No Other Love (KyuMin)

Chapter 6

Happy reading^^~

.

.

.

.

Bel tanda berakhirnya kegiatan perkuliahan di sebuah universitas baru saja berbunyi, menandakan sebentar lagi akan berkeliaran mahasiswa maupun mahasiswi dari segala jurusan di gerbang universitas tersebut. Beberapa dari mereka ada yang tak langsung pulang, memilih berkumpul di cafe atau tempat sejenisnya untuk sekedar melepas kepenatan bersama teman-teman mereka. Tak sedikit pula yang memilih segera pulang untuk beristirahat, terlalu capek untuk berjalan-jalan. Salah satunya adalah sungmin. Yeoja imut itu kini berjalan keluar melewati gerbang. Tanpa menunggu lama, ia telah menemukan mobil jemputannya.

Sungmin melangkah ringan, merasa tak perlu terburu-buru mengingat ia hanya perlu pulang ke apartemen dan istirahat setelahnya. Sepanjang kegiatan dikelas tadi sungmin tidak dapat berkonsentrasi akibat menahan ngantuk yang luar biasa menyerangnya. Sungmin sudah memutuskan untuk membalas waktu tidurnya yang kurang selama beberapa hari belakangan setelah sampai di apartemen nanti.

Tepat saat sungmin hendak meraih kenop pintu mobilnya, dari arah belakang tangannya ditahan oleh seseorang. Sungmin menolehkan wajahnya dan menemukan wajah namja yang sedari pagi menemaninya. Tangannya tetap digenggam oleh namja itu bahkan kini ia sudah ditarik menuju pintu kemudi tempat supirnya duduk.

"ahjussi, mulai hari ini dan seterusnya sungmin akan pulnag bersamaku. Tak perlu menjemputnya lagi, arraso? Pulanglah.." sungmin yang sudah mengerti sifat donghae yang sedikit pemaksa memilih untuk tidak membantah, membiarkan donghae mengantarnya. Hitung-hitung meringankan tugas supir pribadinya.

Ahjussi tersebut agak bimbang diawal karena yang menyuruhnya bukanlah nona sungmin-majikannya- melainkan seorang namja asing yang baru pertama kali dilihatnya. Tetapi melihat nona sungmin yang tak menyangkal ucapan namja tersebut membuatnya menyimpulkan bahwa ia harus menuruti apa kata namja itu.

"saya permisi nona" dan melajukan mobil itu setelahnya. Kini tinggal sungmin dan donghae disana.

"ayo, min.. aku ingin mengajakmu ke suatu tempat" kedua tangan yang sedari tadi memang belum terlepas itu memudahkan donghae untuk kembali menarik sungmin. Namun kali ini tangan sungmin seperti menahan langkahnya. Donghae memutar tubuhnya menghadap sungmin, mengangkat alisnya bertanya.

"bagaimana kalau besok saja? Aku semalam kurang tidur, hae.." donghae tersenyum kecil. "kau yakin? Bagaimana kalau aku mengajakmu ke kedai ice cream favoritemu?" mata sungmin melebar. "ice cream?" tanya sungmin semangat dibalas dengan anggukan donghae.

"aku ingin rasa vanilla, strawberry, chocolate, dan mmmmm..." sungmin menggigit bibir bawahnya, membayangkan berbagai rasa ice cream yang akan meleleh dimulutnya. Dalam hitungan detik seluruh rasa ngantuknya menghilang hanya dengan tawaran menggiurkan dari donghae.

Donghae terkekeh "apapun untukmu.." ucapnya dan kembali menarik tangan sungmin menuju parkiran mobilnya.

.

.

.

.

Di sudut sebuah kafe terlihat tiga orang namja tampan. Tak heran keberadaan mereka yang cukup mencolok menjadi pusat lirikan beberapa yeoja single disana. Tetapi tak seorang pun digubris oleh ketiganya. Mereka menjaga profesionalitas, bagaimana pun mereka ada disini sekarang untuk urusan pekerjaan, bukan hanya sekedar menebar pesona.

