YOU're GIRL

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Chapter 3

Pairing : Naruto-Sasuke (Narusasu)

by : Rannada Youichi


Summary: Sasuke telah kembali ke Konoha. Namun apa jadinya jika ia tiba-tiba berubah menjadi seorang perempuan?

Naruto terlihat gelisah. Sesekali ia menatap pintu kamar tempat Sasuke dirawat. Naruto begitu khawatir mengingat baru beberapa waktu lalu Sasuke memukul pipinya begitu keras. Namun sekarang? Sasuke bahkan tak sadarkan diri.

'Lama sekali,' batinnya tak sabar.

CEKLEK

Naruto segera berdiri dari posisi duduknya ketika ia mendengar pintu ruangan Sasuke dirawat dibuka.

"Bagaimana keadaan Sasuke, Tsunade-baachan," tanyanya.

Tsunade menghela nafas. Ia tak tahu harus menjawab bagaimana, bohong ataukah jujur?

"Tsunade-baachan, bagaimana keadaan Sasuke?"

"Aku pikir Sasuke telah sembuh total, namun perkiraanku salah. Dampak dari pertarungan kalian berdua melawan Madara membuat beberapa organ dalamnya mengalami kerusakan," Tsunade akhirnya memutuskan untuk berbohong. Ia pikir, inilah jalan terbaik. Tsunade merasa cukup kasihan pada keturunan terakhir Uchiha itu jika rahasianya terbongkar disaat dia belum siap menerima apa yang terjadi pada dirinya.

'Semoga Naruto percaya,' batin Tsunade.

"Nenek pikir aku percaya?" tanya Naruto setengah berteriak. Naruto merasa ia berhak tahu apa yang terjadi pada Sasuke. Sasuke sahabatnya, dan yang membuat Naruto kesal ketika Tsunade berusaha menutupi apa yang terjadi pada sahabatnya itu. Naruto tahu Tsunade baru saja mengatakan sebuah kebohongan padanya. Mengenal Tsunade lebih dari 3 tahun membuat Naruto tahu gerak-gerik Tsunade.

"Naruto, aku tak berbohong. Organ dalam Sasuke memang mengalami kerusakan karena-"

"Hentikan omong kosongmu, Baachan! Apa sulitnya mengatakan apa yang sebenarnya terjadi pada Sasuke? Aku sahabatnya! Aku berhak tahu apa yang terjadi padanya! Kau pikir aku percaya dengan semua bualan yang baru saja kau katakan padaku?"

Tsunade tersentak. Ia merasa pernah melihat tatapan yang sama dengan tatapan yang saat itu ia lihat dari mata biru langit Naruto. Tatapan milik kekasihnya dulu. Tatapan cinta yang dapat membuatnya merasakan nyaman di tengah gejolak perang yang dulu melanda ke 5 negara besar. Namun, kali ini ia melihat tatapan cinta itu dari sepasang mata biru laut di hadapannya.

'Apa kau mencintai Sasuke, Naruto?' tanya Tsunade dalam hati.

"Nenek Tsu-"

"Baiklah. Akan aku beritahu apa yang terjadi yang sebenarnya pada Sasuke."

Naruto menatap Tsunade lekat. Tak ingin satu kata pun terlewat dari pendengarannya.

"Sasuke mengalami menstruasi."

Deg.

Satu kalimat yang baru saja diucapkan Tsunade membuat mata Naruto terbelalak tak percaya. Apakah Tsunade berusaha membohonginya lagi? 'Menstruasi? Bukankah Sasuke laki-laki?'

"Mungkin kau bertanya-tanya mengapa hal itu bisa terjadi pada Sasuke. Saat ini, dan mungkin seterusnya, Sasuke bukan lagi seorang laki-laki. Dia telah menjadi seorang perempuan. Sasuke masih berusaha merahasiakannya, aku harap kau mengerti mengapa ia tak pernah menceritakan hal ini sebelumnya. Ia masih belum bisa menerima atas apa yang telah terjadi padanya."

