Title : Forest of No Return
Author : Ninja-edit
Fandom : Naruto
Disclaimer : Semua tokoh dalam kisah ini adalah milik Masashi Kishimoto; Author tidak menerima profit dalam bentuk materi dari kisah ini.
Genre : Drama/Romance
Main Pairing : SasuSaku
WARNING : AU; OOCness (lihat penjelasan di chapter prolog)
NOTE : Diucapkan terima kasih untuk yang masih mengikuti fic ini, terutama yang kasih feedback di chapter lalu. Semoga alurnya dapat terus dinikmati sampai selesai. ;)
Review yang saya anggap jawabannya perlu diketahui pembaca lain, akan saya jawab di bagian bawah akhir chapter ini. Silakan disimak yaa. :)
Review yang memancing keributan dengan pembaca lain akan dihapus. Terima kasih atas dukungan dan semangatnya, mohon lain kali agar menghindari konflik pairing dalam kotak review. :)
.
Bagi yang belum membaca ETA di chapter lalu mengenai penjelasan pairing akhir fic ini, silakan dicek ya. :) Saya edit beberapa saat setelah di-publish-nya chapter tsb. Mungkin ada yang melewatkannya karena baca duluan sebelum diedit.
.
Special Thanks to: richamen, Calico Neko, sh always, zuka, ssl, Ah Rin, Asterella Roxanne, Oh Haneul, Mr obsessive, Aiko Asari, sugirusetsuna, Anka-chan, iya baka-san, marukochan, RenArdhika, Motoharunana. Cookies for you all! :3
.
.
Flames will be ignored. Concrits are welcomed.
.
.
.
Forest of No Return
Chapter 2: Truth or Lies
.
.
Daun pintu bercat kuning mengilat dibuka bersamaan dengan nada ramah sang pelayan yang mempersilakan Sakura dan Sasuke memasuki bilik karaoke. Ruangan segiempat berukuran tiga kali tiga meter itu hanya berisi sebuah sofa krem gelap, sebuah meja kaca oval dengan dua buah mikrofon bersarung putih bersama sekotak tisyu di atasnya, sebuah mesin pencari lagu berlayarsentuh, dan lampu disko seukuran bola voli di atas ruangan. Dominasi warna kuning, merah muda, dan hijau terang, tampak menghiasi keempat dinding ruangan ber-AC itu. Layar televisi 32 inci menempel di salah satu sisi dinding lengkap dengan rak berisi sound system di bawahnya, berhadapan dengan sofa di sana.
Pelayan itu berlalu setelah Sakura berkata bahwa mereka tidak perlu arahan mengenai pengoperasian alat-alat di sana. Se-pitcher lemon tea dingin dan dua potong sandwich tuna telah dipesan pada si pelayan.
"Kau sering kemari?" Sasuke memulai percakapan sesaat setelah pelayan itu menutup pintu bilik mereka. Tangannya memutar alat penurun intensitas pencahayaan di ruangan itu, hingga suasana di sana menjadi temaram.
"Kadang-kadang, dengan teman-temanku," sahut Sakura seraya menekan menu Lamp dan memilih mode Randomization. Seketika lampu disko di atas ruangan memancarkan cahaya warna-warni yang berputar-putar dalam ruangan temaram itu.
Sasuke kembali duduk di sofa bersamanya, menggeser layar mesin pencari lagu di hadapan Sakura. "Kau suka lagu apa? Lokal? Luar?"
"Yang manapun," jawab Sakura. "Kau boleh pilih duluan. Karena kau bintang tamunya," lanjutnya dengan nada canda. Sasuke tertawa kecil.
Satu, dua, tiga, satu per satu lagu telah dipilih dan dimasukkan ke dalam song list. Lagu pertama adalah Sekai ni Hitotsu Dake no Hana dari SMAP, pilihan Sasuke. The One and Only Flower in The World.
Terbersit dalam benak Sakura, kepada siapa lagu itu ditujukan.
Mungkin Sasuke menyanyikan lagu yang ia sukai sambil lalu. Mungkin ia hanya sedang ingin menyanyikan lagu itu. Mungkin lagu itu memberi kenangan menyenangkan baginya. Mungkin, mungkin, mungkin. Ada banyak kemungkinan.
