Ini part 4-nya :D
Sekarang fanfic yang nyertain isu-isu dunia terkini banyak banget ya? *dari dulu malah* tapi fic saya ini 40% realita, 60% abalisme :D kebiasaan buruk tuh bikin beginian :D
Triachnide ~They're Upon Us~
Chapter 4
Rate: T *mungkin naik di chapter-chapter berikutnya*
Warning: typos, OOC sangat, hard themes, codes, fantasy items, chara death!
Disclaimer: Hetalia (c) Bang Hidekaz Himaruya~ I just own the plot
Pria berambut hitam kecokelatan dan bola matanya berwarna violet itu hanya bisa menghela napas melihat komputer tabletnya yang terletak di atas piano itu.
'Dia mulai lagi,' pikirnya. Triachnida mulai mem-post lagi sesuatu di forumnya. Sejak post pertama dan berbagai kekacauan di dunia, dia mulai menge-post puisi yang temanya memprovokasi. Untung dia mem-post di forum personifikasi negara, di mana negara tidak akan terpengaruh. Namun jika dia mem-post di forum biasa tempat manusia bercengkerama, siapa tahu saja ada yang mau menjadi teman Triachnida.
Namun di antara semua negara, mungkin saja dia-Austria-merupakan negara yang paling tidak peduli dengan semua itu, selain Swiss tentu saja. Personifikasi Austria-Roderich-itu tetap saja asyik memainkan pianonya tanpa memerdulikan ada apapun di luar.
Namun meski begitu dia tetap saja memerhatikan dunia dari komputer tablet yang tersedia di manapun. Roderich benar-benar yakin negaranya akan aman.
'Austria adalah negara yang damai dan tenteram, pasti tidak akan ada apa-apa seperti negara Eropa Timur itu,' pikir Roderich sambil menulis komposisi lagu baru yang akan dipersembahkan untuk bosnya di pentas musik kenegaraan itu.
Itulah yang dia pikirkan-sampai datanglah sebuah saat yang tidak dia sangka-sangka.
Baru saja dia menyelesaikan komposisi lagu yang baru untuk bosnya, tiba-tiba langit menjadi berwarna kelabu mendadak. Bukannya kelabu mendung biasa, ini seperti hujan abu. Padahal dia tidak pernah mendengar gunung-gunung di Pegunungan Alpen bisa menjadi hujan abu.
"Roderich Edelstein! Cepat menyingkir!" kata sebuah suara yang sangat dia kenal.
"Bos?" Roderich menoleh sebentar, dan kembali pada pianonya. Dia takut komposisi nada yang sudah disusun capek-capek hilang mendadak, "Ada apa?"
"Jujur saya juga masih belum mengerti," kata sang bos, "Namun keadaan jadi aneh. Cobalah kau keluar, kau akan mengerti."
Roderich mengikuti sang bos, melihat ada apa di luar. Pemandangan yang dia lihat sama sekali tidak bisa dipercaya oleh seorang Roderich Edelstein, dan mungkin seluruh manusia di dunia ini. Ada seekor makhluk misterius yang biasa ada di mitologi, bersayap kelelawar, bersisik ular, berwarna hijau. Mukanya terlihat kejam, dan terbang di atas langit Austria. Itulah yang biasa di namakan naga di mitologi Eropa, dan sekarang terbang dengan jelas di Austria, negara indah yang seharusnya damai sentosa itu. Naga itu terbang bersama dengan seekor makhluk berwajah seperti rajawali, namun badannya singa, dan memiliki sayap rajawali juga. Griffin, orang Yunani menyebutnya. Austria sweatdrop. Kenapa makhluk fantasi yang seharusnya hanya ada di dongeng dan game ini terbang di Austria?
