Chap 2 Apdet! Ini Hiroko loh! Ganti pen name aja sembarangan XD
*NP: Dreams Come True-Hey!Say!JUMP* -apa hubungannya?
Kedua orang itu berlindung dari Sandwalker di sebuah kastil. Kastil hitam yang tak terlihat di dunia itu, karena sepertinya kastil hitam itu satu-satunya bangunan nyata dalam dunia dongeng semacam itu. Ekspresi gadis itu masih terlihat bingung.
"Please deh, jangan pasang ekspresi semacam itu," kata pria itu kesal, "Kau mengenalku kan, Elizabeta?"
"Tentu saja," kata Elizabeta tertawa sambil melihat jendela berulang kali, memastikan Sandwalker itu sudah pergi, "Masa' aku melupakan musuh terbesarku sejak kecil? Memang sejak aku menekuni penelitian makhluk gaib dan mitos ini aku jarang pulang kampung, tapi masa' aku melupakanmu, Vlad?"
"Kukira kau lupa karena kau mirip sekali dengan para Bahamut yang mengejar kita!" ledek Vlad. Elizabeta langsung memukulnya, tapi kemudian dia melihat sebentar.
Benar-para Bahamut terlihat mencari mereka berdua, mungkin diperintahkan oleh pemimpin Sandwalker tersebut. Elizabeta merasa dia dalam keadaan yang sangat genting, apalagi orang di sebelahnya yang merangkap penolongnya tadi... adalah Vlad Von Grevil, seorang musuhnya sejak kecil.
"Huff, kondisi ini benar-benar, mana di sebelahku seorang personifikasi negara yang alih profesi jadi seorang peneliti payah..." gumam Vlad memanasi Elizabeta. Beberapa detik kemudian, Vlad baru ingat sesuatu.
"Kau menyimpan catatan itu, Eliza?"
"Da... Darimana kau tahu!"
"Jelas! Aku diutus United Nations untuk menolongmu dan nasib seluruh umat manusia dalam catatanmu! Dengar, sekarang situs World Conference dalam kondisi genting. Seorang pendongeng tak jelas bernama Triachnida sudah menghancurkan situs itu dan kabarnya mau menyebarkan virus di sana bersamaan dengan datangnya Cockatrice..."
"Ngomong apaan sih?"
Elizabeta benar-benar tak mengerti apa yang Vlad maksud. Namun belum beberapa menit dia berfikir, pintu sudah digedor-gedor oleh makhluk bertampang menyeramkan itu- Bahamut.
They Are Upon Us~Chapter2~
Hiroko BFTD Jones
Disclaimer: Hetalia punya Hidekaz Himaruya, bukan punya tukang Soto. Yang dipunya sama Tukang Soto tuh Soto dan Blackberry!
Warning: so many STRAIGHT CRACK PAIR, OOCness, typos, dan banyak lagilah. Jangan lupa cek darah setelah baca fic ini
akhirnya, Chap 2 apdet, permisa!
Lily menghela nafas. Keringat membasahi peluhnya. Dia menatap layar berkali-kali, mencoba berbagai kemungkinan yang ada, tetap saja tulisannya adalah ERROR WRONG CODE.
"Aku menyerah," katanya sambil menoleh ke arah para admin dan negara adidaya.
"Serahkan padaku," kata Arthur. Dia membawa notebook canggih a la James Bond-nya sendiri. Dia segera memanggil orang-orang dari helikopter.
"Hei, para personifikasi," kata sebuah suara yang terkesan dingin. Tanpa disadari oleh semuanya (mungkin karena terlalu stress dengan masalah ini), sesosok pria bermata ungu dan berambut platina datang, diikuti dengan 4 orang di belakangnya.
"Hei, hei! Rasanya aku hanya memanggilmu dan Alfred, The Nordics tak ikut dipanggil!"
"Apa boleh buat, mereka mengerti kode dan juga ingin menyelesaikan krisis ini," kata Alfred. "Bahkan hero sepertiku tak bisa menyelesaikan masalah ini. Negaraku dapat kerugian besar!"
"Negara kita semua juga," kata pria yang memakai jepit, "Tapi virus yang dia sebarkan belum muncul kan?"
"Jangan kau ingatkan, Nick!" kata Mathias, "Aku selalu berharap kalau kata-katanya itu hanya fiksi belaka!"
"Tapi..." Tino angkat bicara, "Laptop-ku tadi pagi sudah kena Trachnide, bersamaan dengan datangnya makhluk aneh yang mirip ayam di langit Finlandia. Aku sendiri tak yakin itu apa."
