Pertama-tama,
Chapter ini didedikasikan untuk:
"...heerinsslayeol. Kim Hyunshi. dobichan. selvian. summer. Thousand Spring. AlpacaAce . ICE14. Hanny WYF-HZT. Nada Lim. ajib4ff. diya1013. Guest. yeolrascal. DwitaDwita. joonxingie. Yurako Koizumi. Phylindan. XiuBy PandaTao. sulay shipper super duper forever. lintang. emak lau. berlindia. lili. egsuoppa. githajonari. Xiaolu'yumi. Liaohuan. kangjihyo. joonxing. lovara. Ruii419. siscaMinstalove. Yui the devil. VAgustive. MinwooImitasi. tuti handayani. Jaylyn Rui. heeriztator. ExileZee. wasastudent. flawlessaliens. Hyera-ssi. Des Parfaits. yeols. LyaxueSiBum. ia. daelogic. BluePink EXO-XOXO-COUPLE. Aswshn. ZI YUI. luhan8045. Eun soo. dazzlingharu. kimsangraa. Park Oh SeLay. Kim MinHyun. fvktaoris. meyixingiejoonfa. uwiechan92. ChenLin21. naranari. chenma. shotix. kotakpensil. kwondami..."
(maaf kalau ada yang terlewat)
favoriters/followers
New readers(silent readers XD)..."
.
Untuk kesabarannya menunggu chapter final ini selama mungkin hampir sebulan XD
Maaf saya gak bisa nepatin janji saya buat updet cepet ._.
Terima kasih banyak.
.
.
.
Beware for long-ass chapter!
.
9k+ lho bok! XD
.
.
DLDR!
To: Kyungsoo
20:03
Maaf soal yang kemarin Kyungsoo-ah.
.
From: Kyungsoo
20:05
Tidak apa-apa kok sunbae. Aku baik-baik saja :)
.
To: Kyungsoo
20:08
Kau yakin? Maksudku, aku jadi tidak enak. Kalau kau mau, kita bisa adakan sesi torturing lagi sebagai pengganti yang kemarin.
.
From: Kyungsoo
20:09
Sunbae yakin? Aku tidak mau merepotkan sunbae.
.
To: Kyungsoo
20:11
Aku yakin Kyungsoo-ah. Bukankah sudah kubilang kalau aku sungguhan ingin membantumu? Kau tenang saja. Tidak akan ada yang menganggumu lagi kok.
.
From: Kyungsoo
20:13
Emm, baiklah kalau sunbae bilang begitu. Bagaimana kalau kita bertemu di perpustakaan saja besok?
.
To: Kyungsoo
20:14
Oke.
.
Suho menghela napas panjang.
Masih dengan mengenggam smartphone-nya di satu tangan, ia melemparkan tubuhnya ke ranjang. Kepalanya otomatis terdongak menatap langit-langit kamar yang telah dihuninya selama kurang lebih sepuluh tahun itu. Ponselnya ia mainkan di satu tangan. Memutar-mutarnya, melemparnya, kemudian menangkapnya lagi—begitu seterusnya, sementara bibirnya mulai bergerak mendendangkan selantun lagu.
Ia memejamkan mata. Menikmati alunan melodi yang diciptakan oleh suaranya sendiri yang lamat-lamat mengisi kesunyian ruang kamar.
Seharian ini mood-nya seakan menguap entah kemana. Ia tidak mood belajar. Ia tidak mood makan malam. Dan bahkan kalau boleh jujur, ia sama sekali tidak mood menggeserkan tubuhnya dari kasur barang sejengkal saja.
Mungkin ia masih diliputi rasa bersalah karena sikap senonohnya tadi siang. Sikap tak senonohnya pada… pada orang itu.
Ia mencoba menghiraukannya. Ia mencoba melupakannya. Menyakinkan dirinya bahwa Lay memang pantas mendapatkannya. Menyakinkan dirinya bahwa ia hanya ingin sekedar membuat pemuda itu tahu rasa.
Menyakinkan dirinya bahwa hatinya tidak berdesir ketika ia melihat wajah terluka Lay saat itu. Menyakinkan dirinya bahwa kulitnya tidak terasa tercubit ketika ia melihat wajah pemuda itu yang dibasahi air mata. Menyakinkan dirinya bahwa ia tidak merasa aneh ketika ia melihat Lay membalikkan badan untuk pergi.
Menyakinkan dirinya bahwa semuanya baik-baik saja.
.
Ya, semua memang baik-baik saja.
.
Ya,
…Seharusnya.
.
Tapi—
…Kenapa?
Kenapa rasanya seperti ada yang salah?
.
Drrt.
Ponselnya tiba-tiba bergetar.
Dan Suho buru-buru membuka pesan singkat yang masuk ke ponselnya. Tak dapat menahan perasaan kecewa yang membuncah tak wajar di hatinya ketika ia tidak mendapat pesan dari nomor yang dipikirkannya.
.
From: Kyungsoo
20:25
Oh ya, selamat malam dan mimpi indah, sunbae :)
.
.
Apa yang ia harapkan—tidak.
Ia tidak berharap kok. Ia tidak sedang mengharapkan sebuah pesan dari seseorang.
Tidak.
Apalagi kalau pesan singkat itu berasal dari pemilik nomor "orang sinting".
Tidak.
.
Tentu saja tidak.
.
Tidak sama sekali.
.
.
Sunbae, Please Notice Me!
.
Two-shot!
Warning: Beberapa bahasa Non-baku. Typos, dll!
[2/2]
.
..
...
Suho memainkan bolpoin-nya di satu tangan, sementara tangannya yang lain ia gunakan untuk menyangga dagunya.
Ia menolehkan kepala ke seluruh penjuru kelas. Dari sini ia bisa melihat teman-temannya yang lain tengah sibuk menyalin catatan yang dituliskan oleh gurunya pada papan tulis di depan. Ia beralih memandangi halaman buku tulisnya yang masih polos, belum tergores oleh ujung pena sedikit pun.
Suho membuang napas panjang. Sepertinya mood-nya masih benar-benar buruk sekarang.
Tidak biasanya ia malas mencatat penjelasan guru tentang materi yang disampaikan. Terlebih jika itu adalah fisika. Mata pelajaran favoritnya, sekaligus menjadi salah satu mata pelajaran yang paling ia kuasai disini. Sekedar informasi saja, nilai fisikanya memang selalu menjadi yang paling tinggi diantara deretan anak kelas tiga yang lain.
Mungkin ini ada hubungannya dengan La—'orang sinting' itu.
Hari ini semua memang terasa ganjil.
Ia sudah tak merasa diawasi—semenjak ia pergi ke sekolah dan sampai ia memasuki kelas.
Ponselnya juga sepi—tak ada SMS baru yang biasanya muncul dari si bocah stalker itu dalam jumlah yang keterlaluan.
Hari ini La—ehm, maksudnya orang sinting itu tak menunjukkan batang hidungnya sama sekali .
.
Mungkin, ia sudah benar-benar jera.
Bagus.
.
Iya kan?
.
Bukankah begini yang diharapkannya?
Kembali ke kehidupannya yang dulu. Yang membosankan, datar dan monoton.
Tanpa kehadiran Lay.
.
Tapi—
.
Tapi…tetap saja...
Rasanya...
.
…aneh.
.
Suho menolehkan kepala ke arah jendela kelas yang terletak di sampingnya. Dimanjakan langsung oleh pemandangan sekolah yang masih berlatar belakangkan akan hangatnya musim gugur yang menyapa.
De ja vu.
Suho merasa familiar. Terlalu familiar.
Pohon-pohon kecokelatan yang menjulang tinggi-tinggi, daun-daun cokelat yang berguguran ditanah, lelaki—
—tidak.
Kali ini, tidak ada lelaki bermata cokelat yang tertangkap oleh indra penglihatannya.
.
Tidak ada.
.
Suho mengernyit.
Mungkin terlewat. Ya, mungkin terlewat. Pasti terlewat.
Ia menolehkan kepala, menarik napas dan memejamkan mata selama beberapa saat. Begitu dirasanya cukup, sekali lagi ia menolehkan kepala menghadap ke arah jendela.
...Pohon-pohon kecokelatan yang menjulang tinggi-tinggi, daun-daun cokelat yang berguguran di tanah—
—masih tidak ada.
.
Lay benar-benar tidak ada.
.
...Hore.
.
...Senang? Tentu saja Suho senang—bukannya ia mengharapkan kehadiran Lay atau apa, ia justru senang Lay menghilang. Sangat senang, malah.
Dengan begitu ia bisa mendapat kedamaiannya kembali bukan? Tanpa ada yang menganggunya.
Tanpa Lay.
.
.
Tapi Suho tidak tahu,
Kenapa tiba-tiba saja dadanya terasa sesak memikirkan semua itu.
.
Siangnya ketika bel istirahat telah berbunyi, Suho telah menemukan dirinya berdiri diantara kepungan rak-rak buku, khususnya di bagian seksi buku-buku fiksi. Ia sudah berjanji untuk menemui Kyungsoo di perpustakaan, ingat?
Jujur saja, selama ia menginjakkan kaki di perpustakaan ini, ia tak pernah punya niatan untuk mengunjungi seksi ini. Seksi dengan rak-rak yang di penuhi oleh buku-buku fantasi dan segala hal khayal lainnya. Semacam cerita picisan tentang vampire, werewolf—buk-buku dongeng.
Suho selalu percaya bahwa dirinya ini adalah orang ilmiah, yang memilih untuk lebih percaya pada ilmu-ilmu pasti. Suho tidak tahu kenapa perpustakaan mengoleksi buku-buku macam ini. Sama sekali tidak berguna. Maksudnya—hei, mereka ini anak SMA, ingat?
Anak SMA mana yang sudi percaya dengan omong kosong seperti in—
Suho mendecak.
Lay.
Ha, yeah. Bocah itu kan memang penggila buku dongeng.
