka berhenti tepat di depan sebuah bangunan rumah tua. Di depan pintu masuk utama terdapat sekitar 4 orang namja bertubuh besar,bahkan lebih besar dari tubuh siwon. "Di mana bos kalian?" tanya In hye pada bodyguard dari kangin tersebut.

"Ikut aku!" perintah salah satu dari keempat bodyguard yang berdiri di sana. Tanpa banyak kata In hye dan Siwon pun mengikuti arah langkah namja itu. setelah sampai tepat di depan sebuah ruangan,namja itu mengetuk pintu tersebut. "Masuk!" perintah seseorang dari dalam ruangan. Perlahan bodyguard kangin membuka pintu tersebut dan diikuti dengan dua orang di belakangnya. Sebuah ruangan yang sepertinya bekas ruang tamu itu tampak sangat besar. Dan terdapat beberapa ruangan-ruangan lain yang nampak seperti kamar."Ternyata kalian benar-benar datang,aku sungguh terhormat." Seru kangin sambil menghampiri kedua tamunya—In hye&Siwon. "Di mana ibu dan dongsaengku?" tanya in hye tanpa basa-basi lagi,krena dia benar-benar sudah muak dengan orang di hadapannya. "Oh,,bersabarlah,sayang!" goda kangin seraya mengelus pipi gadis itu namun langsung di tepis oleh namja di samping gadis itu. "Jangan pernah kau sentuh dia". Tandas namja itu tajam. Kangin hanya tersenyum sinis mendengar kata-kata tajam dari seorang Tuan muda Choi. "Baiklah,ikut denganku!" tanpa kata mereka mengikuti kangin menuju sebuah kamar yang berada tepat di ujung ruangan besar tadi.

*other side*

". Kepung gedung di mana In hye dan Siwon masuk dengan hati-hati dan lumpuhkan penjagaan di setiap sudut gedung tersebut. namun jangan membuat pergerakan yang terlalu jelas. Dan tunggu instruksi selanjutnya." Seorang namja tampan tengah memberi instruksi pada pasukannya. Namja yang bernama lengkap lee donghae tersebut adalah seorang agen penyamaran polisi. Di usianya yang terbilang cukup muda itu,dia telah beberapa kali menorehkan prestasi dengan menangkap gembong-gembong mafia dan targetnya sekarang adalah orang yang tengah adik sepupunya temui—kangin.

Mata dark choconya fokus memperhatikan layar di hadapannya. Layar yang terhubung dengan sebuah kamera mini yang terpasang pada baju sepupunya—Choi siwon. kamera yang telah di sulap sedemikian rupa hingga bentuknya menyerupai sebuah kancing baju agar kemungkinan untuk diketahui sangat kecil. Diaterus memperhatikan setiap pergerakan orang-orang di dalam rumah tua itu. "Pasukan kita sudah berhasil melumpuhkan penjaga-penjaga di sekitar bangunan itu,Pak". Lapor salah satu anggota pasukan yang donghae pimpin. "Suruh mereka tetap pada posisi siaga,dan tunggu perintah selanjutnya. Seseorang yang berada tepat di samping donghae mencoba menyampaikan instruksi pimpinan mereka melalui sebuah alat komunikasi yang terhubung pada setiap anggota. Beberapa orang lagi tengah mengoperasikan sistem penyadap yang terpasang pada tubuh In hye dan siwon. "Apa ada pergerakan dari mereka?" tanya donghae pada anak buahnya. "Sejauh ini belum ada percakapan ataupun pergerakan yang mencurigakan,Pak. Masih sama seperti hasil rekaman kamera dari tubuh siwon." jawab orang tersebut.

"Eomma~~ jongin~~" seru In hye seraya mencoba menghampiri dua sosok di sudut ruangan yang sangat pengap itu. "Eitss,,tidak semudah itu,sayang!" seru kangin menyeringai sambil menghentikan langkah gadis manis itu lantas menghempaskan tubuh gadis itu pada salah satu bodyguardnya yang langsung menahan pergerakan tubuh in hye. siwon yang merasa geram pun akhirnya memutuskan untuk membantu kekasihnya namun sia-sia karena pada detik berikutnya dia juga ditawan oleh bodyguard kangin yang lain. "Lepaskan!" sentak siwon memberontak namun tidak membuahkan hasil.

