You're a Girl
Chapter 4
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Pairing : Naruto-Sasuke (Narufemsasu)
By: Rannada Youichi
Sasuke masih memandangi gelang di genggaman tangannya. Gelang pemberian Naruto beberapa waktu yang lalu. Selama lebih dari satu jam ia berbaring di tempat tidurnya hanya untuk memikirkan, 'Apa maksud Naruto memberikan gelang itu padanya'. Ia tahu, Naruto menganggapnya sebagai sahabat walaupun beberapa tahun lalu ia hampir menghancurkan Konoha dengan tangannya sendiri, bahkan ia telah berniat membunuh Naruto. Namun, apakah memang benar Naruto memberikan gelang itu padanya sebagai tanda persahabatan? Mengapa ia menginginkan sesuatu yang lebih dari hubungan persahabatan? "Baka Sasuke! Kenapa kau malah memikirkan si Dobe itu?" umpat Sasuke pelan sambil mengetuk-ngetukkan kepalanya dengan tangannya.
"Huh, lebih baik aku tidur daripada memikirkan bocah kuning itu-ugh! Kenapa aku malah jadi cerewet seperti ini?" rutuk Sasuke mulai kesal.
Ia segera membungkus seluruh tubuhnya dengan selimut tebal bergambar tomat kesayangannya dan kemudian memejamkan matanya erat, berusaha menyingkirkan bayang-bayang Naruto yang tersenyum dalam pikirannya. Walaupun kenyatannya ia tak bisa.
"Dasar Baka Naruto," itulah ucapan terakhirnya sebelum tidur.
*NS*
Sasuke mengerjapkan matanya dengan sekali-kali menguceknya. Entah ilusi atau tidak, saat itu ia berada di sebuah ruangan kecil yang tak ia kenal. Dalam ruangan itu, hanya ada sedikit perabotan. Hanya ada sebuah meja kecil di sebelah tempat tidur dan sebuah lemari besar dengan cermin tergantung di dinding.
"Dimana aku?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Ia bangun dari ranjang. Kaki jenjangnya melangkah menelusuri ruangan yang didominasi dengan warna putih. Bahkan ia baru menyadari, baju yang membalut tubuhnya juga berwarna putih.
Seharusnya ia waspada, ia menyadari itu. Namun, di dalam dirinya, ia merasakan ketenangan yang luar biasa. Ia merasa bahwa tempat itu memang tempat yang seharusnya ia datangi. Sayangnya, ia tak tahu alasannya.
KRIET
Sasuke menoleh pada pintu ruangan yang terbuka. Mata onyx nya terbelalak ketika ia melihat seseorang yang seharusnya tidak ada lagi di dunia kini tengah tersenyum padanya. Dan tanpa sadar, bibirnya bergumam, "Kaa-san."
Sasuke mengambil langkah mundur. 'Tidak mungkin dia Kaa-san!' pikirnya, walaupun terlihat jelas kerinduan terpencar dari mata onyx nya.
"Sasuke," suara lembut yang ia ingat sebagai suara Kaa-sannya mengalun memanggil namanya. Namun, Sasuke tak beranjak dari tempatnya berdiri.
Wanita itu tersenyum. Senyuman yang meneduhkan. Senyuman yang ia rindukan.
"Sasuke, aku Kaa-san. Memang mustahiljika Kaa-san hidup kembali. Tapi memang ini bukan kenyataan. Saat ini tergantung pada dirimu. Turuti kata hatimu! Jika kau percaya bahwa wanita di hadapanmu ini adalah orang yang melahirkanmu, maka peluklah aku. Jika kau tidak yakin, maka pejamkan matamu dan saat kau membuka matamu lagi, aku akan langsung menghilang," tutur wanita itu.
Sasuke bimbang. Ia tak tahu langkah apa yang harus ia ambil. Cukup lama ia terdiam, hingga akhirnya-
GREP
Sasuke langsung memeluk wanita itu. Ia yakin, wanita yang baru saja ia peluk adalah Kaa-sannya. Ia bisa merasakannya. Namun jika memang bukan, ia akan menanggung resikonya.
"Kaa-san."
Wanita bernama Mikoto Uchiha itu tersenyum. Ia elus rambut yang serupa dengan rambutnya dengan sayang. Mikoto kemudian mengajak Sasuke duduk di ranjang.
"Kaa-san, apakah ini nyata?" tanya Sasuke.
Mikoto tersenyum, "Tentu saja tidak, Sasuke. Kau tahu sendiri, Kaa-san telah meninggal saat kau masih sangat kecil," terang Mikoto.
"Lalu, ini dimana, Kaa-san?"
"Kau akan tahu nanti. Waktu Kaa-san tidak banyak. Saat ini, Kaa-san hanya ingin mengobati rindu Kaa-san pada putri bungsu Kaa-san yang cantik ini," goda Mikoto yang membuat Sasuke cemberut.
"Aku tidak cantik, Kaa-san!" tegas Sasuke yang mengundang tawa Mikoto.
"Jika kau bukan adikku, mungkin aku sudah menikahimu, Sasu -chan!"
DEG
Sasuke ingat suara itu. Suara yang sering menggodanya saat kecil, suara yang sering menyebutnya 'Baka Ototou', dan suara yang sering mengucapkan sayang padanya.
Itachi Uchiha.
"Itachi-nii," setetes air mata jatuh dari mata onyx Sasuke. Ia merasa tubuhnya akan meledak ketika melihat orang yang paling membuatnya merasa bersalah telah berada di hadapannya.
Laki-laki berkucir itu tersenyum ketika ia mendengar suara yang amat dirindukannya memanggil namanya.
GREP
"Nii-san," gumam Sasuke di sela pelukannya.
Itachi membalas pelukan Sasuke. Ia mengusap-usap rambut raven Sasuke dan sedikit mendengus ketika melihat perubahan drastis dari Sasuke yang dulu dengan yang sekarang.
"Kau tahu, Sasuke? Dulu aku pernah berharap ingin mempunyai seorang adik perempuan. Dan ternyata malah kau yang keluar."
"Jadi kau menyesal mempunyai adik sepertiku?" tanya Sasuke tak terima.
Itachi tertawa, "Tentu saja tidak, Sasuke. Aku senang mempunyai adik sepertimu, kau itu lucu dan menggemaskan. Apalagi ketika aku baru mempermainkanmu," goda Itachi.
DUAK!
"Ouch, apa yang kau lakukan Sasuke? Kenapa kau memukulku?"
Namun Sasuke tak menghiraukan protes Itachi. Ia tetap memukul Itachi. Ya-walaupun itu hanya sekedar main-main. Hingga akhirnya Sasuke menghentikan pukulannya ketika mendengar seseorang memanggil namanya.
