Hai~ Aira di siniiiiii... lanjut ke chapter 2, ya. Kukira tidak akan lanjut, lho. Hahahaha#BUK!
Arigatou untuk review-nya ya. Author langsung senyum-senyum sendiri melihat ceritanya di-review, lho. Senang sekali karena ini benar-benar kali pertama author di sini.
ReviewOnly-chan : makasih review-nya, ya. Untuk Asari, saya juga awalnya merasa aneh dengan bahasanya itu. Kalau saya hilangkan –degozaru-nya, Minna-san, jangan lupa kalau yang bicara itu Asari, ya. Nanti malah terpikirkan Basil takutnya. Soalnya sama-sama memanggil –dono ke semuanya. Haha.
Tapi saya sedikit kasihan juga sama Lambo yang tidak kebagian dialog, bahkan selalu sakit punggung di chapter 1. Di chapter ini pun nasibnya sama.
Title : 10, 1, and Varia
Warning : OOC tingkat dunia bawah tanah, humor garing, dan semua kepayahan lainnya.
Disclaimer : Katekyo Hitman Reborn! Itu milik Amano Akira-sensei. Bukan milik Author.
Happy Read, Minna-san!(membuka-buka buku panduan EYD)
Dengan berat hati, akhirnya semuanya berjalan ke alam yang seharusnya- maaf, maksudnya ke tempat di mana mereka harus mengerjakan hal yang menjadi tanggungjawabnya.
MENCUCI
"Shishishishi…Pangeran tidak pernah mencuci, kalian saja yang lakukan sendiri." Kata Bel berusaha untuk menghindar dari pekerjaanya. Dengan santainya ia duduk di atas mesin cuci. #Author mohon, jangan lakukan adegan ini di rumah.#
"Jangan begitu, Bel-dono. Kita semua harus berkerjasama."kata Asari dan mengangkat beberapa pakaian dari ember. Asari melihat miris ke arah pakaian-pakaian yang bertumpuk. 5 ember dan beberapa pakaian sudah tidak layak untuk dilihat. Sobek sana-sini, banyak lumpur dan noda-noda krim. Dipastikan mesin cuci akan rusak permanen kalau seperti ini jadinya.
"Huh, Sudahlah Asari. Knife Freak tidak bisa mencuci karena dia pangeran gagal seperti yang terlihat."ledek Gokudera. Dia pun sebenarnya malas melakukan ini jika bukan untuk Juudaime-nya.
"Jangan memanggil pangeran dengan sebutan itu, penjaga badai yang gagal."Bel bersiap dengan pisaunya dan Gokudera melawannya dengan dynamitnya. Lambo terdiam di pojok ruangan, punggungnya masih terasa sakit. Asari sibuk melerai kedua arashi no shugosha tersebut. Seperti namanya, Arashi yang berarti badai, sesuatu yang menghancurkan semua yang berada pada jalurnya. Tapi kalau berlanjut seperti ini terus, rasanya pekerjaan tidak akan selesai-selesai.
Sementara itu di pintu rumah,
"Untuk apa kami memakai baju ini,G?"Tanya Primo. Ia dipakaikan kemeja putih dengan Fest hitam bergaris yang tidak dikancingkan dan dasi yang dilonggarkan. Sedangkan Tsuna dipakaikan kemeja putih yang di gulung sampai siku, jaket hitam, dan meninggikan bagian kerah-nya.(Jangan diimajinasikan karena ini dapat membuatmu bermandikan darah alias nosebleed).
"Belanja semua yang ada di daftar ini. Kalian berdua coba sekarang ke mode HDW."perintah G. Giotto dan Tsuna saling berpandangan, lalu masuk ke mode HDW. Tsuna melihat daftar belanjaannya. Daftar tersebut panjang dan dibawahnya tertera baju-baju yang harus mereka ambil.
"Tapi bagaimana caranya belanja ini semua dengan uang sedikit?" Tanya Tsuna dengan suara HDWM.
"Kalian katakan pada penjualannya'boleh saya mendapatkan potongan harga dari anda?'dan kalau bisa pilih yang penjualnya perempuan. Sekarang juga pergi!"perintah G tegas. Giotto dan Tsuna berjalan ke luar rumah sambil menatap uang dari G dan daftar belanja yang sangat panjang. Padahal Giotto masih ingin main-main tapi apa boleh buat. Ia adalah boss dan yang paling tua (tentu saja ,ini kan zaman dimana ia sudah gak ada)dan inilah tugas yang menjadi tanggung jawabnya.