"COCKATRICE!" teriak semuanya panik, sekaligus tersentak. Triachnida sudah menampakkan wujudnya, untuk pertama kali dia ada di Finlandia!
"K'napa k'u t'k b'lang d'r' t'd'?" tanya Berwald.
"Dan kenapa media tak meliputnya?" tanya Antonio curiga.
"Iya, nggak awesome banget nih!"
"Jangan tanya aku! Lihat saja laptop-ku ini!" Tino menunjukkan laptop berwarna biru-putih yang sesuai dengan benderanya. Tino menyalakan laptop-nya, namun tak berhasil. Yang keluar malah tulisan aneh seperti ini:
===== And We Lived Happily NEVER After====
Thanks for the meal,
-TRACHNIDE VIRUS-
Semuanya mengucurkan keringat dingin dan gemetar, lalu memeriksa laptop masing-masing. Untung belum ada apa-apa. Rupanya Cockatrice belum datang ke tempat Alfred dan kawan-kawan. Makhluk dongeng pembawa sial!
"U-S-A!
Bring this happen in, COME ON~!" HP Alfred berbunyi. Semua yang lagi stress langsung terkaget mendengarnya. Di display HP Alfred yang serba bisa itu, tertulis 'Belarus'.
"HALO!"
Sementara, di tempat yang jauh dari tempat kejadian perkara itu...
"Arwah menatap, kegelapan datang menghampiri. Dunia sudah tak aman lagi," kata Gupta sambil menatap bola kristal dan kartu-kartu yang ada di mejanya, "Begitulah yang dapat kuucapkan untukmu, Heracles."
"Jadi, apa yang bisa kulakukan?"
"Mungkin... yang bisa kaulakukan hanyalah..." Gupta terdiam sebentar, dan memberikan sebuah handphone.
"Untuk apa?"
"Kau bisa ikuti rencanaku."
"Rencana ap..."
Gupta membekap Heracles, "Kita akan memasuki dunia yang berbeda dari dunia ini, meski itu akan menyalahi takdir kita sebagai manusia."
Heracles hanya bisa terdiam. Dia mengerti, negara Gupta sedang dalam krisis pemimpin dan ekonomi yang membuat Gupta terpaksa menyalahi aturan dengan ke dunia itu... Dia tahu dunia apa yang disebutkan oleh Gupta, namun dia tak yakin bisa memasuki dunia itu atau tidak. Lagipula, handphone? Untuk apa benda itu dipergunakan di dunia dongeng seperti itu?
Api semakin lama semakin membesar. Membesar dan melalap hutan yang mengelilinginya. Untuk memadamkannya, dikerahkan seluruh pemadam kebakaran yang ada di Irlandia.
Saking besarnya, Brigid~dewi api Celtic~ seakan-akan tertawa. Butuh waktu sehari untuk memadamkannya. Hutan itu hilang tanpa bekas, begitu juga dengan kastil itu. Semua hilang menjadi abu. Kecuali...
"Eh?" kata seorang gadis waktu melihat kebakaran di hutan tersebut. Dia melihat ada sebuah lambang yang terbuat dari metal, "Apa ini, kak?"
Kian yang jadi kakak gadis itu buru-buru mengambil lambang itu, "Mairead, ini urusan negaraku."
"Mentang-mentang aku 'utara', kau selalu begitu!"
"Makanya, jangan memihak Inggris! Meski hubungan kami sudah membaik, tapi tetap saja aku dendam atas peristiwa Bloody Sunday!"
"Tolong!" pesan itu singkat, padat, namun sama sekali tidak jelas. Alfred pun jadi kebingungan mendengar pesan dari Natalia itu.
"Tolong apa? Hei!"
Telepon sudah dimatikan. Alfred pun hanya bisa menatap kebingungan sambil melihat ke arah handphonenya. Ada apa di Belarusia saat ini? Penasaran, Alfred segera menyambar i-Pad-nya dan mengetik 'Belarus' di Goo*le dan v*van*ws.
"Ada apa di Belarusia?" tanya Antonio heran. Mereka pun mengelilingi i-Pad Alfred bak orang-orang mau pengajian 40 hari *lah*.
MISTERI VIRUS TRACHNIDE-DUNIA DALAM BAHAYA!
MAKHLUK DI LANGIT BELARUSIA, DISUSUL DENGAN MELEDAKNYA SELURUH PERALATAN ELEKTRONIK!
PETAKA MENGHAMPIRI DUNIA!
BELARUSIA MENJADI MEDAN PERANG! SELURUH LAPTOP DAN PERALATAN ELEKTRONIK MELEDAK!
