Author : Liu

Title : Complicated Love

Cast : Joonhwae, Donghyuk, Bobby, Jinhwan, Hanbin & Yunhyeong

Length : Chapters

Rated : T

Gender : Romance, Friendship.

Disclaimer : Mereka semua bukan punya saya, ceritanya punya saya.

Warning : Gender switch.

.

GinLiu Present

.

Happy Reading

.

.

Sejak kejadian dibalkon dua hari lalu Donghyuk menolak keluar kamar, bahkan untuk makan dan pergi sekolah. Joonhwae semakin merasa bersalah melihat Donghyuk yang seperti itu. Perjanjian mereka berakhir empat hari lagi. Bobby kini bingung sendiri dengan tingkah Donghyuk, ditambah Jinhwan yang sekarang tidak mau bicara padanya. Bobby sekarang sedang duduk dalam diam dan memandang Jinhwan yang sedang menyiapkan sarapan. Bobby menghela nafas kecil dan segera berdiri menghampiri Jinhwan didapur.

"Hei," Bobby menyapa gadis itu pelan namun Jinhwan hanya menatapnya sekilas dan kembali pada pekerjaannya sebelumnya. "Jinhwan,"

"Ada apa?"

"Aku merindukanmu." Jinhwan tidak menjawab dan tetap focus pada pekerjaannya. "Jinhwan…" Jinhwan tidak menjawab dan mengabaikan Bobby yang diam dibelakangnya.

*Brakk*

Dengan menahan emosi Bobby menggebrak counter dapur dan membuat Jinhwan berjingkat keget, namun gadis itu sama sekali tidak berbalik.

"Kenapa kau mengabaikanku seperti ini. Lihat aku jika aku sedang bicara Jinhwan." Tanpa Bobby tau Jinhwan terus memasak diiringi air mata yang sudah mengalir dengan deras dari dua bola matanya.

"Kenapa kau seperti ini. Apa salahku padamu?"

Jinhwan akhirnya berhenti memasak dan terdiam. Bobby menunggu apa yang kira-kira akan dikatakan gadis itu, namun Jinhwan hanya menghela nafas berat dan kembali memasak. Bobby akhirnya meyerah dan terduduk dilantai dapur dan menatap Jinhwan dengan penuh tanda Tanya.

.

.

Hanbin terdiam menatap Bobby dan Jinhwan yang ada didapur, saat Bobby menggebrak counter dapur sebenarnya Hanbin berniat menghampiri mereka, namun akhirnya dia mengurungkan niatnya dan membiarkan dua pasangan itu menyelesaikan masalaha mereka. Hanbin akhirnya kembali ketempat tidurnya dan berbaring disana. Belum lama Hanbin berbaring, pintu kamarnya sudah terbuka. Hanbin langsung saja duduk melihat Yunhyeong yang ada disana.

"Yunyun," Hanbin segera berdiri namun hanya diam saat Yunhyeong hanya melewatinya dan berjalan kearah lemari. "Yunyun, kau sedang apa?"

"Aku mengambil pakaianku."

"Bukankah beberapa hari lagi kau akan kembali kekamar ini." Yunhyeong terdiam, namun akhirnya kembali memasukan bajunya kedalam koper miliknya. Setelah selesai, Yunhyeong segera berdiri dan menarik kopernya menjauh.

"Barang-barang darimu semua kutinggalkan Hanbin. Aku tidak mau melangkah dengan masih dibayangi olehmu."

"Yunhyeong, apa maksudnya ini?"

"Aku ingin kita berakhir Hanbin. Kali ini dengan sungguh-sungguh."

"Yunhyeong, apa maksudnya ini,"

"Maaf Hanbin. Aku tidak bisa bertahan lagi. Jika ada hubungan yang harus rusak disini, aku yakin itu kita. Maafkan aku Hanbin," Yunhyeong memajukan langkahnya dan mencium pipi Hanbin sebelum akhirnya melangkah keluar kamar.

.

.