"Oke..Oke..aku tidak mau berlama-lama lagi. kita langsung saja ke inti permainan."

"Apa maumu?" teriak In hye menanggapi ucapan kangin.

"Masih sama seperti apa yang aku katakan waktu itu, aku memberimu dua pilihan. Pertama, bunuh dia dan keluargamu akan kubebaslkan. Atau aku akan membunuh kedua keluargamu tepat di hadapanmu." Seringaian semakin jelas tercipta pada bibir bos mafia tersebut.

"Bajungan kau! Aku mohon lepaskan mereka, dan sebagai gantinya bunuh saja aku". siwon dan keluarga In hye hanya mampu membelalakkan mata terkejut mendengar ucapan In hye. "Kau gila!berhentilah berbuat bodoh In hye!" siwon sedikit emosi saat kekasihnya itu lebih memilih mengorbankan dirinya. "Ini semua demi kebaikan kalian" jawab in hye cukup keras. "Kau pikir kami bisa bahagia jika kau mati sia-sia seperti ini". dada siwon sedikit naik turun menahan gejolak emosi.

"Hmmmm...so sweet sekali. Tapi sayangnya aku tidak suka kisah seperti itu." ucap kangin sinis. Kangin mengeluarkan sebuah pisau tajam dari balik jaket panjangnya. "Ehmm...karena aku sedang berbaik hati,maka ku beri satu pilihan lagi. aku akan membantumu untuk membunuh namja yang sangat kau cintai ini. tapi dengan sangat perlahan agar kau bisa melihat betapa menderitanya ia sebelum ajal benar-benar menjemputnya". "Lakukan sesukamu! Dan cepat lepaskan mereka!" kini giliran in hye yang merasa bagaikan tersengat petir mendengar nada dingin dan datar dari kalimat kekasihnya. In hye menatap tajam pada namja tampan di sampingnya namun tak digubris oleh namja yang berstatus kekasinya. "Baiklah,sepertinya menyiksamu di hadapan orang yang mencintaimu itu lebih asik". Kangin menyeringai dan melangkah mendekat pada tubuh siwon yang masih tertawan oleh bodyguard kangin. "Bagaimana jika wajah tampan ini aku beri sedikit gambar dengan pisau ini." kangin menggoreskan mata pisau tajam itu pada pipi siwon sebelah kiri. Siwon meringis menahan sakit saat kulit mulusnya tergores pisau tajam. Mengeluarkan darah segar dari luka goresan tersebut. perlahan kangin menurunkan pisaunya menuju ke bagian perut siwon. "Dan bagaimana jika aku melakukan in..

"TEMPAT INI SUDAH KAMI KEPUNG,MENYERAHLAH DAN LEPASKAN SANDERA!"

Belum sempat kangin menghujamkan mata pisu itu pada perut siwon terdengar teriakan dari luar ruangan tersebut. In hye dengan cepat menendang kaki bodyguard itu tepat pada tulang keringnya hingga cengkeraman pada lengannya terlepas dan menghajar namja itu. begitu pula dengan siwon,tak sia-sia ia mengikuti latihan taekwondo selama ini jika bisa bermanfaat. Namun kangin segera tersadar dari keterkejutannya dan menawan siwon dengan menodongkan pisu tersebut tepat pada leher siwon.