"Sasuke."
Kali ini Sasuke tak bisa menyembunyikan keterkejutannya, terbukti dengan tubuhnya yang menegang.
"Tou-san."
Lirih. Tetapi pria bernama Fugaku itu bisa mendengar bibir Sasuke menggumamkan namanya. Seulas senyum terpatri di bibir pucat Fugaku.
"Kau tidak merindukan Tou-san mu, Sasu-"
GREP
"Tentu saja aku merindukan Tou-san. Aku merindukan Tou-san, Kaa-san, dan juga Nii-san,. A-aku-"
Fugaku melepaskan dekapannya dan kemudian menatap mata onyx anaknya. Ia seka air mata yang masih mengalir dari mata Sasuke. Sasuke tertegun ketika ia melihat senyuman Fugaku yang jarang diperlihatkan itu.
"Tou-san, Kaa-san, dan Itachi sangat bangga padamu, Sasuke. Sekarang kau menjadi ninja yang kuat, kau menjadi ninja yang menjadi kebanggaan keluarga Uchiha. Maafkan Tou-san atas kesalahan Tou-san yang membuat peristiwa pembantaian itu terjadi. Jika saja keluarga Uchiha tidak berniat melakukan kudeta, mungkin-"
"Tou-san, ini semua sudah terjadi, tidak ada yang bisa merubahnya lagi. Lagipula aku sudah hidup tenang di Konoha. Semua warga sudah menerimaku dan itu lebih dari cukup untukku. Apalagi aku dikelilingi oleh orang-orang yang menyayangiku," jelas Sasuke.
Fugaku tersenyum mendengarnya. Ia sangat bersyukur ketika Sasuke yang tak mempunyai satu keluargapun dikelilingi oleh orang-orang baik.
"Jadi sepertinya kau bahagia sekarang. Tou- san merasa lega. Jagalah mereka seperti mereka menjagamu, Sasuke. Jangan sakiti mereka, jangan menjadi seperti Tou-san yang malah menjerumuskan orang-orang yang Tou-san sayangi. Jadilah-"
"Tou-san, aku mohon, jangan ungkit peristiwa itu lagi. Aku sudah memaafkan Tou-san. Yang aku inginkan saat ini adalah hanyalah bersama Tou-san, Kaa-san, dan Itachi-nii tanpa harus dibayang masa lalu lagi," pinta Sasuke lirih.
Fugaku mengelus rambut Sasuke sambil bergumam, "Maaf."
"Uzumaki Naruto. Bocah kyubi itu bagaimana kabarnya?" tanya Itachi tiba-tiba. Tentu saja dengan senyuman menggodanya.
Sasuke menyernyit, "Kenapa Itachi-nii ingin tahu keadaan si Dobe itu?"
Mikoto berjalan mendekati Sasuke, "Kau pikir kami tak tahu kalau kau mempunyai perasaan pada putra hokage ke empat itu?"
"HAH!" Sasuke berteriak histeris membuat Fugaku dan Mikoto terkejut sedangkan Itachi malah tertawa terbahak-bahak. Tentu saja, jarang sekali melihat Sasuke berteriak sehisteris itu.
"A-aku tidak punya hubungan apa-apa dengannya! Darimana kalian mempunyai pikiran seperti itu?"
"Sasuke,"
Sasuke menatap ayahnya yang baru saja memanggilnya.
"Kau memang dari keluarga Uchiha yang mempunyai harga diri tinggi. Tetapi tidak untuk sekarang dan tidak untuk seterusnya. Tou-san harap kau bisa mengubah pandangan orang pada keluarga Uchiha. Tou-san ingin kau membuat Uchiha menjadi lebih baik dari yang dulu. Bocah Uzumaki itu bisa membantumu," tutur Fugaku.
"Membantu? Membantu dengan apa?"
"Menikahimu dan membangkitkan keluarga Uchiha."
Sasuke menelan ludahnya. "Ta-tapi, Naruto menyukai Sakura," Sasuke berusaha menjelaskan.
"Sasuke, mereka belum menikah. Bahkan mereka belum menjadi sepasang kekasih. Bisa saja Naruto hanya sekadar suka dengan Sakura, tetapi dia mencintaimu," Itachi memberi semangat.
"Sasuke, turuti kata hatimu, itu yang terpenting. Mungkin kau belum mengakui bahwa kau mencintai Naruto. Tetapi suatu saat nanti, Kaa-san yakin kau akan mengakuinya," ujar Mikoto.
"Ehm, Sasuke. Kami harus pergi. Jaga dirimu baik-baik ya," Itachi berpamitan yang membuat Sasuke menahan nafas. Dia masih sangat merindukan keluarganya. Kenapa mereka akan pergi secepat itu?
Fugaku, Mikoto, dan Itachi kemudian memeluk Sasuke yang masih terdiam tak rela.
"Kami pergi."
"Tunggu. Apa tidak bisa lebih lama lagi? Aku masih merindukan kalian," pinta Sasuke. Itachi menggeleng membuat Sasuke terdiam.
"Kalau begitu, aku ingin mengatakan sesuatu."
Fugaku, Mikoto dan Itachi kembali mendekat. "Apa yang ingin kau katakan?"
"Eh, Tou-san, aku menyayangimu. A-aku tahu aku dulu begitu menyusahkanmu, a-aku tidak bisa menjadi anak yang bisa kau banggakan. Menggunakan jurus api saja aku dulu tak bisa. Memang dulu Tou-san ehm, agak menyebalkan. Tetapi aku sadar semua yang Tou-san lakukan adalah upaya agar aku menjadi ninja yang kuat. Arigatou, Tou-san,"
Fugaku tersenyum dan kemudian memeluk Sasuke. "Ya, Sasuke. Maafkan Tou-san yang dulu begitu mengekangmu." Sasuke mengangguk dan tersenyum.
"Kaa-san." panggil Sasuke setelah Fugaku melepaskan pelukannya.
"Arigatou Kaa-san atas semua yang telah Kaa-san berikan padaku. Jika suatu hari nanti aku menjadi seorang Kaa-san, aku ingin seperti Kaa-san, aku ingin menjadi Kaa-san yang begitu menyayangi dan mencintai anaknya, dan huks-Kaa-san yang selalu menjaga anaknya dari bahaya, Kaa-san yang huks-selalu menyelimuti anaknya setiap malam, Kaa-san yang-"
"Kaa-san percaya kau bisa. Bahkan Kaa-san yakin kau akan menjadi seseorangyang lebih baik dariku," Mikoto memeluk Sasuke yang menangis.
