That Boy is Mine

By Yamaguchiya Ayame

Disclaimer

Naruto © Masashi Kishimoto

Halo minna, saya kembali lagi...

Karena ini fanfic pertama saya jadi maaf kalo agak aneh

Arigatou gozaimasu yang sudah memberikan reviews-nya kemarin...

Gak nyangka bakal dapet review positif ^^ nah, buat yang penasaran dengan lanjutannya, ini dia fic chapter twonya...

Happy reading, minna-san! ^0^

Chapter Two

Sakura's POV

Karena aku merasa tidak enak dengan Ino maka kuputuskan sepulang sekolah aku akan meminta maaf padanya. Tapi tampaknya tidak semudah yang kubayangkan, aku baru saja hendak mendekatinya, Ino sudah keburu menghindar dariku. Sepertinya dia benar-benar marah padaku...

"Sudahlah, Sakura. Mungkin Ino sedang kesal saja, nanti juga dia kembali lagi seperti biasanya..." ucap Tenten yang mencoba menghiburku

"Semoga saja begitu... Aku benar-benar tidak bermaksud meremehkannya hanya saja, kau tahu sendiri kan bagaimana si Pangeran Es-Uchiha itu, dia kan selalu bersikap dingin pada siapapun" jawabku

"Yah... kita lihat saja, apakah Ino sanggup menghadapi sikap Sasuke yang dingin itu terus-menerus" balas Tenten santai

Aku hanya mengangguk dan melanjutkan membereskan buku-buku pelajaranku. Setelah selesai, aku dan Tenten pulang bersama

Di tengah perjalanan pulang...

"Sakura, apa kau sudah menemukan tempat tinggal baru?" tanya Tenten tiba-tiba

"Belum. Hah... aku juga tidak tahu harus mencari ke mana. Bagaimana mungkin aku bisa mencari tempat tinggal baru hanya dalam waktu seminggu, bibi memang aneh. Mengusirku seenaknya saja!" umpatku kesal

Yaa, saat ini aku sedang dalam masalah. Tempatku tinggal dulu bukan rumahku sendiri melainkan milik orang lain, aku menyewanya supaya bisa tetap tinggal di Tokyo. Tapi kemarin, tiba-tiba saja bibi pemilik rumah datang dan mengatakan bahwa aku harus mencari tempat tinggal baru karena rumah yang selama ini kusewa telah di sewa oleh orang lain dengan harga yang lebih mahal. Dan yang lebih membuatku kesal, bibi itu hanya memberiku waktu seminggu untuk mencari tempat tinggal baru. Bagaimana mungkin bisa aku mendapatkan tempat tinggal baru hanya dalam waktu seminggu apalagi mengingat ini adalah kota Tokyo yang padat. Menurutku sangat sulit menemukan tempat tinggal yang nyaman tapi dengan harga tidak terlalu mahal

"Begini, kalau tidak salah di daerah tempat tinggal saudaraku ada rumah yang menyewakan kamar kosong. Tapi hanya kamar sih bukan rumahnya, apa kau tertarik, Sakura?" tawar Tenten. Aku langsung membulatkan mataku

"Benarkah? Di mana itu?" tanyaku penasaran

"Tidak jauh dari sini sih. Tapi aku tidak bisa mengantarmu ke sana, karena aku harus segera mengerjakan tugas dan membantu membersihkan rumah. Tapi kalau kau memang tertarik aku akan memberimu alamat rumahnya"

"Tidak masalah, aku bisa ke sana sendiri. Mana alamatnya?"

"Ini alamatnya. Kau yakin akan ke sana sendirian?" tanya Tenten memastikan dan kubalas dengan anggukan kepala "Ya sudah, hati-hati di jalan. Aku duluan. Jaa"

Normal POV

Setelah mendapatkan alamat rumah tersebut dari Tenten, maka dengan segera Sakura menuju rumah yang mungkin akan menjadi tempat tinggal barunya nanti. Dalam hati, Sakura berharap rumah itu sesuai dengan yang di inginkannya karena dia sudah tidak ada pilihan lain lagi

Saat ini Sakura sudah berdiri di depan sebuah rumah yang cukup besar. Rumah itu memiliki dua lantai dan halamannya di penuh dengan tanaman obat-obatan. Kesan pertama yang Sakura tangkap dari rumah tersebut adalah nyaman. Tapi dia mulai ragu, melihat dari besarnya rumah tersebut dia memperkirakan bahwa harga sewa kamarnya pasti mahal. Walau begitu, Sakura tetap mencobanya dahulu siapa tahu pemilik rumah tersebut mau berbaik hati menolongnya. Jika memang pemiliknya tidak mau, Sakura rela menjadi pelayan di rumah ini asalkan dia bisa tinggal

"Yosh! Aku harus mencobanya. Ganbatte, Sakura!" ucap Sakura menyemangati dirinya sendiri. Lalu dia pun menekan bel di samping pagar rumah yang di cat hitam itu

Tak lama seseorang dari dalam rumah tersebut muncul untuk membuka pagar bagi Sakura. Ternyata pemilik rumah tersebut seorang wanita yang masih terlihat muda, wajahnya cantik dan keibuan... Wanita tersebut tersenyum setelah mempersilahkan Sakura masuk ke dalam rumahnya

"Se-selamat siang..." salam Sakura gugup

"Selamat siang. Maaf, kamu siapa ya?" tanya wanita itu dengan sopan

"Saya, nama saya Haruno Sakura. Begini, tujuan saya datang kemari karena teman saya mengatakan kalau salah satu kamar di rumah ini di sewakan, apa benar begitu?" tanya Sakura setelah berhasil mengendalikan rasa gugupnya

"Ah, iya itu benar. Apa kau berniat menyewanya?"

