Story
Wang Yi' P.O.V

Lalu, setelah peperangan berakhir, Sima Yi-sama beserta kedua saudaranya dan Kurapika-sama sudah berada di istana kerajaan Wei. Waktu itu kami sedang mengadakan rapat. Rapatnya hanya mendiskusikan siasat perang melawan Kerajaan Wu, musuh terbesar semua Kerajaan. Di sini agak ramai karena Raja dari Shu dan beberapa pengikutnya.

Setelah rapat selesai, Kurapika-sama menyusul Rin-sama pada saat itu. Aku tatap mereka akrab sekali. Yah, walaupun pada saat itu... Rin-sama hanya menjawab seperlunya.

Mereka turun desa. Mereka diawasi oleh Raja kita yang sekarang, Xiahou Dun dan juga aku. Anak-anak menyambut mereka dengan gembira ria.

"Senang sekali kalau melihat mereka senang, ya?" Kurapika-sama menoleh pada Rin-sama.

"A- ah... Iya," kata Rin-sama singkat.

"Kalau begitu, Xiahou Dun, Wang Yi... Kalian boleh meninggalkan kami," ucap Kurapika-sama.

Kami menunduk hormat dan pergi.

"Sekarang, kita mau kemana?" Tanya Kurapika-sama waktu itu.

Rin-sama langsung mengajak Kurapika-sama ke tempat pertama kali mereka bertemu, danau Wei. Danau Wei tidak terlalu jauh di sini. Dan... Sampai sekarang, airnya masih jernih sekali. Masyarakat selalu mengambil air di sana untuk obat. Dan disebut danau Wei karena terletak di wilayah Wei. Yah, namanya zaman dahulu.

Nah, sampailah Rin-sama dan Kurapika-sama di danau Wei.

"Sungguh beruntung waktu itu kau datang menolongku... Karena waktu itu aku jauh dari danau ini..." kata Rin-sama dingin. "Aku ucapkan terima kasih karena datang jauh-jauh ke sini..."

"Kalau ini bukan tugas, mungkin aku akan menghabiskan waktuku untuk membaca gulungan dan buku," ucap Kurapika-sama.

"... Kau juga suka membaca buku? Aku juga. Aku senang kegemaran kita itu sama..." kata Rin-sama.

Rin-sama berjalan ke danau. Ia hampir jatuh. Untunglah Kurapika-sama menangkapnya. Kalau tidak, Rin-sama akan jatuh ke danau dan tubuhnya akan basah.

Mereka saling memandang (anak-anak : "Hooooh!" *terpukau saat membayangkan*).

"Te- terima kasih banyak," Rin-sama berkata. Wajahnya yang agak pucat merona.

[Skip Time]

Sudah malam. Rin-sama memintaku untuk menemaninya tidur. Alasannya dia bosan tidur sendirian.

Dia menyuruhku memakai baju yang ia bawa dari Jepang. Ng... Namanya yukata. Ia sering memakainya saat tidur.

"Aku tidak terlalu pandai cara memakainya..." ucapku. Aku bingung waktu itu. Karena aku tidak pernah memakainya. Yah, walaupun sama saja dengan baju kaisar Cina. ._.

"Biar kubantu..." Rin-sama membantuku memakai yukata.

"Maafkan aku telah merepotkan," ucapku.

"Tak masalah. Kita adalah teman..." begitu katanya. Suaranya lembut dan dingin.

"Ng... Aku ingin memberitahukan sesuatu. Apakah... Yang Mulia mengizinkanku berbicara?"

Rin-sama masih sibuk dengan bagian belakang yukata-ku. Kemudian ia berkata, "... Boleh saja. Kau tidak perlu meminta izin kepadaku. Kita hanya berbicara, bukan? Kenapa harus meminta izin?"

Ucapan Rin-sama membuatku terkejut. Selama ini, dialah putri yang paling baik kepribadiannya yang pernah kutemui di dunia ini. Kemudian aku bersujud dan mengangkat kepalaku sedikit

"Aku ingin mengatakan kalau 3 hari lagi... Ulang tahun Kurapika-sama..."

