Assalamm'alaikum minna. Saya kembali.
Dan kembalinya saya hari ini dengan membawakan sebuah chapter baru untuk kelanjutan fic ini.
Saya berencana ingin mengakhiri fic ini hanya sampai chpater 4 saja karena saya bingung untuk melanjutkannya. Tapi jangan bersedih, cerita ini akan saya buat sequelnya dengan penambahan karakter utamanya dan tentunya akan lebih mengejutkan.
Penasaran dengan sequelnya?
Lihat saja nanti setelah selesainya fic ini.
Oke, ndak usah banyak omong lagi. Dari pada ntar mati penasaran, lebih baik baca aja sekarang.
Selamat membaca minna.
.
.
.
.
.
Vocaloid & Utauloid ©Crypton Future Media, Yamaha Corp, Etc.
Our Future In The Present Time ©Cyber Keju-ma.
Rate T.
GaJe, OOC, Typo(s) berserakan, Sulit dimengerti, De eL eL.
Don't Like?, Don't Read!
.
.
.
.
.
"Ano, Len-sama, apa maksudnya ini?" tanya salah seorang gadis yang ada disana dengan nada bingung.
"Apa kau tidak mengerti juga? Mereka berdua ini adalah anakku dan Tei," jawab Len sekali lagi dengan jelas seraya menunjuk kedua anaknya, Rei dan Rie.
"Ka–kau pasti bercanda Len-kun," ucap seorang gadis lainnya tidak percaya.
"Bu–bukankah kalian ini sering bertengkar?" tanya seorang gadis lagi.
"Memangnya kenapa jika aku dan Len sering bertengkar?" tanya Tei malas.
"Ha–hanya saja–"
Ucapan salah seorang gadis dari sekelompok gadis-gadis itu seketika terpotong. Dia tidak bisa melanjutkan kata-katanya karena begitu terkejut dengan apa yang dilihatnya. Bukan hanya dia yang terkejut, semua orang yang melihat seketika juga ikut terkejut melihat yang jarang –bahkan belom pernah– terjadi disekolah.
"KYAAAAAHHHHHHH~!"
Mereka semua melihat bahwa kini Len tengah mencium bibir Tei dengan lembutnya seraya memejamkan matanya.
Sedangkan Tei yang diperlakukan seperti itu kini tengah membelalakan matanya karena juga terkejut. Yah, sangat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Len kepadanya. Wajahnya kini sudah sangat memerah karena mungkin wajahnya sudah sangat memanas.
Setelah beberapa lama berciuman, Len segera melepaskan bibirnya dari bibir Tei dan kemudian membukanya. Tampak sedikit semburat merah tipis menghiasi wajahnya. Dan kemudian dia kembali menatap sekelompok gadis-gadis yang ada disana.
"Kalian sudah percayakan? Sebaiknya pergi saja sana dan jangan ganggu aku. Apalagi mereka," ucap Len santai seraya menunjuk kearah Tei, Rei, dan Rie.
"Ke–kenapa?" tanya gadis tadi dengan tidak percaya.
"Karena mereka adalah keluargaku!" jawab Len dengan tegas dan kemudian dia segera menarik Tei yang masih terdiam untuk menuju kelasnya dan juga tentunya diikuti oleh Rei dan Rie dibelakang.
.
.
.
.
.
"Le–Len. A–apa kau yang kau lakukan tadi?" tanya Tei gugup seraya berjalan mengikuti Len dari belakang.
"Kau tidak suka?" tanya Len kepada Tei.
"Eh–eh, a–no, e–etto," jawab Tei bingung karena ditanyai sepeerti itu. Ahh, mungkin dia memang menyukai perlakuan Len tadi.
"Kalau kau suka, yah tidak usah protes," ucap Len santai.
Dan setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Len tadi, seketika saja wajah Tei memunculkan sebuah semburat merah yang tidak bisa dibilang tipis. Seperti yang sudah diduga, dia memang menyukainya.
"Papa, Mama, apa yang kalian lakukan tadi?" tanya Rie penasaran namun dengan wajah polosnya.
"Ehh, kau tidak tahu itu Rie?" tanya Rei kepada saudara kembarnya itu.
"Tidak. Memangnya kau tau?" tanya Rie kembali.
"Tidak juga. Aku hanya berpikir kau sudah tau," jawab Rei dengan jelas.