Namun tak dapat dipungkiri, apa pun yang ada dalam kepala Sasuke saat menyanyikan lagu itu, ia membawakannya dengan sangat bagus dan penuh penghayatan. Rupanya Sasuke tidak bohong ketika ia bilang ia sangat menyukai musik dan mahir di bidang itu.
Sesekali Sasuke melirik pada Sakura seraya tersenyum melantunkan lirik lagu tersebut, walau kemudian pandangannya beralih kembali pada layar karaoke.
Lagu kedua adalah Sakura Modern dari Alan yang dipilih oleh Sakura. Ia tidak cukup pandai menyanyi, namun baginya karaoke bukanlah ajang pencari bakat yang harus dilakukan dengan sungguh-sungguh dan penuh perjuangan. Karaoke adalah tempat menyanyi dan berekspresi sebebas mungkin melalui lagu. Sumbang atau tidak suara seseorang dalam bilik karaoke, tak jadi soal. Tidak akan ada yang menilai dan mengejek.
Ketukan sopan di pintu menandakan kedatangan si pelayan bersama pesanan mereka. Pelayan itu kembali lenyap dari pandangan setelah menata sandwich dan lemon tea di atas meja.
Lagu demi lagu telah bergantian dinyanyikan oleh keduanya, dan beberapa di antaranya dinyanyikan bersama secara duet. Sandwich dalam piring sajinya telah berpindah ke dalam perut masing-masing, dan lemon tea dalam pitcher-nya telah tandas—menyisakan gelas-gelas kosong berembun.
Sakura tengah tertawa kecil menanggapi gurauan Sasuke, ketika melihat sekumpulan gadis muda tengah asyik berfoto bersama di lorong menuju lobi resepsionis setelah melalui dua jam kebersamaan penuh musik dan canda dalam bilik karaoke.
Sasuke ikut melihat arah pandang Sakura dan berkomentar, "Lihat mereka. Konyol sekali, cekikikan dan sibuk mencari angle yang tepat untuk mendapat foto bagus diri mereka sendiri. Kutebak, setelah ini mereka akan memajangnya di akun-akun media sosial mereka. 'Hai, aku sedang di tempat karaoke.' dan semacamnya."
Sakura menahan tawa, menyikut Sasuke. "Mereka bisa mendengarmu."
Sasuke menarik sudut bibirnya dan mengangkat bahu tak acuh. Ia senang mengatakan apa pun yang ada dalam pikirannya walau itu tak enak didengar bagi orang lain.
"Kemana kita sekarang?" Sakura meletakkan uang bagiannya di atas meja resepsionis setelah ngotot ingin bayar patungan dengan Sasuke.
Sasuke tampak berpikir sejenak sebelum menjawab sembari memasukkan uang kembalian ke dalam dompetnya. "Kuantar kau pulang? Sudah terlalu larut. Kita bisa pergi menonton dan makan siang besok, kalau kau mau," ujarnya dengan senyuman.
Sakura mengangguk. "Aku memang lelah. Saatnya istirahat," balasnya juga dengan senyuman. "Tapi aku tidak janji untuk besok, aku ingin istirahat seharian. Minggu ini cukup melelahkan di kantor bagiku. Mungkin lain kali."
"Sayang sekali." Sasuke menimpali dengan ekspresi kecewa. "Minggu depan, kalau begitu?"
"Kulihat jadwalku nanti." Sakura mengedipkan matanya dan tertawa kecil.
.
.
.
.
.
Perjalanan menuju rumah Sakura diisi dengan obrolan-obrolan ringan seputar hal-hal yang terjadi di kantor, menu sarapan favorit, restoran favorit, hingga akhirnya Sakura memberanikan diri memulai rencananya mengorek informasi yang belakangan ini membuatnya penasaran.
"Ne, Sasuke…" Sakura mulai. "Kau pernah bilang, kau sudah lelah berganti-ganti pacar. Aku jadi berpikir, apa yang membuatmu berulang kali mengganti pacarmu? Hanya karena tidak cocok lalu kau memutuskan untuk mengakhir hubungan kalian?"
Ada jeda sejenak sebelum Sasuke angkat bicara, fokus mata masih tetap menatap jalanan di hadapannya. "Ada bermacam-macam alasan. Ketidakcocokan, perselingkuhan, macam-macam." Dari caranya bertutur, seolah ia tak begitu ambil pusing dengan hal-hal yang diungkapkannya barusan.
