Chapter Two

Mikan's Life

Hai, aku Mikan Sakura, salah satu murid di Alice Academy. Sekolah ini hanya menerima anak-anak berkemampuan khusus saja. Dan ternyata aku memilikinya! Oh ya, belakangan ini aku sangat gembira. Kukira Natsume membenciku, tapi ternyata tidak. Yah… kelihatannya sih tidak. Dia memang masih memandang remeh dan suka mengejekku, tapi setidaknya dia sudah mau tersenyum padaku. Natsume memang aneh!

"Sakura! Cepatlah!" teriak Permy. Dia berkacak pinggang sepuluh meter di depanku, tidak sabar. Anak-anak yang lain sudah meninggalkan kami.

"Tunggu sebentar, aku… ahhhh!!!!" Buku-buku di pelukanku terjatuh. Selembar kertas terbang dan jatuh tepat di genangan lumpur.

"Dasar bodoh!" teriak Permy. Dia berjongkok di depan genangan lumpur itu. "Ini kan hasil pekerjaan kita, Sakura!"

"Apa?!"

Permy mengangkat kertas itu dengan jijik. Benar saja, samar-samar aku bisa membaca hasil praktikum kami minggu lalu. Tapi kertas itu sudah basah oleh lumpur, menjijikkan sekali.

"ARGHHHH!!!!"

Refleks aku menutup telinga. Teriakan Permy bisa membuat tuli.

"Bagaimana ini?! Padahal aku sudah susah payah menyusunnya!" amuk Permy.

"Tenang saja," kataku, "aku punya salinannya di kamar…"

"Kalau begitu cepat ambil! Kita harus menyerahkannya di pelajaran berikut!"

Aku berbalik dan lari kembali ke asrama. Huh, Permy memang galak! Aku menoleh ke belakang dan melihat dia masih melototiku, jadi aku mempercepat lari. Gawat, gawat. Aku hampir telat ke kelas berikutnya. Aku harus cepat mengambil salinan laporan itu! Tapi saat berbelok di tikungan sepi langkahku terhenti. Ada seseorang di ujung lorong ini. Dia terbatuk-batuk parah. Aku segera menghampirinya.

"Apa kau baik-baik saja?" tanyaku padanya.

Orang itu berbalik. Dia ternyata Natsume!

"Kau… uhuk! Uhuk!" Natsume batuk lagi. Kali ini darah keluar dari mulutnya.

"Kau tidak apa-apa?" tanyaku cemas. Keadaan Natsume kelihatannya parah. Seragamnya robek dan dipenuhi dedaunan kering. Rambutnya berantakan. Dan bukan hanya itu saja… ekspresi wajahnya sangat mengerikan. Ketika dia menoleh padaku, sepasang matanya yang tajam serasa membiusku, menghentikan pikiranku sejenak.

"Tidak usah ikut campur!" bentak Natsume. Dia mengelap darah di mulutnya dengan lengan seragamnya.

"Kau sakit!" aku ikut membentak. "Ayo ikut aku ke UKS!"

Aku menggamit lengan Natsume. Tapi dia tidak beranjak. Alisnya sedikit naik.

"Ayo!"

Mendadak Natsume mendorongku ke tembok. Kami berhadap-hadapan, dekat sekali. Mukaku langsung memanas.

"Eh… Natsu…?"

Kata-kataku terhenti. Natsume mendadak menciumku. Aku tersentak. Tapi aku tidak bisa menghentikannya… entah mengapa. Aku merasakan asin di bibir Natsume. Pasti darahnya tadi. Aku memejamkan mata, tidak peduli apapun lagi. Ciuman Natsume telah membiusku.

Mendadak dia melepaskan diri. Aku membuka mata dan langsung bertatapan dengannya. Mukaku merah padam.

"A-apa yang kaulakukan, Natsume?"

Dia hanya terdiam.

Kami berpandangan beberapa lama. Lalu Natsume berbalik dan pergi. Lari. Aku hanya bisa membisu memandang punggungnya, sama sekali lupa pada Permy dan tugas kami.

***

"ra… Sakura!"

"Hah?" aku tersentak.

Permy melotot padaku. "Kau yang menyapu bagian depan, ya!" perintahnya.

Aku mengeluh. Benar-benar bodoh, tadi pagi aku kembali ke kelas tanpa membawa salinan laporan itu. Padahal pelajaran sudah mulai. Dan karena tidak mengumpulkan tugas maka Pak Misaki menghukum kami menyapu halaman akademi ini. Arghh!!! Kenapa aku bisa lupa ya? Ini semua gara-gara Natsume…

"Kenapa kau melamun terus?" Hotaru bertanya padaku. Dia asyik makan ubi bakar dengan Nonoka sambil menonton aku dan Permy bekerja.

