DON'T GO KYUHYUNNIE

Cast : KyuMin pairing

Author : Niel Hill

Genre : Hurt/Comfort, Drama, Romantic.

Rated : T

Summary : Sungmin hamil anak Kyuhyun, dan ia tak menginginkannya. Donghae ada dibalik alasan Kyuhyun melakukan hal ini sehingga Sungmin membencinya, dan Sungmin harus menentukan perasaannya mulai saat ini.

Disclaimer : Cerita full milik author, tapi readers boleh baca kok nyahaha /plak/ Chapter ini adalah chapter bonus yang author kasih karena balasan kesetiaan readers yang sudah baca dan mereview, juga karena ada beberapa readers yang meminta penjelasan dari kejadian ini hehe.

Warning :OOC, Typo(s), YAOI, BoyxBoy, Tulisan kasat mata, Alur amburadul, Kalimat alien(?), cerita ngelantur dll.

READY?

GO!

!~*~*~!

.

.

.

.

.

.

.

Sungmin menatap lemas kertas di tangannya. Ia bersandar pada toilet, diremas dan ia buang asal benda itu. Sungmin menatap nanar ke langit-langit sambil bergumam.

"Bagaimana bisa aku memilikinya?"

Ia menyentuh perutnya yang masih rata, namun Sungmin tahu, didalam sana terdapat kehidupan.

"Bahkan dari pria brengsek itu."

Sungmin menutup matanya, berusaha menenangkan pikiran dan perasaannya yang saat ini sangan kacau.

"Hukmm!" Sungmin menutup mulutnya, rasa mual itu kembali muncul. Ia segera berlari ke wastafel dan membuka keran airnya. "Hoekk! Hoekk!" Sungmin berusaha mengeluarkan sesuatu yang dirasanya membuat mual ini terjadi, namun nihil. Beginikah ummanya mengandungnya dulu? Sakit.

Sungmin meremas pakaian di bagian perutnya, ia akan menganggap yang didalam sana tak ada. Sungmin tak mengharapkannya saat ini, lagipula kenapa makhluk ini harus ada disaat ia dalam keadaan begini? Ia sengsara dan Kyuhyun bersenang-senang diluar sana? Hah! Jangan harap.

Sungmin menatap lelehan saliva di bibirnya melalui cermin, lalu keluar dari kamar mandi dengan membanting pintunya.

!~*~*~!

"Hyung! Hentikan! Hei!"

Kibum mencengkram tangan Sungmin yang hendak memasukkan beberapa obat-obatan lagi ke dalam mulutnya. Sejujurnya Kibum merasa aneh pada Sungmin yang akhir-akhir ini sering membahayakan dirinya sendiri. Seperti kemarin saat Sungmin memukul perutnya dengan brutal, beruntunglah Donghae datang dan menghentikannya tepat waktu.

BRAKK

Belum habis keheranan Kibum pada Sungmin, kini ia dikejutkan dengan suara bantingan pintu yang dilakukan oleh Donghae.

"Hyung!" Pekik Kibum pada Donghae yang baru keluar dari kamar mandi sambil menggenggam sesuatu di tangannya.

"Sungmin!" Donghae mencengkram kerah baju Sungmin dengan geraman yang terus terdengar dari mulutnya. Donghae tampak sangat kesal dan marah.

"Hyung! Apa yang kau lakukan!" Pekik Kibum sambil menahan tangan Donghae untuk tidak menyakiti Sungmin lebih lagi. Namun dengan cepat tangan itu ditepis kuat hingga dirinya nyaris terjungkal. Sungmin tak berani menatap Donghae, ia menggigit bibirnya menaha isakan yang nyaris lolos. Kibum masih berusaha menyelamatkan Sungmin dengan menarik tangan Donghae.

"Lee Donghae sadarlah!" Bentak Kibum. "Kau menyakiti Sungmin! Dong-"

"DIAMLAH!" Donghae balik membentak, keduanya diam. Merasa takut untuk membalas ataupun menimpali amarah Donghae yang terlihat begitu besar. "Aku tak menyakitinya! Tapi dia menyakiti anaknya sendiri!"

