Title : Forest of No Return

Author : Ninja-edit

Fandom : Naruto

Disclaimer : Semua tokoh dalam kisah ini adalah milik Masashi Kishimoto; Author tidak menerima profit dalam bentuk materi dari kisah ini.

Genre : Drama/Romance

Main Pairing : SasuSaku

WARNING : AU; OOCness (lihat penjelasan di chapter prolog)

NOTE : Makasih banyak buat yang kasih feedback di chapter prolog lalu, bener-bener bikin semangat bikin lanjutannya lagi. Dan inilah chapter 1 "Forest of No Return", semoga masih cukup menyenangkan untuk dibaca. :)

Mengenai pairing, akan ada banyak pairing dan kombinasi pairing yang muncul dalam fic ini. Belum bisa dipajang karena bahkan tokoh-tokohnya aja belum muncul. Sementara main pairing, adalah SasuSaku.

ETA: Oke, atas permintaan banyak pembaca, saya rephrase kalimat sebelumnya mengenai pairing akhir kisah ini. Yang dimaksud dengan bisa jadi SasuSaku atau tidak, adalah bisa jadi malah si Sasuke nggak sama siapa-siapa. (means, tidak menyinggung pairing manapun)

Biar semakin jelas, saya ubah daftar karakter fic ini dengan hanya Sasuke dan Sakura. Dan Ya, ini fic SasuSaku.

Saya bukan penggemar berat SasuSaku ataupun SasuHina. Saya suka keduanya. OTP saya SuiSasu (boys love). Jadi Tidak, dalam fic ini tidak akan ada bias pairing manapun.

Mohon maaf kalau sebelumnya kurang jelas, ya. :)

.

Tidak akan ada chara-bashing dalam fic ini. Bahkan mungkin kalian akan menyukai setiap tokoh dengan karakter dan peran mereka masing-masing.

.

.

Special thanks to: Oh Haneul, agung f yanto, zuka, hime,Racchan Cherry-desu, kensuchan, Mr obsessive, Achiles jr, vodka, Naminamifrid, mega, you, iya baka-san, Ah Rin, Smile delight, Aprilia Yasir, Calico Neko, OnixSafir1023, adora13, n, Anka-Chan. Love you all!

.

PS: Flames will be ignored. Concrits are welcomed. Yang ngajak berantem di kotak review abaikan saja.

.


Forest of No Return

Chapter 1: The Pawns

.

.

.

Lembar kesebelas laporan perincian pengeluaran bulan ini baru saja selesai dibacanya, ketika Sakura merasakan tepukan penuh energi dan semangat di pundaknya. "Hei, Cantik!"

Sakura menoleh dan mendapati salah satu kawan karibnya, Yamanaka Ino, mengedipkan sebelah mata padanya. "Kulihat dietmu sukses," balas Sakura dengan senyuman dan kedipan mata yang sama.

Ino tertawa, menyeret kursi terdekatnya dan mendudukkan dirinya di samping kawan lamanya itu. "Dua kilo dalam sebulan." Jari tengah dan telunjuknya membentuk gestur victory dengan bangga.

Kali ini giliran Sakura yang tertawa.

"Di hari Sabtu yang cerah ini, yang mana seharusnya tak ada seorang pun yang masuk kantor, aku sengaja datang kemari untuk menjumpai sahabatku yang sangat gila kerja agar ia bisa santai sedikit." Ino bicara seraya menganggukkan kepalanya, membuat kuncir panjang rambut pirangnya berayun ringan.

Sakura menggoyangkan jari telunjuknya dan menggeleng. "Tidak ada kata santai di akhir bulan. Semuanya harus selesai sebelum kubalik lembaran kalenderku."

"Tidak harus secepat itu," balas Ino dengan helaan napas panjang. "Lagipula…"

"Lagipula?" Sakura kembali pada laporan-laporannya walau masih memasang kuping untuk si pirang di sampingnya.

"Lagipula akan lebih menarik jika kita membahas tentang Sasuke daripada membaca nominal-nominal memusingkan itu~" Ino sengaja mengalunkan akhir kalimatnya.

