Only Love
Title : Only Love.
Cast : Yunjae.
Other(s) Cast : Yoosu, Changfood.
Rated : T.
Genre : Romance and Humor.
WARNING :
YAOI, BOYSLOVE, TYPO, GEJE, PASARAN!
Saya masih 'AMATIR' di dunia ff.
jadi jika ceritanya ngawur abis, tolong di maklumi. Karena ini hanya hobi saja.
Langsung saja... Selamat membaca!^^
DON'T LIKE YAOI DON'T READ OK!
.
.
.
SUMMARY :
Karena keegoisan para manegernya, Yunho dan Jaejoong terpaksa harus berpura-pura menjadi sepasang kekasih di depan publik, karena untuk mendapatkan popularitas. Di depan layar kaca mereka begitu mesra dan membuat iri, tapi di balik layar kaca mereka seperti TOM AND JERRY!
.
.
.
( Preview, chapter 2)
" Yoochun-ah, aku sudah tidak tahan harus menahan malu ketika mereka sudah bertengkar seperti itu. " Ucap Junsu dengan merengut kesal.
" Bukan kau saja su-ie, aku juga merasa malu, kalau saja mereka bisa menjaga sikap mereka di depan banyak orang. " Timpal Yoochun, sama kesalnya dengan Junsu.
Di tengah perjalanan, tiba- tiba Junsu menghentikan langkahnya, otomatis membuat Yoochun juga menghentikan langkahnya. Yoochun mengerutkan dahinya ketika melihat Junsu menatapnya dengan raut wajah berbinar-binar.
" Oh! Yoochun-ah! aku punya ide! " Ucap Junsu tiba-tiba. Ia langsung mendekatkan mulutnya pada telinga Yoochun dan ketika itu juga mata Yoochun terbelalak sempurna.
" MWO! "
.
.
.
(Chapter 3)
.
.
.
Yunho menutup pintu mobilnya dengan hentakan keras, rupanya ia masih tak terima dengan apa yang tadi Jaejoong lakukan padanya. Jus yang tadi tumpah ke tubuhnya sekarang mulai mengering dan itu membuat badannya terasa lengket. Dia sudah tidak tahan dengan rasa lengket di tubuhnya. Ingin sekali ia cepat-cepat sampai apartementdan membasuh tubuhnya dengan air Shower. Namun Yoochun, menejernya belum datang-datang juga.
Beberapa menit kemudian, akhirnya orang yang ditunggu-tunggu sudah masuk ke dalam mobil kemudi.
" Kemana saja kau, Chun? lama sekali. Karena kau, aku harus menahan rasa lengket yang menyiksa ini dibadanku! " Ucap Yunho mendelik kesal kearah Yoochun yang duduk di sampingnya.
" Tadi, ada seorang wartawan menghampiriku, ia menanyakan keberadaanmu, tapi aku menjawabnya, kalau kau sudah pulang duluan. " Bohong Yoochun.
" Benarkah? apakah pengawas gedung disini tidak bisa menjaga keamana dengan baik ya, sampai ada wartawan yang masuk? " Ucap Yunho santai.
Yoochun terlihat tegang, apa yang harus ia katakan. " Mu.. Mu.. Mungkin saja. " Setelah itu, ia mulai menyalakan mesin mobil. Lalu melajukan mobil itu dengan kecepatan sedang, meninggalkan tempat parkiran gedung Zoom.
# # # # #
Junsu terlihat fokus menyetir mobil hitam miliknya, namun masih terpancar rasa kesal di wajahnya. Di samping tempat duduknya, Jaejoong terlihat menyenderkan punggungnya pada senderan jok mobil yang sengaja di turunkan olehnya untuk membuat punggungnya lebih nyaman.
Junsu memandang sekilas kearah Jaejoong, lalu kembali terfokus pada Jalanan. Pikirannya mulai melayang pada rencananya dengan Yoochun. Bagaimana caranya ia menyampaikan rencananya pada Jaejoong. Ia kembali melirik ke arah Jaejoong, lalu kembali melirik Jalanan. 'Lebih baik nanti saja' pikirnya, karena tak enak jika harus berbicara dengan Jaejoong disini.