Kibum tersentak, begitupun Sungmin. Kibum melepaskan cengkramannya pada tangan Donghae dan mundur beberapa langkah sambil menatap Sungmin tak percaya. Jadi Sungmin adalah M-preg? Dan inilah alasan Sungmin terus-terusan menyakiti dirinya sendiri? Demi membunuh anak tak berdosa itu?

"J-jangan bicara sembarangan.." Ucap Kibum lirih, ia masih tak percaya. Sebegitu bencinyakah Sungmin pada anaknya sampai-sampai Sungmin yang polos kini berubah menjadi iblis yang ingin membunuh anaknya sendiri?

"Kau pikir aku berbohong? Lihat sendiri!" Donghae melemparkan sesuatu yang sejak tadi di pegangnya, Kibum menangkapnya yang ternyata adalah gulungan kertas. Ia membacanya dengan teliti perkalimat yang dituliskan kertas itu.

"Ha-hamil?" Gumam Kibum sambil melotot tak percaya. "Apa itu benar Sungmin hyung?"

Sungmin tak bergeming, ia masih merunduk dan menggigit bibirnya.

"JAWAB SUNGMIN-AH!" Kembali, Donghae membentak Sungmin yang terus diam.

"H-hiks.. mianhae.. mianhae.." Tangis Sungmin pun pecah. Sungmin menutup wajahnya dengan kedua tangan dan menangis keras.

"Kenapa? Kenapa kau menyembunyikannya? Kenapa kau tidak mengatakannya pada kami Sungmin-ah?" Donghae menangkup dahinya, di wajahnya sangat terlihat kekecewaan yang besar.

"A-aku.." Donghae melirik Sungmin, begitupun Kibum. Sungmin yang merundukan kepalanya dengan tangan yang terkepal erat, juga gertakan halus dari giginya yang beradu.

"Aku tidak akan membiarkan… DIRIKU SENGSARA DENGAN KEHADIRAN ANAK SIALAN INI SEDANGKAN KYUHYUN BERSENANG-SENANG DILUAR SANA!" Sungmin berteriak, sesekali ia memukul keras perutnya yang sudah mulai membesar. Sungmin kembali kalap dan Donghae kini sibuk mencegah tindakan brutal Sungmin, Kibum hanya diam sambil menatap nanar keduanya, khususnya Sungmin.

"Bahkan seorang malaikat bisa berubah menjadi iblis saat cintanya dikhianati." Kibum terus melamun, apakah cintanya juga termasuk dikhianati?

"Kibum! Kibum! Bantu aku! Sungmin pingsan dan keluar darah dari bagian holenya!" Kibum melotot mendengar pekikan Donghae yang lebih terdengar mesum di telinganya. Tidak, Donghae memang mesum, itulah sebabnya ia sering berkata mesum.

DUAGHH

"Berhenti berkata mesum di saat seperti ini fish!" Umpat Kibum setelah berhasil memukul kepala Donghae menggunakan kepalan tangannya sendiri.

"Yak! Aku tidak berkata mesum! Itu kenyataannya!" Balas Donghae tak terima.

"Setidaknya gunakan kata yang lebih sopan untuk mengutarakannya pabo!"

"Yaish! Itu spon-"

"Berhenti bicara dan cepat angkut Sungmin ke mobil! Darahnya semakin banyak!"

"Gyaaa!"

"BERHENTI BERTERIAK SEPERTI PEREMPUAN!"

!~*~*~!

"Malaikat kini sudah menjadi iblis, akankah kembali ke wujud putihnya?"

Donghae menatap Kibum heran, ia mendengar suatu kalimat ambigu yang benar-benar tak ia mengerti sama sekali. "Kibumie ada apa?"

Kibum menggeleng, ia menatap Donghae sambil tersenyum kecut. "Akankah ia kembali menjadi Lee Sungmin?"

