Bagaimana jika 'seorang yang mati' ingin membawamu pergi, ikut ke dalam dunianya? Apa yang akan kau lakukan untuk menghentikannya? Menjerit? Minta tolong? Berdoa? Putus asa?
"Satu langkah kalian mendekat, dua langkah lagi 'ia' akan terseret ke duniaku"
.
.
"Nashi, sayang.. benahi kembali mainanmu.."
"Huh? Tidak, ma.. Nashi ingin bermain dengan kakak Nashi.."
Lucy mengkerutkan keningnya. Ia berusaha mencerna kata-kata yang baru saja keluar dari bibir mungil putri semata wayangnya yang berambut merah muda itu. "Nashi. Ini tidak lucu. Kau sering berkata mengenai, 'kakak'. Sayang.. kau tidak mempunyai kakak" Lucy berjalan mendekatinya, menempelkan tangan halusnya pada punggung kecil Nashi.
Nashi menggelengkan kepala. "Ma.. kenapa mama tidak pernah memberi tahukan, kalau Nashi punya kakak secantik dia" Kata Nashi memuji 'dia', sembari menggambar sesuatu pada kertas putih dengan kerayon merah miliknya.
Lucy tidak mendengarkan perkataan Nashi barusan. Ini bukan lagi yang pertama. Semenjak Nashi dapat berbicara, hingga kini-lebih tepatnya di usianya yang genap 6 tahun ini, ia terus menanyakan sesuatu tentang 'kakaknya'. Jelas ini sangat aneh. Kenapa begitu? Karna Lucy hanya mempunyai satu putri dan itu… Nashi.
Lucy melirik pada pekerjaan Nashi. Ia menggambar beberapa orang disana. Lucy memperhatikan dengan teliti setiap gambar orang disana. Itu… gambar keluarganya. Natsu, dirinya, Nashi… dan… deg.
Nashi menggambar sorang anak perempuan lain disebelahnya. Rambut panjangnya menutupi semua pundaknya. Bahkan poninya menutupi wajahnya. Nashi memberikan warna rambut pada 'orang' itu dengan warna kuning.
"N-Nashi? I-ini siapa?" Lucy menunjuk pada sosok yang tak ia tahu pada gambar Nashi.
Nashi tiba-tiba tersenyum menyeringai. Lucy menatap anaknya sendiri—seram. "Ini.. kakak, ma…"
.
.
Mama
.
Disclaimer of Fairy tail Hiro Mashima
.
GENRE(S) : HORROR, MYSTERY, HURT, ROMANCE, FAMILY, FRIENDSHIP, TYPO(S)
.
.
Lucy masih menatap Nashi yang terus menggambar pada kertas yang kini terlukiskan empat—tidak—tiga sosok yang 'satu' lagi entah siapa. "1.. 1.. aku sayang ibu.." Nashi tiba-tiba melantunkan lagu anak-anak, ia bernyanyi dengan nada riang. "2…2.. juga sayang ayah…" Nashi memainkan badannya naik-turun, sembari menepuk-nepuk tangannya.
Nashi seketika menghadap kesebuah kursi yang berada tak jauh dari mereka duduk. Ia tersenyum lembut "3..3… sayang.. adik… kakak…" Lucy memperhatikan Nashi yang melambaikan tangannya pada—entah siapa itu, kesebuah kursi kosong.
"1.. 2.. 3.. sayang semuanya!"
Lucy mengurut kepalanya perlahan. "Tidak apa. Tidak ada apa-apa. Nashi hanya mempunyai teman imajinasi. Seperti anak kecil pada umumnya… haha.." Kata Lucy, berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Pluk
Tiba-tiba sebuah kertas jatuh di atas kepala Lucy. Kertas yang tergulung itu membuatnya penasaran. Ia pun mengambil kertas itu dan membukanya perlahan. Ia membaca sebuah tulisan yang tertera pada kertas itu. Tulisannya sangat tak rapi.
'Ma.. aku ingin dipeluk..' Lucy tersenyum. Ia tahu pasti tulisan siapa itu. Nashi.
Tanpa berkata apapun, Lucy memeluk Nashi dengan erat dari belakang. Membuat gadis kecil itu terkejut. "M-Mama! Jangan membuat Nashi kaget!"
"Hihih… maaf sayang.." Lucy mengelus kepalanya "Tapi.. kau tak perlu menuliskan kata-kata ini jika kau ingin dipeluk oleh mama" Lucy menunjukan kertas berisi tulisan yang ia maksud itu.
Nashi memiringkan kepalanya "Huh? Apa maksud, mama? Nashi tidak menulis itu"
"Uh?"
"Itu kakak"
Mata cokelat Lucy membesar. Tubuhnya keringat dingin. Ia melempar kertas itu kesembarang arah. "N-Nashi… C-cukup! Apa yang terjadi padamu, sayang! Kau tidak pernah punya kakak! Anak mama hanya kau!" Lucy berteriak di depan wajahnya. Membuat Nashi ketakutan.
