Minna-saaaaaan~ Akhirnya Arthuria balik lagi! Hai, hai... Ini Arthuria bales dulu review-nya yah.
anomyous : Wah, ceritaku dibilang keren! w Maaf baru balas. Arthuria baru ke warnet... -w- Makasih udah mau baca. Aku kira gak ada yang suka Kurapika x OC buatanku!
arisuxxarisu : Maaf, ya gak update kilat... ._.
LaynaPanda : Waaaaaaa! Kirain KuroPika, ya?! Maaf, maaf... Lagi nggak ada ide untuk KuroPika. Kuroro libur untuk bersanding dengan Kurapika untuk sementara waktu... :v
Roster-chan : Yo, Roster-kun... Reviewer yang paling kusayangi~! Chara Rin nggak kayak Erza Scarlet (Soalnya Arthuria gak nonton FT jadi gak tahu gimana ceritanya... ._.) Kamu suka, ya? Demo, hontou ni gomen nasai desu. Ini part akhir. Demo daijobu ne... Arthuria bakalan buat sekuelnya~.
Hai, minna-san... Saya udah bales semuanya maaf kalo ada kekurangan kelebihannya. ._.
Story
Wang Yi's P.O.V
Katanya, karena yang melamar wanita, maka pasangan baru akan tinggal di tempat wanita tinggal selama ini. Kini Rin-sama dan Kurapika-sama berada di istana Wei. Saat itu, Rin-sama sedang di dapur. Ia membuatkan teh hijau untuk suaminya dan ayahnya.
"Yah... Semoga kau terbiasa untuk sementara di sini, anakku," ucap Cao Cao-sama pada Kurapika-sama.
"Iya, Ayah... Aku akan terbiasa. Selama bidadariku ada di sisiku selalu," ucap Kurapika-sama sambil melirik Rin-sama dan tersenyum. Lagi-lagi Kurapika-sama berhasil membuatnya berubah warna.
"Yah... Kalian hanya sementara di sini, ya? Sering-seringlah datang nanti..." ucap Cao Cao-sama.
"Maksud... Ayah?" Rin-sama mengernyit. Waktu itu aku juga tidak mengerti.
"Hm... Ayah sudah membangun istana di timur untuk kalian. Lokasinya tidak jauh di sini..." Cao Cao-sama berkata.
"A- a! Kenapa tanpa sepengetahuan kami?!" Rin-sama terkejut.
"Yah... Karena ini kejutan," Cao Cao-sama berkata.
Kurapika-sama dan Rin-sama saling pandang.
"Hmm... Aku ingin mengangkat kalian sebagai Raja dan Ratu di wilayah timur kita," ucap Cao Cao-sama.
"Ya. Aku juga sudah menyesetujuinya..." Cao Pi-sama muncul.
"Dan hanya itu yang ingin kukatakan pada kalian," Cao Cao-sama berkata.
Kemudian Kurapika-sama dan Rin-sama pergi.
[Skip Time]
Setelah itu, mereka duduk di depan danau Wei.
"Aah... Aku bingung dengan sikap Ayah..." ucap Kurapika-sama.
"Tapi... Kita beruntung bukan? Walaupun aku juga berat menerimanya... Tetapi sesungguhnya beliau sangat baik. Aku akui itu," ucap Rin-sama.
Sore harinya mereka pulang. Mereka berdua tentu memasang wajah bingung ketika kami bermimik sedih.
"Ada apa?! Katakan padaku!" Rin-sama tetap berkeras ingin mengetahuinya.
"A- ano... Cao Cao-sama..."
Rin-sama berhenti mengguncang dan memegang pundakku. Ia gemetar. Ia langsung berlari menuju kamar Cao Cao-sama. Kurapika-sama mengejarnya.
Di sana terdapat Xiahou Dun-sama dan Cao Pi-sama. Mereka menunduk sedih.
"Yang Mulia... Cao Cao-sama... Meninggal..." Xiahou Dun-sama akhirnya berkata.
Rin-sama terbelalak. Air matanya pun mulai mengalir. Ia langsung berhambur ke jasad Cao Cao-sama. Tangisnya begitu keras.