" Jae. " Panggil Junsu dengan tangan kirinya menggoyangkan tubuh Jaejoong perlahan.
" Apa, Su? " Jaejoong menoleh ke arah Junsu, lalu mendudukan dirinya.
" Jae, apa tadi kau tidak menyadari ? jika berpuluh-puluh pasang mata melihat mu dan Yunho dengan tatapan aneh ? " Tanya Junsu dengan masih menatap jalanan.
" Biarkan saja, memangnya apa perduliku. " Ucap Jaejoong malas, lalu kembali menyandarkan punggungnya pada senderan jok mobil.
Junsu mengeratkan pegangannya pada setir mobil. Wajahnya terlihat memerah karena menahan kesal. Enak sekali namja cantik di sampingnya ini, dia bilang tak perduli ? Sedangkan ia harus menanggung rasa malunya karena kelakuan sahabat cantiknya ini.
" Yah! tapi aku dan Yoochun yang menanggung malunya. pinggang kami harus terus menerus di tekuk 90° pada orang-orang disana karena meminta maaf atas kelakuan memalukan kalian. dan bisa-bisanya kau berkata tak perduli! eoh? " Ucap Junsu sedikit berteriak.
" Tapi itu bukan salahku, Su. Dia yang memulainya dengan mengejeku! " Jaejoong berteriak tak kalah keras.
" Aish! padahal kalian seagensi, tapi kenapa kalian tidak bisa menjalin kerja sama dengan baik? " Junsu makin prustasi, yang ia inginkan hanyalah membuat Jaejoong dan Yunho berhenti bertengkar di depan umum atau kalau bisa membuat mereka berhenti bertengkar. Pokoknya ia tidak mau tahu, ia harus segera memberitahu Hyungjoong sang CEO SHINKIent tentang rencananya ini. Bagaimana 'pun juga ia tidak boleh langsung bertindak, ia harus meminta persetujuan dulu pada Hyunjoong.
# # # # #
" yah! jangan mengganggu ku lagi, sudah cukup satu kali kau menyakiti hatiku, aku tidak mau melihat mu lagi, pergi kau dari hidupku , aku ingin melupakanmu selama- "
Klik
TV yang sedang menayangkan sebuah drama itu di matikan begitu saja oleh namja tinggi alias Changmin, ketika bel pintu apartement berbunyi. Ia taruh snack yang tadi ia makan di samping tempat duduknya, lalu beranjak ke arah pintu apartement dan membuka pintu berwarna putih itu dengan sekali tarikan.
" Hyung! " Changmin tersenyum lebar ketika melihat sosok namja cantik yang berdiri di hadapannya dengan bibir yang dipoutkan. Bukannya membalas senyum lebarnya, namja cantik itu malah menerobos masuk ke dalam apartement tanpa memperdulikannya.
Changmin menatap bingung punggung namja cantik itu yang terlihat berjalan ke arah kamarnya dengan kaki yang di hentak-hentakan.
" Ada apa dengan Jae hyung ? " Gumamnya dengan dahi mengerut.
Brakk...
Dan begitu kagetnya ia ketika Pintu kamar itu di tutup dengan kerasnya, serasa jantungnya berhenti berdetak di saat itu juga. Ia mengusap dadanya dengan perlahan di iringi tarikan napas panjang.
Tak berapa lama, Junsu datang dari arah pintu dengan wajah sama seperti namja cantik tadi. Changmin yang melihat itu makin mengerutkan keningnya yang tertutupi poni hitamnya itu. Ada apa dengan ke-dua Hyung nya itu? setelah menutup pintu apartement, Changmin berlari kecil ke arah dimana tadi ia menonton TV, yang di sana juga terduduk Junsu yang terlihat menyalakan TV dengan remote di tangannya. Ia pun mendudukan dirinya di samping Junsu.
" Hyung, Jae Hyung kenapa? apa kalian bertengkar? kenapa wajah Jae Hyung terlihat ditekuk seperti itu? " Tanya Changmin dengan nada khawatir.
Junsu menghela napas sejenak sebelum menjawab pertanyaan Changmin yang seperti mengintrogasinya itu. " Dia hanya kelelahan, Changmin-ah. Kau tidak perlu khawatir seperti itu. " Ujar Junsu, lalu kembali memandang layar TV dihadapannya.