"Tidak, ma!" Protes Nashi "Nashi punya kakak! Dia kesepian! Dia juga ingin dimanja dan disayang seperti mama menyayangi Nashi!"
Lucy mengigit bibir bawahnya. "Baiklah! Jika 'kakak'memang ada! Mana dia?!" Tanya Lucy.
"Dia.. disana, Ma.." Nashi menujuk pada lorong rumahnya. Ini sudah malam. Dan.. lorong itu tidak terlihat apapun, karna gelap dan tak ada sedikit penerangan apapun di sana.
"Jangan bercanda Nas—"
Tap tap
Lucy mendengar langkah kaki.
"Kak… ayok sini…" Panggil Nashi sembari mengibas-ngibaskan tangannya. "Mama.. ingin bertemu kakak"
Tap tap… Sreeet…
Kini Lucy mendengar langkah kaki juga 'sesuatu' yang diseret.
"Owh. Ada apa denganmu kak? Kenapa kakimu berdarah?" Nashi menghadap Lucy "Ma. Kaki kakak berdarah. Ia jadi berjalan pincang begitu"
Lucy semakin takut dengan perkataan Nashi. Sunyi dan menegangkan. Itulah suasana yang terjadi disana. Entah mengapa.. Lucy seperti tidak dapat menggerakan tubuhnya. Bahkan, untuk ia mengedipkan mata pun susah.
"Pelan-pelan… kak… Eh? Kepalamu juga berdarah? Kau bermain dimana sih? Sampai berlumuran darah seperti itu"
Deg
Nafas Lucy mulai naik-turun. Jantungnya berdegup dengan kencang, saat ini.. sulit baginya untuk menghirup oksigen.
'Ia' semakin mendekat. Perlahan tapi pasti…
Tiba-tiba.. langkahnya semakin cepat! Seperti seseorang yang berlari dengan terburu-buru!
Itu.. sosok itu! sosok yang di maksud Nashi itu! adalah…
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"TADAIMAA!"
"E-Eh? Natsu?"
"Aku pulang Luce! Nashi! Misi kali ini sangat mudah!" Seorang pria berambut merah muda memeluk Nashi dan Lucy dalam grup besar. "Eh? Luce? kenapa kau berkeringat seperti ini?" Natsu mengelap keringat dingin yang mengucur dari pelipis Lucy.
Lucy menarik nafas dalam "T-Tidak, Natsu. Aku… hanya kepanasan dan.. kenapa kau harus berlari seperti itu sih! Kau membuatku kaget!" Lucy menjitak kepalanya.
"Hehe… aku hanya ingin cepat bertemu dengan kalian! aku rindu sekali dengan kalian! Luce, Nashi!"
"Papa… jahat.."
"Hum?"
"Papa JAHAT!" Nashi berteriak sembari memukul-mukul Natsu dengan tangan kecilnya. "O-Oy! Nashi? Ada apa denganmu?" Natsu menggenggam kedua tangan Nashi, agar ia tak dapat memukulnya. "Ada apa?"
"P-Papa.. kau menyakiti hatinya.. " Nashi menangis sembari terus meronta-ronta dari genggaman Natsu.
"Siapa yang papa sakiti?"
"KAKAK!"
"Kakak?"
"Iya! Kau bahkan mendorongnya dan menganggapnya tak ada, ketika kau melewati lorong! Padahal ia tengah berjalan menghampiri kita!" Jelas Nashi di sela tangisnya.
"Papa? Jahat? Kakak? L-Luce? apa-apaan ini?" Natsu menghadap Lucy, khawatir dengan sikap Nashi. Lucy hanya dapat membuang muka.
"Nashi.. hey.. dengar…" Natsu mengusap perlahan air mata Nashi yang masih mengalir di kedua pipinya. "Apa… maksudmu dengan, Kakak?"
"Urgh! Kakak! Kakak Nashi! Anak papa dan mama! Putri kalian berdua yang memiliki rambut pirang!" Nashi berteriak, kesal.
"NASHI! MAMA BILANG CUKUP!" Lucy sudah habis kesabaran "Anak kami hanya kau! Kau! Kau seorang! Dan kau tidak memiliki kakak! Kau anak tunggal! Kau anak pertama dari keluarga Dragneel!"
"Lucy.." Natsu menariknya menjauhi Nashi. "Nashi.. papa tidak ingin membuatmu sedih. Tapi… mama benar. Kau anak pertama kami… bagaimana bisa kau memiliki kakak?"
Nashi mangap-mangap seperti ingin mengatakan sesuatu. Tapi tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibirnya. "Kalian… KALIAN JAHAT! NASHI BENCI PAPA DAN MAMA!" Nashi berlari menuju kamarnya dan membanting pintunya. Membuat suara yang keras.