Mereka terbang di langit Austria, dan menghancurkan rumah-rumah sekitar, bahkan kantor pemerintahan. Roderich harus mengucek mata sekitar sepuluh kali baru dia memercayai apa yang dia lihat. Griffin-griffin itu terbang ke arah mereka dari kejauhan. Pantas saja dari tadi Roderich merasa ada yang aneh di tubuhnya. Dia mengerang pelan, tidak ingin sang Bos tahu kalau dia sakit.
"Menyingkirlah Bos, pergilah ke Hungaria atau Swiss, atau ke mana sajalah," kata Roderich, "Biarkan ini jadi tanggung jawabku. Negara harus mengalami sakit rakyatnya."
"Memang aku sudah ditunggu. Aku akan pergi ke Hungaria," kata sang bos, "Aku pergi dulu. Aku sudah mengerahkan menteri pertahanan dan semuanya, kau tenang saja."
"Terimakasih, bos."
"Seharusnya aku yang berterimakasih padamu."
Sebuah Alphard menjemput sang bos, tinggallah Roderich sendiri menunggu Griffin itu menjemput ajalnya, mengorek perutnya dengan cakarnya, atau membawanya ke dimensi lain yang tidak diketahui. Tapi pria itu bukannya kabur, tapi selagi Griffin itu masih jauh, dia tenang-tenang saja, dan tidak memanggil bala bantuan.
"Sepertinya aku akan membuat lagu Requiem kedua setelah Mozart..." kata Roderich dengan tenang sambil mencatat di buku notes yang berisi lagu ciptaannya, "Untukku, untuk negara ini."
Setelah keluar dari kedutaan besar, kekesalan Santika makin menjadi-jadi. Emosinya semakin bertambah begitu dia mengetahui kalau pemerintahan Indonesia sangat mendukung program Belanda 'menegakkan keadilan' di Indonesia, dan bahkan para petinggi negara itu memberikan kewenangan terhadap Gerard untuk berbuat sesukanya ke orang yang dicurigai itu, meski mereka tetap meminta perlakuan yang wajar. Namun gadis itu hanya bisa diam, tak berdaya melihat penjilat seperti pemerintahnya sudah mulai menjilat pemerintah asing meskipun itu adalah mantan penjajahnya sendiri.
"Naik, penjajah sial." kata Santika yang sudah tidak bisa menahan kekesalannya. Dia tahu kata-katanya itu sangat tidak sopan. Namun, menurut adat pasti sangat aneh jika seorang wanita yang lebih muda membonceng seorang pria asing yang lebih tua entah berapa tahun, yang dikabarkan mengidap lolicon pula. Masih mending kalau membonceng pria yang disuka, tapi ini apa banget sih! Pria bekas penjajah! Pria yang paling dia benci seumur hidupnya, yang paling menyebalkan baginya!
"Kau kelihatannya tidak suka bersamaku," Gerard menatap wanita itu agak tersinggung. Maklum saja, dikatai seperti itu siapa yang tidak kesal? "Sebentar saja kau menolak keinginanku, akan kubeberkan rahasia tentang kekayaanmu ke negara lain yang mengincar kekayaanmu!"
Mendengar kata-kata personifikasi Belanda itu, Santika langsung melempar helm, dan kembali diam. Sebagai penjajah yang menjajah selama 350 tahun, tentu saja Gerard sudah mengeksplor apa saja kekayaan alam Indonesia, yang membuat gadis ini begitu cantik dan menarik. Jadi, mudah saja dia membeberkan rahasia kekayaan Indonesia dimanapun tempatnya, kepada negara-negara seperti Amerika dan Inggris. Mereka bisa dengan mudah mengeksploitasi keindahan Indonesia, dan kalau sudah begini, Santika dan Rama tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Melihat reaksi Santika, Gerard tersenyum puas. Dia memakai helm-nya, dan duduk di boncengan motor. Seandainya Santika adalah manusia biasa dan Gerard juga sama, Santika sudah merencanakan pembunuhan dengan menabrakkan motor ke truk atau apa sajalah. Tak apa dia mati, asal dia bisa membunuh kompeni yang sangat dia benci itu. Namun dia urungkan niatnya. Terpaksa, dia menyalakan mesin motor dan motornya melaju ke arah kota kecil dekat Jakarta yang dicurigai-Bogor.