"Kenapa kau bersujud begitu kepadaku?" Tanya Rin-sama dingin.

"... Ng... Cao Cao-sama menyuruhku untuk... membiasakan... seperti ini," ucapku terbata-bata.

"Berdiri. Jangan pernah tunduk kepadaku... Walaupun kita hanya berbeda umur 2 tahun, tapi aku akan menghormatimu sebagai adikku," ucapnya.

Aku pun bangkit. Tetapi aku masih menunduk.

"Wang Yi... kau bilang tadi benar?"

"Ya, Yang Mulia. Sima Yi-sama memberitahukannya kepadaku. Kami akan merayakannya. Apa... anda mau ikut?"

"... Tentu," ucap Rin-sama.

"Sungguh suatu kehormatan anda mau datang!" Aku menunduk hormat.

Lalu, tangan Rin-sama diletakkannya di atas kedua tanganku. Aku mengangkat kepalaku dan menurunkan tanganku.

"... Jangan lagi..."

"Ma- maafkan aku!" Aku menunduk lagi.

Rin-sama memiringkan kepalanya dan kemudian, ia berjalan ke jendela. Ia mendongak, menatap rembulan yang bersinar.

"Tidak pernah ada yang mau menganggapku sebagai teman, ya? ... Semua orang menganggapku sebagai atasannya. Karena itulah aku benci menjadi seorang putri," ucap Rin-sama.

"Rin-sama... Tapi aku-"

"..." ia memelukku. "Tutup mulutmu. Aku sudah tahu," ucapnya. Ia melepas pelukannya. "Mulai sekarang, kau kuangkat menjadi adikku. Kau mau?"

Aku hanya bisa mengangguk pelan. Pertama kali bertemu dengannya saja, aku sudah membayangkan bagaimana kalau dia menjadi seorang kakakku.


"Senang sekali jadi kakak! Kakak jadi adik angkat seorang Tuan Putri!" Kata seorang anak perempuan.

"Iya. Sangat menyenangkan. Aku jadi iri padamu," Yuanji berkata.

"... Ah! Lalu pada saat pestanya bagaimana?" Tanya Da Qiao, seorang remaja yang pernah ikut dalam perang.

"Iya! Aku penasaran!" Ucap Xiao Qiao, kembaran Da Qiao.

"Lalu saat pesta itu..." Xiahou Ba muncul.

"Xiahou Ba!"

Xiahou Ba hanya tersenyum sambil mengangguk. Kali ini ia yang bercerita.

Story
Xiahou Ba's P.O.V

Lalu saat pesta itu, semuanya di dekorasi berdasarkan dekorasi Belanda. Kurapika-sama sangat senang waktu itu. Yah, walaupun gedung serbagunanya tidak dapat menutupi bagian itu, tapi Kurapika-sama sangat senang. Ia juga sudah memberikan sebuah gaun untuk Rin-sama. Gaun ala Belanda yang mewah.

Di lain tempat, Rin-sama baru saja membungkus kado. Lalu ia pergi bersama dengan rombongan lainnya. Ada Rin-sama, Wang Yi, Cao Cao-sama, Xiahou Dun-san, Guo Jia, Cao Pi-sama, dan juga Zu Xhu. Ah, ada juga Cai Wenji-sama dan Zhen Ji-sama

Rin-sama memasuki gedung. Cantik sekali. Ia memakai bincu merah dan kosmetik lainnya, baju yang diberikan Kurapika-sama pun cocok dengannya. Gaun emas yang indah sekali. Kalian bisa bayangkan sendiri bentuknya yang simple dan elegant. Rambutnya tergerai begitu saja dengan bunga yang agak keemasan di atas bagian kanannya. Bahkan orang-orang yang di sana pun merasa kagum dengan kecantikannya.