"Ayah! Ayah, aku di sini! Bangunlah!" Rin-sama terisak-isak ia terus berteriak. "Jangan tinggalkan aku!"
"... Oujo-sama..." aku memeluk Rin-sama. Dia sangat shock atas kematian Cao Cao-sama.
"Dia meninggal setelah menyelesaikan puisinya, Yang Mulia. Dan ia meninggal dengan senyuman tipis," Xiahou Dun-sama berkata. Dialah saksi mata kematian Sang Raja.
"Rin... Sudahlah... Ini-... Ini sudah waktunya Ayahanda untuk beristirahat," Kurapika-sama mencoba menghibur Rin-sama.
"Iya... Aku tahu... Dewa akan menjaganya di sana..."
Lalu, keesokan harinya. Upacara pemakaman telah selesai dilaksanakan. Isak tangis terdengar dari para prajurit, termasuk aku.
Ketika semuanya telah meninggalkan pemakaman, Rin-sama membakar 'hong' dan berdoa. Kami masih setia menungguinya, terutama Kurapika-sama.
"Semoga Ayah diterima di sisi-Nya," ucap Rin-sama setelah berdoa.
Kemudian, 'hong' yang dipegangnya, ditusuk di atas buah-buahan yang disediakan untuk Cao Cao-sama. Lalu... kami pergi.
Beberapa tahun kemudian, Rin-sama dan Kurapika-sama telah meninggalkan bagian barat. Dia mengajak beberapa sahabatnya. Dia juga mengajakku.
Dan saat itu juga, Rin-sama mengandung. Zhu Rong berkata kalau bayi yang ia kandung adalah bayi kembar yang manis. Rin-sama terkejut. Tapi, seperti apapun anaknya, ia akan tetap merawat dan menjaganya.
"Apa yang terjadi setelah itu?" Tanya seorang gadis kecil.
"Hmm... Sembilan bulan kemudian, dua bayi kembar yang manis..."
Story
Wang Yi's P.O.V.
Kurapika-sama gembira sekali, sama halnya dengan Rin-sama.
"Kau sudah berjuang keras..." ucap Kurapika-sama sambil mengelus puncak kepala Rin-sama. Rin-sama terlihat lemas dan pucat. Walaupun keadaannya lemah seperti itu, ia masih bisa tersenyum cerah.
Beberapa hari kemudian, Rin-sama mengusulkan kalau kedua anak mereka diberi nama mereka dengan kata Yoko. Saat itu, dia sedang menyusui anaknya. Kurapika-sama menyetujuinya. Akhirnya anak yang pertama diberi nama Kyoko dan yang kedua Ryoko.
Esoknya, aku dan Zhen Ji mengantarkan Rin-sama ke tukang emas. Ia ingin membuatkan sepasang kalung untuk hari ulang tahun kedua anaknya di usia mereka yang ke-12. Memang itu terlalu lama dan hari ini terlalu cepat untuk membuat kalungnya.
"Buatkanlah secantik mungkin. Yah, sebisa kekuatan dan hatimu..." kata Rin-sama.
"Dengan senang hati, Yang Mulia..."
"Dan ini sebagai bayarannya," Rin-sama memberikan dua kantung berisi kepingan emas.
Lalu, kami pergi. Rin-sama menemukan seorang gadis kecil yang cantik. Ia menangis. Rin-sama memiringkan sedikit kepalanya dan menghampiri gadis itu.
"Kenapa kau menangis?" Tanya Rin-sama sambil menyentuh kedua bahu gadis kecil itu.
"Hiks, hik... Bakpau yang baru aku beli jatuh... Aku takut kena marah Ibu..."
"Ooh... Sayang. Malang sekali kamu. Ini, belilah lagi. Dan berhentilah menangis..."
Gadis kecil itu mengangguk dan berhenti menangis.
"Ayo, beli... Dan kalau jalan hati-hati..." Rin-sama memperingatkan.
Gadis kecil itu tersenyum dan mengangguk. Kemudian ia pergi.