" Hmm.. Benarkah? " Tanya Changmin penuh selidik.
" Ne, dia sendiri yang mengatakannya padaku, kalau dia sangat kelelahan. Sudahlah Changmin-ah, sebaiknya kau tutup mulutmu, apa kau tidak lihat aku ini juga sangat kelelahan? " Ujar Junsu prustasi karena Changmin begitu cerewet.
" Hyung! aku tidak akan diam sebelum kau memberitahuku apa yang sebenarnya terjadi pada Jae Hyung. Tidak mungkin Jae Hyung kelelahan, ia selalu menyuruhku membelikannya colajika ia sedang lelah. Tapi tadi ia malah mengabai- "
" Aish! baik'lah, akan ku ceritakan, tapi kau Jangan berteriak ketika mendengar cerita ku . " Junsu akhirnya menyerah Jika harus berdebat dengan namja tinggi di sampingnya ini. Terpaksa ia harus menceritakan kejadian tadi pada Changmin toh, tak ada ruginya juga jika Changmin mengetahuinya. Changmin terlihat mengangguk senang, lalu duduk bersila di samping Junsu
" Aku memang bertengkar dengannya, tapi itu juga karena aku hanya ingin memberitahunya, kalau ia seharusnya tidak bertengkar dengan Yunho ketika sedang di tempat syuti- "
" MWO! bertengkar dengan Yunho Hyung? " Belum sempat Junsu menyelesaikan ceritanya. Teriakkan Changmin membuatnya tersentak dan membelalakan mata.
" Yah! sudah kubilang jangan berteriak, Changmin-ah! " Ucap Junsu, dengan satu tangannya membekap mulut Changmin kesal.
" Mianhe, Hyung. " Ucap Changmin, setelah tangan Junsu yang membekap mulutnya itu terlepas. " Ta-ta-tapi Hyung, apa tadi yang kau katakan itu benar, kalau Jae Hyung bertengkar dengan Yunho Hyung? mereka 'kan seagensi, bagaimana ceritanya mereka bisa bertengkar? " Lanjutnya dengan memasang wajah terkejut.
" Itu dia masalahnya, aku juga tidak tahu apa penyebab mereka selalu bertengkar. " Jawab Junsu, lalu kembali menghadap pada layar TV. Changmin terlihat menghela napas, iapun menyamankan duduknya, lalu menghadap layar TV yang sedang menayangkan siaran olahraga itu.
Trururu.. Trururu..
Junsu sedikit tersentak ketika Handphone yang ia taruh di dalam saku celananya berbunyi. Ia langsung mengambil Handphone 'nya dan melihat nomor siapa yang menelepon, setelah tahu siapa yang meneleponnya, ia pun segera menggeser tombol hijau dan meletakkan benda persegi panjang itu ke dekat kupingnya.
" Chunnie-ah, ada apa? "
' Su-ie, kita harus segera memberitahu Hyunjoong tentang rencana kita, biar Hyunjoong saja nanti yang memberi tahu mereka. Cepat kau keluar, aku menunggu di tempat parkiran apartement mu. '
" Ah.. Baik'lah. "
Junsu-pun memasukan kembali Handphone nya ke dalam saku celana hitamnya. Lalu beranjak dari tempat duduknya untuk mengambil jaketnya yang ia taruh di atas meja, dan memakainya dengan tergesa-gesa.
Changmin menatap bingung Hyungnya yang tiba-tiba saja beranjak dari duduknya, lalu memakai jaketnya dengan tergesa-gesa.
" Hyung, kau mau kemana?, buru-buru sekali. " Junsu menghentikan langkahnya lalu menoleh pada Changmin.
" Ada urusan penting yang harus aku selesai'kan. "
Setelah itu, ia beranjak keluar apartement dengan langkah cepat, takut jika Yoochunnienya harus menunggu lama.
Changmin kembali menonton siaran TV. Rasanya tidak enak jika menonton TV dengan tidak ada cemilan. Mana Snack yang tadi ia taruh di sofa, ya?
