That Girl is Mine
By Yamaguchiya Ayame
Disclaimer
Naruto © Masashi Kishimoto
Don't review, Don't read
Gomennasai, minna-san... Saya memutuskan mengganti judulnya karena sepertinya tidak sesuai dengan ficnya...
Saya kembali lagi ^0^
Terima kasih buat yang udah kasih review...
Gomen gak bisa bales satu-satu hehehe
Oke, daripada berbasa-basi gak jelas mendingan langsung aja
Happy reading, minna-san...
Chapter Three
Normal POV
Keesokan harinya, di Konoha High School...
Seperti biasanya, Sakura mengisi waktu kosongnya dengan membaca buku. Padahal teman-temannya sedang sibuk mengobrol. Tak lama Ino datang bergabung dengan Tenten dan Hinata
"Kemarin aku sial sekali!" umpat Ino begitu sudah bersama dengan teman-temannya
"Memangnya ada apa?" tanya Tenten
"Kemarin aku sengaja datang ke rumah Sasuke-kun dengan alasan meminta bantuannya untuk mengajariku pelajaran Sejarah, eh dia menolakku mentah-mentah bahkan dia membentakku karena aku memanggilnya dengan panggilan Sasuke-kun" jelas Ino panjang lebar. Hinata dan Tenten saling bertukar pandang dan berusaha menahan senyum
Sakura yang baru menyadari kehadiran Ino, langsung mengambil posisi untuk ikut bergabung
"Ino-chan, aku minta maaf tentang yang kemarin..." ucap Sakura dengan tulus. Semula Ino mendengus tapi kemudian dia menghela napas panjang
"Sudahlah, Sakura. Kau benar, memang sulit mendekati Sasuke-kun... tapi bukan berarti aku menyerah. Aku tidak akan menyerah, akan kubuat Sasuke-kun melihat ke arahku!" jawab Ino dengan tekad yang kuat. Sakura, Tenten dan Hinata hanya menghela napas pasrah
Mereka pun kembali bersama, dan seperti biasanya Ino yang mendominasi percakapan dengan cerita-ceritanya dan tidak ketinggalan ceritanya tentang Uchiha Sasuke. Ino benar-benar masih belum menyerah untuk mendapatkan perhatian Sasuke. Buktinya, saat ini Sasuke baru saja memasuki kelas dan dia sudah di hadang oleh Ino. Tindakan Ino yang berani itu mendapat tatapan tajam dari para fans Sasuke dan tatapan tidak percaya dari ketiga sahabatnya
"Sasuke-kun, aku tidak akan menyerah sampai kau mau menolongku..." ucap Ino pada Sasuke
"Terserah kau saja. Sampai kapanpun aku tidak akan mau membantumu" balas Sasuke yang di sambung teriakan senang para fansnya. Kemudian Sasuke pun berlalu menuju tempat duduknya
"Lihat saja, aku pasti akan mendapatkanmu, Sasuke-kun..." gumam Ino pada dirinya sendiri
Sakura's POV
Hari yang cerah, paling enak kalau di habiskan dengan memandang langit atap gedung sekolah. Maka di sinilah aku sekarang, duduk menekuk lututku sambil memandang langit yang cerah. Hanya dengan begini saja, rasanya semua beban masalahku pun hilang. Hah... hari ini aku akan pindah ke rumah Sasuke. Membayangkannya saja membuatku merinding. Kemarin saja dia sudah menunjukkan rasa tidak sukanya padaku, apalagi kalau setiap hari akan bertemu dengannya. Bisa-bisa aku mati saking stressnya
"Sedang apa kau di sini?" tanya sebuah yang sangat familiar. Sudah kuduga itu memang suara Sasuke
"Terserah aku. Tempat ini kan bukan milikmu, jadi kau tidak berhak melarangku datang ke sini. lagipula ini tempat favoritku" jawab Sakura
"Hn"
Untuk waktu yang lama aku dan Sasuke sama-sama diam, kami tenggelam dalam pikiran kami masing-masing. Aku heran, sebenarnya apa sih yang mereka—para fans Sasuke—sukai dari si Pangeran Es ini? Tidak sopan, tidak ramah, ketus pula. Memang sih dia keren, jenius dan atletis...
Tunggu! Kenapa tiba-tiba aku jadi teringat ucapan Ino tempo hari ya...
Laki-laki yang selalu bersikap dingin dan acuh itu biasanya hot dalam berpacaran. Contohnya, ciumannya bisa membuat kita kesulitan bernapas atau mungkin mereka sangat agresif dalam berhubungan. Yah, semacam itulah
"Melamun, heh?"