Pemimpin perusahaan Choi yang baru saja menendatangani dokumen penanaman saham di perusahaan milik keluarga Cho mengajak kyuhyun dan yesung-manajer pribadi kyuhyun- untuk membicarakan kelanjutan kerjasama mereka disebuah kafe. Tentunya tawaran tersebut tak ditolak. Sekaligus refreshing, pikir mereka.

Siwon menyeruput capuccino pesanannya yang sudah hampir habis, diikuti dengan yesung yang berada didepannya. Berbeda dengan cho kyuhyun, namja itu duduk disebelah yesung tanpa menyentuh minumannya sama sekali sejak tadi. Kelihatannya hari ini ia lebih banyak melamun.

"jadi... kita sudah sepakat bukan?" tanya siwon yang terlebih dahulu telah kembali meletakkan cangkir minumannya di meja, sekaligus memecah keheninga yang sempat tercipta.

"ne? Mianhe. Aku sedikit kurang fokus" jawab kyuhyun yang baru saja tersadar dari acara 'melamun'nya diiringi senyuman tak enak pada siwon. Disampingnya, yesung menggeleng melihat reaksi kyuhyun. Sejak pagi tadi ia memang sudah merasa kyuhyun sedikit tak fokus dengan apa yang sedang dilakukan namja itu.

Yesung melayangkan tatapan minta maaf pada siwon. Siwon tersenyum memaklumi. "tidak apa. Mungkin kau sedang ada masalah" ucap siwon bijak. "masalah perjanjian kita, sudah sepakat bukan?" lanjut siwon kembali menyerukan pertanyaannya yang belum dijawab kyuhyun tadi.

"ya. Kuharap kita dapat bekerjasama dengan baik" jawab kyuhyun dengan senyuman tipis dibalas dengan anggukan siwon. Siwon membereskan beberapa dokumen dan memasukkannya ke dalam tas kulit miliknya. "kalau begitu, sampai bertemu di lain waktu" ucap siwon seraya berdiri. Kyuhyun dan yesung sontak ikut berdiri, menyodorkan tangan mereka untuk berjabatan. Siwon meraih tangan kyuhyun, beralih ke yesung setelahnya. "ne.. sampai jumpa" balas kyuhyun dengan senyuman lebar.

Setelah melihat siwon yang telah menghilang dari balik pintu kafe, yesung memandang sekeliling. Berbeda dengan kyuhyun yang kini sedang fokus dengan ponselnya. Sesaat mata yesung menangkap sosok yang tak asing. Merasa ragu, yesung menyenggol lengan kyuhyun dan menunjuk ke arah kedai ice cream diluar sana menggunakan dagunya, menyuruh namja itu mengikuti pandangannya.

"ada apa?" tanya kyuhyun saat matanya tak menangkap keanehan apapun disana. "itu.. bukankah sungmin? Kalau aku tidak salah.." ucapan yesung membuat kyuhyun penasaran dan menyipitkan matanya untuk melihat lebih jelas lagi. "aku tidak salah! Itu sungmin.." ucap yesung setelah yakin dengan penglihatannya. Tetapi alisnya terangkat " siapa pria yang bersamanya?"

Kyuhyun sebenarnya melihat sungmin bersama seorang namja dan tak dapat dipungkiri hatinya merasa panas akan hal itu tetapi ia memilih untuk bersikap seolah tak mau tahu. Ia sudah tak punya hak untuk mengatur sungmin lagi. Kyuhyun kembali bersender pada tempat duduknya. Yesung hanya menatap bingung ke arah kyuhyun yang tak merespon apapun.

"ya! Kau sungguh tidak mencintai sungmin ya? Bagaimanapun beberapa bulan belakangan kau selalu bersama sungmin, cepat sekali kau melupakannya!" semprot yesung. Heran dengan sifat kyuhyun yang terlalu cuek dan terkesan tak peduli lagi sedikitpun pada sungmin.

