Summary: Seulas senyum tadi kembali terbayang di kepalanya. Seulas senyum yang terakhir kali dia lihat.
Disclaimer: Gakuen Alice © Tachibana Higuchi. Their Life © cHeCoLaZzO
Oke, ini dia the last chapter. Makasih buat yang udah review. Saran-saran kalian membantu banget. Oh, ya Hyuu-chan, chapter yang lalu aku memang sengaja pakai nama 'Permy' karena itu Mikan's POV. Tapi karena sekarang normal POV, aku ganti jadi Sumire. Sori ada beberapa kesalahan nama di chapter sebelumnya. Yang bener memang Nonoko bukan Nonoka.
Enjoy! :D
Chapter Three
Our Life
Mikan terbelalak. Matanya memandang berkeliling dengan ketakutan. Seprai bernoda darah terpasang berantakan di kasur Natsume. Di lantai berserakan tablet-tablet obat yang tumpah dari stoples. Bau makanan yang sudah basi pun membuat siapa saja tahu bahwa kamar ini sudah lama ditinggalkan.
Hotaru cepat-cepat menindih tangan Mikan yang masih berada di atas saklar. Lampu pun padam.
"Kenapa kau mematikannya?" tanya Mikan.
"Terlalu riskan. Lebih baik kita memakai ini," kata Hotaru sambil mengeluarkan beberapa senter dan membagikannya pada mereka.
Tobita menutup pintu dan segera saja kamar itu menjadi gelap gulita. Hotaru menyalakan senternya. Perlahan dia mengarahkan senter itu ke noda darah di seprai. Sumire memekik pelan, terkejut.
"Itu… darah…?"
Hotaru memeriksa seprai itu dengan teliti. Mikan mengangkat mangkuk berisi makanan basi sambil mengernyit. Tidak sengaja pegangannya terlepas.
Prang!
"Goblok!" desis Hotaru.
Mikan nyengir minta maaf. Lantai kini penuh dengan pecahan beling, bercampur dengan tablet-tablet obat. Mikan memungut beberapa dan mengangsurkannya pada Tobita.
"Menurutmu obat apa ini?"
Sambil mengernyit Tobita berkomentar, "Aku belum pernah melihat yang seperti ini. Memang bentuknya terlihat umum, tapi warna obat ini janggal… hitam, merah dan hijau, ada yang pernah melihat?"
Semua menggelengkan kepala. Mereka pun berpencar untuk mencari petunjuk lain. Luca membuka lemari pakaian yang ternyata isinya berantakan. Hotaru masih memeriksa noda darah dengan cermat. Mikan dan Tobita menunduk berdekatan, mengamati tablet aneh itu, sementara Sumire beranjak ke kamar mandi. Dia langsung menjerit setelah membuka pintu.
"Ada… ada banyak darah di sini!" katanya sambil menutup mulut.
Yang lain segera mengerumuni kamar mandi. Benar saja, sinar senter mereka langsung jatuh pada bercak-bercak darah merah kental di lantai kamar mandi. Tampaknya seseorang terluka di sana. Mikan membuang muka, jijik.
"Apa seseorang telah melukai Natsume?" bisik Luca khawatir.
Semua terdiam. Tampaknya Natsume telah mendapat masalah, pikir Mikan. Gelombang kekhawatiran segera melandanya dengan hebat ketika teringat pertemuan terakhir mereka. Waktu itu Natsume muntah darah. Jadi apakah dia muntah-muntah di sini, kesakitan lalu…?
"Bodoh sekali kalian."
Mikan mendongak. Suara Hotaru yang dingin itu membelah kesunyian mencekam di kamar ini.
"Apa kalian tidak melihat dengan cermat?" kata Hotaru, "darah ini… semua darah ini bukan darah manusia. Ini darah hewan."
"Bagaimana kau bisa tahu?"
"Pengalaman," jawab Hotaru sederhana. "Darah palsu ini menjawab semuanya. Dan kurasa makanan basi dan obat-obatan itu pun diatur dengan sengaja."