Kurapika-sama menghampiri Rin-sama. Wajah Rin-sama merona menatap Kurapika-sama yang tampan. Matanya bergetar-getar karena gugup. Kurapika-sama juga terpesona saat itu.

"O- otanjoubi omedetou g- gozaimashita!" Rin-sama memberikan kadonya dengan membungkuk. Ia pasti sangat gugup saat itu.

"Arigatou gozaimashita..." Kurapika-sama menerimanya dengan senang hati. "Mari berdansa."

"Tapi... Aku..."

"Ikuti saja alunan musiknya..."

Akhirnya Rin-sama menurut.

"Letakkan tanganmu di pinggang seperti ini. Lalu, pegang tanganku," ucap Kurapika-sama memandu Rin-sama berdansa. " Lalu, ikuti alunannya," lanjut Kurapika-sama.

Lama kelamaan Rin-sama terbiasa dengan gerakannya. Kalau kupikir-pikir mereka cocok. Dan menurutku, jika mereka menikah mungkin mereka akan menjadi keluarga yang sangat baik.

Rin-sama lalu teringat sesuatu. Ia langsung melepas tangannya dari pegangnya Kurapika-sama.

"A- aku harus pergi..." Rin-sama kemudian berlari meninggalkan Kurapika-sama.

Pada saat itu Rin-sama pulang kembali ke Wei sendirian tengah malam. Yah, pelariannya ini seperti kisah Cinderella dari dunia luar sana.

"Ah, Kurapika-sama belum menyatakan perasaanmu, ya?" Zhao-sama datang.

"Aku sempat lupa," kata Kurapika-sama.

"Mungkin karena kau terlalu menikmati kecantikannya..." goda Sima Zhao-sama.

"... Benar. Aku... Terlalu menikmati pemandangan yang indah darinya..." Kurapika-sama terlalu polos, ya.


"Lalu setelah itu apa yang terjadi?"

"Cinderella itu apa?"

"Apa ada penculikannya?"

"Apa nantinya mereka akan menikah?!"

Banyak sekali pertanyaan anak-anak kali ini, termasuk saudara Qiao.

"Cinderella itu seorang gadis yang disiksa oleh ibu tirinya dan diakhir cerita dia menjadi seorang putri istana," kata Jia.

"Sebenarnya masih banyak cerita di dalamnya. Waktu Rin-sama pulang..."

Story
Wang Yi's P.O.V

Aku menyusulnya. Saat itu juga aku diserang seseorang. Aku dicambuk dengan cambuk besi dari belakang. Aku pun pingsan. Sementara itu, Rin-sama diculik.


"Aaaaaaaahhh! Tidaaaaaaaak!" Seorang anak tiba-tiba berteriak. Oh, dia tak lain adalah Xiao Qiao. Semua orang menatapnya dengan tatapan aneh. "Heheheh... Maaf. Aku orangnya sangat tegang kalau sudah cerita penculikan..." ucap Xiao Qiao.

"Sebenarnya waktu itu... Aku dan Lu Bu yang menculiknya..." Diao Chan muncul. Dia termasuk penduduk Wu (dulunya). Karena itulah Lu Xun menoleh cepat padanya. "Aku merasa berdosa sekali waktu itu... Dan dari dulu, aku merasa sangat berdosa bergabung dengan Lu Bu. Tetapi... Entah kenapa aku mencintainya," ucap Diao Chan.

Story
Diao Chan's P.O.V

Aku dan Lu Bu berhasil menculik Rin-sama. Kuroro Lucifer dan juga Lu Bu menghampiriku.

Rin-sama sudah memiliki banyak bekas luka yang kubuat. Karena itulah aku merasa sangat berdosa.

"Siksa dia lebih keras, Diao..." perintah Lu Bu.

"Kalian... Bajingan!" Bentak Rin-sama.

Aku lagi-lagi mencambuknya. Kuroro-sama memerintahkanku untuk mencambuknya sampai pingsan. 8 cambukan, Rin-sama akhirnya pingsan.