.
Bukan berarti ia menaruh perhatian pada Lay atau bagaimana sampai ia tahu akan hal itu. Tentu saja tidak. Jangan berpikir yang tidak-tidak, oke?
Suho bahkan masih ingat ketika mereka pertama kali bertemu, dan pemuda itu memanggilnya sebagai pangerannya karena ia telah mencium—
Ehem. Memberinya nafas buatan, maksudnya.
.
Pangeran…
Ia bukan pangeran.
Ia tidak pantas disebut sebagai seorang pangeran.
Karena,
.
…mana mungkin 'kan ada pangeran yang menyakiti hati orang lain seperti itu?
.
Suho mendengus malas. Kenapa ia jadi memikirkan hal-hal itu lagi sih?
Ia menggerakan kakinya untuk berjalan ke bagian ujung rak dengan langkah berat, sembari memandang malas buku-buku yang tertata rapi di setiap sudutnya. Dan ketika ia akan berbalik, sesuatu tiba-tiba menghentikannya.
Oh Tuhan. Disana.
Pemuda yang beberapa detik tadi baru saja dipikirkannya—
—Lay.
.
Lay, demi Tuhan.
.
Jantungnya menggila. Damn.
Ia tidak bertemu Lay baru sehari ini. Namun kenapa semua terasa begitu lama untuknya? Terlalu lama.
Dan akhirnya, ketika ia bisa melihat wajah pemuda itu, entah kenapa ia merasa…lega. Seperti ada angin segar yang tiba-tiba datang menghempas paru-parunya.
Satu tamparan ia daratkan di pipinya.
Ya Tuhan.
Mikir apa dia barusan?
.
Seharusnya bukan itu yang dipikirkannya.
Seharusnya bukan hal-hal tidak penting itu yang kini dipikirkannya.
Seharusnya yang dipikirkannya sekarang adalah kenyataan bahwa Lay tidaklah sendirian.
Ia bersama orang lain.
Laki-laki. Kulit putih bersih, tinggi, tampan, wajah kebule-bulean, dan, ugh—macho.
.
Dan lihat bagaimana ia bisa membuat Lay tersenyum, kemudian tertawa. Lengkap dengan lesung pipinya.
.
Tangannya terkepal erat.
Sialan.
Ini kan perpustakaan. Tidak seharusnya 'kan mereka tertawa-tawa seperti itu?
.
Kesal?
Bukan. Ia bukannya kesal.
Marah?
Tidak. Punya hak apa dia untuk marah?
...Cemburu?
Mung—apa? Bukan, bukan. Haha, kata cemburu itu tidak ada di dalam kamus Suho.
Ia hanya merasa…
.
Merasa… apa, ya?
.
"Sunbae?"
.
Oh Tuhan. Tangan Suho berhenti terkepal. Jantungnya berdegup kencang seperti genderang. Keringat dingin mulai menetes dari dahinya.
Gila. Hanya mendengar kata 'sunbae' saja sudah membuatnya gugup setengah mampus seperti ini.
.
Namun di sisi yang lain, ia senang. Lay menyapanya.
Dan mungkin saja pemuda itu memang tak menaruh benci padanya.
.
Ia menarik napas dalam-dalam. Tersenyum sedikit, berbalik dan—
.
"Sunbae?"
.
.
.
"Kyungsoo…"
Bukan.
Bukan Lay…
.
"Kenapa wajah sunbae terlihat sedih begitu?"
.
Sedih? Sedih dia bilang? Haha.
Ha.
.
Sedih…
….Apa iya?
.
"Aku… aku baik baik saja."
"Sunbae…"
"Ayo kita pergi dari sini Kyungsoo,"
"E-eh? Tunggu, sunbae—"
.
Tidak. Ia tidak sedih sama sekali.
Ia—ia tidak mengernyitkan dahi. Ia tidak menggigit bibir. Ia tidak menangis.
Suho tidak sedih kok.
.
.
Tapi kenapa...
.
.
Perasaan sakit di dadanya ini belum menghilang juga?
.
"Jadi makin besar derajat kemiringannya maka makin besar pula harga kecepatannya?"
"Yep. Posisi dari suatu titik materi yang bergerak merupakan fungsi waktu, oleh karena itu, vektor posisi ini dapat ditulis begini. Maka kecepatan titik materi pada sebuah bidang datar atau ruang dapat ditulis dengan rumus ini,"
"Ah, begitu. Baiklah, aku mengerti. Terima kasih Suho sunbae,"
"Sama-sama Kyungsoo-ah. Aku senang bisa membantumu."
Suho tersenyum lembut. Ia meregangkan otot-ototnya dan menolehkan kepala kesana kemari. Mereka tidak jadi belajar di perpustakaan karena... yeah, kau tahu apa. Jadi Suho dan Kyungsoo memutuskan untuk melanjutkan sesi turtoring mereka sepulang sekolah di kantin. Dari tempat duduknya yang terletak di ujung kantin, Suho bisa mengamati keadaan sesisi kantin dengan leluasa. Ia menyadari bahwa kantin masih ramai ternyata.
Suasana bising ala manusia kelebihan hormon mendominasi kantin yang telah sesak dengan manusia-manusia yang membutuhkan asupan makanan dari ibu kantin setelah akhirnya bebas dari kurungan yang bernama 'sekolah'.
Diantara kebisingan yang mengudara di kantin sekolah, ada satu sumber kebisingan yang akhirnya menarik perhatian Suho.
Sumber kebisingan yang... 'menganggu.'
Adalah seseorang—tidak, sebenarnya dua orang, yang duduk di ujung kantin yang berseberangan dengan tempat duduknya dan Kyungsoo.
.
Duduk bersebelahan, tertawa terbahak-bahak seakan mereka tak punya beban, melempar senyum enteng satu dengan lainnya, dan apaan dengan acara suap-suapan segelas milkshake cokelat itu? Dan—astaga, dengan sedotan berbentuk hati begitu.
Norak.
.
Ia tidak bisa melepaskan pandangan. Atau sebenarnya, tidak mau.
Melihat bagaimana cara mereka berinteraksi membuat ia… muak.
Melihat bagaimana pemuda asing itu memulai sebuah topik yang serius dengan wajah yang dibuat sekeren mungkin, serta bagaimana ekspresi Lay menanggapinya—dengan kepala kadang dimiringkan dan bibir dikerucutkan dengan imut—sok imut.
.
"Sunbae?"
Suho tersentak sedikit. Ia beralih memandang Kyungsoo dengan alis terangkat, "Ya?"
Kyungsoo tertawa kecil melihat tingkah Suho, "Sunbae mau makan?"
Suho mengangkat bahu, "Yeah, boleh." gumamnya tak acuh.
Ia tidak terlalu menyimak apa perkataan Kyungsoo yang selanjutnya. Matanya kini kembali teralih pada Lay yang mengulum senyum 'terkutuk' itu lagi untuk yang kesekian kalinya. Tanpa menyadari ada senoda milkshake yang tertinggal di sudut bibirnya.
Suho mendengus. Dasar jorok.
Dia melihat pemuda asing itu menunjuk-nunjuk sudut bibirnya sendiri, mungkin mencoba memberitahu Lay.
Namun Lay yang memang tidak pernah peka hanya bisa mengangkat kedua alis, tanda tak mengerti. Kemudian dengan alasan itu pun pemuda itu memberanikan diri untuk mendekatkan satu tangannya ke sudut bibir Lay, menggesekan ujung ibu jarinya disana. Perlahan namun pasti.
Modus murahan.
Suho tidak tahu ia harus memaki pemuda itu yang kurang ajar atau memaki Lay karena sifatnya yang kelewat polos itu.
Ha, dia bilang apa tadi? Polos?
Ck.
Yang benar saja.
Mungkin saja Lay justru yang sengaja memancing semuanya, mencoba menarik perhatian pemuda itu, sebagaimana ia mencoba menarik perhatian Suho.
Dulu.
Tapi tetap saja. Melihat ujung jari pemuda-asing-sok-keren itu menyentuh seinci saja kulit Lay membuat sesuatu dalam dirinya mendidih, membuat Suho memiliki hasrat yang menggebu-gebu untuk membuat lelaki brengsek itu menjadi—
"…daging cincang,"
"Sunbae bilang apa?"
"Ah, daging cincang. Iya, daging cincang manusi—ah, tidak, tidak. Maksudku, aku ingin makan daging cincang."
Shit.
Suho benar-benar merasa kacau hari ini.
.
Suho bangun dengan mood lebih buruk dari hari sebelumnya.
Kepalanya berdenyut hebat sepanjang perjalanan menuju sekolah. Bising suara kereta api yang ditumpanginya kini sama sekali tidak membuat semuanya menjadi lebih baik—yang ada malah membuatnya ingin melempari siapa saja yang ada dihadapannya dengan sepatu dan buku-buku pelajarannya yang bersembunyi di balik resleting tasnya.
.
Jangan. Ganggu.
Please.
.
Ia perlu tidur kira-kira enam jam lagi. Serius.
.
…Oke, mungkin tidak benar-benar serius.
.
Tapi sungguh, kalau enam jam hibernasi itu tidak membuat ibunya bernafsu untuk melemparinya dengan panci dan wajan tadi pagi, ia pasti masih menemukan dirinya bergelung nyaman di bawah selimutnya saat ini. Karena, hell, yeah!
Untuk yang pertama kalinya, Kim Suho—ehem, Kim-sangatjenius-Suho—malas pergi ke sekolah.
Akhir-akhir ini, baginya pergi ke sekolah sama saja dengan bunuh diri. Well, mungkin itu terdengar lebay. Tapi serius, ia benar-benar malas bertemu dengan ugh— haruskah ia sebutkan nama orang itu? Well, oke—Lay—dan teman lelakinya yang sok kenal sok dekat itu.
Kedua manusia itu layaknya perangko berjalan sekarang. Ke sana berdua, ke sini berdua.