" Ah.. Ini dia.. OMO! " Begitu kagetnya Changmin ketika melihat isi bungkusan itu. Snack'nya terlihat hancur menjadi serpihan-serpihan kecil dan tak terlihat seperti Snack. Apa mungkin snack'nya terduduki Junsu sampai hancur seperti ini? Baru saja ia memakan dua buah keripik. Ia hanya bisa berceloteh kesal, apalagi persedian snack sudah habis.
" Aish! Dasar Duckbutt, apa pantatnya sekeras batu-bata, apa? Sampai membuat kekasihku meninggal dunia sebelum ku makan. "
# # # #
" Chunnie! " Panggil Junsu, ketika sampai di parkiran.
Yoochun tersenyum pada Junsu yang berlari menghampirinya, lalu menyuruh Junsu segera memasuki mobilnya. Setelah Junsu duduk manis di samping jok kemudi. Yoochunpun segera menaiki mobil. Beberapa detik kemudian, mobil berwarna hitam itu bergerak dan melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan kawasan apartement BIG menuju jalan raya.
# # # # #
Setelah tadi ia membersihkan badannya yang begitu tidak nyaman. Yunho sekarang ingin menyamankan otot-ototnya yang begitu sakit seperti tertindih beribu-ribu orang. Ia pun merebahkan tubuhnya di atas ranjang king size yang berwarna hitam-putih miliknya. Begitu nyamannya setelah seharian ini ia di hadirkan pada jadwal yang padat, sekarang ia bisa berguling-guling di tempat tidur empuknya. Karena ketika Jadwalnya sedang padat, ia pasti tidak akan bisa tidur dengan nyaman dan takkan sempat untuk pulang, jadi ia menghabiskan masa (?) tidurnya di atas jok mobil yang begitu tak nyaman. Sesekali lehernya selalu sakit jika harus tidur di jok mobil.
Ting tong ting tong
Yunho berhenti dari aktivitasnya ketika mendengar suara bel apartementnya berbunyi. Ia turun dari atas ranjang dengan mendengus sebal. Siapa sore-sore seperti ini yang datang ke apartementnya? Apa manejernya Yoochun? Tapi mana mungkin, tadi Yoochun bilang ia akan pergi hingga pulang larut malam karena ada urusan yang harus ia selesaikan.
Dengan langkah gontai, ia menuju pintu apartement, lalu membuka pintu itu dengan malas.
Sesaat Yunho mematung ketika melihat siapa yang bertamu ke apartement'nya. Namun, ia langsung tersadar dan kembali memasang wajah datar.
" Yu-Yu-Yunho Oppa. "
# # # # #
Di sebuah ruangan yang di dominasi warna coklat gelap itu, terlihat seorang namja sedang berbincang-bincang dengan dua orang namja yang duduk berhadapan dengannya.
" Bagaimana Hyunjoong-ah, apa kau setuju? Dengan menjadikan mereka Couple, popularitas mereka akan semakin melejit, dan berbagai media akan terus menyorot mereka berdua. " Yoochun, dari salah satu namja itu, menerangkan rencana'lnya dengan kekasih, pada Hyunjoong, sang CEO Agensi. Hyunjoong tampak menghela napas dan berpikir.
" Ne, dan itu juga akan berpengaruh pada perusahaan, Hyunjoong-ah. " Lanjut namja imut di samping Yoochun. Mereka terus membujuk sang CEO agar menyetujui rencana gila mereka itu. Hingga sang CEO akhirnya menyerah.
" Baiklah, Jika itu satu-satunya cara untuk membuat mereka terlihat akur, aku akan segera memberitahu mereka. " Yoochun dan Junsu bertos ria mendengar ucapan yang terlontar dari mulut sang CEO.
# # # # #
Di ruang tamu apartemetnya, Yunho terlihat duduk di atas sofa dengan seorang Yeoja cantik yang duduk di sebrang sofa. Yeoja itu terlihat menundukan wajahnya, tangan lentiknya menggenggam erat tas selendang Gold'nya dengan wajah tegang.
" Oppa, apa kau masih belum bisa memaaf'kan ku? " Yeoja itu mendongak menatap Yunho dengan tatapan ragu.
" Kau kesini hanya untuk menanya'kan hal itu? " Yunho malah balik bertanya dengan sinis. Membuat Yeoja itu kembali terdiam. Kepalanya kembali ia tundukkan. Ternyata namja di hadapannya ini masih sama seperti tadi. Terlihat cuek dan tak perduli setiap ia bertanya atau apapun. Apa namja di hadapannya ini masih belum bisa memaafkannya?