Jinhwan dan Bobby menoleh saat melihat Yunhyeong berjalan keluar dari kamar Hanbin. Jinhwan segera saja menyeka air matanya dan berjalan menghampiri Yunhyeong.

"Yunhyeong, kau mau kemana?" Jinhwan menyeritkan dahinya bingung saat melihat Yunhyeong membawa sebuah koper besar ditangannya.

"Aku akan pindah eonnie. Aku akan tinggal bersama Jinwoo eonnie untuk sementara."

"Yunhyeong, kau tidak harus melakukan ini sungguh."

"Tidak eonnie. Aku harus pergi. Kuharap kalian bisa kembali seperti dulu lagi, saat sebelum aku datang." Yunhyeong tersenyum dan segera memeluk Jinhwan dengan erat. "Sampaikan maafku pada Donghyuk." Yunhyeong segera melepaskan pelukannya dari Jinhwan dan melangkah pergi.

"Eonnie tunggu," Yunhyeong berbalik saat melihat Donghyuk yang berdiri diambang pintu kamarnya dengan penampilan yang kacau. Donghyuk segera menghampiri Yunhyeong dan memeluk gadis itu dengan erat.

"Kumohon eonnie, jangan pergi. Jangan tinggalkan aku. Jika kau ingin tetap bersama Joonhwae aku akan merelakannya. Kumohon eonnie jangan pergi." Yunhyeong tersenyum dan menatap wajah Donghyuk yang sudah banjir dengan air mata.

"Mana mungkin kau bisa meninggalkannya. Berpisah selama seminggu saja kau jadi seperti ini."

"Eonnie jangan tinggalkan aku sendirian disini. Jangan pergi, jangan pergi." Yunhyeong tersenyum mendengar apa yang dikatakan Donghyuk, tanpa sadar air matanya mengalir.

"Maaf Donghyuk." Yunhyeong segera meraih kopernya dan berbalik pergi. Donghyuk berusaha menahan Yunhyeong dengan memegang koper gadis itu, namun akhirnya Jinhwan menarik Donghyuk lembut agar merelakan Yunhyeong pergi.

"Donghyuk, sudahlah."

"Eonnie. Yunhyeong eonnie."

"Sst, sudahlah."

"Andwe, Yunhyeong eonnie tidak boleh pergi. Andwe…."

Yunhyeong terdiam dibalik pintu apartement, indra pendengarannya masih bisa mendengar suara Donghyuk yang masih menangis. Yunhyeong segera menyeka air matanya dan berjalan turun dengan segera.

.

.

Joonhwae masuk kedalam apartement dengan disambut suasana sunyi. Sayup-sayup telinga Joonhwae mendengar suara seorang gadis menangis, dia hafal betul suara siapa itu, itu suara Donghyuk. Joonhwae berjalan pelan menghampiri Bobby yang terdiam diruang tengah.

"Hyung ada apa?"

"Yunhyeong pergi,"

"Nde?"

"Yunhyeong pergi Joonhwae. Dia pindah,"

Joonhwae terdiam, segera saja dia masuk kedalam kamarnya dan mendapati barang-barang Yunhyeong sudah hilang dari kamarnya. Joonhwae terdiam, jadi sekarang Yunhyeong benar-benar pergi.

"Joonhwae…" Joonhwae berbalik dan mendapati Donghyuk berdiri didepan kamanya dengan penampilang yang sangat kacau. Gadis itu segera saja menghampiri Joonhwae dan memeluknya dengan erat. "Joonhwae maafkan aku. Maafkan aku," Joonhwae balas memeluk Donghyuk dan menyesapi setiap rasa dari gadis yang sangat dirindukannya itu.

"Aku merindukanmu Donghyuk,"

"Maafkan aku, maafkan aku."

"Berhentilah minta maaf. Aku yang harusnya minta maaf sudah membuatmu seperti ini."

.

.

Jinhwan terdiam menatap Bobby yang ada diruang tengah, gadis itu akhirnya mengabaikan Bobby dan masuk kedalam kamar Hanbin. Bobby hanya menghela nafas melihat Jinhwan masih mendiamkannya.

