Asslammu'alaikum minna. Nyahahahahahaha... #ketawa lagi. XD
Ehem, ehem, ehem.
#batuk batuk dikit lah. XD
Yosh! Kalian semua tahu 'kan saya datang dengan membawakan apa?
Apa?
Yah, kalian benar! Saya datang dengan membawakan cinta untuk kalian semua. XD
#jduakk, dihajar rame-rame. XD
Hmm, salah yah?
Ah, iyah. Saya datang kali ini dengan membawakan chapter baru yang mungkin sudah kalian semua tunggu.
Yosh! Kemaren saya membaca di kotak ripiu. Ternyata ada sampah yang menyampah di fic karya saya. Sebenarnya dia itu tahu apa sih? Apa mungkin cuma anak TK yang kurang kerjaan baca fic saya? Dia berani menghina fic orang padahal dia sendiri ndak punya karya yang bisa di apresiasikan. Saya rasa bodohnya itu ndak ketolongan.
Dan lagi, ngapa dia marah kalo saya buat pairing LenxTei? Selama yang saya lihat ini, Crypton Future Media atau peruhasaan lain yang menciptakan Vocaloid dan juga para creator Utauloid tidak pernah membuat pairing tetap untuk mereka semua. Jika ditanya kenapa saya berani membawa nama Crypton, alasannya karena apa yang saya katakan ini adalah fakta.
Jadi masalah pairing di Vocaloid itu diserahkan kepada siapa? Tentu saja diserahkan sepenuhnya kepada para fans Vocaloid dan Utauloid. Makanya bisa ada Fanloid. Kalo ndak begitu, saya yakin ndak akan pernah ada ntuh yang namanya Fanloid. Vocaloid dan Utauloid adalah software yang diciptakan hanya untuk menanyi. Ndak lebih dari itu.
Jadi kalo mau marah dan kompalin, jangan ama saya. Saya Cuma fans yang diberikan hak untuk membuat pairing di Vocaloid dan Utauloid. Kalo mau marah dan komplain sama Crypton Future Media atau perusahaan Vocaloid lainnya dan ama creator Utauloid aja sana. Kenapa ndak dibuat pairing tetap antar mereka semua? Kok malah saya yang disalahkan. Ini adalah bukti bahwa saya seorang fans Vocaloid dan Utauloid. Yang ndak ngerti apa-apa tentang Vocaloid dan Utauloid, sebaiknya pergi dan mati aja sana.
Oke, itu saja.
Males saya ngurusin sampah. Sampah itu akan lebih baik dibuang pada tempatnya.
Silahkan, kalian boleh membaca fic yang baru saya update chapternya.
Selamat membaca.
.
.
.
.
.
Vocaloid & Utauloid ©Crypton Future Media, Yamaha Corp, Etc.
Our Future In The Present Time ©Cyber Keju-ma.
Rate T.
GaJe,OOC, Typo(s) berserakan, Sulit dimengerti, De eL eL.
Don't Like?, Don't Read!
.
.
.
.
.
"Ri –Rie sayang. Tidak bisakah kau meminta hal yang sedikit lebih, uhmm... tidak aneh?" tanya Tei yang wajahnya kini tengah memerah kepada Rie yang sedang dia gendong. Memerah karena dia akan tidur dengan seorang pemuda yang tidak disuk– .Ahh, apa itu masih berlaku setelah kedatangan Rei dan Rie? Mungkin bisa dibilang tidak.
"Kenapa Ma? Apa Mama tidak sayang dengan Rie?" tanya Rie dengan mata berkaca-kaca.
"Ehh, ti–tidak. Bu–bukan seperti itu. Ma–Mama sayang kok dengan Rie," ucap Tei kepada Rie masih dengan wajahnya yang memerah.
"Rie hanya ingin tidur dengan Mama, Papa, dan Rei. Itu saja," ucap Rie dengan wajah yang berhasil membuat Tei tidak tahan untuk menolaknya.
"Ta–tapi–" belum sempat Tei menyelesaikan kata-katanya. Tiba-tiba seseorang yang dikenal dengan Len memotong perkataannya.
"Baiklah kalau itu kemauanmu, Rie. Papa tidak bisa menolak," ucap Len santai tanpa ada beban sedikitpun. Apa dia senang? Tidak tahu lah.
"He–hei, apa maksdmu, bodoh?" tanya Tei terkejut dengan apa yang dikatakan Len.
