No Other Love (KyuMin)

Chapter 5

Happy reading^^~

.

.

.

.

"aku... aku sedang bermimpi bukan?" tanya sungmin serak. Ia berharap yang dikatakan kyuhyun maupun seohyun tadi tidak nyata. Sungmin memandang kyuhyun dan seohyun dengan tatapan memohon.

Tak ada jawaban, itu berarti semuanya benar-benar nyata, bukan mimpi. Sungmin memejamkan matanya erat. Berusaha menguatkan hatinya. Ia merasa semuanya terlalu cepat. Kalau boleh memutar waktu ia memilih untuk tidak mengenalkan seohyun pada kyuhyun saat itu. setidaknya jika kyuhyun tak mengenal seohyun walaupun namja itu tak mencintainya tetapi kyuhyun akan tetap bersamanya. Tidak seperti sekarang.. egoiskah dirinya?

Mendengar bicara sungmin yang mulai tak karuan, kyuhyun menarik nafas dan mengeluarkannya perlahan. Tak kuat juga melihat wanita manis itu bersedih seperti saat ini.

"kurasa kita perlu menyelesaikannya berdua saja" ucap kyuhyun. Sungmin kembali membuka matanya, seketika tatapannya bertemu dengan tatapan onyx kyuhyun yang sedang menatap dirinya balik.

"apa kau bisa pulang sendiri? Mianhe.." gantian, kini kyuhyun menatap seohyun. Meminta yeoja itu untuk mengerti bahwa tidak seharusnya yeoja itu ikut dalam pembicaraan kali ini, sekaligus meminta maaf karena tak bisa mengantarnya pulang.

Seohyun mengangguk mengerti. "minnie, aku permisi.." pamit seohyun. Ia tahu sungmin tidak akan membalas perkataannya, seohyun memilih untuk segera keluar dari apartemen sungmin dan kembali menutup pintunya kembali.

Kyuhyun yang merasa harus menenangkan sungmin memilih untuk mengajak sungmin ke atas balkon kamar yeoja itu. Disana sungmin biasa menenangkan pikirannya, setahu kyuhyun. Sungmin sempat kaget ketika tangannya sudah digenggam kyuhyun, namun ia hanya pasrah mengikuti kyuhyun yang menariknya untuk ikut naik ke atas tangga, terlalu lemah untuk memberontak

.

.

.

.

Di kawasan gangnam terdapat sebuah mobil mewah berwarna biru tua melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi. Jalanan yang memang sedang sepi seolah memberi kesempatan besar bagi pria tampan yang sedang mengendarai mobil tersebut untuk berkendara dalam kecepatan tinggi.

Setelah sampai di tempat tujuan, pria tampan itu memarkirkan mobilnya, tak lama setelahnya ia keluar dengan senyuman yang tercetak jelas di wajahnya. Pria tampan tersebut, sebut saja donghae menenteng sebuah kotak yang sepertinya memang sudah ia siapkan.

'ting.. tong..'

Donghae menekan bel yang berada tepat didepannya.

"ne.. tunggu sebentar" donghae tersenyum kecil mendengar sahutan dari dalam. Jelas sekali itu suara leeteuk ahjumma, calon mertuanya-menurutnya-

Dengan gerakan cepat ia kembali merapikan pakaiannya, takut-takut penampilannya terlihat kurang mempesona sehingga membuat leeteuk menilainya kurang pantas bersanding dengan sungmin nantinya. Aigoo.. padahal pake baju gelandangan aja oppa tetep ganteng kok /dicium hae/ *terbang* /elfishy nyiapin obor/ *kaburrr*

'cklek'

"annyeong ahjumma. Apa kabar?" sapa donghae ramah. Leeteuk tersenyum membalasnya, tak heran dengan tamunya yang memang sudah sering datang pada saat-saat yang tak terduga. Bayangkan saja, ini sudah pukul setengah 11 malam, bukankah sebenarnya tak wajar? Tapi leeteuk memakluminya, alih-alih ia malah kagum dengan kegigihan pemuda di depannya untuk mendekati putrinya-sungmin-

"baik.. masuklah nak" donghae mengikuti leeteuk yang sudah melangkah mendahuluinya masuk ke dalam.

