Lanjut untuk cerita ini ^^ tapi maaf untuk semuanya… Auhtor benar-benar baru belajar buat FF horror, jadi maaf kalau kurang memuaskan :]
.
.
"Ma.. ayo pegang tanganku.."
Lucy masih terpaku di tempat. Matanya menatap lurus ke depan—dimana sosok itu berdiri dan memandangnya. Senyumnya yang menyeringai lebar itu masih dapat terlihat. Hey. Kalian tahu? Jika sosok—seorang anak perempuan itu tersenyum… ia tidak terlihat begitu seram. Ia bahkan terlihat sangat cantik?
Pikiran Lucy saat ini kosong. Ia melirik pada tangan pucat, seperti tak ada darah yang mengalir pada tubuhnya, masih mengulur didepannya. Menunggu untuk dapat menjabat tangannya.
Lucy menelan liurnya sendiri. Keringat dingin sudah mengalir di pelipisnya—sedari tadi. Ia memaksakan untuk membuka mulutnya, mencoba untuk mengeluarkan suara—meski hanya sepatah kata. "K-K-Kau.. Si-Siapa?" Tanya Lucy dengan suara bergetar. Tenggorokannya seakan kering.
Sosok anak perempuan itu, mengkerutkan keningnya. Senyumnya perlahan memudar. "Mama tidak mengingatku?"
Kini Lucy yang mengkerutkan keningnya "A-Aku tidak pernah memiliki anak sepertimu.." Sepertinya ucapan Lucy barusan membawanya dekat dengan 'petaka'. Sosok anak perempuan itu menurunkan tangannya yang terulur di depan Lucy tadi. Senyumnya kini tak ada lagi.
"Mama.. memang tak pernang menginginkan aku.. ada…" Kulit-kulit pada wajah pucatnya perlahan tiba-tiba mengelupas, layaknya habis terbakar. Bibir pucatnya kini—terbuka setengah. Membuat Lucy dapat melihat gigi taringnya yang panjang. Mata bulat besarnya, menatap Lucy seram, dengan lingkaran hitam di sekitar kelopak matanya.
Kulit di wajahnya terus mengelupas, menampakan luka-luka sayatan, juga cakaran pada wajahnya. Luka yang terlihat sudah lama itu, masih mengalirkan darah yang menetes hingga ke lantai rumahnya. Wajah cantiknya kini berubah seram dan ngeri.
Sosok anak perempuan itu, membenarkan posisi kepalanya, dengan menggerakannya kekiri dan kekanan perlahan. Tiba-tiba leher anak perempuan itu mengucurkan darah! Tepat kewajah Lucy! Membuatnya berteriak terkena cipratan darah segar yang kini sudah menyelimuti tubuhnya. "Argh!"
Lucy menyeka darah yang menutupi penglihatannya. Belum sempat Lucy dapat membersihkan seluruh darah yang ada dimatanya, sosok perempuan itu berjalan mendekatinya dan mencekik lehernya erat! "Mama harus merasakan apa yang aku rasakan!"
Lucy ingin berteriak! Tapi tak ada suara yang keluar dari mulutnya! Lucy mencoba melawan sosok didepannya sekuat tenaga! "Mati! MATI! MATI!" Sosok anak perempuan itu terus mencekik Lucy dan mengulangi perkataannya.
Lucy merasakan lehernya dapat putus kapan saja! ia mulai kehabisan nafas! Lucy melirik pada meja yang ada di sampingnya. Ia membutuhkan apapun yang dapat membantunya terlepas dari-nya!
Gunting. Ia melihat gunting! Lucy mengulurkan tangan kanannya, mencoba menggapai gunting yang ada pada meja di sampingnya itu.
Tangan Lucy berhasil meraih gunting itu! ia langsung menancepkannya tepat pada leher sosok anak perempuan itu yang mengucurkan darah!
Sungguh Lucy tak bermaksud untuk lebih menyakitinya tapi… jika ini satu-satunya cara, maka akan ia lakukan!
