Author : Liu

Title : Complicated Love

Cast : Joonhwae, Donghyuk, Bobby, Jinhwan, Hanbin & Yunhyeong

Length : Chapters

Rated : T

Gender : Romance, Friendship.

Disclaimer : Mereka semua bukan punya saya, ceritanya punya saya.

Warning : Gender switch.

.

GinLiu Present

.

Happy Reading

.

.

Joohnwae berjalan melewati sofa tanpa menoleh kearah Donghyuk dan Bobby. Joonhwae meraih sebotol air mineral dari lemari dan mengambil sepiring makanan dari atas meja,lalu kembali berjalan kekamarnya.

"Joonhwae," Namja tinggi itu menoleh saat merasa namanya dipanggil. "Kau mau makan dimana? Jangan mengotori tempat tidur dengan makan disana." Joohnwae tersenyum kecil pada Donghyuk.

"Aku membawakan Yunhyeong makanan. Lagi pula, bukankah disana bukan kamarmu lagi," Joonhwae mengatakannya sambil lalu membuat Donghyuk terdiam.

.

.

"Aku akan makan sendiri Joonhwae,"

"Tidak, kau sedang sakit, jadi aku yang akan meyuapimu."

"Aku sudah baik-baik saja bodoh. Aku sudah sembuh,"

"Tubuhmu mungkin sembuh, tapi bagaimana dengan hatimu?" Yunhyeong terdiam mendengar apa yang dikatakan Joonhwae. Namja itu benar, hantinya lah yang sedang terluka sekarang.

"Kenapa kau setuju dengan ini Joonhwae?"

"Aku ingin membiakan Donghyuk memilih. Dia sebenarnya menyukaiku atau tidak,"

"Kau tidak takut Donghyuk benar-benar jatuh cinta pada Bobby?"

"Untuk apa? Bobby dan Jinhwan nunna sudah terlalu lama bersama. Bahkan sebelum kita bertiga masuk keapartement ini. Jadi aku cukup percaya diri Bobby, tidak mungkin meninggalkan Jinhwan nunna."

"Tapi bagaimana dengan Jinhwan dan Hanbin, bukan mereka juga sudah bersama cukup lama." Joonhwae terdiam, dia bingung akan menjawab apa pada Yunhyeong. "Bukankah sejak awal, hubungan mereka bertiga rumit Joonhwae?"

"Yunhyeong…"

"Aku hanya tempat lari Hanbin, Joonhwae. Aku hanya tempat pelampiasan sakit hati Hanbin. Bukankah sejak dulu Hanbin itu menyukai Jinhwan, bukan aku."

"Jangan berkata begitu Yunhyeong. Hanbin…."

"Kau tidak mengerti Hanbin, aku yang mengerti dia Joonhwae. Aku yang mengerti dia, tapi dia tidak pernah mengerti aku sedikitpun. Dia selalu bepura-pura bertingkah memperhataikanku, tapi nyatanya pandangannya tidak pernah lepas dari Jinhwan." Yunhyeong mulai menangis lagi. Reflex Joonhwae segera menarik yeoja itu dalam pelukannya.

"Menangislah, aku menemanimu."

"Joonhwae, kenapa aku harus mencintai Hanbin. Kenapa aku harus terlalu dalam mencintainya..?"

.

.

Yunhyeong keluar dari kamar Joonhwae, umm, mungkin itu juga kamarnya sekarang. Dia berjalan kearah balkon rumah, tempat favoritenya bersama Hanbin untuk menghabiskan waktu. Yunhyeong menyandarkan tubuhnya kepagar pembatas dan memandang gemerlap lampu kota Seoul malam hari. Yunhyeong menghela nafas pelan, entah apa yang menggangu pikirannya, tapi dia benar-benar sedang penat sekarang.

"Sedang apa disini? Kau baru saja sembuh," Yunhyeong sempat kaget saat ada yang memeluknya dari belakang, awalnya Yunhyeong sempat berfikir itu Hanbin. Namun yeoja itu tersenyum terpaksa saat melihat Joonhwae yang sedang memeluknya.

"Aku hanya mencari udara segar. Apa yang kau lakukan, enyahkan tanganmu."

"Shireo. Kau kekasihku sekarang. Kenapa aku tidak boleh melakukan ini," Yunhyeong mau tidak mau tertawa pelan.