Dan Santika tetap berharap agar Gerard tidak memegang tubuhnya sembarangan.
'Apa sih yang diinginkan pria ini?' pikirnya, sementara kendaraan itu sudah sampai ke jalan tol. Sebentar lagi Bogor.
Tiga orang yang tidak banyak bicara itu berusaha keras untuk memperbaiki situs World Conference yang sekarang sudah dikuasai oleh Triachnida. Begitu juga dengan situs-situs kenegaraan lainnya, seperti situs Pentagon dan situs-situs Israel. Seperti biasa, Israel menuduh negara-negara Arab adalah sumber semua kekacauan ini. Namun negara Arab tidak menerima pernyataan itu, dan malah balik menuduh Israel. Israel sudah bersiap-siap untuk perang dunia ketiga. Konspirasi di tahun 2015 masih tetap berjalan, sepertinya.
"Serangan ini beda dari serangan Anonymous tahun 2011-2012," komentar Nicholas. "Sepertinya ini merupakan hal baru di dunia."
"Tidak. Rasanya tahun 2012 ada juga serangan virus komputer yang meresahkan Iran," kata Lily mengingat-ingat. "Sudahlah, jangan pikirkan lagi. Lebih baik kita istirahat sebentar."
Mereka duduk di sebuah sofa dan Lily membuatkan minum untuk mereka bertiga. Akhirnya mereka bisa bernapas setelah sekian lama berkutat dengan angka biner dan kode-kode komputer.
"Aku dengar invasi Triachnida sudah sampai Austria," kata Emil tiba-tiba, sambil menyeruput capuccino-nya yang dibuatkan Lily. "Aku heran, kenapa mereka acak sekali memilih negara?"
"Sebentar..." kata Lily menghitung, "Pertama di Finlandia, lalu Belarusia dan mengekspansi ke seluruh Eropa Timur, dan sekarang Austria."
"Acak sekali, kalau mau ke Austria seharusnya mereka melewati Luksemburg atau Rumania terlebih dahulu." komentar Nicholas datar.
"Lagipula, kalau yang pertama itu di Finlandia..." Lily sepertinya menyadari sesuatu, "Untuk mencapai Belarusia harus melewati laut Baltik-itu pun harus melewati Lithuania dan kawan-kawan kan? Kalau mau jalan darat sekalipun, itu harus melewati Rusia.."
"Iya juga, buat apa mereka langsung ke Belarusia dan baru ke Rusia dan Baltik lainnya?" tanya Nicholas, "Lebih mudah kalau mereka ke Rusia dulu kan?"
"Sudahlah," kata Emil, "Lebih baik kita lanjutkan saja membenarkan situs ini."
Trio yang masih author bingung mau namakan apa itu kembali berkutat dengan kode-kode panjang yang sulit sekali dipecahkan.
Pesawat itu bisa mendarat dengan selamat, pada akhirnya. Meski itu membuat kehebohan dengan mendarat di jalan raya yang agak sepi, namun untungnya mereka masih hidup.
Dan lebih beruntung lagi, mereka langsung berada di depan rumah sakit. Arthur segera menggendong Natalya yang masih tidak sadar. Yang ada di pikirannya hanya do'a, yaitu semoga gadis itu, dirinya sendiri, dan seluruh dunia bisa selamat.
"Darurat! Seorang personifikasi dalam keadaan kritis!" teriak Mathias, "Mohon penanganan untuk gadis ini!"
Untung pihak rumah sakit cepat tanggap. "Kami mengerti, akan kami rawat dia sebaik mungkin!" dan langsung membawa Natalya ke unit rawat khusus personifikasi negara.
