YOU're GIRL

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Chapter 2

Pairing : Naruto-Sasuke (Narusasu)

by : Rannada Youichi


Summary: Sasuke telah kembali ke Konoha. Namun apa jadinya jika ia tiba-tiba berubah menjadi seorang perempuan?

Sasuke terdiam, memikirkan langkah terbaik yang harus ia ambil. Ia akui bahwa dirinya memang bodoh, bermain-main dengan salah satu barang milik Orochimaru yang seharusnya ia tahu sangat berbahaya. Namun bagaimana lagi? Yang ia tahu, penyesalan tak akan merubah segalanya.


'Tsunade.'

Dalam hatinya menyebutkan satu orang yang ia yakini bisa memberikan solusi atas permasalahannya saat itu. Namun, bagaimana jika Tsunade menanyakan kronologis kejadian yang akhirnya membuat dirinya menjadi perempuan? Apakah dia siap berbohong? Padahal baru kemarin dia keluar dari penjara bawah tanah yang mengerikan. Apakah ia harus berkata jujur? Oh-itu sama saja dengan bunuh diri.

Ok, itu adalah permasalahan mudah. Uchiha mempunyai seribu satu alasan untuk melawan kata-kata Tsunade nanti. 'Jangan khawatir, Sasuke. Tarik nafas dalam-dalan, buat dirimu setenang mungkin dan aku yakin kau akan selamat,' hatinya berusaha menghibur.

Sasuke segera menyambar jubah hitamnya. Ia merasa berbahaya jika keluar hanya menggunakan kaos biru dengan celana putih selutut yang saat itu ia pakai. Ia belum siap jika semua orang di Konoha mengetahui apa yang terjadi padanya.


Sasuke telah sampai di depan pintu kantor Hokage. Dengan tidak sopannya, ia langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.

"Uchiha," geram Tsunade setelah Sasuke telah berada di hadapan sang Hokage.

"Apa kau tak tahu apa yang dinamakan tata krama, Uchiha? Seharusnya kau bersikap sopan padaku. Dengan sekali perintah kau bisa kujebloskan ke penjara," ancam Tsunade.

Sasuke terlihat tak peduli dan memang ia tak peduli.

"Aku ingin meminta bantuanmu," nada Sasuke terdengar tidak seperti orang yang meminta bantuan, malah terkesan dingin dan terdengar pemaksaan, seolah-olah mengandung makna 'Mau tak mau kau harus membantuku!'

Tsunade benar-benar tak tahu bagaimana cara berpikir manusia es di depannya. Dengan tak sopannya, si Uchiha masuk ke dalam kantornya dan setelah itu meminta bantuannya? Dengan nada memerintah pula? Naruto bahkan yang ia kira adalah orang yang paling tidak sopan di dunia ini bisa dikalahkan dengan ketidaksopanan bocah raven di hadapannya.

Sizune yang melihat tatapan menusuk Tsunade yang ditujukan pada Sasuke merinding. Ia salut pada Sasuke yang tak gentar sedikitpun di tatap dengan pandangan seperti itu. Sasuke malah membalas tatapan dingin Tsunade dengan tatapan yang tak kalah dingin.

Tsunade berjalan pelan menuju sang Uchiha. Namun, ada sesuatu yang menurutnya ganjil pada diri Sasuke.

"Aku tak pernah menyangka bahwa kau sependek ini, Uchiha," ejek Tsunade.

Sasuke mendongak. Memang tingginya hanya sampai di dagu Tsunade. Dan itu benar-benar membuatnya murka. Akhirnya, yang bisa Sasuke lakukan adalah mengambil 3 langkah mundur-

SRET

-Sasuke menarik tali jubah hitamnya membuat jubahnya lepas dan jatuh ke lantai.