" Oppa, aku ingin memperbaiki semuanya, aku ingin menarik kembali ucapanku, aku ingi- "
" Sudah terlambat Tiffany-ah, kau berbahagialah dengan Namja pilihan Umma mu itu, lagi pula di hati ku.. Sudah kembali terisi oleh seseorang. " Yeoja yang di sebut Tiffany itu kembali terdiam, tak mampu melanjutkan kata-katanya. Sorot matanya yang sendu terlihat menatap Yunho dengan mata berkaca-kaca. " Jadi, Mianhe... Aku tidak bisa. " Jawaban yang singkat, namun bisa membuat hati Tiffany seperti tertancap beribu-ribu panah. Air mata mulai meluncur dari kelopak mata'nya membasahi pipi putih'nya.
" Op-Oppa... Hiks.. " Tanpa berkata apa-apa lagi, Tiffany langsung berlari meninggalkan Yunho keluar dari apartement dengan wajah berlinangan air mata. Yunho hanya bisa menghela napas.
Yunho dan Tiffany memang pernah berhubungan menjadi sepasang kekasih disaat mereka masih di Senior High School kira-kira ber'umur 17 tahun. Namun hubungan'nya dengan Tiffany tidak di restui oleh kedua orangtua Tiffany karena pada saat itu ia hanyalah anak dari seorang supir. Hanya karena masalah Ekonomi yang tidak selevel dengan keluarga Tiffany, orangtua Tiffany begitu berusaha menjauhkan Tiffany darinya. Hingga Tiffany dipindahkan sekolah ke kota, dan itu membuat ia jarang berkomunikasi dengan Tiffany.
Hingga suatu hari, Tiffany meneleponenya dan berkata jika hubungannya dengan Yunho tidak bisa dilanjut lagi, karena Ummanya sudah menjodohkannya dengan Namja pilihan Ummanya. Dan kata-kata itu membuat hatinya sakit. Dan berusaha untuk melupakan semua tentang Tiffany.
Dan sekarang begitu mudahnya Tiffany mengatakan ingin kembali, dan ingin menarik lagi ucapan itu. Mudah sekali mengatakan 'Putus' dan 'Kembali', hanya orang bodoh yang ingin dipermainkan. Hatinya sudah tertutup rapat untuk yeoja seperti itu.
# # # # #
Trurururu... Drrtt..
Yunho memaksakan kedua matanya yang masih terpejam rapat itu untuk terbuka ketika telinganya mendengar suara dering Handphone di atas nakas samping tempat tidurnya.
Tangannya yang masih lemas itu terlihat meraba-raba meja nakas mencari Handphone'nya yang terus saja berdering. Ketika tangannya menyentuh benda itu, ia langsung mengambilnya, lalu menekan tombol hijau tanpa melihat nomor siapa yang meneleponnya.
" Yeoboseyo, nuguya? "
' Yunho-ah, ini aku Hyunjoong. '
" Oh!, Hyung waeyo? "
' Ada yang ingin aku bicarakan denganmu, Yunho-ah, bisa kau datang ke perusahaan? '
" hmm.. baiklah, satu jam lagi aku kesana. "
Plip
setelah sambungan telepone terputus, Yunho 'pun meletakkan kembali Handphone'nya ke atas meja nakas, lalu segera beranjak dari ranjang menuju kamar mandi yang terletak di dekat dapur dengan langkah lunglai dan mata sedikit terpejam.
Beberapa menit kemudian, Yunho sudah menyelesaikan acara ritual mandinnya.
" ahh.. segarnya. " Ucap Yunho, setelah ia selesai mandi. Dan sekarang ia sudah berada di kamarnya dengan pakaian lengkap sudah menghiasi tubuhnya yang Manly itu. Dengan senyum cerahnya, ia keluar dari apartement. Jari tangannya terlihat asik memutar-mutar kunci mobil.
Di pikirannya saat ini, ialah hanya liburan. Ia berpikir Hyunjoong ingin menemuinya karena untuk memberitahu jika hari liburan di tambah menjadi tiga atau empat hari. ah.. Ia sudah tidak sabar untuk berlibur.
