Assalammu'alaikum minna. Saya kembali. Nyahahahahahaha... #ditendang XD

Oke, kali ini saya ingin fokus dulu ke fic multi-chap saya. Jadi artinya, saya tidak akan membuat fic baru dulu untuk sementara waktu, melainkan saya akan membuat chapter baru untuk fic multi-chap saya.

Icy: ohohohohoho, Toumitsu-sama orangnya aneh.

Cyber: aneh begimana sih? #bingung sendiri.

Ray: yang dimaksud Icy kalau Toumitsu-sama itu tida normal.

Cyber: maksudnya? #makin bingung.

Ray & Icy: nothing. #pusing sendiri. XD

#abaikan.

Oke, ndak usah banyak ngoceh lagi. Ini dia ficnya.

Selamat membaca.

.

.

.

.

.


Vocaloid & Utauloid ©Crypton Future Media, Yamaha Corp, Etc.

Our Future In The Present Time ©Cyber Keju-ma.

Rate T.

GaJe,OOC, Typo(s) berserakan, Sulit dimengerti, De eL eL.

Don't Like?, Don't Read!


.

.

.

.

.

"Ja–jadi ka–kalian bukan dari masa ini?" tanya Miku terbata-bata karena mengetahui bahwa dua anak kecil yang ada dihadapannya dan semua sahabatnya berasal dari masa depan.

"Kan sudah kukatakan kalau kami datang dari masa depan," jawab Rei.

"Ka–kalian ke–kesini hanya untuk menemui Len dan Tei-neechan 'kan?" tanya Rin yang juga terbata.

"Yah, kami kesini hanya untuk berjumpa dengan Papa dan Mama saat masih muda," jawab Rei sambil menunjuk Len dan Tei.

"Papa, Mama," panggil Rie sedikit takut-takut yang sedari tadi hanya bersembunyi di balik tubuh Rei.

"HEEEHHHH~? PAPA? MAMA?" teriak mereka semua kaget secara kompak melihat Rei dan Rie memanggil Len dan Tei dengan panggilan "Papa" dan "Mama".

"Heh? Kenapa kalian semua kaget? Bukankah wajar jika kami memanggil Papa dan Mama seperti itu?" tanya Rei yang terlihat bingung sendiri setelah melihat ekspresi semua penghuni mansion itu.

"Bu-bukan seperti itu. Ha-hanya saja mereka terlalu muda untuk mendapat panggilan seperti itu," jelas Luka dengan gugup.

"Ohh, hanya itu. Papa dan Mama itu menikah muda di masa depan. Sebenanya kami datang dari masa 8 tahun dari sekarang," jelas Rei kepada semua yang ada disana.

"8 tahun? Atau jangan-jangan Len-sama dan Tei-sama menikah setelah lulus sekolah?" tanya IA menebak-nebak.

"Benar. Umur kami sekarang masih 6 tahun. Kami dilahirkan setelah satu tahun Papa dan Mama menikah. Dan aku yakin sekarang Papa dan Mama masih harus menyelesaikan satu tahun masa sekolah mereka. Jadi, itu artinya kami datang tepat setelah 8 tahun dari hari ini di masa sekarang," jelas Rei panjang lebar.

Mereka semua hanya mengangguk mengerti dengan semua perkataan Rei. Jadi Rei dan Rie benar-benar datang dari masa depan? Itulah yang mereka pikirkan.

Len hanya terdiam setelah mendengar penjelasan dari dua anak yang mengaku sebagai anaknya dan Tei yang datang dari masa depan. Sejenak dia menolehkan kepalanya ke arah dimana Tei berada. Dia melihat kini Tei tengah menatapnya.

Mereka berdua –Len dan Tei– kini sedang saling bertatapan. Hingga tanpa mereka sadari kini di wajah mereka tengah muncul semburat merah muda yang tidak bisa dibilang sedikit dan terlihat sangat jelas. Menyadari bahwa wajah mereka berdua memerah, mereka segera membuang pandangan ke arah yang berlawanan.

"Oh yah, jika kau memang datang dari masa depan, aku ingin melihat buktinya," ucap Len kepada Rei dan Rie dengan wajahnya yang masih menampakkan semburat merah muda yang sudah sedikit memudar.

"Tentu saja Papa," ucap Rei bersemangat dan tersenyum, kemudian dia berbalik menghadap Rie. "Rie, tunjukan kepada Papa dan Mama," lanjutnya yang kini berkata kepada Rie.

Rie yang mengerti maksud Rei hanya menganggukkan kepalanya. Kemudian dia mengeluarkan sesuatu dari saku roknya. Dan yang dia keluarkan adalah sebuah foto.

