Heroine
By: Azusa TheBadGirl a.k.a Fujoshi Nyasar
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Pair : NaruSasu & ItaFemKyuu
Warning: AU, Dari pair yang disebutin pasti tau kalo ini fic campuran Yaoi dan Straight, OOC, Sasuke Autis, Lime/Lemon (tidak dichapter ini), kebanyakan deskrip dari pada percakapan, Apdet Lama dll
Chapter 7
"Kau harus terbiasa dengan aromanya,"
Entah kenapa kata-kata Tsunade terngiang di teliganya. Itachi masih bergerak-gerak gelisah di atas kasurnya. Tangannya mencengkram dadanya yang berdebar kencang sejak ia bangun dari tidurnya. Berkat obat penenang yang di berikan Tsunade kemarin, Itachi dapat tidur pulas tanpa mimpi semalam. Tapi saat ia bangun kembali rasa sesak di dadanya mulai terasa lagi.
Mungkin ia harus menemui gadis itu. Mungkin ia harus percaya pada mitos itu meski logikanya masih menolak keras. Tapi jika begini terus ia bisa mati. Dan mati yang di maksud adalah mati dalam konteks yang sebenarnya dan bukan kata kiasan semata. Karena rasanya jantungnya memompa darah terlalu cepat hingga membuatnya sulit bernafas.
Dengan tubuh lemas dan gemetaran Itachi bangkit dari tidurnya. Tangannya meraih meja kecil di samping tempat tidurnya untuk membantunya tetap berdiri dan tidak kembali terduduk di kasur karena terlalu tak bertenaga.
"Ayo Itachi, jangan kalah dengan penyakit konyol ini! Kau itu seorang Uchiha, damn it!" ujarnya untuk menyemangati dirinya sendiri.
"Ayo kita temui si Kyuubi itu!"
Bagaikan sebuah mantra ajaib, kakinya yang lemas dapat sanggup berdiri setelah ia mengutarakan tujuannya untuk menemui Kyuubi.
Xxx
"Maaf tuan sepertinya bannya bocor, saya akan segera menggantinya dengan ban cadangan," ujar sang sopir penuh sesal.
Itachi memijit keningnya, kesal. Itachi sedang menuju kampusnya untuk menemui gadis yang membuatnya menjadi aneh itu. Tapi sialnya ban mobilnya malah bocor.
Di saat seperti ini kenapa bannya mesti bocor segala? Apa ban sial itu tidak tahu kalau aku sedang buru-buru?
Seakan tersadar dengan pikirannya yang bodoh, Itachi mengusap wajahnya dengan gusar.
"Kenapa aku jadi idiot?" gumamnya lirih. Sejak bertemu dengan gadis itu ia jadi tak mengenal dirinya sendiri. Kenapa malah menyalahkan ban mobil yang memang hanya benda mati itu. Pikirannya yang biasanya penuh dengan logika malah jadi tidak karuan begini.
"Sudahlah, aku naik taksi saja," ujarnya pada si supir. Itachi tampak tak sabar ingin segera sampai kampus. Dengan segera ia keluar dari mobilnya
"Haik," meski begitu sang supir tetap segera mengganti bannya.
Beberapa menit menunggu taksi yang tak juga datang, Itachi melihat kedatangan bus yang mengarah ke kampusnya. Dia memang berhenti tak jauh dari halte.
Sambil berlari-lari kecil Itachi menuju ke arah halte dan segera masuk ke dalam bis.
Sialnya bus itu sedang penuh, yah wajar.. pada jam-jam seperti ini angkutan umum memang sedang padat-padatnya. Kalau bukan untuk menemui 'obatnya' Itachi tidak akan mau berdesak-desakan seperti ini. Kepalanya masih agak pening karena itu Itachi segera berpegangan di tempat yang disediakan.
Angin berhembus pelan dari AC yang ada di dalam bus. Dan tiba-tiba saja dia terhenyak. Tubuhnya menjadi kaku mendadak.