"Aku hanya ingin mengabulkan apa yang diinginkan dia," jawab Len. "Apa kau mau jika kau dibilang tidak menyayanginya lagi?" tanyanya masih dengan wajah santainya.
"Ti–tidak sih. Ta–tapi–" jawab Tei sekali lagi yang belum sempat menyelasaikan kata-katanya.
"Tidak ada tapi," potong Len. "Rie, kita tidur dikamar Papa. Karena Rei sudah tidur disana dari tadi," lanjutnya yang kini berbicara dengan Rie yang masih berada digendongan Tei.
"Huwa! Baiklah Papa," ucap Rie dengan matanya yang berbinar-binar.
"Haah, ya sudahlah. Tapi kau jangan berani macam-macam!" ucap Tei seraya menatap tajam kearah Len.
"Kau pikir aku mau dengan orang yang berdada rata sepertimu, hah?" tanya Len kepada Tei.
"Ka–kau! Berani sekali kau berkata seperti itu!" ucap Tei kesal.
"Papa, Mama, jangan bertengkar dong," ucap Rie mencoba melerai pertengkaran Len dan Tei.
"Ini bukan pertengkaran. Inilah cara kami bermesraan," jawab Len asal.
"Hoo, ternyata begitu. Berbeda dengan cara Papa dan Mama dimasa depan," ucap Rie sambil mengangguk dengan polosnya.
"Hah? Memangnya bagaimana cara kami melakukannya dimasa depan?" tanya Tei penasaran.
"Yang Rie tahu, saat Mama sedang berada didapur, Papa selalu melingkarkan tangannya kepinggang Mama dari belakang. Setelah itu Papa dan Mama saling mendekatkan bibirnya," jelas Rie sambil mengingat sebuah kejadian yang pernah dia lihat dimasa depan.
Tei dan Len yang mendengarkan penjelasan dari Rie, hanya bisa membelalakan matanya terkejut dan kini terlihat semburat merah tebal di wajah mereka. Benarkah mereka berdua akan melakukan hal seperti itu di masa depan?
"Kalau itu namanya apa yah?" tanya Rie dengan polosnya.
"Ahh, i–i–itu–" ucap Tei terbata-bata dengan wajahnya yang masih memerah.
"Se–sebaiknya kita pergi tidur sekarang sebelum larut malam," ucap Len masih dengan wajah memerahnya yang kemudian langsung berjalan pergi menuju kamarnya.
"A–ayo kita pergi tidur," ucap Tei yang kemudian pergi mengikuti Len dan masih dengan mengendong Rie tentunya.
"He–hei Rin-chan," panggil Miku.
"Na–nani Miku-chan?" sahut Rin dengan gugup.
"Ka–kau melihatnya tadi 'kan?" tanya Miku sambil menatap Rin.
"Aku melihat semuanya," jawab Rin.
"Kau juga mendengarnya 'kan?" tanya Miku lagi.
"Yah,"jawab Rin.
"Sejak kapan mereka menggunakan 'Papa'dan 'Mama' untuk menyebutkan diri kepada Rie?" tanya Miku bingung.
"Aku tidak tahu," jawab Rin sambil menggelengkan kepalanya.
"Dan apa yang akan mereka lakukan sekarang?" tanya Miku.
"Mungkinkah..." jawab Rin sambil menggantungkan kata-katanya dan mulai berpikiran yang aneh-aneh.
"Mungkin..." ucap Miku sambil ikut berpikiran yang aneh-aneh.
"Aku tahu apa yang akan mereka lakukan," ucap Luka yang ikut kedalam pembicaraan Miku dan Rin.
"Apa?" tanya Miku dan Rin bersamaan.
"Mereka akan melakukan *mbeekkk*, lalu *mbeekkk*, dan kemudian *mbeekk*," jawab Luka dengan senyuman manisnya dan berhasil membuat Miku dan Rin cengo.
"Apa yang kau katakan hah?" tanya Miku yang masih cengo.
"Hanya menjawab apa yang ingin kalian ketahui," jawab Luka.
"Tidak mungkin mereka melakukan *mbeekk*," ucap Rin tidak percaya.
"Sudahlah. Tidak usah dipikirkan lagi. Jika kalian memikirkannya terus, kalian tidak akan bisa tidur dengan tenang," ucap Teto yang tiba-tiba menghampiri mereka bertiga.
"Ahh, kau benar sekali Teto," ucap Luka menyutujui perkataan Teto.
"Sebaiknya kita juga tidur. Ingat, besok kita harus kesekolah," ucap Teto.