Lucy menekan gunting itu lebih kuat! Membuat darah bermuncratan dimana-mana! Tangannya pun kini sudah dilumuri oleh darah. Apapun yang terjadi selanjutnya, ia tak peduli! Yang penting ia terlepas dari jeratannya!
PLUK!
Lucy berjalan mundur perlahan. Apa yang telah ia lakukan? Ia membuat kepala dan tubuh, sosok itu terpisah.
Putus.
Ia memutuskan kepalanya! Kepala anak perempuan berambut pirang itu bergelinding di koridor rumahnya. Membuat jejak darah yang berlumuran di lantai rumahnya. Tubuh tanpa kepala itu terjatuh di lantai. Lehernya yang masih mengucurkan darah itu tergeletaj tepa menghadap Lucy.. membuatnya dapat melihat isi tenggorakannya. Ia ingin muntah.
Lucy bisa saja lari dari tempat itu sekarang! Dan meninggalkan tubuh dan kepala yang terpisah itu. tapi… sesuatu membuatnya penasaran.
Lucy berjalan mendekati kepala anak perempuan itu yang tergelatak tak jauh dari tubuhnya. Mata sosok itu sudah terpejam. Dengan masih menggenggam gunting tajam di tangannya, Lucy memperhatikan sosok itu. semakin dekat.. semakin dekat..
Hingga Lucy dapat melihat jelas luka-luka yang ada pada wajah anak perempuan itu. lucy baru sadar. Dari luka anak perempuan itu, sesuatu bergerak diantara cairan putih kental. Belatung dan ulat kecil. Lucy menutup mulutnya. Mencoba menahan agar ia tidak memuntahkan isi perutnya.
Kini wajahnya sudah semakin dekat dengan kepala itu. Lucy memperhatikan matanya yang terpejam yang tak lagi menatapnya tajam itu. matanya tiba-tiba mengeluarkan darah yang mengalir deras, layaknya air mata.
Lucy mengulurkan tangannya, mencoba menyentuh kepala itu. tangannya semakin dekat… sedikit lagi hingga ia dapat menyentuh darah yang mengalir dikedua matanya.
Zret!
Mata sosok perempuan itu tiba-tiba terbuka! membuat Lucy tersentak kaget! Belum sempat Lucy menarik kembali tangannya, sosok itu menggigit jari telunjuknya dengan giginya yang bertaring itu! membuat Lucy berteriak sangat keras!
Kepala itu mengigit tangan Lucy—hingga—telunjuknya hampir terpisah dari tangannya…. "ARGHHHH!"
"JIKA MAMA TAK INGIN IKUT AKU! AKU AKAN MEMBAWA ADIKKU!"
.
.
Mama
.
Disclaimer of Fairy tail
Hiro Mashima
.
GENRE(S) : HORROR, MYSTERY, HURT, ROMANCE, FAMILY, FRIENDSHIP
.
.
"Mira! Luce mulai berteriak dalam tidurnya lagi! aku harus bagaimana?!" Teriak Natsu panik sembari menahan tubuh Lucy yang meronta-ronta. "Sabar! Aku akan panggilkan yang lainnya!" Mira baru saja ingin keluar dari ruangan, ia melirik pada Nashi yang menatap mamanya—sendiri ngeri. Tangannya bergetar hebat. Gadis kecil itu ketakutan.
"M..Mama…" Gumamnya lirih. Mira mendekati anak itu, dan mengangkatnya "Nashi.. kau tak sebaiknya disini. Ayo kita keluar" Mira membawa Nashi keluar ruang kesehatan guild.
Sesuatu yang aneh tengah terjadi.
Ini tidak seperti biasanya.
"Lu-Luce… k-kau kenapa? Jangan membuatku takut. Sekarang. Buka matamu!" Natsu memegangi tangan Lucy. Ia sangat takut sesuatu terjadi pada Lucy.
Semua ini berawal ketika Natsu baru saja keluar dari kamar mandi. Lalu ia melihat Lucy yang sudah tergeletak di depan kamar Nashi. Karna panik dan takut, ia membawa Lucy ke guild. Beberapa kali Lucy berteriak dan menangis. Entah apa yang terjadi di alam mimpinya.