Ba-bau ini..
Itachi menolehkan kepalanya kesana kemari untuk mencari asal bau itu. Bau yang begitu harum dan menggoda. Bau yang—entah kenapa—membuatnya dapat bersemangat dan tidak lemas lagi seperti beberapa menit yang lalu.
Xxx
"Huah..,"Naruto menguap lebar. Dia merasa sangat ngantuk dan masih merasa sangat lelah karena menjaga Sasuke sejak semalam. Dan sekarang ia harus menemani tuannya ini terapi di klinik dokter Kabuto. Seorang dokter spesialis untuk merawat anak-anak macam Sasuke. Naruto ingin sekali tidur lagi, gara-gara semalam Sasuke mengamuk karena di tinggal Naruto ke kamarnya dia jadi harus menenangkan majikannya itu. Bahkan Sasuke sampai ingin memukul Iruka untung saja berhasil dihalangi Naruto. Naruto mendengus kesal. Jangan-jangan cerita mitos itu memang benar? Kalau dipikir-pikir tingkah Sasuke semalam itu mirip seorang kekasih yang memergoki kekasihnya sedang selingkuh. "Aaaaargh.. yang benar saja! Aku ini kan bukan pacarnya!" Tanpa sadar Naruto mengacak-acak rambutnya dengan frustasi.
"Ada apa denganmu? Kenapa teriak-teriak sendiri begitu? Apa perlu diterapi juga?" sebuah suara halus menginterupsi kegiatan Naruto. Dia pun segera menoleh ke arah suara disampingnya. Seorang gadis cantik tampak tersenyum ramah kearahnya. Di seragam suster yang dikenakannya terbordir nama si perawat. Haruno.
"A-ah.. tidak apa-apa kok Haruno-san ehehehe.." Naruto jadi salah tingkah sendiri.
Susternya manisnya juga~
"Lalu kenapa wajahmu seperti orang frustasi begitu tadi?" suster yang bernama lengkap Haruno Sakura itu masih tersenyum, dia memeluk sebuah clipboard yang entah tertempel kertas apa. Mungkin mengenai perkembangan Sasuke.
"Tidak apa-apa. Cuma sedang memikirkan sesuatu," Naruto tersenyum lebar sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal.
"Tapi jangan bicara sendiri seperti itu, soalnya jadi terlihat an-,"
"Sasuke-kun ayo di cium lumba-lumbanya, kenapa tiba-tiba diam saja?" suara dokter Kabuto menginterupsi perkataan sang suster. Baik Naruto maupun Sakura secara reflek langsung melihat kearah Sasuke yang berdiri diam di dalam kolam renang tempat dia menjalani terapinya untuk belajar mengkonsentrasikan diri bersama ikan lumba-lumba.
Sasuke hanya diam saja di dalam air. Matanya menatap lurus kearah Naruto. Wajahnya tetap datar tanpa ekspresi. Naruto menatap bingung majikannya.
Lagi-lagi dia bertingkah aneh..
Xxx
Rasanya bau harum ini tak begitu jauh.
Itachi kembali menghirup nafas dalam-dalam. Bagai seseorang yang baru saja keluar dari dalam kolam yang amat dalam dan akhirnya dapat merasakan udara lagi.
Bau yang begitu nikmat dan menenangkan itu terasa lagi. Secara tidak sadar Itachi mendesah lega. Dia pejamkan matanya, mencoba menghayati aromanya. Perlahan tubuhnya bergerak dengan sendirinya kearah aroma tersebut. Matanya masih terpejam. Tak ia pedulikan tubuh-tubuh lain yang tersenggol dengan tubuhnya karena padatnya bis.
Otomatis tubuhnya berhenti pada sesuatu yang ia yakini adalah sumber dari aroma yang begitu menggoda karena aromanya terasa sangat kuat. Tubuh itachi menunduk untuk menghirum lebih dalam. Pikiran Itachi kosong namun terasa sangat damai. Tak pernah ia merasa sedamai ini. Seakan berada di tempat yang lapang yang penuh dengan bunga-bunga yang memiliki wangi semerbak. Terasa nyaman dan rileks tapi juga membangkitkan hasrat yang kuat.