Rie berjalan mendekati Len dengan sedikit takut-takut dan setelah dia berada tepat di depan Len, dia memberikan foto yang dia ambil dari saku roknya tadi kepada Len.

Len dengan segera mengambil foto yang diberikan Rie tadi dan kemudian langsung melihatnya. Seketika matanya membelalak terkejut setelah melihat gambar yang ada di foto tersebut. Benar-benar sesuatu yang belum pernah ada di pikirannya sama sekali.

"I–ini..." Len tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia kini percaya bahwa dua anak yang ada di depannya adalah benar-benar anaknya sendiri dan datang dari masa depan.

"Le–Len? Ap–apa yang kau lihat?" tanya Miku takut-takut.

"Bo–boleh kami melihatnya juga?" tanya Rin yang juga takut-takut untuk melihat foto yang di pegang Len.

Len menolehkan kepalanya ke arah dimana Tei berada. Dia menatap Tei dengan pandangan yang sulit diartikan dan juga berhasil membuat Tei kebingungan sendiri melihat dirinya dengan tatapan aneh.

"Sebaiknya kau lihat ini. Ini benar-benar kita," ucap Len kemudian memberikan foto yang tadi dia pegang kepada Tei.

Tei hanya mengangguk dan kemudian menagmbil foto yang diberikan dan setelah itu melihatnya. Dan ekspresi yang dia tunjukan adalah sama seperti Len setelah melihat foto itu. Terkejut. Yah, sangat terkejut pasalnya yang dia lihat di foto itu adalah foto dirinya yang sedang berdiri berdampingan dengan Len di sebelahnya dengan menampilkan senyum bahagia dan masing-masing dari mereka menggendong seorang bayi laki-laki dan perempuan yang sepertinya tidak salah lagi adalah Rei dan Rie.

Tei juga tidak bisa berkata apa-apa lagi setelah melihat sesuatu yang sungguh mengejutkan. Haruskah dia marah? Yang dia tahu adalah bahwa dirinya dan Len itu tidak pernah akur dan selalu bertengkar. Benci maksudnya? Yah, sebenarnya dia juga tidak membenci Len. Hanya tidak bisa akur saja dengan Len dan selalu bertengkar. Itu saja.

Rin yang sudah tidak sabar lagi untuk melihat foto itu segera merebutnya dari tangan Tei dan kemudian membawanya ke tempat dimana dirinya dan semua sahabat-sahabatnya tadi yang berkumpul bisa melihatnya secara bersamaan.

Dan kemudian, setelah Rin dan semua penghuni mansion tadi melihat foto dari Rei dan Rie tadi, mereka juga menunjukan ekspresi yang sama. Hanya terkejut, itu saja.

"Jadi sebenarnya, apa yang membuat kalian ingin datang kesini?" tanya Len kepada Rei dan Rie yang kini sudah berdiri tepat di depannya.

"Hanya ingin melihat Papa dan Mama di masa muda," ucap Rei dengan senyuman mengembang di wajahnya.

"Mama, ayo kesini," panggil Rie kepada Tei.

Merasa dipanggil oleh Rie, Tei segera berjalan mendekati Tei dan kemudian berdiri di samping Len yang tengah duduk dan di hadapan kedua anak kecil yang sebenernya adalah anaknya sendiri.

"Ada apa Rie?" tanya Tei.

"Rie lapar. Hehehehe..." ucap Rie sambil tersenyum polos dan tidak berdosa. Membuat siapa saja yang melihatnya menjadi gemas.

"Baiklah Rie. Aku akan membuatkan makanan untukmu," ucap Tei seraya tersenyum manis kemudian menggendong Rie. Dan setelah itu mereka berdua pergi ke dapur.

"Sekalipun kalian berdua adalah anak kami yang datang dari masa depan, itu tidak akan merubah fakta bahwa kami sekarang di sini selalu bertengkar dan tidak pernah akur," ucap Len kepada Rei.

"Yah, aku mengerti itu, Papa. Untuk itulah mengapa kami berada di sini," ucap Rei seraya tersenyum kepada Len.

"Kau memang anak yang tidak mau menyerah," ucap Len membalas senyuman Rei.

"Papa lah yang mengajarkanku untuk tidak mudah menyerah dalam mengahdapi apapun," ucap Rei.

"Aku pasti akan sangat bangga memiliki anak seperti kalian," gumam Len.

"Papa sudah melakukannya," ucap Rei kemudian melompat ke arah Len dan kemudian memeluknya.