"Yang kami lakukan tadi itu adalah cara bagaimana menunjukkan rasa sayang," jawab Len santai kepada kedua anak kembarnya itu.
"Ohh, menunjukkan rasa sayang?" tanya Rie mengulang perkataan Len.
"Iyah," jawab Tei singkat.
"Aku juga menyayangi Rei. Kalau begitu aku akan melakukannya juga sebagai rasa sayangku," ucap Rie seraya berjalan mendekati Rei.
"Hmm, aku juga akan melakukannya," ucap Rei dengan semangat.
"Heeiii! Apa yang kalian lakukan, hah?" tanya Len seraya menyeret dan kemudian menggendong Rei.
"Kami hanya ingin menunjukkan rasa sayang kami," jawab Rei.
"Tapi bukan seperti ini juga," ucap Tei seraya juga ikut menyeret dan menggendong Rie.
"Tapi Papa yang bilang kalau itu tadi cara menunjukkan rasa sayang," ucap Rie yang sepertinya kini merengek.
"Kami cuma ingin menunjukkan rasa sayang kami," ucap Rei memberontak.
"Biarkan kami melakukannya," ucap Rie semakin merengak.
"Tei, sebaiknya kita pisahkan saja mereka berdua. Aku akan membawa Rei ke kelasku, dan kau bawa Rie bersamamu," ucap Len memerintahkan.
"Baiklah Len," ucap Tei patuh kemudian berjalan menuju kelasnya yang berlawanan arah dengan Len sambil menggendong Rie.
"Ayo kita pergi juga," ucap Len yang juga berjalan menuju ke kelasnya sambil menggendong Rei.
"Tidak! Mama, aku tidak bisa hidup tanpa Rei," rengek Rie kepada Tei.
"Kau ini bicara apa sih?" tanya Tei bingung.
"Papa, jangan pisahkan kami," ucap Rei yang terus memberontak.
"Sudah diam," ucap Len kesal.
Dan akhirnya mereka semua berpisah juga untuk menuju kelas masing-masing bersama dengan kedua anak mereka.
.
.
.
.
.
Waktu yang dinanti-nantikan oleh seluruh siswa Crypton Academy pun akhirnya tiba. Yah, waktu usai sekolah karena akhirnya setelah mereka lelah belajar bisa kembali kerumah mereka masing-masing untuk beristirahat.
"Ne, Papa, Mama, apa kita akan langsung pulang?" tanya Rei kepada Len dan Tei yang sedang berjalan bersama keluar dari gerbang Crypton Academy.
Yah, mereka berempat –Len, Tei, Rei, dan Rie– kini sedang berjalan keluar dari sekolah untuk menuju ke mansion mereka. Sepertinya mereka terlihat sangat bahagia.
"Apa kau ingin jalan-jalan?" tanya Tei kepada kedua anaknya itu.
"Bolehkah?" tanya Rie memastikan dengan matanya yang berbinar-binar.
"Yah, boleh saja. Selagi aku tidak ada pekerjaan penting di mansion," jawab Len yang sebenarnya juga malas jika langsung kembali ke Crypton Mansion.
"Hore! Kita akan jalan-jalan," ucap Rie dengan gembiranya.
"Kalian ingin kemana?" tanya Tei.
"Aku ingin kemana saja asalkan bersama Papa, Mama, dan Rie," jawab Rei.
"Aku ingin membeli es krim," ucap Rie kepada Tei.
"Baiklah," ucap Tei seraya tersenyum kepada dua anak kembarnya yang sangat dia sayangi itu.
"Aku rasa di masa depan kau sering bermain dengan Kaito," ucap Len sambil menatap Rie.
"Yah, memang. Kaito oji-chan punya banyak es krim," ucap Rie dengan bangganya.
"Haah~ Sudah kuduga di baka itu yang membuat anakku jadi seperti ini," ucap Len seraya menghela nafasnya.
"Sudahlah Len. Tidak masalah 'kan selama mereka senang?" tanya Tei kepada Len.
"Yah, tidak masalah," jawab Len singkat.
Dan setelah itu, satu keluarga kecil yang terlihat sangat bahagia itu pergi ketenpat tujuan mereka. Yah, pergi untuk membeli es krim.
.
.
.
.
.
"Hah, lagi-lagi mereka semua pulang terlambat," ucap Teto entah kepada siapa seraya melihat ruang keluarga Crypton Mansion yang terlihat sangat sepi.