Inilah saat-saat yang paling disukai pria tampan tersebut. Bertemu dengan leeteuk dan kangin, bertukar cerita mengenai sungmin, maupun mencurahkan isi hatinya dengan leluasa termasuk perasaannya terhadap sungmin. Ya. Leeteuk dan kangin telah mengetahui kalau donghae mencintai putri mereka lewat pengakuan donghae sendiri.

Donghae menganggap eomma dan appa sungmin seperti orangtua kandungnya, mengingat keluarga aslinya yang tinggal di Jepang membuat donghae terbiasa hidup mandiri tanpa sosok orangtua dan keluarga. Kini, ia merasa seperti memiliki keluarga baru di korea. Leeteuk ahjumma dan kangin ahjussi yang sangat ramah membuatnya merasa nyaman. Awalnya memang hanya sekedar ingin membuat pendekatan dengan orangtua sungmin, tapi lama kelamaan ia terbiasa dengan sikap leeteuk dan kangin yang menganggapnya seperti putra kandung mereka.

"kangin ahjussi ada dimana, ahjumma?" tanya donghae saat melihat leeteuk yang baru saja kembali dari dapur, mengambil minuman untuknya.

"ah.. seperti biasa, dia diruangannya. Mau ahjumma panggilkan?"

"tidak perlu ahjumma. Aku mengobrol dengan ahjumma saja.. oh iya, aku bawa sedikit kue" donghae meletakkan kotak yang sedari tadi ia bawa diatas meja ruang tamu keluarga Lee.

"gomawo.. lain kali tak perlu repot-repot jika ingin main kesini" leeteuk duduk di hadapan donghae dan memberikan teh yang baru saja ia buat.

"aku sama sekali tidak merasa repot, ahjumma" donghae meraih secangkir teh dihadapannya dan meneguk isinya dengan cepat tanpa menghiraukan uap panas yang masih mengebul.

"teh buatan ahjumma memang paling enak" puji donghae setelah menyeka sisa teh disudut bibirnya. Leeteuk yang melihat hal itu tertawa kecil. Melihat bagaimana donghae meneguk teh yang sebenarnya masih panas tersebut sampai habis.

"benarkah? Mungkin karena kau belum pernah mencoba teh buatan sungmin. Buatan ahjumma tidak ada apa-apanya" kata leeteuk. Donghae yang mendengarnya segera mengembangkan senyumannya, ia baru saja mengetahui satu lagi kelebihan sungmin. Ia semakin mencintai yeoja itu.

"itu berati aku akan mencicipi teh ter'enak' sedunia setiap pagi nantinya, kalau sungmin sudah menjadi istriku" ucap donghae polos membuahkan tawa leeteuk.

"kau ada-ada saja" leeteuk mengibaskan tangannya didepan wajah cantiknya yang mulai terlihat sedikit keriput termakan usia, menganggap ucapan donghae hanya sebagai gurauan.

"aku serius mengatakannya ahjumma.." ucap donghae pelan diiringi senyuman tipis.

Ucapan singkat itu mengehentikan tawa leeteuk. wanita paruh baya itu kembali mengingat kejadian ketika ia ke apartemen sungmin tadi. Ia memang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tetapi sebagai seorang ibu ia dapat merasakan sakit hati yang sedang melanda putrinya walau dalam jarak jauh seperti sekarang.

Leeteuk menatap donghae dalam, ia melihat ketulusan yang terpancar dari mata pemuda tersebut. Ia yakin donghae benar-benar mencintai sungmin. Tapi ia sudah terlanjur menyuruh sungmin untuk bertahan demi kyuhyun. Lalu bagaimana dengan donghae..

"bersabarlah nak.. kalau sungmin memang jodohmu, ia pasti akan membalas perasaanmu suatu saat nanti"

Donghae mengangguk membenarkan perkataan leeteuk. setidaknya saat ini masih ada yang mendukungnya untuk mendapatkan hati sungmin. Donghae beranjak dari duduknya dan kini sudah duduk disamping leeteuk dengan menyandarkan kepalanya dibahu wanita yang ia anggap sebagai eommanya.