"Baiklah," ucap Miku dan Rin bersamaan.
.
.
.
.
Tei membuka matanya dan kemudian melihat ke arah depannya. Dia melihat di hadapannya ada Rei dan Rie yang masih tertidur pulas. Ahh, ternyata gadis itu baru saja terbangun dari tidurnya.
Tei mencoba bangkit dari posisi tidurnya, tapi dia merasa aneh. Dia merasakan bahwa tubuhnya berat dan sulit untuk digerakan. Apa yang terjadi? Apa tubuhnya mengalami kelumpuhan?
Tei terus mencoba untuk bangkit, namun sayang tetap tidak bisa. Tubuhnya benar-benar terasa berat. Tapi dia merasa kalau yang membuat tubuhnya menjadi berat bukanlah berasal langsung dari tubuhnya, melainkan seperti ada yang menahannya dari luar.
Merasa ada yang sesuatu yang aneh, Tei melihat ke bagian bawah tubuhnya. Dia melihat ada sepasang tangan yang melingkar dari belakang disana. Tapi tangan siapa itu?
Tei menolehkan kepalanya kebelakang untuk melihat siapa orang yang berani memeluknya. Dan ketika mengetahui siapa orang itu, seketika matanya membelalak terkejut dan wajah juga menjadi merah padam. Dia melihat kini Len tengah tertidur pulas seraya memeluk dirinya.
Tei menatap wajah Len yang sedang tertidur dengan pulas. Wajah Len begitu polos dan manis, sungguh tampan. Itu lah yang dia pikirkan.
Tunggu. Apa yang dia pikirkan? Len tampan? Tidak salahkah itu? Mungkin untuk sekarang itu bukan hal yang salah.
Tidak mau berlama lagi, Tei segera kembali mencoba untuk bangkit dan kemudian segera turun dari kasur. Namun sama seperti usahanya tadi, tetap saja tidak bisa. Malah kini sepertinya Len semakin mengeratkan pelukannya.
"Tidak ada yang menyuruhmu untuk pergi," ucap sebuah suara dari arah belakang Tei.
Terkejut mendengar suara tadi, Tei segera menolahkan kepalanya untuk melihat siapa yang berucap tadi untuk memastikannya. Dan kini wajahnya semakin memerah padam karena yang dia lihat Len sudah membuka matanya.
"KYAAAAAHHHHHHH~,"
"HEI! JANGAN BERISIK!"
"MATI SAJA KAU DIKEJAR BANTENG!"
BUUAGGHH!
DUUAGGHH!
BRAAKKK!
JDUAAKKK!
.
.
.
.
.
Len dan Tei kini sedang berjalan bersama menuju ke Crypton Academy, tempat dimana mereka bersekolah. Dan kini di di antara mereka berdua ada dua orang anak kecil yang bisa dipastikan adalah Rei dan Rie, anak mereka berdua yang datang dari masa depan.
"Kenapa kalian berdua ikut kami kesekolah,hah?" tanya Len kepada Rei dan Rie.
"Apa Papa tidak sayang lagi dengan kami?" tanya Rie dengan mata berkaca-kaca.
"Bu–bukan begitu. Hanya saja pasti akan kelihatan aneh jika kami datang kesekolah dengan membawa anak kecil. Pasti mereka semua mengira kalau kalian anak kami" jawab Len yang panik melihat anak perempuannya ingin menangis.
"Bukankah kami memang anak Papa dan Mama?" tanya Rei.
"Memang. Tapi kami yang dimasa depan. Bukan yang ada disini," jawab Tei.
"Lalu apa bedanya? Mau yang di masa depan atau yang di masa sekarang, bukankah Papa dan Mama kami tetap Papa Len dan Mama Tei?" tanya Rei lagi.
Len dan Tei yang mendengar pertanyaan dari Rei hanya bisa terdiam. Bingung ingin menjawab. Dan juga terlalu takut jika jawaban mereka berdua malah membuat kedua anak mereka itu menjadi menangis.
"Apa Papa dan Mama tidak menginginkan kami?" tanya Rie masih dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ehh, tidak kok. Tentu saja Papa dan Mama menginginkan kalian," jawab Tei panik.
"Yang benar?" tanya Rie.
"Iyah benar," jawab Len.
"Baiklah kalau begitu. Rie sayang Papa dan Mama," ucap Rie dengan senangnya.
"Rei juga sayang Papa dan Mama," ucap Rei juga ikut senang.