"kurasa aku sudah mengatakannya tadi" kyuhyun memang sudah menceritakan masalah dirinya dengan sungmin kepada yesung sebelum pergi ke kafe ini, termasuk memberitahu bahwa dirinya yang tak mencintai sungmin. "kau yakin?" tanya yesung penasaran

"bukan urusanmu, hyung" jawab kyuhyun 'sopan' Yesung menahan tangannya yang gemas ingin 'menyayang' kepala kyuhyun. Kalau saja ia tidak ingat bahwa mereka sedang berada di tempat umum, ia sudah melayangkan tangannya untuk menjtak sepupu kelahiran februari nya itu.

"terserahmu saja. Aku hanya mengingatkan, jangan menyesal kalau suatu saat sungmin tak mencintaimu lagi dan berpaling pada pria yang lebih baik darimu" seloroh yesung. Kyuhyun yang mendengarnya sedikit tersentak. Bagaimana kalau itu benar terjadi...

Kyuhyun berdiri dari duduknya, meraih kunci mobilnya diatas meja dengan kasar. Sebelum melangkah pergi ia sempat meraih ponselnya dan menelepon seseorang

"seohyun, kau dimana?"

"..."

"rumah sakit?! Kirim alamatnya, aku kesana!"

'klik'

Tanpa pamit kyuhyun meninggalkan yesung yang melongo tak mengerti

"siapa lagi seohyun?" tanya yesung entah pada siapa

.

.

.

.

Kyuhyun baru saja sampai. Ia menerobos rintik-rintik hujan, bahkan kemejanya sedikit basah. Dengan segera ia mencari ruangan yang sudah diberitahu seohyun.

'cklek'

"kyu? Kau sudah sampai?" kyuhyun mengerutkan keningnya, bingung.

"ne. Dia siapa?" kyuhyun melirik seorang namja yang tak dikenalnya sedang tertidur di ranjang rumah sakit. Seohyun ikut melirik sekilas ke arah namja tersebut dan kembali memandang kyuhyun.

"oh.. dia yonghwa oppa, mantan kekasihku" kyuhyun tersentak dalam hatinya, tetapi ia tak menunjukkan itu sama sekali dihadapan seohyun. Seperti biasa, kyuhyun sangat ahli dalam menyembunyikan perasaannya. Kyuhyun berjalan mendekat. "mengapa ia ada disini.. bersamamu?" seohyun menunduk takut. Takut kyuhyun menyadari bahwa ia masih sangat mengharapkan yonghwa untuk kembali kepadanya, ia sungguh takut kyuhyun menyadari itu.

"mengapa tak bisa jawab?" tanya kyuhyun lagi. Namja itu sedang menahan seluruh gemuruh di dadanya. Hanya dengan melihat gerak-gerik seohyun, ia sebenarnya sudah mengerti.

"seohyun, jawab aku!" pinta kyuhyun lebih keras. Ia merasa seperti orang bodoh yang hanya berdiri dan menanti jawaban yang sejak tadi tak keluar dari mulut seohyun. Tanpa disadari, suara kyuhyun yang memang cukup keras itu membangunkan sosok yang sedari tadi tertidur. Seohyun yang pertama kali menyadari itu segera meraih kedua pipi yonghwa. Tak menghiraukan kyuhyun yang semakin memuncak emosinya dan hanya menatap yonghwa dengan tajam.

"oppa, kau sudah sadar?" tanya seohyun lembut seraya mengusap pipi yonghwa dengan jemarinya. Kyuhyun muak melihatnya, tetapi ia tetap tak mengalihkan pndangannya.

Yonghwa mengangguk lemah. Membalas tatapan kyuhyun dan bertanya, "kau siapa?" kyuhyun yang ditanya beralih menatap seohyun, ingin melihat reaksi yeoja itu.

"dia.. sahabatku" jawab seohyun sambil menundukkan wajahnya, tak berani menatap kyuhyun. Sedangkan kyuhyun tersenyum hambar. Ia sudah tahu bahwa ia tak ada artinya bagi seohyun, singkatnya kemarin itu seohyun hanya menjadikannya pelampiasan karena tak ada yonghwa.

"aku permisi" pamit kyuhyun. Seohyun menahan pergelangan tangannya membuat kyuhyun terpaksa menoleh lagi.

