haohaohyvk present
Don't Say Goodbye
Inspired by Davichi (Don't Say Goodbye MV)
Failed Story – Typos – Weird – Rnr?
Hari Pertama
"HYUKJAE!"
Teriakan Donghae sudah terdengar diseluruh isi rumahnya, padahal jam masih menunjukkan pukul 7.00 KST. Hyukjae yg mendengar teriakan itu langsung berlari memasuki kamar Donghae, setelah sebelumnya mengetuk pintu tentu saja.
"Ya?" tanya Hyukjae dengan nafas yg sedikit tersengal.
Hyukjae sedikit menundukkan kepalanya karna saat ini Donghae baru saja keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan bathrobe. Sedangkan Donghae yg –mungkin- tidak peka, berjalan dengan santainya lalu duduk dipinggir kasur.
"Sejak semalam aku berpikir pekerjaan apa yg cocok untukmu. Karna jika menjadi maid…. Kurasa itu tidak cocok, kau masih muda dan juga kau tidak pantas sama sekali. Walaupun kau pintar dalam urusan rumah tangga. Jadi, kuputuskan kau menjadi asisten pribadiku selama dirumah, ah tidak tidak kau harus menjadi asistenku dalam semua hal, ingat! Kau mengerti?" jelas Donghae panjang lebar.
Hyukjae melongo lalu matanya menerawang keatas. "Apa bedanya asisten dengan maid?" tanya Hyukjae polos.
"Ehm—" Donghae memikirkan jawaban yg tepat untuk Hyukjae. "Ah sudahlah, jika kau tidak mau, kau bisa—"
"Baiklah, aku mau. Asalkan aku bisa tinggal disini." jawab Hyukjae cepat menuruti permintaan Donghae.
"Yasudah kalau kau mengerti, kau boleh keluar."
Hyukjae membungkukkan badannya sedikit, lalu berjalan keluar kamar Donghae. Kembali ke pekerjaannya yg sempat tertunda yaitu menyiapkan sarapan untuk boss barunya haha.
Tidak lama kemudian, Donghae keluar dari kamarnya dalam keadaan rapi, memakai jas dan rambut yg sedikit ditata. Hyukjae yg belum terlalu akrab dengan Donghae hanya melihatnya sebentar lalu mengalihkan pandangannya kembali. Donghae duduk di kursi meja makan lalu menatap Hyukjae sebentar yg berada di sisi meja makan.
"Duduk, makanlah bersamaku." suruh Donghae datar.
"Tidak usah ehm… tuan. Aku bisa makan bersama bibi nanti." jawab Hyukjae. Hyukjae hanya merasa kurang sopan karna mulai sekarang Donghae adalah majikannya, jadi menurutnya dia harus menghormatinya.
"Ini perintah, duduk, dan makan bersamaku." ulang Donghae.
Mendengar kata perintah, Hyukjae bereaksi cepat. Ditariknya kursi, lalu langsung mendaratkan pantatnya diatas kursi itu, membuat Donghae sedikit terkekeh.
"Ambilkan aku makanan." perintah Donghae lagi.
Hyukjae mengambil piring Donghae lalu mengambilkan sedikit nasi dan lauk dipiringnya, juga menuangkan segelas susu kegelas Donghae. Donghae menyuap sesendok nasi kemulutnya dan mengunyahnya pelan.
"Kau yg memasak?" tanya Donghae.
Hyukjae mengangguk. "Apa rasanya tidak enak? Sangat berbeda dengan masakan bibi ya? Maafkan aku."
"Tidak tidak! Rasanya enak. Ah, dan satu lagi, jangan panggil aku tuan. Kita seumuran bukan? Panggil aku Donghae, atau Hae saja juga boleh." kata Donghae lalu kembali menyuap.
"Ne, dong..hae. Ehm, apa… tidak ada susu strawberry disini?" tanya Hyukjae memberanikan diri.