Dimana ia melihat Lay, pasti ia melihat lelaki sok itu—sampai-sampai Suho muak rasanya. Apalagi modus-modus murahan yang selalu ditunjukkan lelaki itu pada Lay yang masih saja tidak peka, benar-benar membuat Suho ingin menjambak rambut kedua manusia itu dan memisahkan mereka.
.
Tapi itu bukan karena ia cemburu, oke?
Bold, underline, dan italic, kurang apa lagi? Stop berpikiran seperti itu pada Suho, mengerti?
.
Suho tidak ingat sejak kapan ia sudah berdiri di depan pintu gerbang sekolah. Mungkin naluri alam bawah sadarnya yang menuntunnya sampai ke sini. Ia menghela napas panjang, kemudian melangkahkan kakinya memasuki gedung sekolah dengan langkah berat seakan ia tengah memasuki gerbang neraka.
.
Yeah, "Selamat datang di neraka", memang.
.
Suho berjalan menyusuri koridor ke tempat di mana kelasnya berada dengan satu tangan masuk ke dalam saku, serta tas punggungya yang ia sampirkan di bahu. Baru saja ia akan berbelok kearah tangga, ia menangkap sosok Lay dari arah seberang—sendirian, syukurlah, berdiri dengan satu tangan mendekap tasnya, dan holy shit—tersenyum padanya.
Ini mimpi, ini mimpi, ini—slaps—ow! Astaga, ini bukan mimpi! Lelaki itu—Lay. Ia memang tersenyum padanya. Pada Suho.
Untuk yang pertama kali semenjak mereka terakhir berbicara, semenjak kejadian waktu itu.
.
Lay benar-benar sosok yang berhati besar. Setelah apa yang Suho lakukan padanya, pemuda itu masih mau memaafkannya.
Dan kalau saja Suho tidak mengingat jati dirinya bahwa ia ini lelaki manly, ia pasti sudah menangis tersedu-sedu saking terharunya.
.
Jantungnya menggila sekali lagi. Damn.
Apalagi ketika Lay semakin melebarkan senyumannya, dan mengangkat satu tangannya untuk melambai ke arahnya.
.
Suho benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukannya selama beberapa saat. Perasaannya terlalu berkecamuk sekarang .
Ia baru akan mengangkat tangannya, membalas lambaiannya dari seberang, dan ingin membalas senyumannya, kalau saja ia tidak mendengar—
.
.
.
"LAY!"
"KRIS!"
.
.
Dalam sejarah hidupnya, ini adalah pertama kalinya Suho jadi korban PHP.
.
Jika kau bertanya pada Suho apa yang paling tidak ia sukai di dunia ini, maka jawabannya adalah dihiraukan.
.
Ia benci dihiraukan.
.
Sangat benci dihiraukan.
.
Dan hal itu, adalah apa yang coba Lay lakukan padanya.
Menghiraukannya.
Menghiraukannya ketika mereka berpapasan di koridor, menghiraukannya ketika pemuda itu melihatnya di kantin, menghiraukannya ketika mereka tidak sengaja saling bertukar pandang, dan menghiraukannya di segala tempat, menganggapnya seakan-akan ia ini tidak ada. Seakan-akan ia ini hanya angin yang numpang lewat. Dan hal tersebut sudah berlangsung selama hampir seminggu lamanya.
Tarik ucapannya yang mengatakan bahwa Lay adalah pria berhati besar.
Nyatanya pemuda itu sepertinya masih memendam rasa dendam padanya. Memangnya dia salah apa sih?
Oke, Suho akui ia memang salah. Oke, Suho akui ia memang menghina pemuda itu dengan kata-kata yang tidak pantas.
Oke, mungkin seharusnya Suho tidak melakukan semua hal itu.
Tapi kan ia hanya ingin memberi pelajaran pada orang sinting itu. Dan jangan salahkan ia jika ia terlalu terbawa emosi, karena kelakuan Lay saat itu memang keterlaluan. Jadi, semua ini memang bukan kesalahannya seratus persen.
Iya 'kan?
Well, Suho tahu ia sebenarnya hanya mencoba menghindar . Logikanya, dia yang memang seharusnya meminta maaf bukan? Tapi ia masih punya harga diri yang dipertaruhkan disini. Dan juga, bagaimana ia bisa meminta maaf kalau pada kenyataannya Lay selalu menghindar seperti itu?
Suho mengacak-acak rambutnya frustasi. Kenapa semua jadi serumit ini sih?
Kenapa semua ini menyimpang dari skenario yang dulu telah jauh-jauh hari dirancangnya? Kenapa ia tidak mendapatkan perasaan bahagia yang diharap-harapkannya ketika Lay telah pergi dari kehidupannya? Kemana perasaan puas itu? Kenapa sekarang yang datang justru perasaan bersalah terus menerus yang seakan-akan ingin mencekiknya seperti ini?
Dan kenapa, sekarang yang tumbuh justru perasaan…
…rindu?
.
Suho tahu ia harus melakukan sesuatu. Ia harus mengakhiri semua ini. Ia… ia tidak mau terus terkekang oleh rasa bersalah yang kian hari kian memakannya ini.
Tapi…
.
Tapi bagaimana?
Ia harus melakukan apa?
.
Ketika ia menolehkan kepala, ia menangkap sosok yang baru saja dipikirkannya berjalan melewati koridor sekolah, dengan menenteng sebuah ransel kecil, dan sehelai handuk kecil yang melilit di sekitar lehernya.
Suho tidak tahu apa yang akhirnya memaksa kaki-kakinya dan merasuki tubuhnya untuk bangkit dan mulai mengikuti langkah pemuda itu.
Ia menemukan pemuda itu berbalik di ujung koridor, menuju ruang latihan dance—kalau ia tidak salah, kemudian masuk ke dalamnya. Begitu memastikan pemuda itu aman dalam jarak pandangnya, Suho membawa tubuhnya mendekat. Gayanya sekarang seperti om-om penguntit yang—
.
Sebentar. Apa tadi?
.
Penguntit?
Yang benar saja!
Ia tidak menguntit oke? Ia cuma mengikuti.
.
Dan ia bukan om-om, dammit!
.
Dari tempatnya bersembunyi sekarang, Suho bisa melihat Lay dari celah-celah yang tersisa di balik pintu. Ia melihat Lay berjalan ke sisi ruangan dan meletakkan ransel serta handuknya disana. Melepas jaketnya dan memberi Suho akses untuk bisa mengekspos sempurna tiap detail tubuhnya yang proporsional.
Setelah ia menyalakan pengeras suara yang diletakkan di sudut ruangan, dan memastikan benda itu berfungsi, ia lantas kembali berjalan untuk berdiri di tengah ruangan yang penuh dengan kepungan kaca tersebut. Sedetik kemudian, musik bernada beat pun mulai menggema, mengalun diikuti dengan gerakan selaras yang diciptakan oleh pemuda yang seakan kini menjadi inti dari segala benda di ruangan itu.
Suho hanya mampu terdiam dengan rahang seakan melorot ke tanah, memperhatikan bagaimana pemuda itu menggerakan anggota badannya dengan luwes dan lincah, terlihat begitu fleksible di matanya, dan—astaga, apa ia baru saja mengatakan bahwa ia terpesona?
Tidak?
Bagus.
Karena ia memang tidak sedang terpesona kok.
.
Suho tidak tahu sudah berapa lama waktu yang dihabiskannya disini hanya untuk melihat pemuda itu menari. Dan ia juga tidak tahu sejak kapan ia berinisatif mengeluarkan smartphone-nya dengan layar yang menampilkan potret Lay yang tertangkap sempurna oleh kamera ponselnya. Ada sesuatu dalam pemuda itu yang… yang berbeda. Yang Suho tak pernah sadari sebelumnya.
Tapi apa?
Ia sendiri juga tidak tahu.
.
Lamunannya terhenti ketika ia mendengar lagu akhirnya berhenti. Yang dilihatnya kini hanya Lay yang berdiri dengan nafas terengah dan keringat yang membanjiri tubuhnya di pusat ruangan.
.
"Kerja bagus, Lay!"
.
Suara siapa itu? Bukankah seharusnya hanya ada Lay di ruang studio itu?
Tapi sepertinya ia pernah mendengar suara ini di suatu tempat. Suara yang entah kenapa terdengar begitu menyebalkan di telinganya. Tunggu, tunggu.
Ini kan suara…
.
"Terima kasih, Kris. Ini belum seberapa, kau tahu."
.
Ah, iya.
.
Kris.
Namanya jelek, ih.
.
Lagipula, apa yang dilakukannya di studio dance sih? Bukannya dia anak basket ya?
.
Suho melihat siluet seseorang menghampiri Lay, mengulurkannya sebotol air mineral dan sehelai handuk kecil milik pemuda itu. Suho juga bisa mendengar bagaimana Lay mengucapkan terima kasih, dan melihatnya tersenyum manis pada pemuda itu.
Hatinya sakit. Nyesek. Ugh.
.
"Lo mau gue anter pulang? Udah mau malem nih."
Tuh kan, modus murahan lagi.
"Kau tidak keberatan?"
"Enggak lah. Rumah kita kan searah."
"Em... oke deh."
.
Suho tidak punya waktu untuk menyumpah serapahi orang bernama Kris itu karena kini ia menyadari kedua lelaki itu tengah berjalan menuju ke pintu—dengan kata lain, menuju ke arahnya.
Ia cepat-cepat mencari tempat untuk sembunyi. Karena hell no! Ia tidak mau kepergok menguntit—maksudnya, mengikuti—Lay sedari tadi.
Ia menyelipkan tubuhnya diantara tembok-tembok yang tersisa, bersyukur karena badannya yang tak terlalu besar sehingga ia tak perlu terlalu kesusahan untuk bersembunyi, sekaligus berdoa agar Lay dan Kris tidak menemukan keberadaannya disini.
