Hai :) Walaupun responsnya tak begitu banyak, tapi aku sangat senang :D Terimakasih atas dukungannya, sehingga aku bisa menyelesaikan chapter 2 ini :D
Aku ingin balas-balas review dulu yaps :)
zuryuteki : Sudah aku lanjut, yucchan (boleh aku panggil begitu?). Terimakasih banyak reviewnya :D
karinalu : Sudah aku update :) Untuk masalah Lucy.. Sebentar lagi juga tau kok :) Nasib Lector.. Ada di bawah, Karin-chan (boleh aku panggil gitu?) Terimakasih banyak reviewnya :)
vivii.natsumeyuujin : Terimakasih reviewnya :) Aku masih perlu banyak belajar :)
Trollshima : Wah, gomen aku pake bahasa gaul, tapi maaf loh, di chapter ini malah banyak bahasa gaulnya.. Terimakasih ya reviewnya :) Akan semakin aku perbaiki :)
enma kyuuzu : Hehe, terimakasih reviewnya :) Wah, enma-chan (boleh aku panggil begitu?) tau aja ^^ Aku memang terinspirasi dari situ, tapi untuk beberapa hal, dan konfliknya, aku bikin agak berbeda :)
Nah, untuk chapter ini, bahasa gaulnya banyak banget ._. Tujuanku sih bahasanya untuk membuat karakter jadi ekspresif aja, kalo pake bahasa gaul ya berarti bicaranya agak kasar, kalo pake bahasa agak lembut atau formal, berarti nada bicara atau konteksnya juga lebih halus :) Begitu.
Yosh, silahkan dibaca ya ^^
Lucy benar-benar terdesak sekarang. Seseorang melihatnya. Sudah lama sekali ia tidak berkomunikasi dengan orang lain, sebelum ia berbicara dengan sopir taksi pagi tadi. Paling, teman bicaranya hanya Levy McGarden, temannya, yang juga merupakan atasannya di sebuah perusahaan penerbitan. Itu pun, Lucy bersedia bekerja di sana menjadi seorang freelance editor karena Levy menerima persyaratannya untuk bekerja di rumah, dan tidak perlu keluar sama sekali.
Lucy benar-benar benci, harus berkomunikasi dengan orang lain. Ia sudah terbiasa untuk mengunci apartemennya rapat-rapat, begitu pula hati dan mulutnya.
Tiba-tiba Lucy tersadar lagi.
"KYAAAAAAAA!"
Dan Natsu Dragneel merasakan telinganya sempat mengalami ketulian sesaat.
Me and My Neighbour
Disclaimer : Hiro Mashima
Genre : Romance, Drama
Warning : typo(s), OOC, AU, abal, gaje, ide pasaran, bahasa kurang baku
Chapter 2 : Stalker!
Natsu Dragneel mengerjap-ngerjapkan matanya dengan pelan. Ya ampun, apa itu tadi?
"Itu.. Tadi.. Siapa ya?" Natsu bergumam, entah pada siapa, dengan tampang amat bodoh.
"Lah, masa bodo deh! Peduli amat deh gue," Natsu mengeluarkan kunci apartemen ini yang sempat dititipkan Sting ke pos security gedung apartemen Fairy Tail, dengan nametag Makarov.
Setelah pintu apartemen itu bisa dibuka, Natsu mendorong pintu itu pelan, lalu takjub.
"Buset, Sting rapi juga ya!" mata onyxnya menatap kagum seluruh penjuru ruangan ini. Sangat rapi, untuk ukuran hunian seorang pria yang hidup sendirian.
"Nah, dimana Lector ya," Natsu meletakkan kopernya di sebelah sofa, lalu merangkak, hendak mencari kucing Sting. Saat merangkak guna menjelajahi ruangan itu, Natsu melihat ada teko yang terjatuh, beserta ceceran air tumpah. "Jiah, rapi-rapi bisa begini juga, ya."
Tiba-tiba, sesosok kucing berlari dari arah kamar Sting, ke arah Natsu. "Lector! Dari mana saja? Sayang sekali aku gak bawa si Happy!"
Dan bodoh saja kalau Natsu menunggu jawaban seekor kucing seperti Lucy.
"Aduh, hampir aja aku ketahuan," Lucy terengah-engah memasukki lift gedung apartemennya sendiri, yang berkelas standar. Biaya sewa apartemen di gedung ini lebih murah, daripada apartemen di gedung Sting.
