...
Alfred : Oi, napa lu?
... *mukulin panci*
Arthur : Oke, gue mulai ngerasa ga enak.
... *tetep mukulin panci*
Alfred : ... Dia kenapa sih?
Arthur : *angkat bahu* Mana gue tau.
...PARTY IN IPANEMA, BABY! *mukulin panci* I WANNA PARTY! I WANNA SAMBA! I WANNA PARTY! I WANNA SAMBA! I WANNA PARTY! AND LIVE MY LIFE! I WANNA PARTY!
Levid : PARTY!
Author + Levid : AND FLYYYYYY~~~
Alfred : ... Kirana Agi Qiao doesn't own anything except the idea for this fanfic. And Levid. *kabur bareng Arthur*
Chapter One : Cards Play and Spades
"HWAAAAAAAAAA!"
"AAAAAAAAAAAA!"
Dua suara familiar bernada melengking membuat suatu keberisikan sendiri dalam hutan itu. Lalu dari langit (apa? Mereka memang jatuh dari langit! Apa ada penjelasan lain?) terjatuhlah dua orang sosok kembar. Langsung menimpa tanah, membuat suara 'BRUK' kencang.
"Oooww!" rintih Alfred, mencoba bangun setelah mendarat dengan (kurang) mulus di atas daratan. Untung saja banyak daun yang sudah berguguran yang menutupi tanah. Jika tidak, mungkin salah satu tulangnya sudah patah sekarang. Bollocks.
"Aw... Apa itu tadi?" ringis Matthew, yang bernasib sama dengan Alfred. Dia segera bangun dan mengecek keadaan mereka, "Syukurlah. Sepertinya tidak ada luka." gumamnya lega.
"Jangan lega, Matt!" Alfred memotong panik, "KITA ADA DIMANA?!" teriaknya.
"Jangan berteriak, kupingku sakit." Matthew menghela nafas. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Mereka mendarat di sebuah hutan, entah dimana. Sebagai seorang kakak yang lebih tua tiga menit, Matthew bertanggung jawab atas keselamatan mereka berdua.
"Di Washington tidak ada hutan ini, kan?" tanya Matthew.
"Tentu saja. Kurasa ini bukan Washington..." gumam Alfred. Dia hendak mengepalkan tangannya, namun yang ada malah mencengkeram sesuatu. Dia langsung mengangkat tangannya, melihat jam spade yang tengah berdetik di cengkeramannya, "JAM INI!" serunya.
Matthew menoleh, "Benar juga. Tadi kenapa kau berhenti karena jamnya?" tanya Matthew curiga.
Alfred menatap jam yang sebenarnya tidak berdosa itu, "Umm... Kedengarannya memang konyol, tapi... Aku merasa jam ini memanggilku dan berkata sesuatu, seperti... 'Cepatlah ke sini. Cards berada di ambang kehancuran.' begitu." jelas Alfred polos.
"Kau ini," Matthew menepuk jidatnya, "Mana bisa jam mengeluarkan suara seperti itu?" tanyanya khawatir.
"Tapi... Kalau memang benar, bagaimana?" Alfred menatap Matthew.
Matthew terdiam. Mereka terdiam. Jam itu memanggil, lalu mereka terhisap ke dalam lubang hitam, dan mendarat di hutan ini. Mereka saling berpandangan.
"Jangan-jangan ini... Cards?!" teriak mereka bersamaan, panik.
"Tapi tapi tapi bukankah itu semua hanya dongeng yang sering diceritakan ayah?!" seru Alfred.
"Tapi mungkin saja itu nyata!" Matthew mengacak-acak rambutnya.
"Bagaimana mungkin itu nyata?! Aku mau pulang!"
"Aku juga mau pulang! Tapi kurasa, kita tidak tahu caranya!"
"Aduuuh, bagaimana ini?!"
"Kalian berdua berisik sekali, tidak AWESOME."
"... Matt, kau dengar suara lain?"
"... Iya. Bukan kau, kan?"
"Tentu saja bukan."
"Tidak AWESOME sekali, sih. Yang bicara itu aku!"