Ia mengerlingkan kepalanya sedikit, mengintip dari tempatnya berdiri dan melihat bahwa Lay dan Kris kini sudah keluar dari studio dan mulai berjalan menuju ke arah koridor sekolah dengan punggung mereka yang semakin menjauh. Suho menghela napas lega banyak-banyak, merasa bersyukur karena ia tidak ketahuan, dan bergegas keluar dari tempat persembunyiannya.
Fuuh~ hampir saja.
.
.
Tapi Suho diam-diam mengakui, ternyata mengun—mengikuti seseorang itu menyenangkan juga.
.
Ternyata memang menyenangkan.
Bagaimana kau diam-diam mengamati obyek yang kau untit—ehm, kau ikuti—bagaimana kau bemain akal untuk menyembunyikan identitasmu, bagaimana kau melihat ekpresi bingung targetmu. Sungguh merupakan kesenangan tersendiri bagi Suho sekarang.
Jangan berpikir yang tidak-tidak. Kalaupun ia mengun—mengikuti Lay, ia tidak serendah itu. Ia tidak seketerlaluan Lay dulu. Ia masih bisa menjaga sikap, dan ia masih punya harga diri yang harus dipertaruhkan. Karena coba kau pikirkan, masa' iya ada mantan target stalker kini berganti posisi menjadi stalker mantan stalkernya?
Bingung kan?
Sama.
Suho juga.
.
Suho kini tengah memandangi layar smartphone-nya. Di tangannya yang lain terdapat sebuah kartu sim dengan nomor baru yang dibelinya tadi siang sepulang sekolah. Menimbang-nimbang haruskah ia berganti nomor kalau ia ingin mengirim SMS pada Lay?
Suho galau.
Ia tidak tahu apa yang merasukinya sampai ia rela buang-buang uang untuk membeli nomor baru yang sebenarnya tidak guna ini. Mungkin ia hanya ingin iseng? Atau mungkin saja ia bisa mengerjai Lay dengan ini 'kan? Haha.
Ha.
Oke, bohong.
Ia sungguhan ingin mengirimi Lay SMS kok.
.
Sebenarnya ia bisa saja menggunakan nomornya yang lama. Tapi, mau ditaruh dimana mukanya nanti kalau Lay tahu bahwa Suho kini yang beralih mengiriminya SMS konyol? Bisa ke-geer-an kan dia.
Suho menggembungkan kedua pipinya dengan kesal. Ia mantapkan hatinya untuk mencopot baterai ponselnya dan mengganti smartphone-nya dengan nomor baru. Begitu proses rebooting selesai, ia buru-buru membuka aplikasi messanger-nya untuk membuat sebuah pesan baru.
Ia mengetikkan nomor Lay disana. Dan ketika ia akan menuliskan isi pesannya disana, jemarinya justru hanya mengambang diatas deretan keyboard.
Suho galau. Lagi.
Namun akhirnya dengan satu helaan nafas panjang, ia bergegas mengetikkan sebuah kata disana.
.
To: +820071092xxx
From: +8206150592
20:31
Hai.
.
.
Suho ingin mengumpat rasanya begitu ia selesai menekan tombol send di ponselnya. Astaga, demi puluh enam alphabet di dunia, dan dari ratusan kata yang bisa ditulisnya, yang terlintas di pikirannya adalah—hai?
Karena—ew, itu norak sekali. Dan kecil kemungkinan Lay akan membalas pesannya kan?
Tapi toh, ini tidak seperti Suho mengharap sebuah balasan.
.
Suho mendengus panjang, kemudian melemparkan tubuhnya ke ranjang.
Merasa begitu lelah, ia pun menutup kedua kelopak matanya dan memutuskan untuk mengakhiri hari penuh kegilaan ini.
Ia benar-benar butuh ketenangan sekarang.
.
Dan malam itu, Suho bermimpi tentang seorang pangeran tampan yang berhasil menyelamatkan unicorn-nya dari seekor naga jelek.
.
Click.
Lay mendesah panjang. Dengan tetes-tetes keringat yang masih menghiasi wajah dan hampir seluruh tubuhnya, ia mendudukkan diri dengan menyandarkan punggung pada permukaan kaca di belakangnya. Ia meraih botol air mineralnya dengan susah payah, membuka tutupnya dan menegak isinya banyak-banyak.
Menari merupakan hobinya sejak kecil. Menari sudah menjadi bagian hidupnya kini. Dan menari adalah tempat bagi Lay untuk melupakan sejenak masalah yang menimpanya. Tempat dimana ia bisa dengan bebas melampiaskan segalanya.
Termasuk melampiaskan rasa sakit hatinya karena… Suho.
Lay menghela napas berat.
Lagi-lagi, ia memikirkan senior-nya itu.
Berbagai cara sudah dilakukannya untuk melupakan pemuda itu. Mencoba untuk berhenti menguntitnya, mencoba bersikap biasa saja, mencoba untuk menyibukkan dirinya, berusaha menghindarinya.
Dikiranya semua ini mudah? Bagaimana ia mencoba menghiraukan kehadiran Suho di dekatnya, tapi ia tahu hatinya tidak begitu. Bagaimana ia berusaha keras menghindari tatapan tajam yang Suho hujamkan padanya setiap kali mereka bertemu, padahal jantungnya tengah berdegup tak karuan. Itu semua tidak semudah membalik telapak tangan. Perasaannya dipertaruhkan disini.
.
Lay tahu ia harus move on.
Ia tidak bisa terus-terusan galau begini. Jelas-jelas Suho sudah menolaknya. Dan bahkan senior-nya itu dengan terang-terangan mengatakan bahwa ia membencinya. Sangat membencinya.
Lay tersenyum getir.
Sampah.
.
Yeah, ia ini hanya sampah baginya.
.
Mungkin ia ini terlalu naïf. Mungkin ia memang benar-benar keterlaluan dalam mengekspresikan rasa sukanya pada Suho. Mungkin seharusnya ia tidak menaruh perasaan pada pemuda itu dari awal. Mungkin seharusnya ia tidak pernah menguntit Suho, sehingga ia tidak perlu merasakan rasa sakit ini.
Oh ya, dan bicara soal menguntit, entah kenapa akhir-akhir ini Lay merasa ada yang aneh.
Ia merasa ia tengah diawasi.
Ia tidak tahu apa, dan ia tidak tahu kenapa. Mungkin ini hanya perasaannya saja. Lagipula, tidak mungkin 'kan? Apalagi kalau ia bilang ia mendengar suara jepretan kamera tiap kali ia menari. Atau bahwa nomornya kini sering menjadi sasaran salah kirim karena ada nomor asing yang mengiriminya pesan-pesan aneh.
Seperti...
drrt.
.
.
From: +8206150592
17:31
Sehoror-horrornya film-film horror, nggak ada yang lebih horror daripada liat kamu jalan sama orang lain.
.
.
Lay mengernyit geli.
Siang bolong begini, setan apa yang baru saja merasuki orang ini?
Ia menggeleng-gelengkan kepala, lalu memilih untuk menyambar botol air mineral-nya dan menentengnya di satu tangan, sementara tangannya yang lain ia gunakan untuk menyampirkan ranselnya ke bahu dan berjalan menuju pintu. Baru saja ia hendak berbelok ke arah koridor, ia mendengar suara seseorang memanggilnya dari kejauhan.
.
"LAY!"
.
Lay menoleh, dan tersenyum ketika ia melihat siapa itu. "Hei, Kris."
Kris sebenarnya adalah kakak kelasnya. Dan kenapa ia tak memanggilnya pemuda itu dengan sebutan hyung, sunbae, gege atau semacamnya karena memang mereka berdua yang membuat kesepakatan itu. Dan Lay juga merasa mereka sudah terlalu dekat untuk menggunakan sekedar formalitas seperti itu.
Lay mengenal Kris mungkin terhitung sudah lama.
Mereka berkenalan ketika ia mengikuti masa orientasi bagi siswa baru, sementara Kris adalah ketua panitia MOS saat itu. Mengetahui bahwa mereka sama-sama orang China dan kemudahan dalam berkomunikasi karena bahasa Korea Lay yang memang bisa dibilang payah, membuat mereka menjadi dekat. Kris mungkin terlihat dingin dari luar, tetapi sebenarnya dia orang yang baik hati, sensitif, dan seorang pendengar yang baik.
Kris tersenyum menghampirinya, "Lo hari ini ada acara?"
Lay mengangkat alis, "Kenapa memangnya?"
"Gue pingin ngajak lho hang out gitu, mau ya?"
Lay tak bisa menahan diri untuk tidak tertawa melihat Kris yang mencoba membuat aegyo di depannya. Ia mengangguk mengiyakan, "Ya, ya. Tentu saja."
Kris tersenyum lebih lebar sebagai balasan. "Gue jemput lho nanti sore," Ia mengedip jahil kemudian, "Dandan yang cantik, oke?"
Lay tertawa dan memukul main-main lengan pemuda itu.
Ia menurut saja ketika Kris menarik tangannya dan membawanya untuk berjalan ke arah koridor.
.
.
.
.
"By the way, Kris. Kau dengar suara tempat sampah yang ditentang tidak?"
.
Suho mengumpat keras. Ia mendesis nyeri sembari mencengkram ujung kaki kanannya yang tadi dibenturkannya ke tempat sampah. Demi Neptunus, sekarang Suho ingin misuh-misuh rasanya. Karena hell—apa maksud si tiang listrik tadi? Apakah ia berencana mengajak Lay pergi?
Berdua saja gitu?
Malam-malam...
Terus jalan sambil pegang-pegangan tangan.
Suap-suapan di pinggir jalan. Pulang-pergi goncengan. Peluk-pelukkan. Cium pipi kiri cium pipi kanan—
Cih.
Membayangkannya saja membuat Suho merasa mual.
.
Dan Suho tahu, ia tidak bisa diam saja.
