DON'T GO KYUHYUNNIE

Cast : KyuMin pairing

Summary : Sungmin kabur dari rumah yang ia anggap sebagai 'neraka'. Lalu akhirnya bertemu Kyuhyun dan saling mencintai. Kyuhyun masih mencintai orang masa lalunya! Bagaimana dengan Sungmin? Orang masa lalu Kyuhyun ternyata ada bersama ayah Sungmin. Akankah Kyuhyun lebih memilih Sungmin dibandingkan masa lalunya? Atau malah sebaliknya?

Disclaimer : KyuMin saling memiliki. Pengennya sih Kyuhyun buat author, tapi om Sooman bilang KyuMin udah di kontrak SM. Jadi mending KyuMin milik diri mereka sendiri aja. Dan ff ini, full milik author! Keke~

Genre : Hurt/Comfort, Drama.

Rated : T, Sewaktu-waktu bisa berubah M.

Warning :OOC, Typo(s), YAOI, BoyxBoy, Tulisan kasat mata, Alur amburadul, Kalimat alien(?), cerita ngelantur dll.

!~*~*~!

"-in.."

"-min.."

"-sungmin.."

"Engg~"

"Sungmin-ah? Kau sadar? Syukurlah.." Sungmin mengerjabkan matanya, berusaha mendapatkan kembali kesadarannya. Pertama yang dilihatnya adalah bayang wajah Kyuhyun yang menyambut paginya dengan senyuman, namun kini itu hanyalah mimpi karena nyatanya yang ia lihat sekarang bukanlah sosok Kyuhyun ataupun atap apartemen Kyuhyun. Melainkan-

"Donghae?" Pria yang disebut Sungmin itupun tersenyum, ia lalu membantu Sungmin yang nampak sedikit kesulitan saat mengubah posisinya menjadi duduk. "Apa kau merasa pusing Sungmin-ah?" Tanya Donghae. Sungmin menggeleng, sebelum tidur ia memang sempat merasa pusing yang amat sakit, itu sebabnya lah ia tertidur guna menetralisir rasa sakitnya.

"Hae kenapa kau ada-"

"Stt! Kau mandilah dulu, setelah mandi dan sarapan kau bisa menanyakan semua hal padaku, okey?" Pertanyaan Sungmin terputus karena Donghae yang menyuruhnya untuk segera mandi. Sungmin hendak kembali membuka mulutnya, namun dengan sigap Donghae kembali memutus ucapannya yang bahkan belum terucap. "Kau percaya padaku kan? Aku tak akan berbohong, aku janji." Sungmin menghela nafasnya. Baiklah, mandi dan sarapan tak ada salahnya kan? Meski hari ini ia kembali memulai kehidupan lamanya, tanpa Kyuhyun.

!~*~*~!

"Sungmin sudah bangun?"

"Ye, sajangnim."

"Baguslah, lalu kapan kau berencana membawanya ke hadapanku? Kau selalu melarangku untuk itu."

"Dia akan menghadapmu usai aku menyelesaikan urusanku dengannya. Kau yang membuatku memulai semuanya."

Tawa sinis terdengar dari sebrang. "Haha, terserah apa katamu. Cepat selesaikan dan bawa bocah itu padaku."

Pria itu, Donghae, tak menjawab. Ia hanya menunggu sampai line di sebrang memutus teleponnya dan-

KLIK

-akhirnya terputus.

Donghae menoleh dan tersenyum pada Sungmin yang kini baru keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah rapih, Donghae mendekat pada Sungmin dan menuntunnya untuk segera menghabiskan sarapannya.

Sungmin makan dalam diam, selain karena tak ada Kyuhyun yang menemaninya ia juga risih dengan Donghae yang terus menatapnya dengan senyum yang seperti om-om mesum bagi Sungmin. Dengan gerakan kaku dan terkesan hati-hati Sungmin mencoba bersabar dan tetap melanjutkan sarapannya.

Sejujurnya bukannya Donghae bersikap mesum, tapi ia hanya senang saja menjahili Sungmin seperti ini. Sikap Sungmin yang terlihat sangat lucu dan imut membuatnya bertahan dalam keusilannya kali ini.

