"Satu.. dua.. tiga.."
"Langkah kaki semakin berat. Berlarilah secepat yang kau bisa.."
"Hhhh.. salah kau.. kenapa tak menginginkan aku ada.."
"Ya! Larilah..!"
"Cobalah berlari lebih kencang!"
"Sebelum anakmu ini.. menyeretmu masuk kedalam dunianya.."
"Satu datang.. dan satu pergi. Satu selamat.. satu nyawa menghilang.."
" Jika kau ingin menyelematkan banyak jiwa.. ikutlah denganku…"
"Biarkan nyanyian kematian menyambut kedatanganmu.. Mama…"
.
.
Mama
.
Disclaimer of Fairy tail
Hiro Mashima
.
GENRE(S) : HORROR, MYSTERY, HURT, ROMANCE, FAMILY, FRIENDSHIP, 'PSYCHO', ANGST
.
.
"Misi yang cukup mudah jika kalian sadar itu.." Gray memijat pelan belakang lehernya dimana ototnya terasa sedikit kaku ,mengingat pertarungan melawan bandit dalam misi tadi tak begitu sulit, sehingga membuatnya tak menggerekan tubuhnya cukup banyak.
"Gray-sama memang hebat! Juvia semakin terpesona!" Juvia melingkarkan tangannya pada lengan Gray, sembari terus berjalan menuju guild tercinta mereka atau kini dapat disebut dengan—kuburan peri itu.
"Juvia… cukup dengan–sama itu. Jangan terlalu merendah denganku" Gray menepuk kepalanya pelan. "Tapi.. itu sudah kebiasaan Juvia…" Juvia menatap Gray lesu.
"Gray benar, Juvia. Tak pantas calon istri menggunakan kata–sama seperti itu" Erza tersenyum lembut kearahnya. Tatapan bangga juga bahagia menyertai sorotan matanya. Kenapa tidak? Tahun ini akan ada lagi dua orang sahabatnya yang akan menuju kejenjang yang lebih serius. Dimana mereka memperkuat ikatan mereka dan menjalankan kewajiban sebagai halnya keluarga pada umumnya.
"Hah.. waktu itu memang cepat berlalu ne, Erza?"
Erza mengangguk mendengar perkataan rekan satu timnya yang sudah bersamanya sejak beberapa tahun itu. "Bahkan Flame-head saja sudah mempunyai Nashi" Gray menatap langit cerah.
"Oh~ itu sebuah kode, Gray?" Erza menyengir lebar kearah Gray dan Juvia "Ti-Tidak! Aku tidak.." Gray menggaruk belakang kepalanya, gugup "Cih. Apa salahnya dengan itu?"
"Tidak ada masalah ,Gray. Itu memang kewajibanmu untuk menurunkan sihir es-mu"
"O-OY, Erza! Berhenti membuatku malu!"
Erza dan Gray masih dapat tertawa kecil dan berbincang, sampai pada mereka mendengar teriakan Juvia yang melengking. Mereka berdua pun berlari kearahnya. Juvia memang sedari tadi berjalan didepan mereka.
"Juvia apa yang—" Gray mendelik lebar. Tak pernah terpikir baginya, runtuhan bangunan ini menjadi penyambut kedatangan mereka. Tak ada lagi kibaran bendera kebanggan mereka yang berlambang peri berekor. Tak ada lagi bangunan yang menjadi tempat berkumpulnya orang-orang yang sudah ia anggap sebagai keluarganya.
Tak ada lagi pintu yang terbuka lebar. Pintu yang menjadi penghubung antara kerasnya dunia luar dengan nyamannya dan kehangatan sebuah rumah. Tak ada lagi sapaan orang-orang yang tersenyum lembut kearah mereka setelah menjalankan misi.
Mereka tak membutuhkan banyak pertanyaan. Hanya satu yag terlintas dibenak mereka..
'Apa yang terjadi?'
