Heroine
By: Azusa TheBadGirl a.k.a Fujoshi Nyasar
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Pair : NaruSasu & ItaFemKyuu
.
.
Chapter 6
Sasuke masuk ke dalam kamarnya tadi pagi Naruto tidak bisa tidur lagi. Dia malah hanya melamun sambil duduk di sebelah Sasuke yang sedang pulas tertidur diranjangnya. Pikirannya melompat-lompat tidak jelas, dia bahkan tak ingat apa saja yang ia lamunkan tadi. Saat ini Naruto sedang menemani Sasuke sarapan di kamarnya. Setelah Sasuke bangun dengan sendirinya—karna Naruto takut untuk membangunkannya—di kamar Naruto, dia langsung menarik Naruto yang sudah bepakaian rapih ala pelayannya menuju kamar Sasuke.
Pelayan wanita yang bertugas membawa sarapan dan membantu Sasuke mandi mengikuti mereka saat melihat Sasuke keluar kamar Naruto. Sepertinya gosip mengenai kejadian dini hari tadi sudah diketahui semua orang.
Dengan cuek Sasuke memasuki kamar mandi diikuti pelayan itu. Naruto sendiri hanya diam menunggu mereka.
Sampai saat ini Naruto tetap berdiri di dekat sofa yang Sasuke gunakan untuk sarapan. Lagi-lagi seperti kemarin, mata Sasuke sesekali melirik Naruto saat makan.
Selesai makan, Sasuke kembali ingin agar Naruto tetep dikamarnya dan berdiri dihadapannya.
'Oh, sial.. ini seperti kemarin lagi. Apa aku akan disuruh berdiri berjam-jam dan diminta membaca dongeng aneh lagi?'
Naruto memasang wajah nelangsa. Sedangkan Sasuke tetap menatapnya datar.
'Ck.. aku harus mengatan sesuatu agar tak bernasib tragis seperti kemarin!' tekadnya berlebihan sekali.
"Um.. Sasuke-sama, apa anda tidak bosan terus didalam kamar?" Naruto memulai aksinya agar Sasuke mau diajak keluar.
Tak ada respon. Sasuke hanya diam sambil menatap Naruto.
"Hari ini sedang cerah sekali, bukannya bagus meresap sinar matahari pagi? Udaranya juga segar, tidakkah anda ingin keluar?"
'Aku bosan dikamar ini!' teriak Naruto frustasi didalam hatinya.
Sasuke masih diam.
"Sinar dan udara pagi bagus untuk tubuh loh, Sasuke-sama,"
Sasuke masih diam.
"Saya rasa badan anda itu butuh ger—"
"Aku mau keluar," nada datar Sasuke menginterupsi kata-kata Naruto. Sasuke langsung bangkit dari sofa dan berjalan kearah pintu kamar. Betapa senangnya Naruto. Ia ber yes-yes sambil mengepalkan tangannnya keudara dan berjalan dibelakang Sasuke ikut keluar dari kamar.
Sesekali Sasuke menatap Naruto yang berjalan di belakangnya. Memastikan Naruto tetap ada di dekatnya. Para pelayan yang melihat tuan mudanya langsung menunduk hormat. Ada juga yang merasa takut apabila sasuke kumat saat ada di dekat mereka.
Sasuke melangkah kearah taman belakang mansion. Dia sana ada halaman yang luas dengan rumput hijau dan bunga-bunga kesukaan sang nyonya besar Uchiha.
Ada juga hewan-hewan peliharaan sang nyonya besar seperti kelinci, kucing, burung, ayam, ikan dan kura-kura di danau kecil yang membuat taman ini makin terlihat hidup dan indah.
Sasuke duduk di kursi dalam gazebo yang ada di taman. Tempat yang biasa di pakai ibunya menikmati teh sore sambil menatap bunga-bunga dan binatang peliharaannya.
"Kamu berdiri disitu," perintah Sasuke pada Naruto agar Naruto berdiri lagi dihadapannya.
Naruto tampak syok.