Sakura mengerutkan keningnya. "Kau selingkuh?"
Sasuke menarik sudut bibirnya sebelum menyahut, "Tidak. Semua gadis yang kupacari, pada akhirnya selalu minta putus dariku. Aku sangat menyukai mereka, tapi semuanya pergi. Bahkan ada yang sekarang jadi pacar sahabatku."
Kontan saja jantung Sakura berdebar entah karena apa. Siapa yang dimaksud oleh Sasuke? Apakah Hinata yang saat ini adalah pacar Naruto adalah mantan kekasihnya yang masih ia sukai? Apa Hinata berselingkuh?
"Kau kenal Temari? Sales officer di kantor agen Shibuya?"
"Eh?" Sakura masih larut dalam pertanyaan-pertanyaannya sendiri untuk memberikan respon yang lebih baik.
"Dia pacar terakhirku sebelum sekarang." Sasuke melanjutkan ringan.
Sakura mengerjap.
"Dua minggu setelah hari jadi kami, dia minta putus. Belakangan baru kuketahui bahwa beberapa saat sebelumnya ia sedang dekat dengan Suigetsu," terang Sasuke dengan nada canda—walau sama sekali tak terdengar lucu di telinga Sakura.
"Dia… berselingkuh?" Sakura berusaha bertanya dengan hati-hati tanpa menyinggung perasaan lawan bicaranya itu.
Sasuke melirik sejenak dan mengulum senyum. "Bisa dikatakan demikian. Benar-benar rekor. Baru kali itu aku pacaran hanya dua minggu saja. Bayangkan. Dua minggu."
Dan tentunya ada alasan yang membuat hal itu terjadi, pikir Sakura.
"Dalam dua minggu ia telah berselingkuh dengan… Suigetsu itu?" Ingatan Sakura memberitahunya bahwa Suigetsu yang tengah disinggung Sasuke ini adalah salah satu dari kelompok enam sekawannya.
"Satu minggu setelah aku pacaran dengan Temari, Suigetsu dimutasi dari kantor agen asalnya bersama Neji di Shinjuku, ke Shibuya," ujar Sasuke. "Dari yang kudengar, sepertinya mereka sering bersama dan sangat akrab. Sampai akhirnya Temari minta putus dariku."
Kerutan di kening Sakura belum lenyap. "Lalu? Setelah putus denganmu, ia berpacaran dengan Suigetsu itu?"
Sasuke memutar setir di tangannya, membelokkan mobil yang mereka tumpangi mengikuti kelokan jalan yang mulai sepi. "Tidak. Setelah itu, Suigetsu dekat dengan gadis lainnya, bukan dari Zero. Karin atau semacamnya, tidak terlalu kuingat."
"Dan Temari?" Sakura bertanya sebelum sempat berpikir. Tak peduli walau terdengar terlalu ingin tahu.
"Terakhir aku melihatnya, saat hari ulang tahunnya tiga bulan lalu. Aku sedang menitipkan kado ulang tahun untuknya pada Suigetsu, ketika ia tiba-tiba muncul dan kami bertatap muka."
Sakura kembali mengerjap. "Sebentar, sebentar. Kau putus dari Temari karena—sedikit banyak—kehadiran Suigetsu di antara kalian berdua, lalu di hari ulang tahunnya kau memberinya sebuah kado? Dititipkan pada Suigetsu?" Semuanya terdengar tak masuk akal bagi Sakura.
"Saat itu aku masih sangat suka pada Temari. Tentu saja aku ingin menghadiahkan sesuatu di hari kelahirannya," ujar Sasuke dengan nada yang seolah berkata bahwa satu tambah satu adalah dua.
Sakura menggeleng cepat. "Tapi itu tidak masuk akal. Lagipula, kau menitipkannya pada orang yang membuatmu putus dengan Temari itu," katanya tak sabar.
Sasuke mendengus, tertawa kecil. "Suigetsu adalah sahabatku. Dan ia satu kantor dengan Temari. Pada siapa lagi harus kutitipkan kado itu?"
"Tapi ia merebut Temari darimu." Sakura tak menyadari intonasi suaranya yang sedikit meninggi. Baginya ini semua terlalu membingungkan.