"Hmm... Jika aku adalah ibunya, mungkin aku akan memberi lagi uang dan menyuruhnya untuk membelinya lagi. Aku tidak ingin bertele-tele... Memarahi orang hanya membuatku lelah," ucap Rin-sama. "Maka, aku akan menanyai apa masalah dan aku akan menyelesaikannya... Sebenarnya aku bukanlah orang yang seperti itu. Tapi, karena aku kasihan atau... terkadang aku kesal melihatnya... Aku lebih senang melihat orang yang gembira..." ucapan itu diakhiri dengan hembusan angin dari belakang.
"Tapi jikalau gadis kecil tadi adalah anak anda, jika ia menangis karena menginginkan sesuatu... Apa yang akan anda lakukan?" Waktu itu Zhen Ji bertanya.
"Aku akan memerintahkannya sesuatu. Jika sudah beres total, maka aku akan memberikan apa yang ia inginkan," ucap Rin-sama sambil berbalik.
Aku terkejut. Saat aku bertanya seperti apa yang ditanyakan Zhen Ji pada Kurapika-sama, ia juga menjawab hal yang seperti dikatakan Rin-sama. Seperti kontak batin saja...
"Kasihan sekali Rin-sama, hiks... Sang Ayah meninggalkannya, hiks... Kisah yang mengharukan!" Teriak Xiao Qiao terharu.
Semua orang menatapnya dengan tatapan aneh.
"Hhhh... Dasar kamu!" Kata Da Qiao sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"... Wang Yi-neesama! Lanjutkan ceritanya!" Ucap seorang gadis kecil. Dia memang berisik dan rasa ingin tahunya sangat besar.
"Baiklah..."
Story
Wang Yi's P.O.V
12 tahun kemudian, kedua anak Rin-sama sudah tumbuh dan cantik. Mereka memiliki warna rambut yang sama dengan ibunya. Akan tetapi, warna matanya berbeda. Kyoko-sama memiliki mata biru safir seperti ayahnya dan Ryoko-sama memiliki mata kuning keemasan seperti ibunya.
Mereka juga memiliki watak yang berbeda, walaupun sebenarnya hampir sama. Kyoko-sama adalah anak yang pintar dan berani. Tutur katanya juga lembut seperti Sang Ibu. Sementara itu, Ryoko-sama adalah anak yang dingin, tenang, dan lembut seperti Ibunya. Akan tetapi, ia tidak seperti Kyoko-sama yang kuat. Dia orang yang mudah sakit... Sekalinya menggunakan kekuatan yang besar atau melakukan pekerjaan berat, tubuhnya langsung dingin dan pucat. Memang, itu merepotkan. Akan tetapi kami tetap menyayanginya.
Hari ulang tahun Si Kembar tiba. Aku memberikan sepasang kimono indah untuk mereka berdua, hasil buatanku. Kyoko-sama dan Ryoko-sama menerimanya dengan perasaan senang sekali saat pesta ulang tahun berlangsung.
Saat pesta selesai, Rin-sama mengambil dua buah kalung yang berkilau dari lacinya. Itu adalah kalung yang dibuat 12 tahun yang lalu. Kemudian, ia memberikannya kepada Kyoko-sama dan Ryoko-sama. Kyoko-sama memiliki kalung yang hijau, seperti dirinya sendiri. Berani dan ramah. Sedangkan Ryoko-sama diberikan yang biru, menggambarkan ketenangan dan dingin.
Kyoko-sama dan Ryoko-sama sangat akur saat itu. Mereka saling memakaikan kalung mereka.
"Arigatou, Okaa-sama..." Ryoko-sama berkata dengan nada dingin dan lembut.
"Arigatou, Okaa-sama!" Sebaliknya, Sang Kakak lebih terdengar hangat nadanya. Juga... bersemangat.
[Skip Time]
Tengah malam, mendengar sesuatu. Ada yang datang kemari. Aku membuka sedikit jendela kamarku dan mengintip. Itu... Sima Yi-sama! Dia bersama Kurapika-sama.
'Kenapa dia ada di sini?' Tanyaku dalam hati. Langsung saja aku keluar kamar dan mengendap-ngedap keluar.
"Tidak bisa, Yang Mulia... tidak bisa!" Kudengar Kurapika-sama menolak permintaan Sima Yi-sama.
Aku mengintip sedikit.
"Oh... Ayolah... Kita harus melakukannya. Demi kekuasaan dan kekayaan kerajaan Jin! Kalau wanita bida dicari lagi!" Begitu kata Sima Yi-sama.
