Saya kembali! Saya kembali!


Triachnide: They Are Upon Us

Episode 3

Disclaimer: Hetalia punya bang Himaruya, konflik antarnegara punya negara masing-masing, dan plot punya saya :D

Rating: T

Warning: Masih abal seperti biasa, OOC, so many straight crack pair, konflik SARAP, menyisipkan sejarah, sekarang ada sedikit NetherfemNes de el el.


Siang sepertinya masih belum terlihat di bandara Soekarno Hatta. Bandar udara yang bersih dan indah, dan penuh dengan orang-orang berlalu-lalang. Di sinilah Santika menunggu Gerard Zwijger, personifikasi Belanda yang akan berkunjung ke Bogor itu.

Berkali-kali gadis yang memakai T-Shirt merah dan celana pendek putih beserta jaket hitam kulit yang membuatnya berpenampilan seperti tukang ojek nyasar itu melihat jam tangan bergambar Garuda-nya. Sudah waktunya, namun kenapa pesawatnya belum datang juga?

"Maaf," terdengar sebuah suara pemberitahuan, "Terjadi gangguan teknis di Bandara Soekarno Hatta. Maka itu semua jadwal penerbangan akan ditunda."

'Ini kenapa lagi?' pikir Santika kesal. Dengan perasaan yang campuraduk, dia pun beranjak ke ruang petinggi Bandara Soekarno-Hatta. "Permisi."

"Masuk."

"Tahu siapa saya kan?" tanya Santika memastikan. Masa' petinggi nggak tau siapa personifikasi negara?

"Nona Santika, personifikasi Indonesia," kata pria berkumis dan berpostur agak gemuk yang duduk di ruangan pejabat tinggi bandara, "Ada perlu apa?"

"Saya mau tanya, ini gangguan teknis kenapa?"

"Semua sistem jadwal penerbangan bahkan sistem komando komputer pesawat dikacaukan. Bukan hanya di sini, namun baru saja tadi saya mendapatkan info dari penerbangan di seluruh Indonesia bahkan Singapura dan Malaysia kalau sistem komputer mereka dikacaukan," kata pria berkumis itu tanpa jeda. Setelah dia menyeruput kopi tanpa mempersilakan Santika untuk meminumnya orang itu melanjutkan, "Jadi untuk jaga-jaga kami tunda semua penerbangan."

"Tapi bagaimana dengan yang ada di langit sekarang?" tanya Santika sambil berharap Gerard meninggal di langit sana, "Bukankah sistem komputer di pesawat juga tidak bisa digunakan? Lalu bagaimana mereka mendarat?"

"Kita berdoa saja, semoga mereka selamat. Sekarang Nona bisa meninggalkan tempat ini kan? Ada orang yang harus kutemui."

"Terserah," kata Santika cuek sambil meninggalkan tempat itu, "Oh iya, aku tahu berapa uang hasil penggelapan tiket pesawat yang kausembunyikan di rekeningmu."

Dengan kesalnya, Santika menggerutu di perjalanan pulang. Dia tentu saja menyesal pergi jauh-jauh ke Soekarno-Hatta, taunya penerbangan ditunda. Dia menjalani lorong demi lorong.

"Tuh orang! Apa guenya aja yang kepagian ya? Tau gitu mending gue sama Rama aja jalan-jalan ke Bandung, bukannya nemenin cowok menyebalkan dan pembohong macam itu!"

"Berhenti menggerutu napa? Lagipula kaunya saja yang bodoh, mudah kubohongi!" protes sebuah suara di belakang. Suara itu sudah jelas..

"Gerard?"

Gerard mengangguk dengan sombongnya, "Seharusnya seorang personifikasi bisa mengenali personifikasi lain, dasar payah."

Santika menghela nafas panjang. Belanda memang negara paling menyebalkan, dan dia sebagai personifikasi Indonesia dia sangat mengetahui akan hal itu. Dan kenapa Londo itu bisa sampai dengan selamat, "Bukankah seharusnya elu gak usah dateng aja atau pesawatnya mengalami kecelakaan besar gitu!" Santika sengaja ber gue-elu untuk menggambarkan kekasalannya.