Erza menjatuhkan dirinya ketanah dengan lutut sebagai penopangnya agar ia masih dapat tegap. Tubuhnya bergetar hebat, kulitnya seketika pucat. "…" Bibirnya tak dapat mengeluarkan sepatah kata apapun. Tak ada kata yang tepat untuk menggambarkan situasi yang terjadi saat ini.
"A-Apa kita diserang? Guild mana yang menyerang kita?!" Teriak Juvia. Juvia tak dapat menahan linangan air matanya yang mengalir di kedua pipinya.
"T-Tak mungkin… sampai hancur begini…" Gray membekap mulutnya yang bergetar. Mereka diam untuk beberapa saat, sebelum Gray berlari kearah reruntuhan bangunan "Minna! Apa masih ada orang disini?!"
"G-Gray-sama.." Juvia hanya dapat memandang punggung Gray—yang dari jauhpun masih terlihat bergetar. "Kenapa… kita baru hanya pergi dua hari.. ne, E-Erza? A-Apa ini semacam lelucon para anggota guild untuk menyambut kedatangan kita? Apa ini bulan april? Apa ini april mop? Tidak mungkin guild kita hancur begini kan? JAWAB AKU ERZA!" Juvia sudah tak tahan dengan Erza yang terus bungkam. Ia bahkan sudah tak memakai ciri khasnya yang selalu memasukan namanya sendiri menjadi kalimat yang menggantikan kata 'Aku'.
Juvia melihat Erza hanya memegangi kepalanya, ia masih tak membuka mulutnya sedikitpun.
"CANA!"
Mendengar nama anggota guildnya itu Erza dan Juvia berlari kearah Gray. "C-Cana! A-Apa dia baik-baik saja , Gray-sama?!" Juvia menghentikan langkahnya ketika ia hanya dapat melihat kepala Cana diantara retuntuhan. Darahnya pun sudah bermuncratan di sekitarnya.
"C-Cana…" Erza mendekati kepala Cana yang bersimbah darah itu. Rambut cokelat panjangnya yang cantik itu, kini tercampur warna darahnya sendiri, membuat rambutnya itu berwarna lebih gelap. "A-Apa yang sebenarnya terjadi…" Erza menebas beberapa helai rambutnya yang menutupi matanya.
"K-Kalian.."
Ketiga anggota guild itu tersentak ketika mereka mendengar suara keluar dari bibir Cana. "C-Cana! Kau masih hidup?!" Dengan kondisi seperti ini.. ia masih dapat hidup?!
Cana tersenyum lemah "Tak.. mungkin.. aku masih hidup.. sebentar lagi juga.. aku akan menyusul Master.. dan… Wendy…" Cana memandang langit "…Ini… sebuah.. kesempatan terakhir yang diberikan kami-sama untukku… dapat melihat kalian.."
"K-Kau bicara apa?! Kami akan mengeluarkanmu dari reruntuhan ini! kami akan mengeluarkan badanmu dari—"
"—badan apa, Gray?" Cana menghentikan perkataannya. "E-Eh?"
Cana tersenyum lesu. Wajahnya semakin memutih, sepertinya ia sudah kehilangan banyak darah. "Souka.. kau belum melihat seutuhnya.."
"…"
"Angkat aku.. Gray.."
"Tapi kita harus memindahkan batunya dulu—"
"—angkat aku!" Tanpa basa-basi lagi Gray mengangkat kepala Cana, dan apa yang mereka lihat.. Cana..
"HHHh!" Juvia menutup matanya. Erza mengalihkan pandangannya. Gray tak mungkin menghindar dari pemandangan didepannya. Di atas tangannya.. ia tengah mengangkat kepala—sebuah kepala… tak bertubuh.
"S-Sudah kubilang.. ini sebuah keajaiban aku masih dapat berbicara.. tubuhku ada di antara reruntuhan ini.."
Tetes demi tetes darah mengalir dari jemari Gray menuju lengannya, sebelum tetesan darah itu menyentuh tanah. "Maaf, sudah mengotori tanganmu dengan darah kotorku.. Gray"
"Sebenarnya apa yang terjadi?! Siapa yang berani melakukan ini pada kalian?! Dimana yang lain?!"