"Decimo, bagaimana kalau pulangnya nanti kita beli kue?"bisik Giotto pada Tsuna dan Tsuna sweatdrop di tempat.
MEMBERSIHKAN HALAMAN
"Yare, yare. Ore-sama tidak berbakat melakukan hal ini."kata Lampo. Ia, Daemon, dan Mammon di suruh untuk mencabuti rumput liar oleh G.
"Nufufufu…..bagaimana kalau kita membuat semuanya selesai dengan ilusiku?"
"Mu, aku setuju. Itu juga akan menghemat uang dan tenaga."
"Apa yang kalian pikirkan? Jika kita melakukan itu, sama saja kalau pekerjaan ini tidak selesai kan." Kata Lampo. Ia terkejut mendengar ide gila kedua Illusionist itu.
"Apa yang sedang kalian lakukan?! Jangan diam berdiri saja, Daemon, Mammon."perintah G yang kebetulan lewat, ia melihat Lampo dan terkejut setengah mati,"OI, Apa yang kau cabut, bodoh?! Kusuruh kau untuk mencabut rumput liar, bukan bunga."
"Eh?"Lampo bingung dengan apa yang dimaksud G, dan melihat tanaman yang dicabutnya. Tergenggam bunga-bunga kuning yang hancur karena dicabut asal.
'Mampus. Aku gak lihat-lihat apa yang kucabut.'batin Lampo kaget sendiri dan menepuk dahi menyesali kecerobohannya.
'Dasar si bodoh ini. Ia malah nambah kerjaan'batin Daemon yang mendengar perintah G kalau mereka harus menanam kembali bunga-bunga itu. Scythe miliknya sudah siap di tangannya.'Akan kubuat ia merasakan neraka ilusi'
'Mu, kerjaannya malah nambah. Akan kubuat dia bangkrut karena ini. Kebetulan ia bisa kuperas'batin Mammon yang ingat kalau Lampo itu seorang Lord.
'Perasaanku gak enak nih'batin Lampo yang merinding dipandang deathglare oleh kedua illusionist itu. Ia meraba-raba kantongnya siapa tau ia kebetulan bawa penggorengan yang ia biasa gunakan untuk berlindung.'Mampus. Ketinggalan di kamar mandi.' Batin Lampo dan berpikir mungkin ia harus ke dapur Tsuna sebentar meminjam panci atau apalah yang ia bisa gunakan untuk melindungi diri.
#Author: Kenapa penggorengan bisa ketinggalan di kamar mandi?#
MEMBETULKAN KERUSAKAN
Xanxus, Hibari, dan Alaude terdiam melihat kerusakan yang tergolong rusak berat yang terjadi pada rumah Decimo itu. Seperti yang dapat ditebak, mereka bertiga sangat-sangat malas melakukannya.
"Hn, aku tidak mau melakukan pekerjaan herbivore."kata Hibari yang sukses membuat Xanxus kesal.
"Sampah, kalianlah yang harus melakukannya. Kalian hanya guardian dan aku boss disini. Kalau kalian melawan….."Xanxus siap-siap dengan flame ditangannya. Dia merasa dialah yang paling tinggi jabatannya disini dan yang lain hanyalah budak.
"Hn. Kau akan kutangkap karena berani-beraninya menyuruhku."kata Alaude yang kesal diperbudak oleh Xanxus dan bersiap dengan borgolnya.
"Kamikorosu."kata Hibari dengan tonfanya menyerang Xanxus karena menyuruhnya melakukan pekerjaan herbivore.
Levi yang memakai headset mendengar lagu membelakangi mereka bertiga. Ia menggumamkan lagu sambil membetulkan atap yang rusak dan kita ketahui, sang Kaminari no Shugosha Varia ini sangat berbakat menjadi babu.
"Oh, Oh, yu now yu robu me. Ai now yu ker(baca:You know you love me. I know you care)"gumam Levi menyayikan lagu hits dari Just*n Bi*b*r dengan nada sumbang dan bahasa inggris yang ancur. Kasihan sekali ia tidak tahu kalau pertengkaran boss-nya dan kedua Kumo no Shugosha Vongola akan menambah pekerjaannya.