Sungmin memakan suapan terakhirnya, kemudian ia menyerahkan mangkuk kosong itu pada Donghae dengan makanan yang masih memenuhi mulutnya. Dengan segera Sungmin memaksa untuk menelan habis makanan yang berada di mulutnya,lalu mengambil air mineral yang disodorkan Donghae, dan meminumya sampai habis saat itu juga.

Setelahnya Sungmin kembali teringat akan keberadaan Donghae, ia menatap Donghae garang. "Jadi kenapa kau bisa disini? Kenapa kau bisa berkeliaran disini? Kenapa kau- astaga, jangan jangan kau.." Sungmin menghentikan ocehannya. Ia jadi ingat perkataan Kim Kibum yang mengatakan bahwa ia adalah tangan kanan appanya bersama rekannya yang lain. Ya, rekannya.

Selama ini Sungmin selalu mengetahui siapa saja bawahan appanya yang di percaya, namun tidak untuk tangan kanannya. Karena appanya selalu bilang tangan kanannya adalah hal yang sangat penting dan mereka sangat sibuk. Jadi Sungmin tak pernah mendengar namanya ataupun melihat wujudnya.

"Kau.." Sungmin mendesis. "Kau adalah tangan kanan appa kan? Bersama Kim Kibum. Kalian rekan kan? Kenapa? Kenapa menipuku? KENAPA MEMBOHONGIKU DONGHAE BRENGSEK?!" Sungmin mencengkram kerah meja Donghae sambil menangis terisak.

Kenapa semua orang yang ia sayangi menghianatinya? Kenapa orang yang ia pikir baik malah memanfaatkannya? Appanya memaksanya untuk menuruti semua keinginannya dan memperlakukannya seperti peliharaan. Kyuhyun menggunakannya untuk mendapatkan Kim Ryeowook kembali, setelah semua yang ia lakukan bersama. Lalu Donghae membohonginya demi lancarnya pekerjaan dan uang yang harus didapatnya. Menipunya, melaporkan semua hal yang di ketahuinya pada appanya, dan yang paling menyedihkan adalah menghianatinya hingga ia kembali ke dalam sangkar.

"T-tunggu Min! Ini tidak sepenuhnya seperti apa yang dipikirkan olehmu." Sungmin menhentikan cengkramannya pada kemeja Donghae. Ia mendecih kemudian tertawa remeh. " Kebohongan apa lagi yang ingin kau buat Lee Donghae? Aku yakin aku akan muak mendengarnya." Donghae merenggut tak suka, pria itu ikut tersulut emosi dan ganti mencengkram kaus yang dikenakan Sungmin.

"DENGARKAN DULU!" pekiknya. Sungmin terdiam. Air matanya jatuh dalam diam, meski bibirnya sudah berdarah karena terus ia gigit untuk menahan gemetaran tangisnya. "Kau benar soal tangan kanan Chunhwa. Kau benar soal aku rekan Kim Kibum. Kau benar aku menipumu soal diriku yang selalu bersamamu. Kau benar aku memang brengsek. Tapi.. satu hal yang jujur dariku adalah saat aku mengatakan bahwa aku akan melindungimu apapun yang terjadi."

Untuk sejenak Donghae menghela nafasnya, mengatur emosinya dan kembali melanjutkannya. "Aku serius dan itu dari lubuk hatiku terdalam." Sungmin memejamkan matanya, okey Sungmin memang dapat merasakan ketulusan dari ucapan Donghae. Tapi apakah Donghae benar-benar tak berbohong? Mengingat sebelumnya ia mudah sekali termakan ucapan Donghae.

Donghae menatap Sungmin sendu, pasti sulit mendapatkan kepercayaan Sungmin lagi setelah semua kebohongannya terungkap. Namun Kyuhyun sudah mempercayakan Sungmin padanya, dan ia harus tetap menepati janjinya.

Donghae mengelus pipi Sungmin dan tersenyum kecut. "Setidaknya kau harus lebih mempercayaiku dibandingkan siapapun disini." Sungmin melepaskan gigitan bibirnya, seketika bau anyir meresapi lidah dan hidungnya. Donghae mengambil tissue dari sakunya dan mengelap darah yang mengalir dari bibir Sungmin. "Kau bisa sariawan jika terus menggigit bibirmu seperti itu."