Griffin itu semakin dekat. Roderich merasa kematiannya sudah sangat dekat. Dari tadi dia mengerang kesakitan karena negaranya dirusak oleh Griffin-griffin dan naga-naga itu, namun dia tetap menunjukkan wajah yang tenang. Pria Austria itu telah seringkali merugikan negara lain pada zaman Marie Antoinette, dan sekarang giliran dia yang mengorbankan dirinya. Dunia tahu kalau personifikasi negara tak bisa mati, namun bagaimana kalau diserang dengan makhluk gaib?
Entahlah. Roderich tak bisa memikirkannya. Yang dia tahu hanya dosa-dosanya di masa lalu. Ingin sekali dia meminta maaf terhadap semuanya atas dosa-dosanya. Namun sekarang dia tidak tahu siapa yang harus dia hubungi terlebih dahulu. Bahkan PBB tidak mengirim bala bantuan, NATO tidak membantunya, artinya seluruh dunia membencinya, bukan?
"Selamat tinggal semua..." itulah kata-kata terakhirnya.
Griffin itu datang menghampirinya dengan santai, seakan seluruh rakyat telah memberi jalan kepada makhluk itu untuk membunuh personifikasi pelit itu. Roderich sudah siap dengan segala kemungkinan yang dia terima. Bahkan ketika dia tidak bisa melawannya sekalipun dia sudah pasrah. Sudah berapa orang di negaranya yang mati karena Griffin dan Naga itu? Sudah berapa banyak nyawa yang tak bisa ia selamatkan karena ia sedang menyusun komposisi nada?
Kemudian semuanya gelap. Triachnida sudah memilih siapa yang jadi korban pertamanya.
Beberapa ratus mil dari Austria, seorang pria sedang berlari di dalam kegelapan. Seperti biasa, dia ingin menjauh dari penerangan. Memang benar kata gurunya, dia immortal. Meskipun Kian sudah menembaknya dan kastilnya sudah terbakar, namun dia masih bisa hidup dengan cara melarikan diri begitu Kian pergi dari kastil itu dan menutup sumber pernapasannya sebelum karbon monoksid meracuninya. Sekarang dia hidup sembunyi-sembunyi, dilindungi oleh kedua orang temannya. Dia yang nyaris meninggal pada saat mencari catatan rahasia di Irlandia sekarang kehilangan tujuan hidupnya.
Catatan itu.
Dia harus menemukan kopiannya. Catatan di Irlandia telah hancur terbakar bersama dengan kastilnya. Sekarang dia tahu di mana dia harus menemukannya. Tidak perlu terlalu jauh, di pusat negaranya sendiri juga ada.
Semua informasi ada di pusat negara. Center. Tengah-tengah. Tempatnya sendiri.
Seringainya sudah terlihat sekarang. Dia senang akan keberhasilan tim ini. Jika catatan itu ketemu, dia akan merayakan dengan teman-teman satu tim-nya.
Tim yang dia namakan: Triachnida.
00:45:43
Bagaimanapun juga duo chocoholic itu masih belum menemukan berapa angka yang dimaksud. Hanya ada satu kesempatan-mendapatkan informasi, atau akan kehilangan segalanya. Meskipun waktunya masih lama, namun mereka harus
"Begini saja. Menurutku tidak masalah kalau aku kehilangan notebook yang penuh dengan sistem negara ini." kata Bella pada akhirnya. "Bukankah orang harus menanggalkan segalanya demi mendapatkan sebuah kebenaran kecil?"
"Ya sudah. Ini pertaruhan, bukan?" Vash menatap gadis di depannya, "Tapi apa tidak apa untukmu? Bukankah negaramu sedang ada krisis politik dan ekonomi? Laptop ini hidupmu kan?"
"Abaikan gosip sejak empat tahun yang lalu itu, Vash. Sekarang kita harus yakin berapa angka yang kita pilih."