'Ini sih sama sajaaa..!' Naruto kembali menjerit frustasi.
xxx
Itachi mengerang frustasi di kamarnya. Sekembalinya dari apartemen Kyuubi dini hari tadi, Itachi langsung membaringkan tubuhnya lelah. Tapi matanya tak bisa dia pejamkan. Selalu saja terbayang adegan yang ada di dalam mimpinya tadi. Hingga akhirnya dia tidak bisa tidur lagi.
"Ck, perempuan sial," desisnya menyalahkan Kyuubi, kesal.
'Gara-gara perempuan aneh itu aku jadi kacau begini, kau pikir siapa dirimu? Kenapa juga sejak semalam kau tidak muncul!'
Itachi benar-benar kesal karena tak dapat bertemu Kyuubi, jadi dihatinya secara tak sadar dia memaki-maki Kyuubi. Dia pukul-pukul kasurnya sebagai pelampiasan. Tiba-tiba..
DEG!
"A-apa?" Itachi menatap kedua tangannya yang mendadak gemetaran. Secara mendadak tubuhnya menggigil.
"Ugh.. Apa ini?" Itachi meraih selimut yang ada dikakinya lalu menutupi seluruh tubuhnya. Detak jantungnya berdetak dengan kencang dan keras hingga membuatnya sesak.
'Apa aku sakit?' diingatnya kalau sejak kemarin ia belum makan. Lalu tadi pagi pun ia tak sarapan. Ia cengkram dadanya yang terasa sesak.
Itachi kemudian meraih telepon yang ada dimeja nakas untuk menghubungi pelayan agar membawakan makanan untuknya.
Xxx
Sasuke tetap diam di tempatnya duduk sambil terus menatap Naruto. Matanya tak bergerak kearah lain dan itu secara tak sadar membuat Naruto merasa takut.
'Ya ampun.. orang ini aneh sekali.. sampai kapan ia mau menatapku? Seharian? Tatapan matanya menakutkan'
"Um.. Sasuke-sama.. tidakkah anda ingin bermain? Em.. misalnya main bola? Saya bisa menemani anda," bujuk naruto yang mulai bosan. Lebih baik ia lari-lari di taman ini daripada harus diam terus seperti ini.
Sasuke mengedipkan matanya sekali. Dua kali. Tiga kali.
"Kamu mau main bola?" ujarnya datar.
"Iya! Ayo kita main sama-sama Sasuke-sama!" Naruto mengangguk penuh semangat.
Sasuke tampak bepikir sejenak lalu mengangguk.
"Bola ada di kamar,"
"Biar saya ambil! Anda tunggu disini saja ya," lalu dengan segera Naruto berlari kearah kamar Sasuke.
'Akhirnya badanku bisa bergerak juga!'
Sasuke terus menatap punggung Naruto yang menjauh
3 menit Sasuke menunggu. Sasuke menghentak-hentakkan kakinya.
4 menit Sasuke menunggu. Kepalanya di torehkan ke arah Naruto pergi tadi.
5 menit Sasuke menunggu. Sasuke bangkit dari kursinya.
Sasuke mulai tidak sabar, dahinya mengeryit.
"Mana mata jernih?" tanya pada diri sendiri. Dia merasa tidak suka bila ditinggal Naruto terlalu lama. Rasanya tidak nyaman. Karena itu dengan kesal Sasuke melangkah keluar dari gazebo dan berjalan masuk ke arah rumahnya untuk menyusul Naruto. Baru beberapa langkah ia berpapasan dengan Naruto yang kembali dengan bola sepak ditangannya.
"Ah, anda mau kemana Sasuke-sama?" Naruto berpikir kalau saja Sasuke ingin ke kamar mandi.
Sasuke diam. Lalu melangkah cepat ke arah Naruto. Dan langsung memeluk Naruto erat.
"EH?!" Seru Naruto kaget, bola yang ada di tangannya sampai terjatuh. Ini kedua kalinya dia dipeluk Sasuke.
'Apa Sasuke memang hobi memeluk orang seperti ini?'
"Ada apa, Sasuke-sama?" Naruto berusaha melihat wajah Sasuke yang terbenam di bahunya.