"Aku tidak tahu kenapa Suigetsu melakukannya. Tapi itu tak mengubah fakta bahwa ia adalah sahabatku. Anggap saja Temari sudah bosan padaku dan beralih pada Suigetsu," terang Sasuke ringan dengan nada tak acuh dan bahu yang terangkat naik.
Lipatan di kening Sakura kian bertambah.
"Kalian sangat aneh. Kau dan teman-temanmu." Sakura bergumam setelah menghela napas. Sepertinya apa pun yang dikatakannya, bagi Sasuke tindakannya sendirilah yang paling benar.
"Kau kenal dengan yang lainnya?" Sasuke menoleh padanya sembari mengubah gigi mobilnya.
"Tidak juga. Hanya pernah mengobrol dengan Neji," jawab Sakura. Ia memilih jujur, daripada memunculkan kemungkinan buruk yang ia sendiri enggan membayangkan.
"Oh, ya?" Sebelah alis Sasuke terangkat naik. "Apa yang kalian bicarakan?"
Sakura memoleskan senyum di bibirnya untuk mencerahkan suasana yang sesaat sebelumnya sempat penuh dengan tanda tanya itu. "Pembukuan. Neji membutuhkannya untuk tesis yang sedang digarapnya."
"Itu saja?" Sasuke bicara tanpa melepaskan pandangannya dari jalanan.
"Dan beberapa obrolan ringan," sahut Sakura. "Aku satu meja dengannya saat makan siang hari kedua di Kuala Lumpur minggu lalu."
Sasuke terlihat sedikit terkejut. "Oh, ya?" Ia tampak seperti mengingat-ingat sebelum kembali buka suara, "…Ah. Benar juga. Saat itu hujan sedang turun dengan lebatnya, ya. Aku dan yang lainnya nekat memanggil taksi dan makan siang di luar karena jenuh di hotel. Tapi Neji tetap tinggal."
Sakura mengangguk. "Begitulah. Dan ia duduk di sebelahku."
Sasuke bergumam sejenak. "Seandainya saat itu aku juga tidak makan di luar dan tinggal di hotel bersama Neji, apa itu artinya aku akan bertemu denganmu?"
Sakura tak pernah memikirkan kemungkinan itu, tapi kalau dipikirkan sekarang…
"Dan aku bisa berkenalan lebih cepat denganmu," lanjut Sasuke dengan nada sesal dalam tawa renyahnya.
Sakura hanya menanggapi dengan tawa, sebelum larut dalam pikirannya sendiri.
Beragam informasi terangkai dalam benak Sakura, seolah potongan demi potongan puzzle itu mulai menampakkan gambar asalnya. Pertama, memang benar bahwa Sasukelah yang sangat sering berganti pacar di antara keenam sekawan. Tapi, menurut pengakuan Sasuke, itu karena para gadisnyalah yang meminta putus. Ia tidak pernah memutuskan mereka.
Kedua, selalu ada api kalau ada asap. Pastilah ada alasan kuat yang membuat mantan-mantan Sasuke itu memilih untuk berpisah dengannya. Dari cerita Sasuke, jelas bahwa ia selalu menyukai pacar-pacarnya itu dan akan melakukan banyak hal untuk menyenangkan mereka. Sasuke juga tampan, cerdas, pandai menyanyi, mahir olahraga. Rasanya cukup sulit membayangkan seorang gadis yang diberikan segalanya oleh Sasuke malah meminta mengakhiri hubungan istimewa mereka. Pastilah ada sesuatu di balik ini semua.
Ketiga, Sasuke adalah orang yang sangat aneh. Dalam pengakuannya, ia sangat menyukai Temari. Tapi sama sekali tidak marah dan merasa terkhianati saat Suigetsu, sahabatnya sendiri, merebut Temari darinya. Terlebih lagi, saat ini justru Suigetsu malah berpacaran dengan gadis lain dan meninggalkan Temari. Sasuke punya lebih dari satu alasan untuk menonjok muka Suigetsu, kalau ia mau. Namun tak dilakukannya.
Keempat, tampaknya Sasuke dengan mudah menceritakan tentang pengalaman pribadinya sendiri pada orang lain—atau pada Sakura, paling tidak. Di satu sisi mungkin ini menguntungkan bagi Sakura, karena ini artinya ia akan dengan mudah mendapatkan informasi yang diinginkannya. Namun di sisi lain, ucapan Ino cukup mengusik pikirannya. Jujurkah semua yang dikatakan Sasuke padanya?