"Kalau begitu, beristirahatlah. Aku akan membawanya," begitu kata Kuroro-sama. Aku dan Lu Bu menurutinya sementara itu Kuroro-sama membawa Rin-sama.

Wang Yi's P.O.V

"Wang Yi... Oi, Wang Yi!" Cao Cao-sama mengguncang-guncang tubuhku.

Akhirnya aku terbangun.

"Apa yang kau lakukan di sini?" Xiahou Dun-san bertanya kepadaku.

"Ah! Y- Ya- Yang Mulia! Rin-sama diculik!" Kataku panik. "Tadi aku mengejarnya saat pulang! La- lalu..."

"Tenangkan dulu dirimu, nak..." Liu Bei-sama berkata. "Apa kau melihat siapa yang menculik Oujo-sama?" Tanya Liu Bei-sama.

"Tidak. Tapi..."

"Baju bagian punggungmu robek," Kurapika-sama berkata.

Aku meraba punggungku. Ternyata benar! Pasti Diao Chan dan Lu Bu lah yang berulah, begitu pikirku.

"Itu..." Xiahou Dun bergumam

"Pasti kelompok penghianat!" Xiahou Ba langsung berteriak.

"Aku cemas sekali, Yang Mulia. Kumohon... Kumohon izinkan aku mencari kakak!" Aku langsung berkata.

"Kakak?"

"Maksudku Tuan Putri..."

"Oh. Jadi... Dia telah mengangkatmu sebagai adiknya... Tapi, ini sudah sangat malam, Wang Yi. Lebih baik besok pagi saja," kata Cao Cao-sama.

"Kumohon... Kumohon!" Aku bahkan sampai bersujud. "Aku telah bersumpah! Aku akan menyelamatkan nyawa Tuan Putri walaupun nyawa taruhannya!"

Kurapika-sama terdiam, begitu juga yang lainnya. Air mataku telah mengalir. Kurapika sama pun jongkok di sebelahku dan bersujud.

"Kumohon, izinkan aku dan Wang Yi mencari Rin..." ucap Kurapika-sama.

"... Baiklah! Ayo, kita langsung mencari Rin-sama!" Cao Cao-sama akhirnya mengizinkan. Dan malah yang lainnya mencari Rin.

Diao Chan's P.O.V

Sementara itu, aku mengintip apa yang Kuroro-sama lakukan. Ternyata dia bersama Zhu Rong.

"Aku tidak bisa mengendalikannya..." ucap Zhu Rong.

"Lakukan apa saja agar dia berada di pihak kita..." Kuroro-sama berkata.

"Ah! Aku baru ingat! Aku bisa membuatnya menjadi boneka," kata Zhu Rong. "Tapi boleh kusembuhkan dia? Kalau dia terluka seperti ini nanti dia akan susah bergerak," jelas Zhu Rong.

"Tentu," Kuroro-sama meletakkan Rin-sama di tengah bintang enam. Lalu mereka berdua menjauh.

Zhu Rong mengucapkan mantera dan bintang itu bercahaya merah. Seketika Rin-sama sembuh. Zhu Rong melepas kasar kalung Rin-sama setelah itu. Ia memasukkan aura jahat ke dalamnya dan kembali memakaikan kalung itu pada Rin-sama. Kemudian, Zhu Rong juga memasukkan aura jahat dari kepala Rin-sama. Aku mengetahuinya karena dulu aku juga seorang penyihir.

Lalu tumbuh akar bercahaya merah dari bagian depan leher Rin-sama, tepatnya dari kalung Rin-sama. Tato itu sudah mencapai pipi Rin sama. Zhu Rong pun mundur dan berkata, "perintahkan sesuatu."

Kuroro-sama menghampiri Rin-sama.

"Bangun," perintah Kuroro-sama. Rin-sama membuka matanya perlahan. Matanya terlihat merah dan meredup. "Kemarilah," Kuroro-sama memerintahkan lagi.

Perlahan-lahan Rin-sama bangkit. Ia menunduk hormat.