"Ti-tidak" kilahku
"Kau tahu, kau itu tidak pandai dalam berbohong. Buktinya wajahmu memerah saat ini" aku langsung menutupi wajahku dengan tangan. Malu karena Sasuke memergokiku sedang melamun di tambah dengan wajah yang memerah. Dia pasti mengira aku melamunkan hal yang tidak-tidak. Memangnya aku Naruto atau Jiraiya sensei-yang mesum itu
"Aku hanya kepanasan saja"
"Kau melamunkan sesuatu yang kotor yaaa...?" goda Sasuke
"Sudah kubilang aku hanya..." aku tidak sempat menyelesaikan kalimatku karena ketika aku mengangkat kepalaku, wajah Sasuke hanya berjarak beberapa senti dari wajahku. Kami-sama... kenapa wajahnya sedekat ini
"Kau pasti sedang membayangkan hal yang mesum denganku kan?"
"Ap-Apa? Yang benar saja. Aku bahkan sama sekali tidak tertarik padamu, Uchiha Sasuke... Kau bukan tipeku"
"Lalu seperti apa tipemu itu?"
"Tipeku yang perhatian, baik, ramah dan selalu memikirkanku setiap saat..."
"Hn"
"Neji senpai baru..."
Untuk kedua kalinya aku tidak bisa melanjutkan kalimatku. Kali ini karena bibirku di bungkam oleh sesuatu yang lembut dan basah. Yaitu bibir Sasuke. Kami-sama, ini tidak mungkin. Sasuke, dia menciumku... Ciuman itu hanya berlangsung singkat
"Mungkin aku memang bukan tipemu tapi aku akan membuatmu merubahnya... Jadi bersiap-siaplah menghadapiku, Haruno Sakura..." ucap Sasuke dengan nada yang tidak pernah aku bahkan orang lain dengar. Aku hanya bisa diam, aku juga tidak bisa mencerna maksud dari ucapan Sasuke barusan
"Aku... tidak mengerti... maksudmu"
"Kau tidak perlu memikirkannya, kau hanya perlu bersiap-siap saja. Bersiap-siap untuk jatuh cinta padaku..." dan untuk pertama kalinya, aku melihat Sasuke tersenyum, walau sangat... tipis
Sakura's POV
Aku tidak percaya ini. Beraninya dia mengatakan hal seperti itu padaku, yakin sekali dia bahwa aku akan jatuh cinta padanya. Memang dia populer dan keren tapi jangan samakan aku dengan fans girl-nya yang lain. Kita lihat saja, apakah dia sanggup membuktikan ucapannya itu. Tapi yang membuatku kesal bukan hanya itu melainkan kejadian yang mengawali ucapannya itu. Kurang ajar sekali dia, mencuri ciuman pertamaku begitu saja! Padahal ciuman pertama itu seharusnya kuberikan pada seseorang yang benar-benar kusukai dan special dalam hidupku tapi dia seenaknya saja menciumku. Sekarang hilang sudah impianku yang susah payah kujaga itu. Semua ini gara-gara Uchiha sialan itu, aku tidak akan memaafkannya begitu saja, harus ada pembalasan yang setimpal untuk perbuatannya itu
Tiba-tiba sebuah ide konyol terlintas dalam otakku. Seketika itu juga senyuman mengerikanku muncul
"Hehehe... kau akan menyesal telah membuatku marah, Uchiha Sasuke..." ucapku pada diriku sendiri
Setelah meyakinkan diri bahwa ide itu akan berjalan dengan baik, kemudian aku keluar kamar untuk makan malam. Oh iya, mulai hari ini aku tinggal serumah dengan Sasuke dan keluarganya. Kami-sama berikan aku kekuatan untuk bertahan menghadapi tingkah dan perlakuan Sasuke yang menyebalkan itu...
Sasuke's POV
Entah mengapa hari ini perasaanku jadi tidak enak, aku merasa sepertinya sesuatu yang buruk akan terjadi padaku.