"Sakura?" Suara Sasuke mengembalikannya pada kenyataan.
Sakura terhenyak. "Ah. Maaf, aku mengantuk." Ia mencari alasan, berusaha agar tidak terdengar seperti maling yang tertangkap basah.
Sasuke menunjuk rumah di samping pintu tempat Sakura duduk dengan dagunya. "Kita sudah sampai di depan rumahmu."
Sakura memberikan senyum terbaiknya. "Terima kasih. Hari ini sangat menyenangkan."
Sasuke membalas senyumnya. "Akan selalu ada kencan yang kedua, ketiga, dan selanjutnya."
Sakura tertawa sebelum keluar dari mobil, merasakan angin malam yang dingin membelai lembut sekujur tubuhnya. Ia berbalik sejenak sebelum membuka gerendel gerbang rumahnya dan melambaikan tangan pada Sasuke yang masih di dalam mobil. Sasuke balas menganggukkan kepala padanya, walau tampaknya gesturnya itu tak dapat dilihat oleh teman kencannya itu.
Mobil yang dikendarai Sasuke melaju melintasi jalanan aspal hingga menghilang dari pandangan, dan Sakura membuka gerbang rumahnya seraya bertekad untuk mencari tahu lebih banyak mengenai teman kencannya yang tak biasa itu.
Saatnya istirahat dan memulihkan energi.
.
.
.
.
.
"Kau sengaja meneleponku hanya untuk menanyakan itu?" Sakura mengapit gagang telepon di antara pundak dan cuping telinganya. Kedua tangannya sibuk mengetik pada keyboard di atas meja kerjanya.
Suara di seberang saluran telepon terdengar sedikit memelas. "Aku cuma ingin tahu. Wajar, kan? Bagaimanapun, aku yang mengenalkan kalian berdua."
Sakura menghela napas sebelum menimpali, "Kita hanya pergi karaoke. Ini kali kedua kami jalan berdua. Sebelumnya di kafe tempo hari, dan karaoke kemarin. Selebihnya, komunikasi hanya terjadi melalui email." Dan Sakura baru sadar bahwa ia dan Sasuke tidak pernah saling menelepon selain saat janjian dan menanyakan posisi masing-masing.
"Intens?" Suara di seberang telepon bertanya lagi.
"Tiap hari." Sakura mengiyakan, masih sibuk dengan ketikannya. Pandangan mata tak teralih dari layar monitor di hadapannya.
"Siapa yang duluan mengajak bicara?"
Sakura mengerutkan keningnya. "Kadang dia, kadang aku. Siapapun yang lebih dulu punya waktu luang dan mengecek ponsel."
Terdengar gumaman dari saluran telepon.
"Sudah selesai interogasinya, Shikamaru?" Sakura menghela napas lagi. Ia masih punya segunung pekerjaan yang harus kilat diselesaikannya saat ini. Ia sedang tidak mood bermain-main dengan Shikamaru.
"Apa saat ini kau sedang berkirim email dengannya?" Terasa keraguan sesaat sebelum pertanyaan itu dilontarkan. Dan Sakura menangkapnya dengan baik.
"Tidak. Aku sedang banyak pekerjaan," jawab Sakura. "Kenapa?"
"Hmm…" Kali ini Shikamaru tak menyembunyikan kecanggungannya sama sekali. "Karena sekarang, dengan mata kepalaku sendiri, sepuluh meter dariku kulihat Sasuke sedang asyik dengan ponselnya dan sesekali tersenyum samar membaca dan mengetik sesuatu di sana."
Sakura tak menimpali untuk beberapa saat.
"Oh, ya?" Sakura melambatkan tempo ketikannya, tak mampu membagi pikirannya dengan baik saat ini. "Sejak kapan?"
"Tadi pagi." Shikamaru menjawab.
Sakura menghentikan gerakan mengetiknya, meraih gagang telepon di pundaknya dengan tangan kirinya. "Jadi kau bertele-tele dari tadi itu sebetulnya untuk mengetes keadaan, dan akhirnya kau mau bilang bahwa Sasuke sedang berbalas email entah dengan siapa sambil senyum-senyum?"
Shikamaru tertawa miris. "Tidak, maaf. Aku… cuma ingin memastikan." Terdengar helaan napas panjang. "Kau tahu. Aku mulai ragu dengan Sasuke. Mungkin… dia tidak cocok untukmu."