Sungmin tak menjawab, air mata mengalir deras dari kedua mata foxynya yang sudah sangat membengkak. Dipeluknya Donghae dengan erat, ia menangis sampai sesegukan di dada Donghae. "Tolong aku.. Please save me Donghae. Please.." Sungmin memohon dengan lirih. Donghae balas memeluknya. Sungmin sudah mencoba untuk menaruh kepercayaan lagi padanya, dan ia tak akan menyianyiakan itu lagi.

"Percayalah padaku Sungmin-ah, aku akan melindungimu apapun yang terjadi. Bahkan jika aku harus merelakan nyawaku sendiri.."

!~*~*~!

"Ahh~" Kyuhyun membuka matanya, ia melirik ke samping ranjangnya dan tak mendapati siapapun disana. Pria itu bangkit dan mencoba berjalan ke dapur dengan kesadaran yang masih tercecer. Ia menemukan sosok yang kini sedang berkutat dengan bahan masakannya disana, namun ada yang berbeda. Sosok itu sedikit lebih pendek dan lebih mungil. Kyuhyun ingat sekarang, itu bukan Sungmin.

"Ah, kau sudah bangun Kyuhyun-sshi?" Tanya Ryeowook saat melihat Kyuhyun yang duduk di meja makan dimana letaknya yang memang menyatu dengan dapur. Kyuhyun menatap Ryeowook sedih.

"Kenapa?" Ryeowook mengerutkan keningnya. "Kenapa kau seperti tak mengenalku Wookie hyung?" Ryeowook membelalakan matanya, namun tak lama ia segera merundukkan kepalanya. "Mianhae. Sebenarnya… aku hilang ingatan." Kyuhyun membelalakan matanya, ia menatap Ryeowook yang kini merunduk sedih.

Hilang ingatan? Kenapa? Karena apa? Kenapa ia tak tahu apa-apa? "Yesung hyung bilang, aku hilang ingatan karena kepalaku terbentur sesuatu yang menyebabkan aku kehilangan banyak darah." Kyuhyun menyeritkan dahinya, siapa Yesung?

"Tunggu! Siapa Yesung?" Ryeowook menatap Kyuhyun sejenak, tapi tak lama ia kembali merundukan kepalanya dengan rona pipi yang terlihat samar. "Dia orang yang menolongku dan merawatku sejak aku sadar dari kecelakaan."

"Kecelakaan?" Ulang Kyuhyun. Ryeowook menghela nafasnya kasar, lalu ia mengangguk. "Yesung hyung bilang aku kecelakaan bersama umma dan appa saat ingin ke suatu tempat. Appa dan umma meninggal sedangkan aku selamat karena aku berada di kursi belakang."

Kyuhyun menahan nafasnya. Keluarga Kim kecelakaan dan dirinya tak tahu sama sekali? Kenapa tak ada yang memberitahunya? Kyuhyun mengepalkan tangannya, tangannya nampak bergetar menahan luapan emosinya. "A-apa kau tahu dimana ahjusshi dan ahjumma Kim dimakamkan?"

Ryeowook menggeleng. "Aku belum pernah bertanya pada Yesung hyung. Ia pernah mengajakku, namun saat itu juga kepalaku terasa sangat sakit, jadi ia berkata untuk tidak mengajakku kesana jika aku masih belum baikkan." Jelas Ryeowook.

"Kau harus mengunjunginya! Kita harus mengunjungi mereka!" Ryeowook terhentak saat Kyuhyun dengan tiba-tiba membentaknya. "Mereka pasti sedih karena anaknya tidak pernah mengunjunginya. Tidak bisakah… tidak bisakah kau menahan rasa sakit itu? Hanya sampai melihat makam mereka?" Ucapan Kyuhyun yang semakin lama semakin lirih membuat Ryeowook yakin bahwa dulu Kyuhyun pasti sangat dekat dengan keluarganya.

Ryeowook terdiam. Benar juga. Bagaimanapun mereka adalah orang tuanya, harusnya ia mengunjungi mereka meski harus menahan sakit. Meski tanpa ingatan akan kedua orang tuanya, tapi Ryeowook harus tetap mengunjunginya. "Arraseo." Ryeowook memejamkan matanya, ia menatap Kyuhyun dengan senyum mengembang yang sudah lama tak Kyuhyun lihat.

"Kyuhyun-sshi? Maukah.. maukah kau menemaniku pergi menemui Yesung hyung untuk bertanya dimana makam kedua orang tuaku?" Tanya Ryeowook yang membuat Kyuhyun balas tersenyum. "Baiklah, siang nanti kita akan mengunjungi Yesung." Ryeowook tersenyum senang, ia berkali-kali mengucapkan terima kasih pada Kyuhyun.