# # # # #
" Aish! Changminnie! " Sementara di kediaman apartement Duo Kim, Jaejoong terlihat berteriak kesal pada Changmin karena Changmin terus saja mencomoti (?) Kimchi yang akan ia buat menjadi sup.
Sementara Changmin hanya tertawa karena lucu melihat tingkah Hyung'nya yang terlihat menghentak-hentakkan kakinya karena kesal dan itu membuat ia ingin terus mengerjai Hyung cantiknya itu.
" Ada apa? Pagi-pagi begini sudah ribut? " Suara Junsu membuat Changmin berhenti tertawa dan menoleh pada Junsu begitu pula Jaejoong.
" Junsu-ah! Bawa Changmin pergi dari dapur, jika dibiarkan dia terus disini, bisa-bisa makanan disini akan habis sebelum dihidangkan. " Ucap Jaejoong, melirik Changmin dengan mendelik kesal.
" Aish! Hyung ku ini, tega sekali mengusirku, padahal kekasih ku saja masih disini. " Ucap Changmin, sambil melirik kulkas yang ada di pojok ruangan.
" Siapa kekasih mu? ini? " Jaejoong mengambil satu Kimchi lalu menunjukannya kearah Changmin dengan senyum menyindir.
" Ini salah satu nya! " Changmin langsung merebut Kimchi itu dari tangan Jaejoong dan berlari keluar dapur.
" Changminnie! " Jaejoong berlari mengejar Changmin keluar dapur.
Junsu yang melihat kejadian itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan tersenyum tipis. Ia jadi teringat akan masa lalu, ketika mereka masih duduk di bangku SD. Itu adalah masa-masa yang sangat menyenangkan di dalam kehidupannya.
# # # # #
" Aish! gara-gara Changmin, Kimchi nya jadi kurang 'kan? " Gerutu Jaejoong, disaat ia sedang menuangkan sup Kimchi pada mangkuknya. Changmin terlihat tak perduli dengan gerutuan Jaejoong, ia malah sibuk mencicipi makanan yang terhidang di hadapannya dengan serius.
trururu.. Drrtt..
Ketiga orang yang sedang menyantap sarapan pagi itu sedikit tersentak ketika suara dering Handphone berbunyi. Jaejoong yang merasa kan Handphone'nya bergetar segera merogoh saku celananya. Ia lihat terlebih dahulu nomor dial yang tertera di layar Handphone. Setelah itu, ia menggeser tombol hijau.
" Yeoboseyo, ada apa Hyung? "
' Jae, apa kau tidak ada kegiatan apapun? '
" Tidak ada Hyung, waeyo? "
' apa kau bisa datang ke perusahaan, ada yang ingin aku bicarakan denganmu '
" Hmm.. setelah sarapan, aku akan segera kesana. "
Plip
Setelah sambungan telepon terputus, Jaejoong 'pun memasukan kembali telepon genggamnya pada saku celana pendeknya. Kemuadian Jaejoong kembali melahap sarapannya.
" Dari siapa, Jae? " Tanya Junsu.
" Dari Hyunjoong Hyung, dia menyuruhku untuk menemuinya hari ini. " Jawab Jaejoong. Kemudian ia mengambil gelas berisi air lalu meminumnya. " Makanan ku sudah habis, aku segera berangkat, ne, Su, Minnie? " Junsu hanya mengangguk tak perduli. Sedangkan hatinya seakan ingin menjerit kegirangan ketika Jaejoong mengatakan akan menemui Hyunjoong. Berarti sebentar lagi rencananya itu akan segera Success. Setelah Jaejoong meninggalkan apartement. Sekarang tinggal mereka berdua yang masih berkutat di meja makan.
" Junsu Hyung kesambet setan apa? Senyum-senyum tidak jelas seperti itu. " Dahi Changmin mengerut ketika melihat Junsu senyum-senyum tidak jelas seperti orang gila.
" Memangnya kenapa? Apa aku tidak boleh tersenyum disaat hati ku ini sedang bahagia, Changmin-ah? " Ucap Junsu dengan kesal.
