Maaf lama updatenya ;;w;; ini dua tahunan lebih ga apdet ya? Maaf banget!

Triachnide: They Are Upon Us

Hetalia © Hidekaz Himaruya

Saya ga dapet keuntungan apapun bikin fic beginian, otreh?


Kematian Roderich membuat seluruh dunia syok. Perhatian dunia teralihkan oleh kematiannya, dan membuat mereka melupakan negara-negara lainnya yang juga sedang sekarat. Namun memang pertama kalinya sepanjang sejarah, seorang personifikasi negara meninggal karena serangan makhluk gaib yang tidak jelas dari mana asalnya.

"Mustahil..." Arthur hanya bisa melongo ketika dia melesat dari rumah sakit dan jetnya mendarat di Austria dan melihat prosesi pemakaman itu.

Vash dan Bella yang dari tadi ada di situ terpaku, sudah tidak tahu lagi. Rasanya baru beberapa detik yang lalu mereka senang karena kode sudah terpecahkan dan identitas Triachnida sudah hampir diketahui. Namun berita kematian Roderich, dan serangan virus terhadap laptop Bella, membuat pasangan cokelat itu shock.

Feliciano hanya bisa menangis, dan Ludwig menenangkannya, meski matanya basah. Begitu juga dengan Antonio. Dia mengingat masa lalunya dengan aristokrat pelit itu. Lovino pun ikut shock, tidak menyangka personifikasi negara bisa semudah itu meninggal. Begitu juga dengan negara yang lain. Hening. Langit yang mendung dan nyanyian sumbang burung-burung gagak seakan turut berduka atas kematian negara musik satu itu.

"Apa penyebab kematiannya?" tanya Alfred seperti biasa-ikut campur urusan orang lain.

Mantan bos Austria menjawab dengan lirih, "Serangan dari griffin dan naga..."

Semuanya yang hadir di pemakaman Austria hanya bisa melongo. Sepertinya para nation sedang dalam kebingungan luar biasa akhir-akhir ini. "Di... diserang makhluk dongeng begitu?" tanya Feliciano.

"Mustahil!" teriak Arthur, "Mereka tidak akan mengamuk kalau tidak ada pemicunya!"

"Mereka?" sekarang semua pandangan mata menuju ke arah sang pria beralis.

"Ng... maksudku... para naga dan griffin itu..." Arthur mencoba menjelaskan kepada teman-temannya yang kurang mengerti hal-hal magis seperti itu, "Sebenarnya aku bisa melihat makhluk fantasi seperti itu. Mereka tidak suka menampakkan diri ke manusia-manusia yang tidak diberi indera keenam. Hanya ada dua kemungkinan mereka bisa mengamuk dan menyerang negara begitu."

"Kenapa?"

"Ada satu individu atau kelompok yang memancing mereka dan membuat mereka marah... atau mereka disuruh seseorang yang mempunyai kekuatan mengendalikan hewan fantasi dengan tujuan tertentu..."

"Eh, rasanya ada seorang yang kita lupakan." kata Antonio, "Ke mana Elizaveta? Bukankah dia sudah menjadi peneliti makhluk gaib sekarang?"

"Seingatku dia pergi entah kemana gitu..." kata Nico. Pria tempat asal bakteri yoghurt itu mengingat-ingat terakhir kali dia bertemu gadis itu, "Tenang saja, aku dan pemerintah Eropa Bersatu sudah mengirim Vlad untuk menemaninya."

Sebenarnya banyak negara yang absen saat pemakaman Roderich, namun karena banyaknya orang yang datang, Antonio hanya mengingat Elizaveta. Padahal negara tetangganya, Gerard, ada di tempat lain.


Hujan sangat deras mengguyur perjalanan Santika dan Gerard. Mereka sudah memasuki Bogor. Sekarang Santika sangat menyesal memakai celana pendek dan kaos biasa. Seharusnya dia menyadari kalau Bogor adalah kota hujan.

"Mau istirahat dulu?" tawar Santika, "Sepertinya kita harus berteduh."

"Tidak perlu. Semakin cepat ke daerah itu semakin cepat kita menyelesaikan tugasnya."

"Kau bahkan tidak memerdulikan anak perempuan yang mengendarai motor dan kebasahan karena hujan deras? Ke mana tata kramamu, kompeni?" gadis itu mulai kesal. Meski hujan menyamarkan suaranya, namun Gerard telinganya cukup baik untuk mendengar keluhan sang sopir.

"Kalau aku boleh jujur..." Gerard ragu melanjutkan kata-katanya, "Aku tak pernah menganggapmu seorang anak perempuan."

Untung saja, suara hujan deras mengalahkan suara Gerard. Kalau tidak, Santika sudah tidak akan ragu lagi untuk menurunkannya. Toh pada akhirnya Santika menghentikan motornya di sebuah rumah.

"Kenapa kita berhenti di sini?" tanya Gerard heran. Bukannya dia sudah meminta untuk tidak berhenti, kenapa Santika tidak mendengarkannya dan tetap berhenti. "Lagipula, di mana ini?"