"Kau ingin mengatakan sesuatu kepada Itachi?" Sasuke mengangguk.
Sasuke menunduk. Ia tak berani. Ia tak berani menatap mata onyx milik kakaknya. Rasa bersalahnya begitu besar hingga ia berpikir tak sepantasnya ia meminta maaf kepada kakaknya atas segala perbuatannya. Ia ingat begitu besarnya dendam yang tertanam di lubuk hatinya dulu hingga menyebar ke seluruh tubuhnya. Padahal ternyata, sang kakak hanya berusaha melindunginya.
Tanpa ia bisa kendalikan, tetesan air mata yang keluar dari matanya semakin deras. Ia bahkan menggigit bibir bawahnya untuk menahannya.
Tuk.. Sasuke tertegun ketika jari Itachi menyentuh keningnya, sama seperti apa yang sering kakaknya lakukan dulu.
"Itachi-nii memaafkanmu. Kau tahu Sasuke? Selama ini Itachi-nii selalu dikejar-kejar perasaan bersalah. Kau begitu polos, tetapi kau dinodai oleh dendamu kepadaku. Aku yang menanamkan dendam kepadamu, membuatmu pergi dari orang-orang yang kau sayangi dan mengubahmu menjadi seorang ninja buron. Maafkan Ita-"
"BAKA! BAKA! BAKA! BAKA!" teriak Sasuke yang kembali memukul lengan Itachi membuat Itachi menyernyit sakit.
"Kenapa kau yang minta maaf? Seharusnya aku! Aku yang minta maaf pada Itachi-nii. Maafkaan aku Itachi-nii, aku huks-"
Ia terisak di pelukan Itachi. Kedua tangannya mencengkeram erat baju Itachi
Ketika tangisan Sasuke mulai mereda, Itachi segera menggedong Sasuke dan membaringkannya di ranjang. Dan hal terakhir yang dilihat Sasuke saat itu adalah kedua orang tuanya yang tersenyum padanya dan Itachi yang mencium keningnya.
*NS*
Sasuke masih bergelung dengan selimutnya walau jam di dinding kamarnya sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Hingga akhirnya suara pintu diketuk membuat ia harus rela meninggalkan tidur indahnya.
"Maaf mengganggu, Sasuke!"
Sasuke sontak terdiam ketika ia mendengarkan suara yang tak asing lagi dari luar apartemennya. Bahkan pemilik suara itu menempati tempat spesial di hatinya.
"Ehm, hari ini tim 7 akan mendapatkan misi dari Tsunade baachan. Kita harus sampai di kantor hokage pukul 9 pagi. A-aku hanya ingin mengatakan itu," Naruto masih berteriak dari luar.
Sasuke tak menjawab apapun membuat Naruto khwatir.
"Sasuke, kau di dalam kan?" tanya Naruto penasaran.
Tersadar dari lamunannya akhirnya Sasuke menjawab, "I-iya."
"Baiklah, kita akan berangkat sebentar lagi. Nanti aku kutunggu kau di depan kamarmu, ya Sasu-chan."
"Baka!" sontak Sasuke langsung menyemburkan umpatan itu ketika mendengar Naruto memanggilnya seperti itu.
Dan Naruto hanya bisa terbahak mendengar panggilan sayang untuknya akhirnya keluar dari bibir Sasuke.
Naruto tidak menyadari bahwa Sasuke yang masih berada di dalam kamar masih terlihat panik. Fakta yang baru saja terungkap jika dia mempunyai perasaan khusus pada Naruto membuatnya tak tahu harus bagaimana menghadapi lelaki itu.
Ia mencintai Naruto?
Ia harus membangkitkan klan Uchiha dengan menikah dengan Naruto?
Lagi-lagi ucapan ayahnya membayanginya.
Namun dari mimpi itu, Sasuke merasa lega ketika akhirnya ia bisa mengungkapkan apa yang mengganjal di hatinya. Ia telah bertemu dengan keluarganya dan itu adalah hal yang begitu membahagiakan baginya. Ya-walaupun itu hanya dalam mimpi. Setidaknya ia yakin, keluarganya, terutama Itachi sangat sayang padanya.
"Sasuke! Kau sudah siap?" teriak Naruto dari luar yang membuat Sasuke tersentak dari lamunanya.
"Tunggu!"
Sasuke hanya membasuh wajahnya untuk menghilangkan wajah kusutnya, mengenakan jubah putihnya dan siap untuk berangkat. Tetapi tunggu! Bagaimana dengan rambutnya?
Sejak kemarin Sasuke memang kesulitan menata rambutnya. Jika digerai, rambutnya sudah memanjang sampai ke pundaknya dan itu mempersulit dirinya untuk membuat model pantat ayam yang sudah menjadi ciri khasnya.
Memotongnya?
Tidak! Ia merasa ehm-tak rela jika harus memotong rambutnya yang baru saja ia sadari bahwa rambutnya serupa dengan rambut ibunya.
"Sasuke!" panggil Naruto dari luar apartemen Sasuke.
'Cih, dasar tidak sabaran!' umpat Sasuke dalam hati. Ia menggerutu di sela-sela dirinya yang membenahi rambutnya.
Ia mengikat rambutnya seadanya. Ia gulung rambutnya ke belakang dan ia ikat dengan pita berwarna merah. Beberapa helai rambut ravennya yang tidak ikut terikat terjuntai di samping kanan dan kiri wajahnya. Semakin terlihat cantik ketika poni lucunya ia biarkan menutupi keningnya. Ya-walaupun memang masih terkesan berantakan, namun Sasuke Uchiha berhak mendapatkan pujian. Bukan hal mudah bagi bungsu Uchiha itu berdandan layaknya seorang perempuan.
*NS*
CEKLEK
Sasuke keluar dari kamarnya. Naruto yang berdiri di depan pintu terperangah dengan kecantikan Sasuke.
"Apa lihat-lihat, Dobe!" bentak Sasuke yang membuat Naruto tersadar dari lamunannya. "Ti-tidak! Kalau begitu, ayo kita ke tempat Tsunade-bachan!"
Sasuke mengangguk dan berusaha menutupi rona merah yang ia yakini telah menjalar di pipinya. Entah kenapa ia tak bisa mengendalikan perasaannya di saat ia berada di samping orang yang dicintainya itu.
*NS*
"Aku akan memberikan misi kelas D untuk kalian," Tsunade memutuskan.