"Tidak ada. Kau mau? Aku bisa belikan sepulang kerja." tawar Donghae. Entah setan darimana dia bisa dengan mudah berbaik hati dengan Hyukjae.
"Ah, tidak usah tuan… eh Hae. Aku tidak mau merepotkanmu."
Donghae mengangkat bahunya lalu kembali melanjutkan sarapannya. Begitu juga dengan Hyukjae, keduanya makan dalam diam. Sesekali Hyukjae melirik kearah Donghae yg dengan santainya menikmati sarapan, sesekali memainkan handphone-nya.
"Aku selesai!" Donghae menyingkirkan piring bekas makannya lalu mengelus perutnya. "Nanti malam masakkan aku masakan yg enak. Aku suka masakanmu."
"Benarkah? Baiklah, aku akan memasak terus untukmu." Hyukjae tersenyum, matanya menyipit. Donghae ikut tersenyum melihatnya.
'Senyum itu seperti hipnotis. Saat melihatnya aku tidak bisa menahan diriku sendiri untuk ikut tersenyum. Aku suka senyumnya, mengingatkanku pada seseorang."
"Yasudah. Aku pergi ke kantor." Donghae berdiri dari kursinya lalu melangkah keluar sambil membenahi pakaiannya sedikit. Diikuti Hyukjae dibelakangnya yg membawa tas kerjanya.
"Hati-hati." Hyukjae berpesan ketika Donghae menaiki mobilnya. Donghae mengangguk sambil tersenyum. Seakan berkata 'kau juga hati-hati dirumah'. Hyukjae melambaikan tangannya dan sedetik kemudian mobil Donghae pergi menjauh dari kediamannya. Hyukjae memperhatikannya sampai mobil Donghae tidak terjangkau lagi oleh penglihatannya.
haohaohyvk
Donghae sedang berkutat dengan computer-nya di ruangan kantornya. Sesekali matanya melirik kearah berkas-berkas yg bertumpuk tidak rapi di mejanya. Donghae sedang mengamati perkembangan perusahaannya, wajahnya tersenyum cerah ketika mendapati perusahaannya berkembang semakin pesat. Para client puas dengan hasil kerja perusahaannya bahkan mengajak kerja sama kembali nanti. Dia menyenderkan tubuhnya sendiri ke kursi, hasil kerjanya selama bertahun-tahun tidak sia-sia. Kini, dia dapat memetik hasilnya.
Kriinnggg!
Telfon di mejanya berdering tanda ada panggilan masuk. Donghae melirik sebentar lalu menekan tombol dial.
"Selamat siang Pak. Ada seseorang yg ingin bertemu dengan anda." Ijin sekretarisnya melalui telfon.
"Siapa?"
"Katanya dia ingin melaporkan tentang—Kim Kibum."
Donghae secara refleks menegakkan badannya. Raut wajahnya tiba-tiba berubah 180 derajat. Jantungnya berdegup kencang. Feeling-nya berkata bahwa semuanya gagal.
"Halo?"
Donghae tersadar dari lamunannya ketika sekretarisnya kembali berbicara. "Baik. Suruh dia masuk."
Telfon diputus sepihak oleh Donghae. Dia merapikan mejanya yg masih berantakan oleh setumpuk berkas kantor yg baru saja selesai diperiksanya. Tidak lama kemudian pintu ruang kerjanya diketuk dan seorang laki-laki berbadan lumayan memasuki ruangannya setelah mendapat anggukan oleh Donghae.
"Silahkan duduk. Bagaimana hasilnya?" tanya Donghae.
"Maafkan aku Tuan. Tapi aku sudah menelusuri semua petunjuk yg ada dan tidak satupun berhasil. Semuanya berhenti di satu titik yg tidak ada lagi jalan keluarnya. Aku sudah berusaha semampuku. Maafkan aku." Jelas seseorang sambil menyerahkan sebuah map coklat kepada Donghae.
"Tapi ini sudah hampir 2 bulan. Bahkan kau adalah detektif terkenal yg selalu berhasil dalam semua kasusmu. Mengapa mencari orang hilang saja tidak bisa?" Donghae mencoba mengatur emosinya. Semua bukan salah orang didepannya.