Donghae terhentak dengan pertanyaan Kibum. Kibum benar, ini tidak seperti Sungmin. Sungmin yang ini terlihat menyedihkan dan begitu depresi, jadi bagaimana cara mengembalikannya?

!~*~*~!

"Sungmin-ah.."

Donghae menatap Sungmin yang kini menatap kosong ke arah jendela meski dirinya terduduk. Wajahnya yang pucat serta jejak air mata yang terlihat kontras meyakinkan Donghae bahwa Sungmin habis menangis lagi.

Sebelumnya Donghae sudah sangat tahu resikonya jika memisahkan Sungmin dan Kyuhyun dengan cara seperti ini, namun ia tak pernah berpikir melakukannya akan sesulit ini.

"Syukurlah kau sudah sadar, anakmu baik-baik saja, dia sehat dan kuat. Dokter berpesan padaku untuk menjaga janinmu lebih baik lagi karena menemukan memar diperutmu. Dia bahkan mengira aku yang membuat memar-memar itu disana, haha." Donghae berniat memecahkan suasana, namun justru malah melihat Sungmin yang menangis dalam diam.

Donghae mengepalkan tangannya dan menatap lantai, rasa sesak saat melihat Sungmin seperti ini lebih sakit dibandingkan melihat Sungmin bersama Kyuhyun.

"Donghae-ah.." Donghae sedikit terhentak mendengar panggilan lirih yang berasal dari pria didepannya. Sungmin menatap Donghae dengan seulas senyum paksa di wajahnya.

"Aku… aku berjanji tidak akan menyakitinya lagi, tapi…"

Jantung Donghae berdentum keras seiring waktu yang terus berjalan menunggu kelanjutan ucapan Sungmin. "…jadilah ayahnya saat dia lahir nanti."

Donghae terhentak, nafasnya seolah tertahan begitu saja. Menjadi ayah dari anak Sungmin itu berarti menjadikan Sungmin miliknya bukan?

Sungmin kembali menatapnya, tersenyum padanya namun dengan air mata yang meleleh dari kedua sudut matanya. Ini memang yang ia inginkan, namun ini bukan yang Sungmin inginkan. Ia memang akan mendapatkan tujuannya, tapi Sungmin akan tersakiti dan tak akan bahagia.

Katakan saja Donghae sangat egois. Ya, Donghae akan menjadi egois jika itu menyangkut tentang Sungmin. Tapi tidak untuk kali ini. Janjinya pada Kyuhyun adalah janji seorang laki-laki, dan ia tak akan menjadi pria brengsek yang mengingkari janji yang ia buat sendiri.

"Tidak."

Kali ini ganti Sungmin yang terhentak. Matanya melebar dengan air mata yang mengalir deras, bibirnya bergetar meski sudah di gigitnya. Apakah sekarang Donghae jijik padanya karena mengandung anak dari Kyuhyun? Apakah kini Donghae membencinya? Apakah Donghae juga berniat membuangnya sama seperti Kyuhyun?

"Sebelumnya aku akan menceritakan sesuatu padamu Sungmin-ah. Dengarkan baik-baik ne?"

Donghae mengelus helaian rambut Sungmin dan duduk di ranjangnya, Sungmin meresponnya dengan tatapan kosong meski air matanya sudah tak sederas tadi. Donghae menghela nafasnya kasar, ia meraih tangan Sungmin dan menggenggamnya seolah memberikan kekuatan.

"Kau pasti sudah tahu kalau sebelumnya aku dan Kyuhyun sudah pernah bertemu kan? Dan sebelum Chunhwa memutuskan untuk menjemputmu paksa, aku menawarkan suatu tawaran pada Kyuhyun."

Sungmin menatapnya, dari matanya Donghae sudah tahu bahwa Sungmin mulai tertarik dan juga penasaran akan ceritanya.