"Anda takut sendirian disini? Tenang saja ini kan masih siang hehehe..," Naruto mencoba melepaskan pelukan erat Sasuke, "Ayo kita main bola,"
Sasuke mengangguk lalu melepaskan pelukan Naruto.
"Anda mau main satu lawan satu atau lomba pinalti?" tawar Naruto.
"kamu mau main apa?" Sasuke malah balik bertanya. Ia tak peduli mau main apa. Selama Naruto ada di dekatnya dia akan merasa senang.
"Lebih seru kalau main satu lawan satu sih, um.. gawang anda di bangku taman itu sedangkan gawang saya di pohon itu, setuju?"
Sasuke hanya mengangguk.
Naruto tersenyum lebar."Ayo kita mulai," serunya senang dan mulai mengiring bola.
Xxx
Sasuke dan Naruto bermain sepak bola cukup lama, meski sikapnya agak aneh tapi Sasuke cukup mengerti cara bermain sepak bola, mungkin karena itachi dulu sering mengajak bermain permainan ini, karena itu Sasuke cukup terlatih. Naruto tak semudah itu dapat menjebol gawang Sasuke, begitu pula sebaliknya.
Di tengah keasikan mereka, tak satu pun dari mereka yang menyadari kalau ada sepasang mata yang memperhatikan mereka sejak kedatangan Naruto membawa bola.
Guren tampak tengah memperhatikan tingkah laku tuan muda kesayangannya yang tak biasa. Sejak dini hari tadi Guren merasa kalau tingkah Sasuke sangat aneh. Sasuke tak pernah seperti itu, merasa sangat ingin dekat dengan orang lain. Biasanya Sasuke asik dengan dunianya sendiri, tak pernah peduli dengan kehadiran atau kepergian orang yang ada di sekelilingnya. Guren merasa kalu Sasuke tak ingin jauh-jauh dari Naruto. Belum lagi sikap Sasuke yang begitu lunak dan penurut pada Naruto.
Sangat sulit untuk membujuk Sasuke main diluar seperti ini. Bahkan Itachi pun perlu usaha keras agar Sasuke mau bermain dengannya. Tapi dengan mudahnya Naruto mengajak Sasuke bermain seperti ini.
"Aku senang mereka bisa akrab, apalagi Sasuke-sama mau bermain diluar seperti ini," Sebuah suara menginterupsi lamunan Guren. Guren pun secara refleks menolehkan kepalanya untuk melihat siapa yang mengajaknya bicara.
"Iruka..," ujarnya pelan saat melihat Iruka yang sedang memperhatikan dua orang yang sedang bermain bola itu sambil tersenyum.
"Ya, mereka akrab," Guren kembali fokus pada apa yang sejak tadi diperhatikannya.
"Naruto memang anak yang mudah bergaul," Iruka tampak bangga pada Naruto.
"Kurasa bukan hanya itu,"
"Apa maksud anda?" Iruka kali ini menatap Guren yang masih manatap kedepan.
"Tidakkah kau tau tentang kejadian dini hari tadi?"
"Maksud anda tentang Sasuke-sama yang mencari Naruto dan memukuli pelayan?" Iruka mencoba mengigat-ngingat gosip yang sejak tadi dibicarakan para pelayan.
"Ya, dan aku merasa aneh dengan hal itu. Sasuke tak pernah seperti itu. Tak pernah sebegitu inginnya ada didekat orang lain," Guren menatap Iruka yang memasang wajah bingung. Tak mengerti dengan yang dimaksud Guren.
"Ku harap keponakanmu bukanlah itu," Lalu Guren melangkah pergi meninggalkan Iruka yang masih mencerna perkataannya.
'Itu?'
Iruka kembali melihat pemuda yang masih asik bermain. Perkataan Guren mengingatkannya pada sesuatu.
Hal yang pernah terjadi di dalam keluarga Uchiha ini beberapa tahun yang lalu.
'Mungkinkah Naruto...' Mata Iruka terbelalak.