"Aku tak punya cukup waktu untuk menjawab semua pertanyaanmu.. tapi… kuharap setelah ini kau langsung bergabung dengan Natsu dan yang lainnya.. jangan sampai kalian terpisah dan ia menemukanmu sendirian… dan, Gray, Erza… Juvia.. ini permintaanku yang terakhir" Mata Cana mulai perlahan tertutup "Kuburkan aku.. Wendy dan Master… dengan… l..l…layak.."
Dengan begitu.. Cana alberona menghembuskan nafas terakhir.. untuk selamanya.
"Cana! Cana! Cana!" Gray berteriak berkali-kali. Air matanya mengalir deras. Ia tak peduli dengan banyaknya darah yang menempel pada tubuhnya. Meski hidungnya tak sanggup lagi mencium bau darah yang begitu menusuk, tapi… ia tak ingin melepas pelukannya pada 'keluarganya' itu. Gray malah semakin memeluknya erat, membiarkan bau tubuhnya tergantikan oleh bau anyir.
"Gray.. lepaskan.." Erza berkata tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari tanah.
"…" Gray tak melakukan apapun yang diperintahkan oleh Erza.
"Lepaskan, Gray…" Gray masih memeluk Cana erat, meski yang ia peluk hanya sebagian dari tubuhnya yang tersisa. Ia tak peduli! Itu keluarganya!
"LEPASKAN BODOH!" Erza menampar Gray keras, membuatnya tersentak. "E-Erza…" Gray menatap Erza dengan mata sembabnya "Kumoho… lepaskan.." Erza mulai terisak dalam tangisnya "Aku.. juga.. tak ingin.. ia pergi.." Erza memeluk dirinya sendiri "Aku hanya berharap ini hanyalah sebuah mimpi buruk… dimana sebentar lagi aku akan terbangun.."
"Gray-sama.. jangan tangisi Cana lagi.. ia akan sedih, J-Juvia juga merasakan hal yang sama… siapapun itu… dimanapun dia.. kita akan membalas perbuatan mereka pada keluarga kita!"
"Kita kabulkan permintaan Cana yang terakhir.."
"Tunggu dulu.. itu berarti.. Master dan Wendy.. juga sudah…" Juvia menjambak rambutnya sendiri "Bahkan Master dikalahkan oleh mereka? Manusia seperti apa mereka itu?!"
Gray bangkit dari tempatnya berjongkok "Tak ada lagi.. peri manis… tak ada lagi peri yang baik hati…" Kini tatapan dari ketiga anggota yang tersisa itu.. dipenuhi akan kebencian. Hati mereka sudah gelap. Membunuh seratus orangpun mereka rela, demi membayar sakitnya kehilangan orang yang dicintai.
"Nyawa.. dibalas dengan nyawa…"
(..)
"Tikam.. jantungnya.. jantungnya.. Natsu Dragneel…" dia yang masih berada pada tubuh milik—mantan ketua guild—terkuat di Fiore itu, hanya dapat mengulangi perkataan yang terakhir ia dengar. Sesekali ia menggerutu mengenai betapa hinanya ia memakai tubuh seorang yang tua seperti itu.
Belum lagi, kaki kanan tubuh itu sudah hampir putus dan membuat jejak darah selama ia melangkah. Entah mengapa tubuh manusia begitu lemah. "Cih.." merasa dipersulit dengan keadaan tubuh yang tak layak itu. Ia mulai mengepalkan tangannya. Sebelum kedua tangan milik tubuh itu, mencengkram kakinya sendiri. Diputarnya kaki kanan itu hingga memperilihatkan urat-urat, otot juga daging yang yang timbul dipermukaan kulit yang membiru itu.