Lucy masih mengelus dada, ketika pintu lift yang seharusnya akan tertutup itu, kembali terbuka lagi. Menampakkan sesosok pria berambut dark blue yang Lucy ketahui bernama Gray Fullbuster. Pria ini merupakan tetangga tepat di sebelah kamar apartemen Lucy.
Pria itu menganggukan kepalanya dengan sopan, disambut tak kalah kalem oleh Lucy.
Suasana kini teramat canggung. Tak satu pun dari mereka berniat membuka percakapan.
'Aduh, cepetan sampe dong,' setidaknya itu yang ada di pikiran Lucy. Dan tak berapa lama, benar saja. Pintu lift itu terbuka. Mereka sudah berada di lantai 4. Setelah pintu itu terbuka seutuhnya, terlihat seorang pria berambut keperakan berdiri di depan sana.
"Di sini lo rupanya!" pria yang Lucy ketahui bernama Lyon Vastia, kakak sepupu Gray yang juga tinggal di kamar 401 di sebelah apartemen Lucy yang bernomor 402, berteriak seolah menantang.
"Apa?! Mau nantang gue?" Gray bahkan melotot tak kalah menantang. Kini, baju keduanya telah hilang dalam sekejap. Demi Ul, ibu panti asuhan mereka dulu, Lucy hanya bisa mengerjapkan matanya heran, melihat pertengkaran kakak beradik ini.
"Gue nyariin lo dari tadi! Dari lantai 1, terus ke lantai 2, ke lantai 3, dan terakhir gue ke sini, eh taunya ada lo!"
"Lah? Ngapain nyariin gue? Kangen lu ama gue?" Gray menampakkan seringainya. Dibalas Lyon dengan tatapan nyolot yang menunjukkan betapa jijiknya dia.
"Dih, jijik banget deh!" Lyon mengeluarkan handphonenya. "Nih, ya! Kalo bukan gara-gara itu Erza sialan nagih-nagih manga yang lo janjiin ke dia, gue gak akan ditelpon-telpon terus!"
Gray hanya mampu terdiam. Tiba-tiba, pintu lift itu hendak tertutup lagi. Tapi, Gray kembali menekan tombol untuk menahan pintu lift itu. Ya ampun, dari tadi mereka belum keluar dari lift -_-
Lucy masih terdiam dengan tampang takut di pojokkan lift. "Permisi," Lucy akhirnya bersuara dengan ragu. Kedua pria yang selalu tersulut emosi jika melihat wajah satu sama lain itu, langsung menoleh ke arah gadis pirang itu. Lucy akhirnya berusaha lewat dengan sopan.
Setelah Lucy sudah berjalan cukup jauh, Lyon melepaskan pandangannya dari gadis itu.
"Nah! Ini lagi! Baka! Ngapain lu diem di pintu lift begitu?!"
"Ah, iya!" Gray akhirnya menyingkir dari pintu lift itu, membiarkannya tertutup perlahan.
"Itu cewek yang ada di kamar 402 itu kan?"
"Iya, kenapa?" Gray menatap Lyon dengan sebelah alis terangkat.
"Kagak," Lyon menatap Gray malas, lalu berkata, "Oh iya, baju kita mana ya?"
Akhirnya mereka menatap tubuh mereka yang sudah topless.
"Jangan-jangan di lift tadi!"
Lucy menggantung mantelnya. "Gimana kabar neko-chan ya?" Lucy membuka tirai jendelanya, menggunakan teropongnya, melihat seorang pria bersurai senada gulali tengah menggendong kucing Sting yang tampak baik-baik saja. "Hah.. Kayaknya baik-baik aja," Lucy mengurut dadanya lega.
Tiba-tiba, handphonenya yang berada di atas meja kerjanya bergetar. Lucy masih menempelkan matanya dengan teropongnya, dengan tangan kanan memegang teropong itu, dan tangan kirinya meraba-raba meja kerjanya yang sangat dekat dengan jendelanya itu. Setelah dirasanya ia sudah menggenggam handphonenya, ia menekan tombol untuk menerima panggilan, lalu menempelkannya ke telinganya, tanpa melihat.
"Moshi-moshi?"
"Lu-chan, bagaimana dokumen-dokumen itu? Sudah selesai?" terdengar suara Levy McGarden dari seberang sana.