Malas melihat ruangan yang sepi itu, akhirnya Teto pun segera membalikkan badannya dan kemudian berjalan menuju dapur. Namun saat hendak melangkah kakinya. Tiba-tiba dia mendengar suara pintu masuk mansion itu diketuk oleh seseorang.
"Siapa sih itu?" tanya Teto kesal entah kepada siapa.
Karena tidak ingin membuat orang yang mengetuk pintu tadi menunggu lama, akhirnya Teto melangkahkan kakinya untuk berjalan menuju pintu masuk dan membukakannya. Dan setelah sampai tepat di depan pintu, dengan segera dia membukakan pinntu untuk melihat siapa yang datang.
"Ada ap– Ehh, Len-kun? Tei-chan?" tanya Teto memastikan orang yang dia lihat setelah membuka pintu.
Yang dia lihat adalah Len dan Tei yang sedang berdiri dengan manisnya didepan pintu Crypton Mansion. Tapi kenapa mereka harus mengetuk pintu?
"Yo, Teto," sapa Len singkat seraya tersenyum kearah Teto.
"Teto-chan," panggil Tei.
"Kalian ini kenapa sih? Kenapa tidak langsung masuk saja?" tanya Teto bingung.
"Ahh, itu tidak sopan," jawab Len singkat.
"Kalian ini sungguh aneh. Apa yang merasuki kalian? Ini 'kan rumah kalian juga, bodoh. Biasanya juga kalian sering membanting pintu," ucap Teto kesal kepada kedua orang yang sudah sangat dia kenal namun terlihat sangat aneh.
"Ahh, benar juga yah," ucap Tei seraya tersenyum tanpa dosa sambil menggaruk belakang kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
"Dasar aneh. Dan kemana perginya Rei dan Rie? Kenapa tidak ada bersama kalian?" tanya Teto penasaran karena biasanya dia selalu melihat Rei dan Rie bersama dengan mereka berdua.
"Ehh, itu tadi..." ucap Tei bingung ingin menjawab apa.
"Tadi kami menitipkan mereka kepada Kaito dan Miku saat bertemu dijalan. Sepertinya mereka sangat ingin mengurus anak," jawab Len dengan sangat santai.
"Terserah kalian sajalah. Jika terjadi sesuatu dengan anak kalian, akan kubunuh kalian berdua," ucap Teto memperingati mereka berdua. Meskipun Rei dan Rie bukan anaknya, tapi dia juga sangat menyayangi mereka.
"Ha'i. Tenang saja, kami selalu menjaga mereka dengan baik," ucap Tei penuh percaya diri dan terhiaslah sebuah senyum manis diwajahnya.
"Ya sudah, masuk saja," ucap Teto mempersilahkan mereka masuk.
Dan tanpa banyak bicara lagi, Len dan Tei pun segera masuk kedalam mansion itu dan segera duduk di sofa yang tersedia disana.
"Jadi bagaimana keseharian kalian?" tanya Teto penasaran dengan apa yang mereka berdua lakukan hari ini bersama dengan kedua anak mereka.
"Yah, seperti biasa," jawab Len singkat.
" Kalian masih sering bertengkar walaupun ada Rei-chan dan Rie-chan?" tanya Teto bingung.
"Tentu saja tidak. Kami akur-akur saja kok," jawab Tei membenarkan.
"TADAIMA~!" teriak seseorang dari arah pintu.
Mendengar ada yang berteriak, mereka bertiga –Teto, Len, dan Tei– segera melihat siapa yang datang. Dan mereka melihat disana ada ada Kaito dan Miku yang berjalan masuk kedalam mansion.
"Okaeri, Kaito-kun, Miku-chan," balas Teto kepada dua orang yang masuk itu.
"Kau sendirian lagi?" tanya Miku kepada Teto.
"Tidak. Len-kun dan Tei-chan sudah pulang," jawab Teto seraya menunjuk kepada dua orang yang ada dihadapnnya.
"Ehh? Apa? Len? Tei?" tanya Kaito bingung.
"Iyah. Kenapa?" tanya Teto penasaran.
"Tunggu! Seingatku saat kami berjalan pulang tadi, kami bertemu dengan Len-kun, Tei-chan, Rei-chan, dan Rie-chan dan mereka bilang kalau mereka ingin pergi membeli es krim," jawab Miku dengan jelas.