"Maafkan aku. Kurasa penculiknya sudah sangat berpengalaman. Aku juga tidak berhasil menemukan motif apa yg menyebabkan Nona Kibum menjadi sasaran penculikannya. Mereka sangat pintar menghilangkan jejak, semuanya bersih. Mereka sangat teliti."
Donghae menghela nafas kasar lalu memijat pelipisnya. Harapannya sudah pupus. Donghae merasa percuma, dia berhasil mencapai titik keberhasilan dalam pekerjaannya, tapi ada satu ruang kosong dalam dirinya yg baru saja hilang. Apakah untuk mendapatkan sesuatu kita juga harus mengorbankan sesuatu? Tapi dia tidak pernah mengorbankan Kibum untuk itu.
Kibum adalah kekasih Donghae sejak 2,5 tahun yg lalu. Kibum yg menyaksikan bagaimana Donghae membangun perusahaannya dari awal, tapi dia tidak menyaksikan perusahannya sekarang mencapai masa emasnya. 2 bulan yg lalu, Kibum menghilang begitu saja tanpa jejak. Handphone-nya juga hilang entah kemana, Donghae bahkan sudah mencoba mencarinya kemanapun tapi tidak berhasil. Hingga akhirnya dia menyewa detektif untuk mencarinya.
Kenapa tidak lapor ke polisi? Dia tidak ingin membuat semuanya menjadi kacau. Karna orang terakhir yg ditemui Kibum adalah dirinya. Tapi apa salah Kibum? Selama berada disisinya, Kibum adalah perempuan yg baik. Bahkan dia tidak mempunyai musuh. Apa ini berhubungan dengan pekerjaannya? Tidak mungkin. Selama ini dia tidak pernah mempunyai masalah dengan perusahaan apapun. Kenapa targetnya harus Kibum?
"Maafkan aku Tuan."
haohaohyvk
"Bibi. Apa bibi tau masakan favorite Donghae?" tanya Hyukjae ketika sedang bersantai bersama bibi di halaman belakang rumah.
"Tuan Donghae? Dia menyukai apapun yg memakai bahan dasar ikan. Memangnya ada apa?"
Hyukjae tersenyum. "Tidak apa-apa Bibi. Aku ke dapur dulu ya?"
"Untuk apa? Semua pekerjaan sudah selesai Hyuk." Cegah Bibi.
"Aku ingin menyiapkan makan malam untuk Donghae. Bibi istirahat saja, biar aku yg menyiapkan semuanya." Hyukjae melesat pergi kedapur sebelum mendapat persetujuan dari Bibi. Bibi hanya tersenyum, Hyukjae sangat membantunya disini.
Hyukjae memakai apron berwarna kuning lalu memulai menyiapkan bahan untuk masakannya malam ini. Untung saja masih ada banyak bahan makanan di lemari pendingin. Hyukjae membersihkan ikan tuna lalu memotong-motong sayuran. Tangannya dengan cekatan membuat satu per satu masakan yg mampu mengundang selera. Hyukjae tersenyum, semoga saja Donghae suka masakannya kali ini.
haohaohyvk
Hyukjae duduk di kursi meja makan, menunggu sang majikan –Donghae- kembali dari kantornya. Matanya sesekali melirik ke arah jam dinding. Waktu menunjukkan pukul 8.00 PM, biasanya Donghae kembali dari kantornya sejak 2 jam yg lalu. Jangan tanya Hyukjae tau darimana, tadi sore dia bertanya banyak hal tentang Donghae pada bibi. Makanan yang dimasaknya sudah hampir dingin. Sesekali Hyukjae menghela nafas sambil menatap masakannya di atas meja makan.