"Ryeowook hyung?" Ryeowook menolehkan pandangannya pada Kyuhyun yang menatapnya sendu. "Bolehkah aku… memelukmu?" Ryeowook terdiam. Tak lama senyum berkembang di wajahnya. Ia menghampiri Kyuhyun lalu merentangkan tangannya, bersiap menerima pelukan Kyuhyun dengan lapang dada. "Silahkan."

GREPP

"Bogoshippo hyung.." Kyuhyun memeluk Ryeowook erat, ia dapat merasakan elusan tangan Ryeowook di punggungnya. "Aku merasa.. kau seperti sudah ku anggap seperti adikku sendiri Kyuhyun-sshi." Ucap Ryeowook. Tanpa sadar air mata mengalir deras dari kedua obsidian milik Kyuhyun, membuat kaus bagian punggung Ryeowook basah karenanya.

!~*~*~!

Donghae menggenggam erat tangan Sungmin yang kini berjalan di belakangnya. Ia berbalik kemudian menangkup kedua pipi Sungmin. "Percayalah.. kau akan baik-baik saja. Ada aku bersamamu disana, kau tenang saja." Ucap Donghae. Sungmin memegang tangan Donghae yang berada di sekitar rahangnya, ia menurunkan tangan itu namun tetap menggenggamnya. "Aku mengerti." Sungmin tersenyum. Meski saat ini ia sangat takut untuk sekedar bertemu ayahnya, tapi ia lebih percaya pada Donghae.

"Untuk saat ini lebih baik kau jangan mencoba membantahnya, tapi cobalah berikan penawaran jika kau tak setuju dengan perintahnya. Arraseo?" Jelas Donghae. Sungmin menganggukan kepalanya.

"Bagaimana dengan Kim Kibum?" Tanya Sungmin. Mungkin saja orang bernama Kim Kibum itu menghancurkan rencana mereka kan? "Tenang saja. Dia bahkan jauh lebih mempercayaiku dan menyayangiku dibandingkan pekerjaan ini." Jelas Donghae yang membuat senyum Sungmin kembali berkembang.

"Kajja. Pesiapkan mentalmu Sungmin-ah." Donghae mengecup kening Sungmin. Kemudian mereka kembali melanjutkan langkah mereka, menuju ruang kerja Chunhwa

.

.

.

Sungmin meneguk ludahnya susah payah, ia menatap Donghae yang mengangguk dan tersenyum padanya. "Aku berada di depan pintu Sungmin-ah. Ingat pesanku." Ucap Donghae. Sungmin mengangguk.

Sungmin mulai membuka pintunya. Entah kenapa ia seperti masuk ke dalam inti neraka saja, padahal nyatanya ia hanya masuk ke dalam ruang kerja ayahnya. "Appa.." panggil Sungmin pelan.

Sungmin dapat melihat sosok ayahnya yang sedang duduk di kursi kebesarannya kini berbalik menghadapnya. "Ah kau sudah datang Sungmin-ah? Kenapa hanya di depan pintu saja? Kajja duduk di hadapanku." Sedikit rasa tenang menghampiri Sungmin karena Chunhwa terlihat ramah.

Dengan senyum yang mengembang, Sungmin melangkahkan kakinya menuju ke bangku di hadapan Chunhwa berbatasan dengan meja. "Appa.." panggil Sungmin. Namun saat itu juga ketakutan langsung menjalar pada tubuh Sungmin saat appanya balas menatapnya dengan tajam. Sampai-sampai rasanya mencekik leher Sungmin hingga ia tak bisa bernafas dengan benar.

"Berapa lama kau diluar sana? Sebulan? Dua bulan? Kau bahkan hampir setengah tahun diluar sana Sungmin-ah." Sungmin mencengkram ujung bajunya kuat. Pertanyaan ayahnya terlalu dingin dan menusuk. Mulut Sungmin sudah tak dapat berkata-kata, otaknya sudah terlalu kalut bahkan untuk sekedar merangkai kata. "A-aku.."