Apapun itu, yang Natsu inginkan saat ini adalah Lucy dapat segera bangun!
"Mira! Bagaimana dengan Lu-chan?!" Levy berlari menghampirinya yang tengah menggendong Nashi. Wajahnya penuh akan kekhawatiran. Mira menggelengkan kepalanya. "Ia terus berteriak. Tapi tak sedikitpun membuka matanya"
"Apa yang sebenarnya terjadi padanya?" Gajeel mengkerutkan keningnya. Apapun yang terjadi pada teman guildnya itu.. ia yakin ini bukan hal yang baik.
Mira menurunkan Nashi dari gendongannya. "Nashi.. sebaiknya kau bersama Wendy-nee dulu.." Mira mendorong pelan Nashi menuju Wendy yang tersenyum kecil kearahnya.
Nashi mengangguk pelan. ia melangkahkan kakinya menuju Wendy. "Ah.." Nashi menghentikan langkahnya dan melirik ruang kesehatan guild. Membuat Mira, Gajeel, Levy dan Wendy mengikuti arah pandangannya.
"Ada apa Nashi? Ayo ikut aku" Wendy menarik Nashi.
"Tapi.. kakak bagaimana?" Tanya Nashi menunjuk keruang kesehatan guild. "Ia masih berada dengan papa dan mama di dalam sana"
"K-Kakak?" Levy melirik Gajeel dan Mira bergantian. "Nashi? Apa maksudmu dengan—"
Wuush
Levy menghentikan kalimatnya ketika ia merasakan—hawa dingin di belakang tubuhnya. Beberapa helai rambut biru mudanya pun sempat bergoyang. Seperti.. beberapa saat yang lalu, seseorang lewat dibelakangnya. Seketika bulu kuduknya bergidik. Ketika ia merasakan sesuatu membelai pipinya.
Levy terpaku ditempat. Membuat Gajeel memandangnya khawatir "Kecil? Kau kenapa?" Tanyanya sembari mengoncangkan tubuh script mage yang sudah resmi menjadi istrinya itu beberapa bulan yang lalu. "A-Ada… y-yang menyentuhku.." Levy menunjuk kebelakang tubuhnya tanpa bergerak sedikit pun dari tempatnya.
"Huh?" Gajeel menaikan satu alisnya "Tak ada seorang pun dibelakangmu"
Perkataan Gajeel membuat Levy semakin panik! A-apa yang baru saja dialaminya beberapa saat yang lalu.. adalah hal yang aneh!
Nashi tertawa kecil melihat wajah panik Levy "Tante.. jangan panik.. ia hanya ingin berkenalan denganmu"
"Siapa yang kau maksud itu , Nashi?" Mira mencondongkan tubuhnya kebawah agar ia dapat memandang tepat kewajah Nashi.
Nashi tersenyum menyeringai "Kakak" Ia lalu menggandeng tangan Wendy dan membawanya pergi keluar guild. Meninggalkan wajah bingung di ketiga penyihir dewasa itu.
"Mira.. aku rasa untuk yang sekarang. Penyihir terkuat dan terhebat pun tak dapat menyelesaikan masalah ini" Levy mengelus belakang lehernya.
"Entahlah, Levy.. apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga Dragneel akhir-akhir ini.. benar-benar di luar logika"
Tiba-tiba Natsu berteriak dari depan pintu ruang kesehatan guild "Mira! Luce sadar!"
Mendengar itu Mira, Levy dan Gajeel berlari masuk kedalam guild. "L-Luce? bagaimana keadaanmu?" Natsu menanyakan keadaannya dengan nada pelan dan sangat berhati-hati tak ingin membuat keadaannya kembali buruk.
Lucy hanya diam dan menatap kosong kepada kedua tangannya yang masih bergetar, sebelum ia membuka mulutnya "K-Katakan itu hanya mimpi, Natsu"
"Apa? Tentang apa?"
"Tentang dia.."
"D-Dia siapa, Luce?"