"Sebenarnya aku datang sejak pagi, sebelum sistemnya kacau. Kok malah ngarep gitu sih?"

"Ya jelas karena gue gak mau berdua aja sama elu, kompeni!" Santika jelas memberi penekanan untuk kata 'kompeni', "Gak bareng sama Bella? Seenggaknya dia lebih waras dibanding kepala duren semacam elu!"

"Nggak. Dia cuma ribut di perjalanan. Lagian pelacakan ini kan..."

"Ya?"

"Rahasia." bisik Gerard lembut yang sebenarnya membuat Santika mual.

"Apa-apaan sih, dasar kompeni sial! Udah, langsung berangkat aja. Kuanter ke hotel?" Santika langsung jalan keluar dan Gerard mengikutinya. Sepertinya Gerard sudah hapal tentang tindakan personifikasi wanita Indonesia yang benar-benar kasar itu. Memang Rama itu cowok yang agak kecewekan dan Santika itu cewek yang agak kecowokan. Saudara yang aneh.

"Nggak usah, gue mau ke kedutaan besar dulu baru gue langsung ke Bogor. Mobilmu nggak elu bawa? Apa naik DAMRI aja nih?"

"Kagak. Gue bawa motor kok," Santika menunjukkan motornya dan melemparkan helm ke Nether, "Rambut lu yang tinggi itu benerin dulu deh! Di sini elu bakal disangka anak alay kalo gitu! Kalo udah, cepetan pake helmnya, terus gue bonceng di belakang! Ke kedutaan besar ya!"

Gerard hanya cengo dan menurut. Setelah dia melakukan itu semua, dia baru berpikir, 'kenapa gue bisa nurut sama negara yang dulu gue jajah ya?'


Biner. Suatu bahasa komputer yang didasari oleh angka 1 dan 0. Kebenaran dimana berbagai angka hanya bisa diuraikan dengan dua angka. Keseimbangan. Baik dan buruk. Ada dan tiada. Hidup dan mati. Yin dan Yang. Sekali lagi, satu dan kosong.

"Bagaimana?" tanya seorang wanita dengan korsase bunga berwarna pink yang disematkan di rambutnya, "Apa loading-nya hampir berhasil?"

"Ya, seperti yang kau lihat, Mei. Kita hampir berhasil dengan proyek kita, aru!" pria berambut agak panjang itu menunjukkan komputer buatan China-nya dengan bangga. Di layar komputer tersebut terlihat proses load data yang memakan waktu, meski sudah 98%. Sebentar lagi...

"Benarkah?" Mei secara tak sadar langsung memeluknya, "Meski aku tak mempercayaimu, namun kali ini lain, Kak Yao!"

"Sudah berhasilkah?" tanya Wang Jia Long yang mencuri dengar, "Aku dan Wang Xia Fei sudah menunggunya sejak lama!"

"Sabar, aru. Waktu untuk Chinese teams akan segera datang. Dewa dari 4 penjuru akan membimbing kita menuju dunia dongeng itu." komentar Yao, "Seharusnya setelah ini ada kotak dialog untuk request password."

Dugaan Yao benar. Terpampang jelas tempat untuk memasukkan password di komputer itu.

"Apa kode masuknya? Itu tugas kalian berdua kan, Jia Long, Xia Fei?"

Kedua orang itu maju begitu dipanggil.

"Aku berhasil membobol kode masuknya. Ini angka-angka biner yang ketika kuterjemahkan menjadi sebuah kode angka lagi, dan setelah kuterjemahkan lagi ke dalam alfabet, hanya beberapa angka yang tidak bisa diterjemahkan. Pasti itu kodenya. Siap-siap ke dunia 'sana'!"

"Ketikkan bersama-sama!"

4 9 2

3 5 7

8 1 6

ERROR.

"Kenapa nggak bisa?"

"Aku tahu," kata Jia Long menjumlahkan setiap baris angka itu, "Ini dewa kita, Fu-Xi yang membuat persegi ini. Bagaimanapun kau menjumlahkan setiap baris, ke atas, ke bawah, secara diagonal, semuanya sama. Berjumlah 15. Sedangkan kode di sini, diminta dua angka."