TEORI PARA AHLI MENGENAI FENOMENA BELARUSIA
BELARUSIA DALAM BAHAYA! PBB TAK BISA MELAKUKAN APA-APA!
"Gawat. Orang awam sudah tahu virus yang disebabkan biadab itu," gumam Arthur panik, "Tapi apa hubungannya dengan Belarus? Apakah hacker itu memang dari Belarusia?"
"Ng, aku mau ralat. Pertama kali muncul di Finlandia," kata Tino. Namun sepertinya tak ada yang mendengar perkataannya.
"Siapkan pesawat, kita akan ke Belarusia!" teriak Gilbert.
"Kalau semuanya ke Belarusia, siapa yang mencegah Triachnida?" tanya Lily bingung.
"Aku deh," kata Emil mengalah, "Kalian saja yang ke Belarusia. Kode-kode ini masih membuatku penasaran."
"Aku juga," kata Nicholas.
"Ng, aku juga di sini!" kata Lily.
"Ya sudah, kuserahkan urusan ini pada kalian bertiga! Kita akan pergi ke Belarus, untuk mengetahui permasalahannya!" kata Mathias. Dalam hitungan detik, pesawat militer Amerika yang super canggih itu datang.
"Hmp, sekaranglah saatnya!" Alfred segera meloncat ke dalam pesawat. Pada pembaca, silahkan bayangkan bagaimana caranya Alfred meloncat ke dalam pesawat dari gedung.
"Ufufufu~ tak ada yang tahu siapa itu Triachnida ya?" tanya Santika ke sang kakak dengan senyum misterius. Rama melongo.
"Jangan bilang kalau kaulah sang Triachnida!"
"Jelas bukan!" Santika tetap tersenyum misterius, "Sebenarnya aku menemukan petunjuk, meski aku tak bisa mengatakan itu petunjuk."
"Jadi yang bener yang mana?" Rama yang lemot tentu saja butuh waktu untuk disadarkan.
"Udah ah, ngomong sama kakak bikin aku tambah pusing!" kata Santika kesal, lalu berlari ke kamarnya.
"Hei, Santika! Ada yang kau sembunyikan dariku?"
Santika menoleh sebentar ke arah kakaknya tersayang itu, kemudian memberi senyum misterius, dan akhirnya pergi lagi.
"Ada rahasia pada negara kita, kak!"
"Hei, San!" Rama mengejar Santika dengan diliputi rasa ingin tahu. Kenapa ini? Memang, Indonesia dipenuhi dengan rasa misteri dan mistik yang kuat. Tapi, apa hubungan Indonesia dengan hacker aneh yang penggemar dongeng dari seluruh dunia itu?
"Aku sudah berusaha semampuku," kata Emil menghela napas, "Kupikir aku bisa memecahkan kode-kode ini."
"Mungkin aku membutuhkan Ryunosuke Kamiki* atau semua kru WikiLeaks untuk ini," gumam Nicholas kesal.
"Ini kok ada kode-kode aneh di sini ya?" tanya Lily bingung, sambil menunjuk ke arah monitor komputer. "Kode biner yang ketika kuterjemahkan ke angka dan kuterjemahkan lagi ke dalam huruf, ini tentang penciptaan manusia."
"Adam?" tanya Nicholas dan Emil hampir bersamaan.
"Bukan. Aku pernah membaca di buku mitologi. Rasanya ini mirip seperti seekor burung yang menjatuhkan sesuatu yang kemudian jadi pulau, lalu jadi tumbuhan, dan kemudian menjatuhkan manusia yang tinggal di pulau itu."
"Halah, rasanya dongeng itu tak lebih dari sebuah dongeng!" gumam Nicholas. Dia menatap Lily dalam-dalam, membuat muka gadis itu bersemu merah.
"Cerita dongeng yang didasari angka biner? Makin membingungkan saja. Tak adakah angka lagi selain 1 dan 0?"
"Tapi ada angkanya," sanggah Emil sambil menunjukkan beberapa angka yang sangat kecil dan tersembunyi.
"Kecil sekali," gumam Nicholas, "Sebentar... 2 9 9 7 8 7 6..."
"7 9 9 4," lanjut Lily mendekati notebook-nya, "Kuharap aku tak lupa,"
"Bukannya lebih baik kaucatat?" tanya Emil heran, sambil membuka buku catatannya, dan mulai mencatat angka-angka aneh itu, "Yang namanya kode itu selalu saja membuat orang pusing!"
"Eh... maaf, aku sekarang akan mencatatnya!"