"maafkan aku" lirih seohyun. Kyuhyun tak menjawab, hanya mengangguk dan kembali berbalik untuk keluar dari ruangan tersebut.

Dengan kecepatan yang sangat tinggi, kyuhyun melajukan mobilnya menuju satu tempat dimana ia biasa melampiaskan amarahnya dengan menceritakan masalahnya kepada seseorang. Ia butuh orang tersebut saat ini.

.

.

.

.

"ya! Cukup ming.. kau bisa sakit kalau terlalu banyak" donghae menahan pergelangan tangan sungmin yang sedang membolak-balikkan buku menu. Yeoja itu baru saja menghabiskan ice cream pesanannya yang keempat dan masih ingin memesan lagi. Kali ini tidak bisa dibiarkan, sungmin bisa flu nanti. Ia tak mau sungmin sakit karena dirinya.

"tapi aku masih mau, hae-ah~" sungmin mlancarkan tatapan puppy eyes nya. Donghae yang melihat itu hanya menghela nafas. Selalu begini. Setiap sungmin memberi tatapan seperti itu, ia tidak akan mampu menolak permintaan sungmin.

"kau harus berjanji ini pesananmu yang terakhir, nde?" sontak wajah sungmin berbinar dan mengangguk imut. donghae mencubit hidung sungmin gemas.

"aish, kau ini.. pesanlah.." dengan cepat sungmin kembali membolak-balikkan buku menu tersebut dan memesan rasa choco creamy untuk ice cream keenamnya.

"mengapa kau sangat menyukai ice cream?" tanya donghae setelah sungmin menerima pesanannya. "hmm.. kenapa ya.." sungmin mengerutkan keningnya berfikir. "ice cream itu manis, lembut, dan.. dan.. ah, aku tidak tahu lagi. Pokoknya aku suka" Donghae tersenyum menanggapinya.

"kalau begitu, jika akau manis, lembut, itu berarti kau menyukaiku bukan?" tanya donghae setelah menyimpulkan sesuatu di otaknya.

"eh?" sungmin kaget mendapat pertanyaan semacam itu. Benar juga apa yang dikatakan donghae, tapi-

"hahaha.. tidak perlu dianggap serius, ming. Aku hanya bercanda" tukas donghae saat melihat sungmin yang kebingungan menjawab. Sungmin tersenyum lega.

"hae-ah.. boleh aku bertanya?"

"tentu"

"jika kita sepasang kekasih, menurutmu apa yang kita butuhkan?" Donghae menopang dagu dengan tangannya, memasang wajah berfikir.

"cinta" jawabnya yakin.

"itu saja?" donghae terlihat berfikir lagi

"sebenarnya banyak. Memangnya kenapa?"

"tidak apa, hanya ingin bertanya"

"menurutku yang kedua adalah setia. Sekali kau tidak setia pada pasanganmu, akan sulit mengembalikan kepercayaannya"

"ya, kau benar" sungmin mengangguk, setuju dengan pernyataan donghae

"dan yang ketiga.." lanjut donghae

"pengorbanan" donghae tersenyum geli dalam hati dengan jawabannya kali ini. Ia merasa seperti seorang pakar cinta, padahal meraih cintanya saja ia belum bisa sampai saat ini. Dan herannya, sungmin percaya begitu saja dengan pendapatnya.

"pengorbanan ya?" sungmin membeo dengan suara lirih.

"apa merelakannya pergi dengan orang yang ia cintai termasuk pengorbanan?" tanyanya pelan. "tentu saja.. itu pengorbanan terbesar dari seorang kekasih"

Hening sejenak

"hae-ah.."

"hm?"

"setelah melakukan pengorbanan itu, apa yang harus dilakukan orang tersebut?" donghae terdiam. Ia sendiri bingung mau menjawab apa. Dengan semampu otaknya ia memberi jawaban pada sungmin. "ia harus... mencari cinta lain, mungkin?" jawab donghae ragu. Berbeda dengan sungmin yang mengangguk lemah.

"arraso.."