1 dan 5.

ENTER

Sebuah keajaiban, mungkin saja ada di hadapan mereka berempat. Entah kenapa mata mereka seakan dengan mudah terhipnotis, bagaikan ada pendulum yang menggoyang-goyangkan dirinya, padahal tidak ada sama sekali. Sebuah skenario yang hebat sudah disiapkan untuk ini, sepertinya. Di tengah ketidaksadaran itu, cahaya yang sangat terang muncul dari ponsel. Memang hal ini sama sekali tidak logis, namun mau bagaimana lagi?

Dan, bisa dihitung menit kedatangan mereka ke sebuah dunia yang berbeda dengan dunia nyata.


"110 00111100 0000100 010111 11100... pusing bacanya! Bener nih harus diterjemahin satu-satu?" teriak Emil yang sudah tak tahan lagi, "Lily, kau lebih mengerti tentang biner kan?"

Lily mengangguk.

"Jangan-jangan agamamu sudah bukan menyembah Tuhan lagi, tapi jadi agama biner?" kata Nicholas datar.

"Sebenarnya..."

"Ya?"

"Ng.. sebenarnya, hampir semua manusia di dunia sudah dikendalikan oleh 1 dan 0, tuhan mereka yang baru," jawab Lily, "Aku sih tidak begitu. Terkadang aku bingung dengan para ilmuwan yang membuat Tuhan yang lebih rasional dengan 1 dan 0."

"Angka lebih rasional, lebih dipercaya, dan bukan hanya hal gaib yang merupakan dongeng pengantar tidur semata." lanjut Emil yang sudah mengerti ke mana pembicaraan gadis itu. "Salah seorang ilmuwan dari negaraku pernah berkata begitu saat rapat kenegaraan."

"Aku harus menyetujuinya," kata Nicholas sembari tersenyum tipis, "Mungkin Triachnide ingin mengembalikan kepercayaan nenek moyang berdasarkan angka-angka dan virus zaman sekarang. Itu kesimpulan yang kudapat."

"Sudahlah, kita istirahat sebentar dari angka-angka itu yang membuat pikiran kita jadi kacau dan hilang rasionalitas," bujuk Emil. Bukankah tadi dia bilang kalau angka itu rasional?

"Baik," kata Nick dingin, "Aku juga lelah," katanya sambil menyender ke pundak Lily membuat gadis itu blush untuk entah ke berapa kalinya.


Rama berputar-putar tidak jelas, dan sekarang dia berada di sebuah toko misterius dari zaman Belanda. Kebanyakan nonton film horor produksinya sendiri memang membuatnya jadi ketakutan sekaligus ketagihan nonton. Tak terhitung berapa makhluk mitologi yang diabadikan oleh rumah produksi. Pria bermuka melayu itu tetap saja berputar tidak jelas juntrungannya.

"Di sini bukan sih?" gumamnya pada dirinya sendiri, "Bodo ah, masuk aja. Toh gue bawa senjata ini."

"Selamat datang di pintu masuk, Tuan Abdurrahman Putra," kata seorang tua dengan wajah putih pucat dengan ekspresi tidak peduli. Rama menelan ludah. 'Dari awal juga udah horor gini,' pikirnya.

Dia memasuki satu per satu ruangan. Ternyata inilah ruangan yang selama ini dibicarakan oleh orang-orang forum penggemar misteri di tanah airnya. Dan hanya dia-sebagai personifikasi-yang memiliki askes khusus ke tempat itu. Meskipun Rama pengecut dan tak bisa diandalkan, sekarang dia jadi lumayan berani juga.

"Abdurrahman Putra?" tanya sebuah suara di ruangan seberang. "Kamu Rama kan?"

"Siapa?"