Santika menatap handphone-nya berulang kali. Dia sepertinya mengharapkan telepon dari seseorang. Kelihatannya gadis Indonesia itu sudah menunggu telepon sejak lama, namun tetap saja belum ada yang menghubunginya.
"Tanah airku tidak kulupakan
Kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidakkan hilang dari kalbu..."
Setelah sekian lama ditunggu, akhirnya ringtone Tanah Airku-nya berbunyi juga. Tertulis nama 'Nether' di display handphone.
"Halo?" dalam hati Santika berpikir, 'Sial. Kenapa malah orang ini yang menelepon, bukannya orang yang aku suka saja! Beneran, nggak sesuai harapan banget.'
"San, gue mau ke Indonesia dalam waktu dekat!"
"Hah?"
"Besok gue ke Indonesia."
"Oke, gue bilangin ke bos," kata Santika mantap. Jujur saja dia belum mengerti arah pembicaraan ini.
"Sama bilangin jangan ada penyambutan. Gue males disambut gede-gede. Gue mau secara rahasia aja."
Mendengar kata-kata 'rahasia', Santika jadi sedikit curiga, "Kenapa?"
"Gue ada urusan di Bogor, soal Triachnida."
"Apa urusan Bogor sama Triachnida?"
"Ng, mungkin aku harus cerita ya?"
"YA JELAS HARUS!" Santika sudah habis kesadarannya. Begitu juga dia negara yang harus mengetahui duduk permasalahan mengapa negara lain datang secara rahasia ke tempatnya, "MANA AKU IZINKAN KALAU KAU TANPA ALASAN YANG JELAS MEMINTA SEBUAH KUNJUNGAN RAHASIA KENEGARAAN? NGGAK MAU!"
"Biasa aja kali mbak," sepertinya Nether kena semprotan gadis itu, "Sebenernya tim Benelux udah ngelacak siapa itu Triachnida, dan menemukan titik terang di sebuah warung internet di Dramaga, Buitenzorg."
"Dramaga?" tanya Santika.
"Iya, di Buitenzorg."
"Bogor," ralat Santika kesal. Dia tak suka memakai istilah penjajah, padahal dia sudah merdeka, "Ya sudah, sepertinya alasan itu logis. Aku akan melaporkannya ke bos." Santika mematikan telepon. Kesal rasanya telepon-teleponan dengan orang yang dibenci.
Dia segera menekan nomor bosnya. Dengan enggan, dia melaporkan kalau personifikasi negara penjajah akan datang besok, secara rahasia.
"San," panggil sesosok pria di belakang. Santika menoleh.
"Apa, Rama?"
"Tadi bos SMS, katanya besok kau yang temani Gerard buat keliling Bogor. Kau boleh pakai motor kesayanganmu buat jadi tour guide."
"WHAT?" dengan muka yang diperlebay dan efek bak sinetron gagal, Santika menatap saudara kembarnya kaget, "Nggak mau!"
"Jangan manja!" tampar saudara kembarnya, "Ini kan bagian dari tugas, apa susahnya sih menemani Mr. Zwijger?"
"Kenapa bukan kamu aja sih? Kamu yang pengen kan?"
"Males! Lagian elu yang disuruh sama bos!"
Santika hanya menghela nafas. Siapa yang mau kencan keliling kecamatan kecil begitu, apalagi sama orang yang dibencinya? Kesal, sudah pasti.
Alfred langsung menghambur begitu pesawat turun di tanah Belarusia. Dia penasaran juga khawatir dengan apa yang terjadi di negara gadis itu.
"Mana Arlovskaya!" teriak Arthur. Tak ada jawaban. Malah mungkin hening sekali, seakan tak ada orang di negara itu.
"Ke mana semua orang?" tanya Mathias, "Merasa aneh tidak kalau begini, apalagi di kota besar seperti Minsk."
"Biar kuhubungi kakaknya," kata Tino sambil memencet beberapa tombol N*kia-nya.
"Halo?"
Tak ada jawaban. Sunyi.
"BELAKANGMU!" teriak Mathias tiba-tiba. Tino kaget, dan secara otomatis Berwald langsung melindungi pria itu. Sebuah mata tombak meluncur tepat ke hadapan mereka semua.
"Apa ini? Ada tombak di Eropa Timur? Jangan bercanda!" kata Arthur, "Senjata di sini setahuku bukan tombak!"
"Mana kutahu!"
Alfred dan Mathias segera berlari ke tempat tombak itu dilemparkan. Di semak-semak, tentu saja sulit untuk mencari karena terhalang oleh ranting dan daun. Tapi secara tak sengaja Alfred merasa kalau dia menendang sesuatu. Dia segera mengecek.