MEMASAK
"Hng? Aku mendengar keributan di luar."kata G yang sedang mencuci piring. Oke, yang ia dengar adalah teriakan Lampo yang dikejar oleh Daemon dan Mammon, pertengkaran antara Gokudera dan Bel, dan pertarungan Xanxus vs Hibari feat. Alaude.
"VOOOIIIIII, JANGAN BERISIK, SAMPAH!"teriak Squalo ke luar jendela dan-PLEK! itu berhasil membuat mukanya dilempar lumpur."VVOOOOIIIII, SIAPA YANG BERANI-BERANINYA MELEMPAR LUMPUR PADAKU?!" Squalo hendak keluar dari dapur untuk memberi pelajaran pada siapapun yang berani dengannya.
"Oi, selesaikan pekerjaannya. Jangan kabur." Kata G menarik rambut indah hasil dari creambath tiap hari milik Squalo dan menunjuk ke sop miso yang dibuat G.
"VOOIII, JANGAN TARIK-TARIK RAMBUTKU!"teriak Squalo dan memandang miris ke sop miso, kenapa dirinya harus melakukan pekerjaan seperti ini.
DUARRRR!
"Kufufufu…..berani sekali masakan ini meledak tanpa kusuruh."kata Mukuro dengan wajah belepotan bekas ledakan.
"Shishou bodoh ya. Tidak sadar kalau tadi itu masakan gagal. Anda sama sekali tidak bisa masak rupanya." Kata Fran dengan santainya mengejek gurunya itu.
"Katakan sekali lagi maka akan kupotong gajimu."kata Mukuro sambil menodongkan pisau dapur.
"Apa anda pernah menggaji saya? Rasanya saya bahkan tidak mendapat bayaran untuk membebaskan anda dari penjara Vindice. Kalau dihitung-hitung utang anda kepada saya jadi XXXXXyen lho. Juga bunganya 90%."kata Fran. Ditangannya sudah tersedia kalkulator canggih, maklum hutang yang ia tagih banyak soalnya.
"Kufufu…. Berani sekali kau bicara begitu pada gurumu."kata Mukuro dan mengambil beberapa pisau dapur.
"Oi, hentikan. Memangnya apa sih yang kau masak sampai bisa meledak begitu?!"teriak G marah melihat sebagian dapur itu hitam legam termasuk Mukuro dan Fran.(G dan Squalo berada cukup jauh dari mereka)
"Kufufu…tentu saja merebus telur."jawab Mukuro dan dilanjut sweatdrop dari semuanya. Bagaimana caranya telur bisa meledak coba?
MEMBERSIHKAN RUMAH
"Hmm...lala...hmm..."gumamYamamoto melantunkan lagu sambil menyapu pecahan kaca di kamar Tsuna.
"Take-chan~, kamar Tsu-chan sudah rapi belum~?"tanya Lussuria dari lantai bawah.
"Sebentar lagi, Lussuria-san."jawab Yamamoto sambil menyondongkan badannya keluar kamar Tsuna agar suaranya terdengar. Maklum, kalau tidak begitu, suara Yamamoto akan kalah dengan suara extreme lainnya. "Senpai, tolong pel ya."pinta Yamamoto sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Ryohei.
"YOSH! Serahkan padaku TO THE EXTREME!"teriak Ryohei lalu mengepel lantai dengan sekuat tenaga dan kecepatan penuh. Yamamoto tertawa canggung melihatnya karena tidak yakin lantainya akan menjadi bersih jika dipel dengan extreme seperti itu.
"Ryohei-san, tolong lakukan dengan penuh perasaan."kata Knuckle lembut. Ia sedang membereskan lemari belajar tsuna yang terbilang cukup berantakan. Ryohei mengangguk dengan semangat ke arah Knuckle.
Ryohei mengambil napas dalam-dalam ...,"YOSH! Pel dengan penuh perasaan TO THE EXTREME!"teriaknya dan mengepel dengan lebih EXTREME.
"sepertinya ia salah mengartikan kata-kataku..."kata Knuckle sambil menghela napas panjang.