Dahi Sakura mengernyit. "Yang merasa cocok atau tidak adalah aku," ujarnya berusaha tak terdengar membela diri.
"Tidak, tidak. Maksudku… dia kurang baik untukmu. Maksudku, kita tidak tahu apakah dia sungguh-sungguh denganmu atau tidak. Maksudku—"
"Shikamaru," potong Sakura cepat. "Kau lupa bahwa bagiku pun sendiri, semua ini hanya untuk senang-senang. Dengan semua kesibukan dan tuntutan pekerjaan ini, aku merasa jenuh dan butuh hiburan. Aku butuh hiburan, dia butuh hiburan, kenapa tidak?"
Shikamaru terdiam. "Aku tahu," sahutnya beberapa saat kemudian. "Tapi seperti yang kubilang juga, aku tidak ingin melihatmu sakit hati pada akhirnya."
Sakura menggeleng, seolah dengan begitu Shikamaru dapat melihat gesturnya. "Kau tenang saja. Aku tahu permainan apa yang sedang kumainkan. Dan aku sangat hati-hati memainkannya. Untuk membuatmu sedikit tenang, biar kuberitahu bahwa selama ini aku tak pernah menanggapi gombalannya. Aku tidak pernah menunjukkan ketertarikanku padanya. Aku selalu jadi pihak yang menyambut pendekatannya."
Shikamaru menyimak tanpa menyela.
"Kuakui, aku juga menunjukkan perhatianku padanya. Tapi hanya lewat kata-kata, tidak lebih. Hubungan kami saat ini lebih dari teman tapi tidak seperti sepasang kekasih."
"Kau tahu kalau Sasuke sangat narsis, kan?" Kali ini Shikamaru angkat bicara.
"Ya," jawab Sakura.
"Bagaimana jika dia bilang pada teman-temannya—enam sekawan itu—bahwa kaulah yang mengejarnya?"
Ucapan Shikamaru barusan membuat Sakura mengerjap. Tak pernah satu kali pun terpintas dalam benaknya kemungkinan itu. Selama ini tampaknya Sasuke tidak terlalu ingin mengekspos kedekatan mereka, dan bahkan ia tak mengenalkan Sakura pada teman-temannya itu. Rasanya sedikit tidak mungkin Sasuke bicara yang tidak-tidak tentangnya pada mereka.
'Kan?
"Menurutku," ujar Shikamaru lagi, "sebaiknya kau agak membatasi dirimu darinya. Tidak perlu terlalu ekstrim menjaga jarak darinya. Paling tidak, jangan terlalu intens berhubungan dengannya."
Sakura tak merespon, membiarkan Shikamaru menyelesaikan apa pun yang ingin dikatakannya.
"Dengan begitu, kita bisa tahu sesungguhnya bagaimana perasaan Sasuke padamu. Apa yang dipikirkannya tentangmu. Dan apa yang diinginkannya darimu," tambah Shikamaru kemudian.
Sakura bergumam sejenak, mempertimbangkan ucapan juniornya itu. "… Oke. Aku tidak akan langsung membalas email darinya. Akan kuberi jeda beberapa jam setiap akan membalas emailnya. Dengan begitu, tidak akan ada kesan bahwa aku selalu menyisihkan waktu untuknya sekalipun aku sibuk."
"Setuju." Shikamaru menimpali cepat. Dapat Sakura bayangkan lawan bicaranya itu kini tengah mengangguk mantap.
"Akan kulakukan," ulang Sakura lagi. Kemudian seketika terlintas sesuatu dalam benaknya. "Hei, ada yang ingin kutanyakan."
"Ya?" Shikamaru tidak terdengar keberatan.
"Kau tahu Temari? Mantan Sasuke yang terakhir?" Sakura langsung pada inti penasarannya.
Shikamaru terbatuk. "Ya, kenal. Kenapa?"
'Kenal' lebih dari sekadar 'tahu', pikir Sakura. Jadi Shikamaru, paling tidak, pernah beberapa kali bertukar kata dengan Temari itu dan mereka saling mengetahui wajah dan nama masing-masing.
"Kudengar Temari itu putus dengan Sasuke karena berselingkuh dengan Suigetsu, salah satu sahabat Sasuke," lanjut Sakura.