Tak Itachi sadari tubuh yang berdiri membelakangi Itachi kini menegang karena terkejut. Secara tiba-tiba ada yang memcium tengkuknya. Rasanya ingin menjerit. Tapi bayangan film porno yang pernah secara tak sengaja ia tonton bersama teman-teman wanitanya terbayang. Bukannya menolong wanita yang sedang mendapat pelecehan, orang-orang malah ikut melecehkan si korban. Dengan terpaksa wanita, yang diketahui bernama Kyuubi itu hanya mematung di tempat sambil mencengkram bindernya erat.
Xxx
Sasuke kembali latihan untuk memfokuskan pikirannya bersama lumba-lumba setelah dibujuk oleh Kabuto. Matanya sesekali melirik Naruto yang kini berdiri di tepi kolam renang. Kembali melamun.
Sakura berdiri tak jauh dari Naruto sambil sibuk dengan clipboardnya.
"Sakura-san," seorang suster lain memanggil Sakura. Sakura pun menoleh ke sumber suara. Karena panggilan itu Naruto juga jadi tersadar dari lamunannya dan ikut menoleh ke arah suster lain itu.
"Bisa kau bantu aku mencari laporan kesehatan Takamoto-san, Sakura-san?" pinta sang suster yang kelihatan lebih senior dari Sakura karena terlihat lebih tua.
"Baik, Shizune-san," Sakura berjalan kearah seniornya itu. Namun karena tepi kolam renang yang memang licin, Sakura jadi terpeleset.
"Eh, aah!" tubuhnya limbung dan akan jatuh kalau saja tidak segera ditahan Naruto yang secara reflek bergerak ke arah Sakura. Karena sejak tadi ia memperhatikan percakapan dua suster tersebut. Tangan Naruto menopang tubuh Sakura agar tidak jatuh telentang
Tangan kanan Naruto memeluk pundak Sakura yang sudah hampir jatuh. Dengan malu-malu Sakura berdiri tegak lagi.
"Terimakasih," ujarnya sambil tersenyum.
"A-ah.. tak apa," Naruto nyengir merasa senang bisa memeluk secara tak langsung sang suster. "Anda baik-baik saja kan?"
Sakura mengangguk sambil tersenyum. Lalu berbalik untuk kembali membantu seniornya.
SPLAASSHH!
Terdengar suara dari kolam, seseorang keluar dari kolam dengan terburu-buru. Kemudian secara cepat mengejar Sakura dan menjambak rambut pendeknya yang tergerai.
"AAARRGGGHH!" Suara jeritan Sakura terdengar keras. Dia dan juga beberapa orang yang ada disana terkejut dengan kejadian yang sangat tiba-tiba itu.
"Arg! Lepas! Lepas!" clipboard yang sejak tadi dipegang Sakura terjatuh karena kedua tangan sang suster dipakai untuk berusaha melepaskan cengkraman Sasuke.
Naruto dan Kabuto langsung menarik tubuh Sasuke agar menjauh dari Sakura.
"Hentikan Sasuke-sama!" Ujar Naruto dan Kabuto bersamaan
Naruto memeluk tubuh Sasuke dari belakang mencoba menarik Sasuke menjauh dari Sakura dan Kabuto berusaha melepaskan cengkraman Sasuke di rambut Sakura.
"AARGH!" Sasuke meraung. Bagai kesetanan Sasuke meronta keras dari pelukan Naruto. Dia masih menarik rambut Sakura, berusaha menyeretnya.
"Jauh-jauh dari mata jernih! Jangan dekat-dekat!" Sasuke berteriak marah, tangannya terus menjambak rambut Sakura sampai beberapa helai rambutnya rontok.
"Sasuke tenanglah!" Naruto masih berusaha menahan tubuh Sasuke yang meronta.