"ahjumma, bolehkah aku memanggilmu eomma saja?"

"tentu.." leeteuk mengusap kepala donghae, seperti yang biasa ia lakukan pada sungmin.

"gomawo eomma" donghae memeluk leeteuk.

"ya! Donghae! Kau mengambil kesempatan dalam kesempitan pada istriku, eoh?" canda kangin yang baru saja keluar dari ruangannya dan melihat donghaeyang sedang memeluk istrinya. Kangin melangkah mendekati keduanya.

Donghae melepas pelukannya pada leeteuk. "waeyo? Ahjussi ingin kupeluk juga?" tanya donghae narsis seraya mengerling nakal pada kangin yang tentu saja membuat kangin mual seketika.

"dasar kau.." umpat kangin yang sudah duduk, sedangkan donghae tertawa terbahak-bahak melihat wajah kesal kangin.

"ahjussi, apa aku juga boleh memanggilmu appa?" kangin sontak menoleh ke arah donghae, menatapnya heran.

"mengapa tiba-tiba ingin memanggilku appa? Memangnya kau akan menikah dengan sungmin?" kangin mengucapkannya dengan nada menggoda, sedangkan donghae terkekeh mendengarnya.

"tentu appa.. kkkk~"

"enak saja. Siapa bilang aku mengijinkan kau melakukan itu" sembur kangin melihat donghae yang mulai kepedean.

"hahahahahaa..." leeteuk tertawa menyaksikan sikap kekanakkan kangin dan donghae. Selalu seperti ini setiap kali donghae berkunjung ke rumahnya, berakhir dengan adu mulut kedua namja ini yang benar-benar tak sesuai umur mereka.

"eomma.." rengek donghae pada leeteuk, meminta pembelaan.

"jangan hiraukan ahjussi, hae.. ia memang begitu, padahal ia menyayangimu" donghae tersenyum menang ke arah kangin yang dibalas dengan tatapan malas kangin karena istrinya selalu membela donghae.

"eomma, sepertinya sudah sangat larut.. aku pulang dulu, ne.. lagipula sudah ada ahjussi, jadi tidak seru lagi kkkkk~ terimakasih banyak untuk hari ini" pamit donghae dan berdiri dari duduknya. Kangin melotot mendengar ucapan donghae.

"ne, hati-hati mengendarai mobil jam segini" donghae mengangguk patuh mendengar nasihat leeteuk untuknya.

"ahjussi, aku pulang dulu"

"ne, hati-hatilah.. aku juga sudah bosan melihatmu" balas kangin, tak terima dengan ucapan donghae sebelumnya.

"kkkkk~ mianhe appa... aku hanya bercanda" jawab donghae membuat kangin memutar bola matanya mendengar panggilan baru donghae untuknya.

Setelah membungkuk hormat, donghae berjalan cepat menuju mobilnya dan melambaikan tangan pada kangin dan leeteuk yang berdiri di pinggir pintu. Lalu menginjak gas menuju rumahnya.

.

.

.

.

Seohyun baru saja sampai di depan apartemennya. Ia melangkah dengan lelah, melihat sungmin menangis seperti tadi karena dirinya membuat ia tertekan. Belum ada satu hari ia menjalin hubungan dengan kyuhyun sudah membuatnya dilingkupi rasa bersalah seperti ini. Ia terus berjalan tak menghiraukan keadaan sekitarnya.

"shhhh... kau terlihat... seperti... seohyuuuuuunnn~ kau.. sungguh cantik.." seohyun tersentak kaget ketika mendengar namanya disebut.

Mata yeoja itu terbelalak melihat seorang pria mabuk yang berjalan sempoyongan mendekatinya. "s- si- siapa kau!" seohyun berjalan mundur, takut-takut pria di depannya berbuat yang tidak-tidak mengingat suasana depan apartemen yang sudah sangat sepi.

"suaramu... juga.. sama..."

'bruk'

Tubuh pria itu terjatuh ketika hampir saja ia meraih pergelangan tangan seohyun. Posisinya yang telentang membuat seohyun dengan mudah melihat wajah pria tersebut.