Sakura terkejut. "Kenapa dengan Sasuke?" Pandangannya teralih pada sahabatnya itu.

Ino nyengir lebar. "Kau bahkan tidak mengelak mengenalnya."

"Bisa saja kukatakan kalau tidak ada seorang pun yang tidak mengenalnya di seantero Zero," timpal Sakura.

"Tapi tidak kaulakukan," balas Ino masih dengan cengirannya.

Sakura mendengus kecil, tersenyum. "Karena kau akan bilang bahwa sangat memungkinkan sekali aku tidak mengenalnya."

"Tepat." Ino menjentikkan jarinya sambil tertawa. "Kau dan sifat tak acuhmu itu."

Sakura membuka laci meja kerjanya tanpa menimpali cemoohan Ino. Yah, ia sendiri tahu bahwa ia memang kurang peduli pada hal-hal macam itu di lingkungan kerjanya. Baginya bekerja adalah bekerja. Dan ia datang ke kantornya setiap pagi untuk bekerja, bukan untuk menggaet pria.

"Seperti yang kau tahu, dan aku yakin kau masih ingat, aku pernah mengencani salah satu di antara mereka." Ino kembali bicara setelah menarik napas usai puas dengan tawanya. "Enam sekawan itu, maksudku."

"Enam sekawan?" Sakura mengangkat sebelah alisnya, menoleh pada lawan bicaranya itu.

"Sai?" Ino memiringkan kepalanya sedikit, bermaksud mengingatkan Sakura. "Sai yang putus denganku karena aku tahu dia tidak menyukaiku."

"Reputasi mereka seburuk itu?" Sakura menemukan apa yang dicarinya di dalam laci dan bergumam.

"Tidak, tidak juga." Ino menggelengkan kepalanya. "Mereka hanya kumpulan laki-laki tampan yang sulit ditebak. Itu saja."

'Itu saja' yang sangat tidak meyakinkan.

"Kalau boleh kukatakan," lanjut Ino setelah tak mendapat komentar balasan dari Sakura, "di antara keenam sekawan itu, yang paling tidak kurekomendasikan menjadi pacarmu adalah si Sasuke itu."

Sakura mengerutkan keningnya, terhenti dari gerakannya menempelkan post-it note yang ditemukan dari dalam laci mejanya pada halaman laporan di hadapannya.

"Dia sangat sombong," terang Ino.

Sakura berdengus tertawa dan berujar, "Tidak seperti yang kulihat."

"Dia baik padamu karena kau cantik," potong Ino cepat. "Mungkin kau tidak tahu, tapi dia hanya baik pada sahabat-sahabatnya atau pada gadis cantik. Dia adalah orang paling tidak tulus yang eksis di muka bumi."

Sakura mengulum senyum menanggapi celotehan kawan karibnya yang tampak bersemangat sekaligus emosi itu. "Sepertinya ada yang pernah punya pengalaman buruk dengannya, di sini?"

Ino terbatuk dan mengibaskan tangannya. "Tidak, kok. Sama sekali tidak."

"Kau tidak akan berkata bahwa seseorang itu sombong dan tidak tulus jika tidak ada alasannya, kan?" Sakura memancingnya dengan nada canda.

Lagi-lagi Ino menggeleng dan menghindar. "Tidak ada. Hanya pengamatanku saja. Dan… yah, pendapat orang bisa berbeda. Aku tidak menyuruhmu berhenti dekat dengannya, tapi aku hanya bilang aku tidak merekomendasikannya."

Sakura hanya bergumam.

Keheningan canggung yang menguar di atmosfir membuat Ino memutuskan untuk beranjak dari kursi yang didudukinya dan mengembalikan kursi itu kembali ke tempatnya semula. "Seseorang akan sadar bila aku terlalu lama meninggalkan mejaku," katanya sembari melenggang pergi.

Sakura tersenyum dan melambaikan tangan. "Selamat berkutat dengan program."

Ino mengedipkan sebelah matanya melalui celah bahunya dan menghilang di belokan.