"Tapi apa maksudnya?" tanya Luca bingung.
"Untuk mengecoh kita, tentu."
***
Pak Narumi dan Pak Misaki berjalan berdampingan di lorong. Keduanya membawa setumpuk buku tebal di tangan sambil berkeluh kesah tentang kelakuan anak-anak didik mereka yang makin nakal.
"Aku duluan, Misaki," kata Narumi. Dia sudah sampai di depan pintu kamarnya. Misaki hanya mengangguk dan menuju ke kamarnya sendiri.
Ketika Narumi meraih gagang pintu, dia langsung mengetahui ada yang tidak beres. Pintu itu sudah terbuka sedikit. Dengan waspada Narumi membuka pintu itu perlahan. Kegelapan total langsung menyambutnya. Dia melangkah masuk dengan hati-hati.
Mendadak lima sosok hitam menyergapnya.
"Arghhh!"
Lima menit kemudian Narumi sudah terikat di kursi, meronta-ronta, mulutnya disumpal kain. Seseorang menyalakan lampu dan dia terkesiap ketika melihat siapa saja yang menyergapnya: Hotaru, Mikan, Sumire, Tobita dan Luca. Semua memakai terusan hitam aneh. Pantas tadi dia sulit melihatnya.
Hotaru mengambil kain penyumpal di mulut Narumi. Dia lalu mendekatkan wajahnya sambil berkata dingin, "Di mana Natsume?"
"Sudah kubilang aku tidak tahu," kata Narumi.
Mereka berlima saling berpandangan. Hotaru mengangguk dan Tobita langsung melancarkan alice ilusinya pada Narumi. Hal-hal menakutkan langsung terbayang di kepala Narumi. Dia menjerit ketika mendapati dirinya jatuh ke jurang yang dalam. Di dasarnya terdapat banyak makhluk-makhluk aneh yang membuka mulut, siap melahap tubuhnya…
"Cukup," kata Hotaru.
Narumi membuka mata. Napasnya terengah-engah. Dia tidak menyangka kemampuan alice Tobita sehebat itu. Kelebatan bayang-bayang mengerikan tadi masih terlintas di kepalanya, membuat dia sangat ketakutan. Tapi dia tidak akan menyerah melawan anak-anak SD ini. Jadi dia tetap bungkam.
"Kau masih belum mau bicara? Kalau begitu berikutnya kita coba ini," Hotaru mengeluarkan sepasang sandal yang alasnya dipenuhi duri. Orang yang memakai sandal itu pasti telapak kakinya langsung berlubang.
"Sudahlah," kata Narumi pasrah, "akan kuceritakan pada kalian."
Mereka berlima berpandangan dengan senang. Walaupun mengancam guru termasuk pelanggaran berat, tapi mereka rela melakukannya demi mendapat informasi tentang Natsume.
"Jadi apa yang ingin kalian ketahui?" desah Narumi.
"Kenapa Natsume tidak masuk berhari-hari tanpa kabar. Kenapa kamarnya berantakan dan penuh bercak-bercak darah. Kenapa kalian membuat kamuflase soal kamar itu. Kami sudah menyadari kalau darah itu darah hewan," kata Hotaru.
Narumi terkesiap. Dengan segan dia mulai menjelaskan, "Sebenarnya ada pihak luar yang sangat menginginkan Natsume. Alice fire miliknya hebat, dan jelas bisa membantu aksi-aksi kejahatan mereka. Sudah sebulan ini mereka mengejar-ngejar Natsume. Pihak sekolah pun kerepotan menjaga keamanannya. Beberapa hari lalu diketahui ternyata orang-orang tersebut sudah berhasil masuk kompleks akademi ini. Dan mereka berhasil menemukan Natsume."
"Jadi…?" Mikan terbelalak.