'Hmph! Dasar serakah!' Batinku. Walaupun dia teman terdekatku sekalipun, aku sangat membencinya.
"Ta- tapi... Itu tidak bisa... Aku mencintai Rin bukan karena harta maupun kecantikannya, Yang Mulia," aku terkejut mendengarnya. Kurapika-sama mengatakannya dengan tulus.
"Kalau kau tidak membunuh Rin besok, akan kubunuh keluargamu ini!"
Tentu saja, aku terkejut... sama halnya dengan Kurapika-sama. Itu pasti mengingatkan Kurapika-sama pada pembunuhan keluarganya. Ia melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.
"... Baiklah... Akan kuturuti apa maumu..."
Keesokan harinya...
"Bibi Wang Yi..." Kyoko menegurku. "Kenapa murung begitu? Nggak kayak biasanya deh..."
"... Kyoko-sama... A- aku tidak apa-apa..." ucapku. "Ada pekerjaan yang harus kuselesaikan. Maaf," aku pergi meninggalkan Kyoko-sama.
Pada saat itu juga, aku dipanggil. Untunglah... aku tidak ketahuan menipu.
"Ada yang aneh..." ucap Xiahou Dun-sama. "Tampaknya... kau dan Kurapika-sama murung sekali..." ucapnya.
"Ah, Rin... Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat," Kurapika-sama muncul.
"Awas!" Aku menarik Dun-sama. Dun-sama mengangkat bahunya heran dengan tingkah lakuku. "Dengarlah..."
"Ng? Kalau begitu, aku panggil anak-anak dulu, ya..." Rin-sama berkata.
"Jangan! Tidak usah... Aku hanya ingin kita pergi berdua saja," kata Kurapika-sama.
"Kenapa? Bukankah bagus mengajak anak-anak kita berjalan-jalan?" Tanya Rin-sama lagi. "Tapi kalau kau mau kita berdua saja yang pergi, ayo... Memang sudah lama kita tidak berdua..." ucap Rin-sama.
"Maksudnya apa?" Dun-sama bertanya kepadaku.
"Kurapika-sama tidak mau mengajak Kyoko-sama dan Ryoko-sama... Berarti... Berarti-... Dun-sama, kita buntuti mereka berdua..." air mataku mulai mengalir. Aku masih mengingat hal yang terjadi tadi malam. "Akan kuceritakan di perjalanan nanti..."
Di perjalanan, Rin-sama menyandarkan dirinya di samping Kurapika-sama. Rin-sama tampak begitu senang. Akan tetapi, Kurapika-sama sebaliknya. Ia cemas dan takut. Ia masih bisa menyembunyikan mimik negatif itu dengan senyum kecil dan senyum palsu.
[Skip Time]
Sampailah mereka di gurun. Gurun ini menghubungkan wilayah Wei bagian timur dan barat. Angin berhembus kencang. Mereka turun dari kencana.
"Rin, sebenarnya aku memiliki masalah..." Kurapika-sama mulai bicara. "Kita... Harus bertempur untuk masa depan anak kita..." katanya.
"Maksudmu apa?" Rin-sama tentunya tidak mengerti.
"Jika kita tidak melakukannya, kedua anak kita akan mati. Kumohon... Ada orang yang iri dengan kebahagiaan kita," Kurapika-sama menghunuskan pedangnya.
"Tidak, Kurapika-sama. Tidak... Jangan bilang kalau ini adalah ramalan dari Zhu Rong..." ucap Rin-sama sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Rin-sama juga pernah bercerita. Waktu itu, Zhu Rong melihat garis telapak tangannya. Lalu, Zhu Rong mengambil kartu tarot dan memberikannya kepada Rin-sama. Kartu itu bergambar ada sepasang suami istri yang dipisahkan oleh jurang. Mimik suami begitu terlihat sedih. Sang istri memiliki banyak sayatan dan jurang itu berapi-api. Itu artinya, ada orang yang ingin merebut kekuasaan mereka dan memisahkan mereka karena alasan tertentu.
"Hunuskan pedangmu!" Perintah Kurapika-sama dengan suara yang agak membentak.