"Siapa yang bilang begitu padamu?" tersirat nada heran dari seberang saluran telepon.
"Sasuke," jawab Sakura apa adanya.
Terdengar gumaman singkat. "Dia menceritakannya padamu, eh. Kupikir ia tidak akan menyinggung mantan-mantannya sama sekali pada orang lain. Terlebih, pada gadis yang jadi incarannya saat ini."
Sakura mengabaikan godaan Shikamaru padanya. "Kau tidak menjawab pertanyaanku."
Tawa kecil menyeruak di telinganya. "Kalau kau mau tahu, kuberitahu yang kutahu," ujar Shikamaru. "Temari ini gadis yang cantik dan penuh daya tarik. Dia tegas, disiplin, dan tidak takut dengan tantangan dari proyek baru yang berat. Kekurangannya, dia sangat galak dan tidak menyukai ketidakteraturan. Hal yang membuatnya sering tidak disukai gadis-gadis lain di kantornya."
Sakura menyimak.
"Saat Temari menerima pernyataan cinta Sasuke, Sasuke menraktir semua orang di sini—di Setagaya, makan siang. Kami semua turut senang," lanjut Shikamaru. "Siapapun tak menyangka bahwa dua minggu kemudian, tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba saja Temari minta putus darinya."
Persis seperti yang diceritakan Sasuke padanya. Sampai situ, Sasuke rupanya memang jujur padanya.
"Untuk mencairkan suasana, bahkan orang-orang di sini bergurau bahwa paket bento makan siang traktiran Sasuke waktu itu mungkin tidak cukup untuk mempertahankan hubungan mereka lebih dari dua minggu. Mungkin ia harus menraktir kami 7 hari 7 malam jika ingin langgeng lama dengan Temari. Dan Sasuke hanya menanggapi gurauan kami itu dengan senyum tipis. Dasar si sok keren itu." Shikamaru tertawa.
Sakura masih dalam diamnya, tak berkomentar.
"Baru beberapa hari kemudian, berhembus kabar bahwa Temari beberapa kali terlihat mengobrol berdua dengan Suigetsu di kantor mereka di Shibuya. Dan rumor mengenai kedekatan Suigetsu menjadi alasan Temari memutuskan hubungan dengan Sasuke mulai beredar. Seolah hal itu sudah jadi rahasia umum."
Diamnya Sakura menandakan ia masih menyimak.
"Beberapa orang di sini menanyai Sasuke perihal rumor tersebut. Benarkah? Apa ia marah dan kesal pada Suigetsu? Apa ia membenci Temari yang berpaling darinya?" Shikamaru melanjutkan. "Dan jawaban Sasuke membuat siapapun terkejut. Dia bilang, ia tidak marah pada Suigetsu. Dan ia tidak membenci Temari. Alasannya? Karena Suigetsu adalah sahabatnya."
Semuanya masih sesuai dengan apa yang Sasuke katakan pada Sakura. Dan Sakura sudah tidak terkejut lagi.
"Kudengar Sasuke membelikan kado yang mahal di hari ulang tahun Temari," kata Shikamaru lagi. "Sepertinya ia memang sungguh-sungguh menyukai Temari. Tapi di sisi lain, jika ia memang sangat menyukainya, seharusnya—dan sudah sewajarnya—ia mempertahankan gadis itu. Bukannya melepaskannya begitu saja. Apalagi, ujung-ujungnya Suigetsu dikabarkan pacaran dengan entah gadis darimana. Dan Temari sendirian, tidak dengan siapa-siapa."
Sakura memahami ketidakpahaman Shikamaru mengenai jalan pikiran Sasuke itu.
"Kalau aku, akan kuhajar si Suigetsu itu hingga babak belur. Sudah merusak hubungan, kemudian menelantarkan gadis itu begitu saja. Betul-betul kurang ajar." Dapat Sakura rasakan nada emosi dari cara Shikamaru berkata-kata.
"Kau terdengar seperti naksir pada Temari itu," goda Sakura untuk mencairkan suasana.
Shikamaru terdengar terkejut. "Hanya perasaanmu," ujarnya diakhiri dengan tawa. Yang entah kenapa malah membuat Sakura ragu.
Sakura menghela napas. "Kukatakan saja. Hal terakhir yang kubutuhkan saat ini adalah melihat pacarmu menangis karena kau berpaling hati pada Temari itu."