Naruto menunduk. 'Sasuke, apa yang bisa aku lakukan untuk meringankan bebanmu?' batinnya.


Sasuke mencium bau obat-obatan di sekitarnya. Kesadarannya belum sepenuhnya pulih membuatnya berpikir cukup lama untuk mengetahui dimana ia saat itu berada.

"Akhirnya kau sadar, Uchiha."

Sasuke menoleh dan mendapati Tsunade dan Sizune berjalan mendekatinya. Saat itulah dia tahu bahwa dia saat itu sedang berada di rumah sakit.

"Apa yang terjadi padaku?" tanya Sasuke.

Tsunade menatap mata onyx milik Sasuke. Entahlah, ia masih bimbang apakah lak-eh perempuan di hadapannya ini akan siap menerima kenyataan yang sebenarnya. Tsunade khawatir jika Sasuke akan nekat bunuh diri jika tahu semuanya.

"Sebenarnya apa yang terjadi padaku?" tuntut Sasuke membuat akhirnya Tsunade memutuskan untuk memberi tahu pasiennya itu.

"Kau mengalami menstruasi pertamamu," tutur Tsunade yang langsung membuat Sasuke mendelik tak percaya.

"Ap-apa maksudmu?" tanya Sasuke. Dalam hatinya ia berharap beberapa detik yang lalu ia salah dengar. 'Mengalami menstruasi? Eh-jangan bercanda!'

"Kau mengalami menstruasi, Uchiha. Kau mengalami hal yang biasa perempuan dapatkan setiap bulan. Harus kau ketahui bahwa organ reproduksimu ternyata sepenuhnya telah berubah menjadi organ reproduksi perempuan, bahkan aku tak menemukan hormon laki-laki dalam tubuhmu. Kupikir suatu hari nanti pun kau bisa hamil."

Sasuke menunduk dengan pikiran berkecamuk. Ia benci. Benci! Benci dengan keadaan yang memaksanya untuk menerima semua kenyataan bodoh yang harus ia jalani saat ini, besok, besoknya lagi, bahkan selamanya.

"Uchiha, mungkin ini berat. Tetapi aku harap kau bisa menerimanya," nasihat Sizune.

"Tidak adakah jalan lain untukku menjadi Uchiha Sasuke yang dulu?" tanya Sasuke putus asa.

Tsunade menggeleng membuat Sasuke kembali menunduk.

"Apakah kau mendapatkan kertas gulungan itu dari Orochimaru?" tanya Tsunade. Pertanyaan Tsunade itu tanpa sadar membuatnya meremas selimut putih yang digunakannya. Ia menyesal, sungguh! Kenapa ia sebodoh itu dengan mencuri kertas gulungan yang ia tak tahu apa isinya? Dimana Sasuke Uchiha yang penuh perhitungan dalam bertindak?

"Jika memang iya, maka kau akan terjebak dalam wujud perempuan untuk selama-lamanya. Aku mendapatkan informasi dari salah satu tetua Konoha, bahwa kertas gulungan itu adalah kertas gulungan milik klan Yogure yang menjadi pengkhianat Konoha pada masa pemerintahan Hokage ke 2. Mereka menggunakan jurus dari kertas gulungan itu untuk melakukan penyamaran jika melakukan penyusupan atau memata-matai aktivitas di Konoha dengan merubah wujud dari laki-laki ke perempuan dan sebaliknya. Namun, satu kelemahan dari jurus itu adalah bahwa jika seseorang sudah berubah menjadi wujudnya yang baru, maka dia tak bisa merubah menjadi wujudnya yang lama kecuali dengan meminum darah saudaranya sendiri. Untuk itulah jurus dalam kertas gulungan itu menjadi salah satu jurus terlarang.

Dan kau Uchiha, kau bukan dari klan Yogure, jadi kau meminum darah siapapun tak akan bisa mengembalikanmu ke wujudmu semula. Dan satu fakta yang tak bisa kau bantah, bahwa tak ada satupun klan tersebut yang masih hidup. Mereka semua telah tewas ketika melakukan pemberontakan dengan Konoha," Tsunade menjelaskan.