'Ya tuhan.. jangan sampai dia masuk kedalam lingkaran setan ini..'
Xxx
Karena keanehan pada tubuhnya tak juga kunjung reda. Dadanya masih sesak dan ia masih gemetaran. Itachi pun menghubungi dokter pribadi keluarga Uchiha.
Sang dokter pun segera memeriksanya tubuh Itachi yang terbaring di kasurnya dengan telaten, Itachi juga menceritakan mengenai keluhannya. Mengenai perasaan tak nyaman, rasa sesak, dan keanehan lain pada tubuhnya.
Sang dokter yang sudah berpangalaman dan terbiasa dengan kasus 'Penyakit' macam ini hanya tersenyum.
"Itachi-kun, apa sebelum kau mengalami gejala itu kau bertemu seseorang yang belum pernah kau temui sebelumnya?
Itachi mengeryit. Feelingnya tak enak. Lalu mengangguk pelan.
"Obat yang kau butuh kan ada pada orang itu, yang bisa menyembuhkan mu dari rasa sesak dan gelisah hanyalah orang itu,"
Itachi terkejut tak percaya. Bagaimana mungkin seorang dokter bicara hal tak logis macam itu. "Apa anda benar-benar seorang dokter,Tsunade-san?" tanya Itachi sangsi.
"Aku bisa menunjukan ijasah dan semua piagam kedokteranku padamu, Itachi-kun," ujar Tsunade tenang.
"Bila kau seorang dokter yang berpendidikan, bagaimana bisa kau mangatakan hal aneh macam seorang paranormal di karnival," ujar Itachi lemas namun terdengar sinis.
"Aku belajar dari pengalaman Itachi-kun, kau bukan Uchiha pertama yang mengalami hal macam ini. Dan dari data riset selama dua puluh tahun aku menjadi dokter di keluarga Uchiha, yang bisa menyembuhkan penyakitmu hanyalah pasangan heroinemu,"
Kali ini Itachi tidak bisa menahan diri untuk tidak melotot dengan mulut terbuka lebar.
"Jangan bilang anda juga percaya pada tahayul konyol itu?!" Itachi berteriak sambil bangkit dari tidurnya,
"Percaya atau tidak percaya itulah yang terjadi Itachi-kun. Jika kau ingin membuktikan perkatanku ini salah atau benar, kenapa tidak kau dekati saja orang itu," Tsunade tersenyum mengejek.
Itachi menatap kearah lain menghindari tatapan Tsunade, "Aku tidak bisa,"
"Kenapa?" Tsunade memainkan stetoskop yang dikalungkan dilehernya.
"Aku takut tidak bisa mengendalikan diriku bila ada didekatnya, dengan aromanya yang entah bagaimana membangkitkan hasratku, aku bisa saja melakukan hal tak senonoh padanya," Kilasan akan mimpi basahnya kembali terulang dalam otak Itachi.
"Karena itu yang pertama harus kau lakukan adalah terbiasa dengan aromanya,"
Xxx
"Jangan pergi," ujar Sasuke yang terbaring di kasurnya, bersiap untuk tidur.
Naruto menghela nafas lelah. "Saya tidak akan kemana-mana, Sasuke-sama,"
Tak ia sangka menjaga Sasuke itu sangat melelahkan. Sasuke mengawasi tiap gerakannya. Bahkan untuk ke kamar mandi pun tak bisa lama-lama. Karena bila lebih dari lima menit Naruto pergi, Sasuke akan teriak-teriak mencarinya.
Untungnya, Naruto tidak harus terus menerus berdiri layaknya tentara sedang upacara bendera. Sasuke mengijinkan ia jika ingin duduk. Dan karena Sasuke tidak mau jauh-jauh dari Naruto, akhirnya Naruto makan siang dan malam bersama dengan Sasuke.
Naruto melirik Sasuke yang nafasnya mulai teratur, sepertinya ia sudah pulas tertidur. Dengan langkah pelan Naruto melangkah ke arah pintu kamar.
"Mau kemana?"
Deg!
'Sial'
Naruto menolehkan wajahnya kearah Sasuke, dan melihat Sasuke sedang menatapnya tajam.