"Tidak, Kurapika-sama. Aku sudah bersumpah..."
Kurapika-sama mulai menyerang. Rin-sama hanya bisa menghindar. Entah karena apa, Kurapika-sama tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri sesuai kehendaknya.
"Hunuskan pedangmu!" Bentak Kurapika-sama lagi.
Ia menyerang Rin-sama lagi. Hanya ada satu jalan.
"Uuuh... Akh!" Rin-sama malah membunuh dirinya sendirinya. Ujung pedang mulai menusuk perut Rin-sama. Aku terkejut dan hanya bisa menutup mulutku. Rasanya aku ingin berteriak.
"Ri- Rin..." Kurapika-sama sungguh terkejut dengan apa yang dilakukan Rin-sama.
"Kurapika-sama..." Rin-sama maju ke depan. Pedangnya semakin menebus sampai belakang. "Maafkan aku... Aku tidak menurutimu. Tapi... sumpah lebih kuutamakan daripada perintah. Karena sumpah atau janji... adalah hutang bagiku..."
Rin-sama ternyata adalah orang yang tidak pernah ingkar janji. Bahkan ia rela mati demi cintanya. Tetapi, hal itu justru membuat Kurapika-sama bersedih. Di atas penderitaan ini, kudengar ada yang tertawa. Sima Yi! Aku langsung menyelinap ke belakangnya dan membunuhnya.
"Kau sudah merusak kebahagiaan orang. Rasakanlah akibatnya!" Ucapku. Tatapanku kembali pada Kurapika-sama dan Rin-sama.
Kurapika-sama memangku kepala Rin-sama. Rin-sama menarik paksa pedang yang masih tertancap di perutnya. Ia bahkan membiarkan tangannya berdarah karena bilah pedang. Air matanya mengalir menahan sakit.
Akhirnya pedang itu berhasil keluar. Rin-sama langsung terbatuk-batuk sampai mengeluarkan darah.
"Maafkan aku... Ini salahku. Ini salahku..." Kurapika-sama terisak-isak.
"Tak apa... Kurapika-sama tidak bersalah..." ucap Rin-sama sambil mengelus lembut pipi Kurapika-sama. Mereka yang terdiam beberapa detik. Tak lama kemudian... "Hei, kau tahu kenapa aku lahir?" Tanya Rin-sama kemudian.
"Kenapa?"
"Aku... lahir di dunia ini... hanya untuk bertemu... denganmu," kata Rin-sama terbata-bata.
Tangan Rin-sama mulai turun dan kepingan emasnya mulai meredup. Nyawanya sudah pergi ke alam sana. Ia meninggal dunia dengan senyum kecilnya.
Air mata Kurapika-sama mengalir deras. Dengan perlahan, ia menutup mata Rin-sama.
"Maafkan aku! Maafkan aku, Rin, maafkan aku!" Teriak Kurapika-sama.
[Skip Time]
Kurapika-sama pulang membawa jasad Rin-sama. Terompet mulai ditiup, berita bahwa meninggalnya Sang Ratu diumumkan kepada seluruh rakyat. Bahkan berita ini sampai ke seluruh wilayah Cina.
Esoknya upacara pemakaman dilaksanakan. Air mataku tak bisa dibendung lagi. Semua teman seperjuanganku juga begitu. Zhen Ji dan Cai Wenji memelukku waktu itu. Mereka juga datang dan menangis. Kurapika-sama tetap diam. Air matanya telah terkuras habis. Ia hanya duduk menatap kosong lukisan Rin-sama yang indah.
"Semoga kau diterima di sisi-Nya..." Kurapika-sama menyentuh lukisan Rin-sama. Kurapika kemudian pergi. Kedua anaknya berusaha menghibur Sang Ayah.
Malam harinya... Kurapika-sama sudah bersiap untuk tidur. Ia tidak bisa tidur. Kemudian ia duduk di sisi ranjang.
Kurapika-sama merasakan sesuatu yang ganjil. Ia pun menoleh ke belakang. Tampak bayangan Rin-sama yang menoleh padanya. Ia menatap datar Kurapika-sama (pada umumnya, jika ia marah atau membenci seseorang, maka seperti itulah tatapannya). Kemudian ia menghilang.