"Tenang saja. Dia berhasil lolos. Kendati begitu kesehatannya makin memburuk karena mendapat banyak tekanan. Jadi sementara ini kami merawat sekaligus melindunginya di salah satu tempat tersembunyi dalam akademi. Dan kami membuat tipuan di kamarnya sehingga seandainya orang-orang itu mendobrak masuk pasti berpikir kalau Natsume telah terluka parah. Dengan begitu mungkin mereka menyerah mengejarnya," tutur Narumi panjang lebar.
"Pertemukan kami dengannya," kata Sumire tegas.
"Kalau begitu lepas dulu ikatan tanganku ini," kata Narumi.
Sebersit rasa curiga melintas di kepala Hotaru. Narumi tadi berkeras tidak mau bercerita, tapi kenapa sekarang dia dengan cepat menyetujui untuk membawa mereka ke sana? Tapi tampaknya yang lain tidak peduli. Jadi Hotaru diam saja.
"Terima kasih anak-anak," kata Narumi riang setelah Luca membebaskannya. "Dan sekarang… saatnya kalian tidur."
Mendadak Narumi mengecup pipi mereka satu persatu sambil mengerahkan alice pheromone-nya. Mereka pun langsung pingsan, mabuk. Hotaru sempat bertahan berkat baka gun-nya, tapi dengan cepat Narumi membuatnya pingsan dengan satu kecupan di dahi.
"Akhirnya beres juga. Maaf, tapi kalau tidak begini kalian akan bertindak nekat," Narumi bergumam sambil mengamati anak-anak yang kini sudah pingsan semua di lantai.
Semua?
Tidak. Saat membalikkan tubuhnya Narumi melihat Mikan masih berdiri, sepasang matanya yang cokelat gelap menatap dengan sorot penuh tekad. Tentu saja. Dia memiliki nullification alice sehingga tidak mempan terhadap alice orang lain yang dilancarkan padanya.
"Aku ingin melihat Natsume," kata Mikan tegas.
Narumi terdiam. Wajah Mikan yang biasanya polos dan ceria kini tampak serius. Matanya sedikit berkaca-kaca.
"Baiklah."
***
Malam itu indah. Bintang-bintang bertaburan di langit, berkelap-kelip mendampingi cahaya rembulan. Mikan akan mengagumi itu semua seandainya dia tidak sangat cemas sekarang. Narumi menggandeng tangannya, dan mereka berjalan berhati-hati ke tempat persembunyian Natsume.
Narumi membawa Mikan ke salah satu bangunan kosong dekat asrama SD. Dalamnya tidak terurus, debu di mana-mana. Narumi menggeser sebuah ubin dari lantai dan ternyata ada tangga menuju ke bawah. Dia membimbing Mikan turun. Tangga itu cukup panjang. Mikan mengernyit. Dia baru tahu di akademi ini ada tempat persembunyian bawah tanah.
Tangga itu berakhir di awal lorong yang gelap, hanya diterangi oleh beberapa buah obor. Narumi mengambil satu dan kemudian mereka melintasi lorong itu dengan hati-hati. Mikan menggandeng sebelah tangan Narumi dengan cemas. Dinding batu berlumut dan sarang laba-laba di mana-mana membuat perasaannya tidak enak. Setelah berjalan beberapa lama akhirnya lorong itu berakhir di sebuah ruangan yang dibatasi jeruji besi.
"Mikan, Natsume ada di sana," bisik Narumi.
Mikan terperangah. Benar saja, seorang anak lelaki duduk di pojok ruangan. Dia mendongak kaget ketika melihat Mikan.
"Na-natsume," panggil Mikan. Dia mengguncang-guncang jeruji itu dengan lemah.
Natsume bangkit dan menghampirinya. "Kenapa kau ada di sini?" tanyanya heran. Kemudian matanya menangkap sosok Narumi dan dia langsung berkata marah, "Dasar idiot! Kenapa kau membawanya ke tempat ini? Di sini sangat berbahaya!"
"Kurasa ada yang ingin dikatakan Mikan padamu," kata Narumi. Dia berbalik dan berjalan menjauhi mereka.