"Yah, aku sudah melakukannya," ucap Len membalas pelukan Rei.

"Mereka terlihat sangat bahagia," bisik Rin kepada semua sahabatnya.

"Sepertinya begitu," balas Teto.

"Bukan sepertinya, ini sudah memang," balas Luka. Juga ikut-ikutan.

"Aku sangat iri. Kira-kira seperti apa yah anakku nanti setelah menikah dengan Kaito-kun?" tanya Miku entah kepada siapa sambil membayangkan sesuatu.

"Kau sudah gila, Miku-chan?" tanya IA.

"Ahh, benar-benar manis," ucap Miku entah kepada siapa sambil memegang kedua pipinya yang memerah setelah berhasil membayangkan sesuatu.

"Gakupo, apa kau memikirkan hal yang sama denganku?" tanya Kaito kepada seorang pemuda berambut ungu panjang dan diikat ala samurai.

"Kurasa iyah," jawab Gakupo."Bagaimana dengan kalian?" tanya Gakupo kepada beberapa temannya yang juga berada di sana –Ted, Rook, Teiru, Mikuo, Luki, Akaito, dan Rinto– dan hanya di jawab dengan anggukan mengerti.

"Hei, makhluk-makhluk bodoh! Apa yang sedang kalian semua lakukan di sana, hah?" tanya Len dengan tatapan tajamnya yang berhasil membuat semua yang melihatnya menjadi merinding.

"Eh–eh, e–etto, ha–hanya rapat dadakan," jawab Miku gelagapan.

"Begitukah?" tanya Len."MATI SAJA KALIAN DIINJAK GAJAH!" lanjutnya dengan teriakan yang sangat keras.

.

.

.

.

.

"Mama, kenapa Papa berteriak seperti itu?" tanya Rie yang kini berada di dapur dan berdiri di sebelah Tei yang sedang membuat makanan. Dia terlihat sedang menarik-narik ujung rok Tei dengan pelan.

"Biarkan saja. Dia sudah gila," jawab Tei sambil terus membuat sesuatu.

"Ohh, Papa itu gila yah," ucap Rie dengan anggukan mengerti. "Tapi gila itu apa, Ma?" tanya Rie dengan polosnya.

Tei berhenti sejenak dari aktivitasnya dan menatap seorang gadis kecil di sampingnya yang adalah anaknya sendiri. Sebegitu poloskah anak perempuannya itu?

"Gila itu adalah kondisi dimana saat seseorang tidak normal atau melakukan hal yang tidak wajar," jelas Tei kepada Rie.

Rie hanya menganggukan kepalanya seakan mengerti apa yang dijelaskan oleh Tei tadi. Namun, sekali lagi Rie mengajukan pertanyaan kepada Tei.

"Itu artinya Rin oba-chan dan yang lainnya juga gila? Karena sedari tadi mereka terus berlari-lari tidak jelas di dalam rumah. Itukan bukan sesuatu yang wajar. Benar begitu 'kan, Ma?" tanya Rie sambil menunjuk pemandangan yang ada di ruangan keluarga Crypton Mansion. Di sana Rin dan semua penghuni mansion itu tengah berlari-lari tanpa sebab yang pasti.

'Yah, anak pintar," ucap Tei seraya tersenyum manis kepada Rie dan juga menepuk-nepuk pelan kepala anak perempuannya itu.

.

.

.

.

.

Malam hari pun tiba, namun Crypton Mansion tetap saja terlihat ramai dengan semua penghuninya yang sedang berkumpul di ruang keluarga. Sepertinya penghuni Crypton Mansion lebih senang menghabiskan waktu mereka semua bersama untuk berkumpul di ruang keluarga dari pada harus berpergian sendiri-sendiri di hari libur atapun di waktu senggang mereka semua. Ahh, rasa kebersamaan dan kekeluargaan mereka sungguh bisa membuat semua yang melihatnya menjadi iri. Mereka benar-benar terlihat seperti satu keluarga besar.

"Papa," panggil Rie sambil mengahmpiri Len yang tengah duduk bersandar disebuah sofa.

"Hmm, ada apa Rie?" tanya Len.

"Rie mau es krim. Hehehehehe..." jawab Rie dengan senyum polosnya dan tatapannya yang tidak berdosa.

Len yang melihat tingkah anak perempuannya itu hanya bisa tersenyum. Pasalnya tadi siang Rie terlihat sangat pemalu dan kini berubah menjadi anak yang ceria. Sebenarnya mana sifat Rie yang asli?

"Minta saja pada Kaito. Dia memiliki banyak es krim," ucap Len.