"Namun aku tak tahu bagaimana Orochimaru bisa mendapatkan kertas gulungan itu," imbuh Tsunade.

Sasuke diam. Memikirkan semua itu hanya membuatnya ingin mati saja. Ia yakin jika Naruto tahu apa yang sedang ia pikirkan saat itu, ninja berambut pirang itu akan membujuknya habis-habisan agar menghilangkan pikiran buruk itu. Ya-Naruto pastinya akan melakukan segala cara untuk membuatnya tetap hidup dan-

Oh, tiba-tiba Sasuke teringat satu hal. Bukankah orang yang terakhir kali bersamanya sebelum ia pingsan adalah Naruto?

"Apa Naruto tahu apa yang terjadi padaku?" tanya Sasuke khawatir.

Tsunade mengangguk ragu. Sasuke meremas rambut ravennya-frustasi.

"Kenapa kau harus memberitahu dia? Bukankah kau sudah berjanji untuk merahasiakannya dari siapapun?"

"Naruto yang kau kenal sekarang bukanlah Naruto yang kau kenal dulu, Uchiha. Saat ini dia lebih cerdik dari perkiraanmu. Aku sudah berusaha menutupinya, tetapi dia tak percaya dan bahkan membentakku. Lagipula, memang sudah saatnya dia tahu semuanya. Dia sahabatmu, Uchiha dan dia berhak tahu," ucap Tsunade.

Sasuke tak membalas, ia tak bisa membayangkan bagaimana jika ia bertemu dengan Naruto nanti.


Naruto berjalan riang di koridor rumah sakit. Ia genggam seikat bunga untuk diberikan kepada Sasuke. Walaupun ia yakin 99 persen bunga yang ia berikan kepada Sasuke pada akhirnya akan berakhir di tempat sampah.

"Naruto, ada perlu apa kau kemari?" tanya Sizune ketika berpapasan dengan Naruto.

"Menjenguk Teme," jawabnya sambil menunjukkan seikat bunga yang dibawanya.

"Sasuke Uchiha maksudmu? Dia sudah pulang kemarin malam. Tsunade-sama sudah mengizinkannya pulang karena keadaan Sasuke baik-baik saja. Memangnya kau belum bertemu dengannya, Naruto? Bukankah kalian bertetangga?" tanya Sizune.

Naruto sontak menggeleng. Ia yakin Sasuke tidak pulang ke apartemen mengingat tadi malam ia lihat lampu apartemen Sasuke mati sejak sore. Lalu kemana Sasuke?

"Aku pergi dulu ya, Naruto. Ada tugas dari Tsunade-sama yang harus aku kerjakan,"pamit Sizune yang dibalas anggukan lemah dari Naruto.

'Kemanakah kau, Sasuke?'


Selama lebih dari 3 jam Naruto duduk di depan pintu apartemen Sasuke. Ia menunggu Sasuke pulang, tetapi nyatanya jerih payahnya nihil. Bahkan tak ada tanda-tanda Sasuke akan datang ke apartemennya itu. Akhirnya Naruto memutuskan untuk mencari Sasuke sendiri. Padahal, ia sudah menggunakan jurus seribu bayangan untuk mencari keberadaan Sasuke.

Naruto mencari Sasuke di Ichiraku, di tempat biasa mereka latihan, bahkan di kompleks Uchiha. Namun, ia masih belum menemukannya. Jujur-ia khawatir. Kekhawatirannya didasarkan pada keadaan Sasuke saat itu. Walaupun ia tak tahu dan tak bisa membaca bagaimana perasaan Sasuke tiap harinya, namun ia yakin Sasuke dalam kondisi tidak baik.