"Bersama Cho Kyuhyun hmm? Kau bahagia?" Pundak Sungmin semakin menegang mendengar nama Kyuhyun terucap dari mulut ayahnya. Jadi benar, dalang dari semuanya adalah ayahnya sendiri? "A-appa ak-aku.."

BRAKK

"Kau anak tak tahu di untung!" Sungmin nyaris terisak saat ayahnya malah menggebrak meja tepat di hadapannya. "Kau bahkan lebih memilih tinggal bersama Cho Kyuhyun dari pada tinggal di rumahmu sendiri?! Harusnya kau bersyukur Sungmin-ah! Tidak akan ada yang mau menolak semua ini! HAHA.." Tawa menggelegar terdengar mengerikan di setiap sudut ruangan. Tawa mengerikan itu juga terngiang dengan jelas di kepala Sungmin, membuat kebencian sudah benar-benar menumpuk di dalam hatinya.

Yang didepannya ini bukanlah Lee Chunhwa, ayah yang dulu di kenalnya. Ayahnya sudah mati bersama kematian ibunya. Ayahnya tak pernah ada semenjak ibunya meninggal. Chunhwa yang dihadapannya bukanlah ayahnya yang dulu. Dengan cepat rasa takut yang tadinya menguasai Sungmin kini musnah begitu saja, kini di gantikan dengan rasa benci yang benar-benar menumpuk.

Chunhwa menarik dagu Sungmin agar menatapnya, pria tua itu sedikit mencengkram dagu Sungmin hingga membuat Sungmin mendesis sakit. "Katakan padaku Sungmin-ah. APA YANG PRIA ITU PUNYA DAN TAK KU PUNYA?!" Sungmin memejamkan matanya, ia menatap Chunhwa tajam.

"Kebahagiaan. Aku mendapat kebahagiaan dari Kyuhyun, dan aku tak mendapatkannya darimu semenjak umma meninggal! Kau bukanlah appaku!" Chunhwa mendesis tak suka. Dengan mudah tangannya mendarat di pipi putih Sungmin.

PLAKK

Sungmin membelalakan matanya. Rasa panas di pipinya tak sebanding dengan rasa sakit di hatinya. Seumur hidup, tak ada yang pernah berani meninggalkan jejak cap tangan di pipinya. Bahkan ummanya sekalipun.

"Kau.." Sungmin menggeram tertahan. Ia menatap nyalang Chunhwa yang kini tersenyum remeh padanya. "Apakah aku harus membunuh Cho brengsek itu agar kau tetap berada di sini?" Sungmin membelalakan mtanya, ia mencengkram kerah kemeja Chunhwa. "Berani menggoresnya dan aku tak akan pernah memaafkanmu!"

BUGHH

"Akh!" Sungmin memegangi pipinya yang pasti lebam karena pukulan Chunhwa. "Kau.. pria tua brengsek!" Chunhwa menatap Sungmin datar, ia menghampiri Sungmin yang kini tersungkur di lantai.

DUGHH

"AKHH!" Sungmin memekik sakit saat darah termuntahkan dari mulutnya akibat Chunhwa yang menendang perutnya dengan keras. Chunhwa hampir kembali melayangkan tendangannya pada Sungmin jika saja pintu tak terbuka dengan kasar.

BRAKK

"Sajangnim!" Donghae muncul dari pintu. Dan saat itu juga matanya membelalak lebar melihat wajah Sungmin yang memar dengan bekas darah yang mengalir dari sudut bibirnya. "Sungmin…" Lirihnya.

Chunhwa mendecih. "Untung kau datang Donghae-ya. Bawa dia pergi dari hadapanku, atau aku bisa saja membunuhnya." Chunhwa kembali duduk di singgahsananya, seakan tak terjadi apa-apa.

Donghae segera menghampiri Sungmin dan memapah pria itu untuk segera keluar dari ruangan biadap itu. "Aku akan mengirim anak itu ke luar korea. Tak akan ku biarkan dia di korea dan bertingkah seenaknya." Ucap Chunhwa sebelum Donghae dan Sungmin benar-benar keluar dari ruangannya, dan ia yakin kedua orang itu pasti mendengar ucapannya barusan.

!~*~*~!

Kyuhyun menatap pemuda bermata sipit yang dikenalnya. Pria ini adalah orang yang bersama Ryeowook waktu itu.