" yonghwa oppa!" teriak seohyun seraya bejongkok setelah berhasil mengenali pria asing tersebut. Yonghwa, mantan kekasihnya. Seohyun beberapa kali menepuk wajah yonghwa dan segera menutup hidungnya ketika mencium aroma khas minuman keras yang sangat menyengat.

Melihat tak ada pergerakkan dari sang namja, dengan sisa tenaganya seohyun berlari memanggil taksi untuk membawa yonghwa ke rumah sakit terdekat.

.

.

.

.

"minnie.." panggil kyuhyun setelah mereka sampai di balkon kamar sungmin.

Sungmin tak menjawab, hanya memejamkan matanya merasakan angin yang membelai wajah cantiknya serta menerbangkan beberapa helai rambutnya. Air matanya ia biarkan menetes. Biarlah kali ini kyuhyun melihat segala kerapuhannya.

Kyuhyun memeluk sungmin, tak kuasa melihat yeoja itu menangis dalam diam. Sungmin tersentak di dalam pelukan kyuhyun, bahkan dalam keadaan tersakiti seperti ini dengan tidak sopan jantungnya masih berdebar kencang hanya karena pelukan seorang cho kyuhyun.

"hiks.. lepas.." sungmin meronta mencoba melepaskan pelukan kyuhyun yang sebenarnya sangat ia sukai.

Kyuhyun benar-benar melepaskan pelukan mereka. Sungmin mengira kyuhyun akan tetap memeluknya walaupun ia meminta untuk dilepaskan, tapi ternyata tidak. Seperti biasa, kyuhyun tak pernah mengerti perasaannya.

Sungmin mengusap kasar air mata yang masih saja mengalir menggunakan punggung jemarinya.

"jangan begini.." kata kyuhyun berusaha menghentikan tangisan sungmin.

"kyunnie yang seharusnya tak begini.." ucap sungmin lirih. "tak wajarkah jika aku mengangis saat kyunnie meninggalkanku demi berpacaran dengan sahabatku?" lanjut sungmin dengan nada lemah da menatap kyuhyun dengan tatapan terluka.

Kyuhyun yang melihat itu merasa bersalah, ia membenarkan ucapan sungmin. Tetapi ia tetap menegaskan dalam hatinya kalau ia mencintai seohyun, dan hanya menyayangi sungmin. *author gemes pengen getok Kyu-,-*

Kyuhyun memegang pundak sungmin dengan kedua tangannya. "min, aku yakin kau akan mendapatkan pria yang lebih baik dariku"

" aku hanya ingin kyunnie.." sungmin menunduk ketika mengucapkan itu, membiarkan airmatanya jatuh ke lantai dingin di bawahnya.

Kyuhyun mengangkat dagu yeoja itu untuk menatapnya. "mianhe.."

kyuhyun mengusap airmata sungmin. Lama mereka terdiam, sebelum sungmin kembali bersuara.

"tak bisakah kyunnie bertahan demi aku?" sungguh. Sungmin sudah menghilangkan segala egonya demi memohon seperti ini pada kyuhyun.

"aku sudah dengan seohyun, min. Mengertilah.. kalau kau mencintaiku, seharusnya kau membiarkanku bahagia dengan orang yang kucintai"

'DEG'

Pukulan telak bagi hati sungmin. Kyuhyun benar-benar ingin melepasnya. Sudah cukup ia memohon. Mungkin ia memang harus menyerah kali ini.. 'mianhe eomma, aku tidak bisa bertahan.. aku memilih berhenti mencintainya'

"kyunnie benar.. aku yang terlalu egois, mianhe.." sungmin tersenyum miris. Hubungannya dengan kyuhyun sudah berakhir. "berbahagialah dengan seohyunnie" lanjutnya dengan senyum tulus. Ya. Sungmin akan mecoba melupakan perasaan cintanya pada kyuhyun, mencoba seperti kyuhyun yang menganggapnya sebagai seorang dongsaeng. Ia akan menganggap kyuhyun sebagai oppa nya mulai sekarang.

Mendengar jawaban tulus dari sungmin, kyuhyun tersenyum lega dan dengan cepat kembali merengkuh tubuh mungil sungmin.