"Apapun akan kulakukan untukmu... Kuroro-sama..." ucap Rin-sama. Dia sudah menjadi boneka Kuroro-sama sepenuhnya. Aku hanya bisa menutup mulut dan terbelalak melihatnya.

Lalu, Kuroro-sama menggendong Rin-sama. Setelah memberikan emelard sebagai bayaran Zhu Rong. Aku langsung berlari ke dalam istana. Di ruang utama, Kuroro-sama lewat. Aku membungkuk hormat.

"S- selamat datang, Kuroro-sama!" Ucapku. Kuroro-sama hanya melirikku.

"Kenapa kau belum tidur?" Tanya Kuroro-sama.

"... Ah... ano... Aku masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan tadi. Ng... kenapa Rin-sama sembuh?" Aku berpura-pura bodoh. Kutatap wajah Rin-sama yang hanya menatap kosong dunia.

"Hm... Sekarang dia berada di pihak kita. Besok akan mulai perang."

"Kuroroooooo!" Teriakan yang keras terdengar dari luar.

"Hmph. Atau mungkin sekarang..." kata Kuroro-sama. "Diao, panggil seluruh prajurit dan juga para pendekar kita," perintah Kuroro-sama.

"Akan kulaksanakan!" Aku pergi.


"Wah! Pasti akan terjadi perang yang besar! Waktu itu pendekar dari Wu juga membantu untuk membasmi para pengkhianat itu!" Ucap Xiao Qiao.

"Iya. Termasuk aku..." ucap Lu Xun. "Dan mulai dari sanalah adanya kerja sama dan gabungan keempat kerajaan," lanjutnya.

"Iya. Karena cinta Sang Pangeran dan Sang Putri dari negara yang berbeda inilah... Yang membuat kita bersatu," ucap Sima Zhao.

"Lalu bagaimana kelanjutannya?" Tanya seorang gadis kecil.

Wang Yi memejamkan matanya dan mulai bercerita lagi.

Story
Wang Yi's P.O.V

Kami sampai di puri dimana gerombolan pengkhianat seluruh kerajaan.

Sampai akhirnya Kurapika-sama berhadapan dengan Kuroro. Kurapika-sama langsung menyerangnya dengan dua pedangnya.

Pertarungan terjadi sengit. Sampai saat itu, Xiahou Yuan menembak Kuroro dengan anak panahnya. Sasarannya tepat... Itu mengenai punggung Kuroro. Dan akhirnya Kurapika-sama menusuk ulu hati Kuroro dan Kuroro pun meninggal.

Setelah itu, Rin-sama muncul. Sihirnya belum terpatahkan. Satu-satunya cara untuk mengembalikan Rin-sama adalah menghancurkan liontin kalungnya.

Rin-sama perlahan-lahan maju ke arah Kurapika-sama. Kurapika-sama berlari menjauh dari Rin-sama dan Rin-sama tetap mengejarnya. Sampailah mereka di sungai kecil. Mereka... bertempur di sana.

Sepertinya pada masa itu Kuroro mempermainkan cinta mereka. Kurapika-sama bisa merasakannya.

Rin-sama melompat jauh sekali. Kemudian ia melempar ratusan pisau ke arah Kurapika-sama. Kurapika-sama masih bisa menghindar. Tapi ia lengah. Anak panah Rin-sama melesat cepat ke arahnya. Kurapika-sama menghindar, tetapi kaki kanan Kurapika tertancap anak panah Rin-sama. Air mata pun mengalir dari mata Kurapika-sama karena menahan sakit.

Kurapika menarik anak panah itu dan membuangnya. Sambil menahan sakit, Kurapika-sama melompat ke arah Rin-sama. Ia menghunuskan pedangnya yang satu. Lalu, ia menebas Rin-sama. Tapi, hal itu tak berhasil.

"Percuma," Rin-sama berada di belakang Kurapika-sama.