"Suster ambilakan obat bius!" teriak Kabuto pada suster senior yang tadi minta tolong pada Sakura. Dengan cepat dia berlari ke lemari yang berisi obat-obatan dan jarum suntik.
Merasa usahanya untuk menyeret Sakura tak berhasil, Sasuke lalu menendang punggung Sakura yang ada di depannya dengan sekuat tenaga hingga tubuhnya terselungkur. Kemudian Sasuke meraih tangan Naruto yang tadi dipakai untuk menolong Sakura, Sasuke menggigit tangan Naruto kuat-kuat.
Kini jeritan keluar dari mulut Naruto.
"Aaaaaarrgghh! Lepaskan!" Naruto berusaha mendorong kepala Sasuke agar menjauh dari pergelangan tangannya yang mulai mengeluarkan darah.
Jleb
Dengan terburu-buru Kabuto menusukkan jarum suntik pada lengan Sasuke. Tak lama sasuke langsung jatuh tertidur, yang tubuhnya di tahan dokter agar tidak jatuh. Naruto meringis memegangi tangannya yang nyeri. Sedangkan Shizune membantu Sakura berdiri.
Kabuto meminta bantuan suster laki-laki untuk membawa Sasuke ke ruang rawat. "Mari saya obati luka anda," katanya pada Naruto. Naruto mengangguk sambil meringis sakit lalu mengikuti kabuto.
Xxx
Dapat Kyuubi lihat dari pantulan kaca bis, sosok yang sedang melecehkannya. Seorang pria yang cukup tinggi berambut hitam panjang. Dapat ia lihat ikatan rambut yang memeluk erat untaian hitam panjang itu.
Kyuubi bergerak-gerak gelisah. Dia sudah mencoba menjauh dengan menggeser tubuhnya dan nyikut keras dada si pelaku pelecehan. Tapi tubuh pemuda itu tak juga bergeming. Meski Kyuubi sempat mendengar suara meringis yang lirih dari bibir sang pemuda saat Kyuubi menyikutnya. Tapi sialnya, pemuda itu malah memeluk pinggang Kyuubi erat agar tak menjauh.
Kyuubi hanya bisa meruntuk dalam hati. Matanya tiba-tiba terbelalak ngeri. Dapat ia rasakan sesuatu yang menonjol dan keras di pinggangnya.
Mungkinkan..
Kyuubi merinding jika membayangkan sesuatu yang keras itu adalah kelamin si pemuda yang ereksi.
Dengan kesal tangan Kyuubi bergerak kearah rambut pemuda tersebut untuk menjambaknya keras dan menginjak kaki pemuda itu.
"Arg!" pemuda itu mengerang. Kepalanya terangkat dari ceruk leher melihat wajah si pelaku pelecehan itu sekilas. Lalu dengan terburu-buru Kyuubi menjauh dari si pemuda itu. Untungnya halte tempat Kyuubi turun tak jauh dari situ."Permisi, saya mau lewat! Permisi!" tak peduli dia menabrak beberapa orang yang tampak kesal, Kyuubi langsung berlari keluar dari bis menuju kampusnya lalu menoleh kebelakang. Betapa kagetnya dia saat tahu kalau pemuda yang sudah ia beri pelajaran itu juga ikut turun di halte yang sama. Langsung saat dia lari sekuat tenaga memasuki areal kampusnya. Setidaknya di sana ada teman-temannya kalau orang itu bersikap kurang ajar.
Xxx
"Sial!" Itachi mengumpat kesal. Dia gagal mengejar gadis tadi. Dia sudah ada di halaman gedung kampusnya.
"Cepat juga larinya," Itachi mendengus. Tapi perlahan bibirnya membentuk senyuman. Perasaanya jadi lebih lega dan kepalanya juga lebih enteng. Tubuhnya pun penuh energi. Bagai hanphone yang sudah diberi charge. Tampak prima dan bersemangat. Moodnya terlihat sangat baik. Baberapa mahasiswa yang berpapasan dengannya tampak melongo karena melihat salah satu pangeran kampus yang biasanya begitu dingin dan tak berekpresi kini tampak gembira.