"Sudah lama tak bertemu Wookie-ya." Yesung tersenyum pada Ryeowook yang justru sibuk menyiapkan minum dan hidangan lainnya, padahal ialah yang tuan rumahnya disini dan Ryeowook adalah tamunya.

"Ne hyung. Nah ini.." Ryeowook meletakkan dua cangkir coffee latte untuk Kyuhyun dan Yesung lalu secangkir cappuccino untuknya. Setelah meletakkan nampan kembali ke dapur, Ryeowook mendudukan dirinya di samping Kyuhyun dan berhadapan dengan Yesung.

"Dia.." Yesung menatap Kyuhyun, namun ia seakan bertanya pada Ryeowook. "Dia Cho Kyuhyun. Hmm.. kupikir ia adalah saeng-ku dulu karena aku merasa tak asing dengannya." Jawab Ryeowook.

Yesung menganggukan kepalanya, pria tampan itu kembali menatap Ryeowook yang duduk manis dihadapannya. "Jadi ada apa kalian kesini? Atau hanya sekedar berkunjung karena merindukanku saja hmm?" Ledek Yesung yang seperti di tunjukkan kepada Ryeowook. Ryeowook nampak gelagapan dengan rona di pipinya, sedangkan Kyuhyun sudah mencibir dalam hati. 'Narsis sekali dia.'

"S-sebenarnya aku kesini mau menanyakan sesuatu padamu hyung.." Yesung mengerutkan dahinya. Apa ada masalah dengan ingatan Ryeowook? "Bertanya saja. Apakah kau mengingat sesuatu?" Tanya Yesung.

Ryeowook menggeleng kecil. "Tidak. Hanya saja, aku ingin.. menanyakan lokasi makam umma dan appa." Yesung membelalakan matanya. "Kau ingin kesana?! Tapi-"

"Mereka orang tuaku hyung. Aku harus mengunjunginya, aku adalah anak mereka." Jawab Ryeowook lirih. Kyuhyun memutar bola matanya dan memandang keduanya dengan bosan. Kenapa rasanya ia seperti menonton film melodrama? Tapi.. rasanya kisah hidupnya juga sangat melodrama bukan? Sungmin.. bagaimana kabar Sungmin disana? Semoga Donghae sialan itu benar-benar menjaga Sungmin-nya dengan baik.

"Aku tahu.. tapi kepalamu selalu sakit saat kita akan pergi kesana. Aku khawatir Wookie-ya." Yesung menatap bayangan Ryeowook yang berada di atas Coffee lattenya. Ryeowook tersenyum kecut. "Tak apa. Aku akan menahannya. Percayalah padaku hyung." Yesung berpikir sejenak, tak lama ia menghela nafasnya kasar.

"Baiklah kita akan kesana. Kau tidak keberatan kan kalau aku ikut Kyuhyun-sshi?" Kyuhyun menatap Yesung, ia bersmirk lalu menggeleng.

!~*~*~!

"Sshh.." Sungmin mendesis sakit saat Donghae mencoba membersihkan noda darah di bibirnya. "Aish maafkan aku. Lagipula bagaimana bisa kau sampai mendapatkan hiasan seperti ini?" Donghae berlutut dihadapan Sungmin yang kini duduk di sofa.

Sungmin mengerucutkan bibirnya, namun saat itu juga ia kembali mendesis sakit karena luka sobek di bibirnya cukup besar. "Dia bukan appa-ku! Dia monster! Pria tua brengsek itu bukan appa-ku!" Pekik Sungmin emosi.

Donghae menghentikan gerakannya, pria tampan itu kini menunduk dalam, membuat Sungmin menyeritkan dahinya. "Wae? Apa ada yang salah?" Sungmin dapat melihat bahu Donghae yang bergetar kencang, pria itu menangis?

"A-aku.. hiks. Padahal aku sudah berjanji.. berjanji untuk selalu menjagamu. Ta-tapi baru sehari kau sudah terluka. A-aku tidak menepati janjiku.." Sungmin tersenyum sendu. Ia menangkup wajah Donghae dan mengangkat wajah yang kini sudah basah karena air mata itu. "Gwenchana. Hanya seperti ini bukan masalah, aku bahkan sering terluka saat latihan bela diri dulu."

Donghae menggeleng, air mata terus mengalir dari kedua bola mata hazelnya. "Tidak! Aku tahu yang ini berbeda. Disini.." Donghae menunjuk bagian dada Sungmin. ".. disini pasti sakit."