Rama bersiap untuk kabur. Keberanian yang ada entah kenapa jadi menciut begitu saja. Sepertinya tempat ini terlalu mengerikan untuk seorang pengecut sepertinya. Dia baru sadar, kenapa dia malah pergi ke tempat mengerikan itu? Kalau tidak diimingi dengan uang, tentu saja dia tidak akan melakukan hal sejauh ini. Di negaranya terlalu banyak tempat mengerikan. Memang kebanyakan warga negaranya-termasuk dirinya sendiri adalah pecinta misteri dan cerita hantu semacam itu, namun kalau mengalami sendiri itu mengerikan. Lebih baik menonton film horor dengan aktris berpakaian minim dibanding mengalaminya sendiri.

"Kumohon, tolong kami!"

"Si-siapa itu!" Rama sudah siap-siap akan pistolnya dan segera ke ruang seberang. Dalam sekejap jiwa pahlawannya yang sudah lama terkubur mulai bangun lagi. Memang personifikasi negara ini agak aneh, sifatnya bisa berubah-ubah dalam sekejap kedip mata. Namun pistol itu dia simpan lagi ketika suara itu berkata,

"Aku Elizaveta! Tolong selamatkan aku!"

Rama jelas kaget. Dia berjalan menuju ruangan tempat suara itu berasal. Pintu ruangan itu dari kayu jati, dan rupanya tidak terkunci. Saat pintu ruangan tersebut terbuka, terlihat jelas Elizaveta dan Vlad, dua personifikasi negara yang menghilang di ruangan itu.

"Kenapa kalian ada di sini?" Rama heran.

"Sudah jelas kami diculik kan? Lihat-di luar Harpies dan wanita-wanita Dryad berjaga-jaga di luar!"

"Ta-tapi..." Rama kebingungan. Mana Harpies? Mana Dryad? Selain zombie penjaga tempat tadi, dia tidak menemukan apa-apa. Rama yang shock kalau di negaranya menjadi tempat bagi Harpies maupun Dryad tak bisa berkata apa-apa lagi.

"Kenapa?" tanya Vlad yang jelas terlihat lebih kuat dibanding Elizaveta.

"Ini di Bandung, Indonesia! Bukan di negara lain atau apa? Mana ada Dryad atau Harpies di sini! Ada juga kuntilanak sama jenglot!"


"Kumohon, Natalia... semoga kau selamat!" kata Arthur di samping tempat duduk Natalia yang sedang terbaring lemah. Sementara itu pesawat melintasi daratan Siberia. Meski samar, terlihat ledakan-ledakan di mana-mana. Rupanya ledakan di laptop itu sudah ada di mana-mana. Namun kenapa Eropa yang lebih dahulu, bukannya Asia dan Afrika yang kebanyakan masih berkembang dan gila teknologi baru itu lebih mudah untuk dikuasai? Apakah Triachnida itu begitu bencinya dengan negara-negara Eropa?

"Ini sudah masuk ke terorisme," komentar Tino melihat di bawah. Namun sepertinya siluman-siluman sial itu belum terlihat. "Atau malah sudah masuk ke perang, mungkin."

"Ini PERANG!" teriak Alfred. Dia benar-benar tidak tahan dan jijik dengan makhluk semacam ini. Sebagai ketua negara anti-terorisme, Alfred tentu saja sangat membenci hal pengecut dan perang sembunyi-sembunyi seperti ini, "Mereka melawan Hero, dan mereka akan merasakan akibatnya! Tunjukkan dirimu padaku, dasar akun sialan!"

"Diem deh!" kata Arthur yang tidak tahan dengan teriakan Alfred.

Gilbert terus-terusan menggenggam rosario-nya. Matanya terpejam, dan hanya kata-kata, "Gott schütze uns, Gott schütze uns," yang terucap dari mulutnya. Dunia dalam bahaya, dia tahu. Meski dia dan seluruh dunia belum mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi, dia berharap semoga Tuhan mendengar doanya. Sedangkan Francis yang biasanya menatap mesum teman-teman lainnya hanya terdiam, serius menatap kekacauan di daratan.

"Apa dunia sudah mengerti apa yang kita hadapi?" tanya Mathias pada akhirnya.