"Yah. Kami juga menyayangi kalian berdua," ucap Len dan Tei yang tanpa mereka sadari bahwa mereka mengatakan hal yang sama.
Mereka berempat terus berjalan, sungguh terlihat seperti sebuah keluarga kecil yang bahagia. Ahh, tidak bisa dibilang seperti. Mereka berempat memanglah sebuah keluarga kecil yang bahagia.
Hingga akhirnya mereka berhenti disebuah pintu gerbang yang sangat besar dan tidak perlukan di ragukan lagi itu pintu gerbang apa. Yah, itu adalah pintu gerbang Crypton Academy.
"KYAAHHHH~! LEN-KUN~!"
"LEN-SAMA SUDAH DATANG~!"
"ITU DIA LEN-SENPAI~!"
Terdengarlah beberapa teriakan dari murid-murid perempuan sekolah tersebut ketika Len sampai di depan gerbang. Dan dia hanya bisa menatap pandangan didepannya dengan tatapan malas. Yang ada didepannya kini adalah gadis-gadis yang sedang berkumpul untuk menyambut dirinya.
"Len-kun ka–" ucap salah seorang gadis yang ada disana yang belum sempat menyelesaikan perkataannya karena kini dia melihat ada yang aneh. Dia melihat disana Len sedang bersama dengan Tei dan juga dua orang anak yang sama sekali belum diketahuinya.
"Ehh, Len-kun. Bukankah dia Sukone Tei?" tanya gadis lainnya sambil menunjuk kearah Tei.
"Iyah. Dan lalu?" tanya Len malas.
"Dan apa yang kau lakukan dengan pergi bersama dengannya?" tanya seorang lagi.
"Ada masalah denganmu aku pergi dengan siapa?" tanya Len yang malas menjawab pertanyaan gadis-gadis yang ada dihadapannya.
"Papa, Mama, mereka siapa?" tanya Rei kepada Len dan Tei.
"Mereka hanya sekumpulan orang kurang kerjaan yang ingin mengganggu Papa," jawab Tei dengan sebuah senyuman aneh yang terhias di wajahnya.
"Untuk apa mereka mengganggu Papa?" tanya Rie penasaran.
"Karena mereka tidak punya kerjaan," jawab Len santai.
"Ehh, Le–Len-kun. Me–merak si–"
"Mereka adalah Kagamine Rei dan Kagamine Rie. Anakku dan Tei," ucap Len memotong perkataan gadis-gadis yang ada di hadapannya itu karena dia sudah tahu bahwa mereka pasti menyakan Rei dan Rie.
.
1
.
2
.
3
.
4
.
5
.
"APPPPPAAAAAAA~?!"
.
.
.
.
.
~To Be Continue~
Nyahahahaha...
Nyahahahahahaha...
Nyahahahahahahahahah...
#gila lagi. XD
Marine: Master kumat lagi. XD
Blaise: Bantuan darurat! #lari-lari gaje. XD
Ray: Bisakah kalian tenang?
Icy: Sebaiknya kita gantikan dulu Toumitsu-sama untuk sementara.
Cyber: Nyahahahahaha... XD
Blaise: Baik!
Marine: Bagaimana chapter ini? Baguskah? Hancurkah?
Icy: Bagus atau tidaknya itu adalah tergantung darimana dan bagaimana kalian semua menilainya.
Ray: Ahh, iyah. Jangan lupa ripiuu chapter ini.
Cyber: Atau kalian akan di datangi oleh keempat OC saya. XD
Ray, Icy, Blaise, Marine: Kagak mau! XD
Cyber: Yahh, ndak mau!
Ray: Untuk apa juga kami datangi.
Blaise: Kagak ada untungnya juga.
Cyber: Ya sudah kalau begitu. Tapi sungguh saya benar-benar tidak bisa berhenti berterima kasih kepada semua teman-teman yang mau dengan senang hati mendukung dan menolong saya dalam usaha saya untuk membuat Fandom Vocaloid Indonesia menjadi lebih berwarna dengan pairing-pairing yang ada. Saya ucapkan terima kasih kepada Kuro Rei-chan, Akanemori, Hikari Kengo, Icchi-chan, Shiroi Karen, AoiMIdori30, Tsukiyomi Ayaka, Higuchi Miko, Kitahara Rosalie, dan beberapa teman saya yang lainnya yang sungguh sangat banyak.
Yah, sekian dulu dari saya.
Sampai jumpa lagi dilain waktu.
#terbang. XD