Tiba-tiba Lucy bangkit dari tempat tidur dan menatap Natsu dengan tatapan takut! "DIA! DIA!" Lucy berteriak-teriak, membuat anggota guild lain yang berada di luar ruangan dapat mendengar teriakannya. "KUMOHON! KATAKAN JIKA ITU MIMPI!" Lucy kembali menangis dan memeluk dirinya sendiri, sesekali ia menjambak-jambak rambut pirangnya. "K-kumohon.. j-jangan menggangguku lagi! siapapun kau itu!"
"Luce! Luce! Luce!" Natsu memeluk Lucy yang masih berteriak histeris "Itu hanya mimpi! Ya! Itu hanya mimpi! Apapun itu Luce! itu hanya.. mimpi…" Natsu mengelus kepala wanita pirang itu. berusaha untuk menenangkannya.
Nafas Lucy perlahan mulai kembali teratur, menandakan dirinya sudah lebih tenang. "N-Natsu.. ayo pulang…" Katanya pelan.
"Tentu , Luce. Sebelum itu.. kita jemput Nashi dulu"
Lucy seketika menghadap Natsu "Nashi? Kemana dia?!" Teriak Lucy kembali.
"Lucy… tenang… ia bersama dengan Wendy. Ia akan baik-baik saja"
"Tenang?!" Lucy mendorong Natsu "Mana mungkin aku tenang! Jika Nashi berada jauh dariku! Ia bisa saja melakukan sesuatu pada Nashi!" Lucy mendobrak pintu kesehatan guild dan berlari keluar.
Berharap tak akan ada sesuatu yang terjadi pada anaknya.
Putri satu-satunya.
Semoga tak terlambat.
(…)
"Lalalala~" Nashi berjalan sembari terus bersenandung ria. Seakan lupa akan keadaan mamanya. Wendy hanya dapat tersenyum lembut melihat Nashi yang sudah kembali riang. Wendy melirik pada boneka yang dipeluk Nashi. Boneka itu.. dari mana asalnya? Wendy mengkerutkan keningnya. Berusaha mengingat kembali ketika ia mengajak Nashi keluar guild. Ia tidak merasa Nashi membawa boneka saat itu?
"Nashi" Panggil Wendy menepuk gadis kecil itu. "Ya, Wendy-nee?" Nashi menolehkan kepala kearahnya. Membuat Wendy dapat melihat jelas bentuk boneka yang dipeluknya. Boneka itu… terlihat hidup. Boneka yang berbentuk seperti seorang gadis kecil berambut pirang. Matanya biru. Alisnya tebal dan bulu matanya lentik. Ia memakai gaun putih panjang. Tak ada yang aneh dengan boneka itu.. hanya saja.. bibirnya.. seperti menampakan cengiran kearahnya.
"Ano.. dari mana kau mendapatkan boneka itu?"
"Uhm?" Nashi melirik pada boneka didekapannya sebelum tersenyum manis kearah Wendy. "Entahlah Wendy-nee. Aku pun tak tahu. Begitu kita keluar guild tadi.. aku sudah memeluk boneka ini? eto… mungkin aku lupa mama pernah memberikannya padaku?"
"Ah.. mungkin Lucy-san yang memberikannya" Wendy mencoba menjauhkan pikiran negatif yang mengganggu pikirannya tadi.
Wendy mengalihkan pandangannya ke langit sore yang berwarna kejinggaan itu. "Sudah sore… Nashi. Kita harus pul—"
"Hihihi… iya! Bagus sekali! Jadi kau yang memberikannya?" Wendy melihat Nashi yang tengah berbincang-bincang dengan—entah—apapun—itu.
"N-Nashi?"
"Wendy-nee! Aku tahu siapa yang memberikan boneka ini! kakak! Kakak memang baik sekali padaku! Bahkan ia secantik mama! Aku jadi iri…" Nashi memanyunkan bibirnya.
Wendy tak menggubris perkataan Nashi. Yang ada dipikirannya saat ini adalah… berusaha menjauhkan segala pikiran negatifnya! Di dunia ini… tak ada yang namanya makhluk gaib! Tak ada! Tak pernah ada!