Kamera, cek. Handphone, cek. Topi penyamaran— cek. Jaket—cek. Kumis palsu—cek, wig—cek—e-eh, oke yang ini nggak usah.
Mengerling kearah kaca, Suho mengamati penyemarannya dari atas ke bawah. Celana longgar, kaos putih, jaket kulit hitam, kacamata hitam, kumis boongan, dan sebuah topi yang menutupi sebagian wajahnya—setidaknya ia tidak terlalu mirip seperti om-om penguntit kan?
Begitu dirasa mental dan fisiknya siap, Suho pun bergegas pergi menggunakan mobil SUV pribadinya. Menemukan rumah Lay sebenarnya bukanlah sebuah perkara yang sulit baginya. Zaman globalisasi, semua memang terasa mudah. Tinggal cari facebook pemuda itu, lihat bio-nya dan tada….
.
..
...
Tapi masalahnya, Suho tidak tahu nama akun facebook milik Lay.
.
Jadi ia pilih option kedua, yaitu bertanya langsung dengan salah satu teman sekelas Lay.
.
Memang cara basi sih, tapi yang terpenting berhasil bukan?
.
Hal pertama yang dilihat Suho ketika ia sampai disana adalah sosok tinggi Kris yang sudah berdandan rapi tengah berdiri di depan pintu rumah. Tak perlu waktu lama bagi sang pintu untuk akhirnya terbuka, menampakkan sosok Lay yang tersenyum ramah dalam balutan kaos berwarna ungu dan celana skinny jeans sebagai pelangkap.
Holy shit. Suho tak pernah menemukan orang lain bisa terlihat sebegitu menakjubkan hanya dengan pakaian sesederhana itu.
Suho menyadari bahwa Kris tidak membawa kendaraan apapun sore itu, dan ia mengasumsikan bahwa Kris memang sengaja mengajak Lay untuk berjalan kaki saja. Ia pun membawa tubuhnya keluar dari mobil dan mengikuti kedua orang itu dari belakang dengan jarak yang ia taksir aman.
Suho berhenti sebentar ketika ia menjumpai Kris dan Lay berhenti di sebuah toko bunga. Mereka berdiri bersisian di depan counter dan Suho dapat melihat mereka berbicara, mungkin sedang berdiskusi ingin membeli bunga jenis apa.
Suho meraih ponselnya, dan buru-buru mengetikkan sesuatu disana.
.
To: +820071092xxx
From: +8206150592
15:35
"Ambil saja bunga camellia. Lembut. Penuh arti… seperti dirimu."
Send.
.
Suho berkedip tiga kali.
Ia bilang apa barusan? Ampun, ia tidak tahu kenapa ia bisa jadi se-cheesy itu.
Menilik semua pesan konyol yang akhir-akhir dikirimkannya kepada Lay. Bahkan beberapa diantaranya ia kutip dari buku "1002 (Soalnya 1001 Udah Biasa) Tips Sms Gebetan Anti Alay" karya Eunhyuk dan Donghae.
Jujur, mengingatnya saja membuat ia merasa jijik sendiri. Ia merasa ini benar-benar bukan dirinya, sungguh.
.
Atau mungkin... benar kata orang selama ini.
Bahwa jatuh cinta, memang bisa membuat orang jadi tidak waras.
.
Tapi masalahnya,
...Suho kan tidak sedang jatuh cinta.
.
Iya kan?
.
Apalagi dengan lelaki yang punya rambut sewarna peach, kulit putih bersih, tinggi 178 cm, bibir kissable, pipi tirus dengan single dimple di pipi kanannya…
Bukan. Bukan Lay kok.
.
Suho melihat mereka mulai beranjak dari toko bunga, dan sebagai aba-aba ia pun mulai bergerak.
Tempat kedua yang mereka kunjungi hari itu adalah sebuah distro yang letaknya hanya beberapa blok dari toko bunga tadi. Kali ini Suho memutuskan untuk ikut masuk ke dalam, meski satpam di depan tadi sempat terlihat ragu-ragu untuk mengizinkannya masuk. Disini banyak tempat-tempat untuk bisa menyembunyikan diri, jadi Suho bisa merasa sedikit tenang untuk sekarang.
Ia melihat Lay berbalik dan berjalan menuju ke tempat kemeja-kemeja yang digantung di sudut ruangan, mengamati satu per satu, dan sesekali iseng mencoba potongan-potongan baju itu dengan mata yang tampak berbinar kagum.
Suho menarik ponselnya kembali.
.
To: +820071092xxx
From: +8206150592
15:49
Pilih saja yang warna ungu. Nggak norak dan… kau terlihat bagus dengan itu.
.
.
Ia bisa melihat Lay yang menunduk tengah mengerutkan kening membaca layar ponselnya di tangan. Namun sedetik kemudian ia bisa melihat sudut bibir Lay melengkung membentuk senyuman, sebelum akhirnya ia menarik salah satu kemeja berwarna ungu itu dari gantungan dan memutuskan untuk mengambilnya.
Suho berusaha sebisa mungkin menahan senyuman yang berusaha merayap ke bibirnya dengan tetap memasang wajah datar yang mantap. Tidak ingin keliatan desperate dan terlihat terlalu senang karena Lay mengikuti sarannya.
Satu jam kemudian, kedua orang itu akhirnya meninggalkan toko baju, tak lupa dengan menenteng berkantung-kantung tas belanja di kedua tangan mereka. Suho tidak tahu kalau Lay ternyata sophaholic juga.
Mungkin ini akan jadi pengalaman berharga baginya untuk selalu siap duit banyak kalau suatu saat ia mengajak Lay berkencan.
.
…Ehm, cuman asumsi.
.
Kedua orang itu kini mulai berjalan menyusuri distrik Gangnam. Sesekali berhenti untuk sekedar mengamati. Sedikit menyulitkan Suho sebenarnya, apalagi dengan banyaknya kerumunan orang yang berlalu lalang melewati daerah ini, membuat Suho sempat kehilangan jejak mereka berdua. Namun untunglah ia berhasil menangkap siluet Kris memasuki sebuah café.
Untuk kali pertama dalam hidupnya, Suho merasa ia harus berterima kasih dengan ukuran tinggi badan Kris. Toh biasanya itu tinggi badan cuman bisa ngejekin dia mulu.
.
Begitu Suho menyelipkan tubuhnya ke dalam, ia tidak mengharapkan bahwa café sekecil ini ternyata ramai pengunjung. Ia menolehkan kepala kesana kemari, berhasil menangkap sosok Kris dan Lay yang duduk di meja nomor empat balas.
Mencoba bersikap biasa saja—meski sebenarnya ia gugup luar biasa—Suho akhirnya berhasil mendudukkan diri di meja yang bersebelahan tepat dengan keduanya.
Damn. Mau bagaimana lagi? Meja ini hanya yang satu-satunya tersisa disini. Dan untungnya, Kris ataupun Lay sama sekali tidak menyadari eksistensinya disini, mungkin dikarenakan posisi Suho yang duduk membelakangi mereka. Sebenarnya Suho merasa bersyukur juga sih, dengan begini 'kan setidaknya ia bisa mendengar pembicaraan mereka.
.
"Kemarin malam asyik ya?"
Ah, dasar naga—
Tunggu.
Dia ngapain sama Lay kemarin malam?
Apanya yang asyik kemarin malam?
.
"Oh, yang waktu di kamar itu?"
.
Di kamar?
DI KAMAR?
Asdfghjk—
.
"Iya, yang waktu kita main poker di kamar lo itu. Lo kalah, inget?"
.
Oh.
Main poker…
.
Kirain apa.
.
Eh, berarti Kris sudah sering main ke rumah Lay dong sampai dibawa ke kamar segala?
Berarti Kris juga sudah mengenal kedua orangtua Lay, seluk beluk keluarganya, atau jangan-jangan Kris bahkan sudah melamar—
.
Suho menggelengkan kepala. Fokus, Suho.
Fokus.
.
"Tapi tadi juga asyik kok. Kayaknya bener ya, shopping emang paling asyik kalau malem."
"Iya, kayaknya malam ini kita belanjanya emang agak gila-gilaan ya?"
Agak apanya? Orang hampir sekarung gitu.
"Ah, nggak juga. Itu belum seberapa. Biasanya gue kalo keluar gini juga belinya macem-macem. Beli kulkas, beli mesin cuci, beli mobil. Padahal sebenernya gue udah punya semua. Tapi mau gimana, ya. Orang kaya, sih."
"Memangnya uangmu nggak habis buat beli begituan? Kan bisa ditabung gitu."
.
Suho tersenyum tipis mendengar penuturan Lay. Memang tipe istri idaman.
Eh.
.
"Nggak lah. Justru uang tanpa batas gini kadang-kadang gue bingung juga gimana makenya. Memang susah ya jadi orang kaya."
.
Suho bersumpah ia tidak tahu harus mengeluarkan reaksi seperti apa. Antara ingin melempari Kris dengan piring dan speechless.
Songong sekali.
Suho tidak iri. Hell no! Ia juga tahu dirinya ini juga anak orang kaya. Please deh.
Tapi dikarenakan sifat kedua orangtuanya yang masih berjiwa PNS, Suho memang sudah terbiasa hidup sederhana. Pegang kartu debit pun ia sangsi.
.
"Eh, gimana kalau habis ini kita nonton?"
"Nonton?"
"Iya, nonton. Tenang aja. Gue yang bayarin. Sekalian ngabisin duit nih."
Sekali lagi, piring benar-benar melayang...
"Terserah kau lah,"
.
Suho mendengar keduanya bangkit dari kursi dan ia menoleh sedikit untuk melihat keduanya kini telah keluar dari café. Ia cepat-cepat beranjak berdiri, berusaha mengejar keduanya.