Si kembar menoleh, mendapati sosok lain berambut putih keperakkan dengan mata maroon red. Dia juga memiliki sepasang benda mirip tanduk dan memiliki ekor layaknya devil. Dia berkacak pinggang sambil menatap ke arah Alfred dan Matthew, "Berisik, aku sedang tidur siang!" serunya.
"Um... Kau siapa?" tanya Matthew. Alfred sudah ketakutan dan mencengkeram lengan bajunya sambil setengah bersembunyi di belakang tubuh kakaknya. Oh, Alfred dalam keadaan seperti ini sangatlah manis.
Ah, tapi kembali ke masalah, Matt. Siapa tahu orang ini bermaksud jahat.
Orang itu menatap mereka sekali lagi sebelum mengerjapkan matanya, "Oh? Kurasa kalian adalah itu. Baiklah, aku akan mengantar kalian keluar hutan ini. Ayo, ikuti aku." kata orang itu.
"T-tunggu! Bagaimana kami bisa mempercayaimu?! Kau kan orang asing!" seru Alfred, mencengkeram lengan baju kakaknya dengan lebih kuat.
"Kesesesese... Tenang saja, aku tidak berniat untuk melakukan hal yang tidak AWESOME pada kalian. Justru aku ingin membantu kalian keluar dari hutan ini. Cepat, ikuti aku." kata orang itu sebelum berjalan pergi.
Matthew mengangguk ke arah Alfred. Mereka berdua pun segera mengikuti orang itu. "Hei, apa maksudmu tadi?" tanya Matthew.
"Hm?" pemuda itu menoleh.
"Tadi kau bilang kalau kami adalah itu. 'Itu' apa maksudmu?" ulang Matthew, memperjelas pertanyaannya.
"Oh, itu. Yah, kalian akan tahu nanti. Tapi biar kuberitahu satu hal, jika kalian tidak cepat bertindak, kalian akan menghadapi hal yang buruk." pemuda itu tersenyum misterius.
"Hah? Apa maksudnya?" tanya Alfred bingung.
"Yosh, informasi untuk hari ini sudah habis. Sekarang tugasku hanya mengantar kalian keluar hutan dan kalian lanjutkan sendiri perjalanan kalian!" seru si albino riang sambil menarik kedua tangan Alfred dan Matthew.
"Tunggu, apa yang ada di luar hutan ini?"
"Hanya pedesaan kecil. Ah," pemuda itu menoleh ke arah Alfred, "Sebaiknya kau ikuti jarum panjang di jam spade-mu itu. Sangat AWESOME, lho." sambungnya sambil memberikan cengiran lebar.
Alfred tersentak, "Darimana kau tahu soal jam itu?!" serunya kaget.
"Yah, bisa dibilang aku mengetahui banyak hal, termasuk jam itu." kata pemuda itu.
Matthew hendak membuka mulutnya ketika pemuda itu berhenti berjalan. Dia berbalik, tersenyum ke arah Matthew, "Teruslah berjalan lurus. Kalian akan sampai di desa." katanya.
"Oi, apa kau tidak ingin mengantar kami sampai desa?" tanya Alfred.
"Aku masih punya urusan. Lagipula, kalau memang kalian, aku tidak khawatir, kok." pemuda itu segera berlari pergi, "Ingat, ikuti jarum panjang, ya!" teriaknya sebelum sosoknya benar-benar menghilang dari pandangan Alfred dan Matthew.
"Orang aneh." gumam Alfred.
Mereka berdua pun terus berjalan hingga keluar hutan, dan sampai di sebuah desa kecil. Satu kata yang bisa mendeskripsikan desa itu ; biru. Ya, biru. Hampir semua sudut dipenuhi warna biru. Atap, dinding, pintu, kusen jendela.
Beruntunglah warganya tidak berkulit biru.
"Dia benar-benar berkata jujur." kata Matthew, meneliti desa itu.
"Matt, aku lelah berjalan." keluh Alfred.
"Aku juga. Sebaiknya kita pergi ke penginapan dan menyewa kamar." usul Matthew.
"Tapi kita tidak punya uang, kan?" tanya Alfred.
"... Kau benar." Matthew menghela nafas. Dan seorang penduduk tidak sengaja melewati mereka. Matthew langsung mengejar orang itu, "Permisi!" serunya.