"Hah? Misi kelas D? Kenapa kami harus mendapatkan misi sekelas anak umur 5 tahun, bachan? Berikan kami setidanya misi kelas B! Ayolah bachan!" Naruto berusaha merayu Sang Hokage ke 5. Namun sepertinya apa yang baru ia lakukan tidak membuat Tsunade berubah pikiran.
"Aku tetap akan memberikan misi ini. Misi kalian hari ini adalah mengumpulkan bahan obat penawar racun yang bisa kalian dapatkan di hutan Konoha. Untuk pengolahannya, akan dilakukan oleh tim medis Konoha," terang Tsunade.
"APA? Misi macam apa itu? Aku tidak mau! Tsunade bachan, kenapa kau tega sekali padaku?" rengek Naruto lagi.
Tsunade tidak menghiraukan bocah yang sudah ia anggap sebagai adiknya itu, ia malah menatap Kakashi dan Sasuke yang sepertinya tidak keberatan dengan misi yang baru saja ia berikan.
"Baiklah. Kalian bisa memulai misi. Sakura akan menyusul kalian setelah ia menyelesaian misinya di Suna. Kemungkinan saat ini dia sudah berada di perjalanan menuju Konoha."
Memang saat itu, tim 7 hanya ada Kakashi, Naruto, Sasuke, dan Sai mengingat Sakura dan beberapa anggota tim medis Konoha pergi menjalani misi di Suna.
"Baik. Kami akan melaksanan misi ini dengan sebaik-baiknya," ujar Kakashi yang mendapatkan tatapan tak yakin dari Naruto.
Dan tim 7 akhirnya berangkat dalam misi pertama mereka semenjak Sasuke kembali ke Konoha.
*NS*
Selama lebih dari setengah hari, Kakashi dan anak didiknya bergelut dengan berbagai tanaman yang tak mereka tahu apa manfaatnya. Sasuke yang memang pada dasarnya selalu tenang dapat memasang wajah datarnya walaupun dalam hatinya ia menggerundel mendapatkan misi membosankan seperti itu. Berbeda dengan Naruto. Selama lebih dari 4 jam, ia mengatakan segala apa yang dirasakannya, betapa jahatnya seorang Tsunade memberikan pekerjaan nista seperti itu kepada seorang calon hokage seperti dirinya.
"Berisik, Dobe!" bentak Sasuke yang mulai frustasi dengan tingkah Naruto.
"Ugh, dasar Teme! Kau menyebalkan! Coba saja kalau Sakura-chan ada disini, pasti tidak akan semembosankan ini!" tutur Naruto.
Namun, satu kalimat yang baru saja dilontarkan oleh Naruto membuat Sasuke membeku. Perasaan tak suka merayap di hati Sasuke ketika ia mendengar harapan Naruto yang menginginkan keberadaan Sakura. Padahal sudah ada dirinya, kenapa Naruto masih menginginkan orang lain?
"Siang, semua!"
Sontak semua mata tertuju pada sesosok gadis cantik berambut pink yang menebarkan senyuman kepada mereka. Sebuah kotak besar dijinjing pada kedua tangannya. Cukup berat sepertinya, membuat Naruto berinisiatif mengambil barang bawaannya itu.
"Arigatou, Naruto!" ucap perempuan bernama Sakura Haruno dengan senyuman yang masih terlukis di bibirnya.
Naruto nyengir, kemudian bertanya, "Apa isinya, Sakura-chan?"
"Itu makan siang untuk kalian semua. Aku yakin kalian lelah, jadi setelah aku pulang dari misi, aku segera membuatkan kalian bekal makan siang. Ya, bisa dikatakan itu adalah permintaan maafku karena aku tidak bisa ikut misi bersama kalian," terang Sakura.
Naruto mengangguk mengerti, begitu juga dengan Kakashi, tetapi tidak untuk Sasuke. Sasuke mendengus. Ia tak suka dengan sikap Sakura yang seolah-olah mencari perhatian. Dan lebih sebalnya lagi ketika Naruto malah memberi perhatian lebih pada Sakura.
Naruto kemudian membagi-bagikan bekal makanan yang dibawa Sakura pada Kakashi, Sai, dan Sasuke. Sasuke menatap jengkel pada Naruto dan Sakura yang harus ia akui 'terlihat mesra'. Apalagi beberapa kali tangan Naruto tanpa sengaja bersentuhan dengan tangan Sakura yang membuat Naruto nyengir. Kadang Sasuke masih bertanya-tanya dalam hatinya, 'Apa Naruto masih menyukai Sakura?'
Sasuke yang memang saat itu begitu lapar akhirnya memutuskan untuk memikirkan itu semua di rumah. Ia hampir menyuapkan sesendok bekal buatan Sakura ke mulutnya namun tiba-tiba ia tersedak ketika Naruto mengucapkan satu kalimat yang membuatnya terkejut.
"Kau benar-benar akan menjadi istri yang baik suatu hari nanti, Sakura-chan!"
Sasuke tak akan rela, ia tak akan rela jika suatu hari nanti, Naruto akan menjadikan Sakura sebagai istri. Dan otaknya malah membuatnya memikirkan Sakura menggunakan gaun putih dan Naruto yang menggunakan tuxedo putih, berdiri di altar dan mengucapkan janji.
TIDAK! Ia tak mau jika suatu hari nanti Naruto menjadi milik orang lain. Naruto miliknya, Naruto hanya untuknya...
Jika memang Naruto menginginkan seorang istri yang pandai memasak, ia juga bisa. Lagipula ia yakin pada dirinya sendiri, jika ia belajar ia pasti bisa lebih baik dari Sakura.
Kakashi yang menyadari gelagat aneh Sasuke hanya bisa menahan tawanya, 'Dasar anak muda.'
*NS*
Katakan saja Sasuke Uchiha bodoh, terserah! Sasuke bahkan tak peduli apa kata orang lain nanti. Semalaman ia berpikir apa yang ia lakukan ini benar-benar yang terbaik atau tidak. Dengan mengorbankan waktunya hanya untuk pergi ke pasar Konoha, mencari sayur-sayuran yang bahkan ia tak hafal namanya, dan rela berdesak-desakan hanya untuk membeli barang-barang dan bahan yang dapat digunakan untuk membuat ramen. Dan baru saat itulah ia menyesal, mengapa ia dulu selalu menolak ketika ia diajak Kaa-sannya ke pasar jika tahu bahwa masa depannya akan menjadi seorang perempuan?
TAK-TAK-TAK
Sasuke memotong sayuran kecil-kecil hingga tak terbentuk. Namun Sasuke yakin bahwa memang itu yang harus ia lakukan mengingat apa yang ia lakukan sama dengan apa yang tertulis dalam resep. Walaupun memang harus diakui, Sasuke Uchiha terlalu banyak menggunakan tenaga dalam melakukannya.