Sakura sudah hendak kembali melanjutkan aktivitas membaca laporannya, ketika kepala bulat telur Ino yang pirang muncul kembali dari sudut belokan tempatnya tadi menghilang. Rambut pirang panjangnya menjuntai hampir menyentuh lantai dalam posisinya seperti itu.

"Yang harus kauingat, jangan pernah langsung percaya dengan apa pun yang diucapkan Uchiha Sasuke," kata Ino sebelum menarik kepalanya cepat dan kembali lenyap dari pandangan.

Sakura memainkan pulpen di tangannya.

.

.

.

.

"Siapa lagi yang kauberitahu." Sakura tak menyamarkan nada mendesaknya sama sekali.

Shikamaru yang berbicara dengannya di seberang saluran telepon hanya melenguh penuh sesal. "Cuma Ino. Sumpah. Aku tidak memberitahu yang lainnya lagi."

Sakura menghela napas. Yah, bagaimanapun, Ino adalah kawan karibnya. Pada akhirnya berita ini pasti akan sampai juga ke telinganya.

"Ino tak masalah. Tapi aku tidak ingin yang lainnya tahu mengenai kedekatanku dengan Sasuke. Aku tidak mau orang berpikir macam-macam," tegas Sakura.

"Tentu sampai orang berpikir bahwa kaulah yang mengejar Sasuke dan bukan sebaliknya," timpal Shikamaru dengan nada mantap. Dapat Sakura bayangkan juniornya itu tengah mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Kita harus tetap membuat citra bahwa Sasukelah yang tertarik padaku. Dan tidak sebaliknya," lanjut Sakura.

Atau ia yang akan kalah dalam permainan ini, jika ini semua memang hanya permainan.

"Tentu saja," ulang Shikamaru.

Sakura menghela napas lagi. "Aku tidak mau ditertawakan jika ternyata Sasuke hanya main-main denganku dan aku beranggapan lebih."

Lagi-lagi Shikamaru mengiyakan.

Sakura berpikir sejenak sebelum kembali melanjutkan, "Bagaimana pendapatmu tentang Sasuke?"

Hening.

"Shikamaru?"

Terdengar suara batuk dari seberang saluran telepon. Shikamaru tertawa kecil sebelum menjawab, "Kenapa? Kau tertarik padanya? Jadi sekarang kau tertarik?"

"Ino bilang di antara keenam sekawan itu, Sasukelah yang paling tidak dia sukai. Dan aku tahu Ino punya alasan," terang Sakura tanpa mengindahkan lelucon Shikamaru. "Ino hanya tidak mau mengatakannya."

Gumaman Shikamaru terdengar untuk beberapa saat. "Dia baik, si Sasuke itu. Sangat menyayangi ibunya. Dan dia juga cerdas."

Sakura masih diam mendengarkan, hingga setelah beberapa saat Shikamaru tak melanjutkan apa-apa lagi. "Itu saja?"

"Kau harus menilainya sendiri," ujar Shikamaru dengan nada santainya yang biasa. "… Aku tidak terlalu dekat dengannya. Maaf, ya. …Semoga sukses."

.

.

.

.


Tidak Ino maupun Shikmaru yang memberinya informasi jelas. Sakura yakin pasangan kekasih itu dengan sengaja menyembunyikan sesuatu (atau mungkin malah beberapa hal) darinya.

Jika keduanya tutup mulut, maka ia akan mencari tahu sendiri.

"Maaf, lama menunggu?" Sebuah suara lembut namun penuh daya tarik menyeruak.

Sakura mengangkat kepalanya, tersenyum seraya mempersilakan tamunya itu duduk di hadapannya.

"Aku senang sekali kau menerima permohonan bantuanku," ujar pemuda berambut cokelat panjang itu setelah menyamankan diri di kursinya.

Sakura tersenyum dan menyodorkan buku menu pada tamunya itu. "Seperti yang kubilang, dengan senang hati."