"Eh? Maksudnya? Tapi ini Len-kun dan Tei-chan sudah pulang," ucap Teto seraya menunjuk kearah Len dan Tei yang sedang duduk di sofa.
"Len, Tei, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Kaito penasaran.
"Apa?" tanya Len kembali dengan nada bingung.
"Kau bilang ingin membeli es krim?" tanya Miku curiga.
"Tunggu! Dimana Rei dan Rie?" tanya Kaito seraya melihat ke seluruh ruangan untuk mencari keberadaan dua anak kecil yang dia sebutkan namanya tadi.
"Kau bilang bahwa Rei-chan dan Rie-chan sedang pergi bersama dengan Miku-chan dan Kaito-kun?" tanya Teto yang sepertinya sudah emosi.
"Ehh, ano, sebenarnya–"
"TADAIMA~!"
Belum sempat Tei menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba ada sebuah teriakan yang memotong dari arah pintu masuk mansion itu. Mendengar ada yang datang, seketika semua orang yang ada di dalam mansion itu melihat siapa yang datang. Dan alangkah kagetnya mereka saat mengetahui siapa yang datang.
"Le–Len-kun? Te–Tei-chan?" tanya Miku terbata-bata untuk memastikan orang yang dilihatnya tadi.
Yah, mereka semua melihat bahwa disana ada Len, Tei, Rei, dan Rie yang baru saja pulang dari membeli es krim. Tunggu! Apa yang sebenarnya terjadi disini?
"Aku sangat le– Hei! Tunggu! Siapa kalian?" tanya Len yang baru saja masuk dengan sangat terkejutnya melihat ada orang yang sangat mirip dengan dirinya dan Tei yang sedang duduk di atas sofa.
"Ehh, Papa! Mama!" ucap Rei seraya berlari ke arah Len dan Tei yang sedang duduk di atas sofa dan diikuti oleh Rie dibelakangnya.
"Apa? Papa? Mama?" tanya Miku tidak pecaya entah kepada siapa.
"Rei, Rie, apa kabar kalian disini?" tanya Len yang duduk disofa dengan senyuman hangat di wajahnya seraya menggndong Rei.
"Kami baik-baik saja," jawab Rei seraya membalas senyuman Len.
"Apa saja yang kalian lakukan disini?" tanya Tei yang juga sedang duduk di sofa dengan senyuman seraya menggendong Rie.
"Banyak," jawab Rie singkat dengan senyuman riangnya.
"TUNGGU DULU! KENAPA ADA DUA LEN DAN DUA TEI DISINI?" teriak Kaito yang sepertinya frustasi karena memikirkan apa yang sebenarnya terjadi disini. Karena enta bagaimana ceritanya, ada dua Len dan dua Tei ruangan itu.
"Bisakah kau jelaskan ini, peniru?" tanya Len yang satunya yang sedang berdiri di depan pintu.
"Ahh, maaf aku tidak memberitahu. Kami berdua adalah Kagamine Len dan Kagamine Tei," ucap Len yang duduk di sofa seraya tersenyum.
"Eh, jadi..." ucap Tei menggantungkan kata-katanya yang sedang berdiri di depan pintu.
"Yah, kalian adalah kami di masa ini. Dan kami adalah kalian di masa yang akan datang," ucap Tei yang satunya lagi yang sedang duduk di sofa dengan senyuman manis di wajahnya.
"Kami datang kesini untuk menjemput Rei dan Rie," ucap Len yang ternyata datang dari masa depan dengan jelas.
"Apa? Menjemput? Tapi kenapa? Bukankah kalian mereka disini selama enam bulan?" tanya Tei yang satunya yang ada di masa sekarang yang sedang berdiri di depan pintu.
"Ahh, tenang saja. Kami menjemput mereka hanya untuk urusan di sekolah mereka. Jika sudah selesai mereka boleh bermain kesini lagi kok," jawab Len yang datang dari masa depan dengan jelas seraya bangkit dari duduknya dan menggendong Rei.
"Kami bisa pastikan kok," ucap Tei yang satu lagi yang datang dari masa depan seraya ikut bangkit dari posisi duduknya dan juga menggendong Rie.
"Benarkah itu?" tanya Miku penuh harap.
"Yah, benar," jawab Tei yang dari masa depan dengan singkat dan tersenyum.