Shikamaru tertawa. "Tentu saja tidak. Lagipula, daripada menangis, lebih bisa kubayangkan Ino menggantungku di pohon depan kantorku jika aku melirik gadis lain."
Sakura mengangkat bahu, kembali pada tujuannya semula mengorek informasi dari lawan bicaranya itu. "Satu hal lagi. Jika Sasuke seaneh itu menghargai persahabatannya dengan Suigetsu, bagaimana dengan teman-temannya yang lain? Maksudku, Neji, Naruto, dan lainnya, apa mereka juga tidak marah pada Suigetsu?"
"Kurasa…" ada keraguan tersirat di sana, "mereka punya cara mereka sendiri menghadapi ikatan persahabatan mereka. Mungkin mereka saling bersumpah darah tidak akan saling membenci? Entahlah."
Sakura tak menganggap hal itu sebuah lelucon sama sekali.
"Yang pasti, saat Sasuke memutuskan bahwa ia tidak marah pada Suigetsu, begitu pula dengan keempat temannya yang lain. Neji, Naruto, Sai, Gaara, semuanya tidak memperpanjang masalah itu. Seolah semuanya sudah selesai hanya dengan Sasuke memaafkan Suigetsu."
Sakura hanya bisa terdiam. Begitu banyak pertanyaan muncul bertubi dalam kepalanya, namun ia tahu Shikamaru tidak akan dapan menjawab semuanya.
"Atau…" Shikamaru mulai lagi. "Kemungkinan lainnya, mereka ingin mempermasalahkan hal itu, tapi karena satu dan lain hal memilih untuk tak acuh. Mungkin karena mereka menghargai keputusan Sasuke—yang pastinya sangat berat diambilnya—atau mungkin karena alasan lain. Siapa yang tahu."
Sakura hanya bergumam.
"Aku memang tidak tahu jawabannya, tapi aku tahu siapa yang dapat menjawabnya." Shikamaru berhati-hati mengucapkan kalimatnya. "Jika bukan Suigetsu maupun Sasuke, maka kau bisa bertanya pada keempat orang lainnya."
Yang tentu saja, bukanlah pilihan yang menyengangkan.
"Kau cukup akrab dengan Neji, kan? Cobalah bertanya padanya," kata Shikamaru lagi.
"Aku tidak ingin kelihatan seperti aku mengejar Sasuke dan mencari tahu segala hal tentangnya. Apalagi masa lalunya," timpal Sakura cepat, menghela napas panjang.
"Bagiku sudah kelihatan seperti itu," ujar Shikamaru dengan nada pura-pura terkejut. Dan meledaklah tawanya.
Sakura melotot berharap agar juniornya itu berhenti tertawa.
Secarik surat tugas yang diantarkan petugas administrasi untuknya membuat Sakura mengerjap. Diangkatnya lembaran kertas bertandatangan atasannya itu, dan dibacanya berulang kali untuk memastikan.
"… Kurasa aku tahu pada siapa aku harus bertanya," katanya beberapa saat kemudian.
Shikamaru telah berhenti tertawa di seberang saluran telepon. "Hah?"
Sakura meletakkan surat tugas itu di atas meja kerjanya.
…dengan ini menugaskan nama-nama di bawah ini untuk menghadiri rapat penggarapan proyek The Desert yang akan dilaksanakan sesuai jadwal terlampir.
Anko Mitarashi
Kakashi Hatake
Haruno Sakura
Sabaku no Gaara
.
.
.
.
.
*** To be Continued…***
.
There, selesailah chapter 2 ini. Sedikit demi sedikit para aktor panggung kita akan naik pentas. Kapan Naruto dan Hinata mendapat gilirannya? Belum sekarang. Kesabaran akan membuahkan kepuasan paling manis. Simak terus ceritanya, yaa. :)
.
.
Some Notes From Author…
richamen, zuka, ssl: Sudah saya jawab di ETA chapter lalu, ya. Silakan dicek kembali bila belum sempat. :)
sh always: Maaf ya, ga sesuai harapan. Hinata juga akan dapat porsi besar dalam fic ini. Tapi kalau ga seneng baca SasuSaku, mungkin memang sebaiknya ga memaksakan diri.. ^^; Thx anyway~ :)