'drrrt.. drrrt.. drrrt.. drrrt..'

'drrrt.. drrrt.. drrrt.. drrrt..'

Getaran ponsel sungmin menghentikan donghae yang baru saja ingin membalas perkataan sungmin.

.

.

.

.

'ting.. tong..'

Entah sudah yang keberapa kali kyuhyun menekan bel didepannya. Tak ada sahutan dari dalam. Ia melakukan cara terakhir, menghubungi pemilik apartemen ini.

"yeoboseyo"

"minnie? Aku didepan apartemenmu"

"mwo?!"

"cepat buka pintunya"

"aku sedang tidak di apartemen" Kyuhyun menepuk jidatnya. Bodoh. Bodoh. Ia merutukki dirinya. Bagaimana bisa ia lupa kalau tadi ia melihat sungmin sedang dikedai ice cream.

"kalau begitu cepat kesini"

"nde? Aku tidak bisa"

"mengapa tidak bisa!" jawab kyuyhun frustasi. Ia sudah cukup dengan perlakuan seohyun padanya dan sekarang sungmin malah tak berada disampingnya. Tanpa sadar ia memarahi sungmin

"aku.. aku sedang bersama sahabatku" jawab sungmin ketakutan, ia tahu kyuhyun sedang marah

"pulang sekarang, min. Aku tunggu kau disini"

"sungmin tidak akan pulang!" kyuhyun tersentak saat mendengar suara namja yang menjawabnya. Seketika amarahnya semakin naik.

"bawa sungmin pulang!" tegasnya

"tidak akan!" balas donghae tak kalah tegas.

"baiklah. Aku sendiri yang akan menjemputnya"

'klik'

.

.

.

.

"hae-ah.. kyuhyun bicara apa?" tanya sungmin penasaran. Ia tidak mendengar lagi apa yang dikatakan kyuhyun setelah donghae merebut ponselnya.

"tidak apa-apa. Kau tenang saja, ming" sungmin mengangguk tapi hatinya tetap tidak tenang.

"dan ingat satu hal, ming" donghae menjeda ucapannya. Sungmin hanya menatap donghae, mencoba untuk menyimak perkataan namja itu. "jangan terlalu mudah memaafkannya. Terkadang wanita harus berani menolak agar ia dihargai oleh laki-laki" perkataan donghae sungguh menusuk sungmin. Ia seolah baru tersadar kalau selama ini ia tidak pernah menolak kyuhyun, membantahnya saja hampir tidak pernah, pantas saja kyuhyun berani meninggalkannya begitu saja demi wanita lain. Mungkin donghae benar. Ia harus berani menolak kyuhyun kali ini. Lagipula kyuyhun bukan lagi kekasihnya.

Donghae menggenggam tangan sungmin "tenang saja. Aku bersamamu" mencoba memberikan keyakinan pada yeoja itu.

.

.

.

.

Kyuhyun semakin brutal mengendarai mobilnya. Tak peduli beberapa pengendara lain yang mungkin saja mengumpat karenanya. Ia hanya ingin cepat sampai di kedai ice cream dan menarik sungmin pulabg. Ia harus bercerita pada sungmin.

Entah jarak antara apartemen sungmin dengan kedai ice cream yang terlalu dekat atau kyuhyun yang terlalu gila mengebut hingga dalam hitungan 5 menit kyuhyun sudah sampai disana. Tanpa disangka, kyuhyun langsung menarik lengan sungmin untuk berdiri, mengabaikan eksistensi donghae yang melihat hal itu dengan kesal.

"kyu oppa?" kyuhyun menatap sungmin tajam, panggilan macam apa itu.

"ayo pulang" ajak kyuhyun. Donghae berdiri dan segera menepis tangan kyuhyun. "sungmin tidak ingin pulang" donghae melayangkan tatapan sinis pada kyuhyun, begitu sebaliknya.

Untung saja suasana kedai ice cream sedang sepi, hanya terdapat beberapa karyawan yang sedang sibuk dengan beberapa pelanggan disana.

"bukan urusanmu" kyuhyun kembali ingin meraih tangan sungmin sebelum sugmin menarik tangannya dan mendekat pada donghae.