"Aku sudah mengetahui mengenai pilihan yang ayahmu berikan pada Kyuhyun, yaitu 'menyerahkan dirimu atau Ryeowook akan menderita' dan aku sudah tahu bahwa Kyuhyun tak akan bisa memilih karena ia ingin menyelamatkan Ryeowook dan ia juga mencintaimu."

Sungmin melebarkan matanya. Jika saja yang mengatakan hal itu saat ini adalah Kyuhyun tentu Sungmin tak akan semudah itu percaya, tapi kali ini yang mengatakannya adalah Donghae secara langsung, apakah ia harus ragu?

Sungmin menelusup kedalam mata Donghae, berusaha mencari kebohongan di dalam kesungguhannya, namun Sungmin tak mendapatkannya. Kyuhyun benar-benar mencintainya, Donghae tidak bohong dan ia tidak seharusnya membenci Kyuhyun sampai seperti ini.

"Aku menawarkan diri padanya untuk bisa menjagamu sehingga ia bisa menyelamatkan Ryeowook. Aku tahu, sangat tahu bahwa awalnya ia sangat meragukanku untuk mempercayaimu padaku. Namun aku juga tahu tak akan ada pilihan lain yang lebih bagus dan lebih menguntungkan dibandingkan pilihan lain, dan aku sudah memperkirakannya."

Sungmin menggertakan giginya, tangannya sudah sejak tadi terkepal erat meski tak terlihat karena tertutup selimut. "Kau.. punya tujuan lain selain menjagaku 'kan?"

Pertanyaan dari Sungmin membuat Donghae terpaku sekaligus kaget. Sungmin terlalu cepat dalam menyimpulkan semuanya. Donghae menarik sebelah sudut bibirnya, membentuk sebuah smirk yang sudah lama tak ia keluarkan.

"Kau benar. Dalam penawaran itu aku juga memiliki tujuan untuk mejadikanmu milikku, dan Kyuhyun terlalu lambat untuk menyadari itu. Dua pilihan itu membuat dirinya sulit berpikir dingin dan akhirnya-"

PLAK

Donghae menatap Sungmin melalui ujung matanya, tamparan Sungmin termasuk kuat meski ia dalam keadaan kurang enak badan.

"Jadi kau mencintaiku? Dan ingin merebutku dengan memanfaatkan kesempatan ini? Kau menjijikan karena merebutku dengan cara seperti ini Lee Donghae."

Sungmin berkata dengan datar, dilengkapi dengan tatapan datarnya yang sangat menusuk bagi Donghae. Kyuhyun tak sepenuhnya salah, ia hanya ingin menyelamatkan keduanya melalui tawaran Donghae tanpa tahu racun dibalik tawaran itu.

"Kau brengsek Lee Donghae! Kau membuatku membenci Kyuhyun dan menjadikanmu sebagai sandaran seperti apa yang kau perkirakan bukan? Namun ternyata semua tak seperti perkiraanmu karena aku hamil dari Kyuhyun, sehingga kau tak bisa membuat ikatan denganku. Atau… jangan-jangan kau juga berniat ingin membunuh anak ini juga?"

"JANGAN BERCANDA!" Donghae berteriak sebegitu kerasnya, bahkan mungkin akan terdengar sampai ke kamar sebelah. Tapi Sungmin tak gencar sedikitpun dengan suara menggelegar itu.

"Jangan bercanda… seingin apapun aku untuk memilikimu, aku tak akan pernah ingin membunuh anak tak berdosa. Aku tahu aku sudah berbuat terlalu jauh, kau benar soal perkiraanku yang meleset, kau benar soal aku yang memanfaatkan keadaan ini, tapi ingat Sungmin-ah. Aku tidak akan pernah dan tak akan pernah membunuh anak tak berdosa yang bahkan belum terlahir di dunia ini. Aku masih memiliki hati nurani, ingat itu."

Donghae mengepalkan tangannya, ia berbalik dan melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Pria itu menghentikan langkahnya dan melirik Sungmin melalui ujung matanya tanpa berbalik sedikitpun.