Orang itu menoleh, "Ya?" tanyanya.
"Apa kau tahu kita berada di mana?" tanya Matthew canggung.
"Di desa dekat Istana Spades, memangnya kenapa?" tanya orang itu curiga.
"Kami tersesat." jawab Alfred cepat, melihat raut kecurigaan di wajah orang itu.
"Tersesat? Kalian berasal dari mana?" tanya orang itu lagi.
"... Desa di timur Spades," I guess, tambah Alfred dalam hati.
"Ah, timur. Ya, ya, kalian jarang pergi ke ibu kota Spades, hm? Oh, maafkan aku, tapi aku sedang terburu-buru. Sampai jumpa!" orang itu tersenyum sebelum melengang pergi.
"Jadi," Matthew berdeham, "Kita ada di Spades." katanya.
Alfred mengangguk, "Spades."
"Spades."
"Spades."
"..."
"..."
"KENAPA KITA BISA BERADA DI SPADES?!" teriak Matthew, sedikit melenceng dari image-nya yang selalu kalem dan tenang.
"Tenang, Matt. Kau membuatku panik." Alfred menoleh ke sebelah barat, ada sebuah bayangan dari bangunan tinggi—sepertinya tertutup kabut, "Itu... Istana Spades kan? Berarti seharusnya ada King of Spades! Kita bisa meminta bantuannya!"
"Meminta bantuannya? Apa kau gila?" tanya Matthew.
"Aku masih waras, setidaknya sampai kita terjebak di sini. Mungkin ini hanya ilusi yang tercipta karena ketidakwarasanku." kata Alfred.
"Kalau begitu, kemungkinan besar aku pun tidak waras." Matthew mendengus.
"Well, mengesampingkan masalah waras atau tidaknya kita ini, sebaiknya kita pergi ke sana." kata Alfred, menatap jam spade-nya.
"Kenapa kau ngotot sekali ingin pergi ke sana?" Matthew mengernyitkan dahinya.
Alfred menunjukkan jam itu pada Matthew, "Karena jarum panjangnya mengarah ke sana."
"Kau gila, ya. Mungkin saja itu hanya kebetulan, jarum panjangnya menunjuk ke arah sini." kata Matthew.
"Terus saja berkata seperti itu. Karena daritadi jarum panjangnya tidak bergerak sama sekali kecuali kalau kita merubah arah jalan kita." Alfred menggembungkan pipinya.
"Really... Kenapa kita bisa berakhir seperti ini..." gumam Matthew sambil menghela nafas.
"Jadi, ini dia." Alfred menghentikan langkahnya ketika mereka berdua sampai di sebuah gerbang besar (berbentuk spade raksasa yang dicat warna biru).
"... Bagaimana caranya agar kita bisa masuk? Lagipula, bukankah penjagaan di istana sangatlah ketat?" tanya Matthew.
"... Right. Um..."
Tepat di saat mereka tengah berfikir, gerbang itu mendadak terbuka lebar. Seolah memberi jalan untuk mereka berdua. Alfred dan Matthew saling berpandangan. Mereka lalu berjalan ragu, menuju pintu utama istana itu.
Alfred mengedarkan pandangannya ke sekeliling, banyak sekali tanaman hias yang dipotong berbentuk spade dan berwarna biru. Aneh.
"... Matt, tarik perkataanku. Kurasa kita tidak sedang bermimpi dan masih waras." kata Alfred, masih sambil menatap tanaman hias unik itu. 'Kalau kita bisa membawa satu tanaman dan menjualnya di dunia normal, pasti kita bisa membeli rumah baru,' batin Alfred senang.
"Ya, aku juga berfikir begitu."
"Memangnya kenapa?" Alfred menoleh ke arah Matthew.
Matthew menunjuk ke arah depan mereka, "Pintu utamanya terbuka. Kita dipersilakan masuk."
Throne room.
Pasti. Karena ada tiga kursi besar di ujung ruangan. Kursi yang terletak di tengah yang paling besar, di sebelah kanannya adalah yang terbesar kedua, sementara yang di sebelah kiri lebih kecil dari yang lain. Kursi biru dengan bentuk spade di belakangnya.