00:39:45
Vash tidak mendengarkan kata-kata Bella. Dia terus saja mengutak-atik komputer tablet-nya dan mencari berapakah angka yang paling tepat. Dia bukan pemecah kode yang baik, namun otaknya terus memaksanya untuk berpikir. Sampai akhirnya dia menemukan sebuah kesimpulan.
"Hei, Bella. Kau tahu dari mana asal kebudayaan manusia?"
"Benua... Asia?" Bella menebak-nebak. Kebudayaan India Kuno yang paling tua, bukan? Bella pernah membaca sebuah buku Yunani Kuno tentang Atlantis dan mengambil keputusan bahwa Atlantis ada di Asia. Menurut legenda, Atlantis adalah kebudayaan yang paling tua bukan?
"Bukankah kalau begitu kita harus mencari angka dari kebudayaan kuno dari Asia? Kita memperkecil kemungkinan saja."
"Dewa yang berhubungan dengan angka.." Bella mencari-cari di internet. Sampai akhirnya dia menemukan sebuah website tentang dewa dan angka. Namun hanya satu dewa yang memiliki kotak ajaib yang berisikan angka yang mau dibagaimanakan juga hasilnya sama: 15.
Dewa Fu-Xi dan penjumlahan ajaibnya,
"Bagaimana dengan yang ini?" Bella mengetik 15 dan menekan tombol 'ENTER'.
"Ini dia..." kata Bella dan Vash nyaris bersamaan. "Data pribadi sang Triachnida!"
Baik Bella ataupun Vash tidak tahu harus bagaimana merasakan hal tersebut. Senang, kaget, dan... entah bagaimana. Serasa waktu dihentikan untuk beberapa detik. Mereka telah sangat dekat... dengan sang pengacau. Bella langsung mencatat alamat e-mail dan alamat IP-nya.
"Untung sekali kita menemukannya!" Bella memecah kesunyian antara mereka.
"Mari kita rayakan," kata Vash sambil mengambil wine kebanggaannya.
Namun belum sempat mereka mendentingkan gelas, suara telepon mengagetkan mereka berdua. Ada lagi yang seenaknya mengacaukan kebahagiaan karena telah menemukan seorang pengacau!
"Halo?"
"Ini Swiss kan? Ini aku, bos-nya Roderich!" terdengar suara tangisan di jauh sana.
"Kenapa? Tumben sekali Anda menelepon saya."
"Austria... Roderich meninggal. Dia akan dihapus dari peta. Dia resmi dihapus di hari pemakamannya esok."
"APAA? RODERICH MENINGGAL?"
Setelah berita itu datang, Bella tidak menyadari kalau virus Trachnide menyerang laptop Bella. Laptop-nya sudah tidak bisa berfungsi lagi. Dia juga shock mendengar berita itu. Ketika Bella melihat laptopnya, layarnya langsung gelap. Bukannya data pribadi tentang Triachnida, namun kegelapan yang luar biasa.
Hanya ada beberapa kata yang terpampang di layar:
THANKS FOR THE MEAL,
SIGN.
TRIACHNIDA
Vash sudah ingin sekali menembak segala macam, namun dia terlalu lemah. Dia hanya bisa terpaku diam.
"Kita harus memberi salam terakhir padanya." usul Bella, "Toh laptopku sudah rusak begini. Padahal banyak sekali data kenegaraan yang ada di sana!"
"Roderich..." pandangan Vash masih kosong. Dia tidak tahu harus berkata apa-apa. Temannya yang dulu ada bersamanya, yang selalu dia urus, tetangganya sealigus sahabat baiknya... orang yang selalu dia cereweti...
Sekarang hilang.
Natalya membuka matanya, setelah sekian lama dia pingsan. Dia melihat Mathias yang melihatnya dengen tatapan mata khawatir.
"Mat.. thias..." itu kata-kata pertamanya setelah bangun, "Mana kakak?"