"Ya, tapi sebelumnya boleh saya tahu harga sewanya per bulan?"

"Kalau masalah biaya, itu bisa di bicarakan nanti-nanti saja. Oh iya, apa kamu bersekolah di Konoha High School juga?" tanya wanita itu setelah melihat seragam sekolah Sakura. Sakura mengangguk

"Saya memang bersekolah di sana. Eh, anda tadi bilang juga, apa maksud anda?"

"Ah itu, anakku juga bersekolah di sana. Mungkin saja kau mengenalnya, nama anakku..." belum selesai wanita itu berbicara, terdengar suara seseorang dari arah tangga

"Kaa-san, apa nii-san sudah datang?"

Sakura menoleh untuk melihat siapa orang yang bertanya itu. Orang itu sama terkejutnya dengan Sakura setelah mereka saling bertatapan satu sama lain

"Sa-sasuke-san? Sedang apa kau di sini?" tanya Sakura terkejut

"Heh, seharusnya aku yang bertanya begitu. Sedang apa kau di rumahku?" balas orang yang ternyata adalah Uchiha Sasuke itu dengan sinis

"Apa? Ini rumahmu?"

Sakura berbalik menghadap wanita tadi untuk meminta penjelasan, wanita itu tersenyum dan menjawab

"Sudah kuduga kau pasti mengenal anakku, Sakura-san. Dia adalah anakku, Sasuke. Dan karena kau berniat akan tinggal di sini, sebaiknya mulai sekarang kau memanggilku Mikoto baa-san" ucap wanita yang sebenarnya adalah ibu dari Uchiha bersaudara itu

"Apa, kaa-san? Dia akan tinggal di sini? Di kamar nii-san? Yang benar saja!" tampaknya Sasuke tidak terima dengan kehadiran Sakura di rumahnya apalagi gadis itu akan menempati bekas kamar kakaknya

"Sasuke! Ini sudah keputusan kaa-san dan tou-san. Lagipula nii-sanmu sudah tidak memakai kamar itu lagi"

"Tapi, kaa-san..."

"Tidak ada tapi-tapian. Sekarang kaa-san mau ke dapur sebentar, kau temani Sakura-san ke atas untuk melihat kamarnya" perintah Mikoto

Dengan perasaan ogah-ogahan Sasuke mengantar Sakura menuju kamar yang akan di tempati Sakura nanti. Sakura memperhatikan setiap sudut kamar itu dan kesimpulannya adalah, dia suka kamar itu

"Maaf, kalau kehadiranku membuatmu terganggu, Sasuke-san" ucap Sakura setelah keduanya terdiam cukup lama

"Hn"

Setelah mengucapkan kata "Hn" andalannya, Sasuke lantas pergi meninggalkan Sakura sendirian dan langsung masuk ke dalam kamarnya sendiri yang berada di seberang kamar Sakura

"Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikirannya..." gumam Sakura pada dirinya sendiri

Sasuke POV

Aku tidak menyangka bahwa kaa-san akan benar-benar menyewakan kamar nii-san pada orang lain. Memang benar kalau kamar itu sudah tidak dipakai lagi oleh nii-san karena nii-san sudah pindah ke luar kota untuk urusan pekerjaan tapi kaa-san tidak harus langsung menyewakannya. Bagaimana jika suatu hari nanti nii-san ingin kembali tinggal di rumah ini? Di mana nii-san akan tidur? Dan kenapa harus disewakan? Padahal keluarga kami juga tidak terlalu miskin sampai harus melakukan hal itu. Tou-san masih sanggup membiayai hidup kami sekeluarga. Terkadang aku tidak mengerti apa kaa-san pikirkan. Tapi yang lebih mengejutkanku bukan hanya masalah itu melainkan kenapa harus dia yang menempati kamar nii-san?

"Sasuke, ada temanmu datang berkunjung!" kudengar kaa-san memanggilku

Huh?! Apalagi sekarang?

Tunggu! Kaa-san tadi mengatakan apa? Teman? Seingatku aku tidak mempunyai teman selain Dobe, lagipula kalau Dobe yang datang Kaa-san tidak perlu memanggilku karena dia pasti akan langsung masuk ke dalam kamarku begitu saja

"Siapa?" tanyaku pada Kaa-san yang sudah berdiri di depan pintu kamarku

"Dia bilang namanya Yamanaka Ino..."

Yamanaka Ino? Kalau tidak salah dia adalah teman baik Haruno Sakura. Tapi kenapa dia datang ke rumahku?

