Author : Liu
Title : Complicated Love
Cast : Joonhwae, Donghyuk, Bobby, Jinhwan, Hanbin & Yunhyeong
Length : Chapters
Rated : T
Gender : Romance, Friendship.
Disclaimer : Mereka semua bukan punya saya, ceritanya punya saya.
Warning : Gender switch.
.
GinLiu Present
.
Happy Reading
.
.
Jinhwan bangaun cukup siang, semalam Booby bermain cukup kasar, tubuh Jinhwan sangat sakit sekarang. Baru saja Jinhwan akan beranjak turun dari tempat tidur, sebuah tangan melingkar dipinggangnya.
"Mau kemana manis?" Jinhwan tersenyum kecil dan kembali membaringkan tubuhnya disamping Bobby.
"Aku mau mandi. Badanku terasa lengket semua,"
"Sekalian saja nanti. Kita morning sex dulu bagaimana?" Jinhwan memandang horror Bobby dan hanya ditanggapi tawa bodoh namja itu.
"Donghyuk dan Joonhwae akan sekolah. Aku mau membuat sarapan," Bobby tidak bergeming dan tetap memeluk Jinhwan erat, bahkan kini sudah mengecup ringan leher Jinhwan. "Bobby…"
"Kau tidak akan kemanapun sebelum kita melakukan morning sex."
"Kyaa, Bobby…"
.
.
Joonhwae menatap malas pintu kamar Bobby dan Jinhwan. Desahan-desahan nista dari dalam sana terdengar jelas diluar. Donghyuk menopang dagunya dihadapan Joonhwae menunggu namja itu selesai memanggang roti. Joonhwae dan Donghyuk sama-sama menoleh saat mendengar pintu terbuka, disana terlihat Yunhyeong dan Hanbin. Yunhyeong Nampak memakai jaket tebal dan wajahnya juga pucat.
"Eonnie, kau baik-baik saja?" Yunhyeong tersenyum lemah sebagai jawaban pertanyaan Donghyuk.
"Yunhyeong hanya demam, aku akan mengatarnya kedokter." Donghyuk mengangguk mengerti dan kembali menatap Joonhwae.
"Apa rotinya masih lama?"
"Sebentar lagi,"
"Joonhwae, kapan terakhir kita melakukan hubungan sex?" Joonhwae terdiam, jujur dia sendiri tidak ingat.
"Tiga bulan lalu, mungkin." Donghyuk terdiam, entah kenapa ada namja seperti Joonhwae, tidak terangsang sama sekali mendnegar desahan Jinhwan. Apa lgi didepan mata namja itu kini sedang duduk seorang yeoja sexy seperti Donghyuk.
"Kau tidak ingin Joonhwae?" Joonhwae terdiam, desahan Jinhwan membuatnya terpancing. Tapi dia masih ingat Donghyuk punya test yang harus diselesaikan. Dia bisa melakukan 'itu' nanti malam.
"Kau punya test yang harus diselesaikan. Focus pada itu, arra," Baik, kesabaran Donghyuk habis sekarang. Yeoja itu segera saja naik keatas meja dan melumat bibir Joonhwae.
"Aku tidak perduli pada test bodoh itu. Aku ingin kau sekarang. Kenapa kau ini sangat tidak peka," Donghyuk turun dari meja dan duduk dipangkuan Joonhwae. "Kau tidak rindu tubuhku Joonhwae. Sekarang, aku sangat rindu padamu." Joonhwae sudah gelap mata sekarang. Namja tamapan itu segera saja menarik wajah Donghyuk dan melumatnya dengan kasar.
"Joonhwae…"
Nafas Donghyuk dan Joonhwae sama-sama terdengar berat, tangan Donghyuk mulai bergerak membuka jas dan kemeja sekolah yang dipakai Joonhwae. Tangan Donghyuk juga mulai bekerja membuka seragam sekolah Donghyuk. Kain-kain itu segera saja tergeletak dilantai dapur. Joonhwae menahan punggung Donghyuk dan membawa yeoja manis itu berdiri. Reflex, Donghyuk melingkarkan kakinya kepinggang Joonhwae.
"Berdiri atau ditempat tidur?" Sungguh, Donghyuk ingin menendang namja yang sedang memeluknya sekarang. Joonhwae itu tidak perlu bertanya.
"Dikamar."
.
.