Dengan sekali tarikan, ia membiarkan kaki kanan itu berpisah dari tempat awalya melekat. Seakan haus akan darah, ia tak cukup hanya dengan memutuskan satu kaki. Dengan cengiran seram, matanya kembali menatap tajam kaki satunya.
"Aku tak bisa menahan! Warna darah itu begitu indah!" teriaknya bangga akan hasil kerja yang ia buat. Lautan darah, juga bau yang menyengat itu.. membuatnya semakin bersemangat untuk dapat membuat lebih banyak cairan merah kental yang bermuncratan di tempat itu.
"Tak masalah jika setelah ini aku harus mengangganti tubuh baru!" Ia mengambil sebatang kayu runcing yang tak jauh darinya. Lalu ia mengangkatnya dan menghunuskan tepat pada kaki satunya! "HA HA HA!" tawanya seraya terus menusuk-nusuk dirinya sendiri, kini bukan lagi hanya darah yang keluar, melainkan berbagai organ yang lain. Bahkan putihnya tulang sudah dapat terlihat! "Ha..Ha..Ha.." Ia menghentikan aksinya sesaat. "Membunuh manusia itu.. mudah. Mengambil nyawa manusia itu.. mudah. Membuat mereka menangis histeris itu.. mudah. Yang terpeting adalah.. manusia memiliki warna cairan yang bagus didalam tubuhnya.." Ia menjilat sebagian darah yang menempel pada batang kayu runcing itu. "..Aku.. ingin melihat banyak darah lagi… lebih banyak lagi! Dan lagi! HAHAHA!"
"NATSU DRAGNEEL! AKU AKAN SEGERA MENEMUKANMU! Jangan panggil aku psikopat terbengis semasa aku hidup, jika tak dapat membunuh dan memotong-motong tubuhmu!"
(...)
"N-Natsu.. kenapa sedari tadi.. semua orang di kota melirik kita dengan tatapan.. seakan kita setan?" Lucy menarik ujung baju suaminya itu, sesekali melirik kanan-kiri, dimana para penduduk kota tengah menatap mereka sinis. Bahkan beberapa orang melangkah mundur begitu mereka melihat rombongan Fairy tail itu.
"Aku tak tahu, Luce" Natsu hanya dapat menatap penduduk itu, sembari mengkerutkan keningnya. "Entah mengapa ada sesuatu dari kita yang membuat mereka ketakutan?"
"Aneh. Biasanya para penduduk tak begini. Dan.. mereka pasti tahu kan, jika kita anggota guild Fairy tail? Guild yang sudah membantu masalah mereka selama bertahun-tahun. Kenapa mereka melihat kita seakan kita orang asing yang jahat?"
"Entahlah.. Elfman-nii… aku takut.." Lisanna memeluk lengannya lebih erat. "Tenang saja Lis. Kita akan baik-baik saja. Aku.." Elfman mengangkat tangan besarnya dan menepuk kepala Lisanna pelan "..yakin".
Mereka terus berjalan menyelusuri jalan di kota. Entah kemana arah tujuan mereka. Mereka hanya mengikuti kaki mereka melangkah. Natsu dan Lucy berada di paling depan rombongan. Tangan keduanya tak pernah lepas atas genggaman satu sama lain. Mereka hanya takut akan terpisah. Seperti saat ini mereka tengah berpisah dengan putri mereka.
Levy dan Gajeel berada di tengah rombongan. Sepertinya kaki Levy sudah mulai kehabisan tenaga, itu terlihat dari bagaimana Gajeel menopang dan membantunya berjalan. Beberapa kali juga Levy hampir jatuh tersungkur. Beruntung Gajeel selalu ada disampingnya. "Arigatou…" Gajeel hanya tersenyum kecil.
Para Strauss bersaudara berada di paling belakang. Elfman berjalan diantara Lisanna dan Mira. Tangan besarnya merangkul kedua kakak dan adiknya itu. Bersiap jika sesuatu terjadi, ia akan dapat langsung melindungi mereka.
"H..h.."