"gomawo, minnie.. aku tahu kau wanita yang sangat baik" tanpa kyuhyun ketahui, sungmin menekan dadanya kuat-kuat. Mencoba terlihat tegar kembali dihadapan kyuhyun. Ia bisa menangis nanti, saat kyuhyun pulang.

"cheonma kyu oppa" sungmin membalas pelukan kyuhyun. Meski merasa asing dengan panggilan barunya untuk kyuhyun tetapi ia akan mencoba membiasakan itu. Sedangkan kyuhyun, entah mengapa merasa sedikit kecewa dengan panggilan baru sungmin untuknya.

"sudah sangat malam. Kau tidurlah.." kyuhyun mengecup dahi sungmin, sepertinya kyuhyun lagi-lagi lupa menghilangkan kebiasaannya saat masih menjadi kekasih sungmin.

Sungmin sempat kaget, namun ia segera sadar itu bukan ciuman sebagai kekasih lagi, itu ciuman kasih sayang oppa kepada dongsaengnya.

Sungmin beranjak menuju kasur pink'nya meninggalkan kyuhyun yang sedang menutup pintu pemisah antara kamarnya dengan balkon tempat mereka berdiri tadi.

"aku pulang min" pamit kyuhyun. Sungmin mendengarnya, namun yeoja itumemilih untuk berpura-pura terlelap. Ia takut kelepasan menangis ketika menjawab ucapan kyuhyun, bagaimana pun ia berpikir bisa saja ini kali terakhir kyuhyun datang ke apartemennya mengingat mereka bukan sepasang kekasih lagi.

Setelah mematikan lampu kamar sungmin, kyuhyun keluar dan pulang ke apartemennya.

'kyu oppa? Sungmin aneh memanggil namaku seperti itu. Aku jauh lebih suka ia memanggilku kyunnie' batin kyuhyun kecewa.

.

.

.

.

Matahari belum memancarkan sinarnya yang menyilaukan mata tetapi seorang yeoja imut sudah terbangun dari tidurnya yang tidak nyenyak. Ia gelisah. Beberapa kali ia terbangun dan akhirnya ia tidak bisa terlelap lagi sejak pukul 3 subuh tadi.

Setelah merasa sia-sia dengan usahanya untuk kembai tidur, sungmin memutuskan bangun dan bersiap untuk kuliah. Terlalu pagi memang, bahkan kuliahnya baru akan dimulai pukul 8. Tetapi yeoja itu merasa lebih baik ia cepat sampai di kampusnya, setidaknya disana akan banyak orang. Tidak seperti saat ini, ia merasa sendirian.

Sungmin melangkah menuju kamar mandi, berhenti sejenak ketika melewati cermin dan memperhatikan matanya yang sangat bengkak. Hahhh~ ternyata kejadian semalam bukan mimpi.. Sungmin melanjutkan langkahnya dengan gontai, ia sungguh tak bersemangat. Mungkin berendam cukup lama akan sedikit menyegarkan pikirannya yang memang sudah kacau sejak semalam.

.

.

.

.

Disebuah kamar mewah bernuansa baby blue, terlihat sebuah gumpalan selimut. Eh? Ani. terlihat seorang namja yang masih terlelap dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya.

'drrrt.. drrrt.. drrrt.. drrrt..'

'drrrt.. drrrt.. drrrt.. drrrt..'

Dengan gerakan malas dan mata yang masih terpejam, kyuhyun meraba meja nakas disamping tempat tidurnya, mencoba menggapai ponselnya yang bergetar dan sangat mengganggu tidur nyenyaknya.

"yeobose-"

"kyunnie~~" sejenak kyuhyun mengernyitkan dahinya sebelum membuka matanya dan melirik caller id. Bukan. Bukan karena panggilan yang dilayangkan sang penelepon, namun suara yang sangat tidak cocok untuk menyebutkan panggilan manis dari sungmin untuknya.

"YA! Yesung ! mengganggu saja" teriaknya setelah dengan jelas ia mebaca nama 'yesung kura-kura' di layar ponselnya.

Yesung tertawa puas karena telah berhasil mengerjai adik sepupunya yang satu ini.