Begitu banyak keringat bercucuran di pelipis Sasuke hanya karena membuat satu mangkuk ramen ekstra tomat yang akan menjadi makanan pertama yang ia buat dengan hasil jerih payahnya.
Namun, ketika ia sedang bersiap-siap untuk makan siang dan mencicipi ramen buatannya, tiba-tiba pintu apartemennya diketuk.
CEKLEK
"Naruto."
Pemuda bernama Naruto itu tersenyum.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Sasuke.
"Aku hanya ingin mengunjungimu. Apa tidak boleh?"
"Terserah!"
Naruto memasuki apartemen Sasuke. Apartemen Sasuke sangat bersih, sangat berbanding terbalik dengan apartemen milik Naruto, dan Naruto mengakui itu.
"Wah, ada ramen!" teriak Naruto kegirangan.
"Eh, itu-"
"Kau membuatnya sendiri ya, Teme!" tebak Naruto tepat sasaran.
Melihat Sasuke yang diam, akhirnya Naruto dapat menarik kesimpulan jika memang makanan yang ada di depannya itu adalah buatan Sasuke. 'Beruntung sekali aku mencicipi makanan buatan si Teme!' batin Naruto.
"Aku coba ya, Teme!"
"Ja-jangan, Dobe!"
Tetapi terlambat. Satu sendok telah masuk ke dalam mulut Naruto. Sasuke menggigit bibir bawahnya takut-takut. 'Enak atau tidak?' pikirnya khawatir.
Naruto yang mencoba makanan buatan Sasuke itu sebenarnya terkejut ketika merasakan masakan Sasuke yang bahkan lebih hancur dari masakannya sendiri. Asin, manis, dan asam membuat Naruto ingin sekali memuntahkan dan membuang ramen rasa aneh di depannya.
Sasuke akhirnya menyadari bahwa ramen buatannya memang tidak enak, terlihat dari ekspresi Naruto yang terlihat menahan sesuatu. Tetapi bagaimana lagi? Ia tak tahu harus bagaimana. Baru kali itu ia belajar memasak, dan ia belum siap jika mendapatkan celaan keluar dari bibir Naruto.
Sasuke terkejut ketika melihat Naruto masih memakan ramen buatannya. Bahkan terlihat lahap.
"Naru..."
NARUTO POV
Ok, aku gila. Memakan masakan buatan Sasuke yang memang tak ada enaknya. Hancur! Tetapi aku tidak mungkin mengatakannya secara terang-terang jika aku tidak menyukainya. Aku sangat senang ketika melihatnya mau belajar memasak, apalagi dia belajar memasak ramen! Aku bersyukur ketika kulihat sepertinya dia sudah mulai menerima keadaannya sebagai seorang perempuan. Dan aku tak ingin dia sakit hati ketika aku mencerca masakannya. Tak apalah jika aku berkorban untuk Sasuke, menahan sakit pada perutku nantinya. Yang penting, Sasuke tidak putus asa untuk menjadi seorang perempuan seutuhnya.
END NARUTO POV
*NS*
Sasuke tak melihat Naruto sejak tadi. Padahal biasanya Sasuke hampir setiap detik Naruto mengganggunya karena hampir setiap waktu Naruto memang tak pernah bosan untuk mengganggunya. Cukup merasakan rindu juga. Sepi. Hingga akhirnya, Sasuke memutuskan untuk mengunjungi apartemen Naruto.
Tok-tok...
Sasuke mengetuk pintu namun tak ada sahutan dari dalam. Akhirnya Sasuke memutuskan untuk masuk. Banyak orang mengatakan memasuki rumah tanpa izin itu tidak sopan, apalagi jika seorang perempuan yang melakukannya. Salahkan Naruto yang tidak mengunci pintunya.
Sasuke mengedarkan padanganannya di sekeliling ruangan yang seukuran dengan apartemennya, namun terlihat lebih sempit karena sampah dan benda-benda yang diletakkan sembarangan.
Sasuke menyernyit heran ketika melihat Naruto tidur siang. Tidak seperti biasanya, Naruto tidur siang di hari secerah saat itu. Biasanya Naruto akan gentar mengajaknya berlatih. Hingga geraman tertahan Naruto membuat Sasuke tersadar bahwa Naruto bukan hanya sekedar tidur siang.
Sasuke melihat wajah Naruto yang pucat.
"Naru," panggil Sasuke lirih.
Mata sebiru langit perlahan terbuka. Sasuke tercekat ketika melihat mata itu tak seteduh biasanya.
"Kau sakit?"
Naruto menggeleng. "Tidak, Teme! Aku hanya, ehm-agak kurang sehat," jawab Naruto dengan sedikit tersenyum di bibirnya yang pucat.
"Bukankah itu artinya kau sakit?" tanya Sasuke lagi.
Naruto menggeleng.
"Kalau kau memang sakit katakan saja! Kau pikir aku bodoh tidak bisa membedakan antara orang yang sedang sakit dengan orang yang sehat?"
'Cerewet!' batin Naruto. Ia sedikit jengkel dengan Sasuke yang tak peka. Dilihat dari sudut manapun, semua orang yang melihatnya pasti sudah tahu kalau dirinya sakit. Tetapi Sasuke? Ugh-entah pura-pura atau tidak, Sasuke terlihat bodoh di matanya.
"Naruto, kau sakit apa gara-gara ramen yang aku buat?" Sasuke bertanya dengan kepala menunduk. Mungkin merasa bersalah. Ia mengatakan hal itu setelah ia ingat beberapa waktu lalu Naruto memakan ramen buatannya. Saat itu Sasuke sudah yakin bahwa Naruto tidak akan baik-baik saja karena memakan masakan pertamanya. Dan ternyata terbukti kan?
Naruto tak tahu harus menjawab apa. Memang benar, ia sakit karena memaksakan makan ramen buatan Sasuke. Niatnya ingin membuat Sasuke senang, namun akibatnya ia harus menghabiskan siang itu dengan bolak-balik ke toilet. Dan sekarang? Ia pusing dengan suhu tubuhnya yang panas.
"Sudah minum obat?" tanya Sasuke dengan nada dibuat sedatar mungkin. Padahal dalam hatinya ia sangat khawatir.
Naruto menggeleng lemah.
Sasuke menghela nafas panjang. Dilihatnya Naruto mulai tertidur lagi. Akhirnya ia memutuskan untuk membeli obat dan bubur mengingat ia yakin Naruto belum makan semenjak Naruto memakan makanan buatannya.