"Serius, aku tahu ini kerajaan Spades, tapi kenapa hampir seluruh benda berbentuk spade?" Alfred berjalan pelan di sebelah Matthew.
"Entahlah." kata Matthew pelan.
"Siapa kalian?"
Seolah déja vú, mereka terdiam begitu mengetahui ada orang lain di situ. Alfred langsung berjalan ke belakang Matthew, berlindung di balik tubuh kakaknya (yang sebenarnya tidak lebih besar dibanding dirinya). Tak lama, muncullah sesosok pemuda pirang dari salah satu koridor. Matanya berwarna clear green. Dan alisnya tebal, sedikit informasi. Dia mengenakan pakaian bernuansa biru (keunguan) dan sebuah topi biru mungil bertengger di atas helaian rambut pirangnya.
Dia menatap tajam ke arah Matthew dan Alfred, "Jelaskan siapa kalian DAN untuk apa kalian datang ke sini." perintah orang itu.
"Ka-ka-kami datang untuk berbicara dengan... K-King of Spades..." ujar Alfred gugup.
"Hn?" pemuda itu menatap Alfred cukup lama sebelum seringai kecil muncul di bibirnya, "King of Spades? Untuk apa kalian mencarinya?" tanyanya.
"Kami... Butuh bantuannya..." jawab Matthew takut-takut.
"Bantuan?" si pirang berjalan ke depan salah satu kursi yang berukuran medium, "Sayang sekali. King of Spades yang dulu menghilang tanpa kabar, dan kami belum mendapatkan King of Spades baru." kata orang itu.
"Ka-kalau begitu... Bisakah kami berbicara dengan Queen of Spades?" tanya Matthew.
Pemuda itu tersenyum. Bukan senyum manis atau seringai, hanya senyum simpul. "Kalian sedang melakukannya, sebenarnya." katanya tenang. Kelewat tenang malah.
"H-hah? Maksudnya?" Alfred mengerjapkan matanya.
Pemuda itu duduk di kursi yang tadi dia hampiri, "Akulah Queen of Spades yang kalian cari. Apa yang ingin kalian bicarakan?"
Hening sesaat.
"... What a nice reaction you had there." sang Queen menahan tawa, dengan menunjukkan seringai, sambil menatap tertarik ke arah Alfred yang baru saja berteriak dengan nada melengking.
"BUKANNYA QUEEN SEHARUSNYA SEORANG PEREMPUAN?! ATAU KAU ADALAH PEREMPUAN TERJELEK YANG PERNAH KULIHAT?!" teriak Alfred (tanpa) sopan sedikit pun.
Tapi tampaknya sang Queen tidak mempermasalahkan perkataan Alfred. Dia malah sibuk menahan tawa, "Tsk. Tsk. Sungguh menarik. Tidakkah kalian tahu kalau di Cards, jabatan dipilih secara politis, dan bukan genderis?" tanyanya.
Alfred langsung terdiam. Tentu saja, dia baru teringat cerita ayahnya. Matthew langsung menyuruhnya untuk meminta maaf. "Maafkan saya, Yang Mulia..." gumam Alfred pelan.
"Ah, tidak. Jangan permasalahkan itu. Sebenarnya kau cukup menarik." Queen of Spades membenahi letak topinya, "Jadi, untuk apa kalian mencariku?" tanyanya.
"Penjelasannya panjang. Tapi kurasa bisa dipersingkat." Matthew berdeham, "Awalnya kami sedang berangkat menuju ke sekolah, tapi saudaraku ini malah berhenti untuk memperhatikan jam peninggalan ayah kami. Aku menghampirinya dan mendadak kami terhisap ke dalam lubang hitam yang muncul entah darimana. Kami mendarat di hutan di dekat sini, lalu bertemu seseorang yang menunjukkan jalan menuju desa terdekat. Kami pun memutuskan untuk bertanya pada...err...Queen of Spades." jelas Matthew, cukup untuk merangkum kejadian hari ini.
"Tentang jam, bolehkah aku lihat jam itu?" tanya Queen of Spades.