Wendy menggandeng tangan Nashi menuju arah ke rumahnya. Ia yakin Natsu dan Lucy sudah berada di rumah saat ini. mereka berjalan dengan tenang ketika Nashi kembali berbicara—sendiri lagi.
"Huh? Ingin main sekarang? Tapi aku harus pulang. Ini sudah malam" Tiba-tiba sesuatu menarik lengan Nashi. Membuatnya terseret! "Nashi!" Teriak Wendy yang melihat Nashi semakin menjauh darinya.
Wendy berusaha mengejar Nashi! Tapi entah mengapa… kakinya tak dapat digerakan! Pundaknya pun terasa berat! Seperti ada seseorang yang menaikinya saat ini! "Wendy-nee! Tolooong!" Teriak Nashi sembari terus meronta-ronta! Berusaha melepaskan diri dari 'sesuatu' yang menarik-narik lengannya itu!
"N-Nashi!" Wendy mencoba melangkah. Tapi langkahnya semakin berat. Nafasnyapun terasa berat. Kini lebih buruk lagi! Wendy merasakan sebuah tangan menjerat lehernya! "Kakak! Jangan!" Nashi mencoba menggapai Wendy yang hampir kehabisan nafas! Ia terengah-engah berusaha menghirup oksigen yang ada di sekitarnya!
Nashi berlari kearah Wendy, sebelum 'sesuatu' itu membuatnya kembali terjatuh ke tanah! Wendy berusaha bangkit dan melawan berat di punggungnya! "Mati.."
Wendy tersentak. Ia seperti mendengar suara seseorang! Ia tak mungkin salah! Ia seorang Dragon Slayers. "Kumohon! Jangan sakiti, Wendy-nee!" Teriak Nashi histeris.
"N-Nashi.." Wendy jatuh tersungkur di tanah. Ia sudah tak kuat. Sihirnya pun tak bekerja. Apa yang sebenarnya terjadi?
"Baiklah! Baiklah! Kakak! Aku akan ikut denganmu! Tapi lepaskan Wendy-nee!"
Dengan itu… Wendy merasakan jeratan dilehernya melemah sebelum ia dapat kembali merasakan udara.
"Wendy-nee… katakan pada mama dan papa.. aku akan pergi sebentar.."
"T-Tidak… Nashi!" Dengan tubuh yang masih lemas, Wendy memaksakan dirinya untuk berlari mengejar Nashi.
"JANGAN! JANGAN MENDEKAT WENDY-NEE!"
Jleb!
Mata Wendy seketika membesar. Kini… yang ia tahu… darah tengah mengalir dengan deras dari perutnya. Mungkin ia memang penyihir yang cukup kuat. Tapi tidak begitu kuat untuk dapat mengalahkan-nya.
Sakit. Perih. Itu yang ia rasakan saat ini.
Entah apa yang menancap pada perutnya saat ini, yang pasti.. itu sebuah barang yang tajam. "WENDY-NEE! Kakak! Apa yang kau lakukan! Kau jahat! Kau melukai Wendy-nee!" Nashi berteriak keras. Kenapa tak ada seorang pun saat ini yang bisa membantunya?! Kemana semua orang?!
"N-Nashi…" Terakhir kalinya Wendy melihat, ia melihat Nashi yang diseret oleh sesosok gadis pirang. ia menarik kaki Nashi paksa. Dan… mereka meninggalkan boneka berambut pirang tadi tepat di hadapan Wendy.
Mata Wedny semakin berat. Sebelum ia benar-benar menutup mata… ia melihat senyum boneka itu merekah.
"Kami akan menyingkirkan mereka yang ingin menghalagi kami… termasuk… kalian…"
Matilah...
.
.
Yosh! Kayaknya.. aku mengecewakan kalian T.T chap ini pasti aneh! Tapi tolong dimaklumi ya… Auhtor gak biasa buat FF horror nih, baru belajar hiks. Jadi? Apakah Wendy dapat selamat? O,o dan… adakah hubungan sosok itu dengan boneka yang dibawa Nashi itu? R n R?