Naruto merasa sedetik yang lalu jantungnya tak berdetak ketika ia melihat orang yang dicarinya ternyata sedang duduk di tepi danau dengan kedua tanganya yang memeluk lututnya. Ada sedikit keraguan untuk mendekati si Uchiha. Ia takut, Sasuke akan lari darinya.

"Sasuke," panggil Naruto lirih.

Laki-laki yang saat itu sedang menatap danau dengan kedua mata onyx nya tersentak ketika ia dengar seseorang memanggil namanya.

"Naruto," dan satu nama terlontar dari bibirnya. Sasuke sontak berdiri dan beranjak pergi namun kalah cepat dari Naruto yang langsung menarik tangan Sasuke dan mendekap Sasuke ke dalam pelukannya. Sasuke memberontak, namun Naruto tak menyerah. Ia kuatkan dekapannya yang membuat Sasuke tak berkutik. Sasuke mau tak mau harus mengakui bahwa Naruto bukanlah sosok lemah yang ia lihat dulu. Sosok lemah dulu yang sering ia hina kini telah menjadi sosok yang luar biasa.

"Sasuke, aku mohon. Jangan menghindariku," pinta Naruto yang membuat Sasuke berhenti berontak.

"Jangan menghindariku, Sasuke. Jika kau ada masalah kau bisa mengatakannya padaku. Kau bisa menjadikanku pelampiasan atau alat yang dapat membuatmu melupakan masalahmu. Itu cukup Sasuke, yang penting kau tak menghindariku!" tutur Naruto lemah. Dalam hatinya ia cukup kecewa dengan Sasuke yang tak mau bersikap terbuka padanya, padahal dirinya sudah menganggap Sasuke lebih dari sahabatnya sendiri.

"Kau tidak tahu posisiku, Dobe. Kau tak mengerti perasaan-"

"Untuk itulah buat aku mengerti!" bentak Naruto yang semakin mempererat pelukannya.

"Teme, aku tahu mungkin aku bukan siapa-siapa bagimu. Tetapi asal kau tahu, bagiku kau adalah orang yang paling berarti bagiku."

Sasuke terhenyak. Ia tahu bahwa dirinya menjadi salah satu dari sekian banyak orang yang berarti bagi Naruto, tetapi mendengar posisinya yang paling berarti bagi pemuda berambut kuning itu membuatnya merasa tak pantas. Selama ini ia menyadari bahwa dirinya adalah orang yang menyebalkan, hingga Naruto memanggilnya dengan nama Teme. Tetapi ia tak pernah menyangka bahwa dibalik nama panggilan Teme ia menjadi yang paling berarti.

"Sasuke, apa kau tak pulang sejak tadi malam?" tanya Naruto khawatir dan ia lepaskan pelukannnya pada Sasuke.

Sasuke mengangguk. Ia memang tidak pulang sejak keluar dari rumah sakit. Ia belum siap jika harus bertemu dengan Naruto. Bahkan ia rela tidak tidur hingga pagi menjelang di tepi danau.

"Baka! Kenapa kau bisa sebodoh itu! Berarti kau belum makan?"

Ok-Naruto sudah keterlaluan. Ia baru saja memanggil salah satu anggota klan Konoha yang terkenal selalu mewariskan kejeniusannya pada setiap generasi dengan sebutan baka?

"Sasuke! Jadi benar kau belum makan?" tanya Naruto, kali ini dengan nada setengah membentak. Sasuke lagi-lagi mengangguk.

"Kalau begitu ayo kita makan mie ramen di Ichiraku. Sekalian kau mentraktirku."

Sasuke hanya dapat memutar kedua mata onyx nya mendengar kalimat yang baru saja dikatakan oleh Naruto. Ia tak heran, bukankah Uzumaki Naruto memang selalu seenaknya?


"Iya, tetapi aku yakin ini memang berita terkakurat."

"Tetapi mana mungkin Sasuke-kun menjadi perempuan?"

"Kenapa tidak mungkin? Bahkan aku pikir selama ini Sasuke memang perempuan. Kulit putih pucat, mata onyx besar, bibir tipis, dan lainnya yang bahkan lebih indah darimu."