Natalya Arlovskaya-dalam keadaan sekarat. Jika melihat personifikasi dalam keadaan seperti itu, itu berarti negara sudah dalam kejadian yang tak bisa terbantu oleh apapun.
"Arlovskaya! Buka matamu!"
"P'cuma k'au h'ya b'teri'k, l'bh b'ik b'wa d'a k' rum'h s'k't."
"Iya juga."
"Namun aku sangsi kalau rumah sakit Belarusia berfungsi sekarang. Lebih baik bawa dia ke pesawat, lalu bawa ke rumah sakit terbaik di dunia!"
"Rumah sakit terbaik di dunia?"
"Sudahlah, ikut saja!" teriak Mathias sambil menggendong Natalya, "Arlovskaya, kuharap kau baik-baik saja! Keluargamu ke mana sih?"
"Sudah terlambat, Mathias. Eropa Timur sudah dikuasai..." kata Tino yang internetan pake HP Berwald.
"Sama siapa?"
"TRIACHNIDA. Aku baru dapat kabar kalau semua sistem komputer dikacaukan di sana. Pusat kekacauan ada di Minsk, dan jika kau lihat, sekarang kota ini seperti kota mati. Moskow sedang kacau, sekarang presiden sedang pergi untuk mengungsi. Lalu, di Kiev dan sekitarnya, kelaparan melanda. Di Riga, semuanya jadi kacau. Pokoknya Eropa Timur dan Baltik sudah turun ke tangan virus kejam itu."
"Jangan sampai menular ke Eropa Utara! Bagaimana sih Nicholas, Emil, sama Lily? Apa mereka kerja dengan baik?"
"Ano... Eropa Utara udah kena, itu gue," kata Tino dengan kesalnya karena tidak ada yang mendengarkan dari tadi kalau negara Finlandia sudah terkena wabah aneh itu.
"Jangan pikirkan itu dulu! Yang jelas Arlovskaya!" kata Mathias sambil menunjuk gadis yang ada di gendongannya, "Nanti sekalian selametin yang lain!"
TO BE CONTINUED
Wahahah! Ini dia fic gaje buatan author XD, makin lama makin gak nyambung! Saya mau bikin cerita misteri gak pernah bener! Maklum author ini gampang banget terpengaruh sama penulis-penulis lain! Mentang-mentang abis baca karya-karyanya ES Ito sama Dan Brown jadi pengen bikin thriller macam gini, dan makin gak bener! Maafkan author dudul yang bikin fic macam ini udah tau bisanya cuma nulis Comedy ==''.
Oke, mari kita lihat catatan kaki...
Kamiki Ryunosuke: Pacar author *dideathglare* eh... tapi nama idol yang jadi Hornet (hacker remaja) di Bloody Monday sama jadi seiyuu di Summer Wars. Penting gak sih?
Bloody Sunday: Peristiwa waktu orang Irlandia dibantai sama Inggris (singkatnya gitu). Lebih lanjut buka wikipedia #PLAK
Country names:
Vlad Von Grevil: Romania (mulai dah naming sense asal-asalannya)
Mathias Kohler: Denmark
Nicholas Thoresen: Norway
Emil Fergusson: Iceland
Mairead O'Connor: Northern Ireland
Gerard Zwijger: Netherlands
Dan lainnya... ==''
.
Oke, saatnya bales ripiuu~
Livin'A-Chain: Iyee, ini masukin unsur mitologi (sejarah sama masa depan juga ==). Tapi kayaknya sekarang cuma ditulis slight-slight mitologi dulu, baru nanti di chapter depan saya gambarin gimana seremnya. Mitologi seluruh dunia ada di sini, mungkin XD. Makasih sarannya! Author notenya udah disamarin di sini, jadi gimana? Ohohoh~ IYAAAA! AngelsnDemons itu keren banget! USUK nyaris sekarat in Vatican City! *disambit fans USUK*
Kurai BFTD Beilschmidt: Rikues ditampung, dragon udah jelas masuk kok! Ice maupun fire dragon~ Gargoygle sama Basilisk... nanti pasti ada!
Anzhelika Kyznestov: Iyaaa! Lama tak bersuaa! *peluk Anzhel* Ini udah lanjut kok XD
Mbak Ifa (sejak kapan DSB jadi baik? Gak mungkin!): Ntar dipanjangin, dipendekin, dan digoreng (?). Password anda Kian O'Connor? Bukannya lirik lagu Alamat Palsu ya?
chiko-silver-lady: salam kenal! Ini udah saya apdet loh!
.
Mulai edisi depan, ntar ada kamus mitologi XD
Read n Review?