"hahahahaaa... apa suaraku sudah semanis suara sungmin?" kyuhyun mendelik mau muntah. Didengar dari sudut manapun suara sungmin jauh lebih manis ketika menyebutkan nama panggilan 'kyunnie' untuknya dibandingkan dengan suara yesung yang mengerikan-menurutnya- tadi.

"tidak. Suaramu pahit. Dasar yesung pabbo!" jawab kyuhyun dengan nada tak santai, tak sadarkah ia diseberang sana yesung sudah melotot kaget mendengar ucapan kyuhyun yang sangat 'sopan'.

"ya! Sopanlah sedikit pada hyungmu.. aish, bagaimana bisa sungmin yang begitu manis berpacaran dengan setan yang sa-"

"aku sudah tidak berpacaran lagi dengan sungmin" potong kyuhyun cepat.

"MWO?! Sungmin memutuskanmu? Karena apa?" rentetan pertanyaan dari yesung membuat kyuhyun memutar bola matanya, malas. Mengapa ia harus memiliki kakak sepupu yang lebay dan aneh seperti yesung. *kyu dijewer wook*

"ani. aku yang memutuskan sungmin" jawab kyuhyun singkat, padat, dan... tidak jelas(?)

"MWOOOOO?! Kau setan tak tahu diri. Masih untung sungmin mau bertahan denganmu"

"aish.. tidak perlu berteriak!" kyuhyun mengusap kupingnya yang panas mendengar teriakan dahsyat yesung

"jawab saja pertanyaanku evil!" jawab yesung kesal.

"kemarin aku dan- hei, aku bisa menceritakannya di kantor saja bukan? Mengapa harus mengganggu tidurku" baru saja kyuhyun ingin bercerita, ia teringat kalau ia masih mengantuk.

"oh.. kau benar juga. Ingat kyu, kau berhutang penjelasan padaku. Dan satu lagi, aku meneleponmu untuk memberitahu kalau pemilik perusahaan Choi akan datang untuk menanamkan sahamnya di perusahaan kita. Kau jangan sampai telat datang ke kantor"

"benarkah? Arraso.." jawab kyuhyun malas, itu berarti ia tidak bisa melanjutkan tidurnya dan harus segera bersiap ke kantor.

"oke. Bye evil.."

"hm"

'klik'

.

.

.

.

Suasana ruang kelas yang biasanya sangat ramai berbanding terbalik dengan suasana ketika sungmin baru sampai disana, mengingat baru pukul berapa saat ini.

Baru saja sungmin duduk dibangkunya ia mendengar suara langkah seseorang seperti sedang berlari menuju kelasnya. Tak lama, muncul sesosok namja tampan didepan pintu kelasnya dengan nafas tersengal, efek baru saja berlari.

"hae-ah? Bagaimana bisa kau disini?" sungmin mengernyitkan dahinya, bingung. Donghae tidak berkuliah disini, mengapa namja itu ada disini sekarang.

"ming chagi.. pantas saja kau tidak ada di apartemen, kau sudah disini rupanya..." donghae melangkah mendekat ke arah tempat duduk sungmin. "tentu saja aku akan melanjutkan kuliahku disini, sekaligus menjagamu" lanjut donghae setelah menarik bangku disamping sungmin dan duduk disana setelahnya.

Sungmin melebarkan matanya. Benarkah donghae sampai rela pindah ke kampusnya hanya demi dirinya? Sejenak hati sungmin menghangat, ternyata ada namja yang mencintainya sampai sebegitunya seperti donghae.

"seharusnya tak perlu pindah hanya untuk menjagaku, hae-ah.. "

"ani. aku juga kebetulan tertarik dengan universitas ini" elak donghae, sengaja agar sungmin tak perlu merasa tak enak padanya.

"hmm.. arraso.."

Keduanya terdiam. Sungmin menatap lurus ke depan sedangkan donghae memanfaatkan kesempatan ini untuk memandangi wajah sungmin, tak satu senti pun ia melewatkan kecantikan yeoja itu mulai dari dagu, bibir pinkish milik sungmin, hidung mancungnya , dan..