Tsunade dan Sizune terpaku. Wajah yang cantik dibalut dengan kulit yang putih serta tubuhnya yang ramping membuat Tsunade dan Sizune tanpa sadar menganga. Mungkin mereka tidak akan mengenal sosok cantik di hadapan mereka sebagai Sasuke jika tak memperhatikan rambut model pantat ayamnya.

"Ada apa dengan dirimu?" tanya Tsunade yang telah sembuh dari keterkejutannya.

"Apa kau bisa merubahku menjadi seperti yang seharusnya?" tanya Sasuke tanpa menjawab pertanyaan Tsunade yang baru saja ditanyakan.

"Aku mungkin bisa membantumu jika kau mengatakan apa yang terjadi padamu hingga kau menjadi seperti ini."

"Aku menolak," sanggah Sasuke.

Tsunade menyeringai, "Menolak? Itu artinya kau harus bersiap-siap menjadi seorang perempuan untuk seumur hidupmu."

Sasuke bungkam. Ia belum siap untuk menerima kenyataan bahwa dirinya telah satu kaum dengan Tsunade ataupun Suzune. Ia masih ingin menjadi seorang laki-laki yang menikah dengan perempuan kemudian hidup bahagia selamanya.

"Baiklah, aku mengaku. Aku berubah menjadi perempuan setelah aku membuka sebuah kertas gulungan yang aku temukan di laci kamarku," ya-tak apalah. Setidaknya 50% dari kalimat yang diucapkannya memang benar, walaupun sisanya bohong.

Tsunade tampak tak percaya. "Kau berusaha membodohiku, eh-Uchiha? Memang siapa yang meletakkan kertas gulungan bodoh itu di laci kamarmu?"

"Aku juga tak tahu. Aku sudah mengatakan yang sebenarnya, kau percaya atau tidak itu bukan urusanku," tantang Sasuke.

Tsunade menggeleng-gelengkan kepalanya, frustasi.

"Baiklah, laporanmu ku terima," ujar Tsunade pada akhirnya. Ia tak mau menghabiskan pagi indahnya untuk berdebat dengan Uchiha yang ternyata sangat cerewet dan menyebalkan. Jika si Uchiha tak mau memberi tahukan apa yang sebenarnya terjadi, maka ia akan mencari tahu sendiri.

"Aku akan mencari tahu bagaimana cara menyembuhkanmu dari penyakit langkamu," imbuh Tsunade kemudian duduk di kursinya.

Sasuke mengangguk dan beranjak pergi.

"Eh-Uchiha."

Sasuke menoleh ketika Tsunade memanggilnya.

"Lebih baik kau menggunakan jubah hitammu, Uchiha. Aku tak akan heran kau tak sampai di tempat tinggalmu dengan selamat jika kau menggunakan baju seksimu," ejek Tsunade sambil menahan tawa.

Sasuke menatap Tsunade tajam. Ia segera berbalik dan mengambil jubahnya yang masih tergeletak di lantai. Tetapi, apa yang dikatakan oleh Tsunade ada benarnya juga. Ia memang harus lebih berhati-hati untuk menutupi kenyataan yang sebenarnya, bahwa saat ini Sasuke Uchiha adalah seorang perempuan.

Sasuke berjalan dengan tergesa-gesa. Ia berniat tidak akan menghadiri acara makan-makannya dengan alasan sakit atau apalah-terserah! Yang penting dia bisa menghindar dari orang-orang Konoha. Namun, sepertinya ia harus mengubur dalam-dalam niatnya ketika ia mendengar seseorang memanggilnya. Dan oh-sepertinya ia tahu siapa orang itu.

"Teme!" siapa lagi yang akan memanggilnya dengan sebutan 'Teme' kecuali Naruto?

"Hai, Teme! Kau dari mana?" tanya Naruto.

"Kantor Hokage," ucap Sasuke singkat.

"Kau tidak lupa dengan acara pagi ini kan, Sasuke?"

Deg.

Sasuke bingung harus menjawab bagaimana.