Itachi melirik bagian bawahnya, "Mengeras hanya dengan mencium baunya? Yang benar saja," Gumamnya lirih.
Harus mencari orang yang mau menampungnya
Itachi sang Playboy mulai mencari mangsa.
Xxx
Sasuke membuka matanya perlahan. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya untuk membiasakan cahaya yang masuk ke dalam mata kelamnya. Setelah matanya terbiasa dengan cahaya di dalam ruangan, ia mulai memperhatikan tempat dimana dia berada. Ruangan berukuran medium yang serba putih, Sasuke masih diruang rawat milik Kabuto. Sasuke bangkit dari kasurnya secara terburu-buru. Terbayang sosok yang seharusnya ada didekatnya, dia ingin bertemu orang itu. Sebelum Sasuke sempat membuka pintu kamar rawatnya, pintu itu sudah terbuka lebih dulu. Sosok Kabuto berdiri didepan Sasuke.
"Ah, sudah sadar rupanya," katanya sambil tersenyum ramah. "Bagaimana perasaanmu? Apa lebih baik?"
"Mana mata jernih?" Sasuke malah balik bertanya.
Kabuto masih tersenyum, "maksudmu Naruto-san?" saat tangannya diobati Kabuto sempat menanyakan mengenai 'mata jernih' pada Naruto. Yang kemudian dijawab dengan salah tingkah oleh Naruto kalau yang dimaksud Sasuke itu adalah dia. Sepertinya Sasuke tidak suka Sakura dekat-dekat dengannya tadi. Naruto juga menceritakan tingkah Sasuke yang mengamuk tadi malam saat melihat dia berduaan dengan Iruka di dalam kamar.
"Mana mata jernih?!" Sasuke membentak Kabuto saat merasa pertanyaannya tak dijawab.
Kabuto sempat kaget saat mendengar Sasuke membentaknya tapi kemudian dia kembali bersikap ramah, "dia sedang membeli makanan di toko dekat sini, sebentar lagi pasti kembali," Kabuto memegang bahu Sasuke memcoba menuntunnya untuk kembali ke kasur. "Kita tunggu saja dia disini, oke?"
Sasuke diam. Tapi dia menurut meski matanya masih melirik pintu keluar.
Sasuke duduk dikasur yang tadi ditidurinya sedangkan Kabuto duduk dikursi yang ada disamping kasur Sasuke.
"Jadi Sasuke, kau suka Naruto-san?" Kabuto mencoba mengajak bicara Sasuke. Tapi Sasuke hanya diam sambil terus menatap pintu. Kabuto mulai mengajak bicara lagi, dengan membawa nama Naruto, misalnya menanyakan kebiasaan Naruto, hobinya, makanan kesukaannya. Tapi Sasuke tetap diam menatap pintu. Sesekali dia hentakan jarinya di kasur. Tanda dia mulai gelisah.
"Tenanglah Sasuke, dia akan kembali secepatnya," Kabuto berusaha menenangkan Sasuke kembali saat didengarnya Sasuke menggeram kesal.
Tapi Sasuke mulai emosi lagi. Dengan cepat dia bangkit dari kasur lalu berlari keluar ruangan.
"Sasuke!" kabuto segera mengejar Sasuke yang berlari di lorong klinik. Tapi lari Kabuto terhenti saat melihat Sasuke terdiam diarah tangga yang menuju ke bawah. Pelan-pelan Kabuto mendekati Sasuke yang masih terdiam bagai patung. Lalu melirik kearah tangga, rupanya Naruto sudah kembali dari toko dan sedang naiki anak tangga. Naruto sempat terkejut saat melihat Sasuke berdiri di ujung tangga.