BRAAKK~~

Sedetik kemudian terdengar suara dobrakan pintu dan muncullah beberapa anggota polisi khusus yang dipimpin oleh donghae. donghae masuk lebih dulu dengan pistol di tangnnya dan diikuti oleh beberapa anak buahnya. "Bawa mereka ke mobil" perintah donghae pada bawahannya untuk meringkus dua bodyguard yang telah tersungkur akibat serangan In hye dan Siwon. "Lepaskan dia!" sentak donghae sambil terus mengarahkan pistolnya pada sang bos mafia. "Hahahah...kau yang lepaskan senjatamu jika ingin tuan muda ini hidup". Donghae tak menggubris ucapan kangin dan terus melangkah dengan perlahan pada kangin. Dan kangin pun tak main-main dengan ucapannya,ia semakin mendekatkan pisau itu pada leher siwon. dan akhirnya donaghe memilih untuk melepaskan pistolnya dan meletakkannya secara parlahan di atas lantai,namun tatapan matanya tak sedetikpun beralih dari kangin. Hingga tiba-tiba kangin limbung karena serangan siwon yang memukul perut kangin dengan sikunya,meski itu juga sedikit melukai leher siwon. melihat situasi sedikit terkendali in hye memilih menghampiri kedua keluarganya lantas membebaskan mereka. Donghae dan siwon menatap tubuh kangin yang tergeletak tak sadarkan diri. Sedetik kemudian siwon berjalan menghampiri donghae dan memeluknya "Gomawo hyung,jeongmal gomawo" ucap siwon yang mengundang senyuman di bibir kakak sepupunya—donghae. setelah melepaskan pelukannya,siwon dan donghae tersenyum menatap in hye yang tengah berpelukan dengan keluarganya. In hye mengalihkan pandangannya pada namja yang sangat dicintainya,namun betapa terkejutnya ia saat melihat pergerakan kangin yang tak di sadari siwon. dengan cepat in hye berlari sambil meneriaki siwon "Wonie~~ awas!"

DORRR~~

Tubuh In hye limbung tepat ke dalam pelukan kekasihnya—siwon. sebuah peluru berhasil mendarat pada punggung kiri In hye dan tepat menembus jantungnya. sedetik kemudian terdengar kembali suara tembakan,namun kali ini berasal dari pistol donghae yang bersarang tepat pada tangan kangin,hingga pistol yang kangin genggam terlempar jauh. Donghae segera mengamankan kangin sebelum terjadi hal berbahaya lainnya. Siwon jatuh terduduk dengan posisi in hye dalm pelukannya. Ia menangis histeris karena melihat orang yang sangat berharga baginya terluka karena menyelamatkannya. "In hye ireona! Ireona! Jebal! KIM IN HYE !" siwon semakin keras menangis dan berteriak memanggil nama kekasinya. "W-wo...wonie!" siwon segera menatap sosok dalam dekapannya kala mendengar suara lirih memanggil namanya. "Sayang,bertahanlah! Sebentar lagi! aku mohon bertahanlah!" ujar siwon panik seraya menangkup kedua sisi wajah In hye.

"Mi..an..hae..jeo..ngmal mi..anhae wonie~" "Tidak,kau tidak salah".jawab siwon dengan gelengan kepala. Air mata siwon semakin deras mengalir melihat darah yang semakin banyak keluar dari tubuh kekasihnya. "Mianhaeyo nae sarang. Selamanya kaulah yang kucintai." Perlahan tangan in hye terangkat untuk menghapus air mata siwon. siwon hanya mampu menutup kedua matanya mencoba menikmati sentuhan kekasihnya. diraihnya tangan kekasihnya yang mengelus pipinya lembut. Di kecupnya tangan itu. "Bertahanlah sayang!" hanya itu yang bisa siwon gumamkan hingga kekasihnya kembali kehilangan kesadarannya.