"Entahlah. Bahkan kita yang sudah diberi peringatan oleh akun itu sekalipun juga masih tidak mengerti apa yang kita hadapi." jawab Arthur seperti orang hopeless.

Alfred membuka tabletnya, mencari-cari berita yang berhubungan dengan 'Triachnida' dan virus 'Trachnide'. Dia juga mencari banyak mitologi dan kapan mereka muncul. Beberapa berita muncul.

"Kekacauan seluruh bandara di dunia, baik bandara domestik atau internasional," baca Alfred dengan mengeraskan suaranya, agar teman-teman nation-nya juga bisa mendengarnya, "Sebuah sistem aneh bernama Trachnide menyerang semua komputer di bandara-bandara dunia dan merusak berbagai jadwal penerbangan. Dikhawatirkan bagi pesawat yang dikemudikan tanpa awak atau dikemudikan dengan komputer, komputernya juga akan dirusak oleh sistem aneh bernama Trachnide. Badan intelijen dan hacker dari seluruh dunia disiapkan untuk serangan lebih lanjut. Belum ada komentar dari PBB dalam serangan peretasan ini."

"SIAL! ORANG ITU LAGI!"

"Hei. Perhatian sebentar," kata Antonio dengan muka pucat. Meski ini Antonio yang ceria dan santai, namun dia juga bisa berwajah pucat begitu, "Sistem komputer pesawat kita..."

"T'dak b'jalan."

"Terus kenapa pesawat kita tetap melayang di udara dan bukannya jatuh?" tanya Tino penasaran.

"Sistem komputer kita bukannya tidak berjalan, namun koordinat GPS-nya kacau. Siap-siap saja kita nyasar ke langit negara manapun, atau di lautan. Untung ini pesawat personifikasi negara, jadi nggak akan dianggap pesawat pelanggar garis demarkasi!"

"Hei!" kata Mathias, "Bukankah ini pesawat analog biasa yang memakai pilot dan sedikit komputer?"

"Sebenarnya tidak ada pilot di sini," kata Alfred, "Dari tadi kau tidak melihat ada yang mengemudikan pesawat, kan? Kita mengggunakannya dengan komputer!"

Semua menghela nafas, "Pakai pilot manual! Kita bisa mengemudikan pesawat kan?" kata Arthur panik, "Bloody hell!"

"Ak' s'ja y'g m'mudi," kata Berwald.

"Aku mohon bantuanmu dengan sangat!"


"Hup!" Heracles turun ke dunia itu dengan sukses. Ponsel yang dia dapat dari Gupta benar-benar berguna. Hanya mengetikkan password-nya yang kebetulan sudah dia ketahui sejak lama, dan dia sudah ada di dunia paralel ini.

"Lama sekali, Heracles," kata Gupta yang dari tadi sudah ada di sana. Mukanya datar, seakan-akan tidak terjadi apa-apa di dunia ini. "Sudah kukatakan hanya ini jalan untuk menyelamatkan negaramu yang terkena krisis ekonomi sejak tahun 2009 yang lalu kan?"

Heracles mengangguk, "Nah sekarang, bagaimana cara mencari harta karun legendaris tersebut, kau sudah punya data?"

"Sudah, dan sebagian besar referensi yang kudapat setelah aku mencoba mencari di berbagai perpustakaan, termasuk perpustakaan Irak itu, menunjukkan kalau harta karun legendaris itu berada di sebuah tempat di mana seluruh manusia tahu, namun tersembunyi. Rahasia namun diketahui, dan fana namun dipercaya. Dan aku semakin tidak mengerti." jelas Gupta sambil mengangkat pundaknya tanda tidak paham.

Perpustakaan Irak-salah satu ironi bagi negara yang mengagung-agungkan penemuan dan ilmu-Amerika. Heracles masih ingat bagaimana Alfred dan pasukannya menembakkan senjata ke arah perpustakaan itu dan menghancurkan sebagian besar koleksi bersejarah yang tak ternilai dari perpustakaan terbesar dan terlengkap di dunia itu. Lalu, bagaimana Gupta bisa tahu data-data tersebut kalau tempat itu sudah dihancurkan-mana mungkin dia punya mesin waktu?