"Sejak kapan kau jadi kekasihku?"

"Sejak kau melangkahkan kaki diapartement ini."

"Memangnya aku mau. Percaya diri sekali,"

"Kau harus mau, hei, kau menumpang dikamarku sekarang,"

"Issh, itu juga kamarku sekarang." Joonhwae tiba-tiba mencium pipi Yoonhyeng sekilas, dan itu membuat yeoja dalam pelukannya terdiam untuk sesaat. "Joonhwae…"

.

.

Donghyuk terdiam memandang pemandangan yang cukup menyesakan untuknya. Didepan matanya Joonhwae kini sedang memeluk Yunhyeong dengan erat. Mata Donghyuk mulai berkaca-kaca, Joonhwae tidak pernah dekat dengan gadis lain selain Donghyuk, dan itu seharusnya tidak pernah. Sejak kapan? Joonhwae dan Yunhyeong tidak pernah akrab selama ini. Nafas Donghyuk makin sesak saat melihat Joonhwae mencium pipi Yunhyeong. Tanpa sadar, Donghyuk menangis melihat itu, dia tidak rela melihat Joonhwae bersama gadis lain.

Donghyuk tetap terdiam, bahkan saat Joonhwae dan Yunhyeong berbalik dan saling bertatapan dengannya. Donghyuk tidak bergeming, air matanya tetap mengalir. Joonhwae terlihat akan menghampiri Donghyuk, tapi Yunhyeong menahan tangan namja itu. Donghyuk ingin sekali rasanya berjalan menuju Joonhwae dan memeluk namja itu, namun semua itu tidak dilakukannya. Bahkan setelah Yunhyeong menarik paksa namja tinggi itu masuk kedalam kamar mereka, meninggalkan Donghyuk yang menangis sendirian.

"Joonhwae…"

.

.

(Seminggu kemudian)

Jinhwan dan Donghyuk sama-sama menoleh saat mendengar pintu kamar Joonhwae terbuka. Disana Joonhwae berdiri lengkap dengan tas gitar miliknya, dan juga bersama Yunhyeong yang Nampak sedang memperbaiki letak jaketnya. Donghyuk terdiam melihat Joonhwae Nampak memperbaiki letak jaket dan juga rambut Yunhyeong.

"Kalian mau kemana?"

"Aku mau menemani Joonhwae latihan distudio."

"Ohh,nde. Hati-hati dijalan."

"Kajja Yoonie," Joonhwae mengulurkan tangannya pada Yunhyeong dan disambut dengan semangat oleh gadis itu.

Tanpa sadar Donghyuk mulai menangis melihat bagaimana Joonhwae tersenyum saat bersama Yunhyeong, kenapa senyum itu tidak pernah ada saat mereka berdua bersama.

"Donghyukie, gwencana?"

"Eonnie, kenapa sakit sekali?" Jinhwan segera saja menarik dongsaeng kesayangannya itu kedalam pelukannya.

"Sstt, kau tidak boleh begitu Donghyuk. Bukankah sejak awal kau yang menyetujui ini semua. Kau yang setuju bertukar dari Joonhwae."

"Eonnie, aku mau Joonhwae kembali, aku tidak perduli, aku mau Joonhwae,eonnie." Jinhwan hanya terdiam dan mengelus rambut Donghyuk.

.

.

Donghyuk terdiam disofa ruang tengah, dari tadi Bobby berusaha membujuknya untuk masuk kedalam kamr, namun Donghyuk bersikeras menolak dan tetap duduk disofa. Sesekali yeoja imut itu melirik kearah jam dinding dan kemudian menoleh kearah pintu. Suara pintu depan yang dibuka membuat Donghyuk berdiri dan berjalan kearah pintu, yeoja itu berdiri didepan kamar Joonhwae yang memang tepat ada disamping pintu masuk.

"Donghyuk…" Joonhwae sedikit terkejut melihat Donghyuk berdiri tak jauh darinya. Mata Donghyuk mulai berkaca-kaca melihat tangan Joonhwae yang menggenggam eart tangan Yunhyeong. Joonhwae berusaha melepaskan tangannya, namun Yunhyeong mempertahankannya dengan erat.