Menyadari telepon itu dari seorang Levy, Lucy melepaskan sejenak teropongnya, masih tak beranjak dari jendela itu.
"Ah, Levy-chan! Gomen, sedikit lagi!"
"Kalau sudah selesai, segera kirimkan dengan pos ya, kantor kan terlalu jauh, aku juga sedang sibuk, jadi tidak bisa mengambilnya ke apartemenmu."
"Baiklah, akan segera kuselesaikan! Bye!" Telepon itu pun terputus. Teringat akan dokumen-dokumen yang masih menumpuk di mejanya, Lucy meletakkan handphone dan teropongnya, bersiap untuk mengedit dokumen-dokumen itu.
Tanpa menyadari, tatapan awas dari manik onyx pria di apartemen seberang sudah mengawasinya sejak tadi.
"Siapa gadis itu? Aneh sekali, pakai teropong, melihat ke sini," Natsu masih mengawasi gadis di apartemen seberang yang tengah menutup tirai jendelanya.
"Ah, aku mau makan saja, coba kita cek ada makanan apa di kulkas Sting," Natsu berjalan ke arah kulkas Sting, lalu mengobrak-abrik isi kulkas itu. "Widih, lumayan juga isi kulkas Sting."
Natsu membawa segelas air, dengan sebungkus kripik kentang rasa pedas. Sambil memakan kripik itu, ia melihat-lihat salah satu rak milik Sting.
"Ya ampun, si Sting masih hobi ngoleksi laser?" Natsu melihat etalase yang terkunci itu dengan tampang norak. "Apa coba bagusnya ngoleksi laser, mendingan ngoleksi korek api!" Natsu kemudian menyengir bodoh, sambil mengeluarkan sekotak korek api dari kantung jaketnya.
"Ah, coba nonton aja deh, bosen nih, nungguin itu pirang pulang."
Sting membuka pintu apartemennya pada pukul 3 subuh itu. Betapa terkejutnya dia, ketika melihat apartemennya sudah bukan seperti kapal pecah lagi. Sudah karam, pecah, berkeping-keping lagi (?). Dan lihat, sang pemecah kapal (?) sudah tertidur di sofa tanpa menggunakan selimut.
"Oi, pinky," panggil Sting sambil menampar-nampar pipi Natsu pelan.
"Ngh," Natsu menggeliat, lalu melek perlahan, lalu membelalak senang. "Sting! Lo pulang!"
"Pulang lah, gue cuma lembur."
"Ah, ya udah, cepetan istirahat gih." Natsu lalu kembali bersiap tidur di sofa itu lagi.
"Pinky tetep kebo kayak dulu."
Lucy membuka tirai jendelanya, guna melihat pemuda pirang apartemen seberang, yang tengah membuat kopi. Sepertinya pria itu masuk agak siang hari ini, buktinya, ia bahkan tak terlihat terburu-buru seperti kemarin.
Lucy masih mengenakan teropongnya, ketika Sting sudah selesai meminum kopi, lalu masuk ke salah satu ruangan tak berjendela. Lucy melihat ke ruangan-ruangan lain yang berjendela dan dapat terlihat olehnya, ketika seorang pria berambut merah muda tengah memelototinya, sambil menunjuk ke arah kedua matanya, lalu menunjuk ke arah Lucy dengan galak.
Seketika itu juga, Lucy refleks menutup tirai itu amat rapat, membelakangi tirai itu sambil mencengkeram tirai itu.
"Aku benar-benar mati sekarang."
"Tuh kan! Apa gue bilang! Itu pasti stalker!" Natsu berjalan keluar dengan sebal, dari ruangan tempatnya memergoki gadis pirang apartemen seberang. "Sting! Gue keluar bentaran!"
Membanting pintu apartemen Sting dengan kesan tergesa-gesa, masih dengan celana santai, dan kaos seadanya, ia berjalan keluar dari gedung apartemen kelas eksekutif, ke gedung apartemen standar.
"Itu cewek emang udah keliatan kayak stalker," Natsu menghentak-hentakkan kaki sepanjang jalan, biar terlihat sedikit garang.
Setelah tiba di lantai 4, dia melihat satu persatu nomor pintu yang berada di lorong itu. "Kalo dia sebrangan sama 404, dan di lorong ini ada 5 apartemen.. 402 kali, yak."