"Aku harap kau datang, Teme. Kau tahu, aku susah payah bangun pagi-pagi untuk mengerjakan laporan misi beberapa minggu lalu. Aku tak mau acara makan-makanku rusak karena laporan sialan itu," jelas Naruto.

"Nenek Tsunade kemarin mengancamku, jika aku belum menyelesaikan laporan misiku itu, dia tak akan memperbolehkanku pergi dan mengurungku di kantor Hokage untuk menyelesaikan laporanku. Huh, aku kan tak mau terkurung di saat penyambutanmu, Teme!" imbuhnya.

Sasuke terpaku. Ia tak pernah menyangka bahwa Naruto sampai berbuat seperti itu untuknya. Ia tahu, Naruto sangat sulit untuk bangun pagi. Namun, sekarang? Sepagi ini Naruto sudah berada di depannya dengan gulungan kertas di tangan kiri yang ia yakin adalah laporan yang baru Naruto kerjakan. Sasuke jadi tak tega untuk tidak menghadiri acara makan-makannya dengan alasan yang ia buat-buat hanya karena tak ingin semua orang mengetahui masalahnya.

"Ya, aku akan hadir," Sasuke akhirnya memutuskan.

Naruto tersenyum lebar. Sasuke bisa melihat kebahagiaan terpancar hanya dengan melihat mata biru Naruto.

"Kalau begitu aku pegi dulu ya, Teme," dan Naruto pun pergi. Sauke menghela nafas panjang. Tak apalah, sekali-kali membahagiakan sahabatnya.


Sasuke masih menatap pantulan cermin di hadapannya. Ia tak tahu bagaimana merubah dirinya yang ehm-cantik menjadi lebih manly. Rambut pantat ayamnya masih sama, mata onyx besarnya masih sama, hidungnya yang mancung masih sama, kulit putih agak pucatnya juga masih sama. Entahlah, ia merasa hanya bentuk tubuhnya yang berbeda. Namun kenapa ia merasa begitu cantik dan manis? Apa yang salah dengan dirinya?

"Tuk," Sasuke menoleh ketika ia mendengar jendelanya diketuk.

"Teme!"

"ARGH!"

Duak!

Pagi itu benar-benar pagi yang sial bagi Naruto. Ia tak menyangka Sasuke akan begitu marah hanya karena ia masuk ke kamarnya lewat jendela. Dan Naruto harus mengelus-elus pipi yang semakin membiru akibat pukulan dari Sasuke. Namun, setidaknya Naruto sedikit bersyukur ketika ia tak mendapatkan chidori yang mengarah kepadanya.

"Kau kenapa sih, Teme? Aku kan hanya ingin menjemputmu, tetapi kau malah memukulku," protes Naruto.

"Kau tak sopan. Kau kan bisa lewat pintu, Dobe!"

Jujur-Sasuke gelisah. Bagaimana jika Naruto sempat melihat sesuatu yang berbeda dengan tubuhnya? Ia begitu menyesal tadi pagi hanya menggunakan baju biru dan celana pendeknya saja.

"Ugh~," Naruto masih mengelus-elus pipinya.

"Oh, iya Teme. Kenapa kau menggunakan jubah? Inikan bukan musim dingin. Apa kau tak kepanasan?" tanya Naruto penasaran sambil memperhatikan jubah putih yang membalut tubuh Sasuke.

"Bukan urusanmu!" jawaban ketus dari Sasuke membuat Naruto kesal.

"Teme, aku tak menyangka kau sependek ini."

Duak!

Dan akhirnya Naruto harus merasakan pukulan Sasuke tepat di wajahnya untuk yang kedua kalinya.


Sasuke POV

"Hyuga Neji."

Dia menatapku dan aku yakin dia menyadari ada yang salah denganku. Mata byakugan miliknya memang sangat berbahaya.

"Hyuga, bisa berbicara denganku sebentar," ucapku padanya.