Mira merasakan hawa dingin yang membuat tubuhnya terasa tertusuk. Begitu dingin dan… aneh. Rasanya ia pernah merasakan sensasi seperti ini sebelumnya.
"H..h.."
Semakin dingin.. semakin berat.. semakin sesak. Apa yang terjadi?
Mira kini bukan hanya merasakan hawa dingin.. tapi seseorang yang tengah berjalan kearahnya. Semakin dekat. Mendekat… Mira sudah mengeluarkan bulir-bulir keringat dari pelipisnya. Matanya ingin melihat kebelakang, tapi kepala dan tubuhnya kaku.
"A-Ah.." suaranya pun tak keluar! Ia ingin sekali berteriak kepada yang lainnya, tapi tak ada yang dapat keluar dari mulutnya!
'Sr..sret…'
Kini Mira merasakan seseorang mengelus punggungnya pelan. Tangannya begitu dingin, seperti ia sebuah benda mati.
Mira menarik nafas dalam "AAARGHHHH!" teriaknya keras, membuat semua orang sontak menghadapnya "J-Jangan dekati aku!"
"Mira-nee—S-Siapa kau?!" tanya Lisanna begitu melihat seorang wanita tua tengah menempelkan tangan pada punggung kakak perempuannya.
Wanita tua itu hanya menyeringai, menampakan sederetan gigi hitamnya "Jangan takut… aku teman kalian…." katanya pelan, tapi cukup untuk mereka dengar.
"Mau apa kau dengan, kakakku?!" Elfman kini menarik Mira menjauh dari wanita tua itu, dan berdiri di depannya dan Lisanna.
"Sudah kukatakan, aku teman kalian. Kalian akan membutuhkanku.."
"Kami sama sekali tak mengerti maksud dari ucapanmu, nek?" Natsu mengernyitkan dahinya. Ia ingin berjalan kedepan dan mendekati wanita tua itu, tapi Lucy menahan tangannya. Tangan dingin juga bergetar milik Lucy mengurunkan niatnya.
"Kalian membutuhkan aku"
"Huh? Untuk apa kami membutuhkanmu?" tanya Gajeel dengan nada angkuhya.
Wanita tua itu menaikan satu alisnya "Kalian tak ingin tahu kenapa semua orang menatap kalian seakan kalian pembunuh?"
Pertanyaan wanita tua itu membuat rombongan itu tersentak. Siapa sebenarnya nenek itu?
"K-Kau tahu sesuatu, nek?" Levy memberanikan diri untuk bertanya. "Ya.. semuanya. Juga tentang anak yang mengejar putrimu" tangan wanita tua yang keriput itu menunjuk kearah Lucy. Mendengar kata 'putrimu' membuat Lucy berlari dan mendekati wanita tua itu "K-Kau tahu?!" Lucy kini sudah berada di hadapan wanita tua itu "D-Di mana putriku?! K-kumohon beritahu aku!"
Wanita tua itu mengibas beberapa rambut pirang Lucy "Kau benar-benar mirip.." gumamnya sembari membiarkan beberapa helaian rambut Lucy menari di antara jemarinya. "H-Huh?"
Tiba-tiba mata nenek itu menatap tajam mata cokelat karamelnya "Kalau begitu… ikut aku!" Wanita tua itu menarik tangan Lucy kuat membuat ia sempat meringis kesakitan. "Lu-Luce!" Natsu mengikuti Lucy yang diseret oleh wanita tua—yang ia masih berpikir wanita itu gila.
Melihat Natsu mengejar Lucy, membuat kelima temannya yang lain tak memiliki pilihan juga selain mengikuti mereka. Bersama lebih baik dari pada sendiri.
(..)
"Kak.. aku rindu mama… aku mau pulang.." gumam Nashi sembari menatap coretannya pada kertas gambar—yang entah dari mana kakaknya itu dapatkan. Nashi tak pernah tahu saat ini ia berada dimana. Yang ia tahu adalah dia tengah berada di dalam sebuah rumah tua. Rumah tua yang besar dan gelap juga banyak debu. Beberapa kali Nashi tersentak karena mendengar decitan tikus yang berkeliaran di rumah itu.