"Sasuke, kenapa kau belum berangkat sekolah?" tanya kaa-san mengingatkanku
"Hn"
Setelah aku memakai sepatuku, aku tidak langsung berangkat aku sengaja mengulur waktu lebih lama di halaman depan bahkan saat kaa-sanku mengomeliku, aku tidak terlalu mendengarkannya. Tak lama, keluarlah gadis yang sedari tadi kutunggu-tunggu itu
"Aku berangkat dulu, baa-san" ucap gadis itu
"Hati-hati di jalan, Sakura-chan..." balas kaa-san
"Lama sekali kau!" ucapku padanya yang di sambut dengan tatapan kesal darinya
"Tidak ada yang menyuruhmu menungguku lagipula aku bisa berangkat sendiri" balasnya dengan ketus, aku hanya tersenyum tipis
Baru kali ini ada gadis yang menolakku secara terang-terangan seperti ini. Biasanya hanya dengan melihatku saja bisa membuat gadis-gadis berteriak histeris tapi dia berbeda. Dia tidak terpengaruh denganku, bahkan aku sudah sengaja mendekatinya tapi dia tetap saja tidak tertarik denganku. Dan hal ini membuatku penasaran dengannya. Itulah alasanku mendekatinya. Alasanku yang lainnya adalah supaya para fansku tahu kalau aku sudah menyukai orang lain maka dengan begitu mereka bisa berhenti mengganggu hidupku di sekolah
Sakura, nama gadis itu. berjalan di depanku dengan langkah santai. Sesekali dia bergerakkan kepalanya mengikuti irama musik yang dia dengarkan dari MP3 playernya. Ternyata dia suka musik tapi musik seperti apa yang dia sukai kira-kira? Tiba-tiba saja aku merasa merinding, aku tidak tahu apa sebabnya tapi sepertinya firasatku semakin tidak enak saja. Sudahlah, untuk apa aku memikirkan hal seperti itu
"Musik apa yang sedang kau dengarkan?" tanyaku setelah berhasil menyejajari langkah Sakura. Gadis itu melirikku sekilas sebelum kembali memandang lurus ke depan
"Kau tidak punya mulut yaa?" tanyaku sinis. Sakura menghentikan langkahnya sambil melepaskan earphonenya kemudian menatapku dengan tatapan bingung
"Kau sedang berbicara denganku?" tanya gadis itu polos. Ingin rasanya aku memukul kepala gadis itu tapi aku sadar dia bukan Naruto yang sudah biasa kupukul kepalanya jika membuatku kesal. Yang bisa kulakukan hanya menghela napas
"Memangnya ada orang lain lagi di sini selain kau?" jawabku yang di balas dengan gumaman oh... yang panjang darinya. Gadis ini menyebalkan juga ternyata
"Gomen, Sasuke-san... Tadi kau bicara apa?" aku terdiam sejenak sebelum kemudian kembali melanjutkan langkahku
"Panggil aku Sasuke-kun" kali ini giliran Sakura yang terdiam sambil membelalakkan kedua matanya menatapku
"A-apa? Kenapa aku harus memanggilmu seperti itu?" tanya Sakura bingung. Aku tidak mungkin menjelaskan alasannya pada Sakura karena aku sendiri juga tidak tahu alasannya. Yang aku tahu, aku hanya ingin dia memanggilku seperti itu. Itu saja
"Pokoknya kau harus memanggilku begitu. Dan itu berlaku juga selama di sekolah" tegasku
"Aku tidak mau... Nanti orang lain bisa salah paham jika aku memanggilmu begitu"
"Orang lain yang kau maksud itu Neji?" tebak Sasuke. Seketika dapat kurasakan wajahku memanas.
"Ti-tidak. Tentu saja orang lain juga seperti Ino..." suara menjadi pelan saat aku menyebutkan nama Ino. Dapat kurasakan Sasuke memandangiku, aku berusaha bersikap biasa
"Aku sudah bilang, kalau kau itu tidak pandai dalam berbohong. Dan ucapanku kemarin, aku serius. Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku dan kau akan melupakan perasaanmu pada Neji" ucap Sasuke yang lagi-lagi membuatku memerah.
"PD sekali kau ini!"
Sasuke tiba-tiba menghentikan langkahnya, maka aku pun berbalik dan memandang ke arahnya dengan tatapan bertanya. Kemudian Sasuke berjalan mendekatiku, aku langsung waspada. Aku takut kejadian kemarin terulang kembali. Tapi ternyata aku salah, Sasuke memandangiku dengan tatapan yang-aku sendiri tidak yakin-lembut.
"Aku akan menunjukkan padamu bahwa aku jauh lebih baik daripada Neji. Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku sampai kau tidak mampu berpaling dariku. Hanya aku yang mampu membuatmu berdebar-debar. Dalam pikiranmu hanya ada aku, tidak ada yang lainnya. Dan kau akan melihat bahwa aku tidak seperti yang orang lain pikirkan. Aku bisa menjadi seseorang yang sangat romantis dan itu kulakukan hanya padamu. Akan kubuktikan itu semua..."
Setelah mengatakan semua kata-kata yang mengejutkan itu, Sasuke kembali melanjutkan perjalanannya bahkan yang tidak kalah mengejutkannya, Sasuke, dia menggandeng tanganku. Ingin rasanya aku melepaskan tanganku dari tangannya tapi entah mengapa di dalam hatiku aku merasa enggan melakukannya. Astaga! Apakah mungkin aku sudah terpengaruh dengan kata-katanya barusan? Aku sendiri juga tidak tahu apa yang terjadi dalam hatiku, mungkin aku bisa membiarkan ini berjalan apa adanya untuk beberapa saat saja. Ya, kurasa ini tidak apa-apa...
T.B.C (To Be Continued)
Fiuh... selesai juga fic chap 3 nya
Bener-bener dadakan nih idenya. Tiba-tiba muncul gitu aja nih ide. Padahal rencananya gak ada adegan ciumannya di sini eh malah muncul begitu saja
Hahahahaha
Oke, seperti biasanya... Review please