"Baiklah Papa," ucap Rie yang kemudian berlari untuk mencari Kaito yang sepertinya tidak ikut berkumpul.

"Rie benar-benar anak yang manis," ucap Miku.

"Tentu saja. Keponakanku itu sifatnya sungguh mirip denganku yang manis ini," ucap Rin penuh percaya diri.

"Kau terlalu yakin Rin. Tentu saja sifatnya mirip denganku yang manis ini," ucap Lenka tidak mau kalah.

"Hah, apa kau bilang? Kau manis?" tanya Rin tidak yakin dengan ucapan Lenka.

"Tentu saja iya," ucap Lenka.

"Kenapa kau bisa begitu yakin, hah?" tanya Rin sambil menatap Lenka dengan tatapan tajam.

"Tentu saja, aku adalah yang termanis di keluarga besar Kagamine," ucap Lenka sambil membalas tatapan Rin.

"Aku adalah yang paling manis dan paling kecil di keluarga Kagamine," ucap Rin tidak mau kalah.

"Jadi kau pikir karena kau adalah yang paling kecil di keluarga Kagamine kau yang paling manis? Itu tidak berlaku," ucap Lenka.

"Tentu saja itu berlaku," ucap Rin semakin tejam menatap Lenka.

"Tentu tidak," ucap Lenka yang juga semakin tajam menatap Rin.

"MATI SAJA KAU DIGIGIT HARIMAU," teriak Rin dengan keras.

"MATI SAJA KAU DITERKAM SINGA," teriak Lenka mencoba menyaingi Rin.

Dan akhirnya, terjadilah perang saudara antar sesama Kagamine yang saling membanggakan dirinya atas sifat keponakan mereka.

"Papa, Kaito oji-chan sudah tidur," ucap Rie yang kini menghampiri Len.

"Ya sudah, besok saja mintanya," ucap Len.

"Mama," panggil Rie kini merubah arahnya menjadi menghampiri Tei.

"Iyah?" tanya Tei.

"Rie mengantuk. Mau tidur," ucap Rie sambil memeluk kaki Tei.

"Hah, ya sudah. Tidur di kamarku saja yah," ucap Tei sambil menggendong anak perempuannya tersebut.

"Tidak mau," ucap Rie menggelengkan kepalanya.

"Jadi tidur dengan siapa? Dengan Len?" tanya Tei.

"Tidak juga," jawab Rie.

"Lalu dengan siapa? Dengan Rin? Atau dengan Lenka?" tanya Tei yang bingung dengan kemauan Rie.

Rin dan Lenka yang mendengar namanya di sebutkan oleh Tei untuk tidur bersama Rie. Seketika mereka berdua menghampiri Tei dan Ria dan kemudian membujuk Rie.

"Rie, tidur denganku saja yah," bujuk Rin.

"Ahh, tidak usah Rie. Tidur denganku saja," bujuk Lenka yang tidak mau kalah.

"Tidak mau. Rie mau tidur dengan Papa, Mama, dan Rei di kamar," jelas Rie.

"Ohh, baiklah kalau begitu," ucap Tei. "Ehh, tunggu. Tadi Rie bilang apa?" tanya Tei untuk mendengar penjelasan dari anaknya sekali lagi.

"Rie mau tidur di kamar dengan Mama, Papa, Dan Rei~!" ucap Rie dengan manja.

.

1

.

2

.

3

.

4

.

5

.

"APPPPPAAAAAAA~?!"

.

.

.

.

.


~To Be Continue~


Nyahahahaha...

Selesai juga chapter duanya.

Bagaimana? Ancur?

Yah, sudah pasti ancur.

Ahh, sepertinya saya akan membuat Len dan Tei tidur bersama di chapter berikutnya. XD #jduakk.

Len: tidak apa BakAuthor, aku akan dengan senang hati memerankannya. XD

Tei: eehh? Len-kyun bilang apa tadi?

Cyber: Len bilang dia akan memerankannya dengan senang hati. Just it. XD

Tei: memerankan apa? #bingung sendiri. XD

Cyber & Len: nothing. XD

Icy: Tei-sama. Yang di maksud oleh Len-sama adalah memerankammmmm... #dibekap Ray. XD

Ray: ahh, tidak ada Tei-sama. XD #bekap Icy.

Tei: aneh. #garuk-garuk kepala.

Ray: bawaan dari lahir. XD

#abaiakan orang-orang yang memainkan opera sabun diatas. XD

Yah, sekian dari saya,

Jangan lupa ripiuunya.

Terima kasih atas perhatiannya.

Sampai jumpa.

#ngacir. XD