"Tidak kemana-mana," lalu Naruto kembali ke posisi yang sebelumnya.
Bukannya kembali tidur Sasuke malah terus menatap tajam Naruto. Memastikan Naruto tidak pergi mennggalkannya.
"kalau anda melotot begitu, kapan anda tidur?" ujar Naruto ketus. Dia sudah tidak bisa lagi berakting sok baik dan sopan. Tubuhnya sudah lelah, dia juga ingin tidur.
"Jangan pergi," titah Sasuke lagi.
"Tapi saya mau kembali ke kamar, saya juga ingin istirahat," akhirnya terkatakan juga apa yang ingin Naruo katakan sejak tadi.
"Disini luas," ujar Sasuke pelan, mungkin sudah terlalu mengantuk.
"Anda bilang apa?" Naruto tak dapat mendengar suara Sasuke tadi.
"DI SINI LUAS!" kesal karena Naruto tak mendegar perkataannya dan juga rasa kantuk Sasuke jadi berteriak.
Naruto terhenyak, terkejut. Ia pun mengelus dadanya secara reflek.
"Tak perlu teriak bisa kan?!" karena lelah Naruto malah ikut berteriak pada tuannya.
"Dan apa maksudnya luas?" dahi Naruto mengeryit tak mengerti perkataan Sasuke.
Sasuke malah menggeser tubuhnya di kasur.
Kernyitan di dahi Naruto makin dalam.
'Apa dia bermaksud menyuruhku tidur di sebelahnya?'
"Anda tidur saja, saya tidak akan kemana-mana," tolak Naruto halus.
"DI SINI LUAS!" Sasuke kembali berteriak karena Naruto tak menuruti perkataanya.
"LUAS! LUAS! LUAS!" Sasuke terus teriak sampai bangkit dari tidurnya hingga terduduk di kasur.
Naruto kaget tiba-tiba Sasuke kumat.
"LUAS! LUAS!"
"I-iya luas! Aku akan tidur disitu! Jangan teriak lagi!" dengan panik Naruto mendekati kasur sasuke kemudian menaiknya. Bisa gawat jika makin parah amukannya jika diabaikan atau Naruto lari keluar kamar, bisa kejar-kejaran lagi mereka nanti .
"Sudah jangan marah," Naruto mengelus-elus punggung Sasuke agar tenang.
Melihat Naruto sudah di sebelahnya Sasuke jadi tenang. Lalu kembali berbaring meski matanya belum terpejam, masih menatap Naruto.
Agar Sasuke tenang dan tidur akhirnya Naruto ikut berbaring dan pura-pura memejamkan mata.
Setelah itu baru Sasuke ikut memejamkan matanya. Kali ini tidurnya benar-benar tenang.
Xxx
"Huff.. capeknyaaa~" setelah Sasuke benar-benar sudah tertidur pulas akhirnya Naruto bisa diam-diam kembali ke kamarnya dan beristirahat. Langsung saja ia ke kamar mandi dan berendam untuk menghilangkan penat karena mengurus Sasuke yang ternyata sangat manja.
Naruto sengaja tidak membiarkan dirinya ketiduran dikamar Sasuke, bagaimana jika besok saat pelayan wanita yang bertugas membantu Sasuke mandi datang dan melihatnya tidur satu kasur dengan majikan? Bisa-bisa dia dituduh pelayan yang tidak sopan kan?
Naruto duduk dipinggir kasur single bednya sambil mengelap rambutnya yang basah dengan handuk -tiba suara ketukan di pintu kamarnyanya membuatnya kaget.
"Ja-jangan-jangan itu Sasuke?" ujarnya dengan tampang horor dan langsung berdiri dari duduknya secara refleks. Bukan mustahil kan bila tiba-tiba Sasuke bangun dan mendatangi kamarnya seperti dini hari tadi.
Glup...
Menelan ludah gugup, Naruto menjalan pelan ke arah pintu kamarnya yang terkunci.
Clek..
Naruto mengintip sedikit siapa yang datang ke kamarnya malam-malam begini.