"Ara~...Ada apa, ya~? Kenapa semuanya teriak-teriak~?"tanya Lussuria dan pergi menuju dapur untuk menanyakan keadaan,
"Squ-chan, aku mendengar leda-KYAAAAA!"teriakan ala banci taman lawang pun menggelegar dahsyat. "Fran-chan, Muku-chan, kenapa kalian belepotan begitu?"tanya Lussuria cemas. Mukuro mendadak merinding tingat 666 dipanggil dengan embel-embel –chan.
"Ahh...Luss-senpai, ini karena Shishou yang ketahuan dame-nya dalam memasak."jawab Fran datar tanpa mempedulikan tatapan membunuh Mukuro padanya.
"pfft..."G menahan tawanya di pojok dapur.'Bwahaha...mereka dipanggil –chan begitu. Norak banget...'batin G.
"G-chan, kamu kenapa? Merinding begitu~. Kamu sakit, sayang~?"kata Lussuria sambil mengelus pundak pemuda berambut merah tersebut. Setelah mendengar kata-kata menjijikan tersebut, G langsung pingsan berdiri. Dan G menyesal karena telah mentertawakan Squalo, Fran, dan Mukuro.
BELANJA
"Kyaaaa!siapa itu? Keren banget!"
"Yang bule itu...UUUHHH...keren banget!"
"Adiknya juga keren dan manis banget!"
"Mereka punya pacar, tidak sih? Falling in love nih..."
"Aduh, ingin kutukar dengan anakku."
Berbagai teriakan para gadis serta ibu-ibu langsung mengiringi sang Primo dan Decimo dalam perjalanan mereka. Tsuna yang tidak terbiasa diteriaki begitu, berdiri menunggu Primo dengan canggung. Primo sediri dengan santainya menghiraukan teriakan itu, ia sibuk menawar kepada penjual sayur di depannya.
"Jika anda berkenan, saya ingin meminta diskon untuk wortel ini."bujuk Primo kepada wanita janda yang menjadi pedagang yang merasa dirinya beruntung hari ini.
"Aaahh...silakan saja, Tuan. Anda dapat diskon 70% persen untuk semuanya..."jawab wanita itu dengan penuh perasaan. Primo tersenyum bahagia mendengarnya, yang mengakibatkan wanita itu terduduk lemas karena kalah dengan pesona Vongola Primo yang dengan senyumnya melayangkan semua wanita ke langit ke tujuh.
"Decimo, ini sudah semua."kata Giotto berjalan mendekat ke Tsuna. Lima kantung penuh sayuran dan daging di tangan Giotto. Sedangkan Tsuna membawa 1 bungkus kue tart yang dibeli Giotto entah untuk apa, dan beberapa makanan kaleng sejenisnya. Mereka berencana untuk langsung pulang meletakkan bawaan yang terbilang banyak itu, lalu barulah mengambil baju ganti.
"Primo-san, bagaimana dengan kue tart ini?"tanya Tsuna penasaran.
"Nanti kita makan bersama yang lain. Tak apa kan. Toh kita mendapatkannya gratis."kata Giotto sambil tertawa kecil. Gratis? Tentu saja. Bahkan uang yang diberikan G masih tersisa karena diskon besar-besaran yang diberikan oleh penjual wanita kepada mereka. "Aku tidak tahu kalau rencana G. Berjalan semulus ini."kata Giotto.
"Dan aku merasakan firasat buruk dengan apa yang terjadi di rumahku."lanjut Tsuna lemas. Ia sudah membayangkan bencana apa saja yang telah terjadi pada rumah sederhananya itu.
.
End of Chapter 2.
Akan berlanjut pada chapter 3 nantinya, itupun jika saya ada ide. Soalnya yang Chapter 3 belum dibuat sama sekali. Haha.#PLAK!
Uh, memikirkan Giotto-sama tersenyum, Author langsung nosebleed dan teriak-teriak gak jelas. Humornya payah banget nih. Hontou ni gomen ne.
Update-nya lumayan cepat karena sedang libur tapi mungkin ke sana-sana akan lambat karena harus fokus UN. Oh ya, author juga minta saran untuk ceritanya ya. Dan readers lebih suka author yang banyak bicara atau yang sedikit ya? Author soalnya kadang bingung sendiri harus nulis beginian atau tidak.
Tolong review, ya. hehe