'PLETAK!'

Sasuke dan Naruto masih mematung di depan Ichiraku. Sasuke mendengar dengan jelas beberapa orang membicarakannya di kedai ramen kesukaan Naruto. Ia mendengar suara Lee, Neji, Tenten, Ino, dan masih banyak lagi. Ia ragu untuk masuk, namun Naruto malah menyeretnya ke dalam.

Semua pengunjung yang ternyata teman-teman seangkatan mereka mematung di tempat dengan mata terbelalak lebar dan mulut mengaga menandakan begitu terkejutnya mereka. Dalam hati mereka takut jika Sasuke akan menghabisi mereka dengan mata sharingannya. Mereka yakin Sasuke tahu mereka baru saja membicarakannya.

Namun ternyata apa yang mereka kira ternyata tidak terjadi. Sasuke tidak mengaktifkan sharinganya, ia malah duduk di kursi kosong dan memesan satu mangkok ramen ekstra tomat. Hal itu membuat mereka semua lega, setidaknya mereka masih bisa bernafas.

Lee menatap Sasuke takjub, begitu juga yang lainnya. Sasuke memang sangat cantik, bahkan mengalahkan Tsunade yang terkenal paling cantik se-Konoha. Tatapan ketus dan tajam dari mata onyx Sasuke juga menjadi salah satu daya pikat untuk menarik perhatian. Selain itu, Sasuke juga terkenal jenius. Hal itu membuat Sasuke terlihat begitu sempurna di mata mereka, membuat mereka begitu menginginkannya.

Sasuke memang merasa bahwa teman-temannya memperhatikannya. Dan jujur hal itu membuatnya merasa tak nyaman.

"Sasuke, ehm… Maukah kau kencan denganku hari ini?" tanya Kiba membuat semua orang di kedai itu terbelalak tak percaya, "Ini bukan situasi yang tepat, baka!" bentak Ino.

"Tidak bisa, Sasuke akan pergi kencan denganku!" yang lain ikut-ikutan.

"Siapa juga yang mau kencan denganmu, Lee! Sasuke itu pantasnya denganku!"

"Denganku!"

"Denganku!"

"Denganku!"

BRAK!

Semua mata menoleh ke sumber suara. Sasuke dengan mata onyx nya menatap mereka tajam. Nafasnya memburu, terlihat sekali dia sedang kesal. Mereka yakin mereka tak bisa selamat kali ini.

"Selamat siang!"

Semua menoleh. Di depan kedai terlihat seorang laki-laki tampan berambut hitam dengan mata semerah darah menatap mereka dengan senyum mengembang di bibirnya-tampan. Sasuke-ia merasa ia mengenal orang itu. Namun dimana? Ia tak tahu.

"Selamat siang!" sapanya lagi.

"Siang!" balas mereka serentak.

"Boleh aku makan disini? Apa masih ada kursi kosong?" tanyanya.

Ino mengangguk antusias. "Ini, masih ada kursi kosong," jawabnya sambil menunjuk kursi kosong di samping Sasuke. Mereka harus bersyukur dengan kedatangan orang asing itu, setidaknya dapat menunda Uchiha Sasuke yang beberapa saat lalu hampir mengamuk.

"Oh, iya. Kau siapa dan untuk apa kau kemari?" tanya Naruto.

"Aku datang dari Desa Hujan. Aku adalah salah satu pengawal tuan Dogure yang saat ini sedang melakukan pertemuan dengan Hokage ke 5," jawabnya. "Oh, iya. Namaku Sura Hazumi," sambungnya.

"Salam kenal. Aku Uzumaki Naruto! Dan cia-citaku adalah menjadi seorang Hokage!" serunya lantang. Dan kemudian dilanjutkan Lee, Neji, dan yang lainnya.

"Eh, maaf. Kalau boleh tahu namamu siapa?" tanya Sura kepada perempuan di sampingnya yang sejak tadi hanya diam. Perempuan itu-Sasuke, tak menjawab.