Hyukjae sumringah ketika mendengar suara deru mobil dari luar rumah, dia yakin sekali kalau itu adalah Donghae. Memangnya siapa lagi kalau bukan dia? Hyukjae berdiri dari duduknya lalu menghampiri Donghae yang baru saja membuka pintu rumah. Hyukjae tersenyum cerah, dia yakin sekali Donghae pasti senang dengan masakannya. Tapi Hyukjae tidak menyadari kalau majikannya sedang dalam kondisi tidak baik. Donghae berjalan tanpa memperdulikan Hyukjae yg menghampirinya. Hyukjae mengekor dibelakang, tangannya memegang tas kerja Donghae.
"Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu mandi Hae. Aku akan menunggumu di ruang makan." Kata Hyukjae sambil menaruh tas kerja Donghae.
Donghae melepas dasinya. "Kau tidur saja. Aku lelah, aku ingin langsung tidur."
Hyukjae melongo. Lalu masakannya? "Ta… Tapi… Aku sudah.."
"Sudahlah Hyuk. Aku lelah. Lagipula aku sudah makan diluar tadi." Donghae menatap Hyukjae yg sedang memperhatikannya, sehingga tatapan keduanya bertemu.
Hyukjae menunduk. "Selamat malam."
Donghae menutup pintu kamarnya lalu bergegas ke kamar mandi, membersihkan tubuhnya yg seharian ini bekerja di kantor. Pikirannya kalut, fisiknya lelah. Mungkin berendam di air hangat bisa menghilangkan sedikit rasa lelahnya.
Hyukjae berjalan lemas menuju ruang makan. Dia duduk di salah satu kursi meja makan lalu menatap masakannya satu persatu.
"Pasti sudah dingin."
Hyukjae menunduk. Butiran bening jatuh dari matanya. Tidak tahukah Donghae bahwa Hyukjae sangat sensitif? Hyukjae mudah sekali menangis. Hatinya lembut, coba sebutkan benda paling lembut di dunia ini. Semuanya tidak sebanding dengan kelembutan hati Hyukjae. Hyukjae mengusap air matanya. Dia menaruh kepalanya di atas meja makan, kepalanya terasa berat.
haohaohyvk
Donghae keluar dari kamar mandi dengan keadaan lebih baik. Dia mengeringkan rambutnya dengan handuk. Donghae duduk di tepi kasurnya yg menghadap langsung ke arah cermin. Dia mendekatkan dirinya kearah cermin, sebelah tangannya mengusap wajahnya.
"Wajahku terlihat menyedihkan."
Donghae menunduk. Menghela nafas panjang lalu mengeluarkannya lewat mulut. Tidak mudah memang untuk melupakan Kibum, but show must go on. Hidupnya harus tetap berjalan dengan atau tanpa Kibum. Donghae mengambil tas kerjanya, ada beberapa dokumen yg belum dia lihat saat di kantor tadi. Tapi niatnya untuk melihat dokumen terhenti ketika melihat sekotak susu strawberry di dalam tasnya.
Saat berangkat menuju kantor tadi, dia sempat mampir ke minimarket untuk membeli bolpoin karna bolpoin-nya tertinggal dirumah. Saat melihat susu strawberry di salah satu rak minimarket, dia teringat pada Hyukjae yg sempat bertanya soal susu strawberry saat sarapan. Dia tersenyum lalu mengambil sekotak susu strawberry lalu membawanya ke kasir.
Donghae mengambil susu strawberry tersebut lalu berjalan keluar kamar. Berniat menemui Hyukjae untuk memberikan susu tersebut. Donghae berhasil menemukan Hyukjae, tapi keningnya berkerut ketika melihat Hyukjae tertidur di ruang makan. Donghae mendekati Hyukjae, mulutnya sedikit terbuka melihat cukup banyak makanan tersaji di meja makan. Dan semuanya masih rapi, Donghae yakin belum ada yang memakannya.