"Hanbin," Hanbin menoleh saat mendengar seseorang memanggilnya, namja itu tersenyum melihat Jinhwan disana. "Kau baik-baik saja?" Hanbin menggeleng pelan,

"Kenapa terasa sakit Jinhwan?"

"Kau mencintainya?"

"Entahlah, aku sangat bingung sekarang."

"Apa kau masih mencintaiku Hanbin?"Hanbin segera saja menegakan kepalanya dan menatap Jinhwan dengan pandangan bertanya. Namun akhirnya dia menghela nafas pelan dan menatap Jinhwan dengan yakin.

"Tidak." Jinhwan tersenyum mendengar apa yang Hanbin katakan, "Ada yang hilang Jinhwan. Ada sesuatu yang hilang disini." Hanbin menunjuk dadanya dan memasang wajah bingung. Jinhwan berjalan menghampiri Hanbin dan memeluk namja itu.

"Itulah yang dinamakan cinta Hanbin. Sekarang kau membutuhkan Yunhyeong."

"Jinhwan,"

"Kejarlah dia sekarang. Dia ada dirumah Jinwoo eonnie."

"Terima kasih Jinhwan."

.

.

"Yunhyeong," Yunhyeong berbalik dan cukup terkejut melihat Bobby dihadapannya.

"Bobby,"

"Terasa aneh aku yang menemuimu pertama disini." Yunhyeong tersenyum dan menggeleng,

"Hanya saja untuk apa?"

"Kau berharap Hanbin yang menemui pertama disini?" Bobby mengambil tempat disamping Yunhyeong dan tersenyum pada gadis itu.

"Jujur aku lebih mengharapkan Joonhwae yang datang pertama padaku."

"Untuk apa kau pergi jika kau masih mengharapkan Joonhwae,"

"Tidak, hanya saja kata-kata yang sudah kurangkai terasa percuma jika Joonhwae tidak datang." Mau tidak mau Bobby tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh yunhyeong. "Untuk apa Bobby?"

"Aku hanya ingin kau tau kau datang, bahkan sebelum Joonhwae dan Donghyuk datang. Semua sudah kacau,"

"Maksudmu,"

"Aku, Jinhwan dan Hanbin sudah teralalu lama bersahabat. Hingga kami merasa bisa membagi segalanya. Namun ternyata ada satu yang tidak bisa kami bagi,"

"Jinhwan,"

"Ya. Aku ternyata yang beruntung bisa memiliki Jinhwan sebagai kekasihku. Namun ternyata Hanbin juga menyukainya." Bobby member jeda kata-katanya dan menatap Yunhyeong yang terdiam. "Aku diam Yunhyeong. Aku selalu diam, namun hatiku tidak pernah diam. Kau fikir aku terbiasa dengan itu, tapi sayangnya aku tidak pernah bisa terbiasa. Namun aku diam dan membiarkan semuanya berjalan. Hingga akhirnya Donghyuk datang, anak itu sedikit merubah hariku, aku mengakui hal itu. Dan kemudian, kau datang,aku sangat senang Yunhyeong. Kau adalah gadis yang paling membuatku senang sejak kedatanganmu."

"Karena akhirnya Hanbin memiliki kekasih,"

"Maafkan aku, tapi begitulah yang kufikirkan."

"Dan sekarang aku akan pergi,"

"Aku tidaka akan mencegahnya. Aku hanya ingin tau, kenapa kau pergi Yunhyeong?"

"Aku…" Yunhyeong terdiam sejenak dan memandang Bobby yang menatapnya dengan intens. "Aku tidak ingin merusak hubungan Joonhwae dan Donghyuk. Lagi pula aku tidak bisa melihat Jinhwan terus menangis,aku tidak mau menyakiti siapapun. Maaf jika akhirnya kau yang harus terluka jika aku pergi,"

"Lakukan jika itu bisa membuatmu tidak menangis lagi Yunhyeong."