Sebenarnya, tidak jauh dari apartemennya ada sebuah toko obat. Namun, Sasuke memilih membeli obat di rumah sakit Konoha karena secara tidak sadar ia ingin memberikan sesuatu yang terbaik untuk Naruto. Ia akan meminta obat dari pakarnya langsung, sang Hokage ke 5.
*NS*
"Berikan obat sakit perut," nada memerintah Sasuke membuat Tsunade benar-benar kesal. Ia baru saja harus mengurusi berkas-berkas untuk pertemuan 5 kage nanti, dan Sasuke memaksa ingin berbicara dengannya. Dan parahnya, Sasuke bukannya berbicara dengan baik-baik, namun malah dengan nada yang benar-benar ingin membuatnya semakin naik darah.
"Untuk?" Tsunade berusaha sabar.
"Naruto," jawab Sasuke yang langsung memalingkan wajahnya. Ia tak ingin melihat wajah Tsunade ketika ia menyebut nama Naruto. Ia tahu, Tsunade telah berpikir macam-macam perihal hubungannya dengan Naruto.
Tsunade tersenyum. Lega juga ketika tahu bahwa Sasuke mau menunjukkan perhatian pada Naruto. Hal itu membuatnya yakin dengan dugaannya selama ini, 'Naruto dan Sasuke saling mencintai.'
"Baiklah. Kau bisa kembali merawat Naaruto," Tsunade menyeringai aneh ketika mengatakan kalimat itu.
"Aku akan mengirim Sakura untuk memberikan obatnya sekalian dia pasti ingin menjenguk-"
"Jangan!" potong Sasuke. Sasuke salah tingkah.
"Eh, kau tidak perlu memberitahu Sakura dan kau tidak perlu mengirim Sakura untuk mengirimkan obatnya. Aku akan membawanya sekarang," ujar Sasuke.
Alis Tsunade terangkat. 'Apa maunya bocah ini?' pikirnya.
"Eh, bisa kau berikan obatnya padaku?" pinta Sasuke dengan sedikit mendesak.
Tsunade mengangguk. Ia kemudian mengambil sesuatu di lacinya.
"Ini obat sakit perut yang baru kemarin diminum oleh Suzune. Ambil saja, lagipula saat ini Suzune sudah sembuh."
Sasuke menerimanya. Ia sedikit menyunggingkan senyumannya, "Arigatou," dan kemudian Sasuke pergi dari ruangan itu. Begitu terkejutnya Sasuke ketika melihat Sakura sudah berdiri di hadapannya. Ia tak merasakan cakra Sakura, dan hal itu membuatnya sedikit khawatir. Apakah Sakura telah menguping pembicaraannya dengan Tsunade?
*NS*
Sasuke terdiam, begitu juga dengan Sakura. Sasuke lebih memilih memandangi arus sungai. Sakura yang memang merasa canggung akhirnya membuka pembicaraan.
"Sasuke, apa kau membenciku?" satu pertanyaan yang sebenarnya ingin ditanyakan oleh Sakura sejak dulu. Sifat Sasuke yang tak pernah menunjukkan kesukaannya pada dirinya kadang membuatnya berpikir bahwa Sasuke tidak menyukainya. Apalagi beberapa waktu yang lalu Sasuke secara terang-terangan menutupi keadaan Naruto darinya.
"Tidak." jawab Sasuke singkat
Sakura memilih diam. Tidak tahu harus mengatakan apa. Jika boleh jujur, Sakura ingin sekali membentak perempuan di hadapannya. Ia ingin menuntut jawaban sejujur-jujurnya dari bibir Sasuke walaupun ia sebenarnya tahu, apa alasan Sasuke membencinya.
Karena Naruto-ia yakin itu. Dia tidak bodoh. Entah Sasuke menyadarinya atau tidak, Sasuke selalu bersikap dingin padanya setiap ia dekat dengan Naruto. Dan itu bahkan sejak tim 7 baru terbentuk.
"Naruto,"
"Eh?"
"Apa karena Naruto? Apa karena kedekatanku dengan Naruto hingga kau membenciku?" Sakura berusaha memancing.
Sasuke tersentak. Ia menggigit bibir bawahnya. Memang ia tidak suka dengan kedekatan antara Naruto dengan Sakura. Karena yang ia inginkan Naruto hanya untuknya, harus di sampingnya. Dan ia tak rela jika ada orang lain yang dekat dengan Naruto, termasuk Sakura bahkan Tsunade sekalipun.
"Aku pergi," ujar Sasuke yang kemudian beranjak pergi. Namun Sakura menahannya.
"Tolong jawab pertanyaanku Sasuke, aku mohon! Aku ha-"
"Aku tidak membencimu. Ak-aku hanya tak suka jika kau berdekatan dengan Na-Naruto" ujar Sasuke lirih.
Sakura tersenyum.
"Kau mencintai Naruto?" tanya Sakura memastikan, namun tidak ada jawaban dari Sasuke.
Sakura melepaskan genggaman tangannya dari Sasuke.
"Aku tidak akan merebut Naruto darimu, Sasuke. Sejak dulu aku hanya menganggap Naruto sebagai seorang kakak walaupun sifatnya lebih kekanakan dari diriku," Sakura berusaha menjelaskan.
Sasuke menunduk. Ia tak tahu harus mengatakan apa lagi. Rahasianya telah terbongkar. Tidak ada gunanya mengatakan 'tidak' mengingat Sakura sama jeniusnya dengan dirinya.
"Lagipula aku sudah menjadi milik orang lain," Sakura berkata dengan senyuman mengembang di bibirnya.
Sasuke menyernyit, apakah maksudnya Sakura sudah mempunyai kekasih?
"Kau sudah mempunyai kekasih?" tanya Sasuke penasaran.
Sakura mengangguk, "Di Konoha tidak ada yang tahu, termasuk Kakashi -sensei , bahkan Tsunade-sama sekalipun jika aku mempunyai hubungan dengan Gaara."
"Apa? Ga-Gaara?" Jujur, Sasuke terkejut ketika ternyata Sakura mempunyai hubungan lebih dengan laki-laki yang bahkan dulu pernah hampir membunuh Sakura.
"Iya, mungkin ini memang aneh. Bahkan tidak dapat dipercaya. Tetapi pada kenyataannya, Gaara lebih romantis daripada Naruto lho! Dan aku sangat mencintainya," ucap Sakura riang.
Sasuke sebenarnya tak percaya, tetapi ketika melihat keseriusan di wajah gadis di sampingnya ia mulai mempercayainya. Apalagi ketika melihat cincin yang melingkar di jari tangan Sakura.