"min, ayo pulang" kyuhyun mencoba sabar. Sungmin menggeleng, tak ingin menatap kyuhyun. Donghae yang berada disamping sungmin tertawa mengejek kepada kyuhyun. "kau lihat sendiri bukan? Lebih baik kau pergi dari sini" telapak tangan kyuhyun mengepal menahan amarah. Tak tahu kenapa, ia jauh lebih emosi dengan keadaan sekarang dibandingkan ketika melihat seohyun bersama mantan kekasihnya.

"kau yakin, min? Kau memilih dia dibanding aku?" tanya kyuhyun geram

"dengan alasan apa sungmin harus memilihmu? Memang kau siapanya?!" tantang donghae

"aku tidak bicara padamu, brengsek!" sungmin yang mendengar ucapan kyuhyun semakin mendekatkan diri pada donghae. Ia baru pertama kali melihat kyuhyun semarah ini. Sungmin memandang donghae, meminta bantuan. Melalui tatapannya donghae seperti mengingatkan sesuatu. Sungmin mengingat kembali pesan donghae dan sungmin mengerti.

"donghae benar. Aku ingin tetap disini.." kepalan tangan kyuhyun melemah, tak percaya dengan sungmin yang baru kali ini menolaknya.

"kau memilihnya?" tanya kyuhyun tak percaya.

"tentu saja ia memilih aku dibandingkan dirimu"

"kau diam saja, brengsek!" Donghae memutar bola matanya , malas.

"jawab saja iya, ming" ucap donghae kepada sungmin. Kyuhyun tak lagi menghiraukan donghae. Cukup berfokus pada sungmin, berharap yeoja itu mengatakan 'tidak' untuk kali ini.

"i.. iya.." jawab sungmin terbata. Ya, sungmin sudah bertekad ingin melepas kyuhyun, membiarkan namja itu bahagia dengan seohyun. Ia masih belum tahu masalah kyuhyun dan seohyun barusan. Mendengarnya, donghae merangkul pundak sungmin dan mengusapnya pelan. Tak lupa melayangkan senyum mengejek pada kyuhyun. Kyuhyun hanya terpaku. Melihat sungmin yang berada disamping namja lain, mendengar pengakuan sungmin barusan, kyuhyun terlalu muak.

"begitukah?"

"ya" jawab donghae. Kyuhyun malas membentak lagi, percuma.

"baiklah" kyuhyun melangkah meninggalkan keduanya. Sedangkan sungmin, yeoja itu menatap sedih punggung kyuhyun yag mulai menjauh.

"ming.. masih ada aku, ingat?" ucap donghae yang mengerti arti tatapan sungmin pada namja yang baru saja keluar dari pintu kedai tersebut.

"aku tidak tega melihatnya begitu.. tapi-" sungmin baru mengingat sesuatu. "bukankah kyuhyun sudah bersama seohyun?" tanya sungmin bingung. Ia baru sadar, mengapa kyuyhun malah mendatangi apartemennya tadi, bukan apartemen seohyun..

Dengan cepat ia menghubungi seohyun.

Sungmin menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang diceritakan seohyun. Ternyata kyuhyun dan seohyun sudah tidak memiliki hubungan apapun. Secepat itukah?

.

.

.

.

Yesung beberapa kali mengumpat menunggu bus yang tak kunjung datang. Sudah setengah jam ia hampir mati kedinginan , menunggu di halte bus dan belum ada satu pun bus yang datang. Kurang sial apa lagi dia, kyuhyun yang tidak bisa dihubungi, mobilnya yang tiba-tiba mogok, dan sekarang? aish, memikirkannya saja yesung sudah ingin menceburkan diri ke sungai Han. Kalau saja rapat jadi diadakan lusa mungkin yesung masih bisa memberikan dokumen ini pada kyuhyun besok pagi di kantor tetapi perubahan jadwal yang sangat mendadak memaksanya untuk mengantar dokumen tersebut malam ini juga ke apartemen kyuhyun.