"Aku mau hot macchiato." Sang tamu bicara tanpa melirik pada buku menu yang Sakura sodorkan sama sekali. Kedua tangannya mengeluarkan benda putih persegi dari dalam tas kulit lebarnya.

Sakura menatap laptop yang baru saja diletakkan di atas meja makan di hadapannya. Hyuuga Neji ini tipikal orang yang senang segala sesuatunya langsung pada intinya, rupanya.

"Sebenarnya aku sedikit malu saat meminta bantuanmu waktu itu. Terlebih, kita bahkan hanya saling tahu nama dan tidak saling mengenal," pemuda berambut cokelat panjang itu kembali angkat bicara. "Syukurlah kau tidak menganggap hal itu aneh dan mau membantuku."

Sakura memanggil pelayan dengan isyarat tangannya. "Kau meminta dengan baik untuk hal yang sangat bisa kulakukan. Tidak ada alasan untuk menolak," sahutnya masih dengan senyuman.

Laptop yang telah menyala dan siap digunakan itu diputar hingga layarnya mengarah pada Sakura. "Silakan diperiksa."

Lima puluh menit telah dilalui dengan diskusi mengenai isi draft tesis buatan Hyuuga Neji yang siang ini jadi partner makan siang Sakura di coffee shop seberang kantornya.

Sesuai penilaiannya di Kuala Lumpur tempo hari, Hyuuga Neji memanglah orang yang menyenangkan untuk diajak mengobrol dan berdiskusi. Pembawaannya yang ramah dan tenang membuat siapa pun akan dengan mudah membaurkan diri mereka dengannya.

Dibandingkan dengan Sasuke, Sakura paling sering melihat Neji. Bahkan sebelum ia saling bertukar salam dengan pemuda berambut cokelat itu.

Seperti Sasuke, Neji juga tidak bekerja satu gedung dengan Sakura. Namun Neji yang berkantor di Shinjuku lebih sering dilihat oleh Sakura yang berkantor di Nakano. Baik itu pada acara rapat, maupun perjumpaan secara tidak sengaja saat singgah di kantor masing-masing.

Neji, bersama dengan Sasuke dan Sai—yang adalah mantan kekasih Ino, adalah tiga dari enam sekawan yang disinggung Ino. Tidak ada nama khusus yang diberikan pada keenam pemuda tampan yang bersahabat ini, selain julukan yang diberikan secara random oleh orang-orang di sekitar mereka. Dari Anggota Boyband hingga Para Pangeran. Yang mana kesemuanya terdengar menggelikan, bahkan mungkin bagi keenam pemuda itu sendiri.

Tidak terlalu banyak kabar yang beredar mengenai keenam orang itu, selain bahwa mereka adalah sahabat yang telah lama saling mengenal. Mereka tidak terlalu membaur dengan orang lain di luar lingkup persahabatan mereka, namun beberapa di antaranya masih biasa berakrab-akrab dengan pegawai yang lainnya. Contohnya seperti Hyuuga Neji ini.

"Terima kasih banyak, kau sangat membantu." Neji tersenyum dan menutup laptopnya setelah memastikan benda itu telah dimatikan.

"Tak masalah. Pembukuan memang bidangku," sahut Sakura, juga dengan senyuman.

"Kurasa saatnya makan. Setelah otak kita bekerja keras," Neji memanggil pelayan. "Mau makan apa? Kutraktir sebagai ucapan terima kasih," lanjutnya ramah.

Bukan rasa lapar yang membuat Sakura bertahan di tempat itu dengan risiko dipergoki tengah makan siang berdua dengan Hyuuga Neji oleh teman-teman sejawatnya yang akan bergosip tentangnya. "Beef cordon bleu." Ia ingin mencari tahu tentang Sasuke.

Sakura menatap lawan bicara di hadapannya, yang kini tengah memesan makanan dan minuman pada pelayan. Tak pernah sedikit pun terpintas di benaknya bahwa akan ada saat dimana mereka duduk bersama dan menyantap makanan di meja yang sama sekali lagi.

Ia masih ingat betul, hari kedua kedatangan rombongan wisata kantornya di Kuala Lumpur itu hujan deras kembali mengguyur bumi Selangor seperti saat kedatangan mereka.