"Maaf ya Sasuke, aku berpaling darimu. Tetapi untunglah ternyata kau malah berubah menjadi seorang perempuan, itu artinya aku tak perlu takut suatu hari nanti akan mencintaimu lagi," ujar Sakura yang kemudian tertawa. Sasuke tersenyum.
"Selamat," Sasuke mengulurkan tangannya.
"Arigatou," Sakura menjabat tangan Sasuke.
"Tetapi sepertinya tidak banyak yang tahu."
Sakura mengangguk, "Hanya kau dan keluargaku yang tahu tentang hubungan ku dengan Gaara. Naruto belum ku beri tahu. Kau tahu kan seberapa bocornya Naruto jika diberi satu informasi rahasia sekalipun."
"Ya, dan dia cerewet."
"Dia bodoh." Sakura menimpali.
"Cih, dia juga kekanakan,"
"Tetapi kau mencintainya kan?"
"Iy-eh?"
Sakura tertawa terbahak-bahak. Sepertinya mengganggu Sasuke akan menjadi hobi barunya.
Sasuke yang melihat Sakura yang tidak segera berhenti tertawa membuatnya cemberut. Sakura yang melihantnya segera berusaha meminta maaf.
"Maaf, maaf Sasuke. Aku tak bermaksud seperti itu. Tetapi, seharusnya kau terbuka saja padaku. Mulai saat ini maukah kau menjadi sahabat ku?" tanya Sakura penuh harap.
Sasuke tanpa ragu mengangguk.
"Terima kasih Sasuke."
Mulai saat itu Uchiha Sasuke dan Uzumaki Naruto bukan sahabat lagi, karena sahabat seorang Uchiha Sasuke adalah Haruno Sakura. Namun Sasuke akan memastikan bahwa dialah yang akan menjadi pendamping hidup Uzumaki Naruto, suatu hari nanti.
*NS*
Kelima kage telah mencapai kesepakatan setelah selama lebih dari 3 jam membicarakan tentang rencana pemberantasan Akatsuki. Memang mereka meyakini bahwa semua anggota Akatsuki telah tewas, namun mereka masih harus memastikan tidak adanya ninja luar yang memiliki hubungan dengan Akatsuki. Hal itu untuk mencegah terbentuknya organisasi terlarang itu lagi.
"Apa Anda yakin Sasuke akan buka mulut tentang markas Akatsuki? Ninja sebangsa mereka tidak akan buka mulut dengan mudah. Mereka tipe ninja yang lebih baik mati daripada berkhianat," tukas Tsucikage.
"Saya yakin Sasuke akan mengatakan sejujur-jujurnya. Saya sebagai Hokage menjaminnya. Lagipula Sasuke bukan lagi sebagai anggota Akatsuki, tetapi dia adalah mantan anggota Akatsuki. Itu artinya, perjanjian yang ia lakukan dengan Akatsuki tidak akan berlaku lagi," ujar Tsunade memastikan.
"Memang, tetapi ini tentang Yakushi Kabuto. Aku yakin dia masih berkeliaran bebas. Yang aku takutkan dia akan menggerakkan Akatsuki lagi."
"Lalu apa yang harus kita lakukan saat ini?" tanya Mizukage.
"Aku sudah memikirkannya jauh-jauh hari. Aku akan mengirimkan Uchiha Sasuke untuk memeriksa markas Orochimaru dan markas Akatsuki. Aku yakin dia dapat menjalankan perintah ini dengan baik. Aku juga akan mengirimkan dia bersama dengan Suigetsu, mantan anggota Tim Taka, Shikamaru, Kakashi, dan Hyuga Neji," Tsunade berusaha memberi solusi.
Keempat kage mengangguk setuju. Ninja Konoha memang terkenal dengan ketangguhannya dan mereka yakin tim yang dibentuk oleh Tsunade itu akan menjalankan tugas dengan baik .
"Baiklah, kalau begitu saya akan memerintahkan agar Uchiha Sasuke datang ke tempat ini untuk meminta persetujuan darinya," dan Tsunade segera meminta tim Anbu untuk menjemput Sasuke.
"Hokage-sama, sebenarnya saya memiliki tujuan lain untuk datang ke pertemuan ini," kata Mizukage setelah rapat selesai.
Tsunade menyernyit, "Maksud lain? Maksudnya?"
"Saya ingin mencari seseorang untuk kujadikan istri putra tunggal kerajaan di desaku. Dan saya yakin gadis Konohalah yang paling pantas untuknya. Untuk imbalannya, seperempat kerajaan akan jatuh ke tangan Konoha. Bagaimana?" tawar Mizukage.
'Tawaran yang menggiurkan,' batin Tsunade. Kerajaan yang ditawarkan Mizukage bukanlah kerajaan sembarangan. Dan jika ia menolak, maka kemungkinan besar ia akan rugi besar.
"Apa kau sudah mempunyai sasaran?" Tsucikage bertanya yang mendapatkan balasan anggukan dari sang Mizukage.
"Beberapa waktu lalu saya melihat seorang gadis yang merupakan ninja medis disini. Dia cantik, apalagi dengan rambut merah mudanya. Aku menyukainya dan aku yakin pangeran juga akan menyukainya."
Mendengar kalimat 'rambut merah muda' membuat Tsunade yakin sasarannya adalah Haruno Sakura.
"Maaf, Mizukage-sama. Haruno Sakura telah menjadi milik saya. Dan saya tidak akan menyerahkannya kepada Anda," ujar Gaara yang membuat semua orang di ruangan itu terkejut. Terlebih Tsunade.
"Sejak kapan, Gaara?" tanya Tsunade penasaran. Selama ini ia merasa tak pernah melihat hubungan spesial antara sang Kazekage dengan gadis berambut pink itu. Tentu saja ia tak bisa percaya begitu saja dengan ucapan Gaara.
"Apa Anda pernah melihat cincin ini sebelumnya?" tanya Gaara sambil menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya.
"Kau? Kau sudah bertunangan?" tanya Tsunade lagi. Dan Gaara mengangguk.
Tsunade menatap sang Mizukage.
"Maaf Mizukage, sepertinya Anda tidak bisa meminta Haruno Sakura untuk menjadi pendamping sang pangeran karena ternyata dia sudah mempunyai tunangan," ujar Tsunade. Dalam hatinya ia merasa lega karena ternyata murid kesayangannya tidak akan terlibat dengan perjodohan gila tetapi menggiurkan itu.
Mizukage benar-benar kecewa.
"Apa tidak ada yang lain lagi, Tsunade-sama?"
Tsunade menyernyit tak suka. Dia pikir gadis Konoha itu barang?