"Kau sudah sadar, rupanya!" kata Mathias, "Mungkin lebih baik aku memberi tahu yang lain!"
"Apa ada kakak di sana?"
"Tidak, kakakmu dan negara Eropa Timur lainnya dalam keadaan kritis juga," kata Matthias memberi penjelasan, "Namun kami peduli padamu, jangan lupakan itu. Sebentar, biar kupanggilkan yang lain."
Natalya kecewa, tidak ada kakaknya di sana. Namun dia terharu juga melihat banyak orang yang peduli padanya. Jujur saja, dia tidak mengingat apapun. Saat itu negaranya sedang kritis. Dia tidak tahu harus meminta tolong pada siapa, akhirnya meminta tolong Alfred. Namun Natalia merasa kedatangan Alfred sangat lama. Jadi Natalia pun bersiap membunuh sang pengacau, namun tiba-tiba terkena tombak entah dari mana, dan kesadarannya langsung hilang. Tiba-tiba saja dia langsung ada di rumah sakit ini.
"Natalya-!" teriak Alfred, melupakan kalau ini rumah sakit. Untung saja belum selesai dia berbicara, mulutnya sudah dibekap Arthur.
"Ini rumah sakit, bloody git. Jangan bicara keras-keras."
"Aku juga tahu! Bagaimana keadaanmu, nona?"
"Baik-baik saja," katanya tanpa ekspresi seperti biasa. "Kakak dalam keadaan kritis? Aku harus menemuinya!"
"Yang penting keadaanmu dulu!" kata Arthur dengan ekspresi seorang gentleman. Padahal di dialog sebelumnya dia mengucapkan kata-kata kasar khas Cockney. "Kau masih lemah begini, mau kau mati apa? Kami kan khawatir terhadapmu!"
"Hei," Antonio memecah keadaan itu. Terlihat air matanya menggenang, membuat semuanya bertanya-tanya. "Kau tahu, Austria meninggal. Besok kita sema diundang ke upacara pemakamannya."
Semuanya langsung membatu mendengar kata-kata itu, seakan waktu terhenti. Mereka berusaha berpikir kalau mereka salah dengar dan Antonio sedang berbohong, namun kata-katanya itu jelas menandakan dia tidak berbohong.
Tanpa terasa, air mata mereka berjatuhan ke lantai rumah sakit.
To Be Continued
RODERIIICH! Dia tokoh kesukaan saya loh D: tapi kenapa malah saya matiin dengan kejamnya? Kalau kalian mau tahu upacara pemakaman khas nation, jangan lupa baca chapter depan!
Jadi review yaaa *Winkwink*
Sekarang saatnya balas review dari chapter 2~ :D
Livin'A-Chain: Bulgaria munculnya entaran XD kalo Romania berhasil keluar dari Bandung (?) itu~ Thrillernya emang kurang kerasa karena masih chapter pengenalan (?) gitu deh~ tapi saya janjiin deh bisa bagus D:
siapa saya: nasib mereka.. err... baca aja! XD
DSBJahat: Clue-nya bisa didapat di setiap episode -_-. Kalo emang udah singkat-padat-dan jelas, saya panjangin nih.
chiko-silver lady: Err... rahasia dong XD. Lambang Sagittarius? Oke XD nanti dimunculin pas perang makhluk ghoib vs nations (spoiler)
felicidad: Hee? Humornya sama? Tapi sekarang saya bikinnya minim humor -_-. Oke, makasih sarannya XD typo memang bisa menjadi senjata mematikaaan _
L'Anse-Saint-Jean: makasih XD
SakuraHimawari: makasiih XD
Lady Raven: Semua rikues ditampung. Yang dimaksud harta karun bagi mereka itu tempat (?) kuno suci yang penuh dengan harta yang hilang di masa lalu dan jadi harta legenda (contoh: Holy Grail), tapi dijaga sama makhluk ghoib XD
Kurone Liebel M. Grantaine: MAKASIH BANGET XD