Meja-meja bundar besar bertaplak putih bersih dihiasi perabot makan keperakan, bersama gelas-gelas kaca dan piring porselen putih. Ruang makan hotel tampak ramai dengan senda gurau rekan-rekan kantornya yang melepas lelah dan memutuskan untuk menghapus lapar dan dahaga.

Kursi di samping tempat Sakura duduk ditarik keluar dari dalam meja bersama dengan menyeruaknya suara lembut seseorang yang asing baginya.

Sakura mendongak ke arah sumber suara dan mendapati Hyuuga Neji di sana, tersenyum menunggu jawabannya.

"Silakan, kursi itu kosong," jawab Sakura sembari menganggukkan kepalanya memberi gestur sopan.

Gadis yang duduk di sisi lain Sakura angkat bicara penuh semangat, "Tidak dengan teman-temanmu, Neji?"

Neji tersenyum dan menggeleng. "Mereka makan di luar." Diletakkannya piring berisi sepotong roti panggang, telur mata sapi goreng, dua buah sosis bakar, dan segelas jus alpukat di atas meja di samping Sakura.

"Di tengah hujan begini, memang lebih asyik makan di hotel saja." Gadis bercepol di samping Sakura itu kembali menimpali di antara suapan cream soupnya.

Hanya anggukan disertai tawa renyah yang didapat gadis itu dari si pemuda berambut cokelat panjang.

"Oh, bagaimana dengan tesismu?" Gadis itu mulai lagi. "Sakura ini yang mengurus pembukuan perusahaan kita. Jika ada yang tidak kau mengerti tentang akuntansi, tanya saja dia." Gadis itu menepuk pundak Sakura riang.

Sakura menaikkan sebelah alisnya, tak menimpali.

Neji menoleh pada Sakura, dan tanpa disangkanya menyebutkan namanya. "Haruno Sakura, ya? Aku sudah dengar. Shikamaru juga menyarankanku untuk datang pada Haruno jika aku butuh bantuan."

Sakura menganggukkan kepalanya setelah menelan makanan yang dikunyahnya, balas menoleh pada Neji dan tersenyum canggung. "Silakan."

"Neji ini sedang menyusun tesis yang bahkan ia sendiri tidak begitu paham. Kau tahu, dia kuliah S2 walau nyaris tidak pernah masuk di jam kuliah." Gadis bercepol di samping Sakura tertawa.

"Semua orang sibuk," bela Neji, juga dengan tawa khasnya.

"Karena sebentar lagi kau akan menyandang gelar master, kutunggu traktiran untuk syukuranmu itu." Gadis bercepol itu memainkan sendok sup di tangannya.

"Yang pertama akan kutraktir adalah Haruno, jika ia membantuku dalam tesis ini." Neji mengerling pada Sakura.

Sakura tersenyum. "Mungkin aku akan pesan makanan yang sangat mahal," candanya.

Neji tertawa kecil dan berkata bahwa ia tidak keberatan.

Percakapan singkat di ruang makan hotel di Bukit Bintang itu berakhir setelah Sakura dan Neji saling bertukar nomor telepon dan Neji berkata bahwa ia akan menghubungi Sakura saat ia butuh bantuan.

Dan saat ini adalah saat yang dimaksud Neji.

"Sakura?" Suara Neji menghenyakkan Sakura dari lamunannya akan perkenalan mereka minggu lalu.

Sakura mengerjap. "Ah. Beef cordon bleu dan orange carrot juice," ujarnya cepat.

Neji mengangkat sebelah aslinya, namun tak berkomentar. Mengulang pesanan Sakura pada pelayan yang berdiri memegang tablet di sampingnya.

"Aku mengenal seseorang yang sangat menyukai orange carrot juice hingga tak pernah absen memesan minuman itu setiap kali datang kemari." Neji membuka suara setelah pelayan itu mengetik semua pesanan mereka di tabletnya dan berlalu pergi.