"Sudah cepat sana temui dia. Seorang laki-laki tidak boleh membiarkan seorang gadis menunggu terlalu lama, Sasuke..." goda kaa-san yang kubalas dengan tatapan kesalku

Dengan perasaan sangat malas dan kesal, aku menemui Yamanaka. Kulihat dia sedang duduk bersimpuh di ruang tamuku. Walau rumahku dari luar terlihat modern tapi kaa-san tetap mempertahankan unsur tradisional dalam rumahnya

"Ada perlu apa kau datang kemari?" tanyaku tanpa berbasa-basi. Yamanaka tampak sedikit terkejut dengan kehadiranku tapi apa peduliku

"Ano, Sasuke-kun... besok apa kau ada waktu? Aku membutuhkan bantuanmu... Kau tahu sendiri aku lemah di bidang pelajaran dan kemarin aku baru saja mendapat nilai jelek di pelajaran Sejarah, jadi maukah kau membantuku belajar?" tanya Yamanaka malu-malu sambil menundukkan kepalanya. Hh... aku memutar mataku dengan malas. Bagus, semakin buruk saja masalah ini

"Aku tidak ada waktu" jawabku

"Ayolah, Sasuke-kun... aku benar-benar butuh bantuanmu... Jika tidak, aku bisa terancam tidak naik kelas..." pinta Yamanaka

"Apa kau tuli, hah? Sudah kubilang aku tidak ada waktu!" kini aku mulai kesal. Kulihat Yamanaka mulai ketakutan, tapi biarlah semakin dia takut semakin bagus

"Sasuke-kun..."

"Dan berhenti memanggilku seperti itu! Kau bukan siapa-siapaku jadi jangan sok akrab denganku!" kali ini Yamanaka menangis karena bentakanku "Kalau tidak ada yang dibicarakan lagi sebaiknya kau cepat pergi dari sini. Kau sudah mengganggu waktu istirahatku" tambahku dengan dingin

Secepat kilat Yamanaka bangkit berdiri dan berlari keluar dari rumahku. Tak lama berselang, kulihat kaa-san muncul dari dalam rumah sambil membawa nampan berisi cemilan dan dua cangkir teh

"Sasuke, di mana Ino-chan?" tanya kaa-san bingung. Aku mendengus pelan kemudian menjawab

"Buru-buru pulang katanya masih ada tugas" jawabku sekenanya

"Sasuke, sudah berapa kali kaa-san katakan, jangan mendengus di hadapan kaa-san!" omel kaa-san

"Iya iya, aku mengerti, kaa-san..."

Normal POV

Keesokan harinya, di Konoha High School...

Seperti biasanya, Sakura mengisi waktu kosongnya dengan membaca buku. Padahal teman-temannya sedang sibuk mengobrol. Tak lama Ino datang bergabung dengan Tenten dan Hinata

"Kemarin aku sial sekali!" umpat Ino

"Memangnya ada apa?" tanya Tenten

"Kemarin aku sengaja datang ke rumah Sasuke-kun dengan alasan meminta bantuannya untuk mengajariku pelajaran Sejarah, eh dia menolakku mentah-mentah bahkan dia membentakku karena aku memanggilnya dengan panggilan Sasuke-kun" jelas Ino panjang lebar. Hinata dan Tenten saling bertukar pandang dan berusaha menahan senyum

Sakura yang baru menyadari kehadiran Ino, langsung mengambil posisi untuk ikut bergabung

"Ino-chan, aku minta maaf tentang yang kemarin..." ucap Sakura dengan tulus. Semula Ino mendengus tapi kemudian dia menghela napas panjang

"Sudahlah, Sakura. Kau benar, memang sulit mendekati Sasuke-kun... tapi bukan berarti aku menyerah. Aku tidak akan menyerah, akan kubuat Sasuke-kun melihat ke arahku!" jawab Ino dengan tekad yang kuat. Sakura, Tenten dan Hinata hanya menghela napas pasrah

Mereka pun kembali bersama, dan seperti biasanya Ino yang mendominasi percakapan dengan cerita-ceritanya dan tidak ketinggalan ceritanya tentang Uchiha Sasuke. Ino benar-benar masih belum menyerah untuk mendapatkan perhatian Sasuke. Buktinya, saat ini Sasuke baru saja memasuki kelas dan dia sudah di hadang oleh Ino. Tindakan Ino yang berani itu mendapat tatapan tajam dari para fans Sasuke dan tatapan tidak percaya dari ketiga sahabatnya

"Sasuke-kun, aku tidak akan menyerah sampai kau mau menolongku..." ucap Ino pada Sasuke

"Terserah kau saja. Sampai kapanpun aku tidak akan mau membantumu" balas Sasuke yang di sambung teriakan senang para fansnya. Kemudian Sasuke pun berlalu menuju tempat duduknya

"Lihat saja, aku pasti akan mendapatkanmu, Sasuke-kun..." gumam Ino pada dirinya sendiri

T.B.C ~ To Be Continued

Fiuh... akhirnya selesai juga fic chapter dua ini...

Gomen kalo semakin aneh soalnya idenya selalu kabur ke mana-mana

Hahahaha

Dan seperti biasanya, review please