Sungmin menggertakan gigignya, tak bisa dipungkiri hatinya memang sakit. Kyuhyun menghianatinya, dan sekarang ia mendapati kenyataan bahwa Chunhwa bukan lagi appanya yang dulu. Bulir air mata mulai menetes dari mata foxy Sungmin. Ia ikut berjongkok di bawah kemudian memeluk Donghae. Donghae membalas pelukan Sungmin, mereka berdua menangis dalam diam. Ia butuh sandaran untuk saat ini, dan Sungmin yakin Donghae adalah sandaran yang tepat untuk sekarang ini.

!~*~*~!

"Kita sampai.."

Ryeowook menatap keluar jendela. Pening memang mulai menjalar di kepalanya, namun ia masih kuat. "Wook.." Gumam Kyuhyun sambil menatap Ryeowook yang mulai merasa kesakitan. "Gwenchana. Kajja kita turun." Ryeowook turun dari mobil diikuti Yesung, Kyuhyun menghela nafasnya kemudian menyusul keduanya turun dari mobil.

.

.

.

"Enggh~" Yesung dengan sigap menangkap lengan Ryeowook saat pria itu mulai berjalan oleng. Berkali-kali tubuh Ryeowook hampir terjatuh dan berkali-kali pula pria it uterus berkata baik-baik saja.

Kini ketiganya sudah sampai di depan dua gundukan yang sudah kering. Kyuhyun menatap sendu dua orang yang sudah ia anggap sebagai orang tuanya sendiri, yang kini mungkin telah menjadi tulang belulang. Kyuhyun berjongkok kemudian menyentuh tanah yang berisikan Kim Ahjumma di bawah sana. "Ahjumma.." Gumam Kyuhyun.

Ryeowook menatap kaku kedua gundukan tanah di hadapannya. Ini adalah… orang tuanya? Punggung Ryeowook mulai bergetar karena menahan isak tangisnya. Wajah Kyuhyun pun kini telah basah karena air mata yang mengalir deras. "Hiks.. hiks. Hiks.. um-ma~ ap-pa~"

Yesung merangkul Ryeowook dan membawa namja itu kepelukannya, membiarkan kausnya basah karena air mata Ryeowook. Ryeowook terus menggumamkan nama kedua orang tuanya, mengabaikan pening hebat yang tiba-tiba menderanya.

"A-arghh.. hiks.." Ryeowook mengerang diantara tangisnya, sekelebat bayang-bayang memenuhi kepalanya. Ryeowook sempat mendengar Yesung yang berkali kali memanggil namanya dan Kyuhyun yang juga menghawatirkannya, sebelum semuanya menjadi gelap.

TBC

CHAPTER 8 UPDATEE!

Ini termasuk update cepat gak? Menurut author sih iya, soalnya biasanya author update sebulan sekali XD

Maaf ya kalau chapter ini kurang bagus dan kurang dapet feelnya. Author pengen focus ke ff ini dulu soalnya kalau gak salah satu atau dua chapter ke depan ff ini udah tamat. Jadi untuk ff lain author terbengkalai-in dulu /plak/

Author gak bisa bales review satu-satu sekarang, karena author lagi gak fit. Tapi tenang aja kok bep author udah baca semuanya dan thankseeuuu yang udah review. Saranghae!

Big thanks to :

HeeKitty, dirakyu, Zen Liu, abilhikmah, stalkyumin, baekhyunniewife, minnie kyumin, bunnyblack .FLK.36 (himCHANrin), guest, ria, ken . rhiyukikaka, lee sunri hyun, sissy, NaizhuAmakusa, Sary nayolla, Fiction Girl Trapped, nurairasyid.

.

.

Gomawo untuk kalian semua. And last, author Cuma mau ngingetin ff ini awalnya terinspirasi dari MV Davichi Don't say goodbye. Tapi tentunya beda karena ini made in Niel Hill /plakplak XD/

.

.

.

Waktu author sudah habis. Byebye, see you next chap. Jangan lupa review demi berlangsungnya ff ini ya. Kita buat janji dulu bentar deh. Kalau review kali ini lebih banyak dari review sebelumnya, author janji bakal update kurang dari sebulan. Dan mungkin itu adalah chapter terakhir, otte?

Jadi readerdeul, MARI MEREVIEWWW! *kisseu*