"Terima kasih. Pesawatku akan pergi beberapa saat lagi. Sebaiknya aku pergi," Yunhyeong berdiri dan segera menarik kopernya, namaun dia berbalik lagi dan melepaskan kalung yang melingkar dilehernya. "Bisa kau katakan pada Hanbin, dia tidak perlu khawatir. Aku sudah tidak pernah bermimpi buruk lagi." Bobby hanya mengangukan kepalanya pelan sebagai jawaban.

.

.

Hanbin sedikit terkejut saat melihat Bobby yang baru keluar dari rumah Jinwoo. Bobby menghela nafas pelan dan menatap Hanbin dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Kau terlambat Hanbin,"

"Kemana dia?"

"Entahlah. Dia tidak mau memberitahuku kemana dia pergi." Bobby meraih sesuatu dikantongnya dan menyodorkannya pada Hanbin. "Kau tidak perlu khawatir. Yunhyeong sudah tidak pernah bermimpi buruk lagi sekarang."

"Jinwoo nunna, jika kau memberitahuku kemana Yunhyeong pergi. Aku berjanji tidak akan membuatnya menangis lagi."

"Maafkan aku Hanbin,"

"Nunna kumohon,"

"Jika saja aku tau aku akan memberitahumu Hanbin."

"Pakailah motorku. Kejar dia, mungkin dia masih dibandara." Hanbin terkejut saat Minho sudah ada disampingnya dan menyodorkan kunci motornya. "Kejar dia sekarang bodoh, sebelum kau benar-benar terlambat." Hanbin dengan segera maraih kunci motor itu dan berlari kecil menuju motor Minho.

"Hyung…."

"Sudah, berterima kasihnya nanti saja," Hanbin mengangguk dan segera melarikan motor Minho.

.

.

Hanbin dengan cepat masuk kedalam bandara dan mengelilingkan pandangannya mencari Yunhyeong. Namun Hanbin tidak mendapati apapun, Yunhyeong sama sekali tidak ada. Hanbin mencoba mencari kebagian lain, namun Yunhyeong sama sekali tidak ada.

"Pesawat dengan kode penerbangan 778-987 siap lepas landas menuju Jepang."

Hanbin terdiam mendengar pengumuman itu, Jepang, Hanbin cukup yakin Yunhyeong pergi kesana. Hanbin menatap pesawat itu dari balik jendela. Dia benar-benar terlambat sekarang.

"Yunhyeong….."

"Tidak perlu berteriak Hanbin. Aku masih bisa mendengarmu disini," Hanbin segera saja berbalik saat mendengar suara lembut yang sangat tidak asing untuknya. Hanbin yang masih bingung hanya diam dan menatap Yunhyeong yang tersenyum kearahnya. "Aku ketinggalan pesawatku. Ini semua gara-gara Bobby, aku harus minta ganti rugi padanya."

"Yunyun…."

"Ya Hanbin." Hanbin segera menghampiri Yunhyeong dan memeluk gadis itu dengan erat, sangat erat.

"Maafkan aku. Maafkan aku. Maafkan aku menyakitimu terlalu lama."

"Gwencana Hanbin. Semua sudah berlalu bukan."

"Tidak. Aku tidak akan melalukan hal bodoh untuk yang kedua kali. Aku tidak akan melepaskanmu,"

"Begitupun aku Hanbin. Aku tidak akan melakukan hal bodoh untuk yang kedua kalinya. Maafkan aku,"

"Yunhyeong kumohon aku akan berubah. Aku akan berubah untukmu. Aku janji aku tidak akan mendekati gadis lain. Bahkan kita bisa pindah dari sana, kumohon Yunhyeong."

"Maafkan aku Hanbin. Tidak untuk sekarang."

"Yunhyeong kumohon," Yunhyeong Nampak sangat terkejut saat Hanbin tiba-tiba berlutut dihadapannya dan membuat orang-orang disekitar bandara memandang mereka berdua.

"hanbin berdirilah."

"Aku akan berubah."