Untunglah dari sini jarak gedung teater tidaklah terlalu jauh. Karena hell, kakinya sudah terlanjur pegal sekali kalau ia disuruh untuk berjalan lagi. Ketika Suho sampai disana, ia melihat Lay dan Kris telah berjalan menuju studio 5. Suho cepat-cepat menyusul untuk memesan tiket. Begitu memastikan bahwa tempat duduknya berdekatan dengan kursi mereka berdua, Suho pun bergegas masuk ke dalam.
.
Sama sekali tak menyadari bahwa film yang akan mereka tonton adalah film horror.
.
Lay memilih diam sembari mengikuti Kris masuk ke dalam studio dan mencari letak tempat duduk yang telah dipesannya dengan Kris tadi. Begitu mereka telah menemukan kursi yang dimaksud, ia dan Kris bergegas mendudukkan diri agar tak menganggu penonton bisa merasakan seseorang mendudukkan diri di sampingnya, namun ia tak terlalu bisa menilik wajah orang itu dikarenakan keadaan studio yang sudah gelap.
Setelah menunggu kredit berputar, film pun akhirnya dimulai.
Sepanjang film, entah kenapa Lay merasa bosan.
Menurutnya, film yang mereka tonton ini kurang seru. Tipikal film horror pada umumnya lah. Editing dan efek yang payah. Plot cerita yang kurang menarik, make-up sadako-nya kurang mengerikan, dan bahkan adegan pembunuhannya juga kurang sadis.
Kenapa hanya ada adegan penusukan saja? Seharusnya adegan penusukan itu disertai dengan merobek perut si korban, mengubek isi perutnya dan—
Lay menghentikan kegiatan fantasinya ketika ia menyadari bahwa tubuh orang asing disampingnya ini tampak gemetaran. Meski Lay tidak bisa melihat wajah orang itu dengan jelas, ia tahu kulit pemuda itu sudah memucat seperti kertas.
Mengikuti nalurinya yang suka SKSD, Lay menyentuh satu tangan pemuda itu yang terasa sedingin es.
"Kau tidak apa-apa?" Ia bertanya hati-hati, khawatir.
Orang disampingnya ini tidak menjawab. Ia hanya memandang Lay dengan tatapan kosong, sebelum akhirnya ia menepis tangan Lay dan buru- buru bangkit dari kursinya.
Meninggalkan Lay dengan kening berkerut di kursinya.
Orang aneh…
.
Splash!
Suho membasuh wajahnya dengan telapak tangannya yang telah diguyur oleh air dari washtafel. Ia menutup kedua matanya, menikmati sensasi dingin yang muncul ketika air itu bergerak mengaliri seluruh wajahnya.
Kedua tangannya ia letakkan di sisi washtafel, guna menyangga tubuhnya yang masih sedikit gemetaran. Masih teringat jelas bagaimana ngerinya wajah hancur sadako tadi. Atau bagaimana sadisnya si sadako tadi membunuh korban-korbannya. Ia bersumpah ia bisa merasakan perutnya seperti diaduk-aduk paksa.
Suho akui ia memang payah di genre horror. Sejak dulu ia memang tidak pernah menaruh minat pada hal-hal supernatural seperti itu.
Tidak. Ia tidak takut.
…Oke, mungkin sedikit takut. Tapi itu wajar kan? Setiap orang pasti punya phobia-nya sendiri-sendiri, tak terkecuali manusia biasa seperti Suho.
Suho menghela nafas. Ia melepas kumis imitasinya dan melepas topi yang sedari tadi menutup kepalanya. Menatap ke arah cermin, ia mendesah. Sekarang ia benar-benar terlihat kacau. Suho menempelkan kedua telapak tangannya ke sisi wajahnya, merasakan kulit tubuhnya yang masih terasa sedingin es.
Oh astaga. Bukankah tadi Lay menyentuh kedua tangannya. Dan… apakah tadi Lay menghawatirkannya?
Wajah Suho memanas tiba-tiba, begitu juga dengan sesuatu dalam dirinya yang anehnya ikut menghangat. Tapi disaat lelaki itu kembali menaruh perhatian padanya, Suho malah meninggalkannya begitu saja, tanpa sepatah kata apapun.
Suho panik, oke? Lagipula ia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau Lay mengetahui identitasnya dan—
"Suho?"
.
What the—
Suho menatap horror ke arah cermin. Disana. Dimana ia bisa melihat sosok seseorang yang berdiri di ambang pintu, tepat dibelakangnya. Dan sosok seseorang itu adalah—
.
"Lay…"
.
Ia masih enggan berbalik. Ia hanya bisa tertegun menatap bayangan mereka di permukaan cermin. Suho hanya bisa menatap pantulan kedua bola mata cokelat disana yang turut balas menatapnya. Ia tidak bisa berkutik. Ia tidak mampu. Sendi-sendi tubuhnya serasa mati rasa.
Dari sini ia bisa melihat Lay mulai berjalan mendekatinya, dan ia bisa merasakan jantungnya berdetak semakin cepat seiring dengan langkah kaki yang diambil si pemuda. Lay berhenti di sampingnya. Ia mendengar adik kelasnya itu mengambil nafas pelan, dan menyalankan keran air washtafel di depannya. Membasuh tangannya dengan gestur penuh ketenangan.
Hanya ada suara gemericik air yang mengisi kesunyian diantara mereka berdua. Suho benar-benar tidak tahu harus melakukan apa.
"Kenapa kau bisa ada disini?"
Suho menegak ludah. Ini adalah pertanyaan yang benar-benar tidak ingin didengar dan dijawabnya.
Berusaha bersikap tenang, Suho memulai. "Kenapa aku ada disini… Kupikir ini bukan urusanmu."
"Ah…" Lay hanya mengangguk, kembali melanjutkan kegiatannya mencuci tangannya.
"Kau sendiri…" Suho mengikuti Lay dengan kembali membasuh tangannya yang sebenarnya sudah bersih sedari tadi. Ia hanya butuh pengalih rasa gugupnya.
"…Apa yang kau lakukan disini?" tanya Suho pura-pura ingin tahu.
"Nonton, tentu saja."
"Sendiri?" Suho bertanya, diam-diam mendengus.
"Tidak. Diajak teman," Lay menjawab kalem.
"Teman?" Suho memutar mata, "Kau yakin Kris hanya teman?"
Masih dengan keran yang mengaliri kedua telapak tangannya, Lay menoleh menatap Suho, mengernyit, "Darimana kau tahu aku bersama Kris? Aku tidak pernah bilang…" Lay menggumam, bingung. Sedetik kemudian ia menyipitkan kedua matanya,
"Kau… tidak sedang menguntitku kan?"
.
Suho mengumpat dalam hati.
Damn him and his big mouth.
.
Ia menoleh cepat ke arah Lay dengan mata terbelalak. Rahangnya mengeras dan kedua tangannya mulai terkepal. Beraninya dia..
Dia bilang apa tadi? Menguntit. Hah!
"Menguntitmu?" Suho mendengus, lalu tertawa. Sinis. "Kau pikir aku ini dirimu? Yang melakukan hal-hal menjijikkan dengan mengikuti orang seperti itu? Hah, lihat pada siapa kau bicara. Mana mungkin aku melakukan hal-hal menjijikkan seperti itu,"
"Lihat dirimu sendiri. Setelah gagal mendapatkanku, sekarang kau sudah mendapat target baru untuk diuntit begitu? Apa sekarang kau juga akan bilang pada Kris kalau kau mencintainya seperti yang pernah kau bilang padaku dulu?" Suho mendelik, "Cinta, hah apanya yang cinta? Dasar pembohong."
Suho mencoba menormalkan deru nafasnya. Memperhatikan Lay yang masih terdiam tanpa kata.
Dan hal itu membuat Suho semakin… frustasi.
Sudah ia duga sebelumnya, Lay hanya menyukainya secara sesaat—hanya sekedar kagum saja, tak ada perasaan yang berarti. Kagum bisa hilang ketika kau menemukan seseorang yang lebih berharga, dimana perasaanmu kepada orang tersebut lebih dari sekedar 'kagum'—
—dan gambaran dimana Lay mengikuti orang lain selain dirinya—melihat Lay menghabiskan waktu bersama Kris—entah kenapa membuat Suho mengepalkan kedua tangannya semakin erat. Buku-buku jarinya memutih berbahaya.
Suho mendesis,
.
"Sekali sampah, tetap saja sampah…"
.
Ia masih menatap Lay, yang hanya terdiam tak merespon. Ia tahu ada sesuatu yang bergejolak terpantul di kedua bola mata cokelat itu. Tapi ia tidak bisa memastikan sesuatu apa itu.
Suho melihat Lay menghela nafas panjang, dan Suho tak melewatkan ada segaris senyum yang tertoreh di bibirnya.
Bukan, itu bukan senyum yang dicarinya. Bukan senyum itu yang ingin dilihatnya. Bukan itu. Bukan senyum sedih itu. Bukan senyum sedih yang membuat hatinya ngilu begini.
"Ah ya, seharusnya aku memang tahu diri. Bicara apa aku?" Lay beralih untuk mematikan keran washtafel, mengeringkan kedua tangannya, dan tersenyum ke arah Suho, "Benar, mana mungkin kau melakukan hal-hal menjijikkan seperti itu. Kau kan bukan sampah seperti aku ya kan?" Lay mendesah panjang, menggelengkan kepala, "Kau pasti bahagia kan sekarang? Tanpa ada aku yang menganggumu. Tanpa ada manusia tolol yang mengejar-ngejarmu seperti dulu?"
Lay terdiam sejenak, "Jika kau bahagia seperti itu… baiklah, aku akan pergi dari hidupmu. Aku akan mencoba menghapus perasaan ini dan…
.
"Aku akan melupakanmu,"
.
.
...Aku berjanji."
.
Dengan sebuah ultimatum terakhir, Lay akhirnya berbalik dan menghilang di balik pintu.
.
.
Aku akan melupakanmu…
Melupakanmu.
Melupakannya.
.
Melupakan—
—Suho.
.