Ia langsung mendesah lega saat melihat wajah Iruka. Langsun ia buka pintu kamarnya lebar-lebar untuk mempersilahkan Iruka masuk.
"Ah, paman bikin kaget saja, kupikir Sasuke yang datang. Ayo masuk paman," ujarnya ramah sambil tersenyum lebar.
Iruka tersenyum lalu memasuki kamar Naruto, Naruto pun segera menutup pintu kamarnya.
"Ada apa paman?" Naruto kembali duduk di pinggir kasur dan melakukan aktifitasnya yang tertunda—mengeringkan rambut.
Iruka menarik kursi yang ada di kamar Naruto dan mendudukinya. Di kamar tiap pelayan memang tersedia satu kursi dan meja kecil, juga ada lemari untuk pakaian para pelayan. Khusus di kamar Naruto ada sekardus mie ramen instan di pojok kamar yang memang ia bawa sendiri.
Iruka yang melihat kardus ramen itu mendengus, "Kau masih saja hobi makan ramen, Naruto,"
Naruto ikut menatap kardus ramennya dipojokan lalu berbalik menatap Iruka sambil nyengir , "Hehehe.. ramen itu makanan kesukaanku sampai kapan pun paman!"
Iruka tersenyum sekilas, namun seyuman itu menghilang tak seberapa lama karena sekarang ia terlihat serius.
"Ku lihat kau tampak dekat dengan Sasuke-sama, Naruto,"
Naruto cemberut, "Mau bagaimana lagi, dia tidak mau jauh-jauh dariku. Sejujurnya aku sendiri merasa risih, tapi aku tak bisa menolaknya. Aku takut dia marah. Paman sudah dengar tentang dia yang memukuli pelayan wanita saat ngamuk mencariku kan?"
Iruka mengangguk.
"Bukannya aku tak berani menghajarnya balik kalau dia memukulku, tapi dia itukan majikanku, namaku dan juga paman akan buruk bila aku berkelahi dengan majikan," Naruto merenggut.
Iruka menghela nafas, "Memang butuh kesabaran ekstra untuk menghadapi Sasuke-sama karena moodnya yang tak menentu,"
"Hu um," Naruto mengangguk pasrah. "Paman tenang saja, aku bisa bersabar kok," katanya lagi sambil tersenyum.
"Tapi bukan itu yang membuatku khawatir, Naruto. Melainkan..,"Iruka tampak ragu untuk membahas hal yang mengganggu pikirannya.
"Ada apa lagi, paman?" Naruto mengerutkan kening bingung saat melihat wajah risau Iruka.
"Hmm.. bagaimana mengatakannya ya?" Iruka bingung harus memulainya dari mana agar Naruto mengerti.
"Ada apa sih?" Naruto tampak tidak sabar.
"Entah kau percaya atau tidak dengan cerita ku ini,"
Iruka pun menceritakan tentang legenda Uchiha pada Naruto, mengenai kutukan juga soal heroine.
Naruto tampak mengernyit mendengarnya.
"Itukan Cuma mitos, paman. Hal semacam itu tidak mungkn ada," Naruto tertawa mendengar kisah itu. Ia tak menyangka Iruka percaya dengan dongeng macam itu.
"Tapi hal itu memang benar, Naruto!" suara Iruka meninggi karena kesal Naruto meremehkan ceritanya.
"Hal itu benar-benar terjadi pada keluarga Uchiha, contohnya saja pada tuan Fugaku,"
"Fugaku?" Naruto tak mengenal nama itu.
"Ayah Sasuke-sama," jelas Iruka. Naruto mengerutkan bibirnya membentuk huruf O
"Ada apa denga ayah Sasuke? Ia tergila-gila ada istrinya dan tak bisa jauh darinya?"
"Hhh.. begitulah, sampai sekarang aku merasa kasihan dengan nyonya Mikoto juga anak-anaknya yang jadi ikut menderita,"
"Maksud paman?"