"Ehm, dia Sasuke Uchiha. Maaf ya, Sura! Dia memang agak pendiam. Bahkan kata-kata yang keluar dari bibirnya kebanyakan kata-kata dingin yang menyakitkan. Selama aku mengenalnya, tak pernah dia sekalipun memujiku," jelas Naruto panjang lebar.

Sura terlihat tertarik, "Benarkah? Jadi kalian sudah kenal lama, ya…?"

Naruto mengangguk, "Ya, kami adalah satu tim bimbingan Kakashi Hatake. Kami berdua dengan Sakura-chan adalah anggota tim 7. Kami-"

"Cukup Naruto!" bentak Sasuke.

Bukan hanya Naruto yang terkejut mendengar bentakan Sasuke.

"Apa kau sadar kau telah mengatakan banyak hal tentangku kepada orang yang bahkan baru kau kenal?" tanya Sasuke sarkatis.

Naruto menatap Sura dengan pandangan minta maaf. Ia merasa Sasuke sudah kelewatan. Jika memang Sasuke tak suka, bukankah akan lebih baik dikatakan secara baik-baik?

"Maaf, Sura. Sasuke memang tertutup. Ia tak suka jika banyak orang mengetahui tentang dirinya. Aku harap kau mengerti," ujar Naruto.

Sura terseyum,"Tak apa. Lagipula aku memang lancang. Tidak seharusnya aku tadi mendengarkan banyak hal tentang kalian. Aku sadar aku hanya orang baru," kata Sura sopan yang membuat Naruto merasa lebih tak enak.

"Baguslah jika kau merasa seperti itu. Akan lebih baik kau segera menghabiskan makananmu dan pergi jauh-jauh dari Konoha."

Kata-kata yang diucapkan Sasuke baru saja membuat seisi kedai terperanjat.

Sejak ia masuk ke kedai, ia memang sudah menyadari bahwa Sasuke Uchiha selalu memperhatikannya, seolah-olah mencari tahu tentang dirinya. Dalam diam, Sura menyeringai, 'Menarik,'

"Kalau begitu, aku pergi dulu. Semoga kita bisa bertemu lagi!" dan setelah mengucapkan kalimat itu, Sura pun pergi tanpa menghabiskan ramennya.

"Sasuke, apa yang terjadi padamu?" tanya Naruto geram. Sasuke memutar bola matanya dan berdiri beranjak pergi.

"Walaupun aku menjelaskan, kau tak akan mengerti."

BRUK

"Ugh~" Sasuke sedikit merintih ketika ia rasakan Naruto menghempaskan dirinya di tembok dan mengunci pergerakannya dengan kedua tangannya.

"Naruto, jangan kasar-kasar pada Sasuke!" seru Kiba.

Naruto tak peduli, ia masih menatap mata Sasuke tajam.

"Sasuke, katakan apa alasanmu!"

SING

Sasuke mengaktifkan sharingannya membuat Naruto sontak mundur. Dan kesempatan itu digunakan oleh Sasuke untuk pergi dari tempat itu.

"Sial!" umpat Naruto.


Sasuke berjalan tak tentu arah. Ia merasakan kesal yang amat sangat pada Uzumaki Naruto. Sasuke sangsi apakah suatu hari nanti Naruto bisa menjadi Hokage jika masih sepolos itu? Apa Naruto tak berpikir hal fatal yang bisa diakibatkan oleh perkatannya? Dengan mudahnya Naruto memberi tahukan urusan pribadinya pada orang yang bahkan baru saja dikenalinya.

"Uchiha."

Deg.

'Dia-kenapa dia masih hidup?'

"Lama tak berjumpa, Uchiha Sasuke."

Semua sama, hanya matanya yang berbeda. Dimana mata coklatnya? Kenapa berubah menjadi berwarna merah?

SRET

Pergerakan yang begitu cepat membuat Sasuke lagi-lagi terkejut. Sosok itu telah berada di depannya.