'Kumohon jangan membenciku...' batin Kurapika-sama.
Berhari-hari, bayangan Rin-sama selalu membayangi Kurapika-sama. Aku juga pernah melihatnya. Rin-sama cantik sekali dengan gaun putih itu. Ia juga bercahaya, tampak cerah sekali. Aku melihatnya ketika Rin-sama melindungi Kurapika-sama saat Kurapika-sama hampir tertabrak kereta kencana.
Malam hari, Rin-sama muncul di belakang Kurapika-sama.
"Kurapika-sama..." ia memanggil Kurapika-sama. "Apakah kau pernah berpikir aku membencimu?" Tanyanya.
"Aku pernah berpikir seperti itu. Sampai-sampai aku membencimu," ucapan Kurapika-sama tentunya membuat roh Rin-sama terkejut.
Terdengar isakan kecil di belakang Kurapika-sama.
"Begitukah? Apakah itu artinya kau tidak menyayangiku lagi?" Tanya Rin-sama dengan suara yang kecil dan bergetar.
"A- aku hanya bercanda," Kurapika-sama berkata dengan tawa kecilnya. "Ada istilah mengatakan "istri itu tidak berbekas..." Kau tahu? Aku tidak pernah berpikir seperti itu. Tapi, aku tidak akan meninggalkanmu sampai kapanpun, kau tetap istriku," kata Kurapika-sama.
Roh Rin-sama mendekat dan memeluk Kurapika-sama dari belakang. Kemudian ia menyentuh pipi Kurapika-sama dengan pipinya.
"Arigatou, Kurapika-sama," setelah berterima kasih, Rin-sama menghilang.
Kurapika-sama tersenyum lembut dan matanya terpejam.
"Doitashimashita..." balas Kurapika-sama.
"Begitulah kisah cinta sepasang kekasih kerajaan ini," Wang Yi mengakhiri ceritanya.
Anak-anak sangat terharu. Bahkan ada yang sampai menangis.
"Sepertinya... Dari kisah cinta mereka banyak amanatnya, ya... Huhuhuhu!" Seorang gadis cilik menangis tersedu-sedu.
Wang Yi mengangguk setuju.
"Bagaimana kelanjutannya?" Tanya seorang anak laki-laki.
"Tak lama Kurapika-sama meninggal karena,penyakit jantung. Jasadnya dikubur di sebelah makam Rin-sama. Sementara itu, kedua anak Kurapika-sama kurawat," jelas Wang Yi.
"Eeeee?!"
"Kenapa anda tidak bilang?!"
"Sekarang mereka di mana?"
Anak-anak begitu penasaran. Wang Yi pun bingung harus berkata apa.
"Ah! Itu bibi...!" Suara Kyoko terdengar dari belakang anak-anak.
Semua anak-anak menoleh ke belakang.
"WUAAAAAAAHH! SAMA PERSIS!" teriak Qiao bersaudara.
"Hm? Ada apa?" Tanya Ryoko dingin. "Bibi menceritakan kisah Ayah dan Ibu, ya?"
"Etto..."
"Tidak apa-apa 'kan?" Kyoko menepuk punggung Ryoko. "Menyenangkan melihat mereka senang. Iya 'kan?"
Ryoko diam saja. Dia memalingkan wajahnya. Tetapi bukan karena ia berlagak. Seperti yang diceritakan Wang Yi dia sangat dingin.
Suasana menjadi sangat gembira dan menyenangkan ketika Kyoko dan Ryoko datang. Terutama Kyoko yang mudah akrab dengan anak-anak.
Seorang gadis kecil mendengar suara lembut memanggilnya. Ia pun berbalik karena penasaran. Tampak seorang wanita yang menyala-nyala seperti cahaya yang terang. Seperti malaikat dengan gaun putih. Rambutnya yang tergerai mengembang seperti ditiup angin. Wanita itu tersenyum pada gadis kecil itu. Wajah gadis kecil memerah. Wanita itu pun samar-samar menghilang bersamaan dengan matanya yang perlahan terpejam. Roh Rin Kuruta masih berada di sini dan melindungi tempat ini...
THE END
A/N : "Hari ini gua kagak mau banyak-banyak bacot. Review please..."