"Syukurlah kau datang tepat waktu, Naruto. Sasuke baru saja mau mencarimu," Kabuto menoleh pada Sasuke yang berdiri disampingnya, "Lihat, Naruto-san datangkan Sasuke? Aku tidak bohong padamu. Ayo sekarang kita kembali ke kamar," Kabuto meraih lengan kiri Sasuke untuk menuntunnya, tapi Sasuke tetap tak bergerak masih menatap Naruto yang menaiki tangga.
Ugh.. Kenapa sih dia harus terus menatapku begitu? Risih tau!
Naruto hanya bisa menggerutu di dalam hatinya saat menghadapi sang majikan. Masih kesal karena tangannya kena gigit tadi, Naruto langsung saja berjalan melewati Sasuke yang tetap terdiam ditempatnya sambil terus menatap Naruto yang terlihat tak peduli.
"Ayo Sasuke," bujuk Kabuto lagi sambil menggandeng Sasuke. Kali ini Sasuke menurut dan berjalan di samping Kabuto. Matanya menatap punggung Naruto yang berjalan di depannya.
Mereka memasuki kamar dimana Sasuke tidur lagi. Naruto meletakan kantong plastik yang berisi makanan dan minuman yang tadi ia beli di toko. Kabuto menyuruh Sasuke agar duduk lagi di kasurnya. Saat Naruto mengeluarkan botol air minum dari kantong plastik, Sasuke dapat melihat perban yang membebat pergelangan Naruto yang terluka karena gigitannya tadi.
"Ini titipan anda dokter," Naruto menyerahkan botol minuman itu pada Kabuto. Sepertinya sang dong sempat menitip minuman pada Naruto.
"Terimakasih, Naruto-san," Kabuto pun meraih botol yang diberikan Naruto padanya. Naruto bermaksuk untuk kembali mengambil sesuatu dari kantong plastik itu, namun Sasuke terlanjur meraih telapak tangannya dan menggenggamnya. Jelas saja Naruto kaget. Takut Sasuke menggigit lagi tangannya, Naruto langsung narik tangannya lepas dari genggaman Sasuke.
"Mau apa kau?" tanya Naruto Sangsi. Kabuto sudah siap obat bius di kantong jas dokternya, siap menyuntiknya kapan saja kalau Sasuke mulai mengamuk lagi.
Tanpa menjawab apa pun Sasuke kembali meraih tangan Naruto untuk digenggam.
Lepas.
Raih.
Lepas.
Raih.
Lepas.
Raih.
Lep—kali ini Naruto tak bisa melepas genggaman tangan Sasuke karena menahannya dengan kuat.
"Lepaskan tanganku!" Naruto agak ngeri dengan orang ini. Kalau saja Sasuke bukan majikannya pasti sudah dia tonjok dari tadi. Dia menarik tangannya kuat-kuat. Tapi Sasuke malah memegangi tangannya dengan kedua tangan. Mereka pun tarik-tarikan sampai Sasuke berdiri dari duduknya. Kabuto diam mengamati tingkah pasiennya.
"Naruto-san mungkin Sasuke cuma mau menggenggam tanganmu karena takut ditinggal lagi," ujar Kabuto agar kedua orang didepannya menghentikan kegiatan mereka.
Gerakan Naruto berhenti, dia menatap Kabuto yang tersenyum sambil memberi isyarat menepuk kantong jas putihnya, seakan memberitahu kalau ada obat bius didalam sana. Mengerti, Naruto pun mengangguk.
Masih dengan tatapan kesal, "aku tidak akan pergi lagi,"katanya pada sang majikan.
Tapi Sasuke tetap tak bergeming, matanya terus menatap pergelangan Naruto yang terluka. Masih menggenggam erat jemari Naruto dengan tangan kanannya, tangan kirinya mengelus lembut perban di pergelangan tangan Naruto.
Naruto mengerutkan kening melihat tingkah Sasuke.
"Sepertinya Sasuke ingin minta maaf, Naruto-san," katanya lembut.
Naruto Sempat melongo sesaat.
Beginikah cara anak autis minta maaf?