Flasback
Fugaku membidik burung kutilang yang sedang memberi makan anak-anaknya di sarang dengan kamera dengan resolusi terbaik miliknya. Fotografi adalah hoby nya sejak SMA. Dan masih sering ia lakukan apabila sedang libur dari kantor.
"Ah.. tolong hentikan topiku!" teriakan seorang wanita menginterupsi kegiatannya. Di lihatnya buah topi berwarna kuning terbang tebawa angin yang cukup kecang dimusim gugur ini.
Dengan sigap ia menagkap topi yang melayang itu karena tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Ini," ujarnya sambil menyerahkan topi itu pada sang wanita.
"Ah terima kasih," Ujar sang wanita sambil tersenyum. Fugaku yang baru saja melihat wajah wanita itu tampak terpana. Tak pernah ia melihat wanita secantik ini, senyumnya indah dan tampak menghipnotis, baunya yang harum tampak menggoda. Belum lagi debaran jantung Fugaku yang sangat tiba-tiba memburu tak terkontrol. Setelah menerima topinya kembali sang wanita membungkuk dan pamit pergi.
Fugaku yang tak rela ditinggalkan begitu saja oleh sang wanita pun langsung mengerjarnya. Setidaknya ia ingin tau siapa nama wanita itu.
Tapi Fugaku tidak dapat mengejarnya karena wanita itu sudah menaiki sebuah motor bersama seorang pria. Secara tak wajar ada rasa marah yang muncul dihati Fugaku saat melihat sang wanita yang tidak ia kenal memeluk pinggang pria asing yang mungkin saja pacarnya.
Fugaku menggeram. Ia tatap motor itu dengan penuh kebencian. Rasa benci yang tak wajar terhadap orang yang bahkan tak ia kenal.
Uchiha memiliki banyak koneksi dan jaringan informasi yang bagus. Hanya dengan bermodal nomor polisi di motor itu Fugaku bisa mendapatkan informasi siapa pria asing itu dan juga wanita yang membuat Fugaku terus memimpikannya.
Nama pemuda itu adalah Sarutobi Asuma, yang bekerja menjadi buruh di pabrik manufaktur yang tidak terlalu besar. Ayah Asuma adalah penjahit kecil-kecilan, dengan ibu yang menjadi buruh cuci dan memiliki tiga orang adik. Sedangkan pacarnya Izanami Mikoto seorang mahasiswi sastra inggris di univesitas kecil. Ayah Mikoto seorang salesman dan ibunya adalah ibu rumah tangga biasa. Pasangan yang biasa dan sederhana. Sangat berbeda dengan Fugaku yang merupakan keluarga terpandang dan kaya raya sudah menjadi direktur diperusahaannya sendiri. Seorang ayah menjadi pejabat negara dan ibu yang seorang wanita karir.
Dan dengan segala kekuasaan dan uang yang dimiliki Fugaku, ia mendekati keluarga Mikoto. Membantunya dalam masalah keuangan agar orang tuanya merasa hutang budi. Dan mulai mendekati Mikoto. Ia pun mengutarakan perasaannya pada Mikoto atas keinginannya yang menginginkan Mikoto menjadi istrinya. Mikoto yang sangat mencintai Asuma pun menolak dengan halus lamaran Fugaku.
Fugaku yang sudah tergila-gila pada Mikoto pun kehilangan akal sehatnya. Ia menculik dan memperkosa Mikoto selama berhari-hari di dalam mansion. Tak ada satupun pelayan yang berani membebaskan Mikoto. Sampai akhirnya dengan nekat Asuma menyusup kedalam kediaman Uchiha dan membawa kabur Mikoto. Fugaku semakin kalap. Ia pun menyandera keluarga Asuma dan juga Mikoto.
Apabila Asuma tidak mengembalikan Mikoto maka Fugaku akan menghabisi seluruh keluarganya. Asuma tidak dapat melaporkan masalah ini pada polisi karena kekuasaan keluarga Uchiha yang luar biasa. Karena merasa bersalah dan tak enak hati, dengan terpaksa dan perdebatan panjang Mikoto menyerahkan diri pada Fugaku. Mikoto meminta agar Fugaku tidak mengaggu Asuma dan keluarganya lagi. Fugaku setuju. Dan dihadapan Asuma, Fugaku menikahi Mikoto.