Dia berjalan ke pintu itu dengan dada dibusungkan, wajah galak yang malah kelihatan unyu (?). Dia mengetuk pintu itu dengan kencang, lebih mirip menonjok.
Lucy yang masih mencengkeram tirai jendelanya, segera berlari tanpa suara ke arah pintu. Dia membelakangi pintu itu, berusaha menahan pintu itu, kalau-kalau penjagaan kunci bisa ditembus oleh Natsu. Lucy mengintip perlahan lewat peephole pintu, melihat Natsu berusaha mendobrak pintunya sambil berteriak agar dia keluar. Natsu menonjok, menendang, menyundul (?) pintu itu, namun, tidak ada yang terjadi.
Tanpa Natsu tahu, di balik pintu itu, tubuh ringkih gadis itu gemetar takut dan gugup.
"Lyon! Lu bisa kagak sih jangan bikin keributan pagi-pagi?" Gray masih menggeliat di kasurnya, yang terletak di sebelah kasur Lyon.
"Sialan, nuduh gue bikin keributan, melek dulu, baru ngomong!" Lyon duduk bersantai, sambil meminum Iced tea, walaupun terlihat terganggu juga dengan suara teriakan itu.
Tak lama, Gray bangun, lalu melemparkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar itu.
"Yang bikin ribut tuh di luar, gak tau siapa, gak jelas banget dari tadi teriak-teriak."
Gray kesal. Sudah mengganggu ketenangan, mengganggu tidurnya juga. Gray berdiri, lalu beranjak ke arah pintu, hendak melihat keluar. Walaupun topless, keep calm saja si Gray.
Setelah membuka sedikit pintu itu, terlihat gelagat aneh dari pria berambut aneh yang sedang berteriak sambil berusaha mendobrak pintu apartemen 402, seperti orang mau merampok (?).
Gray keluar, dengan berani, walau tetap topless, dan sekarang, tinggal pakai boxer.
"Eh, pinky, bisa kagak jangan berisik pagi-pagi?! Ganggu tidur gue aja!"
Natsu yang merasa ditantang malah berhenti sejenak, lalu balik menantangi Gray.
"Eh, sebelum banyak omong, mending lu pake baju dulu, tukang jualan boxer!"
"Apa lu kata, pinky? Tukang jualan boxer? Mending gue, daripada lu, masih jaman apa pake korek api gesekkan begituan?" Gray menahan tawa ejekan yang hendak meledak dari mulutnya, ketika tak sengaja melihat sekotak korek api dalam kemasan cukup besar hampir keluar dan jatuh dari kantung cetek celana Natsu.
"Dih, jangan salah, jaman gue masih SD dulu, gue juragan korek api! Tetangga se-RT aja dulu bakar sampah rame-rame, pake korek api gue!" kata Natsu dengan bangganya, tanpa tahu kalau itu bahkan tidak penting sama sekali. Tak lupa, ia menggenggam kotak korek api itu dengan sayang.
"Ah, bodo deh sama masa kecil lu, gue gak peduli," Gray mendengus sebal, sebelum melanjutkan perkataannya. "Emang lu dari tadi ngapain mau ngedobrak pintu apartemen ini?"
"Cewek penghuni kamar apartemen ini stalker!" Natsu berteriak heboh, sambil membanting kotak korek api yang tadi diambilnya dari kantungnya dengan emosional. "Gue merasa harga diri gue dan Sting sialan itu diinjek-injek! Stalk cuma bahasa kerennya ngintip!"
"Tapi, tetep aja, lo gak sopan berusaha ngedobrak pintu kamar cewek!" Gray menarik kerah Natsu dengan kasar, otomatis mendekatkan wajah mereka yang kini saling terlihat marah.
"Lagian, kalo gue emang mau ngedobrak pintu kamar ini, kenapa jadi lo yang sewot?"
"Aduh.." lirih Lucy pelan, masih mengintip lewat peephole pintu. Suara kericuhan yang dibuat Natsu dan Gray bahkan terdengar jelas.
"Semoga kericuhannya gak tambah meluas.."
TBC
Hehe :) Bagaimana? Silahkan tuangkan pendapat, komentar, saran, dan kritiknya lewat kotak review :)
Untuk chapter 3.. Mungkin gak akan sampai minggu depan, doakan saja, soalnya tanggal 10 besok aku UH.. Belom lagi aku masuk besok..
Yosh! Aku kabur bikin chapter 3 dulu ya :)