Kulihat dia mengangkat sebelah alisnya. Apa dia bingung karena tiba-tiba aku mengajaknya bicara? Kalau saja tidak ada hubungannya dengan hidupku, aku juga malas berbicara dengannya.

"Baiklah," dan kami keluar, tak kuhiraukan tatapan aneh dari orang-orang di sekitarku.

"Jangan kau mengatakan apa yang terjadi padaku kepada siapapun!" ucapku langsung pada intinya. Aku harap dia tahu aku tak suka berbelit-belit.

"Memang apa yang terjadi padamu?" tanyanya.

Tanpa sadar aku mendengus. Pura-pura tak tahu,eh?

"Kau tak usah berpura-pura, Hyuga."

Dia tertawa. Sudah kuduga dia gila.

"Aku tak boleh mengatakan kepada siapapun kalau kau berubah menjadi perempuan? Ini permintaan atau perintah?" tantangnya.

"Terserah kau mau menganggapnya apa. Aku tak peduli. Jika sampai ada yang tahu, aku jamin kau tak akan bisa menggunakan byakuganmu lagi," ancamku.

Dia menyeringai, "Baiklah, aku akan simpan rahasia ini baik-baik. Tetapi, aku butuh imbalan darimu."

'Dasar licik!' umpatku.

"Kau harus mau melakukan apa saja yang aku perintahkan. Tenang saja, hanya 1 kali perintah dariku."

Sudah kuduga, Hyuga sama liciknya dengan Uchiha.

"Baiklah, aku terima," aku tak punya pilihan lain kan?

End Sasuke POV

Normal POV

Sasuke segera duduk di samping Naruto sedangkan Neji duduk di samping Hinata dan membisikinya sesuatu. Sepertinya Neji meminta Hinata untuk tidak mengatakan hal ganjil pada siapapun tentang Sasuke. Hinata Hyuga memang sudah mengetahui rahasia Sasuke sejak Sasuke menginjakkan kakinya di depan pintu tempat mereka berkumpul. Setidaknya Sasuke harus bersyukur karena Hinata bukan tipe penggosip hingga ia tak membocorkan rahasia terbesarnya kepada orang lain.

"Teme," panggil Naruto.

"Kau tak apa-apa kan?" tanyanya khawatir.

Sasuke mendengus, "Kau kira aku kenapa, Dobe?"

"Habis kau diam saja, aku kan khawatir," ujar Naruto.

SRET

Sasuke mendongak ketika seseorang menyodorkan mangkuk nasi padanya.

"Ini, kau tampak pucat, Sasuke," ujar orang itu yang ternyata Kiba.

Sasuke menyernyit. 'Apa-apaan ini? Memang dia kira aku tak bisa ambil sendiri?' batinnya kesal.

"Kau makan ini saja, Sasuke. Daging bakarnya enak lho!" Sasuke menoleh, ternyata Sai. Apa baru saja Sai menawarinya daging bakar? Sasuke sedikit tak percaya.

Melihat Kiba dan Sai yang gencar memberikan perhatian pada Sasuke, membuat Naruto ikut-ikutan. Ia segera menyambar tomat di hadapannya.

"Ugh, Teme. Kau makan tomat ini saja. Bukankah kau suka tomat?" Naruto tak mau kalah.

"Dasar Naruto! Untuk apa Sasuke ke Yakiniku Q hanya untuk makan tomat? Sasuke, kau makan sup ini saja," tawar Lee.

Sasuke masih diam. Ia tak tahu harus melakukan atau mengatakan apa.

"Hey! Ini ada apa sih?" tanya Ino. Ia sedikit bingung mengapa Sasuke mendapatkan banyak sekali perhatian.

"Memangnya kenapa? Kau iri?" sembur Shikamaru yang membuat Ino memukul kepala nanas miliknya.

"Sasuke, hari ini ayo kita kencan," ajak Kiba tiba-tiba.

Uhuk!