Kurapika-sama berbalik cepat. Rin-sama ada di sana tapi yang lama kelamaan Rin-sama menjadi banyak (Anak-anak : Waaaah...). Itu adalah sihirnya yang disebut Kagami no Mahou.

Rin-sama menyeringai dan tertawa.

"Saa... Dotchi?" Rin-sama menyeringai. "Dotchi ka, Kurapika-sama?" Tanya Rin-sama dengan menekan suaranya di -sama.

Kurapika-sama mulai bingung. Semua bayangan Rin-sama menyerang Kurapika-sama dengan jarum yang besar dan tajam. Kurapika-sama tergeletak tak berdaya setelah itu.

"Kurapika-sama!" Aku menghampirinya. Tetapi, Kurapika-sama memerintahkanku untuk berhenti hanya dengan menampakkan telapak tangannya.

"Jangan mendekat, Wang Yi... Aku... Akan bereskan ini..." Kurapika-sama berkata. Ia pun bangkit dan menghadapi Rin-sama lagi. "Pergilah..."

"Tapi-"

"Pergi!"

Akhirnya aku pergi. Dengan air mata yang mengalir, aku pergi meninggalkan mereka.

Kurapika-sama kembali menghadapi Rin-sama. Rambut Rin-sama berkibar ke samping. Angin pun berhenti dan mereka mulai bertarung. Mereka beradu pedang. Pada saat itulah Rin-sama lengah.

Kurapika-sama memukul perut Rin-sama dengan sarung pedangnya. Rin-sama terpental jauh. Kurapika-sama langsung menghilang dari hadapan Rin-sama dan ia muncul di belakang Rin-sama. Ia menebas punggung Rin-sama. Kurapika-sama ternyata memakai pedang samurai yang diberikan Rin-sama beberapa jam yang lalu.

"Aaaaagh!" Rin-sama berteriak kesakitan.

Cepat-cepat Kurapika-sama menangkap Rin-sama dan melepas kasar kalung Rin-sama. Kemudian ia meletakkan kalung itu di tanah. Kurapika-sama menghancurkan liontin kalung Rin-sama. Aku pun kembali.

"Kurapika-sama... Itu... Kalung kesayangan Tuan Putri," ucapku yang berada di belakang Kurapika-sama.

"... Akan kugantikan dengan yang baru..." ucap Kurapika-sama. "Dia aman sekarang..." Kurapika-sama mengelus puncak kepala Rin-sama.

Hujan pun turun.

Kurapika-sama membuka sedikit mulut Rin-sama. Lalu, ia memasukkan air dari danau Wei ke mulutnya dan menuangkannya ke mulut Rin-sama. Perlahan-lahan luka yang ada di punggung Rin-sama menutup dan ia pun membuka matanya. Ia terbelalak, terkejut bukan main karena Kurapika-sama menciumnya. Ia kembali memejamkan matanya.

"Maaf telah lancang," kata Kurapika-sama setelah itu.

Rin-sama tetap diam. Dia hanya meraba pipinya. Kemudian ia teringat dengan kalungnya dan ia pun meraba lehernya.

"A- ah! Kalungku! Di mana kalungku?!" Rin-sama mulai cemas. Dia seperti anak kecil yang kehilangan benda yang paling tersayangnya, benda yang ia rawat sejak ia menerimanya dari orang yang ia sayang.

"Kalungmu... Ada di sini..." Kurapika-sama melepaskan genggaman tangannya dari tangan Rin-sama. Rin-sama terkejut. Kalungnya ada di tangannya sekarang.

"Tapi bagaimana bisa? Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Rin-sama. "Kenapa kau sangat berantakan? Kau penuh dengan darah..."

"Tak apa-apa. Ceritanya sangat panjang... Akan kuceritakan nanti..." begitulah kata Kurapika-sama.

Rin-sama memeluk Kurapika-sama. Ia menyembuhkan Kurapika-sama dengan sihirnya. Kurapika-sama kembali sehat. Kemudian, matahari terbit.