"Aku sangsi kalau kita ada di tempat yang benar," kata Heracles, "Seluruh manusia tahu, namun tersembunyi. Rahasia namun diketahui. Bukankah ini yang menurutku terdapat di bumi, bukan dunia ini?"

"Ingat yang ketiga, fana tapi dipercaya."

Heracles terdiam seketika. Dunia paralel yang terlalu banyak resiko ini terlalu bahaya didiami terlalu lama, begitu kata ibunya dulu. Namun mau bagaimana, untuk makan saja rakyat Yunani sekarang sudah susah.

Sebuah cerita mengingatkannya kembali akan dunia ini. Dunia yang selalu menghasilkan banyak perdebatan dan penuh dengan misteri bagi penggila teori konspirasi-sains maupun peneliti-peneliti. Dunia paralel yang pintu masuknya berada di tempat paling angker di bumi-Segitiga Bermuda. Tempat dimana kapal-kapal tenggelam tanpa jejak dan pesawat menghilang tanpa jejak. Tentu saja keuntungan dari kapal-kapal itu ada di dunia paralel ini. Dan itulah yang akan digunakan untuk memperbaiki Yunani-dan mungkin juga dunia.


Di sebuah rumah bergaya Bavarian di kaki pegunungan Alpen yang aman dan belum terjamah oleh kekerasan macam apapun, seorang pria berambut blond dan agak panjang berkali-kali menatap jam dengan resah. Senapan yang ada di tangannya sudah siap ditekan pelatuknya, seolah-olah ingin menembaki jam cuckoo buatan Jerman itu.

"Ke mana Lily? Bukankah harusnya dia sudah pulang sekarang? Kenapa dia tidak menghubungiku?"

Pria itu semakin gusar. Pelatuknya sudah sangat ingin dia tekan, sampai akhirnya sebuah ketukan lembut di pintu menghentikannya. Dalam pkirannya terbayang sebuah nama:

"Lily?" tanyanya memastikan.

"Bukan, ini aku Bella. Aku minta bantuanmu, Vash Zwingli." kata Bella dari balik pintu. Vash lumayan kecewa begitu tahu kalau itu bukan adik tersayangnya yang datang.

"Masuk," kata Vash sambil membukakan pintu. Gadis berambut pendek bergelombang dengan bandana pita itu berdiri dengan membawa berbagai macam berkas yang terdapat dalam sebuah map berwarna merah dan sebuah laptop.

"Duduk dulu, kau ada perlu apa kemari?" tanya Vash.

Bella duduk di sebuah sofa berwarna merah. Dia menaruh berkas-berkasnya di sebuah cofee table. "Seharusnya kau periksa internet dari tadi. Kau tahu kan keributan besar di dunia karena adanya Triachnida? Adikmu sedang mencoba membenarkan sistem World Conference bersama dengan Nicholas dan Emil,"

"APA? LILY BERSAMA DUA COWOK ITU? MEREKA NGGAK NGAPA-NGAPAIN LILY KAN!" potong Vash galak, dan siap-siap dengan senapannya.

"Dengarkan aku dulu!" teriak Bella, "Nah, untuk mempercepat pekerjaan mereka, aku dan kakakku sudah berusaha mencari siapa itu Triachnida yang sebenarnya. Kakakku sudah pergi ke negara yang dicurigai dan melakukan pengintaian, dan aku sendiri mendapat banyak data tentang Triachnida setelah membobol berbagai akun. Namun aku belum menemukan alamat IP dari komputer Triachnida tersebut. Padahal biasanya alamat IP mudah sekali dicari."

"Jadi kau minta bantuanku untuk mencari alamat IP dari hacker tersebut?" Bella mengangguk. Sepertinya baginya, Vash Zwingli-personifikasi negara Swiss ini adalah harapan terakhir setelah kakaknya pergi dan orang-orang di sekitarnya terlalu sibuk untuk persiapan perang besar setelah Belarusia dan negara-negara sekitarnya kena penyerangan, "Kemarikan laptopmu, Bella."