"Joonhwaee, faster…" Donghyuk meremas bantal yang ada dikepalanya. Diatas tubuhnya, Joonhwae bergerak dengan brutal.
"Donghyuk…" Joonhwae makin cepat bergerak, tubuhnya merendah untuk mencium bibir Donghyuk.
"Akhh…" Pekikan dua orang itu menandai akhir pergulatan mereka hari ini. Joonhwae menjatuhkan tubuhnya, agak menyamping agar tidak terlalu menindih Donghyuk.
"Joonhwae, kau berat." Joonhwae tersenyum kecil dan menggeser tubuhnya menjauh dari tubuh Donghyuk.
"Ternyata aku memang sangat merindukan tubuhmu." Donghyuk terkekeh kecil dan merapatkan tubuhnya pada Joonhwae.
"Dasar," Joonhwae menjauhkan tubuh Donghyuk dari tubuhnya dan memandangi yeoja itu dengan intens. "Joonhwae, ada apa?"
Joonhwae tidak menjawab. Pandangannya tertuju pada tubuh Donghyuk. Yeoja itu punya tubuh yang sempurna. Walau dianatara Jinhwan, Yunhyeong dan Donghyuk, Donghyuk yang paling muda, namun yeoja itu punya badan terbaik. Donghyuk punya wajah yang cantik. Tubuhnya tinggi, itu seimbang dengan Joonhwae yang juga tinggi. Dada Donghyuk sangat padat, tidak besar, namun sangat kencang. Perut Donghyuk sangat indah, abs '11' miliknya terbentuk dengan sempurna, berbeda dengan Joonhwae yang sama sekali tidak merawat tubuhnya. Kaki panjang Donghyuk sangat indah, itu salah satu bagian tubuh Donghyuk yang sangat Joonhwae sukai.
"Joonhwae ada apa? Kenapa kau memandangiku seperti itu?"
"Aku sedang mengagumi kesempurnaan." Donghyuk tertawa kecil mendengar apa yang dikatakan Joonhwae.
"Makanya kau harus mulai ikut olahraga bersamaku. Supaya badanmu bagus seperti Bobby Oppa." Joonhwae tertawa,
"Untuk apa. Aku sudah tampan, jika aku tampan dan tubuhku bagus. Semua yeoja akan menyukaiku." Donghyuk berdecak meremehkan dan menatap Joonhwae tajam. "Wae?"
"Kalau kau berani melakukan itu. Aku akan mengebirimu Goo Joonhwae."
"Jika kau mengebiriku. Siapa yang akan memuaskanmu lagi," Donghyuk tersenyum kecil dan mearih junior Joonhwae.
"Ayo kita bermain sekali lagi. Siapa tau aku mengebirimu besok, ini bisa jadi perpisahan." Joonhwae tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Donghyuk.
.
.
Jihwan merengangkan tubuhnya yang terasa kaku semua, yeoja itu menghela nafas kecil melihat seragam dua dongsaengnya tergeletak dilantai.
"Sudah kuduga pasti begini," Jinhwan segera saja memunguti baju-baju itu dan membawanya kekeranjang pakaian kotor.
"Siapa yang bertugas laundry baju hari ini," Jinhwan menatap potongan kertas yang tertempel didekat keranjang pakaian. "Yunhyeong ya. Aigho, yang benar saja. Aku yang pergi lagi,"
"Pagi eonnie…" Jinhwan menoleh saat mendengar Donghyuk menyapanya. Yeoja itu segera saja tersenyum dan membawa keranjang pakaian pada dongsaengnya itu.
"Donghyuk. Kaukan tidak sibuk, kau pergi laundry ya. Pergilah bersama Joonhwae."
"Memangnya eonnie akan melakukan apa? Kenapa menyuruhku? Inikan bukan jadwalku,"
"Issh, kau ini. Ini jadwal Yunhyeong. Dia tidak ada, aku akan memasak." Donghyuk menghela nafas kecil dan mengalah.
"Baiklah eonnieku yang cantik." Donghyuk berjalan meninggalkan Jinhwan dan pergi kekamarnya "Joonhwae…!"
"Dasar anak itu," Jinhwan tersenyum sendiri mendengar Donghyuk yang berteriak membangunkan Joonhwae.
.
.