Dengan sisa-sisa kesabaran yang ada, yesung menghentikan sebuah taksi yang melintas. Dari pada mati konyol karena kedinginan, ia terpaksa menghamburkan uangnya demi membayar ongkos taksi.

.

.

.

.

'ting.. tong..'

"kyu! Buka pintunya!" teriak yesung dari luar

'ting.. tong..'

Dengan tak sabaran yesung mencoba membuka kenop pintu dan... BERHASIL! Masih dengan setengah percaya, yesung masuk ke dalam apartemen kyuhyun. Biasanya kyuhyun cukup teliti dalam hal menjaga privasi termasuk mengunci pintu apartemennya. Mungkin ia akan bertanya pada kyuhyun nanti.

Cahaya disana cukup remang. Yesung memutuskan untuk menyalakan lampu di ruang tamu dan matanya melebar melihat kyuhyun yang tidur disofa dengan keadaan yang bisa dibilang tak wajar. Baju kantor masih melekat ditubuhnya, walau sudah tak berbentuk dengan tiga kancing atas yang terbuka dan posisi tidur kyuhyun yang benar-benar tidak elit. Kaki kanan namja itu berada diatas senderan sofa sedangkan tangan kirinya dibiarkan menggantung sambil memegang botol wine yang sudah kosong.

Yesung mendekat dan menutup hidungnya kala mencium bau alkohol yang sangat menyengat disana. Ia melirik sekilas keatas meja dan sesuai dugaan yesung melihat 8 botol wine lainnya yang sudah kosong. Tak bersisa. Kyuhyun pasti menghabiskannya sendirian. Oke, ini menambah kesialan yesung hari ini. Bagaimanapun ia tidak mungkin pulang dan meninggalkan kyuhyun dengan keadaan semerawut ini hingga esok pagi. Setidaknya ia masih menyayangi sepupu menyebalkannya ini.

Yesung mencoba membangunkan kyuhyun. Kyuhyun membuka sedikit matanya, "sungmin~" yesung sontak memundurkan tubuhnya. Ia merinding sendiri melihat kyuhyun yang hampir saja memeluknya. "ya! Kyuhyun, sadarlah!" yesung mengguncang tubuh kyuhyun. Tak ada reaksi yang berarti dari sepupunya.

"minnie~" igau kyuhyun. "kau tak boleh memilih namja itu~" mendengar bicara kyuhyun, yesung mengerti. Dengan cepat ia menjitak kepala kyuhyun.

"sudah kubilang tak usah bertingkah! Kalau sudah begini kau sendiri yang menyesal kan?" yesung meraih lengan kyuhyun dan memapah kyuhyun untuk pindah ke kamarnya.

'bruk'

"hah.. kelihatannya saja kurus tapi berat seperti raksasa" dumel yesung setelah berhasil membaringkan tubuh lemas kyuhyun di ranjang namja itu.

"ergh.." kyuhyun mengerang, yesung segera menepuk pipinya "kyu, bangunlah. Aku akan buatkan teh"

"eungh.. hyung?"

"ne. Ini aku. Untunglah kau tak mengira aku sungmin lagi. Tadi hampir saja aku mendapat pelukan dari setan yang sedang mabuk"

"mwo?" mendengar bicara yesung yang agak berbelit-belit dan dirinya yang masih belum sepenuhnya sadar, kyuhyun kebingungan sendiri. "sudahlah. Tak perlu dibahas" yesung beranjak meninggalkan kyuhyun sendirian, ia memutuskan untuk ke dapur, membuat teh seperti yang ia katakan pada kyuhyun tadi.

.

.

.

.

"minumlah. Kau hanya bisa merepotkan orang saja. Kau tahu ini pukul berapa?"

Kyuhyun mendelik, "dasar! Baru bantu begini saja sudah banyak mendumel sejak tadi" oh~ sepertinya evilkyu sudah sadar sepenuhnya, terbukti dengan cara bicara 'sopan' khas kyuhyun yang sudah kembali.

"setan memang tak pernah tahu diri" yesung geleng-geleng sendiri.

"kau mengataiku setan?!"