"Tentu." Matthew melirik ke arah Alfred.
Alfred terdiam sejenak, ragu untuk memberikan jam berharganya itu atau tidak. Dia akhirnya mengambil jam itu dari saku jaketnya dan memberikannya pada Queen of Spades.
"Ah," Queen of Spades melihat jam itu dengan tatapan senang, "Sudah kuduga. Kalian memang keturunannya. Karena kau mirip dengannya." katanya pada Alfred.
"... Keturunan siapa?" tanya Alfred dan Matthew berbarengan.
"'Siapa'? Tentu saja King of Spades sebelumnya yang dikabarkan menghilang." kata sang Queen tenang.
"HAH?! KING OF SPADES?!"
"Tentu. Jika aku tidak salah ingat... Namanya Franklyn. Franklyn Jones." kata Queen of Spades.
"Franklyn JONES?! ITU NAMA AYAH KITA!" teriak Alfred shock.
"Bingo. Itu artinya kalian adalah King of Spades selanjutnya. Maksudku, salah satu dari kalian." kata Queen of Spades.
"Tapi... Ayah... King... What..."
"Sepertinya kalian tidak diberitahu olehnya. Baiklah, biar kujelaskan. Beberapa tahun silam, Spades kehilangan King. Dia mendadak menghilang tanpa jejak. Akhirnya Queen of Spades pada saat itu—ibuku—mengangkatku sebagai Queen of Spades dan aku harus mencari King of Spades baru. Itu alasannya kenapa kau," Queen of Spades menatap Alfred, "Mirip dengan King of Spades. Kau adalah anaknya."
"... Tapi, Queen—"
"Please, panggil aku Arthur. Namaku Arthur Kirkland."
"Oke, Arthur, kami sama sekali tidak mengerti apa maksud semua ini, dan kami hanya ingin kembali ke dunia kami." kata Matthew. 'Bahkan aku belum sempat memberi makan Kumakichi...' Oh, Matthew. Kau malah mengkhawatirkan beruang kutubmu tersayang.
"Dunia kalian? Dunia kalian adalah di sini. Salah satu dari kalian ditakdirkan untuk menjadi King of Spades, memimpin kerajaan ini." kata Arthur.
"Bukankah ini semua terlalu cepat? Maksudku, kami baru sampai di sini dan kami langsung diberitahu kalau salah satu dari kami adalah King of Spades. Ini semua... Terlalu... Sulit untuk diterima..." gumam Alfred lemas.
Arthur menganggukkan kepalanya, "Mungkin kau ada benarnya. Baiklah, sebagai calon pemimpin baru Spades, kusarankan kalian beristirahat sebentar. Besok, kita akan mulai serius." kata Arthur.
"... Baiklah, Arthur." kata Alfred dan Matthew, tidak punya pilihan.
"Oh, dan aku ingin bertanya satu hal," Arthur menatap Alfred.
"Ya?" Alfred balas menatap Arthur.
"Dimana ayah kalian?"
Alfred terdiam. Dia hanya menatap ke arah lantai marmer berwarna biru yang dia pijak. Seolah mengerti kalau Alfred dan Matthew tidak bisa menjawabnya, Arthur pun menghela nafas, "Lupakan saja. Segera beristirahat. Para maid akan menunjukkan kamar kalian masing-masing." katanya.
Chapter One : End
#NowPlaying : One More Night – Maroon 5
Kirana : WOOOOO HOOOOOOOOOO SASUGA ARTHUR KIRKLAND! xDd
Qiao : ... To think that this dreck over here is the one who make this fanfic...
Kirana : What? You get a problem with that? :U
Agi : Kalian berdua udah mirip Francis sama Arthur. Berantem mulu. ||D
Kirana : Well, mengesampingkan masalah kami, review-nya boleh lah~ :"3
Next Capter preview!
"Aku pasti sudah gila..."
"Biar kuperkenalkan kau pada Jack of Spades, Wang Yao."
"Aku? Kenapa harus aku?"
"Kalau begitu, ayo kita mencari Ace!"
'Bukan hanya beralis tebal. Kau juga tidak bisa memasak.'
"Aku yang akan menjadi tutor memanah untuk Alfred."