"OMO ! kau habis menangis ming?" seru donghae heboh kala melihat mata sungmin yang sangat bengkak.

"nde? Ah, aniya.." sontak sungmin menyentuh kelopak matanya yang bengkak dan memalingkan wajahnya ke arah lain, menghindari tatapan ingin tahu donghae.

"ming.. katakan padaku siapa yang membuatmu menangis.." kata donghae dengan suara yang menahan geram. Ia sungguh tidak suka mengetahui sungmin dibuat menangis oleh orang lain.

"aku tidak menangis.. hanya kurang tidur"

"jangan berbohong, ming" tangan donghae memegang bahu sungmin, menarik yeoja itu untuk menatapnya dan mengatakan yang sejujurnya.

Mendapat tatapan seperti itu dari donghae membuat sungmin mau tidak mau harus berkata jujur. Ia tidak bisa mengelak lagi. Sungmin menundukkan wajahnya dan menarik nafas cukup panjang.

"kyunnie meninggalkanku, hae.." ucap sungmin lirih. Yeoja imut itu meremas ujung kemeja yang ia kenakan.

"kyunnie? Aku seperti pernah mendengar nama itu.." donghae yang memang pernah mendengar sungmin menyebut nama 'kyunnie' lewat telepon, memutar ingatannya.

"namjachinguku.." hati donghae bergemuruh mendengarnya, ia ingat sekarang. dan saat ini ia bingung bagaimana harus merespon. Setengah hatinya merasa sedih karena sungmin dicampakkan tetapi setengahnya lagi merasa sedikit lega. LEGA? Ya, kalian tidak salah baca. Jika sungmin tak memiliki kekasih itu berarti donghae memiliki kesempatan untuk meraih hati sungmin. Donghae memutuskan untuk merengkuh tubuh yeoja imut disampingnya. Sungmin membalas pelukan donghae, ia merasa tak perlu menjauhi namja itu lagi. Donghae adalah sahabatnya sekarang.

"ming, aku akan memberikan pelajaran pada namja itu"

"mwo? Jangan hae.." sungmin meraih lengan donghae dan mengguncangkannya pelan seraya menggelengkan kepalanya seolah menahan namja itu untuk memberi pelajaran pada kyuhyun.

"tenang saja ming chagi, aku akan memberinya pelajaran dengan caraku" donghae berucap seraya mengedipkan sebelah matanya ke arah sungmin diakhir kalimatnya. Sungmin yang tidak mengerti apa maksud tindakan donghae hanya menatap polos namja kelahiran oktober disampingnya-donghae- membuat donghae harus menahan dirinya untuk tidak mencium wajah sungmin yang terlihat sangat menggemaskan.

"caramu? Maksudnya?"

"suatu saat kau akan mengerti chagiya..." ucap donghae sambil tersenyum membayangkan rencana yang sedang ia susun untuk membalas kyuhyun.

TBC/end?

Haiiiiii...! saya balik lagi sambil bawa chapter 5 diatas, tuhhhh *nunjuk-nunjuk keatas*

Gimana? Gimana? Udah pada siapkah melihat kyu menderita? mweheheheeee.. *smirk*

Makasih banyak buat readers yang udah nge-review chapter 4 kemarin, kalian semua adalah penyemangat saya untuk melanjutkan ff ini *kisseuuuuuu~* jangan bosen-bosen ngikutin ff ini yah.. dan saya berharap kalian tetap memberikan review di chapter ini dan chapter-chapter selanjutnya hehehe...

Untuk silent readers.. jumlah kalian sangaattt banyak T.T tapi saya tetap berterimakasih kalian udah mau baca ff ini. saya sangaaaaat berharap di chapter ini dan chapter selanjutnya kalian mau menunjukkan diri kalian, kita bisa berteman loh *wink* kkkkkk~

Dan untuk yang menanyakan ending cerita ini, tentunya saya tidak bisa memberitahu sekarang tapi yang pasti tetep KYUMIN kok^^ judulnya aja udah ada nama kyumin, saya ga mungkin bikin seokyu.. gak rela sampe kapan pun hehe..

Okedeh, cukup segini untuk chapter 5...

Review, please?^^

See you next chap.. \(^-^)/