Natsume memandang Mikan dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Mikan pun hanya diam. Dia tidak mengerti perasaan aneh yang kini berkecamuk di dadanya.
"Bagaimana penyakitmu?" tanya Mikan.
"Tidak apa-apa," jawab Natsume datar.
Sunyi lagi.
"Aku… senang kau datang," kata Natsume.
Mikan tersenyum. Natsume mendapati dirinya sekali lagi terpesona pada senyuman itu. Mikan memang tidak terlalu cantik, tapi manis, dan seulas senyum ceria membuat wajahnya bersinar. Tapi dia harus segera menghapus bayangan itu dari kepalanya.
"Mikan, dengarkan aku," kata Natsume serius. "Kuharap kau tidak memberitahu siapa-siapa tentang pertemuan kita ini. Bahkan Luca dan si judes itu. Sangat berbahaya bila berita itu menyebar dan sampai ke tangan mereka. Kau bahkan bisa ikut terseret."
"Apa keadaan sudah benar-benar serius?" tanya Mikan. Natsume mengangguk pelan.
"Kau akan tetap di akademi ini kan, Natsume?" tanya Mikan lagi.
Natsume hanya terdiam.
"Kau akan tetap di sini kan?" ulang Mikan.
Natsume menunduk menghindari tatapannya.
"Jawab pertanyaanku, Natsume!"
"Aku tidak bisa berjanji," kata Natsume dingin. Kendati begitu perlahan dia menggenggam tangan Mikan melalui sela jeruji besi itu.
Mikan merasa matanya memanas. Genggaman Natsume hangat, membuatnya damai, tapi perasaan sedih ikut menyeruak di hatinya. Pandangan mata Natsume yang lembut membuat air matanya tidak terbendung lagi. Setetes air mata mengalir di pipinya. Lalu satu lagi. Dan satu lagi. Mikan mulai terisak. Natsume hanya bisa memandangnya dengan sedih.
"Mikan, sudah waktunya pergi," kata Narumi. Tanpa mereka sadari dia sudah ada di belakang mereka lagi.
"Bisa minta waktu sedikit lagi?" tanya Mikan sambil menghapus air matanya.
"Tidak bisa. Sebentar lagi bagian kesehatan akan datang, gawat kalau dia mendapati kau ada di sini," kata Narumi.
"Kalau begitu aku pergi dulu, Natsume," kata Mikan, berusaha tampak ceria. Tapi gagal. Setetes air mata jatuh lagi ke pipinya. Natsume menghapus dengan tangannya perlahan.
"Kita pasti berjumpa lagi," kata Natsume.
Mikan langsung tersenyum cerah. "Janji ya," katanya sambil mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Natsume. Natsume hanya tersenyum sedih. "Kalau begitu aku pergi dulu."
Mikan pun berjalan menjauh dengan ringan karena sesuatu yang mengganjal di hatinya sudah berkurang. Sebelum mengikutinya Narumi berkata masam pada Natsume, "Kau tidak perlu berjanji seperti itu padanya."
"Tapi kami memang akan bertemu lagi," kata Natsume dingin.
"Kau tahu berkas-berkas kepindahanmu sudah lengkap? Kau akan dipindahkan ke tempat persembunyian yang lebih aman segera…"
"Diam kau!" bentak Natsume.
Narumi mengangkat bahu dengan pasrah. Dia berbalik dan mengikuti Mikan yang sudah jauh di depan. Natsume mengamati kepergian mereka berdua dengan sedih. Seulas senyum Mikan tadi kembali terbayang di kepalanya. Senyuman terakhir yang dia lihat.
The End
Akhirnya selesai juga! Lega deh! Makasih banget buat yang review selama ini. Saran-saran kalian berguna banget! Maaf atas segala kekuranganku selama buat fanfic ini. Tapi aku berusaha merbaikin semuanya dengan keinginan jadi lebih baik. Fight!
Please review :D