"Dan aku tahu aku salah, aku minta maaf untuk itu. Dan.."

Sungmin nampak tertegun dengan ucapan maaf Donghae, rasanya kepalan tangannya sampai ikut mengendur juga. Ia dapat melihat dengan jelas kesungguhan dalam nada suaranya.

"… kumohon jangan membenciku." Ucap Donghae sebelum akhirnya pergi meninggalkan Sungmin di ruang rawat sendirian.

!~*~*~!

Donghae menghembuskan nafasnya berat, ia hendak berbalik namun justru memekik kaget karena melihat Kibum yang entah sejak kapan berada di belakangnya.

"K-kibumie? Sejak kapan ada-"

"Kau sudah minta maaf padanya?"

Donghae terhentak dengan pertanyaan Kibum yang memotong ucapannya, namun dari situ Donghae tmenyimpulkan bahwa Kibum sudah sejak tadi disini dan mendengar percakapannya dengan Sungmin.

"Ah, ya. Kuharap dia mau memaafkanku." Donghae tersenyum canggung, Kibum terlihat lebih aneh dari biasanya. Meskipun biasanya dia memang sudah aneh karena pendiam dan dingin, namun kali ini lebih aneh lagi. Kibum hanya merunduk dan berbicara datar tanpa menatapnya sedikitpun.

"Kibumie apa ada yang ingin kau kata-"

"Aku pergi dulu."

Donghae menatap heran punggung Kibum yang kini mulai menjauh dan menghilang di persimpangan lorong rumah sakit. Apa sekarang juga Kibum juga membencinya? Tapi karena apa?

!~*~*~!

Sungmin menatap perutnya yang kini sudah mulai membesar, ia mengelus dan tersenyum saat mendapati respon berupa tendangan kecil pada perutnya.

"Apa mulai sekarang aku harus menerimamu? Kyuhyun tak bersalah, tapi itu tak memungkinkanna untuk tetap menungguku. Jadi apa yang harus aku lakukan?"

Sungmin tertegun saat kembali mendapatkan beberapa tendangan kecil pada perutnya.

"Ya, aku akan membesarkanmu. Menjadi seorang mommy untukmu, melihatmu tumbuh besar meskipun seorang diri sekalipun." Ucap Sungin mantap.

Ia kembali mengelus perutnya dan merebahkan dirinya diatas ranjang rumah sakit. "Hamil itu tidak buruk juga.."

".. dan sepertinya aku harus memaafkan Donghae. Donghae berbuat seperti ini karena ia mencintaiku."

!~*~*~!

"Hahh.." Donghae menghela nafasnya kasar, ia menyandarkan bahunya pada bangku taman rumah sakit. Semua rencananya jadi berantakan begini, namun memang inilah resikonya. Ia harus siap jika suatu saat nanti Sungmin meninggalkannya, dan sepertinya Kibum juga.

Donghae menutup kepalanya, berusaha menghilangkan penat di kepalanya. Namun beberapa saat kemudian ia terhentak saat merasakan benda dingin menyentuh pipinya.

"Aku tahu otakmu sedang berasap, minum ini untuk sedikit mendinginkannya."

Donghae tersenyum jengah, Kibum bahkan masih sempat menghinanya disini. "Gomawo."

Kibum mendudukan dirinya di samping Donghae, ia meminum minumannya dengan tenang.

"Kibum-"

"Maafkan aku hyung."

"Eoh?" Donghae menatap tak mengerti Kibum yang tiba-tiba meminta maaf padanya.

"Aku sedikit shock saat mendengar pengakuanmu pada Sungmin hyung. Terdengar aneh bukan?" Kibum tersenyum kecut sambil menatap lurus ke depan.

"Tapi- ah bukan. Maksudku-"

"Aku tidak tahu kalau rasanya sesakit ini, padahal aku sudah lama berhasil menyembunyikannya. Bagaimana agar ini bisa hilang hyung?" Kibum bertanya pada Donghae yang kini memasang tampang bodoh. Donghae berdiri dari duduknya, ia menatap kesal Kibum yang kini menatap lurus ke arahnya.