Bella menyodorkan laptopnya. Vash mulai membuka berbagai program hack, mengetikkan beberapa kode, menerjemahkan kode-kode biner menjadi angkayang lebih rasional, dan mereka berdua pun menemukan sebuah kotak perintah untuk diisi:

ENTER YOUR PASSWORD HERE:

01:00:00

"Angka itu... countdown! Kalau kita tidak menemukan passwordnya maka otomatis komputer ini akan rusak!" teriak Vash panik. Saking stressnya dia pun sudah mau menembaki laptopnya, kalau Bella tidak mencegahnya. "Aaaargh! Ada yang tahu kata kuncinya!"

"Triachnida itu penggemar mitologi," kata Bella, "Mungkin yang ada hubungannya dengan mitologi."

"Mana kutahu angka yang berhubungan dengan mitologi!" kata Vash, "Yang kutahu angka-angka freemason dan Illuminati!"

"Ngg... Dewa-dewa?"

"Ini angka!"

00:58:45

"Angka 13? Angka 4? Angka 33?" personifikasi negara Belgia itu mencoba meraba-raba di kekosongan. "Ngg... 2...3...4...7?"

"Angka apa itu?" tanya Vash.

"Angka yang ada di mitologi Mesir. Angka 3 dan 9 juga ada di mitologi Norse. Masih banyak lagi kemungkinan angka yang ada di mitologi dunia." jelas Bella yang membuka internet di ponselnya karena laptopnya tidak bisa dipakai apa-apa selain mereka memecahkan kode itu. "Atau angka setan... 666? 616? 23 Enigma?"

"AAAARGH!" Vash memukul meja. "Atau mungkin saja angka-angka dari deret Fibonacci atau angka-angka Yahudi dan Kristen?"

"Ayolah, ini bukan teori konspirasi yang biasa ada di novel dan internet," kata Bella. "Jangan terlalu panik, pikirkan baik-baik. Aku juga akan memikirkannya."

Vash menyenderkan kepalanya ke sofa. Pikirannya kacau. Sudah Lily, sekarang gadis inilah yang membuatnya kacau. Kalau laptopnya meledak, kemungkinan rumah Bavaria yang aman itu juga meledak. Dari jendela terlihat bahwa langit sudah gelap. Semakin paniklah Vash begitu tahu Lily belum pulang juga. Namun dia juga melihat ke arah gadis itu, "Sebentar lagi malam, apa setelah ini kau mau pulang?"

"Nggak tau deh, di rumah juga nggak ada orang."

"Mau nginep di sini?" tawar Vash. Tiga detik kemudian, dia menyesal telah mengatakan itu.

"Mungkin. Sekarang kesampingkan itu dulu Vash, kita harus memikirkan tentang kode ini."

Vash berpikir.

Mitologi... Dewa-dewi... Kepercayaan... Angka... Simbol... Perang Peretasan... Perang Terbuka...

Semakin dipikir semakin nggak nyambunglah itu semua. Mungkin dua yang terakhir abaikan dulu.

Mitologi... Dewa-dewi... Kepercayaan...Angka... Simbol.

Banyak sekali mitologi dan dewa-dewi yang memiliki angka. Dari setengah sampai jutaan. Banyak juga kombinasi-kombinasi angka dan angka-angka sakral

bagi mitologi-mitologi kuno seperti Mesir maupun Norse.

Vash sepertinya tidak menyadari kalau dari tadi Bella mencuri-curi pandang terhadapnya.

00:45:43


To Be Continued

Yatta! Chapter 3 diupdate juga, ini author pemales bisa ngerjain juga XD. Chapter ini makin garing ya ._. tapi chapter depan saya janjiin saya bakal lihatin invasi makhluk gaib di beberapa negara... *hayah, jadi spoiler*

Mari kita mulai kamus baru XD

Wang Jia Long: Hong Kong

Wang Xia Fei: Macau

Wang Mei: Taiwan

Gott schütze uns: God save us (German)

krisis ekonomi Yunani: you-know-what *woi*

Sampai jumpa di chapter depan yang ga kalah maksa! Jangan lupa review ya minna XD