Donghae melirik Hyukjae yg menyenderkan kepalanya di meja makan. Matanya terpejam, sepertinya dia memang tertidur. Donghae ingat. Tadi pagi dia menyuruh Hyukjae memasakkan masakan yang enak untuknya. Hyukjae pasti sudah bersusah payah membuat semua ini untuknya. Tapi tadi Donghae malah menolak dan berkata bahwa dia sudah makan di luar. Hyukjae pasti kecewa. Donghae tersenyum lalu menghampiri Hyukjae. Mengelus surai panjangnya membuat sang pemilik terbangun.
"Hae?"
Donghae tersenyum lalu menyodorkan sekotak susu strawberry. "Ini untukmu."
Mata Hyukjae berbinar melihat sesuatu yg menjadi kesukaannya berada di depan matanya. Entah sudah berapa lama dia tidak meminum susu strawberry kesukaannya. Terhitung sejak dia menjadi tawanan para penculik. "Untukku? Benar?"
Donghae mengangguk. "Untuk siapa lagi?"
Hyukjae tersenyum sumringah sampai memperlihatkan gummy smile-nya. "Terima kasih!" Hyukjae merebut susu tersebut dari tangan Donghae lalu mendekapnya seolah benda tersebut adalah barang berharga yang sudah lama hilang.
Donghae mengangguk. Matanya menjelajah ke makanan yg ada di meja makan. "Makanan ini untukku 'kan?"
Hyukjae menatap Donghae. Seketika dia teringat soal masakannya yang entah akan bagaimana nasibnya nanti. Hyukjae menunduk lalu mengangguk lemah. "Tidak apa jika kau sudah kenyang karna sudah makan di luar. Makanan ini biar kusimpan untukku dan bibi besok." Hyukjae memaksa tersenyum.
Donghae menarik kursi di sebelah Hyukjae lalu mengambil piring. "Makanan ini terlihat lezat. Perutku jadi lapar lagi hehe."
"E.. Eh?" Hyukjae kaget ketika Donghae mulai mengambil satu persatu makanan lalu menaruhnya di piringnya. "Tapi makanan ini sudah dingin. Biar aku hangati dulu ya."
Donghae menggeleng. "Tidak usah. Masakanmu sangat enak. Dingin saja enak bagaimana kalau hangat."
Hyukjae tersenyum sambil memperhatikan Donghae. Donghae makan dengan lahap, menurutnya masakan Hyukjae sangat enak. Sangat mirip dengan masakan ibunya. Hyukjae semakin melebarkan senyumnya ketika melihat semua masakannya habis dimakan oleh Donghae. Hyukjae berdiri, berniat membereskan piring bekas makan Donghae. Hatinya gembira mengetahui Donghae sangat menyukai makanan buatannya. Gerakannya terhenti ketika sebuah tangan mengintrupsinya.
"Terima kasih ya."
TBC
Terima kasih untuk review di chapter pertama kemarin. Setelah author pertimbangkan, author memutuskan untuk melanjutkan cerita ini. Karna author merasa sayang kalo idenya author ga ditumpahin/?
Untuk yg merasa cerita ini kurang seru, aneh atau kalian ga suka sama jalan ceritanya. Author hanya terinspirasi sama MV Davichi. Dengan perubahan dari author juga tentunya. Mungkin jalan ceritanya memang sudah bisa ketebak, kalian tinggal tonton aja MV nya dan TADA! Kalian sudah tau jalan ceritanya akan seperti apa. Author tidak pernah memaksa orang untuk suka sama ffnya author karna setiap orang punya selera masing-masing.
Author juga belum mahir ya dalam menulis cerita. Masih banyak kekurangan di sana-sini dan dari segi manapun. Maka dari itu, author sangat menerima kritik dan saran –yang membangun- untuk author supaya author bisa menulis cerita lebih baik lagi:)
Dan buat Polaris tenang aja, author ga akan nulis cerita lain selain haehyuk haha. Untuk Endah1146, tenang aja disini Hyuk bukan orang jahat kok;)
Chapter ini bisa dibilang no edit jadi author minta maaf kalo banyak typo atau lain sebagainya.
Anak manis selalu menghargai karya orang lain^^ Review?