"Aku tidak melamun," bantahku.

"Tapi pandanganmu tadi kosong dan mukamu sedikit memerah," kata Nonoka.

"Masa?" tanyaku tidak peduli. Aku menggerak-gerakkan sapu dengan malas. Dedaunan kering yang sudah kusapu diterbangkan oleh angin, menyebar lagi. Usahaku sama sekali tidak ada gunanya.

"Jangan-jangan kau memikirkan cowok?"

"Natsume, ya?" tebak Hotaru.

"Apa?!" aku terperanjat.

"Apa?!" Permy yang kebetulan mendengar juga kaget. "Berani-beraninya kau, Sakura!"

"Memangnya siapa yang memikirkan Natsume?!" tanyaku dengan wajah memerah. "Tidak ada!"

Sementara aku dan Permy saling memukul dengan sapu, Hotaru tetap melahap ubi bakar dengan santainya, dan Nonoka berkomentar, "Ngomong-ngomong tentang Natsume… kenapa seharian ini dia tidak ikut pelajaran ya?"

"Dia sakit, mungkin di UKS," kataku.

"Tapi aku baru saja dari UKS," timpal Hotaru. "Hanya ada dokter di sana."

Aku membisu. Entah kenapa firasat buruk terlintas di kepalaku.

***

Esoknya Natsume tidak masuk sekolah lagi. Bangku yang biasanya kami pakai bertiga sekarang hanya diduduki aku dan Luca.

"Eh, Luca, kenapa Natsume tidak masuk?" bisikku.

"Aku tidak tahu," bisik Luca. "Mungkin dia sakit."

"Oh." Hanya itu yang bisa kukatakan.

***

Esoknya Natsume tidak masuk lagi. Esoknya lagi juga. Berhari-hari Natsume tidak masuk tanpa keterangan sama sekali. Aku sudah mencoba bertanya pada Pak Narumi, tapi dia sendiri tidak tahu. Aku jadi khawatir. Pasti sesuatu telah terjadi padanya.

"Eh… Hotaru? Kenapa kau memakai pakaian itu?" tanyaku heran. Aku baru sadar Hotaru telah berganti pakaian. Dia kini memakai sejenis terusan berwarna hitam dan topeng hitam yang telah dilubangi bagian matanya.

"Kita harus menyelidiki Natsume," katanya, "bukan begitu?"

Dia menoleh ke sampingnya. Ada Luca, Permy dan iinchou. Mereka semua memakai terusan yang sama seperti Hotaru. Entah sejak kapan.

"Imai?" panggil Luca ragu-ragu. "Kurasa kostum ini agak…"

"Sangat sesuai untuk penyelundupan," potong Hotaru. Dia menyodorkan sebuah terusan lagi padaku. Aku memakainya dengan ragu. Bagus, sekarang kami tampak seperti lima orang pencuri bertopeng. Tapi lumayan juga. Hari sudah gelap, orang-orang pasti susah melihat kami yang berpakaian serba hitam.

"Jadi kita mau menyelidiki ke mana?" tanyaku.

"Langsung ke kamar Natsume," jawab Hotaru. "Ayo jalan."

Kami menyesulup dengan hati-hati, berusaha menghindari pengurus asrama. Tak lama kemudian kami sampai di depan kamar Natsume. Hotaru mengetuk pintu. Tidak ada jawaban. Tentu saja. Sudah seminggu ini aku berkali-kali mengetuk pintu itu dan tidak ada jawaban sama sekali. Tapi ternyata Hotaru sudah mengantisipasinya. Dia mengeluarkan dua potong kawat panjang dan memasukkannya ke lubang kunci. Kami menunggu dengan tegang.

Tak lama kemudian terdengar bunyi klek. Kunci berhasil terbuka! Aku meraih gagang pintu dan membukanya. Kamar itu sepi dan gelap. Ketika aku menyalakan saklar, sinar lampu langsung menerangi semuanya: tempat tidur berantakan dengan beberapa bercak darah di seprai, makanan dalam mangkuk yang sudah basi, beberapa botol obat yang isinya berhamburan.

Tapi Natsume tidak ada di sini.

to be continued


Akhirnya chapter dua saia update juga! Wakaka maaf lama banget… Sebenernya saia udah putus asa nggak dapet ide dan berniat namatin ni fanfic di chapter ini. Eh, tapi begitu mood nulis balik lagi malah jadi keterusan… akhirnya saia bikin satu chapter lagi.

Chapter terakhir, chapter three, diambil dari sudut pandang umum. Eh, namanya sudut pandang apa ya? Yang jelas bukan sudut pandang Natsume atau Mikan lagi… (harap maklum, waktu guru nerangin pelajaran ini saia malah rame sendiri)

Review ya ^^