"Sasori," gumam Sasuke dengan menatap mata merah di depannya yang lebih tinggi darinya. Sasori menyeringai, "Lama tak berjumpa, Sasuke. Dan kulihat sekarang sepertinya ada yang salah dengan dirimu. Jadi benar kabar angin yang beredar, Uchiha Sasuke telah berubah menjadi perempuan?"

Sasuke menelan ludahnya dengan susah payah. Kemungkinan terburuk baginya adalah semua orang tahu apa yang terjadi padanya.

"Oh iya, Sasuke. Kau tak menanyakan untuk apa aku datang kemari?" tanya Sasori. Mata merahnya masih menatap mata onyx Sasuke.

"Apa itu penting, eh-Sura Hazumi?"

Sasori menyeringai. Ia sudah menduga Sasuke menyadari ada yang aneh dengan Sura Hazumi. Dan ternyata terbukti, karena Sura Hazumi adalah Sasori.

"Kau memang jenius, sama seperti Itachi. Padahal sudah susah payah aku menyamar menjadi seorang Sura Hazumi, tetapi sepertinya gagal." ujar Sasori.

"Cih, kau mengatakan tadi sebagai penyamaran? Bahkan orang paling bodoh pun tahu bahwa itu kau, Sasori."

Sasori menyeringai, "Secara tidak langsung kau mengatakan bahwa teman-temanmu itu bodoh, Sasuke."

"Memang benar," perkataan Sasuke membuat Sasori tertawa.

"Sepertinya kau sedang tak ingin berbasa-basi. Kau benar-benar mirip Itachi." Sasuke mendengus.

"Aku kemari untuk menawarkanmu untuk masuk ke dalam Akatsuki."

Mata onyx Sasuke sontak terbelalak. Akatsuki? Masih adakah organisasi Akatsuki?

"Mungkin kau heran bagaimana mungkin Akatsuki masih ada padahal pemimpin kami dan hampir semua anggota Akatsuki telah tewas. Tetapi, masih ada aku dan Kabuto. Dan disaat masih ada aku dan Kabuto, maka Akatsuki akan tetap ada," Sasuke tak heran jika dibalik Akatsuki sekarang, Kabuto berperan cukup besar.

"Masuklah ke dalam Akatsuki, Sasuke. Bukankah kau haus darah? Apa jangan-jangan kau lupa bagaimana cara membunuh?"

Sasuke mendengus, "Kau seolah-olah bisa mengalahkanku, Sasori."

"Terserah apa katamu, Sasuke. Aku tak akan membawamu hari ini. Kenapa? Karena aku yakin suatu hari nanti, kau lah yang akan datang padaku, meminta pertolongan dariku, dan dengan suka rela menjadikan dirimu sebagai salah satu anggota Akatsuki." kata Sasori yakin dan-

SRET

Dia menghilang.

Menyisakan Sasuke yang masih bingung dengan kalimat terakhir Sasori. Bagaimana Sasori seyakin itu bahwa dirinya akan masuk ke dalam organisasi kriminal itu?


Naruto merasa tak enak hati setiap ia ingat apa yang telah ia lakukan pada Sasuke. Memang dalam hati Naruto mengakui bahwa apa yang dikatakan Sasuke benar, ia tak seharusnya memberi tahu sesuatu yang pribadi miliknya pada orang yang baru ia kenal. Bisa jadikan mereka musuh?

"Bagaimana? Jadi beli tidak?" bentakkan itu membuat Naruto tersadar dari lamunannya. Saat itu Naruto sedang berada di salah satu toko yang selama ia hidup, baru saat itulah dia memasukinya. Kalau bukan karena untuk Sasuke, mana mau Naruto memasuki toko yang didominasi warna pink?

"Ehem!"

"Ya, aku jadi membelinya," dalam hati ia berniat di sisa hidupnya ia tak akan kembali ke tempat itu lagi.