"Jadi, Yunhyeong sebenarnya sakit apa?" Jinhwan bertanya dengan tetap melanjutkan masakannya. Dibelakangnya Hanbin menghela nafas kecil dan menggeleng.
"Dokter bilang Yunhyeong hanya demam. Tapi semalam dia menangis tanpa henti. Dan dia meminta untuk pulang, dia bilang akan disana selama tiga hari," Jinhwan terdiam.
"Mungkin dia marah padamu,"
"Aku sudah membujuknya untuk mengatakan apa salahku, tapi dia bersikeras tidak mau memberitahunya. Aku bingung sendiri,"
"Apa karena aku?" Jinhwan menoleh pada Hanbin, namja itu Nampak kaget, "Apa dia marah karena kita?" Hanbin menggeleng,
"Tidak mungkin. Bukankah kita sudah lama seperti ini,"
"Ya kita. Tapi tidak dengan Yunhyeong."
"Menurutmu apa Jinhwan?"
"Dia cemburu Hanbin. Kau selalu memperlakukanku sebagai sahabatmu, saudaramu bahkan kekasihmu. Tapi kau hanya memperlakukan Yunhyeong sebagai kekasih dan tempat pelampiasan nafsumu."
"Aku tidak begitu Jinhwan,"
"Benarkah?" Hanbin terdiam, mungkin yang dikatakan Jinhwan benar. Dia sudah lama bersama Jinhwan, sedangkan sekarang dia baru saja sedang mengenal Yunhyeong. "Kau tidak bisa menjawabnya. Benarakah hanya seperti itu posisi Yunhyeong dihatimu Hanbin?"
"Tidak, dia bukan hanya pelampiasan nafsuku."
"Lalu?"
"Dia kekasihku,"
"Aku?"
"Kau sahabatku." Jinhwan tersenyum,
"Mulai sekarang. Cobalah untuk tidak melewati batas itu, jika memang kau menganggap Yoonhyeon kekasihmu, bukan pelampiasan nafsumu."
"Jinhwan apa maksudmu?"
"Kurasa aku cukup jelas Hanbin," Jinhwan tersenyum kecil dan keluar dari dapur, meninggalkan Hanbin yang masih terdiam.
.
.
"Aku tidak mau," Jinhwan melipat tanganya didepan dada dan menatap malas Bobby.
"Wae? Dulu kau yang setuju dengan ini,"
"Bobby, bertukar kekasih itu bukan ide yang bagus."
"Aku setuju," Jinhwan menatap tajam kearah Hanbin, ternyata namja ini tidak menepati kata-katanya.
"Aku juga setuju eonnie," Jinhwan menatap Donghyuk yang terlihat semangat, dan beralih menatap Joonhwae yang terdiam. "Eonnie, ayolah. Hanya dua minggu kedepan,"
"Dua minggu tidak lebih,"
"Baiklah, bagaimana pertukarannya?" Bobby menatap lima orang yang ada didalam ruangan itu seakan bertanya.
"Bukankah semua itu sudah sangat jelas," Joonhwae berkata sambil berjalan menjauh menuju kamarnya.
.
.
Joonhwae keluar kamarnya saat sudah malam, dia melewatkan makan malam bersama. Mata namja tinggi itu menatap Hanbin dan Jinhwan yang sedang berdiri saling berpelukan dipagar balkon. Bobby dan Donghyuk sedang duduk saling bersandar diruang tengah. Sudah Joonhwae duga, semua akan seperti ini.
"Aku pulang…"
Joonhwae menatap kearah pintu masuk dan mendapati Yunhyeong disana. Joonhwae sempat lupa ini sudah tiga hari sejak Yunhyeong pulang kerumahnya. Yunhyeong terpaku tidak bergerak dari pintu, matanya menatap nanar kearah Hanbin dan Jinhwan. Segera saja Joonhwae menarik gadis itu masuk kedalam kamarnya dan memeluknya erat. Tangisan Yunhyeong segera saja mengalir membasahi baju Joonhwae. Joonhwae hanya bisa berusaha menenangkan gadis itu dengan mengelus rambut panjang gadis itu.
"Joonhwae…"
"Tenang saja, semua hanya sementara. Kau tidak perlu menjalaninya jika tidak mau."
"Apa aku memang setidak berharga itu sampai…"
"SStt…" Joonhwae makin erat memeluk Yunhyeong.
"Joonhwae,kenapa Hanbin seperti ini.."
TBC