"kau sendiri yang merasa"

"oh tuhan, mengapa aku harus punya sepupu sepertinya.."

"apa kau bilang?!" gantian yesung yang berteriak membalas pernyataan kyuhyun.

"mengapa kau merasa tersindir? Aku tidak bicara padamu. Kau sendiri yang merasa" balas kyuhyun santai. Jauh.. sangat jauh berbeda dengan wajah yesung yang sudah memerah dan berakhir dengan yesung yang menjitak kepala kyuhyun.

"ya! Kau selalu memukul kepalaku! Ini aset berhargaku, kau tahu?!"

"diam kau evil! Habiskan saja teh nya. Aku mau pulang"

"yasudah, pulang sana"

"hah~" yesung menghela nafas mencoba memupuk kembali kesabarannya yang sedari tadi sudah hampir habis. "ini. Kau pahami isinya. Rapat lusa dimajukan menjadi besok"

kyuhyun melirik malas meja nakas disampingnya. "letakkan saja disana"

"baiklah, aku pulang dulu"

"hm. Gomawo hyung"

"cheonma"

Baru beberapa langkah yesung beranjak, tubuhnya berbalik ke arah kyuhyun. Kyuhyun tak terlalu menanggapi, hanya menaikkan alisnya bertanya

"boleh aku pinjam mobilmu? Sepertinya sudah tidak ada bus"

"oh, pakailah. Kuncinya ada di laci nomor 2"

"oke. Bye, kyu.."

"hm"

'blam'

Kyuhyun menghela nafas lelah. Entahlah, ia merasa sangat lelah hari ini. Ia kira dengan meminum wine ia akan melupakan semuanya, nyatanya tidak. Kyuhyun termenung, matanya tak merasa berat sedikitpun. Baru beberapa hari memang, tetapi tak ada yang spesial sama sekali dari hubungannya dengan seohyun. Ia merasa tidak ada yang patut dikenang sehingga tak terlalu merasa sakit hati. Tapi sungmin... mengapa secepat itu dia menemukan namja lain.. sungguh, kyuhyun kesal setengah mati melihat tatapan mengejek dari namja yang bersama sungmin tadi. Memangnya dia siapa? Ah.. kalau mendengar pertanyaan itu kyuhyun ingin sekali menjawab 'sungmin kekasihku!'. Tapi sepertinya itu mustahil. Kyuhyun tertawa mengejek pada dirinya sendiri. Bukankah dia sendiri yang meminta sungmin untuk melepasnya.

Kyuhyun memijat kepalanya yang terasa pusing. Efek terlalu banyak minum tadi. Sekilas ia melirik ponselnya, tak ada panggilan maupun pesan. Dibandingkan dengan keadaannya sekarang, ia jauh lebih memilih menyanyikan lullaby sampai tengah malam selelah apapun dirinya.

Kyuhyun tersenyum miris.

"minnie-ah.. bogoshippo.."

TBC/end?

Oke! Jangan bunuh saya, readers *bow*

Mianhe untuk update yang ga sesuai permintaan.. Mungkin terkesan banyak alasan tapi minggu lalu saya ga bisa update karena saya ada ret-reat dari sekolah, pulang dari sana besoknya langsung TRYOUT :'(

Trus, pasti banyak typo di chap ini kan? Mianhe ne aku ga sempet nge-edit lagi pas ngepost chap ini..

Tapi tapi... chap ini panjang kan...? *wink* trus kyu nya udah mulai ngerasa sesuatu tuh... dan untuk masa penyiksaan kyu ga mungkin aku tuntasin dalam satu chapter kan? Jadi bertahap ya... jangan langsung siksa yang parah-parah(?)

Oh iya, adakah yang nunggu ff ini? Kalo ada silahkan dibaca dan... jangan lupa review, nde?^^

Untuk readers yang udah nge-review chap lalu, gomawo... *kisseu~* Untuk siders, di chapter ini dan selanjutnya boleh kasih reviewnya kan.. *puppy eyes*

Kayaknya cukup segini untuk chapter 6..

See you next chap \(^-^)/