Karena prajurit dari para pengkhianat sangat sedikit, jadi kamilah yang memenangkan peperangnya ini. Sorak sorai kegembiraan terdengar di mana saja. Semua kerajaan mulai bersahabat. Dari Wei sampai Wu sekalipun.

Beberapa bulan sejak kejadian itu...

"Cao Cao-sama..." Rin-sama membungkuk hormat.

"Hei, nak..."

Kemudian Rin-sama berdiri di belakang Cao Cao-sama.

"Ah... Rin-sama... Kau tahu? Dulu aku sangat menginginkan seorang anak perempuan. Dan... Aku malah aku mendapatkan dua anak laki-laki," jelas Cao Cao-sama.

"Tapi itu adalah karunia dewa, Yang Mulia. Dan itu adalah takdir... Dan sebenarnya... Aku juga... Sudah lama kehilangan seorang Ayah," ucap Rin-sama waktu itu. Dia sungguh bijak dalam memilih kata-kata.

"Ah, malang sekali..." Cao Cao-sama menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Dengan hormat, aku juga ingin mengangkatmu sebagai seorang ayah. Apa kau... Menyetujuinya?"

Ucapan Rin-sama tentunya membuat Cao Cao-sama terkejut. Bahkan saat itu, Rin-sama duduk dan menunduk hormat di hadapan Cao Cao-sama.

"Ya- Yang Mulia..." Cao Cao-sama jongkok dan menepuk bahu Rin-sama. "Kau boleh memanggilku 'Ayah' jika kau mau, nak..."

Perlahan-lahan Rin-sama mengangkat kepalanya. Kemudian ia menjatuhkan dirinya ke tubuh Cao Cao-sama dan memeluknya.

"... Ayah..."

Melihat itu aku saja sudah tersenyum. Lalu aku mendengar kalau Rin-sama ingin melamar Kurapika-sama. Ah, ternyata dia mengikuti zaman Cina dulu sekali... Kebanyakan wanitalah yang melamar pria yang sudah lama ia dambakan.

"Baiklah. Memang aku akui kalian... Cocok. Ya, cocok..." kata Cao Cao-sama.

Rin-sama sangat berterima kasih saat itu. Dan keesokan harinya...

Aku, Jia, Cao Cao-sama, dan Xiahou Dun-sama membawa Rin-sama ke kerajaan Jin.

"Yang Mulia. Maksud kedatanganku kemari karena... Aku ingin melamar Kurapika-sama," begitu kata Rin-sama.

"Hm? Ahahahahahaha! Tentu saja... Aku merestui kalian...!" Ucap Sima Yi-sama waktu itu. "Sima Si, panggilkan Kurapika-sama ke sini," perintah Sima Yi-sama kepada adiknya.

Sima Si menunduk hormat dan pergi. Tak lama kemudian, Kurapika-sama muncul bersama Sima Si. Sima Yi-sama dan Sima Si pun pergi. Begitu juga kami.

Kini, Rin-sama dan Kurapika-sama berhadapan.

"Kurapika... Kedatanganku... Mengganggumu?" Tanya Rin-sama waktu itu.

"Ah? Tidak. Sungguh suatu kehormatan kau mau datang. Aku sangat senang," kata Kurapika-sama tersenyum. "Ada apa? Adakah yang mengganggumu?"

"Bukan. Aku datang ke sini untuk... Untuk... melamarmu," ucap Rin-sama. Dia begitu gugup dan akhirnya ia berani berkata. "Apakah kau akan menerima lamaranku dan menempuh hidup yang baru bersamaku?" Tanya Rin-sama.

"... Te- tentu..."

Pada malam harinya, upacara pernikahan dilaksanakan. Malam itu adalah malam yang paling sibuk. Aku sedang merias Rin-sama, pengantin wanita.

"Maaf, Yang Mulia... Penutup wajahnya tidak ada," ucapku.

"Pakai cadar saja... Cadar transparan. Lalu, ikatkan di topinya..." ucap Rin-sama.