Namun setelah pernikahan selesai, Asuma yang pulang dengan rasa sakit, putus asa, dan kemarahan pada ketidakberdayaan dirinya sendiri akhirnya tewas tertabrak mobil beserta seluruh keluarganya.
Mikoto sempat depresi selama setahun. Hingga akhinya sembuh berkat bantuan keluarganya dan dokter-dokter spesialist yang dikirim Fugaku. Dan sampai saat ini Mikoto masih membenci Fugaku, karena biar bagaimana pun secara tidak langsung Fugaku adalah penyebab kematian kekasihnya. Itachi yang merupakan anak hasil pemerkosaan Fugaku saat itu pun turut di benci oleh Mikoto.
End Flasback
Mulut Naruto terbuka lebar. Tampak syok dan tak percaya.
"Ayah Sasuke mengerikan sekali!" teriaknya sambil memeluk bantal.
"Apa Sasuke menjadi seperti itu juga karena ibunya yang membencinya?"
Iruka mengangguk pelan. "Mikoto-sama tak rela harus mengandung anak Fugaku-sama lagi, karena itu ia berusaha mengugurkannya dengan meminum berbagai pil keras. Tapi hal itu tak membuat kandungannya gugur, malah membuat kerusakan pada otak sang bayi,"
"Ya ampun, kasihan sekali Sasuke," Naruto menunduk sedih, merasa simpati pada Sasuke yang menjadi anak yang tak diharapkan oleh orang tuanya sendiri.
"Um.. tapi untuk apa paman menceritakan hal ini padaku?" tiba-tiba Naruto sadar kalau cerita Iruka ini tak ada sangkut pautnya dengan dirinya.
Iruka tampak gelisah,"Sebenarnya aku merasa curiga dengan tingkah dan kedekatan Sasuke-sama yang tak mau jauh darimu, Naruto,"
Naruto menaikkan alisnya tak mengerti.
Iruka menarik nafas sejenak, "Mungkin saja bagi Sasuke-sama, kau adalah.. heroinenya,"
Dan mata Naruto pun terbelalak lebar.
DOK! DOK! DOK!
Ketukan keras mambuat Naruto tambah terkejut. Baik Iruka dan juga Naruto menoleh ke arah pintu dengan wajah horor.
'Jangan-jangan..' ujar inner mereka bersamaan.
"MATA JERNIH, BUKA!" Sasuke terus memukul-mukul pintu kamar Naruto dengan keras.
'Masa dongeng konyol itu sungguhan sih?'
Naruto makin frustasi tinggal di rumah ini.
TBC
Akhirnya publis jugaaaaa~~
\(^o^\)(/^o^)/
Aduuuh maaf ya apdet lama, alur lambat pula! Fujo sebel sendirinya bikin ni cerita.. alurnya kelambatan! Pingin cepet2 si itakyu ketemuan niiih! Uda chap 6 si itachi belum juga ketemu kyuubi!#frustasi
Akang tachi.. maafin fujooo#sujud dikaki itachi
Chapter ini spesial buat hadiah kakak dumay fujo yang mau married hehehe.. makanya dibikin agak panjang dibanding chap2 sebelumnya (meski yakin masih dianggap pendek XD). Sebenernya sih pingin buat cerita oneshoot tapi fujo lagi ga ada ide, males juga sih#plak dan berhubung uda terlanjur janji mau kasih kado pernikahan.. hadiahnya ini aja ya kakaaaaak~~
Semoga jadi keluarga yang langgeng, sakinah, mawadah, warohmah n punya keturunan yang baik. Syukur2 tu anak bisa jadi author ffn juga nanti hahahahaha
Makasih banyak buat yang uda review, maaf ga bisa dibales atau pun disebutin satu2 kayak biasa. Soalnya jam paket fujo di warnet uda mau abis#bisik
Jaaa.. semoga chap depan ga selama ini.. (n.n)/
RnR lagi?