"Kau rindu mama? Meski kau baru tak bertemunya selama sehari?" sang kakak mendekatkan wajahnya pada Nashi, membiarkan hembusan nafas panasnya mengenai wajah pucatnya. "Kau beruntung, sebagai adik.. kau disayang oleh mama dan papa. Aku bahkan tak bertemu mereka sejak aku lahir..mereka membuangku dan seolah aku tak pernah ada"
"Ah.. itu mengingatkanku , kak. Bagaimana kakak dapat bertahan hidup? Kakak selama ini tinggal dengan siapa?" tanya Nashi penasaran.
Sang kakak menyungging kan bibirnya. "Hidup? Apa dalam pandanganmu aku terlihat hidup?"
"Tentu saja, kak. Kau ada disini. Kau ada dihadapanku. Kau berbicara padaku. Semua manusia yang hidup pasti berbicara.. kan?"
"Nashi.. jika kukatakan aku sudah mati. Apa kau masih akan tetap menganggapku kakakmu?"
"Tentu saja!" angguk Nashi yakin. "Lalu.. jika aku meminjam tubuhmu sebentar, apa kau mengizinkan?"
Nashi memiringkan kepalanya "Ano.. apa maksudnya? Selama kakak akan mengembalikannya.. aku rasa tak apa"
Sang kakak mengelus kepala Nashi pelan "Kau memang gadis kecil yang baik. Ini akan terasa sakit sebentar.."
Tiba-tiba Nashi merasakan dadanya sesak dan tubuhnya memanas! Belum lagi angin yang berhembus dengan kencang menusuk kulit tipisnya. Matanya mendelik. Tubuhnya terguncang dan bergetar hebat.
Begitu Nashi mengerjapkan matanya beberapa kali… itu bukan lagi Nashi yang sama.
"Bodoh. Mana mungkin akan kukembalikan…."
.
.
.
Hah.. maaf! Sudah hiatus lama ternyata update-tannya mengecewakan! Maap sekali lagi minna-san! .
Saya akan segera meng-update cerita yang lain juga ^^ mohon dukungannya (?) :3
Balasan review! (Guest)
s4kur4miyuz4ki
Kalau hepi ending apa enggak.. waduuuh belum ditentukan nih sa-chan ^^ hehe
Resha
Iyaaa~ tapi maap nih re-san o,o di chapter nih gak ada gregetnya, bahkan mengecewakan, mungkin di cahp slanjutnya baru akan sesuatu 'yg menegangkan' :3 trima kasih sudah mereview
michiko
Heheh, makasih banyak sebelum mi-chan ^^ sudah menyempatkan membca fic saya yg sudah berdebu ini -_-" saya harap anda masih menunggu o,o karena saya hiatus lama skali :[
Santika widya
Arigatou masih mengikuti hingga sekarang! :[ dan maap baru update santika-chan!
stillewolfie
Heheh, makasih nih udah mereview ^^ wolfie-san(?) maap baru bisa update setelah berbulan-bulan hiatus, dan maaf kalo mengecewakan :[
achiem14
Masa kak? MAKASIH BNGT! Makasih udah masih negikutin crita aku :[ padahal aku udah hiatus laaaaaaaaamaaaaaa banget! .
Kaoru Dragneel
Makasih sudah mereview ^^ dan saranmu akan kupertimbangkan! :D semoga anda masih mengikuti crita saya yaaa :[
beny
OKE BEN ^^ ! makasih sudah mereview hehe
Sevia Heartfilia
Siiip-siiip sevia-san ^^ , arigatou sdh mereview!
Kokona-chan
Kokona-chaaan, apakah crita ini cukup seram? Bener kah? :[ aku rasa malah gagal membuat pembaca takut.. tp, trimakaish sudah menyempatkan RnR :3
Sekian
-nshawol56/566 (kembali mengupdate )-