Tangan Suho makin terkepal erat.
Bodoh. Tolol. Dungu. Hanya begitu saja?
Ia menyerah pada Suho begitu saja? Kemana Lay yang ia tahu? Kemana Lay yang tak pernah menyerah mengejarnya? Kemana Lay yang dulu selalu mengikutinya sepanjang hari? Mengiriminya sms-sms konyol setiap hari. Membuatkannya sekotak sushi. Menemaninya makan siang di atap sekolah. Membuatnya kesal sampai ke ubun-ubun. Sampa-sampai ingin sekali Suho mematahkan hidungnya atau meninju rahangnya setiap kali ia melihatnya. Kemana?
Kemana perginya dia?
Dan demi Tuhan. Kenapa ia bisa jadi sebodoh ini? Mana otak jenius yang sering dibangga-banggakannya? Kenapa ia tidak mencoba menghentikan Lay? Kenapa ia hanya diam saja? Kenapa ia membiarkan Lay pergi begitu saja. Pergi untuk yang kedua kalinya.
Tolol. Bodoh. Sialan.
.
Ia begitu membenci Lay.
Ia begitu membenci Lay karena ia telah membuatnya jadi sekacau ini.
.
Ia sangat membenci Lay.
Dan ia tahu kenapa.
.
Ia benci Lay karena ia membuatnya tidak bisa jujur.
Jujur pada perasaannya sendiri.
.
Suho tidak bisa tidur. Ada banyak hal yang menganggu pikirannya malam itu. Terlalu banyak sampai ia merasa sesak dibuatnya.
Terlebih kejadian sore tadi. Sebenarnya ia tidak mau mengingat-ingatnya lagi. Tapi perasaan mencekik itu datang kembali. Perasaan bersalah yang sempat menghilang itu muncul lagi. Bahkan lebih parah dari sebelumnya.
Mencoba mengenyahkannya, tapi ia tahu ia tak akan pernah bisa.
Suho mendengus lemah. Ia bangkit dari kasurnya, melirik jam dindingnya yang menunjuk angka pukul dua. Ia mengacak rambutnya, sengaja membuatnya menjadi lebih berantakan.
Anehnya meski ini pagi buta, Suho tak merasakan kantuk sama sekali. Yang dilakukannya dikasur sedari tadi memang hanya bergelung kesana kemari. Mencoba menutup matanya, membaca buku, bahkan menghitung 100 domba yang melompati pagar tak mampu untuk menghantarkannya ke alam mimpi.
Suho tak pernah mengidap insomnia sebelumnya. Dan sekarang ia benar-benar bingung harus melakukan apa. Terlebih, ia masih harus masuk sekolah jam tujuh nanti.
Masa bodohlah. Suho bangkit dan berjalan keluar kamar untuk menuju pintu balkon. Kamarnya memang berada di lantai dua dengan sebuah balkon kaca yang menghadap ke timur, tepat mengarah ke pusat kota. Suho meraih pegangan railing dan menyandarkan tubuhnya disana.
Angin malam buta yang meremangkan bulu kuduk langsung menyapanya detik itu juga. Mobil-mobil yang berlalu lalang dibawah sana juga tampak begitu kecil sejauh mata memandang. Seoul memang kota metropolitan, di jam-jam segini saja orang-orang masih sibuk dengan kegiatan mereka.
.
"Kau pikir aku ini dirimu? Yang melakukan hal-hal menjijikkan dengan mengikuti orang seperti itu?"
.
Suho memejamkan mata. Shit.
Kenapa muncul lagi?
.
"Cinta, hah apanya yang cinta. Dasar pembohong!"
.
"Sekali sampah, tetap saja sampah…"
.
Rentetan kalimat itu tiba-tiba saja berdengung di telinganya. Menamparnya tepat di wajah. Menusuknya seperti ratusan belati. Mengunci saraf-saraf tubuhnya.
Suho merasa gelisah disini—belum lagi, kalau teringat akan semua itu. Dia tak bisa melupakan setiap scene yang terjadi diantara mereka—tiap detiknya direkam dengan baik oleh otaknya. Heh, ia bahkan mendapat hadiah rasa sakit yang tak jelas di hatinya.
Sedih. Miris. Ngenes—dan masukkan kata-kata lain yang menggambarkan betapa berkecamuknya batin Suho saat ini.
Suho tahu ada yang berubah. Ada sesuatu yang lain.
Ada sesuatu yang telah terjadi semenjak Lay hadir dalam hidupnya. Sesuatu yang telah mengubahnya. Membuat hidupnya menjadi lebih berwarna. Membuatnya hidupnya seperti berada di jalur roller coaster, tidak monoton seperti dulu. Hidupnya. Perasaannya.
Sesuatu yang asing… yang ia simpan rapat-rapat tanpa ada celah bagi siapapun untuk mengintip masuk. Sesuatu yang terselubung beribu tanda tanya.
Sesuatu yang mungkin bisa didefiniskan sebagai rasa peduli. Rasa suka. Rasa—Suho menahan nafas—rasa cinta.
.
Mungkin.
Mungkin ia tidak akan pernah bisa.
.
Mungkin seharusnya ia tahu.
Dalam permainan ini, ia tidak akan pernah menang.
.
Ia tak akan pernah bisa menang dari Lay.
.
Sejak awal, seharusnya Suho tahu ia sudah kalah. Hatinya telah kalah.
.
Karena sialnya—Suho baru menyadari bahwa ia jatuh cinta.
Jatuh cinta pada mantan stalker-nya sendiri.
.
Suho menjadi saksi, ke-eksistensian hukum karma dibuktikan disini.
.
.
Suho menatap langit yang mulai terlihat gelap. Tampaknya hitam mulai menyelimuti bumi layaknya sebuah cendawan.
Pemuda itu bergegas berlari ke pelataran toko terdekat, berteduh. Tak hanya dia yang berpikiran seperti itu, karena saat Suho tiba disana, ia bisa melihat ada beberapa siswa dari sekolahnya yang sama-sama ikut berteduh dan menunggu. Tapi ada juga yang memutuskan nekat dan berlari pulang, menembus titik-titik air yang mulai turun semakin deras.
Suho mendesis sebal. Rencananya hari ini ia ingin bergegas pulang ke rumah begitu bel tadi berbunyi. Selama seminggu ini, ia berusaha untuk berangkat lebih pagi dan juga pulang lebih awal untuk menghindari kemungkinan bertemu dengan… Lay. Suho tak yakin ia bisa mengontrol emosinya jika harus berhadapan dengan pemuda itu lagi.
Tapi sekarang apa daya? Saat ia akan pulang, awan mendung begitu cepat datang, dan hujan deras. Sekarang, bagaimana cara ia pulang? Payung tidak ada. Yang bisa diandalkannya hanya jaket yang ia yakin tak mampu melindunginya dari hujan sederas ini.
Selama hampir setengah jam, Suho masih dengan sabar menunggu hujan untuk berhenti. Dan selama itu pula, orang-orang yang bersamanya di pelataran toko tadi beranjak pergi. Meninggalkan Suho seorang diri.
Ketika Suho mengarahkan pandangannya ke jalan yang sudah dipenuhi oleh kubangan-kubangan, sesuatu menuntunnya ke arah seberang.
Dimana ia bisa melihat siluet seorang pemuda berlari kearah toko yang berseberangan dengan tempat Suho berteduh dan berdiri saat ini. Seorang pemuda berambut peach… bermata cokelat. Suho mengenali pemuda itu. Sangat mengenalinya.
Ajaib. Hanya dengan memandangnya saja membuat tubuh Suho beku sendiri. Ia tidak tahu pasti apakah ini karena efek dinginnya hujan, atau memang karena kehadiran orang itu disana.
Lelaki itu tampak mencoba berteduh juga rupanya. Terlihat dari seragamnya yang separuh basah, dan bagaimana ia mencoba membungkus tubuhnya dengan kedua lengannya untuk mencari secerca kehangatan.
Tanpa pikir panjang Suho menarik smartphone-nya dari saku. Jemarinya menari diatas keyboard dengan gerakan yakin namun ragu disaat bersamaan.
Ia tahu ia harus melakukan sesuatu. Ia tahu harus ada sesuatu yang diperbaiki disini. Sesuatu yang ia harap akan menghapus semua rasa sesak di dadanya ini.
.
To: +820071092xxx
From: +8206150592
15:20
Apa kau kedinginan? Mungkin aku bisa menghangatkanmu.
Send.
Persetan soal harga diri. Suho sedang jatuh cinta, dammit!
Bersamaan dengan itu Suho melihat Lay diseberang tengah merogoh sakunya, mengeluarkan gadget-nya dari celana seragamnya dan mengenggamnya di sebelah kiri.
Suho melihatnya mengernyitkan kening, sebelum mendongak dan menolehkan kepala kesana kemari. Suho bergerak cepat. Ia langsung menyembunyikan wajahnya dibalik tudung jaketnya , menunduk untuk menatap sepasang sepatunya yang basah. Suho memang sedang jatuh cinta, tapi ia masih punya rasa malu, demi Tuhan!
Begitu yakin Lay sudah tak menatap ke arahnya, Suho kembali mendongak. Ia menoleh saat ia melihat ada sebuah bus yang akan melintas di depan mereka, dan ia menyadari Lay mulai akan bergegas pergi.
Suho panik. Ia tidak bisa terus-terusan menjadi pengecut seperti ini. Ia harus menahan Lay. Ia harus menjelaskan semuanya dan ia berhak untuk mendapatkan penjelasan juga.
Menutup mata selama beberapa detik, dan menghela napas panjang, Suho berlari.
.
Suho tidak mau kehilangan kesempatan untuk yang kesekian kalinya.
.
Lay baru saja akan memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku ketika ia menyadari bus yang ditunggunya sedari tadi akhirnya datang.
Ia melangkah ke depan, hendak menghentikan laju bus itu jika saja—
"HEI!"