"Hey! Jangan melamun terus". Seru seorang namja tampan pada seorang namja yang memiliki postur sedikit lebih tinggi darinya. Mendapat teguran sekaligus tepukan pada bahunya,namja yang lebih tinggi—Siwon, segera membuka kedua matanya lantas memandang sosok di sampingnya. Senyuman pun mengembang di bibirnya menampakkan dua lesung pipinya yang menambah ketampanannya. "Kau masih saja memikirkannya? Oh.. ayolah! Relakan kepergiannya, dia pasti bahagia di sana jika kau bisa merelakan kepergiannya". Nasihat namja di samping siwon yang tak lain adalah kakak sepupunya—lee donghae. siwon masih setia menampakkan senyumannya sebelum menjawab ucapan hyungnya. "Aku tahu,dan akupun sudah merelakannya." Jawab siwon seraya memandang pusara bertuliskan nama orang yang paling dicintainya—Kim In hye. Hari ini Donghae menemani siwon untuk mengunjungi tempat peristirahatan terakhir In hye. "Lalu, apa yang sedang kau lakukan di sini dengn mata terpejam?" tanya donghae bingung sekaligus penasaran dengan apa yang sepupunya lakukan. "Aku hanya sedang mengingat awal pertemuan dan akhir kebersamaan kami. Sekaligus merasakan kehadirannya bersama hembusan angin yang menyapaku. Aku sangat mencintainya bahkan lebih dari cintaku pada appa dan eomma. Karena dialah satu-satunya yang memandangku dari pribadiku bukan dari status atau materiku. Dia orang yang penting dalam perubahan hidupku,dan dia orang yang berhasil menambah warna baru dalam hari-hariku." Donghae tersenyum manis mendengar ucapan siwon. Dia memang tampak berubah dari bertahun-tahun lalu sebelum hadirnya In hye dalam hidup dongsaengnya. "Aku yakin, In hye pasti akan tersenyum bahagia jika melihatmu sekarang. Dia akan ikut bahagia jika melihatmu bisa melanjutkan hidupmu dan menemukan kebahagiaan baru." Donghae berkata seraya merangkul bahu dongsaeng di sampingnya, mereka tersenyum sambil menatap langit sore yang telah berubah menjadi langit malam dengan dihiasi sinar bulan dan ribuan cahaya bintang.

2 tahun berlalu sejak insiden penangkapan kangin yang mengakibatkan kematian seorang gadis yang sangat berharga bagi siwon. Kim in hye—kekasih siwon,meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit. Tembakan yang tepat mendarat pada punggung kirinya ternyata mengenai jantungnya. Di tambah dengan banyaknya darah yang luka In hye keluarkan mengakibatkan In hye kekurangan darah dan tak dapat bertahan. Siwon merasa seakan dunia berhenti saat itu. tak banyak yang bisa dilakukannya setelah kepergian orang yang sangat dicintainya tersebut. Dia sempat menyalahkan dirinya yang tak sanggup melindungi orang berharga dalam hidupnya. hingga sebuah mimpi mempertemukannya dengan In hye yang merasa begitu sedih melihat apa yang terjadi pada namjachingunya. Dan di dalam mimpi itu,In hye pun berkata dia akan bahagia jika siwon tak lagi menyalahkan dirinya atas kepergiannya dan memulai perjalanan baru dalam hidupnya.

"Ayo kita pulang!" ajak donghae yang mendapat anggukan dari namja di sampingnya. Siwon berjalan perlahan sambil menikmati hembusan angin yang begiru sejuk. Jauh dalam hatinya ia menggumamkan sebuah janji.

'Aku berjanji,aku akan memulai hidupku yang baru,menemukan kebahagiaan yang baru,tanpa sedikitpun membuang kenangan kisah yang pernah kita lewati. Dan tanpa sedikitpun mengubah posisimu dalam hatiku. Selamanya namamu akan tetap terukir jelas dalam hati dan ingatanku meski aku telah menemukan cinta baru. Saranghaeyo Kim in hye...jeongmal saranghae.'

Tanpa kedua namja itu sadari,jauh di atas sana ada sosok cantik tengah tersenyum bahagia melihat mereka dan mendengar janji terakhir siwon. 'Aku tunggu janji itu Choi Siwon'

Ketika takdir berkata lain.

Ketika harapan hanya tinggal angan belaka.

Ketika ada pertemuan pasti ada perpisahan

Sama halnya dengan ranting pohon

Di mana ada pangkal pasti terdapat ujung di sisi lainnya.

Seperti itulah hidup manusia.

Memiliki awal dan akhir yang telah tergariskan,tanpa sedikitpun bisa diketahui arusnya.

FIN~

heheheh..
gimana?
abal yah?
heheheh.. gomawo buat yng mau mampir baca..
yang mau coment juga makasih..
kalo ada sih..
heheheh