" Aish! bukannya begitu Hyung, aku merasa aneh saja tiba-tiba hyung senyum-senyun sendiri seperti tadi, kukira kemasukan setan. " Ucap Changmin sembari menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
" Omo! Changmin, aku tidak habis pikir perutmu itu terbuat dari apa? ini sudah ke-3 kalinya kau menambah nasi. " Ucap Junsu ketika melihat Changmin masih saja berkutat dengan sendok di tangannya.
# # # # #
Setelah memarkirkan mobil merah miliknya, Jaejoong segera keluar dari mobil dan berjalan menuju lift. Setelah menekan tombol angka lantai berapa yang akan dituju, lift itu pun mulai menutup perlahan kemudian bergerak perlahan kelantai atas.
Jaejoong keluar dari lift lalu berjalan dengan santai menuju sebuah ruangan. Setelah sampai di depan pintu ruangan, ia mengetuk pintu itu dengan sedikit keras.
" Siapa? " Tanya orang yang berada di dalam ruangan.
" Ini aku Jaejoong. " Lama tidak ada jawaban Jaejoong pun terdiam dengan merengut bingung. Hingga akhirnya orang di dalam ruangan menyuruhhnya untuk masuk, ia pun membuka pintu coklat itu dengan perlahan.
" Hyung, ada keperluan ap- Jung! sedang apa kau disini? " kaget jaejoong ketika melihat orang yang terduduk di sofa.
# # # # #
#Yunho Pov#
" Hyung! apa yang ingin kau bicarakan denganku? " Tanyaku pada Hyunjoong Hyung, setelah aku duduk di sofa yang ada di ruang CEO SHINKIent. Hyunjoong Hyung tampak menatapku dengan tersenyum.
" Tumben sekali kau datang secepat ini? " Dia beranjak dari kursi kerjanya, lalu berjalan kearah sofa yang bersebrangan denganku. setelah duduk dengan nyaman, ia terlihat mengeluarkan Handphone'nya dari saku jasnya, mendial beberapa nomer, lalu mendekatkan Handphone'nya ke daun telinga.
' ... '
" Jae, apa kau tidak ada kegiatan apapun? " Mwo! apa tadi dia bilang Jae? apa dia menelepon Jaejoong?
' ... '
" apa kau bisa datang ke perusahaan, ada yang ingin aku bicarakan denganmu. " Untuk apa Hyunjoong hyung menemui Jae juga? Apa dia juga akan menambah hari libur Jaejoong? C'k menyebalkan sekali.
' ... '
" Hyung, cepatlah katakan apa yang ingin kau bicarakan? " Ucapku tak sabar. Setelah Hyunjoong Hyung menyudahi acara obrolannya dengan orang di sebrang sana.
" Sabarlah, tunggu sampai orang yang tadi aku telepon datang, baru aku akan mengatakannya. "
Aish! kenapa harus menunggu manusia jadi-jadian itu. Bisa-bisa waktuku terkuras habis hanya untuk menunggu manusia Namja-Yeoja itu.
Tok tok tok
Suara pintu yang diketuk membuat aku sedikit tersentak, kulihat Hyunjoong Hyung menatap pintu. aku pun berbalik menatap pintu.
" Siapa? " Teriak Hyunjoong Hyung dengan masih menatap pintu.
" Ini aku Jaejoong. " Terdengar suara Jawaban dari luar, eoh! ternyata manusia Jadi-jadian itu sudah datang, tumben sekali dia, biasanya selalu telat.
Setelah Hyunjoong Hyung menyuruhnya masuk. Pintu itu pun terbuka dengan perlahan. Terlihat ia berjalan dengan santai kearah Hyunjoong Hyung dengan tersenyum.
" Hyung, ada keperluan ap- Jung! sedang apa kau disini? " Tiba-tiba saja ia berteriak dengan mata bulatnya yang makin membulat. Kenapa dia terkejut seperti itu ketika melihatku, apa aku mirip hantu Sodako apa? Dasar namja aneh.
" Memangnya kenapa eoh? " Teriakku dengan kesal. menatap tajam padanya.
" Duduk lah Jae, bertengkar itu bisa di selesaikan nanti, ada hal yang sangat penting dari pada itu. " Suara Hyun Hyung membuat aku beralih menatapnya. Sementara Namja-Yeoja itu duduk di sebelahku dengan jarak yang cukup jauh.