Sasuke duduk di jendela apartemennya, memandangi pahatan patung Hokage yang menjadi kebanggaan Desa Konoha. Ia kecewa dengan dirinya sendiri, kenapa dia dulu hampir menghancurkan desa seindah Konoha?

"Sasuke!" lamunan Sasuke buyar ketika ia mendengar namanya dipanggil. Naruto-berdiri di atas pohon yang tak jauh dari tempatnya duduk dengan senyuman andalannya.

"Turunlah! Ada yang ingin aku berikan padamu!" pinta Naruto. Sebenarnya Sasuke malas, namun apa boleh buat? Naruto terlihat begitu gembira dan ia ingin tahu apa penyebabnya.

"Hai!" sapa Naruto ramah ketika Sasuke sudah berdiri di hadapannya.

Sasuke tidak membalas sapaan Naruto membuat Naruto merasa Sasuke masih marah padanya.

"Teme, apa kau masih marah padaku?" tanya Naruto. Sasuke lagi-lagi hanya diam.

"Teme, apa kau-"

"Tidak, Dobe! Aku tidak marah padamu!" bentak Sasuke.

Naruto menghela nafas. Marah atau tidak, Sasuke sama saja, suka membentakknya.

"Ini," Naruto menyodorkan sebuah kantung plastik berwarna hitam pada Sasuke membuat Sasuke menyernyit heran.

"Apa ini?" tanya Sasuke tanpa sedikitpun berniat menerima pemberian Naruto.

"Terima saja!"

Sasuke menerima sodoran dari Naruto. Ia buka kantung plastik itu dan ia terkejut dengan isinya, "Kau memberiku gelang?" tanya Sasuke tak percaya yang dibalas dengan anggukan Naruto.

"Ya, itu sebagai tanda maafku, Teme!" ujar Naruto.

Sasuke mengamati baik-baik gelang pemberian Naruto. "NS? Apa maksudnya?" tanya Sasuke ketika ia melihat gelang pemberian Naruto terdapat bandul berhuruf NS.

"Tentu saja Naruto-Sasuke!" jawab Naruto lantang.

Sasuke menyernyit, 'Naruto-Sasuke? Apa maksudnya?'

"Aku tak janji untuk menggunakannya, Dobe!"

Naruto menangguk mengerti, "Tak apa. Yang penting kau menerima gelang itu. Dan sebagai imbalannya karena aku membelikanmu gelang, maka kau harus mentraktirku ramen!" dan Naruto langsung menyeret tangan Sasuke pergi ke Ichiraku tanpa memikirkan umpatan Sasuke yang tak terima dengan keputusan sepihak Naruto.

Di tempat lain.

"Kapan kita akan melaksanakannya?" tanya perempuan berambut coklat kepada laki-laki berambut merah di sampingnya.

"Tidak lama lagi. Tidak lama lagi, maka ia akan bergabung dengan kita. Dan aku yakin, bukan kita yang akan membawanya kemari, tetapi dirinya sendiri yang akan datang. Aku jamin itu," dan kemudian seringai terlukis di bibir tipisnya.

'Tak lama lagi, kau akan menjadi milikku, Uchiha Sasuke.'

TBC

Hai-hai-hai!

Nada kembali!

Terima kasih banyak atas review Anda yang buat aku jadi bersemangat ngelanjutin cerita ini. Maaf banget ternyata banyak typo nya di chapter 2.

Dan Nada tekankan, bahwa Sasuke Uchiha versi perempuan tetap memakai model rambut pantat ayam! Namun, suatu hari nanti, Sasuke akan menerima perubahan dirinya dan akan menjadi sosok Uchiha Sasuke yang sebagaimana mestinya. Jadi, jangan bosan-bosan untuk baca ya…

Terima kasih Nada ucapkan kepada:

Akasaka Kirachiha, mendokusai144, Haruno Saomi, Dee chan-tik, Aicinta, Ida, QRen, Ai-chan, Ariza, Roseamanlle, pindanglicious, Naomi, Lumina Lulison, ha-chan.

Salam hangat,

Rannada Youichi