"Siapa?" Respon yang wajar meluncur dari bibir Sakura yang asyik memperhatikan sekelilingnya.

"Hinata, pacarnya Naruto."

Sakura mengerjap.

"Tidak tahu? Yang jadi payroll supervisor di kantor agen Toshima." Neji tersenyum entah kemana. Mungkin membayangkan gadis dalam ucapannya itu.

"Aku tidak terlalu mengenal pegawai lain yang tidak di kantorku sendiri." Sakura tersenyum dan berusaha tidak terdengar tak acuh.

"Dia sepupu jauhku," lanjut Neji.

Dan Sakura hanya bisa membulatkan bibirnya membentuk huruf o.

"Setiap kali datang kemari, Hinata selalu memesan orange carrot juice. Mungkin karena Naruto sangat suka warna oranye?" Neji tertawa geli dengan candaannya sendiri. "Kurasa tidak," sanggahnya sendiri.

"Aku juga suka. Rasanya segar dan tidak terlalu manis. Cocok untuk cuaca panas," timpal Sakura. "Tidak akan membuatku tambah haus."

Neji mengangguk. "Dia juga mengatakan hal yang persis demikian."

Pelayan datang membawakan sajian pesanan, namun yang berputar di kepala Sakura adalah informasi bahwa Naruto juga merupakan salah satu di antara enam sekawan itu. Jadi kini telah ada Sasuke, Sai, Neji, dan Naruto.

Ia pernah mendengar dua nama lainnya yang termasuk dalam kawanan itu, namun tidak terlalu mengindahkannya. Baginya kelompok laki-laki tampan dan populer sudah bukan zamannya lagi—di masa kerja seperti ini. Hal macam itu hanya terdengar seperti dongeng lama anak sekolah atau kuliahan.

Dan sekarang ia sedikit menyesal tidak pernah menyimak ataupun peduli pada kabar-kabar yang beredar mengenai enam sekawan ini.

"Ada lima orang, ya? Teman dekatmu?" Sakura memberanikan diri bertanya tanpa berpikir dua kali. Rasanya, ia akan ragu dan gengsi jika berpikir dulu sebelum bertanya.

Neji mengaduk melon sodanya dengan segaris tipis senyuman. "Ya."

"Siapa saja? Rasanya banyak orang membicarakan kalian, tapi aku tidak ingat." Sakura memilih jujur. Digunakannya nada sepolos mungkin agar tidak terasa ia tengah mengorek informasi.

"Hmm…" Neji menyesap minumannya sejenak. "Naruto, Sai, Gaara, Suigetsu, dan Sasuke."

Dipatrinya nama-nama itu dalam tempurung kepala Sakura.

"Semuanya ramah sepertimu?" Sakura tidak berhenti sampai di situ.

Neji memandanginya dengan sedotan soda di mulutnya. Tak menyahut untuk beberapa saat.

"Tentu saja. Kami sangat menghargai persahabatan ini," ujar Neji sesaat kemudian.

Dan Sakura tak luput menyadari bahwa Neji tidak mengatakan keramahtamahan kelima orang itu tertuju pada orang-orang selain mereka sendiri.

"Kalian terlihat sombong, menjaga jarak dengan orang lain," kata Sakura lagi, masih dengan nada polosnya.

Neji terkekeh pelan. "Bukan sahabat namanya jika tidak diistimewakan, kan?"

Jadi mereka memang hanya baik pada sesama mereka saja. Sakura mencatatnya.

"Tapi kau tidak seperti yang kubayangkan," aku Sakura. "Kau lebih ramah dan supel. Mudah bergaul dengan siapa saja."

"Itu pujian?" Neji tersenyum dan meraih alat makannya.

Tiba-tiba saja terlintas dalam benak Sakura, kemungkinan bahwa Hyuuga Neji yang tengah duduk di hadapannya ini mengetahui kedekatannya dan Sasuke. Yang artinya, jika ia dengan sengaja bertanya-tanya tentang Sasuke, akan sampai ke telinga Sasuke.