Kiba menatap Sasuke dengan tatapan polos. Kiba, apa kau sadar apa yang baru saja kau katakan?

Bukan hanya Sasuke saja yang terkejut. Naruto, Lee, Sai, dan yang lainnya sama terkejutnya.

"Kiba, kau sudah punya Sai!" Lee memperingatkan.

Kiba tersenyum, "Aku dan Sai sudah memutuskan untuk menjadi teman dekat saja. Lagipula kami berjenis kelamin sama, aku laki-laki dan Sai juga laki-laki,"

"Tetapi masalahnya Sasuke juga laki-laki!" sembur Naruto.

"Ya, tetapi dia sangat cantik. Aku tertarik padanya," ujar Kiba.

Sasuke menatap tajam Kiba. Ia merasa bahwa laki-laki bermarga Inuzuka di hadapannya itu gila.

"Tetapi mana mau Sasuke kencan denganmu? Kau kan bau anjing!" ejek Shikamaru.

'Lebih baik kau kencan denganku saja, Sasuke!"

"Aku saja, akan kubawa kau ke manapun yang kau inginkan!"

"Tidak! Denganku saja. Aku punya semangat masa muda yang pastinya akan membuat kencan kita begitu indah!"

Bla-bla-bla..

'Glek'

Sasuke menelan ludahnya. Mereka begitu gencar untuk berkencan dengannya padahal yang mereka tahu bahwa ia laki-laki, bagaimana jika mereka tahu ia telah menjadi perempuan?

Sakura, Ino, Hinata, dan Tenten menatap kejadian di hadapan mereka dengan tatapan tak percaya. Mereka memang mengakui Sasuke Uchiha memang hebat. Sasuke Uchiha, laki-laki yang dapat menaklukan berjubel lelaki keren di Konoha dengan begitu mudah. Sedangkan mereka berempat? Oh-jangan tanya. Bahkan tak satupun diantara mereka yang pernah diajak berkencan.

"Maaf, tetapi Sasuke dan aku sudah berjanji akan kencan nanti siang," sebuah suara memperingatkan.

Semua mata mencari si sumber suara, ternyata Hyuga Neji.

Apa? Hyuga Neji?

Sasuke menatap Neji meminta penjelasan. Neji berjalan pelan menuju Sasuke dan kemudian duduk di samping Sasuke.

"Kemarin aku mengajak Sasuke kencan dan dia menyetujuinya," Neji mencoba menjelaskan.

Sasuke terkejut dengan pernyataan Neji. Otak jeniusnya berusaha mencerna apa maksud Neji membuat kebohongan seperti itu. Dan mata onyx nya tanpa sadar bertemu dengan mata tanpa pupil milik Hyuga Hinata. Walaupun memang Sasuke tahu bahwa dia bukanlah pembaca perasaan yang baik, namun ia yakin ada sedikit kecemburuan yang terlihat dari mata Hinata itu. 'Apa jangan-jangan semua ini untuk membuat perempuan Hyuga itu cemburu?' tanyanya dalam hati.

"Baiklah, karena sudah mulai siang, aku dan Sasuke pamit pergi dulu. Kalian bersenang-senanglah tanpa kami,"

Setelah mengucapkan kalimat itu, Neji menggandeng tangan Sasuke dan mengajak Sasuke pergi. Sasuke tak menyadari ada sepasang mata biru langit yang menatapnya dengan tatapan kecewa.

'Apa kau memang tak mencintaiku, Teme?' batinnya.

Sasuke dan Neji berjalan beriringan. Tak ada yang berniat untuk memulai percakapan. Neji dan Sasuke yang memang pendiam merasa nyaman-nyaman saja dengan keadaan seperti itu. Hingga Sasuke merasakan byakugan Neji tiba-tiba aktif.

"Ada apa?" tanya Sasuke.