–ZRASSSH. Bus melaju melewatinya begitu saja.
Ah, damn! Ia pasti sudah berada di bus itu, duduk nyaman diatasnya, jika saja seseorang tidak mencengkram pergelangan tangannya saat ini juga.
Ia berbalik, berniat untuk memaki orang kurang ajar itu kalau saja—
.
.
"Suho?"
.
.
"—Lay."
.
.
Lay memejamkan mata dan menghela nafas. Ugh. Ada apa lagi ini? Salah apa lagi ia?
"Mau apa?"
Ia ingin pulang. Ia ingin pulang dan kabur dari tempat ini sekarang juga. Ia tidak mau berada di dekat Suho saat ini. Ia sudah lelah. Hatinya terlalu lelah.
"Tatap mataku kalau aku sedang berbicara, bodoh!"
Lay membuka kedua kelopak matanya—menatap wajah Suho dengan perlahan dan ragu. Tuhan… Dia kelihatan seksi sekali. Rambutnya yang basah, wajahnya yang mengeras dengan mata disipitkan. Tatapan mengintimidasinya. Terlepas dari situasi yang memperangkapnya, Lay tak bisa menahan diri untuk tidak fan-boying karena sekarang Suho terlihat keren sekali! Jangan merona. Jangan merona. Jangan merona please.
"—Ck!" Suho yang tidak sabar menarik dasi yang tersimpul di kerah seragam Lay—membuat wajah mereka kini terpaksa saling berdekatan.
Lay menegak ludah. Wajah Suho terlalu dekat, terlalu dekat—dan ya Tuhanku~ wajahnya terlalu ganteng, terlalu ganteng—
"—Kau. Dengarkan aku. Dan jangan mencoba kabur. Aku ingin menanyakan sesuatu padamu."
Lay menatapnya linglung, "Apa?"
Suho tampak termenung sejenak—ia jadi ragu pada sesuatu yang akan diucapkannya pada Lay sekarang.
Tapi, ia sudah terlanjur memantapkan hati. Ia juga tak mau hatinya terus diusik oleh perasaan menganggu ini. Ia tidak boleh mundur.
.
"Apa yang kau lakukan padaku?"
.
"…Maaf?"
"Aku tanya, 'apa yang kau lakukan padaku?'"
Lay menatapnya bingung, "Aku… aku tidak mengerti. Aku tidak melakukan apa-apa padamu."
Suho mencengkram dasi Lay semakin kuat, "Bohong. Aku tahu kau melakukan sesuatu padaku. Aku tahu kau—"
"Suho, aku tidak melakukan apa—"
"—Jangan menyelaku!" Suho membentak, keras. "Kau… kau uh.. brengsek! Semenjak aku bertemu denganmu... Di kolam renang itu. Ketika aku menyelamatkanmu dan kau memanggiku sebagai pangeranmu. Sejak saat itu aku tahu seharusnya aku tak pernah menyelamatkanmu hari itu. Mungkin... mungkin seharusnya aku biarkan saja kau tenggelam disana dan… mati. Jadi aku tak perlu melihatmu muncul di hidupku. " Suho mengernyitkan hidung,
"Tapi nyatanya apa? Aku tetap memilih menyelamatkanmu, memberimu nafas buatan, daripada membiarkanmu tenggelam dan mati membusuk disana."
Suho menghela nafas, "Ketika kau mengikutiku. Ketika kau membuatkan sekotak sushi untukku. Ketika kau selalu mengirimiku sms-sms konyolmu itu. Kau tahu apa? Terkadang aku merasa…berterima kasih. Dari itu aku sadar bahwa setidaknya masih ada yang peduli padaku. Memperhatikanku. Jadi ketika kau berhenti melakukan semua itu, aku tidak tahu bagaimana, tapi aku merasa…aneh. ...Iya, aneh. "
Suho memejamkan mata. Membiarkan tetes-tetes air hujan mengenai tubuhnya yang sudah terlanjur basah.
Ia melanjutkan, "..dan ketika aku hampir… hampir menyentuhmu saat itu. Kau tahu, itu bukan karena aku menyukai Kyungsoo. Aku hanya… hanya apa ya? Kau harus tahu ada satu kelemahan dari diriku yang sebenarnya aku benci. Aku akan bertindak diluar akal sehat ketika aku merasa… gugup. Ya, gugup. Gugup karena… dirimu. Karena kau yang entah kenapa membuat perutku seakan tergelitik oleh sesuatu. Membuatku merasakan perasaan gila ini. Perasaan yang awalnya tidak aku mengerti…"
Lay tertegun. Bibirnya seakan terkunci rapat dengan sendirinya mendnegar semua penuturan panjang lebar Suho.
Lay menarik nafas. Tubuhnya entah kenapa sedikit gemetar sekarang.
.
"Jadi... tujuanmu mengatakan semua ini padaku—"
"Aku menyukaimu, bodoh! Apakah otakmu benar-benar sebodoh itu sampai kau tak mengerti maksudku?" Suho berteriak, frustasi. Ia tidak peduli dengan Lay yang menatapnya dengan mata terbelalak, atau mungkin keadaan wajahnya yang memerah kini.
Suho melepaskan cengkraman tangannya pada dasi Lay dan mundur selangkah. Kini ia lebih memilih untuk mencengkram tasnya sendiri, mencoba menormalkan detak jantungnya yang menggila. Ia memulai,
"Maaf. Maafkan aku karena segala perkataanku. Aku selalu menghinamu, mengejekmu. Aku hanya… Kau tahu? Aku tidak pandai mengeskpresikan sesuatu. Aku bukanlah seorang pujangga yang pandai membuat kata-kata puitis… bahkan pada orang yang aku sukai. Aku… aku tidak pernah merasakan perasaan ini sebelumnya. Aku.. bingung."
Suho mundur selangkah lagi, kini menatap Lay dengan sorot sedih, "Yeah. Dan seharusnya aku sadar, aku yang sampah disini. Aku yang brengsek. Aku yang bodoh disini." Ia mendongak, tersenyum getir, "Aku paham kalau kau membenciku sekarang. Aku tidak menyalahkanmu, Aku paham dan aku mengerti.
Maafkan aku dan… selamat tinggal."
.
Ia akan berbalik dan beranjak untuk pergi, ketika tiba-tiba—
.
.
"Kau benar-benar serius akan meninggalkanku disini? Dibawah hujan begini?"
.
.
Suho berbalik perlahan, terlalu terkejut.
.
"Dasar tidak gentle…" Lay mencibir. Kedua tangannya ditekuk di depan dada. Ia berjalan mendekati Suho yang masih diam mematung, diiringi oleh rintik hujan yang mengguyurnya. Kedua manusia itu kini saling berdiri berhadapan.
Kedua mata Lay menyipit menatap Suho,
"Bukankah kau bilang kau ingin menghangatkanku…
.
.
….Sunbae?"
.
Suho berkedip tiga kali. Speechless.
Sunbae… Lay-nya.
Orang-sintingnya telah kembali.
.
Suho tergagap, "A-apa? Jadi kau tahu itu ak—"
"Tentu saja. Siapa lagi yang punya skill staker amatiran selain kau?" Lay tersenyum mengejek.
Suho tahu seharusnya ia marah. Tapi tidak bisa.
Apalagi ketika Lay mendekatkan wajahnya, merasakan bagaimana bibir Lay mengunci bibirnya—menciumnya.
Terlebih ketika kedua lengan Lay merambat untuk melingkar manis di lehernya, atau ketika kedua tangan Suho bergerak perlahan melingkari pinggang pemuda itu.
Suho tak menyia-nyiakan waktu untuk membalas ciuman itu. Bergerak perlahan namun pasti. Saling melumat lembut.
Bukan ciuman kasar—melainkan ciuman pertama seperti yang seharusnya. Yang melampiaskan segalanya. Ciuman yang terasa sedikit basa karena hujan, namun meninggalkan kesan manis di bibir masing-masing.
Mereka sama-sama kehabisan nafas ketika akhirnya mereka saling memisahkan diri. Deru nafas mereka tak beraturan namun tetap mengalun harmonis.
Lay melilitkan tangannya di dasi Suho dan menariknya mendekat, menggesekan ujung hidung mereka.
.
"Jadi sekarang... kau milikku kan?"
Suho menahan nafas, "Y-yeah."
Lay tersenyum misterius,
.
"Setelah ini, jangan harap kau bisa lari dariku... sunbae."
.
.
.
Yeah, mungkin Lay memang benar-benar sinting.
.
Tapi Suho tak berkeberatan jika ia harus belajar mencintai orang sinting seperti Lay.
.
… atau mungkin karena sebenarnya Suho juga sama-sama sinting.
Dan mereka bisa menjadi pasangan paling sinting di dunia.
.
Suho dan Lay.
Yeah,
…terdengar tidak buruk juga.
.
.
.
E.N.D
.
Finally, selesai juga. Tapi... *lirikkeatas* aduh, hancur ya. Maaf kalo endingnya nggak sesuai harapan -_- dan mainstream banget. Maaf kalo humor yang saya masukin jd garing banget. Maaf kalo saya nyisipin beberapa bhs non-baku jg karena... well, mungkin tuntutan cerita ya T_T Dan... maaf kalo alurnya berasa terlalu cepet TT_TT Maaf juga karena saya baru bisa update sekarang, ini saya lagi sibuk banget sama UAS-ini pun juga nyolong waktu luang jg ._. ehem.
Itu nasib Kris sama Kyungsoo... silahkan dibayangin sendiri aja XD /dor. Tapi sebenernya Kris-Lay dan Suho-Kyungsoo disini cuman temenan deket doang kok :3
Terakhir, MAKASIH BANGET buat responnyaaaa. Bener-bener nggak nyangkan ini ff bisa disambut baik sama temen-temen sekalian TT_TT *srot.
Sekali lagi makasih banyak. Dan last but not least,
Review, please? ^^