Kembali pada rencana awalnya bahwa ia akan tetap berada di posisi 'menyambut' Sasuke, Sakura memilih untuk tidak memperlihatkan ketertarikannya pada pada Sasuke itu terhadap siapapun. Termasuk Hyuuga Neji itu.

"Karena Hinata yang tadi kau sebut itu adalah pacar Naruto, kalian semua baik padanya?" Sakura menggunakan pendekatan lain.

"Tentu saja." Neji menjawab di sela kunyahan rib steaknya yang tampak sangat berbumbu.

Sakura bergumam mengerti. "Dan seandainya mereka putus? Teman-temanmu yang lain akan tetap baik padanya?"

Neji terhenti dari kunyahannya. Menatap Sakura dengan kening berlipat. "Mereka tidak akan putus."

"Oh, tidak, maksudku… Oke, kuganti pertanyaannya. Maksudku… apakah kau dan teman-temanmu masih memperlakukan mantan kalian dengan perlakukan yang sama seperti saat status kalian adalah pacaran?" lekas Sakura meluruskan. Berharap pertanyaannya barusan tidak terdengar membingungkan.

Neji mengangkat bahu. "Tergantung masing-masing orang. Dan tergantung alasan putusnya."

Menjawab rasa penasaran Sakura tentang mengapa Ino tidak akrab dengan lima sekawan lainnya selain Sai.

"Siapa yang paling sering pacaran di antara kalian?" Sakura berusaha agar tak terdengar seperti reporter majalah gosip sebisa mungkin. Disuapnya irisan cordon bleu dengan santai, untuk memberikan kesan bahwa pertanyaan itu dilontarkannya hanya sambil lalu tanpa maksud apa-apa.

"Sasuke," jawab Neji ringan.

.

.

.

.


Acara karaoke yang awalnya dijadwalkan siang itu diundur ke malam hari karena adanya panggilan lembur untuk Sakura pagi itu.

Maka di sinilah ia malam ini, dengan jumpsuit hitam berlengan pendek bermodel v-neck yang panjangnya sepuluh senti melewati lututnya. Sebuah aksesori kalung berbandul kerang keperakan menghiasi busana sederhana namun fashionablenya itu.

Ujung hak dan alas sepatu t-strapnya menimbulkan irama ketukan samar saat beradu dengan lantai mosaik gedung karaoke yang ramai.

Getaran di ponselnya membuat Sakura melambatkan sedikit tempo berjalannya dan meraih ponselnya. Nama yang sangat familiar belakangan ini tertera di layarnya.

"Aku sudah sampai," ujar Sakura setelah menerima panggilan tersebut tanpa menunggu si penelepon bicara duluan.

"Aku melihatmu." Sasuke menimpali dari saluran telepon. "Lihat kiri. Arah jam 10."

Sakura mengikuti instruksi lawan bicaranya itu, dan menemukan sosok yang dicarinya. "Aku melihatmu," balasnya sambil tersenyum.

Sasuke melambaikan tangan dari tempatnya duduk—sofa empuk berbalut beludru putih gading di ruang tunggu tamu. Sekaleng kopi susu tampak bertengger di tangannya yang lain.

Sakura mengubah arah dan berjalan menghampirinya.

"Lama menunggu?" Sakura membuka percakapan setelah ia sampai ke tempat Sasuke.

"Tidak juga. Aku yang datang terlalu cepat. Aku terlalu antusias," ujar Sasuke itu dengan senyum khasnya yang tak mudah dilupakan orang.

Sakura hanya tertawa, tidak ingin terlihat senang dengan rayuan Sasuke. "Gombal seperti biasa."

Sasuke balas tertawa, beranjak dari tempatnya duduk dan memasukkan kaleng kopi susunya pada tempat sampah di dekatnya. "Ayo. Sebelum malam semakin larut dan seseorang di rumahmu memaksamu pulang." Sasuke mengulurkan tangannya.

Sakura menggamit uluran tangan Sasuke dan berjalan bersisian menuju resepsionis untuk memesan bilik karaoke layaknya sepasang kekasih.

.

.

.

.

.

*** To be Continued… ***