Tok-tok...
"Tsunade-sama, Sasuke Uchiha sudah datang. Namun ia datang bersama dengan semua rekan satu timnya, Kakashi Hatake, Naruto Uzumaki, Sakura Haruno, dan Sai," lapor salah satu Anbu. Tsunade menghela nafas, ia yakin Naruto berpikiran macam-macam dengan adanya perintah untuk membawa Sasuke ke ruang pertemuan.
Namun, Tsunade menjadi ragu. Bagaimana jika Mizukage malah mengganti targetnya dari Haruno Sakura menjadi Uchiha Sasuke setelah melihat wujud Uchiha Sasuke saat itu? Bagaimana dengan Naruto?
BRAK!
"Bachaan! Apa yang kau inginkan lagi dari Sasuke? Bukankah dia sudah menjalani masa hukumannya? Kenapa kalian memanggilnya lagi? Apa kau-"
Suara berisik Naruto terdiam ketika melihat sang Mizukage berjalan mendekatinya, eh-bukan, ternyata mendekati seseorang di belakangnya, Sasuke.
"Kau, kau Uchiha Sasuke?" tanya Mizukage tak percaya.
Sasuke tak mengangguk, tetapi juga tak menggelengkan kepalanya. Ia hanya diam.
"Aku memilih dia," ucap Mizukage lantang.
Naruto menatap Mizukage tak terima ketika menunjuk Sasuke sembarangan. 'Tetapi memilih untuk apa?' tanya Naruto dalam hati.
"Aku memilih Sasuke untuk kujadikan pendamping pangeran kerajaan di desaku," dan seperti mengetahui apa yang dipikirkan oleh tim 7, Mizukage mengatakan itu.
"Eh? Kau bercanda?" tanya Naruto sambil menunjuk tak sopan. Mizukage menggeleng.
Naruto mendesah pelan. Mungkin saat itulah waktunya.
Naruto mendekati Sasuke dan melingkarkan tangannya di pinggang Sasuke, membuat Sasuke terkejut.
"Maaf Mizukage-sama, kau tak bisa merebut Sasuke dariku. Aku mencintai Sasuke sejak lama dan aku tak akan sudi menyerah padamu, sekalipun kau adalah orang nomor 1 di desamu," Naruto mengucapkan kalimat itu dengan lantang.
"Dan satu hal yang harus kalian semua tahu, Uchiha Sasuke hanya Uzumaki Naruto dan Uzumaki Naruto hanya untuk Uchiha Sasuke. Jadi jangan pernah mencoba-coba memisahkan kami," dan setelah mengatakan itu, Naruto menggandeng tangan Sasuke erat dan membawanya pergi. Disusul Kakashi, Sakura, dan Sai. Dan tentu saja, di ruangan tempat pertemuan para kage itu menyisakan keterkejutan yang luar biasa. Bahkan Tsunade pun tak percaya, Uzumaki Naruto mengatakan semua itu di depan para kage.
*NS*
Suasana begitu canggung. Kakashi yang biasanya selalu berhasil mencairkan suasana seperti itu pun tak bisa berkutik. Tidak ada topik yang perlu dibicarakan. Mungkin sebenarnya ada topik yang sangat menarik baginya yaitu ia akan menulis seri kelanjutan Icha-Icha Paradise, namun sepertinya topik itu tidak cocok dan tidak menarik untuk dibahas saat itu.
"Maaf, aku harus ke kantor Hokage. Ada sesuatu yang harus kubicarakan dengan Tsunade-sama tentang misi kalian selanjutnya," Kakashi memecah keheningan dengan kebohongan. Dan tanpa menunggu jawaban dari anak didiknya, ia langsung pergi.
"Dasar, Baka Sensei!" desis Sakura. Bukan hanya Kakashi yang tersiksa, ia juga tersiksa. Dan Kakashi malah meninggalkannya.
"Aku harus pergi," Sakura mengucapkan kalimat itu dengan cepat dan sama seperti yang dilakukan oleh Kakashi, ia langsung pergi. Sakura bahkan menyeret Sai. Ia tahu Sai tidak akan peka dengan keadaan saat itu. Dan Sakura tak ingin Sai memperburuk keadaan.
Sasuke memang suka dengan ketenangan, tetapi tidak seperti itu. Naruto, biasanya dialah yang paling berisik dan tidak akan betah dengan keadaan saat itu. Tetapi kenyataannya, Naruto hanya diam. Hingga mereka telah sampai di depan pintu apartemen masing-masing.
Ketika tangan Sasuke hampir menyentuh gagang pintu, Naruto menggenggam tangannya, membuat Sasuke tertegun.
"Sasuke."
Sasuke tak tahu harus melakukan apa. Namun tubuhnya secara spontan berdiri menghadap Naruto dengan matanya langsung tertuju kepada mata biru Naruto.
"Eh, terima kasih atas bantuanmu tadi," ucap Sasuke lirih.
Naruto melebarkan senyumnya membuat Sasuke harus memalingkan wajahnya yang merona. Naruto memegang dagu Sasuke agar menatapnya.
"Apa yang aku katakan tadi bukanlah suatu kebohongan," ujar Naruto tegas. Tangan Naruto yang memegang dagu Sasuke beralih untuk mengusap pipi Sasuke.
"Ma-maksudmu?" tanya Sasuke bingung.
"Aku menyukaimu, Sasuke. Aku menyukaimu bahkan sejak dulu, sejak kau belum berubah menjadi seperti ini. Katakan aku gila atau apa, aku tak peduli. Karena memang kenyataannya aku menyukaimu sejak lama," Naruto berterus terang.
Dengan pernyataan yang baru saja diucapkan oleh Naruto tentu saja membuat Sasuke terkejut. Jadi, Naruto menyukainya? Apakah cintanya tidak bertepuk sebelah tangan?
"Aku mencintaimu, Sasuke. Sangat mencintaimu," dan ciuman di kening Sasuke dari bibir Naruto adalah hal yang membuat Sasuke yakin bahwa saat itu memang bukan hanya sekedar mimpi.
TBC
Terima kasih Nada ucapkan kepada:
Dee chan-tik, Akasaka Kirachiha, Kitsune Syhufellrs, Veremthy, pindanglicious, Agung Moelyana, Fox, Fuyuki Fujisaki, Aicinta, Ida, May, AzuraCantlye, Haruno Saomi, (Guest), Naomi, Black Lily, mocha-mochin, Fishiie LophehaeUKE, rere, (Guest), yuyu, Gajah Lopers, nadia-chan...
Chap 5, Nada usahakan nggak selama chap 4...
Jangan lupa RnR, OK!