"Joonhwae, kita butuh bicara,"

"Donghyuk…"

"Joonhwae, kita tidur sekarang. Aku lelah,"

"Yunhyeong…"

"Joonhwae kumohon," Satu tetes air mata Donghyuk lolos, Joonhwae terdiam. Selama ini mereka bersama tidak pernah Donghyuk berlaku seperti ini. Namja itu akhirnya mengangguk, namun Yunhyeong dengan cepat menarik kembali Joonhwae.

"Tidak!"

"Eonnie…"

"Tidak. Bukankah Joonhwae milikku sekarang."

"Yunhyeong…" Donghyuk mulai makin keras terisak, Joonhwae melepaskan tangan Yunhyeong dengan lembut dan menarik Donghyuk menjauh dari sana.

.

.

"So, tell me." Joonhwae kini berdiri dibalkon bersama Donghyuk dan membelakangi yeoja manis itu. Donghyuk berjalan kearah Joonhwae dan memeluk namja tinggi itu dari belakang.

"Joonhwae, kumohon kembalilah padaku."

"Dengan semua ini? Bobby? Yoonyeong?"

"Aku tidak perduli. Aku hanya ingin kau kembali. Aku tidak perduli semuanya," Joonhwae menghela nafas pelan dan berbalik menatap Donghyuk.

"Donghyuk, dengarkan aku. Kau selalu memulai sesuatu tanpa bisa kau akhiri. Bukankah kau yang memulai ini semua?"

"Aku tidak perduli Joonhwae. Aku tidak mau melihatmu bersama Yunhyeong. Aku tidak rela Joonhwae,"

"Kau fikirkan itu saat kau terus bersama Bobby?" Donghyuk makin keras terisak dan memluk Joonhwae dengan erat.

"Joonhwae maafkan aku. Kumohon maafkan aku," Joonhwae hanya tersenyum dan mengelus rambut kemerahan Donghyuk. "Joonhwae aku sangat mencintaimu. Aku berjanji tidak akan melakukan hal bodoh lagi. Joonhwae kumohon…"

"Kita bicara lagi besok, arra? Tidurlah, ini sudah malam." Joonhwae mencium kening Donghyuk dan berjalan meninggalkan yeoja itu sendirian. Tubuh Donghyuk segera saja terduduk dilantai balkon, yeoja itu makin terisak, bahkan setelah Joonhwae menghilang kedalam kamarnya.

"Joonhwae…." Bobby terdiam dipintu kamrnya, dia menatap Donghyuk yang masih terus menangis. Bobby berjalan menghampiri Donghyuk dan memeluk yeoja itu berusaha menenangkannya.

"Sstt, kumohon jangan menangis lagi." Donghyukaa tetap mempertahankan posisinya tanpa berniat bergerak ataupun berhenti menangis. Bobby hanya terdiam dan terus memeluk, ehhm, kekasihnya, ehhm, itu, sambil terus mengusap rambut Donghyuk.

"Oppa, aku bodoh. Aku bodoh," Donghyuk meremas bagian depan kaos Bobby dengan masih terus menangis.

"Aniyo, sudahlah. Berhenti menangis, kita kekamar nde. Diluar sangat dingin." Donghyuk berusaha meredam isakannya dan mengangguk. Bobby tersenyum dan menuntun yeoja itu untuk masuk kedalam kamar mereka.

.

.

Jinhwan terbangun karena suara teriakan Donghyuk, yeoja itu kini sangat menyesal kenapa harus keluar dari kamar. Jinhwan terdiam melihat bagaimana Bobby memperlakukan Donghyuk, Jinhwan tersenyum tanpa arti dan kembali masuk kedalam kamarnya. Jinhwan menatap Hanbin yang masih nyenyak tertidur, senyum yang terlihat menyedihkan itu kembali menghiasi wajah Jinhwan.

"Apa kita memang ditakdirkan untuk selalu egois dan berlaku seperti ini. Kapan kita bisa mendapatkan kisah cinta yang normal, seperti orang lain diluar sana. Aku lelah terus seperti ini, aku lelah dengan ketidak pastian." Jinhwan terduduk dibalik pintu, yeoja itu lalu melakukan hal yang selalu ini dia lalukan, menangis dalam diam.

.

.