Lucy mengacak rambut pirangnya, frustasi. "Natsu.. kau dengar kan? Ini tidak yang pertama kalinya, Nashi seperti ini!"
"Aku tahu Luce. dan… ini sangat tidak masuk akal" Natsu berdecak pelan. "Tapi.. kita memang tak melakukan hal seperti itu.. sebelum menikah, bukan?" Tanya Natsu dengan nada hati-hati. Tak ingin membuat Lucy meledak.
Lucy memutar bola matanya "Tak mungkin, Natsu. Jika kita sudah melakukannya dulu.. aku akan langsung memintamu menikahiku saat itu juga"
"Hmm" Natsu menggaruk dagunya. "Baiklah , Luce. kita pikirkan nanti. Aku ingin mandi dulu" Kata Natsu dan mengecup kening Lucy sebelum ia berjalan menuju kamar mandi.
Lucy masih berjalan mondar-mandir. Berpikir. Otaknya tak lagi memikirkan sesuatu yang positif. Apa.. yang namanya makhluk dari dunia lain itu benar ada? Apa mungkin kini ia berada di tengah-tengah mereka? Mengapa ia mendekati keluarganya? Apa sebenarnya—
"Hihihi… aku tahu kakak akan mengerti aku!"
Lucy mendengar suara Nashi dari dalam kamar. ia berbicara dengan siapa?
"Apa? Kau ingin bertemu mama sekarang?"
Lucy perlahan berjalan mendekati kamar Nashi. Lucy memegang kenop pintu. Bersiap untuk membukanya.
"Tapi.. kak? Kenapa ya? Mama dan papa tak pernah tahu , kakak?"
'Nashi! Kau berbicara dengan siapa, nak!' Batin Lucy khawatir.
Lucy memberanikan diri untuk membuka sedikit pintu kamar Nashi. Mencoba mengintip apa yang dilakukan anaknya di dalam kamar dan—bersama dengan siapa.
Ia melihat Nashi yang duduk di atas tempat tidur, dengan melipat kedua kakinya. Pandangannya tak pernah lepas dari…
"Hhhmf-!"
Lucy membekap mulutnya, berharap jeritannya tak keluar dari mulutnya! Matanya membesar! Nafasnya kembali tak beraturan! Sesak! Badannya kembali tak dapat digerakan!
Itu.. sosok itu! terlihat!
Sosok yang Nashi maksud itu… kini.. bersama dengannya! Rambut pirang panjangnya pun dapat terlihat! Menutupi semua pundaknya! Tubuh yang di balut dengan baju putih panjang itu!
Nashi masih terus saja berbicara panjang lebar dan tak menyadari kehadiran Lucy. Tapi untuk-nya…
Ia perlahan menggerakan lehernya , menolehkan kepalanya kearah Lucy. Membuat sebagian wajahnya—pipi dan hidungnya terlihat oleh mata—awam Lucy. Lucy tak kuat! Kakinya pun lemas! Ia rasa… ia dapat pingsan kapan saja!
Kini Lucy sudah melihat bibirnya yang menampakan senyuman. Tapi.. sebelum sosok itu menghadapnya penuh, Lucy… memaksakan untuk menutup kedua matanya! Sembari terus meyakinkan diri jika ia hanya berhalusinasi!
Lucy membuka matanya perlahan, dan apa yang ia lihat? Hanya Nashi.
Nashi yang tertidur di kamarnya.
Sendirian.
Lucy mengedipkan matanya berkali-kali. Dan… memang hanya Nashi yang ia lihat. Tak ada siapapun. "Hahah… Nashi… " Lucy menepak keningnya sendiri "Aku terlalu lelah… sehingga berhalusinasi.." Lucy membalikan badannya.
"Tak mungkin ada yang namanya… Han—"
Ia melihatnya. Sosok itu. berada di depannya. Sangat dekat. Hanya beberapa langkah dari dirinya.
Sosok itu.. memandangnya atau lebih tepatnya—tengah melototinya dengan matanya yang besar. Kulitnya pucat. Rambut pirangnya yang terurai hingga kemata kakinya, membuat sosok itu terlihat… menyeramkan.
Bibir pucat yang tadi tak memilik emosi itu, setelah melihat Lucy, bibir pucat itu perlahan merekah. Senyuman menyeringai dapat terlihat di bibirnya.
Kini… ia menghadap Lucy penuh… dan berjalan mendekatinya sembari berkata "Ayo.. ikut denganku.. Mama…"
.
.
Yosh! Done minnnnaaa! T.T apakah aneh? Gomenne! Author baru nyoba bikin FF horror. Hhehe… iseng… :3 sekalian nyari ide baru buat nambah Chappie, cerita Author yang lain.. hohoho… jadi? Apakah bagus? :o
Haruskah kulanjutkan ?
RnR?