"Papa, Mama, kami akan pergi dulu. Nanti kami akan kembali lagi untuk bermain," ucap Rie seraya tersenyum ke arah dua orang yang ada di depan pintu, Len dan Tei yang sebenarnya.
"Baiklah, kami pergi dulu. Len, terima kasih sudah mau menjaga mereka. Aku rasa kalian berdua sudah tidak bertengkar lagi. Oh yah, mereka pasti akan bermain kesini lagi kok," ucap Len yang dari masa depan kepada Len yang satunya lagi yang ada di masa sekarang.
"Ba–baiklah," jawab Len yang asli singkat.
"Nah, kami pergi dulu. Jangan bertengkar lagi yah," ucap Tei yang dari masa depan pamit kepada dirinya yang ada dimasa sekarang.
Dan setelah berpamitan, akhirnya Len dan Tei yang datang dari masa depan pun pergi berjalan keluar dari mansion untuk pulang ke masa mereka bersama Rei dan Rie.
Sedangkan Len dan Tei yang lainnya yang berasal dari masa sekrarang hanya bisa menatap kepergian diri mereka yang ada di masa depan dengan tatapan yang sepertinya bisa di bilang sedih.
"Apa mereka akan kembali lagi yah?" tanya Tei dengan nada sedih entah kepada siapa.
"Yah, aku yakin. Mereka pasti akan kembali," jawab Len dengan nada datar.
"Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan mereka lagi," ucap Tei seraya tersenyum manis ke arah Len.
"Kalau kau mau, kenapa tidak buat saja?" tanya Len kepada Tei.
"Ehh, maksudmu?" tanya Tei kembali dengan wajah bingung.
"Maksudku, kalau kau benar-benar mereka ingin ada disini, kenapa kita tidak buat saja? Mereka 'kan anak kita," ucap Len mengulang pertanyaannya kembali dan kali ini dengan sangat jelas dan sangat santai tentunya seraya dia berjalan masuk ke dalam mansion untuk menuju kamarnya.
Sejenak Tei terdiam untuk memikirkan kata-kata yang baru saja diucapkan oleh Len. Dan ketika sudah mengetahui apa maksudnya, muncul semburat merah tebal di wajahnya karena dia benar-benar mengerti yang dimaksud Len.
"LEN! SEBAIKNYA KAU MATI SAJA!" teriak Tei kesal dengan wajah memerah dan kemudian berlari mengejar Len.
"KAU SAJA DULUAN!" teriak Len membalas teriakan Tei dan kemudian juga berlari dengan sangat cepat untuk masuk kamarnya dan setelah berada di dalam, dia segara menutup pintu dan menguncinya denga rapat.
"KELUAR KAU, BAKA!" teriak Tei seraya menggedor-gedor pintu kamar milik Len.
Sedangkan Teto, Kaito, dan Miku yang sejak dari tadi berada disana, hanya bisa menggelengkan kepala mereka melihat tingkah Tei dan Len yang sepertinya sudah kembali melakukan aktivitas normal mereka.
"Ya, ampun. Mereka itu," ucap Miku seraya memegang kepalanya.
"Sudahlah, biarkan saja mereka," ucap Teto malas dan kemudian segera berjalan menuju dapur.
Yah, sepertinya kehidupan normal mereka akan kembali lagi setelah kepulangan Rei dan Rie ke masa depan. Tapi, mungkin kehidupan mereka akan berubah lagi karena Rei dan Rie mengatakan bahwa mereka akan kembali lagi. Kita lihat saja suatu saat nanti.
.
.
.
.
.
~Owari~
Yohohoho...
Bagaimana? Para readers semua puas?
Tenang, jika belum puas masih ada sequel untuk fic ini kok. Tentang kedatang kembali Rei dan Rie. Itu hanya jika para readers mau ada sequelnya, kalau tidak mau yah juga tidak apa-apa.
Siapa yang setuju kita buat sequelnya?
Jika setuju silahkan tulis saja di kotak ripiu yang sudah saya sediakan di bawah. #plakk.
Ya sudah, saya mau mengucapkan terima kasih atas perhatiannya karena sudah mau membaca fic gaje saya yang satu ini. Sekaligus saya ingin meminta maaf apa bila fic ini kurang memuaskan.
Yah, sudah dulu untuk hari. Saya pamit undur diri. Sampai bertemu di lain waktu.
Dahh...
#menghilang.