"Rumahku di Bogor," kata Santika, dengan wujud yang sudah seperti entah apa karena kebasahan, "Kita harus berteduh dulu. Menurut prediksiku, hujan masih tetap berlanjut hingga tengah malam. Lagipula, warung internet yang kau tuju belum tentu buka kan? Dan jangan lupa, masih ada kemungkinan mati lampu di sana."

"Benar juga." Gerard paham. Baginya, Indonesia tetaplah jajahannya yang terbelakang. Jadi dia percaya saja kalau warung internet yang mereka tuju sedang tidak bisa atau mati lampu ,"Lalu, kenapa kau kemari?" Gerard agak curiga juga.

"Ganti baju dan istirahat! Kau tahu kan, bajuku sebasah apa! Kau juga, pakai kamar mandi kakakku saja. Nanti biar pakai baju Kak Rama. Lagipula kau pasti lelah kan?"

"Tumben kau baik padaku." kata Gerard membuka jaketnya, "Kamar mandi kakakmu di mana?"

"Ada di sana." gadis itu menjawab dingin.

Saat Gerard pergi mandi dan terdengar suara shower, Santika langsung membongkar jaket milik kompeni itu. Dia mengerjakannya dengan hati-hati. Sepertinya Santika mencari sesuatu.

'Ada rahasia di negara kita.' itulah yang Santika pernah katakan ke kakaknya. Dan satu-satunya negara lain yang tahu Indonesia dan segala rahasianya hanya Gerard, sang personifikasi Belanda. Santika menemukan ada sebuah map berisi dokumen-dokumen yang ada di kantong dalam jaketnya.

Dan Santika buru-buru mengantonginya. Dia tak punya pilihan lain. Dia ingin sekali melindungi rakyatnya dari pengadilan internasional. Sebagai gadis yang paling anti dengan masalah besar-besar. Meski dia tahu kalau apa yang dia lakukan menambah masalah, namun lebih baik kalau dia yang disiksa dibandingkan rakyatnya dituding di pengadilan Den Haag, dihukum, dan namanya menghiasi seluruh surat kabar seluruh dunia.

Tidak! Santika sudah membayangkan yang tidak-tidak. Karena itu dia harus melenyapkan dokumen ini. Namun belum sempat Santika berpikir, sebuah suara mengagetkannya.

"Santika? Kenapa kau membawa dokumenku?"

"Aku melindungi dokumenmu!" Santika mencoba mencar-cari alasan. "Hujan begini siapa tahu dokumenmu basah kan? Ini dokumen penting, bukan?"

"Begitulah. Kau masih basah kuyup begini!"

'Hanya begitu?' pikir Santika bingung. "Baru saja aku mau mandi. Awas kalau kau mengintip!"

"Aku tidak tertarik padamu," suara Gerard yang terkesan sangat nyolot itu benar-benar ingin minta dibunuh, "Aku sudah bosan denganmu sejak 350 tahun kita bersama."

Dalam sekejap, kemarahan Santika jadi makin menjadi-jadi. Meski di luar dingin, tubuhnya memanas karena kemarahan. "Siapa yang baru mengakui kedaulatanku tahun 2005-10 tahun yang lalu? Aku sudah merdeka sejak 1945! Kau bisa saja menipu semua orang dengan menulis di buku paket sejarah kalau aku berdaulat tahun 1949, namun sebenarnya tahun 2005! Kau sebenarnya masih ingin menjajahku lagi kan? Masih ingin merasakan tubuhku dan Kak Rama lagi?"

"San..."

"Sejak dulu aku selalu membencimu! Orang-orang sombong yang selalu merasa di atas angin atas segalanya! Kau pikir aku ini apa?"

"Aku juga... membencimu." kata Gerard pada akhirnya, "Namun ingat. Dibanding siapapun, aku yang paling mengenalmu. Jangan lupakan itu."

Santika yang sudah malas merespons, beranjak ke kamar mandi tanpa mengetahui kalau setelah itu Gerard sedang menelepon seseorang, dengan nada berbisik sehingga tidak terdengar sama sekali.

"Misi dimulai, meski ada sedikit hambatan. Sekarang aku sedang bersama Santika, dan dia adalah gadis kunci untuk menemukan 'Satrio Piningit'."


Pria berambut kemerahan itu menatap bukit yang menjulang di depan matanya. Dia menggenggam semanggi berdaun empat.

"Seharusnya... di sekitar sini..." gumamnya. Dia tahu seharusnya dia mengunjungi pemakaman Roderich, namun ada hal lebih mendesak yang harus ia kerjakan.

Dia membuka buku mantera-nya dan melihat-lihat halaman di sana. Ada mantera perlindungan ekonomi penuh. Kenapa dari dulu dia tidak membaca buku berdebu itu? Kalau dia tahu kalau ada mantera itu, negaranya tidak akan terkena krisis dari tahun 2011 yang lalu.