Lalu tatapannya berubah menjadi lembut dan penuh simpati saat melihat Sasuke yang masih saja mengelus lengannya yang terluka.
Dengan senyuman cerah Naruto mengelus helaian rambut Sasuke, "tenang saja, tidak sakit kok,"
Ternyata dia bisa bersikap manis juga~
Xxx
"Hosh.. hosh.. hosh..," Nafas Kyuubi tampak memburu saat sampai di depan kantin fakultasnya.
"Kau habis maraton ya, Kyu? Kok nafasmu memburu begitu?" Suara seorang wanita terdengar di depannya. Kyuubi langsung mengangkat wajahnya yang tadinya menunduk. Tampak seorang gadis berparas cantik namun terlihat tomboy berdiri dihadapannya. Saat dilihatnya gadis menggenggam botol minuman, dengan seenaknya dia merebut minuman itu dan menegaknya tanpa meminta izin lebih dulu.
"Hei, itu minumanku! Jangan dihabiskan! Aaah..," Gadis itu mendesah saat melihat minuman yang baru saja dia beli itu sudah habis.
"Nih!" Kyuubi memberikan botol kosong pada temannya.
"Untuk apa kau beri padaku lagi! Buang sana!" kata gadis itu galak.
Kyuubi hanya angkat bahu, lalu melempar botol kosong itu ke tempat sampah yang tak jauh dari situ.
"Dasar.. kau habis dikejar anjing ya?" teman Kyuubi berkata sinis.
"Masih lebih baik di kejar anjing! Aku baru saja di kejar penjahat kelamin! Kau tau? Temanmu ini baru saja mengalami pelecehan seksual dibis!"
"Benarkah?" temannya malah takjub, "ada juga laki-laki yang mau menyentuh tubuhmu?"
"Sialan kau! Teman macam apa yang terlihat senang saat tahu temannya di lecehkan! Kau benar-benar jahat Gyuuki! " Kyuubi memukul lengan gadis yang bernama Gyuuki itu kesal.
Yang dipukul hanya tertawa saja sambil mengelus lengannya yang tadi dipukul Kyuubi.
"Seperti apa pelakunya? Pasti bapak-bapak tua yang jelek kan?"
"Bukan! Sepertinya mahasiswa sini, aku familier dengan wajahnya,"
Gyuuki mendengus,"pasti tipe cowok tidak laku yang selalu ditolak cewek,"
Kyuubi mendelik kesal pada temannya yang paling suka menggodanya itu,"kata-katamu menyebalkan, ayo traktir aku makan!" Kyuubi menarik tangan Gyuuki kearah salah satu stand makanan.
"Aku ada kuliah sebentar lagi! Kau makan sendiri," Gyuuki menarik tangannya yang dipegang Kyuubi.
Saat akan berbalik tubuhnya menabrak tubuh seseorang pelan.
"A-ah maaf!" Kata Gyuuki sambil melihat orang yang ditabraknya.
"Hn," balas orang itu datar. Kyuubi melirik sekilas orang ditabrak temannya itu.
Matanya terbelalak.
"Aaaah! Kau kan?!"
Itachi juga tampak terkejut saat bisa bertemu kembali dengan gadis dengan aroma yang menggodanya secepat ini.
TBC
A.N : chapter 6 di apdet tanggal 14 maret 2013 dan sekarang chapter 7nya tanggal 15 maret 2014, sumpah ga berasa banget uda ga ngelanjut ini fic sampe setahun. Mohon maaf banget reader!
Semoga masih ada yang inget sama fic ini hiks.. hiks.. hiks.. T.T
Makasih banget buat yang uda review di chap 6. Apa lagi buat yang review panjang banget dansampe beberapa kali review lagi buat nagih kelanjutan fic ini. Maaf ga bisa dibalas satu-satu. Bisa-bisa balasan reviewnya lebih panjang dari ficnya.
Fujo akan berusaha untuk bisa terus melanjutkan fic ini meski apdetnya jarang-jarang.