"Apa yang kau katakan hah? Aku muak padamu, sejak tadi kau selalu memotong ucapanku. Itu membuatku kesal, kau tahu!"

Donghae berkacak pinggang, memberikan ekspresi seolah-olah dia benar-benar marah.

"Mianhae." Kibum merundukan kepalanya. Donghae melotot tak percaya.

"B-bukan itu maksudku! Aish! Kenapa kau tidak tertawa sih? Aku hanya bercanda tahu!"

Kibum menatap Donghae heran, ia benar-benar tak mengerti dengan jalan pikiran orang yang selama ini menjadi rekannya. "Kau ingin aku tertawa?"

"Tentu saja! Aku memang tidak mengerti hal ambigu yang terus-terusan kau ucapkan tadi, tapi aku ingin kau setidaknya tersenyum karena kau begitu murung hari ini."

Kibum tertegun, tapi tak lama kemudian ia menarik kedua sudut bibirnya dan tawa mulai mengalun dari sana.

"Pfft hahaha. Bukankah kau sudah tahu membuatku tertawa itu sulit hyung?"

"Ya, aku tahu. Aku bahkan tidak mengerti apa yang kau tertawakan.. Eh? Kau tertawa!"

"Hahaha aku menertawakan kebodohanmu, kau tahu itu?"

"Yaish! Padahal kau sudah tertawa tapi kau masih saja menghinaku? Dasar anak nakal!"

"Hahaha.."

!~*~*~!

"Hyung? Kenapa tidak dibuka pintunya?"

"Eh?"

Kibum menatap jengah Donghae yang sejak tadi hanya berdiri di depan pintu sambil memegang gagangnya tanpa membukanya sedikitpun. Donghae hanya tersenyum kaku, matanya melebar horor dan keringat terus bercucuran. Kibum mengerti Donghae takut bertemu Sungmin, tapi kalau pintunya tidak dibuka untuk apa mereka kesini.

"Aku saja yang buka ya."

"Tidak tidak tidak! Aku saja! Okey, aku saja."

Kibum menghela nafasnya, disusul Donghae yang ikut-ikutan menghela nafasnya. Ia menarik sedikit gagangnya, dan masih sempatnya terhenti untuk meneguk ludahnya.

"Yaish! Cepat lakukan!" Omel Kibum. Tak sabar dengan apa yang Donghae lakukan, Kibum menyenggol lengan Donghae sehingga gagang pintunya tak sengaja tertatik dan akhirnya terbuka lebar.

"Eoh? Sungmin hyung!" Kibum tersenyum dan melambaikan tangannya pada Sungmin yang kini terduduk sambil menatap mereka.

"Kalian… apa yang kalian lakukan?"

"Eh? A-ah, i-itu ka-kami… emm.." Donghae menggaruk tengkuknya, jujur dia sangat gugup!

"Kalian sangat ribut di depan tadi, apa pintunya bermasalah?" Tanya Sungmin polos.

"Eh?" Baik Kibum ataupun Donghae speechless dibuatnya. Jadi Sungmin tidak membahas apapun soal pengakuan Donghae? Padahal Donghae sudah jantungan dibuatnya.

"A-ah ya. Pintunya sangat bermasalah sehingga aku harus turun tangan untuk membukanya." Jawab Kibum asal sambil melirik sinis kearah Donghae yang masih speechless.

"Hyung, gwenchana? Aegya eottokhae?" Tanya Kibum sembari menghampiri Sungmin dan duduk di kursi tepat disamping ranjangnya.

"Huh? Dia sehat, dia bahkan beberapa kali menendang!" Jawab Sungmin dengan semangat, ia terlihat seperti anak kecil. Bawaan bayi mungkin?

"Jadi kau sudah menerimanya?" Ucap Kibum yang membuat Sungmin terdiam.