Neji tak menjawab pertanyaan Sasuke. Ia masih mengaktifkan byakugannya mencari objek yang ia yakin baru saja bersembunyi di balik semak. Namun, tak ada. Padahal ia yakin ada seseorang yang mengawasi mereka.

"Ada apa?" tanya Sasuke lagi.

"Tidak ada apa-apa," jawab Neji. Jawaban seperti itu membuat Sasuke mendengus, 'Jawaban bodoh,' batinnya.

Neji masih diam di tempatnya. Masih memikirkan siapakah orang di balik semak itu. Satu hal yang ia yakini, orang itu bukan dari desa Konoha. Neji tersadar dari lamunannya ketika Sasuke mulai berjalan meninggalkannya.

"Sasuke, kenapa kau meninggalkanku?" protes Neji.

"Memang aku peduli?" balas Sasuke dingin.

Neji menatap Sasuke sebal. "Kau cantik, tetapi sayangnya kau lebih galak dari Tsunade-sama. Kau bukan tipe ku,"

"Jangan pernah mengatakan aku cantik dan aku tahu tipe mu, Hyuga Hinata kan?" dari nada Sasuke, Neji tahu Sasuke sedang mengejeknya.

"Darimana kau tahu?" tanya Neji. Tentu saja ia kesal, sahabat-sahabatnya saja tidak tahu perihal cintanya pada Hinata. Namun Sasuke? Baru tadi pagi pertemuan pertama mereka setelah Sasuke keluar dari penjara, tetapi Sasuke sudah tahu rahasianya.

"Kita mau kemana?" tanya Neji berusaha mengalihkan pembicaraan.

"Aku mau pulang."

"Hey, bagaimana dengan kencan kita?"

"Kencan saja dengan Hinata!" dan Sasuke meninggalkan Neji tanpa memperdulikan mimik protes yang jelas-jelas terlihat dalam wajah Neji.

Sasuke kemudian berjalan menuju apartemennya. Namun, tiba-tiba ia rindu dengan tempat latihannya yang sering digunakan tim 7 dulu. Akhirya dia memutuskan, untuk datang ke tempat itu. Daripada ia hanya mati kebosanan di kamarnya?

Sasuke sejak tadi tak menyadari, ada seseorang yang sejak tadi memperhatikannya. Seorang lelaki berambut merah dengan mata yang semerah rambutnya menatap Sasuke dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Bibir tipisnya membentuk sebuah seringai, ketika ia menyadari bahwa Sasuke Uchiha yang dulu pernah ia lawan telah berubah menjadi sesosok perempuan yang begitu cantik, membuatnya yakin untuk segera menjalankan rencananya.

"Sasuke Uchiha. Akan ku dapatkan kau," gumamnya dan kemudian menghilang.


Sasuke duduk di bawah pohon besar setelah ia sampai di tempat latihannya dulu. Ia ingat, pohon inilah tempat tim 7 beristirahat setelah latihan. Ia ingat di tempat itulah ia dan Naruto sering bertengkar, saling mengejek, saling melempar pandangan sebal, di tempat itulah Sakura sering mengajaknya berkencan, dan di tempat itulah Sasuke sering mendapatkan nasihat dari gurunya, Hatake Kakashi yang selama ini sudah ia anggap sebagai ayahnya.

"Kau kesini juga?"

Sasuke menoleh ketika ia merasakan seseorang duduk di sampingnya.

"Dobe, untuk apa kau kemari?" tanya Sasuke dingin. Ia tak menyangka akan bertemu dengan Naruto di tempat itu.

"Ya, aku memang sering kesini. Ini adalah tempat latihan favoritku. Lalu kau? Kenapa kau juga kesini?" tanya Naruto.

"Bukan urusanmu," jawab Sasuke ketus.

Naruto tersenyum lebar. Walaupun Sasuke begitu ketus dan dingin padanya, namun hanya dengan keberadaan Sasuke di sampingnya telah membuat dirinya begitu bahagia.

"Kau masih ingat kenangan tempat ini, Teme?"