Joonhwae menjadi yang pertama bangun pagi ini, entah kenapa dia merasa ini pertanda buruk, karena tidak pernah dia bisa bangaun pagi sejak dulu. Joonhwae berjalan menghampiri kulkas dan meneguk sebotol air mineral hingga tersisa hampir separuh. Suara pintu terbuka mengalihkan perhatian Joonhwae, namja tinggi itu melihat Jinhwan disana. Joonhwae tersenyum kecil pada Jinhwan dan dibalas senyuman juga oleh yeoja itu. Jinhwan berjalan menuju meja makan dan menyiapkan bahan untuk membuat roti bakar.

"Nunna," Jinhwan menoleh saat Joonhwae memanggilnya,

"Hmm?" Joonhwae terdiam dan memainkan botol ditangannya, Jinhwan meletakan roti yang ada ditangannya dan berbalik menatap Joonhwae. "Ada apa?"

"Pernahkah…" Jonhwae tidak melanjutkan kata-katanya dan malah menggaruk kepalanya,

"Apa?"

"Apa pernah kau berfikir meninggalakan Bobby?" Joonhwae dengan cepat memotong perkataan Jinhwan membuat yeoja itu terdiam, Joonhwae salah tingkah sendiri saat Jinhwan hanya diam.

"Tentang itu. Rasanya tidak pernah sekalipun aku memikirkannya. Kenapa? Apa kau berniat meninggalkan Donghyuk untuk Yunhyeong?" Joonhwae terdiam, terasa berat sekali untuk menjawab pertanyaan Jinhwan dengan satu kata, anatara Iya atau Tidak. "Apa Iya?"

"Tidak." Joonhwae dengan cepat memotong perkataan Jinhwan sebelum yeoja itu salah sangka.

"Tidak, benarkah Joonhwae? Matamu tidak menununjukan hal itu."

"Mungkin aku pernah memikirkannya. Namun, ternyata aku memang mulai mencintai keduanya." Jinhwan tersenyum kecil dan kembali melanjutkan acara memanggang rotinya.

"Itu tidak salah, apa Yunhyeong lebih menyenangkan?" Joonhwae terdiam, selama ini dia memang tidak pernah bisa berbohong pada Jinhwan, yeoja itu seperti tau semua hal hanya dari tatapan matamu.

"Mungkin,"

"Donghyuk hanya belum dewasa Joonhwae. Yunhyeong mungkin lebih menyenangkan, kau mungkin benar. Pikirkanlah baik-baik sebelum kau benar-benar memilih."

"Aku tidak bisa memilih,"

"Lalu?"

"Apakah lucu jika aku mundur dari mereka berdua?"

"Lalu kau ingin mencoba menjadi kekasihku?" Jinhwan tersenyum kecil kearah Joonhwae membuat namja itu menggeleng dengan cepat.

"Tidak, tentu saja tidak nunna." Jinhwan makin keras tertawa namun kemudian terdiam tanpa suara.

"Aku hanya bercanda Joonhwae."

"Nunna,"

"Jadi, setelh kufikir-fikir Donghyuk dan Yunhyeong sama baiknya. Yunhyeong dengan pengertiannya dan Donghyuk dengan tingkah imutnya. Jika aku jadi kau, aku pasti sudah akan memacari keduanya."

"Jika itu bisa dilakukan nunna. Jika itu bisa dilakukan," Jinhwan kembali tertawa kecil.

"Aku tidak akan membiarkan kau menyakiti dua adikku secara bersamaan."

"Aku tau itu,"

"Pergilah kesuatu tempat sendirian untuk berfikir. Cara itu biasanya berhasil padaku."

"Jika kau bingung, kau akan pergi kemana nunna?"

"Aku hanya akan pergi kedalam lemariku. Disana sangat nyaman untuk berfikir." Joonhwae terdiam namun kemudian beranjak pergi setelah mencium pipi Jinhwan.

"Terima kasih nunna."

.

.

Yoonyeong tersenyum dibalik pintu kamarnya, dia cukup senang mendengar apa yang dikatakan Joonhwae, jadi namja itu mulai mencintainya. Yunhyeong tersenyum dan berjalan masuk kedalam kamar mandinya.

"Aku tau kau pasti akan menyukaiku suatu saat Joonhwae,"

TBC