Namun, tidak. Tujuannya bukan itu. Ini bukan hanya menyangkut negaranya, tapi seluruh dunia. Dia mulai melantunkan nada-nada mistis dan kata-kata misterius yang ada di buku manteranya. "Eg scrymsa martin scoram, eg scrymsa sera quam... saltica maudaverre"

Sebenarnya lebih mudah menggunakan cara handphone, namun pemuda itu lebih memilih untuk memakai cara tradisional. Bahasa yang bukan bahasa manusia itu diucapkannya berkali-kali, hingga terjadi perubahan besar di sekitarnya.

Cahaya berwarna kuning kehijau-hijauan dengan semburat biru itu muncul secara tiba-tiba dari tanah, membuat semacam penghalang setinggi kira-kira 10 meter. Pria itu tetap membaca mantra itu, sampai akhirnya cahaya itu memudar dan dia telah tiba di tempat yang berbeda. Bukan bukit hijau dengan rumah dengan dinding batu, bukan pub yang berisi dengan pria-pria mabuk dengan Guiness dan suara nyanyian, bukan pabrik pengecoran dan bukan padang rumput atau hutan yang luas bagaikan permadani tempat peri bermain. Bukan. Tempat ini hanya ada beberapa pohon. Tidak ada apapun kecuali kerusakan dan kehancuran di mana-mana. Di langit terlihat ada beberapa naga yang sedang berputar.

Ini bukan tempat yang berbeda.

Ini dunia yang berbeda.


"Ini sudah keterlaluan," kata Alfred setelah melayat Roderich. "Ini pekerjaan Triachnida sang hacker nggak ada kerjaan yang sok nantang HERO itu kan?"

Arthur mengangguk. Dia sudah muak dengan Triachnida yang seenaknya itu. Ingin sekali dia menangkapnya, mengadilinya dalam pengadilan Internasional di Den Haag, menghukum mati orang itu. Jika dia adalah seorang personifikasi negara, dia ingin negaranya ditiadakan seperti dia meniadakan Austria. Lebih dari sekedar genosida, meniadakan negara adalah kejahatan paling keji dalam sejarah.

"Lalu, bagaimana nasib Austria?"

"Jika sudah diduduki oleh makhluk-makhluk itu, maka Austria sendiri akan menjadi milik makhluk itu..." Arthur menghela napas, tak rela melanjutkannya, "Milik..." kata-katanya tercekat, matanya berkaca-kaca, "Milik Triachnida."

"Arthur, kau menangis..."

"Aku tidak menangis!" katanya dengan berlinangan air mata. "Ini hanya kelilipan!"

Alfred langsung memeluk Arthur tanpa berbicara apa-apa sebelumnya. Pria beralis tingkat enam itu langsung terbelalak-kaget dengan reaksi mendadak Alfred. Pria sok hero itu memelukku?

"A..." Arthur tak bisa melanjutkannya. Wajahnya sudah merah. Namun dia merasakan juga, pria berkacamata sok hero itu juga tubuhnya gemetar. Dia menangis juga. Pria itu rupanya sama, tak bisa menahan emosi melihat apa yang sudah terjadi di dunia.


Pemuda itu menatap sebuah perkamen yang dia dapatkan dengan puas. Meskipun tidak mudah pada awalnya, cara non-kekerasan ternyata jauh lebih efektif. Dia membaca perkamen yang tertulis dalam Bahasa yang bukan Bahasa manapun di dunia ini.

'Dengan ini akan terjadi revolusi besar dunia.'

Senyumannya terkulum dengan jelas. Tinggal sedikit lagi, dia dan dua rekannya akan memperbaiki dunia. Dunia yang sudah entah berapa abad dikuasai kekuasaan ekonomi tangan setan.

Biarkan surga yang akan memperbaikinya. Dengan kekuatan dewa. Teknologi dewa jauh lebih hebat dari teknologi manusia sekarang kan? Teknologi dewa tercipta dengan kekuatan mistis, meskipun orang jaman sekarang lebih sering skeptis dan tidak mempercayai dewa dan mitologi, namun bagaimana kalau benar adanya? Dia harus membuka mata orang-orang dengan kekuatan teknologi tangan setan itu.

Kedua rekannya sekarang sedang bekerja di belahan dunia yang berbeda, namun harapan mereka sama. Mengharapkan dunia yang lebih baik, dengan kekuatan dewa yang akan mereka punya.

Karena itu, dia mengharapkan timnya akan berhasil membuat revolusi kali ini. Tim Triachnide.


BERSAMBUNG~

A/N: Saya enjoy banget nulis NetherfemNes di sini, padahal saya kurang suka pair ini loh XD maaf bangets kalo telat begini, saya juga baru nemu kalo saya udah nyelesaiin chapter ini 2 tahun yg lalu-tapi baru beres sekarang. Maaf semuanya! Dan chapter ini juga cukup singkat, maaf~ A