Aku mengambil topi dan mengikat cadar berwarna biru pada topi Rin-sama. Lalu, aku memakaikannya. Semuanya sudah siap. Rin-sama bahkan yang memilih bajunya.

"Yang Mulia... Anda sangat cantik," aku berkata sambil menyentuh kedua bahu Rin-sama.

"Yah... Seperti bidadari yang jatuh dari langit," Cao Cao-sama muncul.

"A- ayah...!" Kalau dilihat-lihat wajah Rin-sama memerah. "Ayah... Padahal baru saja... Tapi kau sudah melepaskanku..." ucap Rin-sama sambil menghampiri Sang Ayah.

"Sudahlah... Walaupun kau sudah lepas dariku, kau tetaplah burung kecil kesayanganku," Cao Cao-sama berkata.

Rin-sama yang menahan tangis akhirnya terisak-isak. Lalu ia memeluk ayah angkatnya.

"Jangan menangis, nak. Ini hari kebahagiaanmu. Ayo, kuatkan dirimu!" Tegas Cao Cao-sama. "Baiklah... Ayo..."

Upacara pernikahan dilaksanakan. Yuanji menjadi protokolnya.

"Pengantin wanita datang bersama Sang Ayah..."

Rin-sama dan Cao Cao melangkah perlahan-lahan menuju Kurapika-sama yang sedang duduk menunggunya.

"Kedua mempelai memberi hormat kepada orang tua mempelai wanita."

Rin-sama dan Kurapika-sama memberi hormat kepada Cao Cao-sama.

"Orang tua mempelai wanita meninggalkan kedua mempelai."

Langkah demi langkah, upacara ini dilaksanakan. Hingga akhirnya...

"Mempelai pria membuka penutup wajah mempelai wanita."

Rin-sama memejamkan matanya. Kemudian, Kurapika-sama membuka cadar Rin-sama dan meletakkannya di atas topi. Rin-sama tampak seperti sebuah boneka yang cantik (Itu karena Cai Wenji yang mendandaninya). Perlahan-lahan ia membuka matanya dan menatap Kurapika-sama.

"Pengucapan sumpah dari kedua mempelai."

Pada saat itu aku penasaran. Sumpah apakah yang diucapkan Kurapika-sama? Dan sumpah apakah yang diucapkan oleh Rin-sama?

"Aku menerimamu sebagai istriku dalam keadaan sehat, sakit, maupun hal-hal sulit dan juga akan kupertahankan krbahagiaan keluarga kita kelak... Akan kupertaruhkan nyawaku demi hidupmu dan keluarga kita kelak," sumpah Kurapika-sama begitu meyakinkan.

"Aku, istrimu... Akan berjanji terus mendampingmu walaupun kita menjalani hal sulit sekalipun... Akan kujaga dan kurawat keluarga kita kelak dengan tanganku sendiri. Akan kupertaruhkan nyawaku dengan cinta suci kita. Jika ada pertengkaran di antara kita... Aku tidak akan pernah menghunuskan pedang atau menggunakan sihirku," saat Rin-sama mengucapkan sumpahnya, aku merasa pipiku panas sekali. Dia sangat serius mengucapkan sumpah itu. Dan itu membuatku yakin kalau mereka akan menumbuhkan keluarga yang makmur kelak.


"Apa cerita ini sudah selesai?" Tanya seorang anak laki-laki.

"Padahal ceritanya menyenangkan! Masa' nggak ada terusannya?!" Xiao Qiao mengamuk. O.o

"Masih ada..." Yi berkata.

To Be Continued!

Author : "Etto... Aku sebenernya nggak tau gimana upacara pernikahan Chinese. Tapi aku pernah nonton film Cina yang ada pernikahannya (aku lupa apa nama filmnya...) Ya... pernikahannya seperti itu..." :'v "Review please!"

Oh iya... Ini balasan review anda...!

tiara. .9 :Hontou? Arigatooouuu... Saya senang sekali. Terima kasih sudah review!

kyu-ru.25 : Arigatou gozaimasu. :D