"Hn," jawab Sasuke seadanya menutupi rasa sakit di perutnya. Entahlah-ia tiba-tiba merasakan perutnya begitu sakit.

"Kau tahu? Setiap hari aku kemari. Mengingat kenangan-kenangan tim 7 di tempat ini. Aku sangat bersyukur ketika kau akhirnya kembali, Teme,"

Sasuke tak mengatakan apapun. Tangannya meremas perutnya yang begitu sakit. Bibir bawahnya ia gigit untuk berusaha meredam rasa sakit di perutnya.

"Aku ingat ketika aku sering mengejekmu, menantang mu berkelahi. Aku juga ingat ketika kita-"

Naruto menoleh kepada Sasuke sebelum ia melanjutkan, namun betapa terkejutnya ketika ia melihat Sasuke terlihat kesakitan.

"Sasuke, kau kenapa?" Naruto menyadari ada hal yang aneh pada sahabatnya.

Sasuke menggeleng sambil bergumam, "Tak apa."

Sasuke berusaha berdiri. Tangannya masih memegang perutnya.

"Te-Teme!"

Sasuke menoleh. Ia melihat wajah Naruto yang memucat.

"I-itu," Naruto menunjuk jubah bagian belakang Sasuke. Di bagian belakang agak di bawah pinggang ada bercak merah yang ia yakin darah. Jubah putih Sasuke memperjelas semuanya.

Naruto menelan ludahnya dengan susah payah. Ia merasa pernah melihat Sakura mengalaminya. Apa jangan-jangan? 'Tidak! Sasuke walaupun berwajah cantik, tetapi ia laki-laki!' batinnya.

'BRUK,'

Naruto tersadar dari lamunannya ketika ia Sasuke limbung hingga terjatuh ke rumput dan pingsan tak sadarkan diri. Naruto menghilangkan berbagai pertanyaan yang tiba-tiba muncul di otaknya. Yang terpenting sekarang ia harus membawa Sasuke ke rumah sakit.

TBC

Hai! Akhirnya update!

Mungkin ada yang menanyakan kapan teman-teman Sasuke akan tahu yang sebenarnya tentang perubahan pada dirinya? Itu mungkin di chap depan. Jadi jangan bosan untuk baca ya…

Terima kasih banyak Nada ucapkan bagi senpai-senpai yang udah review.

Dan ini balasan review chap 1 yang nggak log in:

Guest (1) : Makasih udah suka. Aku juga suka banget sama Narusasu lho! Chap ini udah kupanjangin, semoga suka. Makasih ya udah review! Review lagi ya…

Guest (2) : Hehe, makasih udah bilang ini keren, jadi malu! Reaksi temen-temen Sasu ngeliat Sasu jadi cewek? Tentu saja heboh! Sasu kan jadi cantik,imut, ngegemesin, dll! Makasih udah review. Review lagi ya…

Na: Ini memang Narusasu. Jangan khawatir Sasuke tetep dingin, lama-kelamaan ia juga akan semanis wajahnya kok. Makasih udah review. Review lagi ya…

NN: Ini udah lanjut, makasih ya udah review. Review lagi ya…

Fihyeniie : Salam kenal juga! Ini udah ada lanjutannya kok. Makasih udah review. Review lagi ya…

Guest (3): Makasih ya udah bilang fic ini keren. Hehe…Di atas udah kudeskripsikan tentang fisik Sasuke saat jadi cewek. Saat ini Sasuke masih menggunakan model pantat ayamnya, biar tetap kelihatan cowok walaupun wajahnya nggak ngedukung itu. Doakan aja moga-moga suatu hari nanti Sasuke mau menerima dirinya dan mau dandan ala cewek pada umumnya. Makasih udah review. Review lagi ya…

Sekali lagi Nada ucapkan terima kasih buat semua yang mau baca cerita ini.

Jangan lupa review ya…

Rannada Youichi