Sungmin menatap perutnya dan mengelusnya lembut, ia kembali tersenyum saat mendapatkan respon dari bayinya. "Aku sudah memutuskan untuk merawatnya, dia tak bersalah." Kibum tersenyum, Donghae tertegun. Itu bagus, anak itu akhirnya akan dipastikan terlahir. "Dan aku sudah memutuskan untuk memaafkan kalian, khususnya Donghae."

Donghae kembali tertegun dibuatnya. Baginya kalimat yang diucapkan Sungmin barusan adalah bisikan malaikat surga baginya.

"Tapi dengan satu syarat." Dan bayangan itu pupus seketika.

"B-baiklah, apa syaratnya?" Mau tak mau Donghae harus menurutinya, anggap saja sebagai permintaan maaf.

"Kalian bantu aku untuk membesarkannya. Dan aku tidak ingin bertanggung jawab atas cinta Donghae. Aku tidak mencintaimu dan maaf."

Donghae tersenyum kecut. Ia sudah menduga bahwa cintanya akan mengalami penolakan, namun ini lebih baik dibandingkan perasaannya tak menentu seperti sebelumnya.

"Kalau begitu.. Bisakah.. bisakah kau membantuku untuk mencari penggantimu?" Pinta Donghae balik.

Baik Kibum maupun Sungmin menatap Donghae. Sungmin mengerjab, Kibum mendengus. Permintaan Donghae memang bukan permintaan aneh, dan itu wajar untuk orang yang patah hati. Tapi tetap saja terdengar ada yang ganjal dalam permintaan itu.

Sungmin menghela nafasnya, "Baiklah, aku harus mencarikanmu yang seperti apa?"

Donghae tersenyum, Kibum mendengus jengah. Ia sudah hapal dengan sifat Donghae, lihat saja beberapa saat lagi dia akan-

"Aku akan menentukannya sendiri, tapi kau harus membantuku ketika aku merasa tidak cocok, dengan cara berpura-pura datang sebagai kekasihku."

Sudah ku duga. Itu isi pikiran Kibum.

"O-oh? Hanya berpura-pura 'kan.. itu bukan masalah." Sungmin mengangguk-angguk mengerti.

"Ya kiss untuk meyakinkan mereka nantinya."

"KAU BERMAIN-MAIN DENGANKU HAH!" Aum Sungmin. Dengan kesal itu menimpukan bantal-bantal diranjangnya pada Donghae.

"I-itu hanya bagian dari kepura-puraan! Itu bu-bukan keinginanku!" Bela Donghae pada dirinya sendiri. "Kalau kau tidak memenuhinya aku juga tidak akan memenuhi persyaratanmu."

"Kenapa jadi seperti kau orang yang meminta permintaan sih?" Cibir Sungmin.

"Jadi apa kau mau melakukannya? Aku janji tidak akan sering-sering."

"Kau berkata seperti ahjusshi mesum hyung." Hina Kibum.

"Yak! Itu otakmu saja yang mesum!" Bentak Donghae. Kibum hanya menggedikan bahunya lalu mengeluarkan sebuah buku kecil yang agak besar, membacanya dan mengacuhkan Donghae yang masih menatapnya geram.

"Baik baik akan kulakukan. Tapi jika sampai kelewatan kau akan mati ditempat Lee Donghae!" Ancam Sungmin.

"Arra arra." Jawab Donghae acuh. "Ah apakah kau berniat untuk kuliah Sungmin-ah? Setelah kau melahirkan tentunya."

"Kuliah?"

"Hmm. Kibum dan aku sudah memutuskan untuk kuliah lagi, meski nyatanya itu tidak perlu. Namun dalam upaya pengasingan seperti kita, ikut berbaur seperti yang lain sepertinya bukan masalah."

"T-tunggu apa maksudmu dengan 'kuliah lagi'?"

"Ah, kau belum tahu? Aku dan Kibum sudah lulus kuliah saat kami berumur 19 tahun. Kami selalu loncat kelas saat sekolah dulu, sehingga kami bisa lulus lebih awal dari orang-orang biasanya."