.
(Balesan Review ^^)
Lacie Helra-Chan
Iyeee nih hehe lagi mencoba sesuatu yang baru La-chan ^^ hehe.
Aku … hiks. Ngerasa gak serem kayak nya T.T maaf ya.. La-chan kalo ceritanya kurang memuaskan.
Hanara VgRyuu
Waaaah! Arigataou hana-chan ^^ semoga chap selanjutnya lebih bagus yaa :3
Nereon
Iya! Makasih yaa ne-san! :D
Tapi… tapi… saya masih banyak kekuarangan untuk FF horror X( tapi saya akan mencoba untuk memperbaikinya!
Nnatsuki
Pasti dong Na-chan! Na-chan juga update yaaa! Ceritanya! XD aku penasaran ama stinky dkk yang bakal dihajar cowok gue (?) o,o
Natsu maksute hehe…
Asha D
Makasih A-san! Saran yang sangat bagus! XD YOSH! Aku akan lebih berusaha ^^
Yah… tapi.. ternyata untuk membuat FF horror itu memang sulit -3-
Tia Ikkimaza-chan
Waaah! Tia-chan? Nonton mama juge? O,o aku sih gak berani. Jujur aku nih sok buat FF horror padahal nonton filem horror aje kaga berani -_-"
Hana Hii-chan
Yosh! Hana-chan arigatou udah bikin reviewan yang bikin aku semangat nulis XD
Chiaki Heartfilia \
Buat tes keberanian? :D wkwkwk chi-chan! Kayaknya FF ini gak begitu horror, karna saya tak berpengalaman dalam menulis FF horror -3- lah wong ekey penakut begini… mau so'-so'an bikin FF horror lagi.
yodontknow Okeh! XD Yo-san!
Vanessa Synyster
Okeh! Vanesa-chan :3 hehe, bakal kulanjutin kok! Tapi maaf ya.. kalo gak begitu serem :[
Pipin -Fina
Waduuh… makasih banyak ya… pi-chan :o aku gak tahu deh kalo gak ada reviewer! Hiks… pasti udah kuhapus nih cerita T.T semoga dapat menghibur ya….
Iya.. Pi-chan.. lagi kuusahakan ^^ hehe bakal di update yang 'Fanfiction'
Berlian Cahyadi
Oh! Boleh! Boleh! Kak! Boleh—sangat! Jika ingin fav dan follow X3 hehe… kakak update ceritanya luar biasa o,o loh… aku waktu itu baru baca ampe chap 6 apa 7 FF kakak… eh pas dibuka lagi udah complete T.T ! manteb dah kak! Idenya pasti lagi numpuk tuh ^^
stillewolfie
Waaaa! Makasih ,, ano… ti-san? Hehe.
Aku gak tahu kalo itu mirip conjuring o,o
Karna saya gak pernah nonton itu O,o hehe…
Akiko Nagato
SUMPAH! MAKASIH A-CHAN! Justru reviewan panjang a-chan bikin aku semangan! XD makasih-makasih! Tapi maaf nih… kalo chap slnjutnya mengecewakan T.T aku.. sbenernya penakut… tapi malah so'-so'an bikin FF horror! XP
Tohko Ohmiya
Sa-chan! Sebelumnya makasih udah baca FF horrorku yang perdana ini (?) T.T hiks. Dan… MAAF! AKU GAK PUNYA PULSA UNTUK BALES SMSMU HUWEEEEE! T.T emang gak ada gunanya punya hape kalo gak ada pulsa -_-"
RyuuKazekawa
Waaaa! Ryuu-san! Arigatou! XD
Ryuu-san juga :3 ceper-cepet update tuh~ pengen tahu Nashi dkk ^^ lagi.. hehe
santika widya
Sa-chan! T.T makasih banyak yaa… Sa-chan the best loh! Selalu bikin aku seneng! Dan ngikuti ceritaku … hiks.. :'[
.
.
Sekian ^^ trims