"Aku tau kau akan berubah. Namun mengertilah Hanbin, aku sedang ingin sendiri." Yunhyeong merubah posisinya dan ikut berlutut dihadapan Hanbin. "Aku janji akan kembali lagi padamu saat aku kembali."

"Yunhyeong,"

"Aku berjanji Hanbin." Hanbin akhirnya mengangguk dan berdiri, tidak lupa juga membantu Yunhyeong berdiri.

"Tapi, bisakah aku tau kau akan kemana? Aku janji tidak akan menyusulmu." Yunhyeong tersenyum dan menyodorkan tiket ditangannya.

"Aku akan ke Thailand. Mungkin akan beberapa bulan disana. Telfon aku seminggu sekali dihari Sabtu."

"Seminggu sekali?"

"Aku bisa merubahnya jadi sebulan sekali."

"Baik-baik, aku akan menelfon seminggu sekali."

"Penerbangan akan segera berangkat. Aku harus membeli tiket dobel karena Bobby, katakan padanya untuk menggantinya saat aku pulang." Hanbin tersenyum dan mengangguk. Namja itu kemudian memajukan tubuhnya dan mengecup kening Yunhyeong.

"Sampai jumpa Yunhyeong. Segeralah kambali,"

"Akan kuusahakan," Yunhyeong segera menyeret kopernya menjauhi Hanbin menuju gerbang 4. Hanbin hanya diam dan tersenyum memandang Yunhyeong berjalan menjauhinya.

.

.

(Seminggu kemudian)

"Kenapa kalian harus pindah."

"Kami mendapat apartement yang lebih dekat dengan sekolah eonnie. Lagi pula sebentar lagi kami akan ujian,"

"Ayolah Donghyuk, kalian berdua tidak perlu pindah. Kami hanya tinggal berdua disini."

"Kami akan rajin mengunjungi kalian setiap akhir minggu eonnie. Kau tenang saja,"

"Donghyuk kau sudah siap."

"Aku siap Joonhwae. Eonnie kami harus pergi, kita sudah membahas ini semalaman bukan."

"Kau benar." Jinhwan segera saja memeluk Donghyuk dengan erat, hingga memebuat gadis itu merengek karena sesak. "Jaga dirimu baik-baik disana. Jangan terlalu sering makan diluar. Datang jika kau ingin makan,"

"Baiklah eonnie. Aku pergi. Bye, eomma…" Jinhwan tersenyum mendengar apa yang Donghyuk katakan. Gadis berambut kemerahan itu segera saja berlari kecil menuju mobil Joonhwae yang sudah menunggunya sejak tadi.

"Rasanya seperti melihat anak kita pindah rumah." Jinhwan mengangguk mendengar apa yang Bobby katakan.

"Kapan mereka akan kembali Bobby. Rumah kita sekarang terasa sepi."

"Joonhwae dan Donghyuk bahkan baru semenit yang lalu pergi."

"Ahh, aku sudah merindukan mereka lagi."

"Kajja kita masuk. Diluar dingin,"

.

.

(23 Bulan Kemudian)

Hanbin mencoret tanggal 31 dibulan itu kemudian merobeknya. Hanbin menghela nafas pelan dan menatap tumpukan kalender dikeranjang sampahnya. Dia melihat deretan tanggal yang ada dikalender hadapannya, kemudian kembali menghela nafas.

"Mungkin bulan ini. Yunhyeong tidak mungkin membohongimu Hanbin," Hanbin berjalan menuju dapurnya dan mengecek keadaan kopi yang dibuatnya. "Coba kalau kau disini Yunhyeong. Aku tidak perlu kopi untuk menghangatkan diriku sendiri." Hanbin tiba-tiba menampar dirinya sendiri menyadari apa yang sedang dipikirkannya. "Astagah aku semakin gila dari bulan kebulan." Monolog Hanbin terhenti oleh bunyi bel rumahnya. Hanbin segera berjalan kearah pintu dan melihat siapa yang bertamu jam begini.