#Yunho Pov And#
# # # # #
" Kalian pasti sudah tahu 'kan, kalau agensi SHINKIent adalah perusahaan yang tergolong kecil? " Ucap Hyunjoong memulai pembicaraan. Yunho dan Jaejoong mengangguk kecil, ada rasa bingung di pikiran mereka, kenapa sang CEO malah menanyakan itu.
" Dan untuk membuat agensi ini berkembang menjadi lebih besar adalah dengan para Idol 'nya yang harus berkerja keras mendapatkan popularitas yang tinggi, benarkan? " Tanya Hyunjoong lagi. Namja berbeda marga di depannya terlihat semakin bingung, sebenarnya apa yang ingin sang CEO katakan pada mereka?
" Dan aku tahu bagaimana cara membuat perusahaan ini berkembang menjadi perusahaan besar. " Hyunjoong beranjak dari sofa menuju meja kerjanya, Ia buka laci yang di dalamnya terdapat beberapa kertas berwarna kecoklatan. Setelah mengambil kertas tadi, Hyunjoong kembali mendudukan dirinya di sofa.
" Apa itu Hyung? " Tanya Yunho ketika melihat kertas yang sengaja Hyunjoong jejerkan di meja. Jaejoong terlihat menatap Hyunjoong bingung lalu menatap kertas yang diletakkan dimeja.
" Yaitu... Dengan cara menjadikan kalian Couple. " Ucap Hyunjoong setelah selesai menjejerkan kertas-kertas tadi di meja.
Yunho dan Jaejoong tampak kaget dengan apa yang tadi Hyunjoong ucapkan, bagaikan di sambar petir Keduanya terlihat mematung dengan mata terbelalak sempurna.
" Hyung! Apa kau gila menjadikan aku dan manusia jadi-jadian ini Couple! " Perkataan Yunho sukses dihadiahi tendangan keras pada kakinya, siapa lagi pelakunya kalau bukan Jaejoong.
" Yah! Siapa yang kau bilang manusia jadi-jadian eoh?! " Amarah Jaejoong mulai menaik. Apa mukanya begitu mirip dengan hantu sampai namja di sampingnya ini menyebutnya manusia jadi-jadian.
" Celanaku! " Yunho menatap Jaejoong tajam, beraninya namja disampingnya ini mengotori celana kesayangannya yang baru ia pakai.
" Aish! lihatlah kelakuan kalian, memalukan sekali! " Ucap Hyunjoong dengan menggeleng-gelengkan kepalanya. " Umm... Baiklah, Yunho-ah kau tanda tangan semua kertas ini, dan kau Jae, tanda tangan kertas ini. " Hyunjoong membagi kertas-kertas tadi menjadi dua sama rata.
" Aku tidak mau! menjijikan sekali aku harus berpasangan dengannya. " Jaejoong mendelik ke arah Yunho.
" Siapa juga yang mau berpasangan denganmu! " Timpal Yunho.
" Yah! Yah! Yah! Ini untuk perusahan Yun-ah, Jae-ah, bukan untuk sekedar main-main saja. Ini juga bisa di bilang perkerjaan. Dan sangat mudah untuk melakukannya. Kalian tinggal berpura-pura mesra di depan layar, sangat mudah bukan?, hilangkan dulu rasa gengsi kalian dalam pekerjaan ini! , jadi cepatlah tanda tangan! " Mendengar celotehan Hyunjoong membuat mereka akhirnya terpaksa mendatangani semua kertas-kertas yang berisi perjanjian itu.
" semua sudah kalian tanda tangani? " Tanya Hyunjoong begitu ceria.
" Ne. " Jawab mereka dengan malas.
" Umm... baiklah, misi kalian adalah hanya berpura-pura menjadi sepasang kekasih, dan aku sudah membuat pekerjaan apa yang akan kalian kerjakan besok. " Hyunjoong tersenyum penuh arti pada Yunho dan Jaejoong. Sementara Mereka hanya pasrah saja dengan apa yang akan terjadi hari esok.
TBC
.
.
.
Jika ada yang tidak dimengerti, tanyakan saja OK!
REVIEW JUSEYO ~~~