"Apa semua pengawal pribadi keluarga Lee seperti itu?"

"Tidak juga, hanya beberapa."

"Ayahku memang aneh."

Sungmin menghela nafasnya, Donghae mendudukan dirinya di sofa. Tak berapa lama seorang perawat dengan rambut pirang yang digulung, bola mata yang berwarna biru langit, serta tubuh yang molek dan montok datang meminumkan obat pada Sungmin.

"Woaa sempurna. Sangat padat, halus, wanita tubuh molek sepertinya pasti pernah melakukannya dengan beberapa pria. Oh apa dia akan memuaskan? Aku akan-"

BUAGH

"B-berhenti berpikir hal-hal mesum hyung. Kau mengganggu konsentrasi membacaku." Perepatan sudah mampir di kepala Kibum sejak awal Donghae menganggumi tubuh perawat seksi itu. Bukannya Kibum cemburu, tapi Donghae benar-benar terlihat menjijikan saat ia membayangkan hal-hal mesum di otaknya.

"Appo! Itu wajah karena aku laki-laki, kau kan juga laki-laki apa tidak merasa terangsang dengan yang begituan?"

"Aku memang laki-laki, tapi aku tidak mesum sepertimu hyung!" Omel Kibum. Hyungnya yang satu ini memang selalu membuat Kibum emosi akhir-akhir ini.

"Saya permisi." Pamit perawat itu yang menyadarkan keduanya dari obrolannya masing-masing, keduanya langsung berdiri dan membungkukan kepalanya.

Donghae masih melemparkan tatapan sinisnya pada Kibum, sedangkan Kibum menatap jengah kearah Donghae. Begitu seterusnya jika ucapan Sungmin tidak menginstruksi mereka.

"Hei apa kalian berpikir untuk benar-benar menyembunyikan identitas?" Tanya Sungmin pada Kibum dan Donghae.

"Apa maksudmu Sungmin-ah?"

"Aniyo, aku hanya berpikir untuk terlahir sebagai orang baru selama di New York."

Kibum tertegun, kemudian ia tersenyum. "Kalau begitu aku akan mengganti nama menjadi Bryan, Bryan Trevor Kim. Bagaimana?"

Sungmin tersenyum senang. "Aku.. kupikir Vicent bagus, bagaimana?"

Donghae kemudian ikut tersenyum dan antusias mengikuti obrolan keduanya. "Oke! Sudah kuputuskan. Aku adalah Aiden Lee. Aku juga akan memakai lensa berwarna abu, kalian juga harus memakainya!"

Kibum mengangguk, namun Sungmin menggeleng. "Aku mau yang berwarna biru. Dan sepertinya aku juga akan mengecat rambutku."

"Baiklah baiklah, kalau begitu kau harus cepat sembuh dan keluar dari sini Sungmin-ah!" Pekik Donghae girang.

"Tentu saja."

Donghae tersenyum sambil memperhatikan Kibum dan Sungmin yang asik mengusulkan hal apa saja yang akan mereka rubah. Akhirnya pun kau tetap tidak membenciku, kau memang malaikat. Terima kasih Sungmin-ah.

.

.

.

.

.

.

END

Udah end ya, udah. Jadi mungkin gak ada pertanyaan lagi, atau masih ada? Sepertinya chap bonus ini full tentang MinHaeBum ya? Biarlah =w=

Ah iya, maafkan author juga karena sudah membiarkan ff author yang lain terbengkalai, hiks. Author juga sedih karena mereka semua terbengkalai. Tapi satu ff ini udah selesai, jadi agak lega.

Untuk kakak kakak kelas 12 yang mau menghadapi berbagai ulangan atau test dsb semangat ya! Saya juga bakalan semangat ngelanjutin ff selama libur nanti huehehehe.

REVIEW DITUNGGU YA READERS TERCINTA :*

.

.

.