"Selamat malam Hanbin," Hanbin membeku melihat gadis berambut pendek yang ada dihadapannya. Hanbin terlalu terkejut sampai-sampai dia hanya diam dan menatap gadis itu. "Astagah Hanbin diluar sangat dingin sekali, dan kau malah membiarkanku didepan pintu." Hanbin masih terdiam dan menatap gadis berambut cokelat itu meletakan kopernya dilantai rumah Hanbin. "Aku menepati janjiku bukan."

"Yunhyeong," Hanbin segera saja memeluk Yunhyeong dengan erat, perasaan rindu yang tertumpuk selama dua tahun ini seakan tersalurkan melalu pelukan Hanbin.

"Aku merindukanmu Hanbin,"

"Aku sangat merindukanmu. Kenapa kau baru kembali, kau pergi hampir selama dua tahun."

"Cerita yang panjang. Kau bisa mendengarnya lain kali." Yunhyeong melepaskan pelukan Hanbin dan tersenyum kearah namja itu.

"Aku sangat merindukanmu," Yunhyeong kembali tersenyum dan memajukan tubuhnya mengecup bibir Hanbin.

"Jika merindukanku kenapa dari tadi hanya bicara saja." Hanbin menampilkan smirk miliknya mendengar apa yang Yunhyeong katakan.

"Ahh, kau banyak sekali berubah." Hanbin segera saja mengangkat Yunhyeong kadalam gendongannya dan membuat gadis itu berteriak kecil.

"kau juga banyak berubah."

.

.

Jinhwan sejak tadi sibuk sendiri manaja meja makan, Bobby membantunya dengan membawakan makanan dari dapur. Jinhwan menghentikan kegiatannya saat mendengar suara bel dipintunya. Jinhwan segera berjalan menuju pintu. Janhwan berjingkat senang melihat Donghyuk dan Joonhwae yang ada diambang pintu.

"Donghyuk…"

"Eonnie…" mereka berdua segera saja berpelukan dengan erat.

"Bagaimana dengan kuliah kalian?"

"Semua lancar eonnie. Hanya saja Joonhwae makin malas untuk bangun pagi,"

"Enak saja. Bohong nunna, aku sudah bangun pagi sekarang."

"Entahlah sepertinya kurang bisa dipercaya." Donghyuk menujurkan lidahnya keraha Joonhwae dan membuat Joonhwae mengacak-acak rambut kemerahan milik Donghyuk.

"Joonhwae hentikan itu." Langkah Jinhwan kembali terhenti saat bel pintu berbunyi lagi.

"Pasti Hanbin," Jinhwan segera berjalan kearah pintu dan membukanya dengan semangat. Senyum Jinhwan sedikit memudar melihat Hanbin berdiri sendirian diambang pintu rumahnya. "Kau sendirian Hanbin,"

"Tidak juga," Yunhyeong tiba-tiba muncul dari balik punggung Hanbin dan membuat Jinhwan langsung keluar rumah dan memeluk gadis itu.

"Yunhyeong. Aku sangat merindukanmu."

"Aku juga eonnie. Aku juga merindukanmu,"

"Yunhyeong eonnie,…." Donghyuk langsung saja berteriak melihat Yunhyeong ada diambang pintu. Donghyuk segera berlari menuju pintu dan memeluk Yunhyeong tidak kalah erat dengan Jinhwan.

"Sudah,kalian bisa membuat Yunhyeong kehabisan nafas." Hanbin akhirnya melepaskan pelukan dua temannya dari Yunhyeong, saat melihat gadis itu kewalahan dengan pelukan itu.

"Ayo kita masuk. Makanannya sudah siap."

"Eonnie, kenapa baru kembali tidak taukah kau kalau Hanbin sudah hampir gila kerana menunggumu."

"Donghyuk, hentikan itu."

FIN

Author Note : Annyeong. FF ini akhirnya selsai juga, hore. Terima kasih buat yang sudah sempat membaca dan Review yang sudah anda berikan. Saya sangat menghargai itu, sekali lagi terima kasih banyak. Sampai jumpa lagi di fanfic saya yang lain.

BOW